Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Jurnal Riset Akuakultur

PERBANDINGAN PATOGENESITAS, Edwardsiella tarda PADA IKAN MAS KOKI (Charassius auratus) DAN IKAN CELEBES RAINBOW (Telmatherina celebensis) Narwiyani, Siti; Kurniasih, Kurniasih
Jurnal Riset Akuakultur Vol 6, No 2 (2011): (Agustus 2011)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (203.232 KB) | DOI: 10.15578/jra.6.2.2011.291-301

Abstract

Edwardsiella tarda adalah salah satu jenis bakteri yang masuk dalam daftar Hama Penyakit Ikan Karantina (HPIK) yang harus dicegah penyebarannya. Infeksi E. tarda terdapat pada berbagai jenis ikan budidaya maupun pada ikan yang hidup di perairan bebas. E. tarda juga menginfeksi vertebrata tingkat tinggi (burung dan reptil), mamalia, dan termasuk juga manusia. Pada manusia, dikenal sebagai penyebab penyakit gastrointestinal dan ekstraintestinal. Edwardsiella tarda sudah tersebar di beberapa negara di antaranya adalah Jepang, Taiwan, Thailand, Amerika Serikat, Singapura, dan Malaysia. Di Indonesia, E tarda ditemukan di Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. E. tarda dapat diidentifikasi melalui gejala klinis, identifikasi secara morfologi, fisik, dan biokimia, serta molekuler DNA. Bakteri ini menyerang mekanisme pertahanan tubuh inang, karena itu, proses proliferasi bakteri ini sangat cepat di dalam inang dan menyebabkan kematian. Tingkat patogenitas E. tarda dapat ditentukan berdasarkan kemampuan bakteri tersebut untuk menginfeksi kekebalan non spesifik pada ikan. Perbedaan patogenitas E. tarda pada berbagai ikan air tawar di Indonesia belum pernah dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan patogenitas dan LC50 E. tarda pada ikan mas koki (Carassius auratus) dan ikan Celebes rainbow (Telmatherina celebensis). Untuk uji LC50 ikan uji disuntik dengan penyuntikan intraperitonial dengan konsentrasi bakteri 0, 102, 104,106, 108, dan 1010cfu/mL, ikan dipelihara dalam akuarium selama 48 jam dan dihitung jumlah kematiannya setiap 12 jam. Nilai LC50 untuk ikan mas koki dan ikan Celebes Rainbow adalah 1,8 x 105 cfu/mL dan 2,3 x 107 cfu/mL. Uji patogenitas dilakukan dengan melakukan perendaman ikan uji dalam akuarium berukuran 30 cm x 30 cm x 50 cm dengan kepadatan 10 ekor/akuarium dan volume 20 air liter selama seminggu; dan kepadatan bakteri menggunakan nilai LC50 masingmasing ikan. Perubahan makroskopik patologik anatomik menunjukkan adanya lesi kemerahan pada ekor dan sirip, pembengkakan perut dan tubuh, insang pucat, lesi pada pangkal sirip dan ekor, dan pembengkakan pada hati dan ginjal pada ikan mas koki dan ikan Celebes rainbow
SCANNING ELECTRON MICROSCOPY DARI Clinostomum complanatum (DIGENEA: CLINOSTOMIDAE) PADA IKAN BETOK ( Anabas testudineus ) DI YOGYAKARTA, INDONESIA Riauwaty, Morina; Kurniasih, Kurniasih; Prastowo, Joko; Windarti, Windarti
Jurnal Riset Akuakultur Vol 6, No 2 (2011): (Agustus 2011)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (155.476 KB) | DOI: 10.15578/jra.6.2.2011.303-309

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui topografi permukaan Clinostomum complanatum (Digenea: Clinostomidae) yang menginfeksi ikan air tawar di Yogyakarta. Ikan betok (Anabas testudineus) diperoleh dari Kali Progo, Yogyakarta. Metaserkaria Clinostomum complanatum yang ditemukan di insang, dikeluarkan dengan menggunakan jarum dan diawetkan dalam etanol absolut. Pengamatan topografi permukaan tegument dengan Scanning Electron Microscopy (SEM). Data morfologi dianalisis secara deskriptif. Topografi tegument dari metaserkaria Clinostomum complanatum pada ikan betok menunjukkan adanya perbedaan struktur. Oral sucker terletak di ujung terminal, berbentuk elips dengan permukaan halus. Ventral sucker terletak dekat dengan oral sucker, berada di anterior dan memiliki papila sensoris, tetapi tidak memiliki spina. Permukaan tubuh cekung dan memiliki tonjolan yang tidak beraturan. Lubang ekskretori terletak di ujung posterior tubuh cacing.