Titis Kurniawan
A master student, Master of Nursing Science (International Program) Faculty of Nursing, Prince of Songkla University, Thailand and a nursing lecturer of Faculty of Nursing, Universitas Padjadjaran, Indonesia

Published : 27 Documents
Articles

Found 27 Documents
Search

PERCEPTION OF PROLANIS PARTICIPANTS ABOUT CHRONIC DISEASE MANAGEMENT PROGRAM ACTIVITIES (PROLANIS) IN THE PRIMARY HEALTH SERVICE UNIVERSITAS PADJADJARAN Ariana, Risman; Sari, Citra Windani Mambang; Kurniawan, Titis
NurseLine Journal Vol 4 No 2 (2019): November 2019
Publisher : Faculty of Nursing, University of Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/nlj.v4i2.12687

Abstract

Prolanis is a program that the purpose is to handle health problems in Indonesia. However, the participation of prolanis participants in the activities and the presents itself are still low in every month. The purpose of this study was to identify the participants about project activities in UPT Layanan Kesehatan Unpad encompasses perception, seriousness, benefits, obstacles to action and confidence. This quantitative descriptive study was conducted on 81 respondents by means of total sampling. The research data was taken using questionnaire which consisted of 46 statements developed from literature related to prolanis and previously had tested the validity with value range 0,453-0,760 and reliability with result 0,729, then data analyzed descriptively. The results showed that most prolanis participants (54.3%) had good activities with pro-public activities. In addition, there were mostly participants and no response to the disease if there were no prolanis program (50.6%), impact of prolanis (54.3%), current sensitivity of prolanis (53.1%) and belief to follow prolanis (54.3%). While almost all participants (81.5%) had information and instructions to follow prolanis. This action demonstrates good activities but there are still significant obstacles in the framework of existing projects to support existing services for UPT Layanan Kesehatan Unpad with roles to increase participation of prolanis participants.
PAP TEST PRACTICE AND BARRIERS OF NURSES IN BANDUNG, WEST JAVA Suantika, Putu Inge Ruth; Hermayanti, Yanti; Kurniawan, Titis
Jurnal Keperawatan Indonesia Article in Press
Publisher : Faculty of Nursing Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (35.328 KB) | DOI: 10.7454/jki.v0i0.843

Abstract

The lack of interest from the public and health workers, such as nurses to carry out a pap test, is one of the triggers of cervical cancer cases. The purpose of this study was to identify the implementation of pap tests and barriers of nurses in Bandung, West Java. This study used a cross-sectional descriptive study design with a sample of 286 married nurses. Data collection was conducted during two months. The analysis was conducted by the Fisher exact test or chi-square test. The results showed that the level of education and religion had a significant relationship with the pap test behavior (p= 0,000; p= 0.031). The most perceived barrier was that respondents felt uncomfortable with the male examiners. So it was recommended to provide female examiners in the ob-gyn section in the hospitals and to improve the nurses' perceptions with pap test. Keywords: barrier, nurse, pap smear, practice Abstrak Perilaku dan hambatan pap smear pada perawat di Kota Bandung, Jawa Barat. Fenomena yang terjadi pada kasus kanker serviks adalah minimnya minat dari masyarakat bahkan petugas kesehatan seperti perawat untuk melakukan pap smear sebagai bentuk pencegahan kanker serviks. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi pelaksanaan pap smear serta hambatannya pada perawat di Kota Bandung, Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan desain studi deskriptif cross-sectional dengan jumlah sampel 286 perawat yang sudah menikah. Pengumpulan data dilakukan pada Februari hingga Maret 2018. Analisis menggunakan fisher exact test atau chi-square test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pendidikan dan agama memiliki hubungan yang signifikan dengan perilaku pap smear (p= 0.000; p= 0.0301). Hambatan yang paling dirasakan adalah responden merasa kurang nyaman dengan pemeriksa laki-laki sehingga direkomendasikan untuk penyediaan pemeriksa perempuan pada bagian obgyn di rumah sakit serta memperbaiki persepsi perawat yang salah terhadap pap smear.  Kata Kunci: hambatan, pap smear, perawat, perilaku
SELF MANAGEMENT PROGRAM PADA PASIEN HEMODIALISIS Suparti, Sri; Kurniawan, Titis
medisains Vol 14, No 1 (2015)
Publisher : medisains

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Self management program merupakan upaya penting untuk meningkatkan efektifitas terapi hemodialisa (HD). Pasien yang menjalani HD sering mengalami berbagai kondisi yang mengharuskan pasien terlibat secara penuh, baik dalam penatalaksanaan, pengambilan keputusan terapi, pengelolaan gejala, pembatasn cairan, dan lain-lain. Karenanya, pasien yang menjalani HD harus memiliki kemampuan mengelola diri yang baik. Tujuan literature review ini adalah untuk menjelaskan tentang self management program pada pasien End Stage Renal Disease (ESRD) yang menjalani hemodialisis. Berdasarkan pada sumber literature jurnal penelitian ilmiah terkait. Dalam literature review ini, penulis menggunakan artikel yang bersumber dari electronic data base seperti EBSCO, Proquest, google scholar dan Pubmed dengan kata kunci self management program, self care management, ESRD, Hemodialysis dalam kurun waktu 2005-2014. Data yang didapatkan, ditelaah, dibandingkan, disusun secara sistematis dan dibahas. Dari empat belas  artikel yang terjaring, bentuk self management program terdiri dari intervensi edukasi dan support program, self care management cognitive behavior theraphy dan muscle strength training program, self efficacy training program, empowerment program, and home blood pressure monitoring and behavioural contracting and weekly telephone contact intervention. Self management program dari setiap literatur menyebutkan intervensi edukasi sebagai program utama, program edukasi ini juga dikembangkan dalam berbagai model. Kombinasi program psikologis dan latihan fisik, pemberdayaan dan edukasi dapat meningkatkan program self management pada pasien hemodialisis. Perbedaan  dari masing-masing program mencakup pada waktu dan teknis pelaksanaan, sedangkan persamaannya adalah hampir semua program tidak terlepas dari edukasi yang bertujuan memberikan informasi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa bentuk self management support program terdiri dari kegiatan edukasi, therapeutic contract intervention dan follow up berupa kunjuangan rumah.
Pengaruh Brain Gym Terhadap Fungsi Kognitif Pasien Pasca Stroke Iskemik Di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr.Hasan Sadikin Bandung Labertus, Kristian; Mediawati, Ati Surya; Kurniawan, Titis
JURNAL KEPERAWATAN SUAKA INSAN (JKSI) Vol 2 No 1 (2017): Jurnal Keperawatan Suaka Insan (JKSI)
Publisher : STIKES Suaka Insan Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Jumlah penderita stroke iskemik di dunia dan Indonesia menunjukkan peningkatan setiap tahunnya. Salah satu dampak yang muncul pasca stroke adalah gangguan motorik, sensorik, dan kognitif. Gangguan kognitif dapat mengganggu aktivitas harian dan menurunkan kualitas hidup, sehingga diperlukan latihan brain gym sebagai stimulus untuk memperbaiki gangguan tersebut. Tujuan : Untuk mengetahui pengaruh latihan brain gym terhadap fungsi kognitif pada pasien pasca stroke iskemik yang mengalami gangguan kognitif. Metode : Penelitian ini menggunakan quasi experiment dengan desain time series ini melibatkan 42 responden yang direkrut dari pasien RSUP Dr.Hasan sadikin Bandung menggunakan consecutive sampling. Responden terbagi menjadi dua kelompok menggunakan random allocation (masing-masing 21 orang). Kelompok kontrol mendapatkan farmakoterapi dan fisioterapi, sedangkan kelompok intervensi mendapatkan tambahan latihan brain gym 3 kali seminggu selama 4 minggu. Evaluasi fungsi kognitif dilakukan pada awal minggu pertama dan setiap akhir minggu menggunakan Montreal Cognitive Assesment (MoCA). Data yang terkumpul dianalisis menggunakan analisis deskriptif dan inferensial (p value < 0,05). Hasil : Kelompok intervensi menunjukkan perbaikan yang lebih signifikan dan konstan selama penelitian di domain eksekutif, orientasi, delayed recall, atensi, penamaan, abstraksi, dan bahasa. Hal ini dibuktikan dengan uji repeated ANOVA dan Post-Hoc yang menunjukkan nilai kurang dari 0,05. Uji homogenitas karakteristik responden dan uji beda pretest menunjukkan hasil tidak berbeda secara signifikan (p>0,05). Kesimpulan : Dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh latihan brain gym dalam memperbaiki domain eksekutif, orientasi, delayed recall, atensi, penamaan, abstraksi, dan bahasa pasien pasca stroke iskemik di RSUP Dr.Hasan Sadikin Bandung. Dengan demikian menjadi penting bagi pihak rumah sakit mempertimbangkan latihan brain gym sebagai bagian terapi dalam mengelola kerusakan fungsi kognitif pasien pasca stroke sebagai upaya meningkatkan kualitas hidup pasien.
Pengaruh Latihan Kekuatan terhadap Restless Legs Syndrome Pasien Hemodialisis Widianti, Anggriyana Tri; Hermayanti, Yanti; Kurniawan, Titis
Jurnal Keperawatan Padjadjaran Vol 5, No 1 (2017): Jurnal Keperawatan Padjadjaran
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1202.514 KB) | DOI: 10.24198/jkp.v5i1.349

Abstract

Restless legs syndrome (RLS) adalah gangguan sensorimotor yang banyak terjadi pada pasien hemodialisis (HD).Terapi farmakologi merupakan pilihan utama penanganan RLS yang justru berisiko menimbulkan efek samping.Optimalisasi fisik pasien HD melalui latihan kekuatan dinilai berpotensi efektif memperbaiki restless legs syndrome.Belum terdapat penelitian yang mengklarifikasi pengaruh latihan kekuatan terhadap RLS. Penelitian ini bertujuanuntuk mengidentifikasi pengaruh latihan kekuatan terhadap skala RLS pada pasien HD di Unit Hemodialisis di RSMargono Soekardjo dan RSUD Banyumas. Metode quasi eksperimen dengan pre-post test with control group designini menggunakan sampel sebanyak 32 pasien HD (15 pasien intervensi dan 17 pasien kontrol) dengan teknik clusterrandom sampling. Cluster random sampling dalam penelitian ini adalah penggunaan tempat penelitian sebagai kelas,yaitu satu rumah sakit untuk intervensi dan rumah sakit lainnya digunakan untuk kontrol. Latihan kekuatan padaekstremitas atas dan bawah diberikan 2 minggu sekali saat proses hemodialisis berlangsung selama 8 minggu. SkalaRLS diukur menggunakan IRLS Scale. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan uji t tidak berpasangan. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan antar kelompok dari usia, ureum, adekuasi, lama HD, jeniskelamin, penyakit kormobid maupun penggunaan obat. Antar kelompok memperlihatkan terdapat perbedaan nilaiTIBC (p=0,000). Skala RLS kelompok intervensi menunjukan perbaikan dengan selisih mean -1 yang menandakanpenuruan skala, adapun pada kelompok kontrol justru terlihat peningkatan kondisi RLS dengan selisih mean 1,29.Analisis antar kelompok terlihat signifikansi berbeda (p=0,035) yang menunjukkan terdapat pengaruh latihankekuatan terhadap skala RLS. Latihan kekuatan penting sebagai bagian dalam pengelolaan pasien uremik RLS.
Perilaku Pencegahan Penularan dan Faktor-Faktor yang Melatarbelakanginya pada Pasien Tuberculosis Multidrugs Resistance (TB MDR) Nurhayati, Iis; Kurniawan, Titis; Mardiah, Wiwi
Jurnal Keperawatan Padjadjaran Vol 3, No 3 (2015): Jurnal Keperawatan Padjadjaran
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (827.151 KB) | DOI: 10.24198/jkp.v3i3.118

Abstract

Tuberculosis Multidrugs Resistance (TB-MDR) merupakan masalah serius di Indonesia. Selain memiliki risiko penularan yang tinggi, TB-MDR mempunyai banyak hambatan dalam pengobatan, baik lama pengobatan, jumlah obat yang banyak, dan efek samping yang buruk. DHal ini menjadi penting mengidentifikasi perilaku pencegahan penularan pada pasien TB-MDR beserta faktor yang melatarbelakanginya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perilaku penderita TB-MDR dalam mencegah penularan beserta faktor yang melatarbelakanginya. Penelitian deskriptif korelasional ini melibatkan seluruh pasien TB-MDR yang sedang menjalani pengobatan fase intensif hingga November 2014 di Rumah Sakit Hasan Sadikin sebanyak 61 orang. Data karakteristik responden, perilaku dan faktor-faktor yang melatarbelakanginya dikumpulkan menggunakan kuesioner. Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif dan dihubungkan satu sama lain (independent t-test, one way annova, dan Pearson Correlational test). Hasil penelitian menunjukkan bahwa lebih dari setengah responden berpendidikan SMA (54,1%), berjenis kelamin laki-laki (60,6%), tipe MDR gagal pengobatan kategori 1 & 2 (60,7%), berusia < 44 tahun (68,9%), sebagian besar menikah (75,4%) dan berpenghasilan di bawah UMR (81,9%), serta mengeluhkan efek samping berupa mual (90,1%). Lebih dari setengah responden (57,4%) melaporkan perilaku pencegahan penularan yang baik. Perilaku pencegahan penularan ditemukan berhubungan secara bermakna dengan jenis kelamin (p = 0,01), perceived benefit (p = 0,02), cues to action (p = 0,00), dan self efficacy (p = 0,006). Akan tetapi, tidak ditemukan adanya hubungan yang bermakna antara perilaku pencegahan dengan data demografi (usia, satatus pernikahan, tingkat pendidikan, dan penghasilan) maupun tipe MDR (p>0,05). Hal ini menjadi penting bagi tenaga kesehatan untuk memperkuat faktor tersebut sebagai upaya meningkatkan perilaku pencegahan transmisi/penularan TB.Kata kunci: Faktor, pencegahan penularan, TB-MDR. Prevention Behaviors and Its’ Contributing Factors among Patients with Multi-drugs Resistance Tuberculosis (MDR-TB)AbstractMulti-drugs Resistance Tuberculosis (MDR-TB) is a serious health problem in Indonesia. Beside the risk of transmission, the treatment of MDR-TB encounters some obstacles namely lengthy medication, multiple drugs and adverse side effects. Therefore, it is important to identify patients’ prevention behaviors and its contributing factors. This study was aimed to identify MDR-TB patients’ prevention behaviors and its’ contributing factors. This descriptive correlational study involved all (61 patients) of MDR-TB patients who received intensive medication until November 2014 in Dr. Hasan Sadikin Hospital. Demographic and health characteristics data, as well as behaviors and its related factors were collected using questionnaires. Data were analyzed using descriptive analyses and correlational test (independent t-test, one way ANOVA, and Pearson correlation test). The results showed that more than half of respondents were male (60.6%), MDR with failed medication type 1 & 2 (60.7%), age less than 44 years old (68.9%), mostly married (75.4%), had income less than minimum standard (81.9%), and experienced nausea as the medication’s side effect (90.1%). Additionally, more than half of respondents (57.4%) reported good prevention behaviors. These behaviors significantly related to female gender (p = 0.01), perceived benefit (p = 0.02), cues to action (p = 0.000), and self-efficacy (p = 0.006). However, there was not any significant relationship between the prevention behaviors and demographic data (age, educational level, marital status, and income) or between the behaviors and patients’ medication categories (p > 0.05). Generally, MDR-TB patients in this study performed good preventive behaviors and it was related to their perceived benefit, cues to action, and self-efficacy. Therefore, it is important for healthcare professional to empower these identified factors in order to minimize the MDR-TB transmission.Key words: Factors, MDR-TB, prevention behaviors.
Dukungan Keluarga pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 dalam Menjalankan Self-Management Diabetes Damayanti, Sisca; N, Nursiswati; Kurniawan, Titis
Jurnal Keperawatan Padjadjaran Vol 2, No 1 (2014): Jurnal Keperawatan Padjadjaran
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (637.084 KB) | DOI: 10.24198/jkp.v2i1.81

Abstract

Penyakit diabetes melitus tipe 2 (DMT2) memerlukan pengontrolan untuk meminimalisir komplikasi melalui penerapan self-managementyang baik. Efektifitas penerapan self-managementdipengaruhi banyak faktor salah satunya dukungan keluarga. Keluarga merupakan lingkungan sosial yang paling dekat dengan pasien DM sehingga diharapkan dapat membantu, mengontrol dan membentuk perilaku pasien DM termasuk dalam hal ini perilaku self-management. Penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan potong lintang ini bertujuan untuk menggali dukungan keluarga dalam konteks pasien DM di Indonesia. Sebanyak 78 responden dilibatkan dalam penelitian ini dengan menggunakan metode concecutive sampling. Dukungan keluarga diukur menggunakan instrumen yang di modifikasi dari The Diabetes Social Support Questionnaire-Family Version (DSSQ-Family) dengan skor Alpha Cronbach 0,973 dan korelasi inter-item0.386-0.859. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan analisis deskriptif, dan dukungan keluarga dikategorikan menjadi favorable(bila skor total individu > nilai mean kelompok 69,62). Hasil penelitian menunjukkan lebih dari setengah responden (55,1%) melaporkan dukungan keluarga favorable. Dari analisis domain dukungan keluarga, dimensi dukungan lingkungan sosial secara umum menunjukkan persentase terendah (48,71%) dibandingkan domain dukungan keluarga yang lainnya. Dengan demikian menjadi penting bagi perawat untuk meningkatkan keterlibatan keluarga dalam perawatan DMT2 serta meningkatkan aspek dukungan lingkungan sosial. Kata kunci: Diabetes melitus, dukungan keluarga, perilaku self-managementAbstractType 2 diabetes mellitus (T2DM) must be controlled to reduce complications through good self-management behaviour (SMB). The effectiveness of SMB is influenced some factors, one of them is family support. family is the closest social enviroment for patients of DM, thus it is hoped to help, control, and create patient of DM behaviour includes self management behaviour. This study was descrition quantitative with cross sectional approach purposed to determine the level of patients’ perceived of family support in Indonesia. Seventy-eight respondents were included for this study by using concecutive sampling methode. The questionnaire for family support was modified from The Diabetes Social Support Questionnaire-Family Version (DSSQ-Family) with Chronbach Alpha 0,973 and inter-itemcorrelation 0,386-0,859. The data collected were analyzed using descriptive analysis, where family support categorized into favorable (if individual score > the respondents mean score = 69.62) and oppositely. The results showed that more than half of respondents (55,1%) reported favorable family support. Regarding family support domains, social network support noted as the lowest percentage (48.71%). Therefore, it is important for nurses and other healthcare professional to improve family involvement in diabetes care especially improving network support aspect.Key words:Diabetes mellitus, family support, self-management behaviour
Effect of Wound Care Using Robusta Coffee Powders on Diabetic Ulcer Healing Yulianti, Yeni Yeni; Ibrahim, Kusman; Kurniawan, Titis
Jurnal Keperawatan Padjadjaran Vol 6, No 1 (2018): Padjadjaran Nursing Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1444.564 KB) | DOI: 10.24198/jkp.v6i1.412

Abstract

Diabetic Gangrene Ulcers are chronic wounds with proinflammatory wound environment caused by elevated levels of  TNF-α, which tends to occur in delay in wound healing, and infection susceptibility. This research aims to determine the effect of wound care using Robusta coffee powder as an adjuvant  to the healing of diabetic ulcers gangrene.32 patients were included in this Quasi-experiment with Pretest-Posttest Control Group Design approach and the sampling was done by consecutive sampling method at random. The object was divided into 2 groups, namely the intervention group and the control group performed on patients undergoing treatment in the surgical and inpatient wards, Regional public hospital, Sekarwangi. The intervention group received wound treatment with Robusta coffee powder while the control group received conventional wound treatment for 2 weeks, during which also has been done assessment of wound scores with wound assessment Bates Jensen at the time of pretest and posttest.            Characteristics of respondents between the intervention group and the homogeneous control did not differ significantly. The difference of mean score of pretest and posttest score in two groups with t test showed there was significant difference with p value <0,05, whereas for difference of mean score between group of intervention and control with independent t test showed there is difference significantly.            There is influence of wound care using Robusta coffee powder as adjuvant to healing diabetic ulcers gangrene in Regional public hospital, Sekarwangi, Sukabumi. Therefore, it is important for the hospital to consider wound care using Robusta coffee powder on diabetic ulcer gangrene wounds as it can accelerate wound healing.  Keywords: Robusta cofee, Wound healing, Diabetic ulcers, Wound assessment Bates Jensen
Diabetes Self-Management and Its related Factors Kurniawan, Titis; Yudianto, Kurniawan
Jurnal Keperawatan Padjadjaran Vol 4, No 3 (2016): Jurnal Keperawatan Padjadjaran
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (682.794 KB) | DOI: 10.24198/jkp.v4i3.289

Abstract

Self-management is essential in preventing complications among patients with Diabetes Mellitus. The behaviourof patients to implement Diabetes Self-Management (DSM) is influenced by several factors which needsfurther study. This descriptive study aimed to identify factors contributing to DSM among patients with Type2 Diabetes Mellitus (DMT2). 94 respondents were recruited using randomized sampling obtained from aninpatient unit in one hospital in West Java province. Self-rating instruments were used to identify demographydata, knowledge about DSM, self-efficacy scale, and DSM questionnaire. Descriptive analysis was conductedto explain demography data, knowledge, self-efficacy and DSM. Findings indicated respondents demonstratedmoderate level of knowledge (M=7,53), and self-efficacy (M=34,8), and high level of DSM (M=89,28).Post-hoc analysis demonstrated a significant relationship between age (r=-0,209); p=0,043), education level(p=0,008), and self-efficacy (r=0,214; p= 0,038). No significant relationship was not identified with DSM(r=0,317; p=0,187). It is concluded that age, level of education, and self-efficacy were contributed to DSM.
FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PARTISIPASI PERAWAT DALAM MELAKUKAN PAP SMEAR (Literature Review) Ruth Suantika, Putu Inge; Hermayanti, Yanti; Kurniawan, Titis
KEPERAWATAN Vol 6, No 1 (2018): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : LPPM BSI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.506 KB)

Abstract

ABSTRAK Kanker serviks merupakan penyebab kematian tertinggi pada wanita. Perawat (wanita) merupakan salah satu pihak yang berisiko mengalami kanker serviks. Disisi lain, upaya pencegahan melalui deteksi dini dengan pemeriksaan kanker serviks diketahui efektif menurunkan angka kejadian kanker serviks. Meski demikian, partisipasi masyarakat termasuk petugas kesehatan dalam melakukan pap smear masih rendah. Dengan demikian menjadi penting menelaah lebih lanjut mengenai faktor-faktor yang berkontribusi terhadap partisipasi perawat dalam melakukan pap smear. Telaahan literature ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berkontribusi terhadap partisipasi perawat dalam melakukan pap smear. Telaah literature ini dilakukan terhadap hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal elektronik baik dalam bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris serta diterbitkan dalam tahun 2009-2016. Penelaah melakukan pencarian literature dimaksud melalui mesin pencari ProQuest, PubMed, google scholar dengan menggunakan kata kunci factor related, nurse, pap test dan cervical cancer. Dari literature tersebut ditemuukan 14 artikel yang memenuhi kriteria. Dari keseluruhan literature tersebut didapatkan bahwa faktor pengetahuan dan keyakinan merupakan faktor yang paling berhubungan dengan partisipasi perawat dalam melakukan pap smear. Pengetahuan yang rendah akan berhubungan dengan rendahnya perilaku pap smear pada peRawat. Demikian pula dengan faktor keyakinan dalam diri individu perawat. Adanya persepsi mengenai kerentanan dan hambatan menjadi faktor utama dalam membentuk keyakinan perawat untuk melakukan pap smear. Dapat disimpulkan bahwa pengetahuan dan keyakinan memiliki hubungan terhadap perilaku perawat dalam melakukan pap smear. Keyword: faktor, kanker serviks, pap smear, perawat.