Articles

Found 7 Documents
Search

PENGARUH PENGGANTIAN TEPUNG IKAN DENGAN TEPUNG LARVA HERMETIA ILLUCENS DAN AZOLLA SP. TERHADAP KUALITAS PAKAN IKAN TERAPUNG Hakim, Arif Rahman; Kurniawan, Koko; Siregar, Zaenal Arifin
Jurnal Riset Akuakultur Vol 14, No 2 (2019): (Juni, 2019)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jra.14.2.2019.%p

Abstract

Saat ini harga tepung ikan yang merupakan sumber protein utama terus mengalami kenaikan sehingga dibutuhkan sumber protein lainnya yang bisa mengganti peran tepung ikan dalam pakan ikan terapung. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh bahan pengganti tepung ikan terhadap kualitas fisik pakan. Bahan yang digunakan ialah tepung larva Hermetia illucens dan tepung Azolla sp. Metode penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan formula pakan yang berbeda yaitu perbandingan tepung ikan dengan tepung larva H. illucens atau Azolla sp. berturut-turut 100%:0%; 75%:25%; 50%:50%; dan 25%:75%. Parameter yang diamati meliputi kadar protein, rasio pengembangan, unit density, daya apung, dan kekerasan pakan. Hasil penelitian menunjukkan penggantian tepung ikan dengan tepung larva dalam formula menghasilkan kadar protein yang tidak berbeda nyata, berkurangnya rasio pengembangan, meningkatnya unit density, turunnya daya apung, dan meningkatkan kekerasan pakan. Sedangkan penggantian dengan tepung Azolla sp. memberikan efek terhadap turunnya kadar protein, turunnya rasio pengembangan dan kekerasan pakan namun tidak berpengaruh terhadap unit density dan daya apung pakan. Berdasarkan hasil ini tepung Azolla memiliki potensi sebagai pengganti sebagian tepung ikan dalam pembuatan pakan ikan terapung.Fish meal prices continue to increase, which has led to research efforts of finding other protein sources to replace fish meal in floating fish feed. The purpose of this study was to determine the effects of alternative fish meal replacements on the physical quality of feed. Alternative replacement ingredients were Hermetia illucens larval meal and Azolla meal. The research method used a completely randomized design (CRD) consisted of different ratios of fish meal with H. illucens larval meal and Azolla meal combination of 100%:0%, 75%:25%, 50%:50%, and 25%:75%, respectively. The parameters observed included protein content, expansion ratio, unit density, floatability, and hardness of feed. The study found that the larval meal produced similar protein content, reduced expansion ratios, increased unit density, decreased floatability and increased hardness of feed. The replacement of fish meal with Azolla meal had decreased the protein content, expansion ratio, and hardness of the feed. However, the substitution did not affect the unit density and floatability of feed. Based on this result Azolla meal has potential as replacement of fish meal partially in producing floating fish meal.
SENSITIVITAS DETEKSI PENYAKIT VIBRIOSIS PADA UDANG PENAEID DENGAN PENANDA MOLEKULER SPESIFIK HAEMOLYSIN (IAVh) Kadriah, Ince Khairana; Kurniawan, Koko; Susianingsih, Endang; Atmomarsono, Muharijadi
Jurnal Riset Akuakultur Vol 11, No 4 (2016): (Desember 2016)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.6 KB) | DOI: 10.15578/jra.11.4.2016.363-371

Abstract

Penyakit vibriosis pada budidaya udang dapat menyebabkan penurunan produksi yang cukup besar. Metode deteksi cepat akan sangat membantu dalam penanganan dan pencegahan awal untuk mengurangi kematian udang. Upaya untuk deteksi cepat adalah dengan menggunakan penanda molekular yang spesifik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengukur sensitivitas metode deteksi vibriosis pada udang penaeid (windu dan vaname) menggunakan penanda molekuler spesifik haemolysin (IAVh). Pengujian dilakukan untuk sampel udang yang diinfeksi buatan melalui injeksi maupun pada sampel yang dikoleksi dari tambak udang. Sampel organ udang hasil infeksi buatan ditanam pada media TCBSA untuk melihat koloni bakteri yang tumbuh. Selanjutnya koloni bakteri tersebut diuji secara biokimia dan molekuler. Deteksi vibriosis untuk sampel dari tambak budidaya hanya dilakukan secara molekuler menggunakan primer spesifik IAVh. Lokasi pengambilan sampel udang dari Provinsi Sulawesi Selatan (Kabupaten Takalar, Kabupaten Maros, Kabupaten Pangkep, Kabupaten Bulukumba, Kabupaten Barru, dan Kabupaten Pinrang), Provinsi Lampung (Desa Bakauheni dan Kalianda), Provinsi Jawa Timur (Kabupaten Situbondo) dan Provinsi Jawa Barat (Kabupaten Karawang). Hasil uji biokimia untuk sampel dengan infeksi buatan dapat menentukan spesies bakteri, namun waktu yang diperlukan relatif lama. Hasil uji menggunakan penanda molekuler haemolysin IAVh dapat secara spesifik mendeteksi vibrio patogen pada kepadatan bakteri 102–103 CFU/mL dari organ udang, baik pada sampel hasil infeksi buatan maupun pada sampel dari tambak.Vibriosis disease may cause a significant production losses in shrimp culture. The rapid detection method will be be very effective as earlier preventive measures to avoid mass mortality of shrimp. Effort for the rapid detection was done by specific molecular marker. The aim of this research was to evaluate the sensitivity of the specific molecular marker of haemolysin (IAVh) for vibriosis detection. Vibriosis detection was carried-out for both naturally infected shrimp and artificially infected through injection. Several organs of artificially-infected shrimp grown on TCBS media to find identify colonies of bacteria. After this, colonies of bacteria were tested biochemically and molecularly. Penaeid shrimp samples were collected from the shrimp brackishwater ponds in the South Sulawesi Province (Takalar Regency, Maros Regency, Pangkep Regency, Bulukumba Regency, Barru Regency, and Pinrang Regency). Lampung Province (Bakauheni and Kalianda District), East Java Province (Situbondo Regency) and West Java Province (Karawang Regency). The results of biochemical assay for artificially-infected shrimp could determine the species of vibrioses, but it took a relatively long time. The further results showed that specific molecular marker of haemolysin (IAVh) could detect Vibriosis directly from the shrimp organs in at density of 102-103CFU/mL on both natural and artificial infected vibrioses shrimp.
PERFORMANCE OF CULTURED White-leg Shrimp IN RICA Probiotic Application METHOD in PONDS AERATED WITH SUPERCHARGE BLOWER Susianingsih, Endang; Kurniawan, Koko; Atmomarsono, Muharijadi
Indonesian Aquaculture Journal Vol 12, No 1 (2017): (June 2017)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.499 KB) | DOI: 10.15578/iaj.12.1.2017.29-36

Abstract

Several ways have been done to encounter shrimp disease affecting cultured shrimp in Indonesian ponds in the last two decades. This research was aimed to find out the effect of different application of probiotic RICA4, RICA5, and RICA3 method on survival rate and production of white-leg shrimp (Litopenaeus vannamei) cultured in ponds aerated with supercharge blower. RICA probiotics are bacteria probiotics produced by the Research and Development Institute for Coastal Aquaculture, originally isolated from seaweed and sea sediment. This experiment was carried out in completely randomized design using nine 250-m2 experimental ponds stocked with 15 shrimp fries/m2. There were three treatments namely: A=alternate use of three probiotics RICA4, RICA5, and RICA3; B=combination use of three probiotics RICA4, RICA5, and RICA3; and C=control (without probiotic), each treatment with three replications and cultured with supercharge blower. Variables observed in this study were survival rate and production of the shrimp calculated at the end of experiment, total vibrio count (TBV) and total plate count of common bacteria (TPC) of the pond waters and sediments monitored every two weeks. The results showed that application of probiotic RICA4, RICA5, and RICA3 applied either in alteration or in combination significantly increased survival rate (P<0.05) but not on production (P>0.05) of the white-leg shrimp. TBV/TPC ratio in the control pond waters after 10-weeks culture (over than 10%) was relatively dangerous for the cultured white-leg shrimp. This shows that application of probiotic could prevent the growth of Vibrio spp in the cultured shrimp pond water.
HERBAL MANGROVE SEBAGAI SUMBER ANTI BAKTERI Vibrio harveyi PENYEBAB PENYAKIT PADA UDANG WINDU Penaeus monodon Muliani, Muliani; Nurhidayah, Nurhidayah; Kurniawan, Koko
Jurnal Riset Akuakultur Vol 10, No 3 (2015): (September 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (735.906 KB) | DOI: 10.15578/jra.10.3.2015.405-414

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan herbal tanaman mangrove sebagai sumber antibakteri V. harveyi penyebab penyakit pada udang windu Penaeus monodon. Penelitian dilakukan di Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Payau (BPPBAP), Maros. Mangrove diambil dari lima lokasi yaitu: Kabupaten Maros, Pangkep, Luwu Timur, Takalar, dan Bone. Mangrove yang dikumpulkan diidentifikasi sebelum dikering-anginkan selama dua minggu. Setelah kering dibuat tepung dan diekstrak menggunakan pelarutorganik (metanol). Ekstrak metanol dari herbal mangrove diuji bioassay secara kualitatif dan kuantitatif untuk mengetahui aktivitas anti V. harveyi menggunakan metode mikrowell plate. Setelah itu, dilakukan uji tantang secara in vitro dengan V. harveyi pada konsentrasi yang berbeda dan selanjutnya dilakukan penentuan konsentrasi ambang bawah dan ambang atas yang mematikan terhadap larva udang windu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 88 sampel herbal mangrove yang dikumpulkan 58 (65,91%) sampel positif mengandung antibakteri V. harveyi, yang terdiri atas: 11 (18,96%) dari Maros, 16 (27,59%) dari Pangkep, 11 (18,96%) dari Luwu Timur, 4 (6,90%) dari Takalar, dan 16 (27,59%) dari Bone. Minimum Inhibition Concentration(MIC) terbaik ditunjukkan oleh lima jenis tanaman mangrove yaitu; Sonneratia lanceolata dengan nilai MIC 0,1 mg/L dan Sonneratia alba, Sonneratia caseolaris, Bruguiera gymnorrhiza, serta Rhizophora mucronata dengan nilai MIC masing-masing 1 mg/L. Hasil uji tantang secara in vitro dengan V. harveyi menunjukkan bahwa S. alba dan S. caseolaris terbaik menghambat pertumbuhan V. harveyi. Konsentrasi 10.000 mg/L dari ekstrak metanol S. lanceolata, S. alba, S. caseolaris, serta B. gymnorrhiza sudah toksik bagi benur udang windu, dengan mortalitas mencapai 100% setelah 96 jam.
BEBERAPA METODE STRESSING UNTUK MENGINDUKSI PERKEMBANGAN WHITE SPOT SYNDROME VIRUS (WSSV) PADA BENUR UDANG WINDU (Penaeus monodon) Muliani, Muliani; Tampangallo, Bunga Rante; Kurniawan, Koko
Jurnal Riset Akuakultur Vol 7, No 3 (2012): (Desember 2012)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (119.51 KB) | DOI: 10.15578/jra.7.3.2012.465-475

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui beberapa model metode stressing yang dapat menginduksi perkembangan WSSV pada benur, sehingga dapat terdeteksi dengan PCR konvensional. Penelitian dilakukan di Laboratorium Basah Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Payau (BPPBAP). Wadah yang digunakan adalah kontainer plastik bervolume 40 L diisi dengan air laut sebanyak 30 L dan dilengkapi dengan aerasi kecuali pada perlakuan oksigen. Setiap wadah ditebari benur (PL-12) sebanyak 500 ekor yang diambil dari panti perbenihan komersil di Kabupaten Barru yang sebelumnya telah diketahui negatif WSSV. Perlakuan yang dicobakan adalah: (A) stressing dengan suhu yaitu: 10oC±2oC, 28oC±2oC, dan 40oC±2oC; (B) stressing dengan salinitas yaitu: 5 ppt, 28 ppt, dan 51 ppt; (C) stressing dengan oksigen yaitu: 1 mg/L, 3 mg/L, dan 5 mg/L; (D) stressing dengan pH yaitu: pH 5, pH 6, dan pH 7; dan (E) stressing dengan formalin yaitu: 100 mg/L, 200 mg/L, dan 300 mg/L. Sampling dilakukan 1 jam, 3 jam, dan 5 jam setelah perendaman untuk pengecekan WSSV dengan mengambil contoh benur sebanyak 50-100 ekor/wadah lalu dicek dengan PCR untuk WSSV-nya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stressing dengan oksigen (1 mg/L, 3 mg/L, dan 5 mg/L) memberikan hasil yang terbaik dalam memicu perkembangan WSSV pada benur, disusul dengan suhu (suhu 10oC dan 40oC), pH 5; kemudian penggunaan formalin, dan salinitas. Hasil PCR menunjukkan bahwa benur yang awalnya  negatif menjadi positif dengan kategori ringan hingga berat. Semakin lama waktu perendaman maka semakin memicu perkembangan WSSV dalam badan benur.
APLIKASI BAKTERIN PADA BUDIDAYA UDANG WINDU DI TAMBAK DENGAN POLA TRADISIONAL PLUS Tompo, Arifuddin; Susianingsih, Endang; Kurniawan, Koko
Media Akuakultur Vol 10, No 2 (2015): (Desember 2015)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (451.053 KB) | DOI: 10.15578/ma.10.2.2015.85-89

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan bakterin pada budidaya udang windu di tambak sistem tradisional plus di Instalasi Tambak percobaan Marana, Maros menggunakan 10 petak tambak berukuran 250 m2 dengan dua perlakuan dan lima ulangan. Kepadatan udang yang digunakan 10 ekor/m2 ukuran PL-15 yang sebelum ditebar direndam dengan bakterin pada dosis 0,2 mL/L selama 45 menit. Perlakuan yang dicobakan adalah: (A) pemeliharaan udang windu dengan penambahan bakterin, vitamin C, dan binder progold pada pakan sebelum peleting dan (B) pemeliharaan udang windu dengan pemberian pakan biasa tanpa penambahan bakterin sebagai kontrol. Pemberian pakan dengan penambahan bakterin dilakukan 2 kali setiap bulan yaitu pada hari ke-13, 14, dan 15 pemeliharaan setiap bulan selama 90 hari pemeliharaan. Peubah yang diamati meliputi populasi bakteri dan parameter kualitas air setiap dua minggu sekali serta sintasan dan produksi. Rata-rata sintasan pada perlakuan A sebesar 71,48% dengan tingkat produksi 391 kg/ha sedangkan perlakuan B (kontrol) diperoleh sintasan 62,4% dengan produksi sebesar 367 kg/ha. Analisa populasi bakteri baik pada tanah maupun pada air masih berada pada kisaran yang aman untuk budidaya udang windu begitu pula parameter kualitas air masih berada pada batas yang aman untuk budidaya.
KUANTITAS DAN KUALITAS SEL TELUR ANJING LOKAL DARI BERBAGAI STADIUM ESTRUS Fibrianto, Yuda Heru; Pangestiningsih, Tri Wahyu; Hanna, Amelia; Astuti, Pudji; Airin, ClaudeM Mona; ., Asyhari; Anindito, Amrullah; Rahmawati, Nuraini; Kurniawan, Koko; Wibowo, Pradityo Yoga
Jurnal Sain Veteriner Vol 26, No 1 (2008): JUNI
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1310.87 KB) | DOI: 10.22146/jsv.411

Abstract

.