Articles

Found 25 Documents
Search

Spatial Analysis of the River Line and Land Cover Changes in the Kampar River Estuary: The Influence of the Bono Tidal Bore Phenomenon Putra, Aprizon; Wisha, Ulung Jantama; Kusumah, Gunardi
Forum Geografi Vol 31, No 2 (2017): December 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/forgeo.v31i2.5290

Abstract

The Kampar River estuary is well known for a tidal-bore phenomenon called ‘Bono waves’. The emergence of Bono waves has a significant influence on the estuary system of Kampar River. Scoured materials, resulting from the hydraulic jump of the tidal bore, are carried into the middle of the river. These materials are then deposited when the velocity of the river decreases as a result of the collision of the tidal current from the sea and the river flow. The aim of this was to determine the area of erosion and sedimentation with respect to the river line and perform land-cover change analysis for the area around the Kampar River estuary for the years of 1990, 2007, 2010 and 2016. The method employed was the supervised maximum likelihood (SML) classifications, which uses an overlay technique to yield alternate information on the river line and land-cover changes in the form of time-series data. The largest erosion occurred during 1990–2007, for which the average change reached 2.36 ha/year. The smallest erosion occurred during 2010–2016, when the change reached 0.41 ha/year. The largest land-cover change was found during 1990–2016, which occurred in the land for agriculture/plantations (11.57 ha/year), building/settlement (48.11 ha/year) and scrubland (30.88 ha/year). The other types of land cover, such as bare land and sediment deposition, varied every single year. The changes to the river line are caused by land-cover changes, and the Bono waves that lead to erosion and sedimentation that is not stable in the middle of the river and downstream.
IDENTIFIKASI KONTAMINASI AIR TANAH OLEH POLUTAN CL- DI KAWASAN PERTANIAN GARAM, KECAMATAN PADEMAWU, PAMEKASAN, MADURA MENGGUNAKAN METODE GEOLISTRIK TAHANAN JENIS Gemilang, Wisnu Arya; Wisha, Ulung Jantama; Kusumah, Gunardi
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol 20, No 1 (2019)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1023.317 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v20i1.2944

Abstract

ABSTRACTPademawu Sub-District consist of salt ponds reached 740.96 Ha that is the second largest area in Pamekasan. Land-use overlapping problems between salt ponds and settlement influence the environmental degradation enhancement. The presence of salt ponds is indicated as the cause of increased salinity in well-water around the settlement so that the well-water is salty. To determine the influence of salt pond on groundwater pollution, the information regarding surface characteristics as well as the profile beneath the surface is essential. The method consisted of a hydro-geology survey, hydrochemistry, and geophysics (Geo-Electricity method). The type of groundwater is predominated by chloride (Na-Cl) and carbonate (Na-HCO3, Ca-HCO3). Based on groundwater chemistry element calculation, it is observed that there is an influence of salt pond infiltration on groundwater aquifer. The conductivity of groundwater ranged from 15,000?50,000 µS/cm (categorized into salty water). The specific resistance value of rocks beneath the surface varied between 0.1?300 that is usual in either coastal or alluvial area. The low value of specific resistance associated with alluvial lithology consisted of either brackish water or salt water expected the result of salt pond filtration. The depth of surface saltwater contaminating the aquifer layer ranged from 5 up to 30 meters. The presence of salt ponds influences the level of contamination of Cl- pollutant in shallow groundwater in Pademawu Sub-District, Madura, so it is necessary to re-arrange the land-use system in the coastal area.Keyword: groundwater pollution, salt pond, Pademawu Sub-District, Specific resistance Geo-ElectricityABSTRAK Kecamatan Pademawu terdiri atas kawasan tambak garam seluas 740,96 Ha yang merupakan wilayah terluas kedua di Pamekasan. Pemasalahan tumpang tindih jenis pemanfaatan lahan tambak garam dengan lahan pemukiman berpengaruh terhadap peningkatan degradasi lingkungan. Keberadaan tambak garam diindikasikan sebagai penyebab meningkatnya kadar salinitas pada air sumur di sekitar pemukiman sehingga air sumur terasa asin. Untuk mengetahui pengaruh keberadaan tambak garam terhadap pencemaran air tanah, dibutuhkan informasi mengenai karakteristik permukaan maupun profil bawah permukaan. Metode penelitian yang dipakai terdiri atas survei hidrogeologi, hidrokimia dan geofisika (metode geolistrik). Tipe air tanah didominasi oleh tipe klorida (Na-Cl) dan karbonat (Na-HCO3,Ca-HCO3), hasil perhitungan rasio unsur kimia air tanah menunjukkan adanya pengaruh infiltrasi air tambak garam kedalam akuifer air tanah. Nilai DHL air tanah daerah penelitian didominasi nilai dengan kisaran 15.000?50.000 µS/cm dan masuk dalam sifat air asin. Nilai tahanan jenis batuan bawah permukaan bervariasi antara 0,1?300 ?m yang umum dimiliki pada kawasan pesisir atau alluvial. Nilai tahanan jenis rendah berasosiasi dengan litologi alluvial yang terdiri atas air payau atau air asin yang diduga hasil infiltrasi dari air tambak garam. Kedalaman muka air asin yang mencemari lapisan akuifer berada pada kisaran kedalaman 5 hingga 30 m. Keberadaan tambak garam memberi pengaruh terhadap tingkat pencemaran polutan Cl- pada air tanah dangkal yang ada di Kecamatan Pademawu, Madura, sehingga dibutuhkan penataan ulang sistem tata guna lahan di kawasan pesisir tersebut.Kata kunci: pencemaran air tanah, tambak garam, Kecamatan Pademawu, Geolistrik tahanan jenis
KUALITAS PERAIRAN TELUK BUNGUS BERDASARKAN BAKU MUTU AIR LAUT PADA MUSIM BERBEDA Tanto, Try Al; Kusumah, Gunardi
Maspari Journal : Marine Science Research Vol 8, No 2 (2016): Edisi Juli
Publisher : UNIVERSITAS SRIWIJAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1056.198 KB) | DOI: 10.36706/maspari.v8i2.3490

Abstract

Pembangunan di kawasan Bungus berkembang pesat, dapat menjadi penyebab kerusakan lingkungan  perairan  sekitarnya.  Laporan  dari  media  lokal  dan nasional,  terjadi pencemaran  air  laut  dan  tingginya  sedimentasi.  Penelitian ini  menjadi  penting  karena belum  banyak  studi  terkait  pencemaran perairan  dilakukan.  Pengambilan  data  air  laut dilakukan  di  15  titik pengukuran  pada  permukaan  dan  kedalaman  5  m.  Data tersebut dianalisis di laboratorium serta pengukuran secara  in-situ  untuk pengukuran permukaan. Selain itu juga dilakukan pengukuran pada 3 muara sungai besar untuk pengukuran TSS dan melihat  sedimentasi. Waktu pengambilan data dilakukan pada musim berbeda, yaitu Bulan  Mei  dan  November  2013, sehingga  diperoleh  data  yang  bervariasi  sesuai  dengan kondisi musim. Sampai akhir tahun 2013, kualitas air laut (kekeruhan, pH, salinitas, suhu, DO, BOD, amoniak) perairan Teluk Bungus masih berada pada batas aman sesuai dengan baku  mutu,  baik  yang  terjadi  pada  musim  kemarau  maupun musim  hujan.  Hal  berbeda terjadi pada nilai TSS di sekitar muara, dengan nilai  berada diluar batas  aman baku mutu dan kekeruhan perairan tinggi saat musim hujan. Pada umumnya, pencemaran perairan di Teluk Bungus disebabkan oleh tingginya sedimentasi.KATA KUNCI:   Kekeruhan,  kualitas  perairan,  pencemaran  perairan, sedimentasi, Teluk Bungus.
FAKTOR HIDRO-OSEANOGRAFI TERHADAP DISTRIBUSI AIR TAWAR BERSUHU RENDAH DEKAT PANTAI SEKITAR LOKASI KELUARAN AIR TANAH LEPAS PANTAI (KALP) DI PERAIRAN LOMBOK UTARA, INDONESIA Wisha, Ulung Jantama; Kusumah, Gunardi
OLDI (Oseanologi dan Limnologi di Indonesia) Vol 4, No 3 (2019)
Publisher : Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/oldi.2019.v4i3.157

Abstract

Pantai Utara Lombok memiliki banyak sumberdaya seperti Keluaran Air Tanah Lepas Pantai (KALP). Keluaran air tanah terbesar terdapat di Pantai Krakas. Keluaran air tanah yang dingin mungkin memicu ketidakseimbangan lingkungan disekitarnya (pendinginan lokal). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dari faktor fisika yang mendukung distribusi keluaran air tanah dingin. Kegiatan survei lapangan dilakukan pada tanggal 23-26 Maret 2016. Flow model dan analisis statistik digunakan untuk mengetahui pola transport dari anomali suhu. Secara vertikal, pergerakan arus laut mengikuti kaidah spiral Ekman yang mempengaruhi distribusi vertikal dari air tanah. Kecepatan arus pada kondisi menuju pasang berkisar antara 0-0,15 cm/detik, dominan arah arusnya menuju ke barat daya. Pada saat menuju surut kecepatan arus berkisar antara 0-0,32 cm/detik, dominan arah arusnya menuju ke timur laut. Fluktuasi suhu mengikuti perubahan elevasi muka air di lokasi KALP dimana nilai korelasi sebesar 63 %.
STATUS INDEKS PENCEMARAN PERAIRAN KAWASAN MANGROVE BERDASARKAN PENILAIAN FISIKA-KIMIA DI PESISIR KECAMATAN BREBES JAWA TENGAH Gemilang, Wisnu Arya; Kusumah, Gunardi
EnviroScienteae Vol 13, No 2 (2017): EnviroScienteae Volume 13 Nomor 2, Agustus 2017
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (634.583 KB) | DOI: 10.20527/es.v13i2.3919

Abstract

Settlement growth and activity of the population in the Brebes Subdistrict upstream side is also predicted to trigger intrusion and rising sea levels that affect the flow and availability of fresh water needed for the survival of life mangrove vegetation, especially in the adult stage. Therefore, identification of the quality of waters in the mangrove areas is needed to determine the status of these waters pollution index. Measurement of physical and chemical parameters of waters in situ using a Water Quality Checker (DKK TOA WQC Type-24) and laboratory testing of some samples to determine the nutrient content of the water is also performed. Insitu value measurement results later are calculated by using a pollution index refers to the Decree of the State Minister of Environment Number 51 The year 2004 on Guidelines for Determination of Water Quality Status. Index of water pollution Brebes District mangrove area is divided into three criteria: pollution index good condition, lightly polluted and heavily polluted. The section near the front mangrove estuary and enter the index criteria lightly polluted.
KUALITAS PERAIRAN TELUK BUNGUS BERDASARKAN BAKU MUTU AIR LAUT PADA MUSIM BERBEDA Tanto, Try Al; Kusumah, Gunardi
Maspari Journal : Marine Science Research Vol 8, No 2 (2016): Edisi Juli
Publisher : UNIVERSITAS SRIWIJAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1056.198 KB) | DOI: 10.36706/maspari.v8i2.3490

Abstract

Pembangunan di kawasan Bungus berkembang pesat, dapat menjadi penyebab kerusakan lingkungan  perairan  sekitarnya.  Laporan  dari  media  lokal  dan nasional,  terjadi pencemaran  air  laut  dan  tingginya  sedimentasi.  Penelitian ini  menjadi  penting  karena belum  banyak  studi  terkait  pencemaran perairan  dilakukan.  Pengambilan  data  air  laut dilakukan  di  15  titik pengukuran  pada  permukaan  dan  kedalaman  5  m.  Data tersebut dianalisis di laboratorium serta pengukuran secara  in-situ  untuk pengukuran permukaan. Selain itu juga dilakukan pengukuran pada 3 muara sungai besar untuk pengukuran TSS dan melihat  sedimentasi. Waktu pengambilan data dilakukan pada musim berbeda, yaitu Bulan  Mei  dan  November  2013, sehingga  diperoleh  data  yang  bervariasi  sesuai  dengan kondisi musim. Sampai akhir tahun 2013, kualitas air laut (kekeruhan, pH, salinitas, suhu, DO, BOD, amoniak) perairan Teluk Bungus masih berada pada batas aman sesuai dengan baku  mutu,  baik  yang  terjadi  pada  musim  kemarau  maupun musim  hujan.  Hal  berbeda terjadi pada nilai TSS di sekitar muara, dengan nilai  berada diluar batas  aman baku mutu dan kekeruhan perairan tinggi saat musim hujan. Pada umumnya, pencemaran perairan di Teluk Bungus disebabkan oleh tingginya sedimentasi.KATA KUNCI:   Kekeruhan,  kualitas  perairan,  pencemaran  perairan, sedimentasi, Teluk Bungus.
PEMETAAN KERENTANAN PESISIR PULAU SIMEULUE DENGAN METODE CVI (COASTAL VULNERABILITY INDEX) Dhiauddin, Ruzana; Gemilang, Wisnu Arya; Wisha, Ulung Jantama; Rahmawan, Guntur Adhi; Kusumah, Gunardi
EnviroScienteae Vol 13, No 2 (2017): EnviroScienteae Volume 13 Nomor 2, Agustus 2017
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The diversity function of coastal areas requires the increasing need for land and infrastructure that will lead to new problems such as changes in coastal morphology, the occurrence of erosion and accretion, which is supported by the population growth caused the increasing of coastal vulnerable towards hazards. This paper aims to explain the parameters affect Simeulue Island’s coastal vulnerability - beach slope, geomorphology, geology, shoreline change, mean tidal range and mean wave height - and its mapping. The data used were the bathymetry, tide, and currents, the topography of coastal morphology, LANDSAT imagery of 2000 and 2015. To determine the coastal vulnerability level, we implemented CVI (Coastal Vulnerability Index) method of 6 parameters. Finally, we found that CVI from these physical parameters ranges between 1.291to 5.00, which were classified into five classes; 1.291 – 1.826 (very low), 1.826 – 2.449 (low), 2.449 – 2.887 (moderate), 2.887 – 3.651(high), and 3.651 – 5.00 (very high).
Analysis of Water Quality for Tourism Suitability at Indonesia’s Front Island: Ganting Beach, Simeuleu Island, Nanggroe Aceh Darussalam Mutmainah, Herdiana; Kusumah, Gunardi; Altanto, Try; Ondara, Koko
AQUASAINS Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Jurusan Perikanan dan Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4286.762 KB)

Abstract

Indonesia is an archipelago country with potential marine and coastal. Simeulue Island, NAD is one of the leading island in west of the Republic of Indonesia and located in Hindia Ocean. Simeulue have potential marine waters such as fish, lobster, crab and sea cucumber as well as ecosystems such as coral reefs and mangroves. Simeulue is an area that affected by the tsunami or Smong (in local term means running) at eleven years ago on 26 December 2004. A big change that happen is the accretion on most coasts such as in the area around the northwest to the northeast. This accretion marked by the widening of the coast towards the sea and the lifting of the corals to the surface because ofthe movement of tectonic plate subduction Sunda arc (Natawidjaja, 2007). This study aims to determine the condition of the water quality and the potential suitability of a marine tourism in this region to foreign countries. Location of study at Ganting Beach, Village of Kuala Makmur, Simeulue regency, Simeulue Island. The research was conducted in August 2015. The number of sampling station is 12 points with purposive sampling method. Observation of water quality parameters are pH, temperature,salinity, turbidity, dissolved oxygen, brightness, BOD5, odors, oil and debris. These parameters are then mapped using software ODV, analyzed and compared with the sea water quality standard for marine tourism as well as the characteristics of the coast to the suitability index of recreational area. Water quality parameters showed pH values ranged from 10.05 to 10.25; temperature from 29.80 to 31.90 (° C); salinity from 27.60 to 32.70 (ppt); turbidity from 0.00 to 3.50 (NTU); dissolved oxygen from 7.46 to 8.77 (mg / L); BOD5 from 0.897 to 1.076 (mg/ L); brightness 8.50 to 15.40 (m); no smell; no oil layer; and no debris. The results showed that the water quality P. Ganting is very suitable for recreational activities (index 77, category S1) and it is suitable for swimming and also for boating tourism activities, banana boats and jet skis (index 16, category S2).
SEDIMENTARY ENVIRONMENTS OF THE INSHORE PEMANGKAT REGION SAMBAS, WEST KALIMANTAN (LINGKUNGAN SEDIMEN DI PERAIRAN PEMANGKAT, SAMBAS, KALIMANTAN BARAT) Solihuddin, Tubagus; Kusumah, Gunardi
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 19, No 1 (2014): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (630.038 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.19.1.19-26

Abstract

Peningkatan produk-produk perikanan melalui industrialisasi dengan menekankan pada pengembangan perikanan budidaya laut yang membutuhkan data pendukung lingkungan laut termasuk sediment dasar laut. Penelitian lingkungan sedimen di Perairan Pemangkat bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai komposisi sedimen permukaan dasar laut, konsentrasi mineral logam dan total padatan tersuspensi. Beberapa sampel sedimen permukaan telah diambil pada transek yang telah ditentukan di sekitar Pantai Pemangkat dan telah dilakukan analisis mengikuti prosedur analisis granulometri, sedangkan metode AAS diterapkan untuk menentukan konsentrasi mineral logam. Selain itu, beberapa sampel air laut juga telah diambil menggunakan botol Nansen untuk mendapatkan total padatan tersuspensi. Informasi tersebut sangat bermanfaat bagi manager dan atau pemerintah daerah dalam menilai, merencanakan dan mengelola kawasan peisir dan lingkungan laut. Standar kualitas air yang dikeluarkan oleh Kementerian Negara Lingkungan Hidup digunakan sebagai acuan untuk mengkalibrasi hasil penelitian. Studi ini menunjukkan dominasi sedimen lumpur dan tingginya konsentrasi TSS, mengindikasikan bahwa Perairan Pemangkat tidak direkomendasikan untuk pengembangan kawasan perikanan budidaya laut. Kata kunci: sedimen, mineral logam, total padatan tersuspensi Increasing fisheries products through industrialisation with emphasizing on marine aquaculture development requires supporting data on marine environments including seafloor sediments. Research on sedimentary environments of the inshore of Pemangkat region was aimed to obtain seafloor sediment composition, heavy metal and total suspended solid (TSS) concentrations. Some surface sediments samples were collected in transects across the selected Pemangkat coast and analysed following the procedure of granulometric analysis, whilst AAS (Atomic Absorption Spectroscopy) was applied to determine heavy metal concentrations (e.g. Hg, Pb, Cd, Cu, and Zn). Additionally, water samples were also collected using Nansen bottle to derive TSS concentrations. This sort of information will be valuable for manager and/or local government to assess, plan and manage coastal zone and marine environment. A standard of water quality issued by the State Ministry for Environment was then used as a reference to calibrate the results. This study showed silt (mud) sediment dominance and high TSS concentrations, indicating that the inshore Pemangkat region was not highly recommended for marine aquaculture development. Keywords: sediment, heavy metal, total suspended solid
PENDUGAAN LAJU SEDIMENTASI DI PERAIRAN TELUK BENOA - BALI BERDASARKAN CITRA SATELIT Tanto, Try Al; Putra, Aprizon; Kusumah, Gunardi; Farhan, A. Riza; S. Pranowo, Widodo; Husrin, Semeidi; ., Ilham
Jurnal Kelautan Nasional Vol 12, No 3 (2017): DESEMBER
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1240.997 KB) | DOI: 10.15578/jkn.v12i3.4212

Abstract

Perairan Teluk Benoa Bali memiliki 6 sungai (tukad) yang bermuara pada perairannya. Tukad Mati dan Tukad Badung adalah 2 sungai terbesar pemberi pasokan sedimen. Pembangunan reklamasi di pelabuhan Benoa dan pembangunan Jalan Tol melintasi Teluk Benoa diduga meningkatkan sedimentasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kejadian sedimentasi di perairan Teluk Benoa, dan memperoleh kisaran sedimentasi secara spasial yang terjadi dalam rentang 9 tahun terakhir. Analisis pendugaan sedimentasi dilakukan secara spasial berupa sebaran pengendapan sedimentasi di dasar perairan dengan menggunakan citra satelit Spot – 6 dan Landsat 7. Hasil yang diperoleh adalah luasan sedimentasi pada tahun 1997 sebesar 1640,78 ha mengalami penurunan luasan menjadi 1480,57 ha (tahun 2006) dengan laju perubahan sebesar positif -160,21 ha (-20,03 ha/tahun). Namun, luasan sedimentasi kembali bertambah menjadi 1531,93 ha pada tahun 2012 (laju perubahan negatif +8,56 ha/tahun), bahkan menjadi 1966,14 ha pada tahun 2015 (laju perubahan negatif +144,74 ha/tahun).