Herlyani Khosama
Faculty of Medicine, University of Indonesia

Published : 14 Documents
Articles

Found 14 Documents
Search

UJI NEUROLOGICAL DEPRESSION DISORDERS INVENTORY FOR EPILEPSY (NDDI-E) PADA PASIEN EPILEPSI DI POLIKLINIK SARAF RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU Lengkoan, Joshua; Khosama, Herlyani; Sampoerno, Maja
e-CliniC Vol 3, No 2 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.3.2.2015.8546

Abstract

Abstract: Depression is a comorbid symptom that often occurs in epileptic patients. This study aimed to obtain the occurence of depression among epileptic patients at the Neurology Department Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. This study used a cross-sectional design for diagnostic test. Respondents were all patients that came to the Neurology clinic at Neurology Department Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. There were 30 epileptic cases during the period of October to November 2014 that fulfilled the inclusion and exclusion criteria. Based on the outcome of questionnaires distributed to respondents and the manual calculation with standardized score of Neurological Depression Disorders Inventory for Epilepsy (NDDI-E) >15, diagnosis of depression was confirmed. There were 10 depression cases among the 30 respondents. Conclusion: Neurological Depression Disorders Inventory for Epilepsy Indonesian Version could be used to detect depression disorders among epileptic patients.Keyword: epilepsy, depression, NDDI-EAbstrak: Depresi adalah salah satu gejala komorbid yang sering terjadi pada pasien epilepsi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran depresi pada pasien epilepsi di Poliklinik Saraf RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Penelitian dilakukan menggunakan desain potong lintang untuk uji diagnostik dengan mengambil sampel semua pasien epilepsi yang datang ke Poliklinik Saraf BLU RSU Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Terdapat 30 pasien epilepsi yang berobat ke poliklinik saraf RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado bulan Oktober sampai November 2014 yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Dari hasil kuesioner yang dibagikan kepada responden dan melalui hasil perhitungan manual dengan standar skor Neurological Depression Disorders Inventory for Epilepsy (NDDI-E) >15 diagnosis mengalami depresi ditetapkan. Hasil penelitian menunjukkan 10 dari 30 responden mengalami depresi. Simpulan: Neurological Depression Disorders Inventory for Epilepsy (NDDI-E) versi Bahasa Indonesia dapat digunakan dalam mendeteksi gangguan depresi pada pasien epilepsi.Kata kunci: epilepsi, depresi, NDDI-E
Karateristik perawat di Irina F RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado yang mengalami keluhan nyeri punggung bawah Goni, Naftalia T.S.; Khosama, Herlyani; Tumboimbela, Melke J.
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.1.2016.12107

Abstract

Abstract: Low back pain is a clinical syndrome characterized by major symptoms of pain or other uncomfortable feelings in the lower spine. Low back pain is the leading cause of activity limitation and work absence world-wide. This study aimed to obtain the characteristics of nurses in Irina F Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado who had low back pain. This was a prospective descriptive study with a cross sectional design. Samples were 43 respondents. The results showed that of 50 respondents there were 43 respondents who suffered from low back pain. Of 43 respondents there were 14 male nurses (32.5%), and 29 female nurses (67.5%). Low back pain was suffered by 16 nurses (37,2%) aged 23-29 years, 19 nurses (44.2%) aged 30-39 years, two nurses (4.6%) aged 40-49 years, and six nurses (14%) aged 50-57 years. There were 16 nurses (37.2%) who had worked less than 5 years, and 27 nurses (72.8%) who had worked more than 5 years. There were seven nurses (16.3%) who had working time <8 hours a day, and 36 nurses (83.7%) who had working time >8 hours a day. Keywords: low back pain, nurse Abstrak: Nyeri punggung bawah (NPB) adalah sindroma klinik yang ditandai dengan gejala utama nyeri atau perasaan lain yang tidak enak di daerah tulang punggung bagian bawah. NPB merupakan penyebab utama dari keterbatasan aktivitas dan absen pekerjaan di sebagian besar dunia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik perawat di Irina F RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Jenis penelitian ini deskriptif prospektif dengan desain potong lintang. Sampel diperoleh sebanyak 43 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 50 responden terdapat 43 responden (86%) yang pernah mengalami keluhan NPB. Dari 43 responden terdapat 14 perawat laki-laki (32,5%) dan 29 perawat perempuan (67,5%). NPB dialami oleh 16 perawat (37,2%) berusia 23-29 tahun, 19 perawat (44,2%) berusia 30-39 tahun, 2 perawat (4,6%) berusia 40-49 tahun, dan 6 perawat (14%) berusia 50-57 tahun. Terdapat 16 perawat (37,2%) yang memiliki masa kerja <5 tahun, dan 27 perawat (62,8%) memiliki masa kerja >5 tahun. Terdapat 7 perawat (16,3%) yang memiliki lama kerja <8 jam sehari, dan 36 perawat (83,7%) memiliki lama kerja >8 jam sehari.Kata kunci: nyeri punggung bawah, perawat
PROFIL CARPAL DAN CUBITAL TUNNEL SYNDROME PADA NELAYAN PESISIR PANTAI MANADO DI MAASING Linda, Amanda V; Mahama, Corry N; Khosama, Herlyani
Jurnal Kedokteran Klinik Vol 3, No 1 (2019): JURNAL KEDOKTERAN KLINIK
Publisher : FAKULTAS KEDOKTERAN UNSRAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractCarpal tunnel syndrome is a collection of symptoms that occur when the median nerve trapped in the carpal tunnel. Whereas cubital tunnel syndrome is an event of trapping the ulnar nerve in the cubital tunnel and Guyon’s canal. Both syndromes are at the top of the list of cumulative trauma disorders, namely types of musculoskeletal and nervous system injuries due to repetitive work. There had not been much research on carpal and cubital tunnel syndrome, especially in repetitive movements such as fishermen in North Sulawesi. This was a descriptive study that aimed to obtain the profile of carpal and cubital tunnel syndrome in fishermen at Manado coastal specifically in Maasing by using a cross-sectional method. Typical symptoms were assessed based on subjective symptoms; tingling, numbness, pain, or waking up at night. Additional for carpal tunnel syndrome was objective symptoms found in examination of thumb opposition tests, pinprick test, Tinel’s Test, Phalen’s Test, and carpal compression test, and for cubital tunnel syndrome was of Froment sign, elbow flexion test, and Tinel’s test, and whether or not there was sign of Wartenberg. Subjects consisted of 45 persons and the typical symptoms of the syndrome were found in 24 persons; carpal tunnel syndrome in 47% of subjects and cubital tunnel syndrome in 27% of subjects. Typical symptom of carpal and cubital tunnel syndrome mostly found on subject under the age of 50 and work for more than 10 years. Both syndroms showed that paresthesia was the most common symptom.Keywords: carpal tunnel syndrome, cubital tunnel syndrome, fishermen.AbstrakCarpal tunnel syndrome adalah kumpulan gejala yang terjadi saat N. medianus mengalami kompresi di dalam terowongan karpal. Sedangkan cubital tunnel syndrome adalah peristiwa terperangkapnya N. ulnaris di cubital tunnel dan Guyan’s canal. Kedua sindrom ini menempati urutan teratas dalam daftar cumulative trauma disorders yakni jenis cedera muskuloskeletal dan sistem saraf akibat pekerjaan berulang. Belum banyak dilakukan penelitian mengenai carpal dan cubital tunnel syndrome khususnya pada pekerjaan dengan gerakan repetitif seperti pada nelayan di Sulawesi Utara. Metode: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil carpal dan cubital tunnel syndrome pada nelayan pesisir pantai Manado di Maasing dengan menggunakan metode potong lintang dan bersifat deskriptif. Gejala khas dinilai berdasarkan gejala subjektif; kesemutan, mati rasa, nyeri, atau terbangun pada malam hari akibat kesemutan di tangan serta gejala objektif hasil pemeriksaan tes oposisi ibu jari, pinprick test, Tinel’s Test, Phalen’s Test, dan carpal compression test untuk carpal tunnel syndrome dan pemeriksaan tes provokasi Froment sign, elbow flexion test, dan Tinel’s test, dan ada maupun tidak ada gejala tambahan berupa Wartenberg sign untuk cubital tunnel syndrome. Subjek yang diteliti berjumlah 45 orang dan sebanyak 24 orang ditemukan adanya gejala khas sindrom; carpal tunnel syndrome pada 47% subjek dan cubital tunnel syndrome pada 27% subjek. Gejala khas carpal dan cubital tunnel syndrome ditemukan lebih banyak pada subjek berusia di bawah 50 tahun dan sudah bekerja selama lebih dari 10 tahun.. Pada carpal dan cubital tunnel syndrome, keluhan yang paling banyak ditemukan adalah kesemutan.Kata kunci: carpal tunnel syndrome, cubital tunnel syndrome, nelayan.
GAMBARAN KUALITAS TIDUR PADA PERAWAT DINAS MALAM RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO Thayeb, Ricky R. T. A.; Kembuan, Mieke A. H. N.; Khosama, Herlyani
e-CliniC Vol 3, No 3 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.3.3.2015.10457

Abstract

Abstract: Sleep is one of the primary needs of the basic requirement for human survival. Sleep disorders can cause some effects in humans. It is estimated that 60-80% of workers with shift work system have impaired sleep quality. This results in a decrease in work productivity and an increase in the occurence of accidents. This study aimed to obtain the sleep quality of nurses in Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado in 2013. This was a descriptive and observational study by using questionnaires. The study population was nurses in the Neurology Department and the Emergency Department (ED) with samples of 52 people. The results showed that the subjective sleep qualities as perceived by the nurses themselves were as follows: good enough (44.23%) and poor (36.54%). Respondents that had sleep disturbance less than once a week were 30.77%, and respondents that had sleep disturbance 1-2 times a week were 59.62%. Most nurses (69.24%) did not use sleeping pills. Respondents that experienced some disruption of their activities during the day over the past 1 month as many as 1-2 times a week were 55.77%. Conclusion: The quality of sleep of night shift nurses in Prof. Dr. R. D Kandou Hospital Manado belonged to poor quality.Keywords: night shift nurse, sleep qualityAbstrak: Tidur merupakan salah satu kebutuhan primer yang menjadi syarat dasar bagi kelangsungan hidup manusia. Gangguan tidur dapat menimbulkan beberapa efek pada manusia. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah 60-80% pekerja dengan system kerja shift mengalami gangguan kualitas tidur. Hal ini mengakibatkan penurunan produktivitas kerja dan dapat menyebabkan kecelakaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kualitas tidur perawat di RSUP. Prof. Dr. R. D. Kandou Manado tahun 2013. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif observasional dan pemberian kuesioner. Populasi ialah perawat Instalasi inap neurologi dan Instalasi gawat darurat (IGD dengan sampel berjumlah 52 orang. Hasil penelitian memperlihatkan kualitas tidur subjektif menurut persepsi perawat itu sendiri ialah cukup baik (44,23%) dan kurang baik (36,54%); gangguan tidur kurang dari sekali dalam seminggu (30,77%); dan gangguan tidur 1-2 kali dalam seminggu (59,62%). Mengenai penggunaan obat tidur, sebagian besar perawat (69,24%) tidak menggunakan obat tidur. Mengenai perawat yang mengalami gangguan beberapa aktifitas di siang hari selama 1 bulan terakhir sebanyak 1-2 kali dalam seminggu yaitu sebesar 55,77%. Simpualn: Kualitas tidur perawat dinas malam di RSUP Prof. Dr. R. D Kandou Manado tergolong kualitas tidur yang buruk.Kata kunci: perawat dinas malam, kualitas tidur
RASIO NEUTROFIL LIMFOSIT DAN LUARAN CEDERA KEPALA Kastilong, Merlin; I, Irene Subrata; Tangkudung, Gilbert; Khosama, Herlyani
Jurnal Sinaps Vol 1 No 2 (2018): volume 1 Nomor 2, Juni 2018
Publisher : Neurologi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.459 KB)

Abstract

Pendahuluan: Luaran cedera kepala dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya inflamasi. Rasio neutrofil limfosit&nbsp; (RNL) adalah salah satu penanda inflamasi yang mudah dilakukan dan diaplikasikan, namun jarang diteliti. Tujuan: Mengetahui apakah terdapat hubungan RNL dengan luaran cedera kepala. Metode: Penelitian potong lintang terhadap pasien cedera kepala sedang–berat (CKS-B) yang dirawat di RSUP Prof. R.D Kandou bulan November 2017–Februari 2018. Subjek dilakukan pemeriksaan laboratorium hitung jenis leukosit dan dihitung RNL. Skala Luaran Glasgow (SLG) dinilai saat keluar rumah sakit dan dibagi menjadi luaran buruk (SLG &lt;4) dan baik (SLG&nbsp; ≥4). Analisis data menggunakan chi square. Hasil: Terdapat 60 subjek penelitian, dengan proporsi terbanyak laki-laki (70%). Nilai median RNL lebih tinggi pada luaran buruk (6,82) dibandingkan luaran baik (4,16). Nilai cut off point RNL adalah 3,62. Subjek dengan RNL ≥3,62 memiliki luaran buruk dibandingkan subjek dengan RNL &nbsp;&lt;3,62 , secara statistik bermakna (p=0,04). Diskusi: Terdapat perbedaan bermakna luaran pasien cedera kepala diihat dari RNL. Pasien dengan RNL rendah memiliki luaran lebih baik dibandingkan pasien dengan RNL tinggi. &nbsp; Kata Kunci: cedera kepala, luaran, RNL &nbsp; ABSTRACT Introduction : The outcome of traumatic brain injury (TBI) can be affected by several factors, one of which is inflammation. Neutrophyl lymphocyte ratio (NLR) is an easy and applicable inflammatory markers but rarely studied in TBI. Aims: Determining if there is difference in the outcome of traumatic brain injury based on NLR. Methods : a cross sectional study of moderate-severe TBI patients admitted at RSUP Prof. R.D Kandou from November 2017-Februari 2018.The subjects were performed differential count and calculated NLR. Glasgow Outcome Scale (GOS) at hospital discharge was assessed and classified as poor (GOS&lt;4) and good outcome (GOS ≥4). Data was analyzed using chi-square test. Results :there were 60 subjects with the largest proportion is male (70%. NLR median score was higher in the poor outcome group (6.82) than in the good one (4.16). Cut off point of NLR was 3,62. Subjects with RNL ≥3,62 had poor outcomes compared to subjects with RNL &lt;3,62, statistically significant (p=0.04). Discussion: There was a significant difference in TBI outcome based on RNL. Patients with low RNL have better outcomes than patients with high RNL. &nbsp; Keyword :NLR, outcome, traumatic brain injury
NEUROLOGICAL DEPRESSION DISORDERS INVENTORY FOR EPILEPSY (NDDI-E) di POLIKLINIK SARAF RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO Juwita, Angelina; Dompas, Aprillia; Khosama, Herlyani; Mahama, Corry
Jurnal Sinaps Vol 1 No 3 (2018): volume 1 Nomor 3, September 2018
Publisher : Neurologi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (369.542 KB)

Abstract

Latar belakang: Depresi adalah salah satu gejala komorbid yang sering terjadi pada penderita epilepsi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sebaran depresi pada penderita epilepsi di poliklinik saraf RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian potong lintang. Penderita epilepsi yang datang berobat ke Poliklinik Saraf RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado bulan April sampai Juni 2017 yang telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dilakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan EEG, dan diminta mengisi kuesioner NDDI-E (Neurological Depression Disorders Inventory For Epilepsy). Hasil dianalisis menggunakan perangkat lunak SPSS versi 22. Diagnosis depresi ditegakkan menggunakan skor NDDI-E versi bahasa Indonesia yang telah divalidasi. Hasil penelitian: Terdapat 30 subjek pada penelitian ini, perempuan lebih banyak (53,33%). Median usia adalah 25 (16-53) tahun. Median lamanya menderita epilepsi adalah 5 (1-30) tahun. Mayoritas subjek menderita epilepsi lobus temporal (76,67%) dan sisanya epilepsi lobus frontal. Sebanyak 83,67% penderita epilepsi mempunyai komorbid depresi. Diagnosis depresi mayor (depresi yang dinilai berdasarkan NDDI-E ≥11) didapatkan sebanyak 26 orang (86,67%). Depresi terdapat pada 86,96% epilepsi lobus temporal dan 85,71% epilepsi lobus frontal. Kesimpulan: Penderita epilepsi di poliklinik saraf RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado mempunyai komorbid depresi yang tinggi.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Kata kunci: epilepsi, depresi, Manado, NDDI-E. &nbsp; ABSTRACT Background: Depression is one of the common comorbid symptoms in epilepsy patients. Objective: This study aims to determine the distribution of depression of epilepsy patients of neurology clinic in RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Method: This study is a cross sectional study. Epilepsy patients who came to neurology clinic in RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado from April to June 2017 who have met the inclusion and exclusion criteria, anamnesis, physical examination, EEG examination, and asked to fill out the NDDI-E (Neurological Depression Disorders Inventory For Epilepsy) questionnaire. The results were analyzed using SPSS software version 22. Diagnosed depression is enforced using the score of NDDI-E validated Indonesian version. &nbsp;Result: There are 30 subjects in this study, more women (53.33%). The median age is 25 (16-53) years. Median duration of epilepsy is 5 (1-30) years. The majority of subjects suffered temporal lobe epilepsy (76.67%), and the rest of the frontal lobe epilepsy. As many as 83.67% of epilepsy patients have comorbid depression. Major depression (depression assessed by NDDI-E Test ≥11) was found as many as 26 people (86,67%). Depression is present in 86.96% temporal lobe epilepsy and 85.71% frontal lobe epilepsy. Conclusion: Epilepsy patients of neurology clinic in RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado have a high comorbid depression. &nbsp; Keyword: epilepsy, depression, Manado, NDDI-E.
RASIO NEUTROFIL LIMFOSIT DAN LUARAN CEDERA KEPALA Kastilong, Merlin; Subrata, Irene; Tangkudung, Gilbert; Khosama, Herlyani
Jurnal Sinaps Vol 2 No 2 (2019): volume 2 Nomor 2, Juni 2019
Publisher : Neurologi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (14.987 KB)

Abstract

Pendahuluan: Luaran cedera kepala dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya inflamasi. Rasio neutrofil limfosit&nbsp; (RNL) adalah salah satu penanda inflamasi yang mudah dilakukan dan diaplikasikan, namun jarang diteliti. Tujuan: Mengetahui apakah terdapat hubungan RNL dengan luaran cedera kepala. Metode: Penelitian potong lintang terhadap pasien cedera kepala sedang–berat (CKS-B) yang dirawat di RSUP Prof. R.D Kandou bulan November 2017–Februari 2018. Subjek dilakukan pemeriksaan laboratorium hitung jenis leukosit dan dihitung RNL. Skala Luaran Glasgow (SLG) dinilai saat keluar rumah sakit dan dibagi menjadi luaran buruk (SLG &lt;4) dan baik (SLG&nbsp; ≥4). Analisis data menggunakan chi square. Hasil: Terdapat 60 subjek penelitian, dengan proporsi terbanyak laki-laki (70%). Nilai median RNL lebih tinggi pada luaran buruk (6,82) dibandingkan luaran baik (4,16). Nilai cut off point RNL adalah 3,62. Subjek dengan RNL ≥3,62 memiliki luaran buruk dibandingkan subjek dengan RNL &nbsp;&lt;3,62 , secara statistik bermakna (p=0,04) Diskusi: Terdapat perbedaan bermakna luaran pasien cedera kepala diihat dari RNL. Pasien dengan RNL rendah memiliki luaran lebih baik dibandingkan pasien dengan RNL tinggi. &nbsp; Kata Kunci: cedera kepala, luaran, RNL &nbsp; &nbsp; ABSTRACT Introduction : The outcome of traumatic brain injury (TBI) can be affected by several factors, one of which is inflammation. Neutrophyl lymphocyte ratio (NLR) is an easy and applicable inflammatory markers but rarely studied in TBI. Aims: Determining if there is difference in the outcome of traumatic brain injury based on NLR Methods : a cross sectional study of moderate-severe TBI patients admitted at RSUP Prof. R.D Kandou from November 2017-Februari 2018.The subjects were performed differential count and calculated NLR. Glasgow Outcome Scale (GOS) at hospital discharge was assessed and classified as poor (GOS&lt;4) and good outcome (GOS ≥4). Data was analyzed using chi-square test. &nbsp;Results :there were 60 subjects with the largest proportion is male (70%. NLR median score was higher in the poor outcome group (6.82) than in the good one (4.16). Cut off point of NLR was 3,62. Subjects with RNL ≥3,62 had poor outcomes compared to subjects with RNL &lt;3,62, statistically significant (p=0.04) Discussion: There was a significant difference in TBI outcome based on RNL. Patients with low RNL have better outcomes than patients with high RNL. &nbsp; Keyword :NLR, outcome, traumatic brain injury
GAMBARAN SIKAP GURU SD DAN SMP TERHADAP EPILEPSI cornelis, vivi; Khosama, Herlyani
Jurnal Sinaps Vol 2 No 2 (2019): volume 2 Nomor 2, Juni 2019
Publisher : Neurologi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (118.811 KB)

Abstract

Epilepsi adalah salah satu kelainan di otak yang kronik yang paling banyak terdapat pada anak-anak. Kelainan ini menimbulkan&nbsp; stigma negatif&nbsp; pada masyarakat, sehingga menyebabkan adanya diskriminasi terhadap para penderitanya. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan skala sikap masyarakat terhadap epilepsi yang dibagi menjadi dua macam pertanyaan yaitu pertanyaan umum yang hanya membutuhkan pertimbangan yang minimal dan pertanyaan pribadi yang membutuhkan pertimbangan yang lama. Makin rendah nilai rerata mengindikasikan makin posotif sikap terhadap epilepsy. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui sikap guru terhadap epilepsi dengan menggunakan skala kuantitatif. Dengan adanya pengetahuan para guru terhadap epilepsi dapat memberikan contoh bagi para murid bagaimana bersikap terhadap orang dengan epilepsy. Ini merupakan penelitian potong lintang yang dilakukan di Manado dan di lakukan setelah mendapat ijin dari yayasan sekolah Eben Heaser Manado. Penelitian ini menunjukkan sikap guru terhadap orang dengan epilepsi di Manado lebih negatif dibandingkan dengan di tempat lain. Mengapa demikian, dibutuhkan penelitian lebih lanjut dengan&nbsp; memasukkan berbagai faktor yang mempengaruhi sebagai faktor yang memperngaruhi sikap guru terhadap epilepsy Kata kunci: Epilepsi, anak-anak &nbsp; Abstract Epilepsy is one of the most common abnormalities in the brain in children. This disorder creates a negative stigma in the community, causing discrimination against sufferers. This research was conducted using a scale of community attitudes towards epilepsy which is divided into two kinds of questions, namely general questions that only require minimal consideration and personal questions that require long consideration. The lower the average value indicates the more positive attitude towards epilepsy. The purpose of this study was to determine the attitudes of teachers towards epilepsy using a quantitative scale. With the knowledge of teachers about epilepsy can provide an example for students how to behave towards people with epilepsy. This is a cross-sectional study conducted in Manado and was carried out after obtaining permission from the Eben Heaser Manado school foundation. This study shows the teacher's attitude towards people with epilepsy in Manado is more negative than elsewhere. Why is that, further research is needed by including various influencing factors as factors that influence teacher attitudes towards epilepsy Keywords: Epilepsy, children
KEPATUHAN MINUM OBAT ANTIEPILEPSI PADA PASIEN EPILEPSI DI MANADO, INDONESIA H.P. Mawuntu, Arthur; N. Mahama, Corry; Sekeon, Sekplin A.S.; Winifred, Karema; Khosama, Herlyani
Jurnal Sinaps Vol 2 No 3 (2019): Volume 2 Nomor 3, Oktober 2019
Publisher : Neurologi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (189.13 KB)

Abstract

Pendahuluan: Epilepsi memerlukan pengobatan yang lama. Kepatuhan minum obat akan mempengaruhi hasil pengobatan. Belum ada data tentang kepatuhan minum obat pada pasien epilepsi di Manado padahal karakteristik pasiennya mungkin berbeda dengan tempat lain. Tujuan: Mengetahui kepatuhan minum obat antiepilepsi (OAE) pada pasien epilepsi di Manado yang berhubungan dengan karakteristik pasiennya. Metode: Penelitian retrospektif dengan memeriksa rekam medis pasien-pasien epilepsi di Rumah Sakit Umum Pusat Prof. Dr. R.D. Kandou Manado tahun 2017-2018. Pasien yang dianalisis minimal telah meminum obat selama tiga bulan. Tingkat kepatuhan diukur menggunakan skala kepatuhan minum obat Morisky delapan item (Morisky medication adherence scale 8 Items/MMAS-8) versi Indonesia. Variabel yang diperiksa adalah usia, jenis kelamin, tipe epilepsi, adanya gangguan memori, durasi minum OAE, jenis OAE, adanya efek samping obat bermakna, dan adanya obat lain yang diminum. Hasil: Diperoleh 114 subjek. Rerata usianya adalah 28,57 tahun (median 25,5 tahun; minimal 6 dan maksimal 78 tahun). Jika usia ?15 tahun dianggap sebagai anak-anak, diperoleh 26 (22,8%) anak. Subjek laki-laki berjumlah 65 orang (57,01%). Tipe epilepsi terbanyak adalah epilepsi fokal (82,5%). Mayoritas subjek mendapatkan satu jenis OAE. Berdasarkan skala MMAS-8 versi Indonesia, sebagian besar subjek memiliki kepatuhan tinggi (48 subjek dengan kepatuhan tinggi, 36 sedang, dan 30 rendah). Tidak ada perbedaan yang bermakna antara subjek laki-laki dan perempuan untuk masalah kepatuhan minum obat. Kepatuhan minum obat secara bermakna ditemukan lebih tinggi pada pasien dengan OAE &gt;1 (p = 0,03). &nbsp; Kata kunci: pasien epilepsi. Manado, kepatuhan minum OAE, MMAS-8 versi Indonesia &nbsp; &nbsp; ABSTRACT Background: Epilepsy requires long-term treatment. Medication adherence will influence the treatment result. There are no data about medication adherence among epilepsy patients in Manado whereas the patients? characteristics may differ from other places. Aim: To know the anti-epileptic drugs (AEDs) adherence among epilepsy patients in Manado concerning the patients? characteristics. Methods: A retrospective study conducted by reviewing the medical records of epilepsy patients in R.D. Kandou hospital Manado year 2017-2018. The studied patients were at least have taken the medication for three months. Level of adherence was measured by Morisky medication adherence scale 8 items/MMAS-8 Indonesian version. Examined variables were age, gender, epilepsy type, the presence of memory impairment, AEDs duration, AEDs type, the presence of significant drug side effect, and concomitant medication. Results: We find 114 subjects. The mean age is 28.57 years old (median 25.5; minimal 6 and maximal 78 years old). By determining children as those aged ?15 years old, we find 26 (22.8%) children. Sixtyfive (57.01%) subjects are male. The mostly found epilepsy type is focal epilepsy (82.5%). The majority of subjects only received one AED type. According to the MMAS-8 Indonesian version, most subjects have high adherence level (48 subjects have high, 36 moderate, and 30 low adherence). There is no significant difference between male and female subjects for medication adherence. Medication adherence is significantly higher in those who have &gt;1 AEDs (p = 0.03). &nbsp; Keywords: epilepsy patients, Manado, adherence to AED, MMAS-8 Indonesian Version
GAMBARAN GANGGUAN FUNGSI KOGNITIF PADA PENDERITA DM TIPE 2 DI MANADO: GAMBARAN GANGGUAN FUNGSI KOGNITIF PADA PENDERITA DM TIPE 2 DI MANADO Torindatu, Dennis Samuel; Pertiwi, Junita Maja; Khosama, Herlyani
Jurnal Sinaps Vol. 3 No. 1 (2020): Volume 3 Nomor 1, Februari 2020
Publisher : Neurologi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (328.996 KB)

Abstract

Latar Belakang : DM Tipe 2 dapat menyebabkan gangguan kognitif. Penurunan fungsi kognitif pada penderita DM tipe 2 dapat berimplikasi kepada ketaatan penanganan dan rejimen obat-obatan. Tujuan : melihat gambaran gangguan kognitif pada penderita DM Tipe 2. Metode : penelitian ini menggunakan penelitian observasional analitik potong lintang. Pasien DM tipe 2 di poli Saraf dan poli Endokrin-Metabolik RS RDK yang memenuhi criteria inklusi dilakukan pemeriksaan InaMOCA. Analisis statistik dilakukan menggunakan perangkat lunak software statistic R versi 3.5.2. Hasil : Sebanyak 70 sampel dimasukkan dalam penelitian ini, 42 orang (60%) memiliki gangguan fungsi kognitif. Median skor InaMOCA 24 dengan domain fungsi kognitif yang paling banyak terganggu adalah memori (91,43%) dan bahasa (75,71%). Pada determinan, variable Indeks Massa Tubuh, Kolesterol dan LDL memiliki hubungan terhadap fungsi kognitif walaupun masih sulit ditegakkan pada level univariat karena nilai RO mendekati 1. Ditemukan albumin pada penelitian ini memberikan efek protektif terjadinya gangguan fungsi kognitif pada penderita DM tipe 2. Kesimpulan : sebanyak 42 orang (60%) memiliki gangguan fungsi kognitif dengan domain memori dan bahasa yang paling banyak terganggu. Albumin memberikan efek protektif terhandap gangguan fungsi kognitif pada penelitian ini. Kata Kunci : Gangguan fungsi kognitif , DM tipe 2, InaMOCA, Manado