Aryu Candra Kusumastuti
Program Studi Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro

Published : 39 Documents
Articles

Found 39 Documents
Search

PENGARUH SUPLEMENTASI SENG DAN ZAT BESI TERHADAP TINGGI BADAN BALITA USIA 3-5 TAHUN DI KOTA SEMARANG Ghazian, Muhammad Isyraqi; Kusumastuti, Aryu Candra
Journal of Nutrition College Vol 5, No 4 (2016): Oktober 2016
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v5i4.16463

Abstract

Latar Belakang : Stunting merupakan masalah gizi yang dapat dipengaruhi oleh kekurangan asupan makronutrien dan mikronutrien kronis. Berdasarkan data Riskesdas tahun 2013, prevalensi stunting di Indonesia sebesar 37,2 %. Seng dan zat besi diketahui memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan tubuh. Suplementasi dapat digunakan untuk meningkatkan asupan seng dan zat besi.Metode : Jenis Penelitian ini adalah quasi experimental dengan randomized control group pre-post test design. Subjek penelitian adalah balita usia 3-5 tahun di Kelurahan Jomblang, Kecamatan Candisari, Kota Semarang sebanyak 36 subjek yang diambil secara purposive sampling sesuai kriteria inklusi dan dibagi kedalam 4 kelompok (9 subjek/kelompok) secara random sampling. Kelompok 1 / kontrol diberikan placebo, sedangkan kelompok perlakuan 2, 3, dan 4 berturut-turut diberikan suplementasi Seng, Zat Besi, dan Seng-Zat Besi selama 60 hari. Dosis seng dan zat besi masing-masing sebesar 10 mg/hari dan 7,5 mg/hari. Pengukuran tinggi badan dilakukan di awal dan di akhir penelitian. Asupan makan di peroleh dengan metode Semi Quantitative Food Frequency Questionaire (SQ-FFQ). Analisis data menggunakan uji beda paired t-test, dan uji Kruskal-Wallis.Hasil : Berdasarkan z-score TB/U, terdapat 4 subjek (11,1 %) yang berstatus severe stunted, 8 subjek (22,2 %) berstatus stunted, dan 24 subjek (66,7 %) berstatus normal. Tinggi badan pre-post pada keempat kelompok memiliki perbedaan yang bermakna (p<0,05), namun perubahan tinggi badan yang terjadi pada keempat kelompok tidak memiliki perbedaan yang bermakna antara kelompok perlakuan dengan kelompok kontrol (p>0,05).Kesimpulan : Adanya pengaruh yang signifikan terhadap tinggi badan subjek di 4 kelompok penelitian (p<0,05). Namun, tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara kelompok perlakuan dengan kelompok kontrol (p>0,05).
PENGARUH PEMBERIAN SEDUHAN DAUN KELOR (MORINGA OLEIFERA LAMK) TERHADAP KADAR ASAM URAT TIKUS PUTIH (RATTUS NORVEGICUS) Rahmawati, Rahmawati; Kusumastuti, Aryu Candra
Journal of Nutrition College Vol 4, No 4 (2015): Oktober 2015
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v4i4.10167

Abstract

Latar belakang :  Asam urat merupakan hasil akhir metabolisme purin yang apabila dalam jumlah yang berlebihan dapat memicu terjadinya berbagai macam penyakit, salah satunya adalah gout. Moringa oleifera lamk, atau dikenal dengan daun kelor telah dipercaya masyarakat sebagai tanaman herbal untuk gout, arthritis, dan beberapa penyakit lainnya karena kandungan fitokimianya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh pemberian seduhan daun kelor (Moringa oleifera Lamk) terhadap kadar asam urat tikus putih.Metode : Dua belas ekor tikus wistar jantan dengan berat 150 ? 180 g dibagi menjadi dua kelompok secara acak. Kedua kelompok diberi  otak kambing 2 g/ekor/hari selama 8 hari. Selanjutnya, kelompok kontrol (K) diberi akuades, sedangkan pada kelompok perlakuan (P) diberi seduhan daun kelor 3,6 ml selama 14 hari. Bubuk daun kelor dengan dosis 3,75 g/kg berat badan diseduh dengan air hangat bersuhu 600C. Data yang diperoleh diuji normalitasnya menggunakan Saphiro-Wilk. Perbedaan kadar asam urat sebelum dan sesudah perlakuan pada  masing ? masing kelompok diuji dengan dependent pair t test. Untuk mengetahui perbedaan antara kedua kelompok digunakan uji independent pair t test.Hasil penelitian : Perubahan kadar asam urat sebelum dan sesudah pemberian otak kambing pada kelompok kontrol dan perlakuan adalah -0,529 mg/dl (p= 0,002) dan 0,831 mg/dl (p= 0,08). Perubahan kadar asam urat sebelum dan sesudah pemberian seduhan daun kelor pada kelompok perlakuan adalah 0,675 mg/dl (p= 0,04). Kesimpulan : Pemberian seduhan daun kelor dengan dosis 3,75 g/kgbb selama 14 hari dapat menurunkan kadar asam urat tikus.
ASUPAN VITAMIN D, KALSIUM DAN FOSFOR PADA ANAK STUNTING DAN TIDAK STUNTING USIA 12-24 BULAN DI KOTA SEMARANG Chairunnisa, Estillyta; Kusumastuti, Aryu Candra; Panunggal, Binar
Journal of Nutrition College Vol 7, No 1 (2018): Januari 2018
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v7i1.20780

Abstract

 Latar Belakang : Stunting merupakan masalah gizi yang banyak ditemukan pada anak di negara berkembang seperti di Indonesia. Stunting yaitu gangguan pertumbuhan disebabkan kekurangan gizi kronis berdasarkan nilai z-score panjang badan menurut umur kurang dari -2 SD. Kecukupan asupan zat gizi mikro yang tidak adekuat menjadi salah satu faktor penyebab terjadi stunting pada anak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan asupan vitamin D, kalsium dan fosfor pada anak  stunting dan tidak stunting usia 12-24 bulan. Metode : Penelitian ini menggunakan desain case-control. Subjek adalah anak stunting dan tidak stunting usia 12-24 bulan di Kelurahan Rowosari dan Meteseh, Semarang. Total subjek pada masing-masing kelompok kasus dan kontrol sejumlah 40 orang. Pengambilan subjek menggunakan metode simple random sampling. Data asupan zat gizi diperoleh dengan menggunakan Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ). Analisis zat gizi menggunakan software NutriSurvey. Analisis data secara statistik menggunakan uji Chi Square, Fisher?s exact dan regresi logistik ganda.Hasil : Rerata asupan kalsium dan fosfor pada kelompok kasus sebesar 303,3±2,8 mg dan 440,1±1,9 mg sedangkan pada kelompok kontrol sebesar 606±3 mg dan 662±2,5 mg. Rerata asupan vitamin D pada kelompok kasus sebesar 2,2±3,3 mcg dan pada kelompok kontrol sebesar 4,8±4,1 mcg. Terdapat perbedaan antara asupan kalsium (p=0,003; OR=4,5) dan fosfor (p=0,001; OR=13,5) pada anak stunting dan tidak stunting usia 12-24 bulan. Tidak terdapat perbedaan asupan vitamin D antara anak stunting dan tidak stunting (p=0,615; OR=3,162).Simpulan: Terdapat perbedaan antara asupan kalsium dan fosfor pada anak stunting dan tidak stunting usia 12-24 bulan.
HUBUNGAN ASUPAN LEMAK JENUH DENGAN KEJADIAN ACNE VULGARIS Indrawan, Nanda; Kusumastuti, Aryu Candra
Journal of Nutrition College Vol 2, No 4 (2013): Oktober 2013
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v2i4.3817

Abstract

Latar belakang: Acne vulgaris adalah salah satu penyakit kulit yang sering menjadi masalah bagi remaja dan dewasa muda. Pada wanita, acne vulgaris berkembang lebih awal, yaitu pada saat premenarke. Puncak insiden pada wanita dijumpai pada usia 14-17 tahun. Asupan makan terutama tinggi lemak jenuh dapat memicu timbulya acne vulgaris bahkan memperburuk acne vulgaris. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan asupan lemak jenuh dengan kejadian acne vulgaris.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional dengan sampel 60 siswi SMA Negeri 5 Semarang berusia 14-18 tahun. Data primer seperti riwayat  acne vulgaris diperoleh dari wawancara dan observasi. Data asupan diperoleh dari pengisian lembar food recall lalu dianalisis software nutrisoft. Selain data riwayat acne, peneliti juga mengambil data lain melalui wawancara seperti riwayat  menstruasi, stress, kebersihan wajah, riwayat keluarga yang menderita acne. Analisis data dilakukan dengan uji chi square, dengan tingkat kemaknaan p < 0,05Hasil penelitian: Kejadian acne vulgaris paling banyak ditemukan pada usia 16-17 tahun (51,7%). Asupan lemak jenuh pada responden  sebagian besar tergolong  lebih dari cukup (50,0%) . Berdasarkan hasil wawancara sebagian besar subjek (41,7%) menyatakan timbulnya acne vulgaris sewaktu-waktu. Pada sebagian besar siswi yang menderita acne  terdapat Riwayat keluarga yang positif (60,0%). Faktor menstruasi berpengaruh pada kejadian acne vulgaris p=0,003. Tidak ada hubungan bermakna antara asupan lemak jenuh dengan kejadian acne vulgaris p=0,988Simpulan: Terdapat hubungan yang tidak bermakna antara asupan lemak jenuh dengan kejadian acne vulgaris. Terdapat hubungan yang bermakna antara kejadian menstruasi dengan kejadian acne vulgaris.
PENGARUH PEMBERIAN VITAMIN C TERHADAP KADAR TRIGLISERIDA LANJUT USIA SETELAH PEMBERIAN JUS LIDAH BUAYA ( ALOE BARBADENSIS MILLER) Maulidina, Farinta Annisa; Kusumastuti, Aryu Candra
Journal of Nutrition College Vol 3, No 4 (2014): Oktober 2014
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v3i4.6866

Abstract

Latar belakang : Hipertrigliseridemia merupakan salah satu faktor risiko terjadinya penyakit kardiovaskuler.  Zat gizi yang terkandung dalam lidah buaya diduga dapat menurunkan kadar trigliserida. Vitamin C sebagai antioksidan diketahui dapat mempertahankan penurunan kadar trigliserida. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh vitamin C terhadap kadar trigliserida setelah pemberian jus lidah buaya.Metode : Jenis penelitian ini adalah quasi experimental dengan rancangan   pre test- post test design. Subjek adalah lansia usia 60-75 tahun yang tinggal di Unit Rehabilitasi Sosial ?Pucang Gading?. Subjek adalah 20 lansia pria dan wanita dengan kadar trigliserida ?100 mg/dl, yang dibagi menjadi  kelompok perlakuan dan kontrol. Semua subjek diberikan jus lidah buaya 200ml/ hari selama 14 hari, selanjutnya pada kelompok perlakuan diberikan vitamin C 750 mg/hari selama 3 hari. Kadar trigliserida dianalisis dengan metode GPO-PAP. Uji normalitas menggunakan Shapiro Wilk. Analisis statistik menggunakan uji paired t-test dan Wilcoxon.Hasil : Pemberian jus lidah buaya 200 ml selama 14 hari pada kelompok kontrol dan perlakuan dapat menurunkan kadar trigliserida. Pemberian vitamin C 750 mg/hari tidak berpengaruh terhadap penurunan kadar trigliserida lansia setelah pemberian jus lidah buaya (p=0,156). Tidak terdapat perbedaan kadar trigliserida antara kelompok perlakuan dan kontrol setelah pemberian vitamin C (p=0,268).Simpulan : pemberian vitamin C tidak berpengaruh terhadap penurunan kadar trigliserida lansia setelah pemberian jus lidah buaya.
HUBUNGAN ANTARA BODY IMAGE DAN PERILAKU MAKAN DENGAN STATUS GIZI REMAJA PUTRI DI SMA THERESIANA SEMARANG Widianti, Nur; Kusumastuti, Aryu Candra
Journal of Nutrition College Vol 1, No 1 (2012): Oktober 2012
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v1i1.379

Abstract

Background: The dissatisfaction with their body shapes is commonly found among female adolescents. The lack of the contentment lead them to gain an ideal body shape but, unfortunately, they implement improper eating behaviour. The extreme diet they have affects negatively to their nutritional status. This study was aimed at analyzing the association between the body image and eating behaviour with nutritional status of female adolescents. Methods: The study was cross-sectional on 72 female students of grade X, XI and XII in Theresiana Senior High School Semarang. The samples were taken based on simple random sampling. The samples were fulfilled inclusive criterion. The data were gathered by using questionnaires and focus group discussion (FGD). The FGD was intended to find more data on body image. Nutritional status data was obtained by measuring weight and height.  Then, z-score was calculated based on BMI/ U by using WHO Anthro Plus 2007. Results: A total of 29 subjects (40.3%) were not satisfied with their body shape and 43 subjects (59.7%) were satisfied with their body shape. The majority (56.9%) subjects have not good eating behavior yet, whereas 43.1 % of them have good eating behavior. There were significant association between body image with nutritional status (r = 0.482 p = 0.001) and eating behavior with nutritional status (r = 0.507 p = 0.001). Conclusion: Body image and the eating behavior were associated with nutritional status of female adolescents.
HUBUNGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DENGAN PENURUNAN BERAT BADAN IBU MENYUSUI Ayu Kristiyanti, Fransiska Nimas; Kusumastuti, Aryu Candra
Journal of Nutrition College Vol 2, No 4 (2013): Oktober 2013
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v2i4.3831

Abstract

 *)Penulis Penanggungjawab Latar Belakang: Pemberian ASI eksklusif diyakini sebagai cara yang efektif untuk menurunkan berat badan setelah melahirkan. Hal tersebut masih bersifat kontroversi karena beberapa penelitian menunjukan bahwa menyusui dapat menurunkan berat badan, sedangkan beberapa penelitian belum menunjukan hasil yang serupa.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pemberian ASI eksklusif dengan penurunan berat badan ibu menyusui.Metode: Desain penelitian kohort prospektif dengan jumlah subjek 54 ibu menyusui yang dipilih secara purposive sampling. Data yang diteliti meliputi berat badan yang diukur dengan timbangan injak digital, pemberian ASI eksklusif diketahui melalui wawancara dengan kuesioner dan asupan energi diperoleh melalui formulir Food Frequency Questionaire semi kuantitatif kemudian dihitung dengan nutrisurvey. Uji chi square digunakan untuk analisis bivariat dan regresi logistik digunakan untuk analisis multivariat.Hasil: Proporsi pemberian ASI eksklusif sebesar 35,2% dan ASI tidak eksklusif sebesar 64,8%. Hasil penelitian ini menunjukan sebesar 78,9% ibu pada kelompok ASI eksklusif dan sebesar 51,4 % pada kelompok ASI tidak eksklusif mengalami penurunan berat badan. Rerata penurunan berat badan sebanyak 1,1 kg pada kelompok ASI eksklusif dan sebanyak 0,4 kg pada kelompok ASI tidak eksklusif. Ada hubungan bermakna antara pemberian ASI eksklusif dengan penurunan berat badan ibu menyusui (p=0,048; RR=1,54). Ada hubungan bermakna antara pemberian ASI eksklusif dengan penurunan berat badan setelah dikontrol oleh asupan energi (p=0,029).Simpulan: Ada hubungan antara pemberian ASI eksklusif dengan penurunan berat badan ibu menyusui. Penurunan berat badan ibu yang memberikan ASI eksklusif 1,54 kali lebih besar dibandingkan ibu yang memberikan ASI tidak eksklusif.
PERBEDAAN KADAR KOLESTEROL TOTAL DAN TRIGLISERIDA SEBELUM DAN SETELAH PEMBERIAN SARI DAUN CINCAU HIJAU (PREMNA OBLONGIFOLIA MERR) PADA TIKUS DISLIPIDEMIA Budiyono, Wahyu; Kusumastuti, Aryu Candra
Journal of Nutrition College Vol 2, No 1 (2013): Januari 2013
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v2i1.2096

Abstract

Latar Belakang : Dislipidemia merupakan faktor risiko terjadinya penyakit kardiovaskuler. Tingginya kadar kolesterol dan trigliserida dalam darah berhubungan erat dengan meningkatnya kejadian penyakit tersebut. Cincau hijau (Premna oblongifolia Merr) merupakan tanaman yang mengandung serat dan klorofil yang berpotensi menurunkan kadar kolesterol total dan trigliserida. Perlu dilakukan analisis untuk mengetahui perbedaan kadar kolesterol total dan trigliserida sebelum dan setelah pemberian sari daun cincau hijau. Metode : Penelitian ini adalah penelitian experimental labolatory dengan randomized control groups pre-post design. Subjek dalam penelitian ini adalah tikus jantan galur Sprague Dawley umur 7-8 minggu yang diinduksi dislipidemia, diberi sari daun cincau hijau sebanyak 2,7 ml dan 5,4 ml selama 28 hari. Kadar kolesterol total dan trigliserida diukur dengan menggunakan metode CHOD-PAP (Cholesterol Oxidase - Para Aminophenazone) dan GPO-PAP (Glycerol Phosphate Oxidase ? Para Aminophenazone). Normalitas data diuji dengan Shapiro Wilks, kemudian dianalisis dengan menggunakan uji t berpasangan dan dianalisis menggunakan uji statistik parametrik Anova dan non parametrik Kruskal Wallis dilanjutkan dengan analisis Post Hoc. Hasil : Pemberian sari daun cincau hijau (Premna oblogifolia Merr) dengan dosis 5,4 ml pada tikus mampu menurunkan kadar trigliserida secara bermakna dari 102,86±20,07 mg/dl menjadi 84,14±23,75 mg/dl (p <0,05). Terjadi peningkatan kadar kolesterol total secara bermakna (p <0,05) pada kelompok dengan pemberian sari daun cincau hijau (Premna oblogifolia Merr) dengan dosis 2,7 ml dan 5,4 ml, yang masing-masing mengalami peningkatan 13,14±6,41 mg/dl dan 20,29±10,84 mg/dl. Kesimpulan : Sari daun cincau hijau 5,4 ml/hari mampu menurunkan kadar trigliserida tikus Sprague dawley dislipidemia secara bermakna  ±18%.
KADAR SENG SERUM DAN RASIO MOLAR FITAT:SENG PADA ANAK USIA SEKOLAH DASAR DI PESISIR KOTA SEMARANG Albab, Ulil; Kusumastuti, Aryu Candra; Rustanti, Ninik
Journal of Nutrition College Vol 6, No 4 (2017): Oktober 2017
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v6i4.18786

Abstract

Background: School-age children are at risk of zinc deficiency which can be identified by measuring serum zinc levels. Zinc intake, in particular, strongly affects zinc absorption and consequently alters serum zinc concentration. Phytate is the strongest inhibitor of zinc absorption. The scale of its inhibitory ability can be measured through phytate:zinc molar ratio. This study aimed to describe phytate:zinc molar ratio in school-age children in coastal area of Semarang.Method: This was a cross-sectional study on 50 samples of children aged 9-12 years chosen by non probability sampling from several elementary schools in Semarang. Observed data include subject characteristics, zinc intake, phytate intake, and serum zinc levels. Participants' intake was assessed using 3x24 hour food recall and food record, while serum zinc levels were evaluated through Atomic Absorbant Spechtrophotomety (AAS) methods. Data was analyzed by Pearson?s test.Result: The mean serum zinc level was 93,85±22,99 µg/dl, with a phytate:zinc molar ratio of 14,48±4,23. Only 14% of the subjects had low zinc serum levels, but there was 46% with low zinc absorption rates according to their molar ratio of phytate:zinc. No significant correlation was detected between phytate:zinc molar ratio and serum zinc levels (p=0,427). Conclusion: Low zinc serum levels was found in 14% of the subjects while 46% had low zinc absorption rate. No significant correlation was detected between phytate:zinc molar ratio and serum zinc levels.
PENGARUH VITAMIN C TERHADAP KADAR LOW DENSITY LIPOPROTEIN (LDL) LANJUT USIA SETELAH PEMBERIAN JUS LIDAH BUAYA (ALOE BARBADENSIS MILLER) Hapsari, Yuhud Tri; Kusumastuti, Aryu Candra
Journal of Nutrition College Vol 3, No 4 (2014): Oktober 2014
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v3i4.6879

Abstract

Latar Belakang : Tingginya kadar LDL dapat menyebabkan terjadinya aterosklerosis yang merupakan awal terjadinya PJK. Kandungan zat gizi dari jus lidah buaya dan antioksidan dari vitamin C dapat menurunkan kadar LDL. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh vitamin C setelah pemberian jus lidah buaya terhadap kadar LDL lansia.Metode : Jenis penelitian adalah quasi experimental dengan rancangan pre-post test control design yang melibatkan lansia sebagai subyek. Penelitian dilakukan di Unit Rehabilitasi Sosial ?Pucang Gading? Semarang. Seluruh subyek mendapatkan jus lidah buaya sebanyak 200 ml/hari selama 14 hari. Hari ke-15 dilanjutkan dengan intervensi yaitu pemberian vitamin C 750 mg/hari selama 3 hari pada kelompok perlakuan dan pemberian plasebo pada kelompok kontrol. Jumlah sampel tiap kelompok adalah 10. Analisis kadar LDL dilakukan dengan metode enzimatik. Uji normalitas data menggunakan Saphiro-Wilk, analisis statistik menggunakan dependent t-test dan WilcoxonHasil : Rerata penurunan kolesterol LDL setelah pemberian jus lidah buaya pada kelompok perlakuan sebesar 13,30 mg/dl (9,69%) dan kontrol sebesar 13,50 mg/dl (10,74%). Rerata penurunan kadar LDL setelah pemberian vitamin C kelompok kelompok perlakuan sebesar 13,20 mg/dl (11,91%) sedangkan kontrol sebesar 4,40 mg/dl (4,01%). Tidak ada perbedaan kadar LDL antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol setelah pemberian vitamin C (p>0,05).Kesimpulan : Pemberian jus lidah buaya menurunkan kadar LDL secara bermakna. Namun dalam penelitian ini pemberian vitamin C tidak terbukti mempertahankan penurunan kadar LDL.