Kisdjamiatun Kisdjamiatun
Unknown Affiliation

Published : 4 Documents
Articles

Found 4 Documents
Search

Mangosteen peel extract reduces formalin-induced liver cell death in rats Rohmani, Afiana; Sarjadi, Sarjadi; Winarto, Winarto; Kisdjamiatun, Kisdjamiatun
Universa Medicina Vol 33, No 2 (2014)
Publisher : Faculty of Medicine, Trisakti University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/UnivMed.2014.v33.109-117

Abstract

BACKGROUNDFormalin is a xenobiotic that is now commonly used as a preservative in the food industry. The liver is an organ that has the highest metabolic capacity as compared to other organs. Mangosteen or Garcinia mangostana Linn (GML) peel contains xanthones, which are a source of natural antioxidants. The purpose of this study was to evaluate the effect of mangosteen peel extract on formalin- induced liver cell mortality rate and p53 protein expression in Wistar rats.METHODSEighteen rats received formalin orally for 2 weeks, and were subsequently divided into 3 groups, consisting of the formalin-control group receiving a placebo and treatment groups 1 and 2, which were treated with mangosteen peel extract at doses of 200 and 400 mg/kgBW/day, respectively. The treatment was carried out for 1 week, and finally the rats were terminated. The differences in liver cell mortality rate and p53 protein expression were analyzed.RESULTSOne-way ANOVA analysis showed significant differences in liver cell mortality rate among the three groups (p=0.004). The liver cell mortality rate in the treatment group receiving 400 mg/kgBW/day extract was lower than that in the formalin- control group. There was no p53 expression in all groups.CONCLUSIONSGarcinia mangostana Linn peel extract reduced the mortality rate of liver cells in rats receiving oral formalin. Involvement of p53 expression in liver cell mortality in rats exposed to oral formalin is presumably negligible.
PENGARUH KOMBINASI ANNONA MURICATA DENGAN ARTEMISININ-BASED COMBINATION THERAPY (ACT) TERHADAP PERSENTASE LIMFOBLAS LIMPA DAN PARASITEMIA MENCIT YANG TERINFEKSI MALARIA Sari, Dwi Fatimah; Kisdjamiatun, Kisdjamiatun
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO ) Vol 6, No 1 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (433.518 KB)

Abstract

Latar Belakang: Terapi kombinasi dibutuhkan untuk melindungi obat malaria saat ini dan yang akan datang.. Ada pendapat bahwa pengelolaan malaria serebral memerlukan terapi adjuvant. Belum diketahui efektivitas A.muricata sebagai adjuvant pada malaria serebral yang dinilai dari persentase limfoblas limpa mencit Swiss  yang diinokulasi PbA.Tujuan: Membuktikan pengaruh kombinasi A.muricata dengan ACT terhadap persentase limfoblas limpa yang terinfeksi malaria.Metode: Penelitian eksperimental laboratorium murni dengan Post Test Only Control Group Design. Sampel 20 ekor mencit Swiss dengan kriteria tertentu, dibagi menjadi 4 kelompok. Kelompok K diberi air. Kelompok P1 diberi A.muricata 3.12 mg/KgBB/hari untuk pencegahan dan 6.24 mg/KgBB/hari untuk pengobatan. Kelompok P2 diberi ACT 0.546 mg/KgBB/hari. Kelompok P3 diberi A.muricata 3.12 mg/KgBB/hari untuk pencegahan dan 6.24 mg/KgBB/hari untuk pengobatan dan ACT 0.546 mg/KgBB/hari. Hari ke-21 diambil darah ekor untuk mengukur parasitemia dan diterminasi untuk isolasi splenosit untuk mengukur persentase limfoblas limpa.  Uji statistik menggunakan uji One-Way ANOVA dan uji Post-Hoc untuk limfoblas limpa serta uji Kruskal Wallis dan uji Mann Whitney untuk persentase parasitemia.Hasil: Rata - rata persentase limfoblas limpa kelompok K (26.7%), P1 (17.38%), P2 (11.142%), P3 (7.546%). Perbedaan yang signifikan terdapat pada kelompok K?P1 (p=0.007) , K?P2 (p=0.000), K?P3 (p=0.000), P1?P3 (p=0.005). Kelompok P1?P2 (p=0.056) dan P2?P3 (p=0.253) tidak ada perbedaan. Persentase parasitemia terdapat perbedaan antara kelompok K?P2 (p=0.009), K?P3 (p=0.009), P1?P2 (p=0.009), P1?P3 (p=0.009). Tidak terdapat perbedaan persentase parasitemia antara kelompok K-P1 (p=0.465) dan P2?P3 (p=0.209).Simpulan: Pengaruh kombinasi A.muricata dengan ACT terhadap persentase limfoblas limpa yang terinfeksi malaria tidak bermakna.
PENGARUH ANNONA MURICATA TERHADAP SEBUKAN LEUKOSIT OTAK MENCIT MALARIA YANG DITERAPI ARTEMISININ-BASED COMBINATION THERAPY (ACT) (STUDI INFEKSI PLASMODIUM BERGHEI ANKA PADA MENCIT SWISS) Purwanto, Hani Nur Rahmawati; Kisdjamiatun, Kisdjamiatun
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO ) Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (448.264 KB)

Abstract

Latar Belakang: Malaria masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Beberapa wacana penggunaan terapi adjuvant sebagai pendamping obat anti malaria standard (ACT) diperlukan untuk memperbaiki disfungsi vaskuler pada malaria. Bukti bahwa ekstrak daun A.muricata dapat menurunkan sebukan sel leukosit otak mencit swiss yang diinokulasi PbA belum ada dan perlu diteliti.Tujuan: Membuktikan pengaruh pemberian Annona Muricata terhadap sebukan leukosit otak mencit malaria yang diterapi Artemisinin Based Combination therapy Metode: Penelitian ini adalah penelitian Experimental dengan desain Post Test Only Control Group Design. Sampel  terdiri dari 20 ekor mencit swiss yang dibagi menjadi 4 kelompok. Kelompok K diberi air. Kelompok P1 diberi A.muricata 3.12 mg/KgBB/hari sebagai dosis pencegahan dan 6.24 mg/KgBB/hari sebagai dosis pengobatan. Kelompok P2 diberi ACT 0.546 mg/KgBB/hari. Kelompok P3 diberi A.muricata 3.12 mg/KgBB/hari sebagai dosis pencegahan dan 6.24 mg/KgBB/hari sebagai dosis pengobatan dan ACT 0.546 mg/KgBB/hari. Perlakuan selama 14 hari diakhiri dengan terminasi mencit dan isolasi organ otak untuk sediaan histopatologi dan koleksi darah untuk pengamatan tingkat parasitemia. Uji statistik menggunakan uji Chi-square untuk leukosit otak serta menggunakan uji Kruskal-Wallis dan uji Mann Whitney untuk persentase parasitemia.Hasil: Uji Chi-square limfosit otak didapatkan hasil tidak bermakna p>0,05 dan syarat uji Chi-square tidak terpenuhi. Penggabungan dilakukan pada kelompok 1 dan 2 kemudian diuji kembali menggunakan Chi-square didapatkan hasil tidak bermakna p>0,05 namun syarat uji Chi-square terpenuhi. Parasitemia didapatkan perbedaan bermakna antara kelompok K-P2 (p=0,008), K-P3 (p=0,009), P1-P2 (p=0,008), P1-P3 (p=0,009) maupun P2-P3 (p=0,011). Tidak didapatkan perbedaan bermakna antara kelompok K-P1 (p=0,249).Simpulan: Pengaruh pemberian A.muricata maupun A.muricata dengan ACT terhadap leukosit otak mencit swiss yang diinfeksi PbA didapatkan tidak bermakna.
PENGARUH KOMBINASI ANNONA MURICATA DAN ARTEMISININ-BASED COMBINATION TERAPHY (ACT) TERHADAP LAMA HIDUP DAN PARASITEMI PADA MENCIT YANG MENDERITA MALARIA (STUDI INFEKSI PLASMODIUM BERGHEI ANKA PADA MENCIT SWISS) Anjani, Restu; Kisdjamiatun, Kisdjamiatun
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO ) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (350.754 KB)

Abstract

Latar Belakang Di Indonesia kasus malaria masih banyak, terdapat tumbuhan obat salah satunya adalah Annona muricata. Terapi dengan ekstrak Annona muricata diharapkan mampu memperpanjang lama hidup mencit yang terinfeksi Plasmodium. Tujuan Mengetahui pengaruh pemberian terapi Atermisinin-based Combination Therapy (ACT) dan Annona muricata terhadap lama hidup mencit Swiss yang di infeksi PbA. Metode Penelitian ini merupakan eksperimental dengan desain penelitian Post Test Only Control Group Design, sample pada penelitian ini berjumlah 48 yang dibagi secara acak ke empat kelompok. Uji survival juga dilakukan pada keempat kelompok hewan coba. Analisis survival dilakukan dengan asumsi proporsional hazard (PH). Untuk parasitemi digunakan uji ANOVA yang dilanjutkan dengan Post Hoc. Hasil Pada Kurva Kapplan Meier menunjukan bahwa lama hidup pada kelompok perlakuan 1 lebih lama dibandingkan dengan kelompok kontrol, lama hidup kelompok perlakuan 2 lebih lama jika dibandingkan dengan kelompok perlakuan 1, dan pada kelompok 2 dan 3 masing masing terdapat 1 dan 2 kematian. Hasil parasitemi menunjukan H-17=(P=0,291), H-19(P=1,00), H-21(P=0,336), H-23(P=0,879), H-30(P=0,763) Simpulan Kombinasi Annona muricata dan Artemisinin-based Combination Teraphy (ACT) dapat menurunkan parasitemi dan memperpanjang lama hidup dibanding dengan kelompok kontrol serta kelompok yang hanya diberi Annona muricata , jika dibandingkan dengan kelompok yang diberi ACT saja belum terlihat perbedaannya pada lama hidup dan jumlah parasiteminya juga.