Sofie Rifayani Krisnadi
Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung

Published : 7 Documents
Articles

Found 7 Documents
Search

JENIS DAN JUMLAH MIKROORGANISME AEROB PADA PERSALINAN SPONTAN KURANG DAN CUKUP BULAN TANPA KETUBAN PECAH DINI S. Meliala, Yan O'Neil; Krisnadi, Sofie Rifayani; Effendi, Jusuf Sulaeman
Majalah Kedokteran Bandung Vol 44, No 1 (2012)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Persalinan kurang bulan merupakan penyebab utama mortalitas dan morbiditas perinatal. Angka kejadian persalinan kurang bulan yang disebabkan infeksi sebesar 40?50%. Tujuan penelitian ini untuk membuktikan bahwa persalinan spontan kurang bulan tanpa ketuban pecah dini didahului oleh korioamnionitis serta mengetahui perbandingan jenis dan jumlah mikroorganisme aerob penyebab korioamnionitis pada persalinan spontan kurang dan cukup bulan tanpa ketuban pecah dini. Penelitian ini merupakan studi komparatif dengan rancangan studi silang (cross sectional). Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung dan rumah sakit jejaringnya periode Juli?Agustus 2009 dengan subjek penelitian sebanyak 53 penderita. Analisis data dengan uji statistik digunakan uji chi-kuadrat dan untuk membandingkan perbedaan dua usia persalinan rata-rata digunakan uji beda (uji t). Kemaknaan ditentukan berdasarkan nilai p<0,05. Tidak terdapat perbedaan karateristik penderita pada kedua kelompok subjek penelitian. Terdapat hubungan bermakna kedua kelompok dengan korioamnionitis (p=0,004), terdapat perbedaan bermakna jenis mikroorganisme aerob antara kedua kelompok (p=0,025), dan terdapat perbedaan bermakna jumlah mikroorganisme aerob antara kedua kelompok (p=0,003). Simpulan, persalinan spontan kurang bulan tanpa ketuban pecah dini disebabkan korioamnionitis dan jumlah mikroorganisme mempengaruhi kejadian persalinan spontan kurang bulan tanpa ketuban pecah dini. [MKB. 2012;44(1):44?9].Kata kunci: Korioamnionitis, mikroorganisme aerob, persalinan spontan kurang bulan tanpa ketuban pecah diniSpecies and Number of Aerob Microorganism in Preterm and Term Spontaneous Delivery with Intact MembranePreterm birth is the main cause of perinatal mortality and morbidity. Prevalence of preterm delivery which is caused by infection is 40?50%. The aim of this study was to determine that spontaneous preterm delivery without premature rupture of the membrane is initiated by chorioamnionitis and to find out the comparison of aerob microorganism species and number from spontaneous preterm and term delivery without premature rupture of the membrane. This was a comparative cross sectional study. This study was conducted in Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung and satelite hospital, from July to August 2009, the subjects were 53 patients. This study analyzed with chi-square and t-test to differentiate average of gestational age with p<0.05. There?s no significant difference of characteristic between two research subject groups, significant difference between two research subject groups with chorioamnionitis (p=0.004), significant difference of aerob microorganism species between two research subject groups (p=0.025) and significant difference number of aerob microorganism between two research subjects (p=0.003). In conclusions, chorioamnionitis can initiate a spontaneous preterm delivery without premature rupture of the membrane and the number of microorganism indicated the virulence of microorganism that caused chorioamnionitis which is initiated spontaneous preterm delivery without premature rupture. [MKB. 2012;44(1):44?9].Key words: Aerob microorganism, chorioamnionitis, spontaneous preterm delivery without premature rupture of the membrane DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v44n1.211
PENGARUH PEMBERIAN VITAMIN D3 TERHADAP KADAR REACTIVE OXYGEN SPECIES (ROS) PADA SEL PHM1-41 YANG MENGALAMI HIPOKSIA Aziz, Muhammad Alamsyah; Krisnadi, Sofie Rifayani; Setiabudiawan, Budi; Handono, Budi
Majalah Kedokteran Bandung Vol 50, No 3 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15395/mkb.v50n3.1408

Abstract

Kelahiran preterm (kurang bulan) merupakan salah satu penyebab kematian bayi yang hingga kini menjadi permasalahan di seluruh dunia. Salah satu mekanisme patofisiologis yang menyebabkan kelahiran kurang bulan adalah aktivitas sumbu hipotalamus-pituitari-adrenal (HPA) pada ibu dan janin. Stres maternal biologis berupa hipoksia merupakan salah satu penyebab terjadi mekanisme kelahiran kurang bulan melalui jalur aktivasi sumbu HPA ibu dan sebagai respons terhadap reactive oxygen species (ROS).  Vitamin D3 sebagai salah satu sumber ion Ca2+ dibutuhkan untuk mekanisme kontraksi dan relaksasi otot halus miometrium. Selain itu, vitamin D diduga berpengaruh terhadap kerja sumbu HPA. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh penambahan vitamin D3 pada sel lini PHM1-41 yang menjadi model in vitro dari kontraksi miometrium pada ibu hamil yang mengalami stres hipoksia terhadap kadar ROS intraseluler sel PHM1-41. Penelitian dilakukan di Laboratorium penelitian Aretha Medika Utama, Biomolecular and Biomedical Research Centre dengan kurun waktu penelitian dari bulan Desember 2017 hingga Februari 2018. Sel PHM1-41 yang telah dikultur dengan keadaan hipoksia selama 24 jam diberi penambahan vitamin D3, kemudian diukur kadar ROS intraselulernya. Hasil menunjukkan bahwa kadar ROS menurun signifikan pada kelompok sel yang diberi penambahan vitamin D3 dengan konsentrasi 150 nM dibanding dengan kelompok sel kontrol hipoksia. Hal ini menunjukkan  bahwa penambahan vitamin D3 150 nM memiliki potensi mencegah kelahiran kurang  bulanEffects of Vitamin D3 Treatment on Reactive Oxygen Species (ROS) Level in PHM1-41 Cell Line Experiencing HypoxiaPreterm birth is one of the major global cause of perinatal mortality. One of the pathophysiologic mechanisms leading to preterm birth is the Hypothalamic-Pituitary-Adrenal (HPA) axis activity of mother and fetus.. Maternal biological stress, such as hypoxia condition, is one of the trigger  of preterm birth through the activation of HPA axis as a response to the reactive oxygen species (ROS). Vitamin D3 as a source of Ca2+ ion is needed for myometrium smooth muscle?s contraction and relaxation mechanism. Vitamin D is also thought to strongly influence the HPA axis?s work. The purpose of this study was to determine the effect of  vitamin D3 provisionon PHM1-41 cell line induced by hypoxia as an  of pregnant women?s myometrium contraction through assessment of intracellular ROS level in PHM1-41 cell lines. This study was conducted in Aretha Medika Utama Biomolecular and Biomedical Research Centre from December 2017 to February 2018. PHM1-41 cells were cultured for 24 hours in hypoxia condition,Vitamin D3 was then added and the level of intracellular ROS was measured. Results showed that the ROS level decreased in cell clusters receiving 150nM vitamin D3 when compared to control hypoxia cell cluster. This indicates that the provision of 150nM vitamin D3 potentially prevents preterm  labor incidents.  
Postpartum Anxiety Factors Involved in Subjects Undergoing Cesarean Section as Analyzed by Zung Self Rating Anxiety Scale Rahmat, Akbar; Saputra, Lucky; Pramatirta, Akhmad Yogi; Sabarudin, Udin; Krisnadi, Sofie Rifayani; Susanto, Herman; Effendi, Jusuf Sulaeman
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 1 Nomor 1 Maret 2018
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.383 KB)

Abstract

AbstractObjective: postpartum mother who underwent cesarean section may experience anxiety. The risk factors associated with anxiety include age, education and income level, parity, social and cultural factors, delivery methods, as well as the history of pregnancy.Methods: This study used analytic, cross-sectional method. Postpartum mother (n=194) were recruited for this study. All participants consented to fill a questionnaire, to determine the subject’s parameters and anxiety levels. Severity of postpartum anxiety was determined based on the Zung Self-rating Anxiety Scale (SAS). Results: Postpartum anxiety (SAS ≥45) were mostly found in the group experiencing emergency cesarean section (71.13%) compared to the group with scheduled cesarean section (32.1%) (p<0.001). Forty-seven subjects (82.5%) women aged <20 years old experienced postpartum anxiety, while 32.1% women aged ≥20 years old were found to have similar condition (p<0.001). Subjects with lower education levels had a higher prevalence of postpartum anxiety than those with higher education levels (73.4% vs 12.9%, p<0.001). Different income levels  had 47.2% and 46.3% prevalence of postpartum anxiety respectively, but not statistically significant. Conclusion: there was a correlation between anxiety score on women who experienced an emergency and scheduled cesarean section with age and education level.Keywords: Cesarean section, age, education levels, income levels, parity, Zung Self-rating Anxiety ScaleBeberapa Faktor yang Memengaruhi Kecemasan Pasien yang Menjalani Seksio Sesarea dengan Pemeriksaan Zung Self Rating Anxiety ScaleAbstrakTujuan: Kondisi pascaseksio sesarea dapat menimbulkan kecemasan ibu. Faktor yang dapat mempengaruhi timbulnya kecemasan antara lain usia, tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, paritas, faktor sosial budaya, faktor jenis persalinan, dan riwayat persalinan yang lalu. Metode: Penelitian ini menggunakan metode analitik cross-sectional. Wanita pasca seksio sesarea yang memenuhi kriteria penelitian (n=194) dengan kuesioner. Tingkat kecemasan dinilai berdasarkan derajat Zung Self-rating Anxiety Scale (SAS).Penelitian dilakukan di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung, RSUD Ujung Berung, RSKIA Kota Bandung, RSUD Soreang Kabupaten Bandung dari bulan Maret sampai dengan April 2017.Hasil: Penelitian ini menunjukan bahwa kecemasan postpartum (SAS ≥45) lebih banyak ditemukan pada pasien yang menjalani operasi sesar darurat (71,13%) dibandingkan dengan pasien yang telah dijadwalkan terlebih dahulu (32,1%) (p <0,001). Empat puluh tujuh pasien (82,5%) wanita usia <20 tahun mengalami kecemasan pasca melahirkan, sementara 32,1% wanita berusia ≥ 20 tahun ditemukan memiliki kondisi yang sama (p <0,001). Tingkat pendidikan ≤ SLTP memiliki prevalensi kecemasan lebih tinggi dibandingkan > SLTA (73,4% vs 12,9%, p <0,001). Tingkat pendapatan yang berbeda (lebih rendah dari UMR, sama atau lebih tinggi dari UMR) memiliki prevalensi pasca melahirkan sebesar 47,2% dan 46,3%, namun tidak signifikanberbeda  secara statistik. Simpulan: Terdapat perbedaan tingkat kecemasan pasca seksio sesarea pada kelompok  seksio sesarea segera dibandingkan terencana dengan usia dan tingkat pendidikan.Kata kunci: Seksio sesarea, usia, tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, paritas, Zung Self-rating Anxiety Scale
Gambaran Karakteristik dan Luaran pada Preeklamsi Awitan Dini dan Awitan Lanjut Di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Burhanuddin, Santi Maria; Krisnadi, Sofie Rifayani; Pusianawati, Dini
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 1 Nomor 2 September 2018
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1338.067 KB)

Abstract

AbstrakTujuan: Meneliti karakteristik dan luaran pada preeklamsia awitan dini dan awitan lambat di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin Bandung.Metode: Penelitian deskriptif dengan pendekatan potong lintang. Data diambil dari rekam medis.Hasil:  Terdapat 347 pasien preeklamsi, 137 preeklamsi awitan dini, 192 awitan lambat dan 18 eklamsi. Distribusi umur preeklamsi awitan dini 20 sampai <30 tahun yaitu 45 orang (32,85%) dan umur >35 tahun 45 orang (32,85%), pada awitan lambat tersering pada umur >35 tahun 64 orang (33,33%). Distribusi paritas preeklamsi awitan dini paritas 1−3 yaitu 102 orang (74,5%) dan awitan lambat 118 orang (61,5%). Luaran bayi menunjukkan bayi yang lahir sesuai usia kehamilan pada preeklamsi awitan dini sebanyak 83,9% dan awitan lambat sebanyak 77,6% dan nilai APGAR 1 menit 7-10 pada preeklamsi awitan dini adalah 46% dan awitan lambat adalah 72,4%. Sindrom HELLP parsial adalah komplikasi terbanyak, yaitu 64 kasus (18,44%),  39 kasus pada  preeklamsi awitan dini, dan 22 kasus pada preeklamsi awitan lambat.Kesimpulan: Tidak ada perbedaan signifikan luaran bayi antara preeklamsia awitan dini dan awitan lambat. Komplikasi tersering adalah sindroma HELLP parsial.Kata kunci: Karakteristik, luaran, preeklamsia awitan dini, awitan lambat.  Abstract Objective: To describe the characteristics and outcome in early onset and late onset pre-eclampsia at Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung.Method: A cross sectional study with retrospective approach by examining medical record at Dr. Hasan Sadikin General Hospital.Result: Showed 347 patients preeclampsia,137 early-onset preeclampsia, 192 late-onset and 18 eclampsia. Distribution by age in early-onset preeclampsia by age group 20 to <30 years ie 45 women (32.85%) and age >35 years ie 45 women (32.85%), late onset age group >35 years ie 64 women (33.33. Distribution based on parity in early onset preeclampsia in the 1−3 parity group of 102 women (74.5%) and late-onset of 118 women (61.5%). Infant outcome average for gestational age at early-onset of 83.9% and late-onset of 77.6% and APGAR value of 1 min 7−10  in early-onset was 46% and late-onset was 72.4%. The partial HELLP syndrome was the most common complication, ie 64 cases (18.44%), with the occurrence of early-onset preeclampsia 39 cases, in the late-onset 22 cases.Conclusion: No significant difference was found in infant outcome between the two groups . The most common complication is partial HELLP syndrome.Key words: Characteristics, outcomes, early onset preeclampsia, late onset preeclampsia.
HUBUNGAN KADAR βHCG PRAEVAKUASI, GAMBARAN HISTOPATOLOGI, DAN KISTA LUTEIN DENGAN PERFORMA βHCG PADA PENDERITA MOLA HIDATIDOSA YANG BERKEMBANG MENJADI PTG DAN KEMBALI NORMAL Hidayat, Yudi Mulyana; Gandamihardja, Supriadi; Krisnadi, Sofie Rifayani
Majalah Kedokteran Bandung Vol 46, No 4 (2014)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Insidensi penyakit trofoblas di Indonesia maupun negara berkembang masih cukup tinggi dibandingkan dengan negara maju. Hal yang perlu diwaspadai adalah terjadinya penyakit trofoblast gestasional (PTG) pascaevakuasi mola hidatidosa berkisar 10-20%. Beberapa variabel klinis telah diteliti sebagai variabel faktor risiko keganasan seperti kadar ?-human chorionic gonadotropin (?HCG) praevakuasi, gambaran histopatologi, dan terdapat kista lutein. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan kadar ?HCG praevakuasi, gambaran histopatologi dan kista lutein dengan performa penurunan ?HCG pada penderita mola. Metode penelitian yang digunakan adalah case control study pada penderita mola hidatidosa komplet di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung selama periode tahun 2007-2011. Hasil penelitian menunjukkan hubungan bermakna kadar ?HCG ?100.000 mIU/mL dengan keganasan pascamola (p<0,05), terdapat hubungan bermakna gambaran histopatologi proliferasi berlebih dengan keganasan pascamola (p<0,05), dan terdapat hubungan bermakna kista lutein positif dengan keganasan pascamola (p<0,05). Simpulan penelitian ini adalah variabel kadar ?HCG praevakuasi ?100.000 mIU/mL, gambaran histopatologi proliferasi berlebih, dan kista lutein positif memiliki korelasi dengan keganasan pascaevakuasi mola. Variabel faktor risiko tersebut  dapat digunakan untuk memilahkan penderita mola hidatidosa komplet risiko tinggi atau risiko rendah untuk kejadian keganasan dan variabel faktor risiko keganasan tersebut berpengaruh pada performa penurunan kurva regresi ?HCG.Kata kunci: Gambaran histopatologi, kadar ?HCG, kista lutein, mola hidatidosa komplit, PTGRelationship between Pre-Evacuation ?HCG Level, Histopathologycal View, Lutein Cysts and ?HCG Performance in Patients with Hydatidiform Mole which Developed into Gestational Trophoblastic Disease (GTD) and Back to NormalAbstractThe incidence of trophoblastic diseases in Indonesia and developing countries is relatively high compared to the developed countries. The incidence of gestational trophoblast tumors (GTT) after the evacuation of a hydatidiform mole ranges from 10% to 20%. Several clinical variables have been studied as the risk factors for malignancy, including the pre-evacuation level of beta human chorionic gonadotropin (?HCG), histopathological appearance, and the presence of lutein cysts. The purpose of this study was to determine the relationship between ?HCG decline and pre-evacuation ?HCG levels, histopathological features, and the lutein cysts status in patients with moles. This study was a case control study of patients with complete hydatidiform mole in Dr. Hasan Sadikin General Hospital during the period of 2007-2011. The results revealed that there was a significant correlation between the level of ?HCG ?100,000 mIU/mL and post-molar malignancy (p<0.05). There was also a significant relationship between the histopathologic feature of excessive post-molar cell proliferation and malignancy (p<0.05) and between the presence of lutein cyst and post-molar malignancy (p<0.05). This study concludes that the pre-evacuation ?HCG level ?100.000 mIU/mL, excessive proliferation, and the presence of lutein cysts are correlated with malignancy after molar evacuation. These risk factors are useful to differentiate whether a complete hydatidiform mole will become malignant or remain benign.Key words: Beta human chorionic gonadotropin levels, histopathologic features, lutein cysts, complete hydatidiform mole, gestational trophoblast tumors DOI: 10.15395/mkb.v46n4.345
Perbandingan Fungsi Berkemih pada 3 Hari dan 5 Hari Katerisasi Urin Pascaoperasi Histerektomi Radikal pada Wanita Penderita Keganasan Serviks Stadium Awal Novianti, Astri; Purwara, Benny Hasan; Hidayat, Yudi Mulyana; Krisnadi, Sofie Rifayani; Tobing, Maringan Diapari Lumban; Armawan, Edwin
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 1 Nomor 2 September 2018
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (142.064 KB)

Abstract

AbstrakTujuan: Menganalisis perbandingan fungsi berkemih pada pemakaian kateter urin selama 3 hari dan 5 hari pasca operasi histerektomi radikal.Metode: Non-inferiority randomized controlled trial. Subjek penelitian adalah penderita kanker serviks di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung yang dilakukan operasi histerektomi radikal. Dilakukan penilaian fungsi berkemih dan kejadian infeksi saluran kemih sebelum dan setelah operasi hari ke−3 (kelompok intervensi) dan hari ke−5 (kelompok kontrol). Hasil: Pascaoperasi terjadi penurunan fungsi sensorik 8,5% pada kelompok intervensi dan 13,5% pada kelompok kontrol dan penurunan fungsi motorik 87,5% pada kelompok intervensi dan 150% pada kelompok kontrol. Kejadian infeksi saluran kemih meningkat 6,7% pada kelompok kontrol. Kesimpulan: Penggunaan kateter urin selama 3 hari pasca histerektomi radikal tidak lebih buruk dari 5 hari dan dapat digunakan sebagai manajemen pada penderita kanker serviks pasca histerektomi radikal. Kata kunci: Disfungsi berkemih pasca histerektomi radikal, kateter 3 dan 5 hari pasca histerektomi radikal, infeksi saluran kemih.AbstractObjective: To compare the urinary function after radical hysterectomy  with catheter usage for 3 days and 5 days. Method: A non-inferiority randomized controlled trial. Subjects were women diagnosed with cervical cancer that underwent radical hysterectomy in Hasan Sadikin Hospital Bandung. The study conducted by comparing urinary function and urinary tract infection in 3 days catheterization and 5 days catheterization after radical hysterectomy. Result: Post operation, there was decreased 8,5% sensory function in intervention group and 13,5% in control group and decreased 87,5% motoric function in intervention group and 150% in control group. The urinary tract infection increased about 6,7% in control group. Conclusion:3-days urethral catheterization following radical hysterectomy is non inferior to 5 days urethral catheterization and could be used for management of women with early stage cervical cancer after radical hysterectomy. Key  words: Urinary dysfunction after radical hysterectomy, 3 and 5 days catheterization after radical hysterectomy, urinary tract infection
Pengaruh Kinesio Taping terhadap Intensitas Low Back Pain pada Kehamilan Trimester Tiga Dewi, Mira Dyani; Anwar, Anita Deborah; Sasotya, R. M. Sonny; Zulkarnain, Rachmat; Krisnadi, Sofie Rifayani; Purwara, Benny Hasan; Susiarno, Hadi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 2 Nomor 1 Maret 2019
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (117.947 KB)

Abstract

AbstrakTujuan: Penelitian ini adalah untuk menganalisis karakteristik pasien Low Back Pain (LBP), menganalisis perbedaan penurunan intensitas LBP dan keterbatasan aktivitas pada kelompok yang diberikan kinesio taping dan parasetamol dengan kelompok yang diberikan parasetamol Metode : Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain eksperimental dengan melakukan uji klinis  metode Pretest-Posttest Control Group Design yang dilakukan dengan menilai sebelum dan setelah perlakukan pada kelompok kontrol dan intervensi. Hasil : Penelitian didapatkan perbedaan penurunan intensitas nyeri  Numeric Rating Scale (NRS) yang bermakna pada kelompok kontrol dan intervensi sebesar 33,3% dan 60% dengan nilai p<0,001  dan perbedaan penurunan keterbatasan aktivitas Rolland Morris Disability Questionaire (RMDQ) yang bermakna pada kelompok kontrol dan intervensi sebesar 25,0% dan 55,6% dengan nilai p<0,001. Kesimpulan : Terdapat perbedaan penurunan intensitas LBP dan  keterbatasan aktivitas yang bermakna pada kelompok yang mendapatkan intervensi kinesio taping dibandingkan dengan kelompok kontrol yang tidak mendapatkan kinesio taping Kata kunci : kinesio taping, low back pain dalam kehamilan, keterbatasan aktivitas, numerical rating scale (NRS), Rolland Morris Disability Questionnaire (RMDQ)AbstractObjective : This research aims to analyze the characteristics patient who suffer LBP and to analyze the differences in LBP intensity and activity limitations in the groups that given kinesio taping and paracetamol with groups that given paracetamol only.Method: This research is quantitative research by conducting clinical test of Pretest-Posttest Control Group Design method which is done by assessing before and after treatment in control and intervention group. Result : The results showed significant difference in pain intensity Numeric Rating Scale (NRS) in control and intervention group by 33.3% and 60% with p <0.001 and significant difference in activity limitation Rolland Morris Disability Questionaire (RMDQ) in control and intervention group by 25.0% and 55.6% with p value <0.001. Conclusion : This research conclusion there was a significant differences in decreasing LBP intensity activity limitations in the group receiving the kinesio taping intervention compared with the control group who did not receive kinesio taping Key words : kinesio taping, low back pain in pregnancy, activity limitation, numerical rating scale (NRS), Rolland Morris Disability Questionnaire (RMDQ)