Ika Kurniasari
Unknown Affiliation

Published : 17 Documents
Articles

Found 17 Documents
Search

KEMAMPUAN MENGEMBANGKAN MEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS ICT BAGI GURU-GURU MGMP SMP, SMA, DAN SMK DI KABUPATEN BANYUWANGI Budiarto, Mega Teguh; Wijayanti, Pradnyo; Kurniasari, Ika
Jurnal ABDI: Media Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/ja.v1n2.p162-167

Abstract

Tujuan dari kegiatan ini adalah meningkatkan kemampuan guru dalam penguasaan materi bidang studi dan pembelajarannya. Kegiatan ini merupakan implikasi dari hasil Penelitian Unggulan Perguruan Tinggi tentang pendekatan Rigorous Mathematical Thinking (RMT) dalam pembelajaran materi bidang studi geometri. Secara khusus, tujuan kegiatan ini adalah guru mampu mengembangkan media pembelajaran berbasis ICT. Untuk mencapai tujuan tersebut, langkah-langkah yang digunakan adalah: (1) mengembangkan media berbasis ICT atau menggunakan perangkat lunak untuk pembelajaran materi bidang studi berbasis kelas; (2) implementasi media pembelajaran berbasis ICT di dalam kelas; dan (3) diskusi hasil implementasi dan revisi. Sasaran dari kegiatan ini utamanya adalah guru MGMP SMA. Namun, atas permintaan Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi, diikutsertakan guru MGMP SMP dan guru MGMP SMK. Jenis kegiatan ini mencakup: (1) pemetaan atau klasifikasi kemampuan ICT dari peserta, (2) pemberian informasi tentang pembuatan animasi berbasis Flash, (3) diskusi, (4) workshop pembuatan media ICT berbasis Macromedia Flash, (5) presentasi hasil workshop dan pemberian masukan dari narasumber untuk bahan kerja mandiri, dan (6) praktek kerja nyata menggunakan media ICT yang telah dibuat. Hasil akhir yang dicapai dalam kegiatan ini berupa persentase media ICT berbasis Flash yang terkumpul dan diterapkannya dalam pembelajaran di kelas. Sebanyak 10 dari 150 media ICT yang telah dibuat oleh guru MGMP baik SMP, SMA, dan SMK telah layak diterapkan di pembelajaran kelas. Diinformasikan bahwa 10 media tersebut, 7 media ICT dihasilkan oleh guru MGMP SMA, 2 media ICT dari guru MGMP SMP, dan 1 media ICT dari guru MGMP SMK. Tampak bahwa hanya sekitar 11% guru MGMP SMA, 6% guru MGMP SMP, dan 1% guru MGMP SMK yang telah berhasil membuat/menyelesaikan pembuatan media berbasis ICT.
PENGEMBANGAN BAHAN AJAR NUMBER THEORY UNTUK MAHASISWA KELAS INTERNASIONAL SULAIMAN, RADEN; KURNIASARI, IKA
Jurnal Penelitian Pendidikan Matematika dan Sains Vol 19, No 1 (2012): Vol. 19, No. 1, Juni 2012
Publisher : Jurnal Penelitian Pendidikan Matematika dan Sains

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Hasil pengamatan peneliti saat mengajar matakuliah Teori Bilangan diperoleh data bahwa banyak mahasiswa yang mengalami kesulitan  membuktikan suatu pernyataan, baik berupa teorema ataupun lemma. Salah satu faktor yang mengakibatkan mahasiswa mengalami kesulitan memahami materi dari matakuliah Teori Bilangan adalah kurangnya bahan ajar yang dapat dimanfaatkan mahasiswa serta bahan ajar yang tidak sesuai dengan deskripsi matakuliah pada buku pedoman mahasiswa, sehingga diperlukan bahan ajar yang sesuai dengan deskripsi yang ada pada buku pedoman mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan bahan ajar matakuliah Number Theory  untuk mahasiswa program studi Pendidikan Matematika kelas Internasional. Rancangan isi dari buku ajarnya  terdiri dari lima bab yang secara garis besar akan disusun sedemikian sehingga: Chapter 1: Divisibility, Chapter 2: Prime Numbers, Chapter 3: Greatest Common Divisor and Least Common Multiple, Chapter 4: Arithmetic Functions, Chapter 5: Congruences. Jenis penelitiannya adalah penelitian pengembangan. Hasil pengembangan bahan ajar matakuliah Number Theory telah selesai sampai draft 1. Draft 1 ini hanya menitikberatkan isi yang sesuai dengan buku pedoman yang dimiliki mahasiswa Kelas Internasional. Oleh karena itu masih perlu perbaikan dalam aspek struktur bahasa, materi dan kelengkapan buku ajar sebagai buku yang akan digunakan dalam perkuliahan oleh mahasiswa jurusan matematika. Sehingga bisa disimpulkan layak untuk digunakan, meskipun banyak revisi yang harus dilakukan. Kata Kunci: Pengembangan bahan ajar dan Number Theory Abstract. Observations the researcher while teaching number theory courses retrieved data that many students have difficulty proving a statement, either in the form of a theorem or lemma. One of the factors that resulted in the students have difficulty understanding the material from the number theory course is the lack of materials that can be utilized as well as student learning materials that do not conform to the description of courses in the student handbook, so that the necessary materials are in accordance with the description found in the student handbook. This research aims to develop learning materials Number Theory courses for students of Mathematics Education study program of international class. Content design of text book consists of five chapters that outline will be structured such that: Chapter 1: Divisibility, Chapter 2: Prime Numbers, Chapter 3: Greatest Common Divisor and Least Common Multiple, Chapter 4: Arithmetic Functions, Chapter 5: Congruences. This type of research is research development. Development of learning materials results Number Theory courses have been completed until the draft 1. This only concerns the 1st Draft of the contents according to the Handbook of student-owned international class. It is therefore still needs improvement in the aspect of the structure of language, content and completeness of the textbook as a handbook to be used in lectures by students majoring in mathematics. So it can be worth to use, though many revisions to be done. Key words: development teaching materials and number theory
PENGEMBANGAN PERMAINAN EDUKASI DALAM PEMBELAJARAN  MATEMATIKA PADA MATERI KESEBANGUNAN FAIZAH, NENY; KURNIASARI, IKA
Jurnal Penelitian Pendidikan Matematika dan Sains Vol 19, No 2 (2012): Vol. 19, No. 2, Desember 2012
Publisher : Jurnal Penelitian Pendidikan Matematika dan Sains

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Beberapa siswa berfikir bahwa aktivitas belajar itu tidak menyenangkan. Hal ini dikarenakan aktivitas pembelajaran yang tidak atraktif, dan membosankan. Peraturan Pemerintah menyatakan bahwa belajar harus menjadi interaktif, menginspirasi, menyenangkan dan menyediakan ruang bagi siswa untuk menjadi kreatif sesuai dengan potensi mereka. Oleh karena itu, guru harus membuat desain aktivitas belajar yang menyenangkan. Salah satu kegiatan yang disukai oleh siswa adalah permainan atau game. Permainan dapat digunakan sebagai alat pengajaran karena permainan dapat menarik siswa untuk terlibat secara aktif dalam kegiatan belajar. Permainan ini tidak hanya ditujukan untuk membuat kelas menyenangkan, tetapi juga fokus dalam pembelajaran. Hal ini disebut permainan edukasi. Matematika adalah salah satu mata pelajaran yang tidak disukai oleh para siswa karena matematika sangat abstrak terutama untuk anak-anak. Objek pada suatu permainan jika dimanipulasi dapat digunakan pembelajaran matematika. Jika permainan dapat digunakan sebagai alat mengajar pada pembelajaran matematika. Berdasarkan penjelasan ini, peneliti tertarik untuk mengembangkan permainan edukasi untuk pembelajaran matematika pada materi kesebangunan. Pengembangan permainan edukasi ini diadopsi dari model pengembangan Ross dan Kemp yang terdiri dari tiga fase yaitu perencanaan, prototipe, dan finalisasi. Pengembangan permainan edukasi terdiri dari dua sesi. Tujuan dari sesi pertama untuk membangun konsep kesebangunan dan tujuan sesi dua adalah untuk meningkatkan hasil pemahaman siswa tentang konsep kesebangunan. Hasil dari pengembangan ini adalah petunjuk permainan. Kata kunci: Permainan edukasi, kesebangunan, pengembangan permainan. Many students think that learning activity is not fun. It is because it is because the learning activities not attractive, and boring. The government regulation state that learning should be interactive, inspiring, fun and providing space for student to be creative according to their potential. Therefore, teacher should design fun learning activity, so that can motivate students to be active in learning activity. One of favored activity of children is a game. Game can be used to be a teaching tool because game can attract students to engage actively in the learning activity. The game is not only aimed to bring fun in the classroom but also focus on the learning. It is called educational game. Mathematics is one of subjects that are not liked by the students because mathematics very abstract especially for children. The objects in game if manipulated properly, it can be used in the mathematics learning. So, game can be a teaching tool to teach mathematics. Based on these explanations, the aim of this research is developing educational game for mathematics learning on materials of similarity. This developmental educational game is adopted from Ross and Kemp’s development models. It is consisting of three phases there are plan, prototype, and finalize. The developed educational game consists of two sections. The aim of section I is to construct similarity concept and the aim of section II is to work out student’s understanding about similarity concept. The result of this developmental is a game guideline. Keywords: Educational games, similarity, game developmental  
LITERASI MATEMATIKA SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL PISA KONTEN SPACE AND SHAPE DITINJAU DARI KECERDASAN MAJEMUK Kurniawati, Iis; KURNIASARI, IKA
MATHEdunesa Vol 8, No 2 (2019): Jurnal Mathedunesa Volume 8 Nomor 2 Tahun 2019
Publisher : Jurusan Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan literasi matematika siswa berkecerdasan linguistik, berkecerdasan logis-matematis, dan berkecerdasan spasial dalam menyelesaikan soal PISA konten space and shape. Analisis data berdasarkan indikator literasi matematika pada proses merumuskan masalah, menerapkan konsep, dan menafsirkan hasil penyelesaian. Hasil penelitian menunjukkan subjek berkecerdasan linguistik melalui beberapa proses, yaitu mengidentifikasi aspek-aspek matematika dalam permasalahan, menerjemahkan soal ke dalam bahasa matematika, merancang strategi untuk menentukan solusi namun kurang tepat, menjabarkan langkah-langkah penyelesaian sesuai dengan strategi yang telah dirancang, menafsirkan kembali hasil penyelesaian yang diperoleh ke dalam konteks permasalahan dunia nyata, serta menjelaskan alasan kebenaran kesimpulan yang diberikan. Subjek berkecerdasan logis-matematis melalui beberapa proses yaitu, mengidentifikasi aspek-aspek matematika dalam permasalahan, menerjemahkan soal ke dalam bahasa matematika, merancang strategi untuk menentukan solusi, menjabarkan langkah-langkah menemukan solusi matematika secara rinci, detail, dan sistematis, tidak menafsirkan kembali hasil penyelesaian yang diperoleh ke dalam konteks permasalahan dunia nyata, namun menjelaskan bahwa semua kesimpulan yang diberikan sesuai. Subjek berkecerdasan spasial melalui beberapa proses yaitu, mengidentifikasi aspek-aspek matematika dalam permasalahan, menerjemahkan soal ke dalam bahasa matematika, merancang strategi untuk menentukan solusi, tidak menafsirkan kembali hasil penyelesaian yang diperoleh ke dalam konteks permasalahan dunia nyata, namun menjelaskan bahwa semua kesimpulan yang diberikan sudah sesuai. Kata Kunci: Literasi matematika, kecerdasan majemuk, konten space and shape Abstract This study aims to describe mathematical literacy of students with linguistic intelligence, logical-mathematical intelligence, and spatial intelligence in solving space and shape content of PISA problems. Data analysis is based on mathematical literacy indicators in the process of formulating problems, applying concepts, and interpreting the results of solutions. The results showed that subjects with linguistic intelligence is capable of going through several processes, namely identifying mathematical aspects of the problem, translating questions into mathematical language, devising strategies to determine solutions but not appropriate, describing the steps of completion in accordance with the strategies that have been designed, reinterpreting the results the solutions obtained into the context of real world problems, and explain the reason for the conclusions given. Subjects with logical-mathematical intelligence is capable of going through several processes, namely identifying mathematical aspects of the problem, translating questions into mathematical language, designing strategies to determine solutions, describing steps to find mathematical solutions in detail, detail, and systematic, not reinterpreting results the solutions obtained into the context of real world problems, but explain that all conclusions are given accordingly. Subjects with spatial intelligence is capable of going through several processes, namely identifying mathematical aspects in the problem, translating questions into mathematical language, designing strategies to determine solutions, not reinterpreting the results of solutions obtained into the context of real-world problems, but explaining that all conclusions given already appropriate. Keywords: Mathematical literacy, multiple intelligence, space and shape content
PROFILE OF UNDERSTANDING STUDENTS’ MATHEMATICAL CONCEPT ON TRIGONOMETRY BASED ON GRASHA RIECHMANN’S LEARNING STYLE Adawiyah, Irbah; Kurniasari, Ika
MATHEdunesa Vol 9, No 1 (2020): Jurnal Mathedunesa Volume 9 Nomor 1 Tahun 2020
Publisher : Jurusan Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Understanding mathematical concepts is the ablitiy of students to accept material in the form of mathematical concepts and then can restate the concept, can use, utilize, an choose certain procedurs or operations in determaining a concept, and apply the concept in solving mathematical problems. Trigonometry is one of the subjects in mathematics that students? understanding of concepts is still low. The process of understanding mathematical concepts can be seen from the learning styles that each student has. Grasha Riechman's learning style is the tendency of students to think and interact with each other in various learning environments and various experiences in the process of gaining new knowledge.  The purpose of this study is to describe the profile of students? understanding of mathematical concepts in trigonometry based on Grasha-Riechman?s learning style. Grasha-Reichman learning style consist of independent, dependent, collaborative, competitive, contributive/participant, and avoidant. This study uses qualitative approach and this type of this study in descriptive qualitative. Data collection techniques used in this study were written test and interviews. Data analysis techniques used are data reduction, data presentation, and conclusions.. The subject of this study were each one student from the existing Grasha Riechmann?s learning style type.  The results show that Students who have a dependent and competitive learning style have ability to restate a concept, present concept in various mathematical representations, use or choose certain procedures in determining a concept, and apply concepts in completing mathematical problems. Students who have independent and collaborative learning style have the ability to restate a concept, present concepts in various mathematical representations, and use or choose certain procedures in determining a concept, but the have not been able to apply the concept to solving mathematical problems. Student who have avoidant learning style have the ability to present concept in various mathematical representations and use or choose procedures in determining a concept, but this student have not been able to restate a concept and apply the concept to solving mathematical problems. Student who have participant learning style only have the ability to present concepts in various mathematical representations, this student have not been able to restate a concept, use or choose procedures in determining a concepts, and apply the concept in solving mathematical problems.Keywords: Understanding mathematical concept, Trigonometry, Grasha Riechman's learning style
IDENTIFIKASI TINGKAT BERPIKIR KREATIF SISWA DALAM MENYELESAIKAN OPEN ENDED PROBLEM MATERI ARITMATIKA SOSIAL SMP DITINJAU DARI KEMAMPUAN MATEMATIKA NURUL ISNA, NELA; KURNIASARI, IKA
MATHEdunesa Vol 7, No 3 (2018): Jurnal Mathedunesa Volume 7 Nomor 3 Tahun 2018
Publisher : Jurusan Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pada dasarnya, pendidikan merupakan proses untuk mengembangkan potensi diri dalam menghadapi setiap perubahan yang terjadi di kehidupan. Dalam mengembangkan potensi diri, diperlukan suatu kemampuan berpikir kreatif agar seseorang dapat memiliki berbagai macam kemungkinan cara dalam menyelesaikan suatu masalah. Berpikir kreatif perlu dikuasai siswa dan dikembangkan dalam setiap proses pembelajaran. Untuk mengetahui berpikir kreatif siswa, guru dapat memberikan lembar open ended problem. Hal tersebut bertujuan untuk mengetahui bagaimana kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah yang memiliki lebih dari satu cara penyelesaian yang benar. Dalam menyelesaikan masalah, siswa memiliki ide yang berbeda-beda berdasarkan kemampuan setiap siswa. Adapun tujuan penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan tingkat berpikir kreatif siswa SMP dalam menyelesaikan open ended problem materi aritmatika sosial ditinjau dari kemampuan matematika. Jenis penelitian ini yaitu penelitian deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini terdiri dari dua siswa kelas VII A SMP Negeri 4 Surabaya. Satu siswa berkemampuan matematika tinggi dan satu siswa berkemampuan matematika sedang. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu metode tes dan metode wawancara. Data yang diperoleh dianalisis berdasarkan tiga indikator berpikir kreatif yaitu kefasihan, fleksibilitas, dan kebaruan. Selanjutnya peneliti mengelompokan dua siswa tersebut berdasarkan tingkat berpikir kreatif yang dimilikinya. Hasil penelitian menunjukkan siswa berkemampuan matematika tinggi dalam menyelesaikan open ended problem materi aritmatika sosial diidentifikasi memenuhi tiga indikator berpikir kreatif diantaranya kefasihan, fleksibilitas, dan kebaruan serta memiliki tingkat berpikir kreatif 4 (sangat kreatif). Sedangkan siswa berkemampuan matematika sedang dalam menyelesaikan open ended problem materi aritmatika sosial diidentifikasi memenuhi dua indikator berpikir kreatif diantaranya kefasihan dan fleksibilitas serta memiliki tingkat berpikir kreatif 3 (kreatif). Kata Kunci: berpikir kreatif, kemampuan matematika. Abstract Basically, education is process of developing self-potential to confront every change that happen in life. On developing self-potential needed creative thinking ability so someone can have various possibilities ways in solving a problem. Creative thinking need to be mastered by students, and developed in every process on learning. To know creative thinking of students, teacher can provide an open problem sheet. It aims to know how ability of students in solve the problem which has more than one ways correct. Students solve the problem with their own ideas based on their abilities. The purpose of this research is to describe creative thinking level of junior high school students in solving open ended problem of social arithmetic matters reviewed from mathematics ability differences. The type of this research is qualitative descriptive. The subjects of this research are two students from grade VII A of SMP Negeri 4 Surabaya. One student with high mathematics ability and the other one with medium mathematics ability. Data collection methods used were mathematical ability test method, open ended problem test method, and interview method. The data obtained were analyzed based on three indicators of creative thinking: fluency, flexibility, and novelty. Then, the researcher grouped the two students based on the level of creative thinking they have. The result of the research showed that the female students with high mathematics ability in solving open ended problem social arithmetic matter are identified satisfy three indicators of creative thinking such as a fluency, flexibility, and novelty and she have creative thinking 4th level (very creative). While, the female students with medium mathematics ability in solving open ended problem social arithmetic matter are identified satisfy two indicators of creative thinking such as a fluency and flexibility and she have creative 3rd level (creative). Keywords: creative thinking, mathematics ability.
HUBUNGAN KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF DAN KEMAMPUAN SISWA DALAM MEMBUAT SOAL MATEMATIKA AISY, RAUDLOTUL; KURNIASARI, IKA
MATHEdunesa Vol 8, No 2 (2019): Jurnal Mathedunesa Volume 8 Nomor 2 Tahun 2019
Publisher : Jurusan Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kemampuan berpikir kreatif memiliki keterkaitan dengan kemampuan memecahkan masalah. Kemampuan berpikir kreatif matematika siswa dapat dilihat pada pemecahan masalah yang dibuat siswa. Kemampuan siswa dalam membuat soal matematika memiliki hubungan yang positif dengan kemampuan memecahkan masalah. Dengan meminta siswa untuk membuat soal matematika terkait fenomena yang diberikan maka akan meningkatkan kemampuan memecahkan masalah siswa. Materi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu materi segitiga dan segiempat. Karena materi segitiga dan segiempat banyak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan dekat dengan kehidupan siswa. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan bagaimana hubungan antara kemampuan berpikir kreatif dan kemampuan siswa dalam membuat soal matematika. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kuantitatif deskriptif dan menggunakan analisis korelasi Pearson Product Moment. Populasi dalam penelitian ini yaitu siswa kelas VIII di SMPN 2 Jombang dan sampel penelitian yaitu siswa kelas VIII-A, VIII-B, dan VIII-C. Jumlah subjek penelitian yaitu 88 siswa. Data diperoleh dengan menggunakan metode tes. Tes yang digunakan yaitu Tes Berpikir Kreatif dan Tes Kemampuan Membuat Soal Matematika. Tes Berpikir Kreatif digunakan untuk mendapatkan data kuantitatif mengenai kemampuan berpikir kreatif siswa. Tes Kemampuan Membuat Soal Matematika digunakan untuk mendapatkan data kuantitatif mengenai kemampuan siswa dalam membuat soal matematika. Berdasarkan hasil uji statistik yang telah dilakukan menggunakan aplikasi SPSS-22 dengan analisis korelasi Pearson Product Moment diperolah bahwa hasil nilai Sig (2-tailed) yaitu 0,548. Berdasarkan pedoman pengambilan keputusan jika nilai Sig (2-tailed) > ? maka Ho diterima. Nilai ? yang digunakan yaitu 0,05. Sehingga nilai Sig (2-tailed) > ?. Keputusan yang diambil yaitu Ho diterima, sehingga diperoleh kesimpulan bahwa tidak ada hubungan antara kemampuan berpikir kreatif dan kemampuan siswa dalam membuat soal matematika.
IDENTIFIKASI PROSES BERFIKIR SISWA SMP KELAS VII DALAM MENYELESAIKAN SOAL CERITA PERTIDAKSAMAAN LINEAR SATU VARIABEL DITINJAU DARI KEMAMPUAN MATEMATIKA HANDAYANI, WENI; KURNIASARI, IKA
MATHEdunesa Vol 7, No 2 (2018): Jurnal Mathedunesa Volume 7 Nomor 2 Tahun 2018
Publisher : Jurusan Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Identifikasi merupakan prosesImenggolongkanIproses berpikir individui ke dalam jenisi proses berpikir. Proses berpikir merupakaniserangkaianrlangkahryangrdiawali dengan pembentukan pengertian, membentuk pendapat ,membuat kesimpulan dan pemanggilan kembali informasi tersebut dalam ingatan untuk mendapatkanhsolusi dari soal yang diberikan. Kemampuan matematika siswa berbeda-beda dan berpengaruhh pada proses berpikir siswa dalam menyelesaikan soal cerita matematika. Langkah menyelesaikan soal cerita ialahymemahami masalah, menyusun rencana penyelesaian, melaksanakan rencana penyelesaian dan memeriksa kembali jawaban. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan mengelompokkan proses berpikir siswa SMP kelas VII kedalam jenis proses berpikir yaitu konseptual, semikonseptual atau komputasional dalam menyelesaikan soal cerita pertidaksamaan linear satu variabel ditinjau berdasarkan tingkat kemampuan matematika tinggi, sedang dan rendah. Penelitian ini dilaksanakan di kelas VII-D SMP N 1 Rengel tahun ajaran 2017/2018. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa berkemampuan matematika tinggi memahami masalah, membentuk pengertian dengan menentukan apa yang diketahui dan ditanyakan, siswa juga mengabaikan informasi yang tidak digunakan. Selanjutnya, siswa membentuk pendapat dengan menggunakan konsep pertidaksamaan linear satu variabel. Selanjutnya siswa juga membuat kesimpulan dengan menuliskan dan menjelaskan kesimpulan yang dibuat. Pada tahap akhir, siswa memeriksa kembali jawaban dengan melakukan pemanggilan kembali informasi yang diperlukan untuk mencapai jawaban yang benar. Siswa berkemampuan matematika sedang pada tahap membentuk pendapat, siswa tidak menggunakan konsep yang seharusnyaikarenaikurang memahami konsep. Sehingga pada tahap membuat kesimpulan, siswa menuliskan kesimpulan yang salah. Pada tahap memeriksa kembali, siswa berusaha memanggil kembali informasi yang diperlukan untuk dapat memperbaiki jawaban namun tetap salah. Siswa berkemampuan matematika rendah dalam memahami masalah membentuk pengertian dengan menganalisis informasi soal, namun siswa mengalami kesulitan memahami maksud dari soal. Sehingga dalam membentuk pendapat, siswa tidakimembuatimodelimatematikaidarii yangidiketahuiiserta tidak menggunakan konsep yang dipelajari. Selanjutnya, siswa jugaitidakidapati memberikanipendapatimengenaiilangkahiyangiditulis. Dalam membentuk kesimpulan, siswaitidaki menuliskani kesimpulan. Pada tahap memanggil kembali, siswa tidak memeriksa jawaban karena tidak mengetahui letak kesalahan jawaban yang dibuat.Berdasarkan deskripsi proses berpikir yang telah dijabarkan, jenis proses berpikir siswa berkemampuan tinggi yaitu konseptual, siswa berkemampuan sedang yaitu semikonseptual, dan siswa berkemampuan rendah yaitu komputasional. Kata kunci: Proses berpikir, soal cerita, pertidaksamaan linear satu variabel, kemampuan matematika Abstract Identification is a process of classifying of thought processes from individual into the type of the thought processes. The thought processes is a series steps that begin with forming understanding, forming opinions, forming conclusions and recalling the informations in the memory to get solution of the problem. Students mathematical abilities are different and influential on the students thought processes to resolve problem about the word problem in mathematics. Steps to solve word problem of mathematics are understanding the problems, made a planning steps, solved the problems and checking the answer.This research aims to describe and classify the thought processes of 7th grade junior high school students in the type of thought processes to solve the word problem of inequality linear one variable be reviewed based on high, medium and low level of mathematical ability. This research was implemented at VII-D class, 1 Rengel junior high school, academic year 2017/2018. The result showed that student with high mathematical ability understood the problems, forming an understanding by determine what is known and asked, student also ignores unused information. Then, student forming opinios by using the concept of inequality linear one variabel. Then, student also make conclusions by writing and explaining the conclusions. The last steps, student checking answer with recall the information was needed to reach the correct answer. Student with medium mathematical ability in forming opinions, student do not use a concept, because student less understand the concept. So in the step of forming conclusions, student write a wrong conclusions. In the rechecking step, student try to recall information are needed to fix the answer but remained wrong. Students with low mathematical ability in understanding problems, formed understanding by analizing the problem information, student had difficult to understanding the problem. So in the forming opinions, student had difficult to make mathematical models from known information and did not use the concept that learned. And then, student also could not give an opinions about the steps that written. Forming conclusions, the student did not write conclusions. In the rechecking steps, student did not check the answer because they did not know the location of the error answer was made.Based description thought processes that has been described, the type of thought processes students with high mathematical ability is conceptually, students with medium mathematical ability is semiconceptual, and students with low mathematical ability is computational. Keyword: thought processes, word problem, inequality linear one variable, mathematical ability.
PROFIL KOMUNIKASI MATEMATIKA SISWA DALAM PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA DITINJAU DARI GAYA KOGNITIF VISUALIZER-VERBALIZER ROMDHON BAEHAQI, MOHAMMAD; KURNIASARI, IKA
MATHEdunesa Vol 7, No 2 (2018): Jurnal Mathedunesa Volume 7 Nomor 2 Tahun 2018
Publisher : Jurusan Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Komunikasi menjadi hal yang sangat vital dan penting, khususnya dalam pelajaran matematika. Komunikasi matematika dalam pembelajaran matematika bagi siswa bermanfaat mendapatkan pemahaman matematika yang lebih baik dan memiliki ingatan lebih lama tentang pengetahuan matematika saat mereka memecahkan masalah. Perbedaan gaya kognitif merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi individu dalam pemecahan masalah matematika. Adapun komunikasi yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah komunikasi matematika tulis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan profil komunikasi matematika siswa dalam pemecahan masalah matematika dengan gaya kognitif visualizer dan verbalizer. Peneltian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif yang dilaksanakan di SMP Negeri 1 Gresik. Subjek penelitian ini terdiri dari masing-masing satu siswa dengan gaya kognitif visualizer dan verbalizer. Instrumen penelitian terdiri dari Tes VVQ dan Tes Komunikasi Matematika Tulis (TKMT). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa subjek dengan gaya kognitif visualizer (SVS) memiliki komunikasi matematika dengan rincian sebagai berikut: pada langkah memahami masalah, subjek menuliskan hal-hal yang diketahui dan ditanyakan secara tidak akurat, lengkap, dan tidak lancar. Pada langkah membuat rencana penyelesaian, subjek menggunakan strategi penyelesaian dengan akurat, lengkap, dan lancar; subjek menuliskan istilah/notasi matematika secara tidak akurat, lengkap, dan lancar; subjek membuat gambar/sketsa beserta keterangan secara akurat, tidak lengkap, dan lancar. Pada langkah melaksanakan rencana penyelesaian, subjek menuliskan langkah-langkah perhitungan secara akurat, tidak lengkap, dan lancar. Sedangkan pada langkah memeriksa kembali, subjek menuliskan kesimpulan dengan akurat, tidak lengkap, dan lancar. Subjek dengan gaya kognitif verbalizer (SVB) memiliki komunikasi matematika dengan rincian sebagai berikut: pada langkah memahami masalah, subjek menuliskan hal-hal yang diketahui dan ditanyakan dengan tidak akurat, tidak lengkap, dan lancar. Pada langkah membuat rencana penyelesaian, subjek menggunakan strategi penyelesaian secara tidak akurat, lengkap, dan tidak lancar; subjek menuliskan istilah/notasi matematika secara tidak akurat, lengkap, dan tidak lancar; subjek membuat gambar/sketsa beserta keterangan secara akurat, lengkap, dan lancar. Pada langkah melaksanakan rencana penyelesaian, subjek menuliskan langkah-langkah perhitungan dengan tidak akurat, lengkap, dan lancar. Sedangkan pada langkah memeriksa kembali, subjek menuliskan kesimpulan secara tidak akurat, tidak lengkap, dan tidak lancar. Kata kunci: komunikasi, pemecahan masalah, gaya kognitif Abstract Communication becomes very vital and important, especially in mathematics learning. Mathematical communication in mathematics learning for students is beneficial to gain a better understanding of math and have longer memories of mathematical knowledge as they solve problems. Differences in cognitive style are one of the factors that influenced the individual in solving mathematical problems. The communication that will be discussed in this research is written mathematical communication. The purpose of this study is describing the mathematical communication profile of students in solving mathematical problems based on cognitive style of visualizer and verbalizer. This research was descriptive research with qualitative approach which is implemented in SMP Negeri 1 Gresik. The subjects of this study consist of one student with cognitive style visualizer and one student with cognitive style verbalizer. The research instruments consist of the VVQ Test and the Mathematics Communication Test. The results of this study indicate that the subject with visualizer cognitive style (SVS) has a mathematical communication with the following details: on the step of understanding the problem, subject writes down the things that are known and asked inaccurately, completely, and influently. In the step of making a solution plan, subject uses an accurate, complete, and fluent strategy; subject writes the mathematical terms/notations inaccurately, completely, and fluently; subject draws the figure/sketches along with information accurately, incomplete, and fluently. In the step of implementing the solution plan, subject writes down the calculation steps accurately, incompletely, and fluently. While at the step of looking back, subject writes the conclusions accurately, incompletely, and fluently. Subject with cognitive verbalizer style (SVB) has a mathematical communication with the following details: on the step of understanding the problem, subject writes down the things that are known and asked inaccurately, incompletely, and fluently. On the step of making a solution plan, subject uses the an inaccurate, complete, and influently; subject writes mathematical terms/notations inaccurately, completely, and influently; subject draws the figure/sketches along with information accurately, complete, and fluently. On the step of implementing the solution plan, subject writes down the calculation steps inaccurately, completely, and fluently. While at the step of checking again, subject writes the conclusions inaccurately, incomplete, and influently. Keywords: communication, problem solving, cognitive style.
PROFIL BERPIKIR KREATIF SISWA SMP DALAM PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA DITINJAU DARI GAYA BERPIKIR LAELA OCTIANI, KURNIAWATI; KURNIASARI, IKA
MATHEdunesa Vol 7, No 2 (2018): Jurnal Mathedunesa Volume 7 Nomor 2 Tahun 2018
Publisher : Jurusan Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Berpikir kreatif merupakan salah satu kemampuan berpikir tingkat tinggi yang harus dimiliki siswa. Berpikir kreatif dapat dikembangkan melalui pemecahan masalah. Tahap pemecahan masalah yang digunakan dalam mpenelitian ini yaitu tahap merencanakan masalah dan menyelesaikan masalah. Dalam berpikir kreatif dibutuhkan cara berpikir yang berbeda. Perbedaan cara berpikir tersebut dapat dipengaruhi oleh perbedaan gaya berpikir yang dimiliki oleh masing-masing individu. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan profil berpikir kreatif siswa SMP dalam pemecahan masalah matematika ditinjau dari gaya berpikir. Penelitian dilaksanakan di kelas VIII-B dan VIII-C SMP Negeri 19 Surabaya. Subjek penelitian terdiri dari empat siswa yaitu satu siswa sekuensial konkrit, satu siswa sekuensial abstrak, satu siswa acak konkrit, dan satu siswa acak abstrak. Keempat subjek juga memiliki kemampuan matematika tinggi. Analisis data berdasarkan indikator berpikir kreatif (kefasihan, fleksibilitas, dan kebaruan) dalam tahap pemecahan masalah (merencanakan masalah dan menyelesaikan masalah). Hasil Penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa dalam merencanakan dan menyelesaikan masalah, siswa sekuensial abstrak memenuhi semua indikator berpikir kreatif. Untuk siswa sekuensial konkrit memenuhi indikator kefasihan dan fleksibilitas. Dan untuk siswa acak konkrit memenuhi semua indikator berpikir kreatif, sedangkan untuk siswa acak abstrak tidak dapat memenuhi indikator berpikir kreatif. Kata kunci: Profil Berpikir Kreatif, Pemecahan Masalah, Gaya Berpikir. Abstract Creative thinking is one of higher-order thinking skills that is important for student. Creative thinking can be developed by using problem solving. The stage of problem solving in this research is a planning solution stage and applying solution stage. Creative thinking requires different ways of thinking to solve a problem. The different ways of thinking can be influenced by different thinking style for each student. The research was descriptive-qulitative that the goal is describing the profile of junior high school students? creative thinking in solving mathematical problem based of thinking style. The research is conducted in the class VIII-A and VIII-B Junior High School 19 Surabaya. Subjects in this research consist of four students, which are a concrete sequential student, an abstract sequential student, a concrete random student, and an abstract random student. All of them have a high category in mathematics ability. The data was analyzed based on indicator of creative thinking (fluency, flexibility, and novelty) in the steps of problem solving (devise a plan and carrying out the plan) The result of this research in stage of planning solution and applying solution are, a student who has abstract sequential thinking style is doing all the indicator of creative thinking. A student who has concrete sequential thinking style is doing the criteria of creative thinking that are fluency and flexibility. A student who has thinking style concrete random thinking style is doing all the criteria of creative thinking. A student who has abstract random thinking style is not doing all the criteria of creative thinking Keyword: Profile of Creative Thinking, Problem Solving, Thinking Style.