Articles

Found 14 Documents
Search

PENINGKATAN PENGETAHUAN DAN SIKAP KEPALA KELUARGA TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI PEMBERDAYAAN KELUARGA DI KELURAHAN TAMANSARI KOTA BANDUNG Ruhmawati, Tati; Karmini, Mimin; P., Dwi Tjahjani
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 16, No 1 (2017): April 2017
Publisher : Master of Environmental Health Study Program, Faculry of Public Health, Faculty of Public

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.145 KB) | DOI: 10.14710/jkli.16.1.1-7

Abstract

Judul: Peningkatan Pengetahuan dan Sikap Kepala Keluarga tentang Pengelolaan Sampah Melalui Pemberdayaan Keluarga di Kelurahan Tamansari Kota BandungLatar belakang: Sungai Cikapundung merupakan tempat dimana masyarakat banyak membuang sampah ke dalamnya. Pemberdayaan keluarga merupakan alternatif model yang diharapkan merubah pengetahuan dan sikap menuju keluarga yang lebih baik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengetahuan dan sikap keluarga sebelum dan sesudah pemberdayaan pengelolaan sampah.Materi dan Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu dengan rancangan ?pre and post design.? Intervensi yang dilakukan adalam pemberdayaan model keluarga mencakup konseling, pelatihan, dan pendampingan. Populasi penelitian ini adalah seluruh kepala keluarga atau wakilnya yang tinggal di sekitar aliran sungai Cikapundung di Rw 06 Kelurahan Tamansari Bandung Wetan. Pengambilan sampel diambil secara non random. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan observasi. Analisis ststistik untuk uji beda digunakan indepnden T test pada taraf signifikasi 5%.Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebanyak 82,6% responden berumur tidak produktif; 56,5% berpendidikan Sekolah Menengah Atas; 87% tidak bekerja; 56,5% berpenghasilan di bawah UMR; 100% muslim, telah tinggal lebih dari satu tahun, sebagian besar mempunyai 4 anggota keluarga. Fasilitas pendukung pengelolaan sampah yang ada di lingkungan mereka adalah tempat pembuangan sampah sementara (TPS, motor angkut sampah, dan ada lembaga bank sampah. Setelah intervensi pemberdayaan, pengetahuan dan sikap mereka sangat baik masing-masing 78,3% dan 82,6%. Hasil analisis statistik menunjukkan ada perbedaan pengetahuan dan sikap secara signifikan antara sebelum dan sesudah intervensi pemberdayaan keluarga  (p=0,001 dan p=0,005).Simpulan: Intervensi pemberdayaan mampu meningkatkan secara signifikan pengetahuan dan sikap keluarga dalam pengelolaan sampah.AbstactTitle: The Increasing of Knowledge and Attitudes of Family Head on Waste Management Through Family Empowerment in Tamansari Urban Village Bandung.Background : Cikapundung river was deteriorated due to the behavior of people who throw garbage directly into the river. Empowerment is an alternative family model that is expected to change knowledge and attitudes towards a better family. This research aimed to analyze the knowledge and attitudes of families before and after the empowerment of waste management.Methods : Type of this research was quasi-experimental design with one group pre and post test design, which is a study design before and after the intervention using a control group without. The form of intervention is the empowerment model families which include counseling, training, and mentoring. The population in this study were all heads of families or representing in citizens association (RW) 06 Sub Tamansari Sub-District Bandung Wetan located around the river flow of Cikapudung river, while the sample is part of the head of household who are respondents, the sampling technique is non-random (accidental). The data collected by interview and observation. Data collector in the form of questionnaires, observation sheets. Analysis of the data by univariate and bivariate dependent T test.Results : The research results showed 82.6% of respondents age groups unproductive, 56.5% high school educated, 87% did not work, 56.5% income below the minimum wage, 100% Muslim, length of stay more than one year, 78.3% of domicile as wives, the number of family members 47.8% more than 4 people. Supporting infrastructure and facilities available in RW 06 in waste management is their shelter temporary garbage (TPS), the motor of garbage (Triseda), and the presence of garbage bank. Knowledge and attitude of the respondent after the intervention, including the excellent category with a percentage of 78.3% for the knowledge and attitude of 82.6%. there are differences in knowledge and attitude of the respondent after the intervention with p = 0.001 for knowledge and p = 0.005 for the attitude.Conclusion : There are significant difference between knowledge and attitudes before and after intervention.
MENGINTIP KONDISI CUACA PENYEBAB BANJIR BESAR DI DKI JAKARTA TANGGAL 25 OKTOBER 2010 Karmini, Mimin; Renggono, Findy
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 12, No 2 (2011): December 2011
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jstmc.v12i2.2189

Abstract

DKI Jakarta dikejutkan dengan hujan deras pada jam 16:00 WIB. Genangan airlangsung terjadi akibat derasnya hujan. Hujan berlangsung sampai sekitar jam 20:00WIB. Dari data AWS di Jatiwaringin, curah hujan tertinggi sebesar 230 mm tercatatpada jam 16:00 WIB. Curah hujan sampai jam 19:00 WIB tercatat sebesar 650.60 mmatau intensitas 216.87 mm/jam untuk periode jam 16:00 s.d. 19:00 WIB. Beberapaindeks stabilitas, yang dihitung dari data rawinsonde jam 07:00 WIB, menunjukanpotensi terjadinya aktivitas konvektif yang bisa menghasilkan hujan deras. Beberapaindeks stabilitas yang menunjukan potensi terjadinya proses konvektif kuat adalah: LI(Lifted Index) = - 06; SI (Showalter Index) = - 0.7; K Index = 36.7; TT (Total Totals) =43.9. Kejadian hujan paling deras di kawasan barat DKI Jakarta sampai Tangerang.Genangan air hampir merata di DKI Jakarta dan Tangerang dengan ketinggian yangbervariasi antara 20 cm – 100 cm.Jakarta was struck by torrential rain at 16:00 pm. Standing water caused by heavy rainoccured immediately. The rain lasted until around 20:00 pm. From the AWS measurement at Jatiwaringin, highest rainfall of 230 mm was recorded at 16:00 pm. Rainfall amount until 19:00 pm was recorded of about 650.60 mm, in other words rainfall intensity was about 216.87 mm/hour for the period of 16:00 – 19:00 pm. Some stability indices, which is calculated from rawinsonde at 07:00 am showed the potential for convective activity which could produce heavy rain. Some stability indices that show strong potential for convective process are: LI (Lifted Index) = - 06; SI (Showalter Index) = - 0.7; K Index = 36.7; TT (Total Totals) = 43.9. The heaviest rainfall occured in the western region of Jakarta until Tangerang. Stagnant water is almost evenly in Jakarta and Tangerang with varying heights between 20 cm - 100 cm.
HUJAN ES (HAIL) DI JAKARTA, 20 APRIL 2000 Karmini, Mimin
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 1, No 1 (2000): June 2000
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jstmc.v1i1.2102

Abstract

Hujan es sudah terjadi beberapa kali di Jakarta. Hujan es terjadi lagi di Jakarta Pusat(sekitar Jl. Thamrin) pada tanggal 20 April 2000 pukul 15:15 wib. Kejadian ini seperti taklazim terjadi di Jakarta mengingat Jakarta terletak di wilayah equator. Selain itu, hail sangat jarang terjadi meskipun kilat (badai guntur) sering terjadi di Indonesia. Tulisan iniakan menjelaskan mekanisme terbentuknya hujan es (hail) dalam awan badai, bagaimana hujan es dapat terjadi di Jakarta, dan analisa kondisi cuaca yang mendukung terjadinya hujan es di Jakarta pada tanggal 20 April 2000.Hail has occurred several times in Jakarta. Hail taken place again in Central Jakarta (Jl.Thamrin and vicinity) on 20 April 2000 at 15:15 Western Indonesia Standard Time. It seems unusual event that hail occurs in Jakarta considering that Jakarta is located within equatorial belt. Moreover, hail is hardly to come about even lightnings (thunderstorms)are frequently to occur in Indonesia. This paper will describe the mechanism of hail formation within cloud, how hail could occur in Jakarta, and weather condition analysis that supports hail incidence in Jakarta on 20 April 2000.
APLIKASI TEKNOLOGI MODIFIKASI CUACA UNTUK MENINGKATKAN CURAH HUJAN DI DAS CITARUM - JAWA BARAT 12 MARET S.D. 10 APRIL 2001 Karmini, Mimin; Nugroho, Sutopo Purwo; Tikno, Sunu; Nuryanto, Satyo; Sitorus, Baginda Patar; Bahri, Samsul; Widodo, Florentinus Heru; Arifian, Jon; Kudsy, Mahally; Goenawan, R Djoko; Yahya, Rino Bahtiar; Renggono, Findy
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 2, No 1 (2001): June 2001
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jstmc.v2i1.2141

Abstract

Teknologi modifikasi cuaca sudah sering diaplikasikan di Indonesia terutama untukmeningkatkan jumlah curah hujan. Teknologi modifikasi cuaca diterapkan bila terjadiindikasi penurunan jumlah curah hujan dan kemungkinan akan munculnya fenomena ElNiño sebagai tindakan preventif. Aplikasi teknologi modifikasi cuaca yang dilaksanakan diDAS Citarum, Jawa Barat mulai tanggal 12 Maret s.d. 10 April 2001 adalah berdasarkan kenyataan bahwa inflow DAS Citarum menurun dengan drastis pada bulan Desember 2000 dan sebagai tindakan preventif akan munculnya fenomena El Niño pada akhir tahun 2001 atau 2002. Pada awal tahun 2001, tiga kaskade waduk di DAS Citarum mengalami defisit cadangan air sebanyak 486,36 juta m . Waduk Ir. Juanda yang merupakan waduk multi fungsi harus menyediakan pasokan air untuk: irigasi teknis pada lahan sawah seluas 296.000 ha (2 kali tanam), yang memberikan kontribusi sebesar ± 40 % ke Jabar atau setara dengan ± 10 % Nasional; air baku permukiman dan industri; serta penyediaan tenaga listrik (± 4,5 milyar kWh). Data akhir setelah dilaksanakan penerapan teknologi modifikasi cuaca dengan menggunakan konsep sistim dan lingkungan adalah nilai rata-rata aliran total Citarum sebesar 326,81 m /det dan volume total aliran Citarum sejak mulai kegiatan hingga tanggal 10 April 2001 adalah sebesar 847,1 juta m3.Weather modification technology has been applied in Indonesia especially to enhancerainfall. Weather modification technology has been employed whenever there has beenan indication of rainfall shortage and the possibility of El Niño occurrence asprecautionary action. Weather modification technology that was applied in Citarumcatchment area – West Java on 12 March – 10 April 2001 was based on the fact thatCitarum inflow decreased drastically in December 2000 and also as a preventiveendeavor to the possibility of warm episode in 2001/2002. In the early of 2001, threecascade dams had water storage deficit as much as 486.36 million m3. Ir. Juanda dam,which has multi purposes, has to supply water for: technical irrigation for 296,000 ha ofrice field (2 planting seasons) that contributes ± 40 % to West Java or about ± 10 % ofnational production; fresh water for community and industry; as well as electricity of about 4.5 billion kWh. After the application of weather modification technology by employing system and environment concept, it was recorded that the average inflow of Citarum catchment area was 326.81 m /sec and total volume during the activity was 847.1million m3.
LIGHTNINGS & THUNDERS HIT SOROAKO ON 27 APRIL 2000 Karmini, Mimin
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 1, No 1 (2000): June 2000
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jstmc.v1i1.2104

Abstract

Soroako is a small town in South Sulawesi closed to lake Matano. Based on its rainfallhystorical data, April has the highest rainfall amount in Soroako and the vicinity. Rainoccurs mostly during night hours in April. Lightnings and thunders hit Soroako & thevicinity and struck the telephone lines in the INCO’s dormitory on 27 April 2000. Even itwas not the highest rainfall event, let’s take a look closely the weather condition based on several data on the day. The clouds developed rapidly at late afternoon and produced an intense thunders and lightnings at early evening. The rain itself was not too hard and the rainfall amount was only 28.3 mm (the average of the area). This paper will discuss the weather condition in Soroako and the vicinity on 27 April 2000.Soroako merupakan kota kecil di Sulawesi Selatan berdekatan dengan danau Matano.Berdasarkan data curah hujan historis, bulan April mermpunyai nilai curah hujan tertinggi di wilayah Soroako dan sekitarnya. Hujan kebanyakan terjadi pada malam hari di bulan April. Kilat dan guntur menerjang Soroako dan sekitarnya dan mampu merusak saluran telepon di Dormitory milik PT. INCO pada tanggal 27 April 2000. Meskipun hujan yang terjadi pada tanggal 27 April bukan yang paling deras, marilah kita pelajari kondisi cuaca berdasarkan beberapa data pada hari itu. Awan-awan berkembang sangat cepat pada sore hari dan menimbulkan kilat dan guntur yang bertubi-tubi pada petang hari. Hujannya sendiri tidak terlalu deras dan tercatat hanya sebesar 28,3 mm (merupakan rata-rata wilayah). Tulisan ini akan membahas kondisi cuaca di Soroako dan sekitarnya khususnya pada tanggal 27 April 2000.
FORAMINIFERA SEDIMEN DASAR LAUT DELTA MAHAKAM, KALIMANTAN TIMUR Karmini, Mimin; Rostyati, Rostyati
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 1, No 3 (2003)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (655.797 KB)

Abstract

Dalam kerangka penelitian dan penyelidikan geologi dan geofisika kelautan yang dilaksanakan oleh tim Pusat Pengembangan Geologi Kelautan, sebanyak 44 percontoh sedimen telah dianalisis foraminiferanya. Pada umumnya, foraminifera plangton yang lebih banyak dijumpai adalah Globigerinoides spp., Neogloboquadrina dutertrei, dan Pulleniatina spp. Neogloboquadrina dutertrei yang dikenal sebagai spesies penciri untuk kondisi salinitas rendah. Spesies-spesies tersebut banyak dijumpai pada kedalaman lebih dari 40 m, dan mencapai maksimum pada kedalaman 1400 m (lokasi 11, lepas pantai Tanjung Bayur). Di tempat seperti ini jumlah individu dan keanekaragaman foraminifera plangton paling tinggi dan termasuk ke dalam zona lereng sesar atas, sedangkan yang terendah ada di lokasi 7 (dekat pantai muara S.Muara Bayur), pada kedalaman 11,3 m. Foraminifera bentosnya yang banyak dijumpai adalah Amphistegina lessonii, Heterolepa spp., Operculina spp., dan Pseudorotalia schroeteriana. Keberadaan Amphistegina lessonii sangat tergantung terhadap intensitas cahaya, air yang jernih, dan biasanya berasosiasi dengan terumbu. Turbulensi di daerah telitian diperkirakan relatif rendah karena banyak dijumpainya spesies tersebut. Jumlah individu tertinggi foraminifera bentos terdapat pada lokasi 35 (Muara Lerong), pada kedalaman 45 m, sedangkan yang terendah ada di lokasi 6 (dekat pantai, muara S.Muara Bayur), pada kedalaman 17,3 m. Keanekaragaman tertinggi dijumpai dilokasi8, pada kedalaman 63,5 m, sedangkan yang terendah di lokasi 6. Fluktuasi jumlah individu foraminifera plangton dan bentos di bagian utara dan tengah tidak terlepas dari kemungkinan adanya arus bawah laut yang bisa mempengaruhi sedimen dan morfologi dasar lautnya. Di bagian selatan jumlah ini cenderung meningkat pada tempat yang menjauh dari pantai. Within the framework of marine geological and geophysical surveyscarried out by the Marine Geological Institute, 44 samples had been analysed, especially for foraminifera. In general, planktonic foraminifera in the study area such as Globigerinoides spp, Neogloboquadrina dutertrei, and Pulleniatina spp are commonly found. Neogloboquadrina dutertrei is known as an indicator species for low salinity. They are found commonly at depths of more than 40 m, the most abundant of it is found at the depth around 1400 m (site 11, offshore of Bayur Peninsula). The maximum total number of individuals and the diversity of planktonic foraminifera occurr at this site as well as at the upper continental, whereas the minimum one is at site 7 (near the mouth of Muara Bayur River), at 11,3 m depth. The common benthonic foraminifera are Amphistegina lessonii, Heterolepa spp., Operculina spp., and Pseudorotalia schroeteriana. Amphistegina lessonii is a species, which is, dependent on light and clear water, and is usually associated with reef. The high number of individuals of this species suggests that the turbulent factor is considered to be relatively low. The maximum total number of individuals of benthonic foraminifera occurs at site 35 (Lerong River Mouth), at 45 m depth, whereas the minimum at site 6 (close to the mouth of Muara Bayur River), at 17,3 m depth. The maximum diversity occursatsite 8, at the depth of 63,5 m, whereas the minimum one is at site 6. The fluctuation of the total number of individuals of planktonic and benthonic foraminifera in the northern and southern parts is probably due to the morphology of the sea floor and the sediment influenced by bottom current. In the southern part the number of individuals of foraminifera tends to increase with the increasing of the distance from the shore.
BIOSTRATIGRAFI FORAMINIFERA KUARTER PADA BOR INTI MD 982152 DAN 982155 DARI SAMUDRA HINDIA Karmini, Mimin; Yuniarto, H.
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 11, No 2 (2013)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1256.383 KB)

Abstract

Dari bor inti pada EKSPEDISI IMAGES, di Samudra Hindia, telah diteliti sebanyak 21 percontoh sedimen dari lokasi MD 982152, dan 29 buah dari lokasi MD 982155 untuk kepentingan biostratigrafi berdasarkan analisis foraminifera plankton dalam interval 1,5 meter. Pada kedua penampang bor inti tersebut hanya dijumpai satu zona foraminifera plankton Kuarter, yaitu Zona Globorotalia truncatulinoides. Untuk MD 982152, zona ini bisa dibagi ke dalam dua subzona, yakni Subzona-subzona Globorotalia crassaformis hessi dan Globigerinella calida, sedangkan untuk MD 982155, zona tersebut bisa dibagi lagi ke dalam tiga subzona, yakni Subzona-subzona Globorotalia crassaformis hessi Globigerinella calida, dan Beella digitata. Kejadian yang signifikan di kedua penampang itu adalah Datum Pemunculan Pertama dari Globigerinella calida dan Pemunculan Akhir dari Globorotalia crassaformis hessi. Pada MD 982155, dijumpai Pemunculan Pertama dari Beella digitata. Kata kunci: foraminifera plankton, Kuarter, biostratigrafi, Samudra Hindia. From IMAGES Expedition in Indian Ocean, 21 samples from MD 982152, and 29 samples from MD 982155 had been studied for the purpose of biostratigraphy based on planktonic foraminifera within 1,5 meter interval. In both sections, only one Quaternary zone is found, namely Globorotalia truncatulinoides Zone. For MD 982152, that zone can be subdivided into two interval subzones e.g. Globorotalia crassaformis hessi and Globigerinella calida calida. However, in MD 982155 Globorotalia truncatulinoides Zone can be subdivided into three subzones namely, Globorotalia crassaformis hessi, Globigerinella calida calida, and Beella digitata Subzones. The planktonic foraminifera event revealed in both sections are the First Appearance Datum (FAD) of Globigerinella calida calida and the Last Appearance (LAD) of Globorotalia crassaformis hessi. In MD 982155 the FAD of Beella digitata is found. Keywords: planktonic foraminifera, Quaternary, biostratigraphy, Indian Ocean.
HIATUS PADA KALA EOSEN-MIOSEN TENGAH DI TINGGIAN ROO, SAMUDRA HINDIA, BERDASARKAN BIOSTRATIGRAFI NANNOPLANKTON Karmini, Mimin; Hendrizan, M.
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 6, No 3 (2008)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (865.717 KB)

Abstract

Nanoplankton dari dua puluh satu percontoh dari Tinggian Roo (MD982156) yang diperoleh selama Ekspedisi MD III - IMAGES IV telah dianalisis untuk kepentingan penelitian biostratigrafi study. Percontoh sedimen diambil dengan menggunakan penginti isap yang besar sekali (giant piston core). Lokasi daerah telitian adalah di Tinggian Roo, Samudra Hindia, Selatan Jawa Timur, di luar Parit Jawa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan nanoplankton, biostratigrafi daerah telitian dapat dibagi ke dalam 8 Zona yakni zona-zona: Discoaster multiradiatus, D. prepentaradiatus, D. asymmetricus, Pseudoemiliania lacunosa, D. brouweri, D.brouweri-oceanica, Gephyrocapsa oceanica dan Emiliania huxleyi. Umur Paleosen ditunjukkan dengan adanya Discoaster multiradiatus sebagai spesies yang dominan, sedangkan sedimen yang berumur Miosen Akhir adalah D. prepentaradiatus. Sedimen lempung tufaan pada kedalaman 30 m bawah dasar laut ke bagian paling bawah dari penampang yang didominasi oleh mineral Phillipsite, ternyata mengandung nanoplankton yang berumur Paleosen, sedangkan dari kedalaman 30 m ke bagian atas dari penampang sedimen ditutupi secara langsung oleh sedimen yang berumur Miosen Akhir – Holosen. Jadi di lokasi penelitian ini telah terjadi hiatus antara Eosen sampai paling tidak bagian bawah dari Miosen Akhir. Adapun Phillipsit dikenal sebagai mineral yang secara authigenic terjadi di laut dalam yang bisa berasal dari hasil kegiatan gunung api. Manfaat mineral Phillipsit di dalam industri plastik, antara lain dapat dipakai dalam pembuatan resin termoaktif dan sebagai pemacu dalam proses pengerasan. Kelompok Zeolit ini juga digunakan untuk menghilangkan kesadahan dalam industri deterjen, menjernihkan kelapa sawit, menyerap zat warna pada minyak hati ikan hiu, sebagai katalisator pada proses gasifikasi batubara yang berkadar belerang dan/atau nitrogen tinggi yang menghasilkan gas bersih Kata Kunci: Hiatus, Kala Esosen-miosen, Tinggian Roo, Biostratigrafi Nanno Plankton Nannoplankton of twenty one samples from Roo Rise (MD982156 core) obtained during MD III - IMAGES IV Expedition were analysed for biostratigraphic study. The samples were taken by using giant piston core. This core is located in Indian Ocean, south of East Jawa, outer part of Jawa Trench. The results of the study indicate that, based on nannoplankton biostratigraphy of the study area, there are eight zones namely: Discoaster multiradiatus, D. prepentaradiatus, D. asymmetricus, Pseudoemiliania lacunosa, D. brouweri, D.brouweri-oceanica, Gephyrocapsa oceanica dan Emiliania huxleyi. Paleocene sediment is indicated by the presence of Discoaster multiradiatus as the dominant species and Late Miocene sediment is indicated by the presence D. pentaradiatus. The sediments from 30 m down to the base of the core, which is dominated by Phillipsite minerals (Zeolite Group), is composed of nannoplankton of Paleocene age, whereas from 30 m below sea floor (bsf) to the top of the core, the sediment is directly overlain by the sediment of Late Miocene – Holocene ages. Therefore there was a hiatus occurred in the study area between Eocene to at least the lower part of Late Miocene. Phillipsite is known as an authigenic mineral deposited in the deep sea that could be derived from the volcanic activity products. This mineral has a benefit in the plastic industry that can be used in making thermoactive resin and as a catalyst in hardening process. The Zeolite Group is also used in removing hardness in detergen industry, cleaning palm oil, absorbing color in lever oil of shark and as a catalyst in coal gasification having high sulphur and nitrogen producing clean gas. Keyword: Hiatus, Eosen-miosen ages, Roo Rise, Biostratigrafi Nanno Plankton
FORAMINIFERA PERAIRAN BALIKPAPAN, KALIMANTAN TIMUR: LINGKUNGAN PENGENDAPAN DAN PENGARUHNYA Karmini, Mimin; Hendrizan, M.
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 9, No 2 (2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3301.764 KB)

Abstract

Dari hasil telitian perairan lepas pantai Balikpapan, Kalimantan Timur (Lembar 1914), di dalam sedimen dasar laut antara kedalaman 18 m – 562 m bawah permukaan laut, dijumpai tidak kurang dari 195 spesies foraminifera bentos kecil dan besar dan 34 spesies foraminifera plankton. Heterolepa praecincta merupakan spesies bentos kecil yang banyak mendominasi sedimen permukaan di daerah penelitian, kemudian Heterolepa margaritifera. Heterolepa praecincta masih dijumpai sampai kedalaman 383 m, sedangkan ke arah yang lebih dalam lagi jumlahnya semakin berkurang. Foraminifera bentos kecil yang langka seperti Biarritzina proteiformis di daerah telitian dan di perairan antara Pangabakan - Sagita, di utara daerah telitian, sebelah utara Delta Mahakam, jumlahnya jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan yang di bagian selatannya, yaitu di perairan utara P. Lombok, tempat spesies ini pertama kali dijumpai. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh adanya arus yang berarah dari utara ke selatan. Spesies Operculina spp., yang banyak diwakili oleh spesies O. complanata, O. ammonoides, dan O. heterosteginoides, banyak dijumpai pada kedalaman kurang dari 100 m. Spesies-spesies tersebut di beberapa lokasi banyak berasosiasi dengan Amphistegina lessonii, yang menandakan bahwa pada kedalaman ini turbulensinya rendah, dengan kondisi air yang cukup jernih. Melimpahnya foraminifera plankton Neogloboquadrina dutertrei, terutama pada kedalaman lebih dari 100 m, menunjukkan bahwa pada kedalaman tersebut perairan daerah telitian mempunyai salinitas rendah. Kata kunci: foraminifera, lingkungan, Balikpapan, Kalimantan Timur The results of the Balikpapan offshore study in East Kalimantan waters (Sheet 1914), between 18m– 562m below sea level, revealed the sea floor sediment containing not less than 195 species of smaller and larger benthic foraminifera, and 34 species of planktic foraminifera. The smaller benthic foraminifera Heterolepa praecincta dominates the surface sediment in the study area, then Heterolepa margaritifera. Heterolepa praecincta is still found at the 383 m depth. However, towards the deeper, their number is decreasing. The number of uncommon smaller benthic foraminifera such as Biarritzina proteiformis in the study area and between Pangabakan – Sagita waters, in the north part of the study area, north of Mahakam Delta, is more abundant compared to that in the south part, in Lombok waters, the place where this species was firstly found. It is suggested that this condition is caused by the current coming from the north to the south. The species Operculina spp., mostly representated by the species O. complanata, O. ammonoides, and O. heterosteginoides, are much more common found in the depth of less than 100 m. Those species is commonly found associated with Amphistegina lessonii, indicating that this depth has a low turbulent with clear water conditions. The abundance of planktic foraminifera Neogloboquadrina dutertrei, especially within the depth of more than 100 m, indicating that this depth has a low salinity. Keywords: foraminifers, environment, Balikpapan, East Kalimantan
Penurunan Kadar Total Suspended Solid (TSS) Air Limbah Pabrik Tahu Dengan Metode Fitoremediasi Ruhmawati, Tati; Sukandar, Denny; Karmini, Mimin; Roni S., Tatang
Jurnal Permukiman Vol 12, No 1 (2017)
Publisher : Pusat Litbang Permukiman, Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2017.12.25-32

Abstract

Salah satu karakteristik air limbah industri tahu adalah kandungan bahan organik yang ditandai dengan tingginya kadar TSS. Tanaman air mempunyai kemampuan menyaring bahan-bahan yang larut dalam air limbah sehingga potensial untuk pengolahan air limbah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh variasi waktu kontak proses fitoremediasi menggunakan tanaman hydrilla terhadap penurunan kadar TSS air limbah pabrik tahu. Hipotesis penelitian yaitu semakin lama waktu kontak antara air limbah dengan tanaman air semakin besar penurunan kadar TSS. Populasi seluruh air limbah diambil dari pabrik tahu Cibuntu Kota Bandung, sedangkan sampel air limbah pabrik tahu diambil dari populasi, dengan teknik pengambilan sampel sesaat. Jenis penelitian eksperimen adalah rancangan Pretest-Postest dengan kontrol. Pengumpulan data dilakukan dengan cara pemeriksaan laboratorium. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan uji anova. Hasil penelitian menunjukkan terjadi penurunan kadar TSS, rata-rata persentase penurunan kadar TSSuntuk waktu kontak 2 hari 47,43 %, untuk waktu kontak 4 hari sebesar 74,85 %, dan untuk waktu kontak 6 hari sebesar 80,63 %. Dari hasil uji anova diperoleh nilai p sebesar 0,002, lebih kecil dari 0,05 (α 5%). Terdapat pengaruh yang bermakna antara variasi waktu kontak tanaman air hydrilla terhadap penurunan kadar TSS air limbah pabrik tahu.