Articles

Found 9 Documents
Search

EFEKTIVITAS ISOLAT BAKTERI DARI RIZOSFER DAN BAHAN ORGANIK TERHADAP RALSTONIA SOLANACEARUM DAN FUSARIUM OXYSPORUM PADA TANAMAN KENTANG Kuswinanti, Tutik; Baharuddin, Baharuddin; Sukmawati, Sri
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol 10 No 2 (2014)
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.797 KB) | DOI: 10.14692/jfi.10.2.68

Abstract

Rhizosphere is an ideal area for growth and development of microbial antagonists, because it is a nutrition rich area. Nutrients that secreted in the rhizosphere are influenced by many environmental factors which in turn effect the diversity and abundance of microbial community. Based on these facts, the research were aimed to isolate bacteria from the rhizosphere and organic materials in Tana Toraja, and determine their role as biological control agents for potato wilt disease. Antagonistic test was conducted in order to determine the ability of each bacterial isolate to inhibit the growth of Ralstonia solanacearum and Fusarium oxysporum. The results showed that from totally 74 bacterial isolates, only 10 and 4 bacterial isolates were able to inhibit the growth of R. solanacearum and F. oxysporum in vitro, respectively.
Eksplorasi Fusarium Spp yang Berasosiasi Dengan Aquillaria Spp di Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara N, Nurbaya; Kuswinanti, Tutik; B, Baharuddin; Rosmana, Ade; Millang, Syamsuddin
Prosiding Seminar Biologi 2015: Seminar Nasional Mikrobiologi Kesehatan dan Lingkungan
Publisher : Prosiding Seminar Biologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fusarium spp adalah salah satu isolat cendawan yang berasosiasi dengan tanaman Aquillaria spp untuk menghasilkan gaharu sebagai hasil hutan bukan kayu. Penelitian ini mengambil sampel dari batang Aquillaria spp yang menunjukkan gejala pembentukan gaharu yang tumbuh secara alami pada ketinggian yang berbeda, mulai dari ketinggian 0-2000 mdpl, yang ada pada empat Kecamatan yaitu: Kecamatan Nunukan Selatan (0-100 mdpl), Lumbis (100-500 mdpl), Krayan Induk (1000-1500 mdpl), Krayan Selatan (1000-2000 mdpl) di Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan informasi mengenai isolat-isolat Fusarium pembentuk gaharu dari batang Aquillaria spp. Isolat Fusarium diperoleh dengan mengamati pertumbuhan morfologi cendawan pada media PDA. Hasil yang diperoleh diidentifikasi secara molekuler menggunakan jenis primer LSU. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada batang Aquillaria spp yang tumbuh pada ketinggian 0-100 mdpl terinfeksi oleh F. solani, ketinggian 100-500 mdpl terinfeksi oleh Fusarium sp, F. fujikuroi dan F. oxysporum, ketinggian 1000-1500 mdpl terinfeksi oleh F. solani, sedangkan Aquillaria spp yang tumbuh pada ketinggian 1000-2000 mdpl terinfeksi oleh F. solani, F. oxysporum dan F. ambrosiumKata Kunci: Aquillaria spp, cendawan, eksplorasi, Fusarium.
Isolasi Cendawan Rhisozfer Penghasil Hormone Indol Acetic Acid (IAA) Pada Padi Aromatik Tanatoraja A, Abri; Kuswinanti, Tutik; Lisan Sengin, Enny; Sjahrir, Rinaldi
Prosiding Seminar Biologi 2015: Seminar Nasional Mikrobiologi Kesehatan dan Lingkungan
Publisher : Prosiding Seminar Biologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kualitas jenis padi akan berpengaruh pada selera makan. Jenis padi yang menghasilkan nasi pulen dan aromanya wangi merupakan keunggulan jenis padi aromatik. Namun sulit dijumpai dan harganya mahal. Sulawesi Selatan, khususnya daerah Tanah Toraja merupakan daerah pengembangan padi aromatik yang memiliki potensi untuk dikembangkan. Budidaya yang diterapkan masih bersifat tradisional dan berbasis kearifan lokal yaitu tanpa penggunaan pupuk, pestisida dan obat kimia lainnya, sehingga diharapkan terdapat keragaman biodiversitas mikroorganisme yang tinggi di dalam tanah terutama cendawan rhizosfer yang menghasilkan hormon Indol Acetic Acid (IAA). Rhizosfer tanaman padi aromatik diambil sebanyak 10 gram disuspensikan dalam 100 ml aquades steril. Pemurnian dilakukan dengan memindahkan satu koloni jamur pada medium PDA steril yang baru. Pengukuran produksi IAA dilakukan dengan mengkulturkan 1 lup penuh isolat cendawan rhizosfer pada media Potato Dextrose Agar (PDA) dengan penambahan LTriptofan dan selama 48 jam pada ruang gelap dengan suhu ruang. IAA dengan kertas saring kemudian disentrifius 3000 rpm selama 30 menit, tambahkan 2 tetes asam orthofosfat, lalu tambahkan lagi dengan 4 ml reagen Salkowski (50 ml, 35% asam sulfat, 1 ml 0,5 mol larutan FeCl3), simpan ruang gelap selama 24 jam, perubahan warna larutan menjadi pink berarti isolat cendawan telah memproduksi IAA. Pengukuran absorbansi serapan IAA nya dengan menggunakan spektrometer (spectronic 20) pada panjang gelombang 530 nm. Hasil isolasi cendawan rhizosfer padi aromatik jenis Pare kaloko menghasilkan 19 isolat dan Pare Bau 15 isolat. Rata-rata produksi Indole Acetic Acid (IAA) sebesar 0,556-2.190 mg/L dihasilkan oleh isolat pare Kaloko, sedangkan rata rata produksi IAA yang dihasilkan oleh isolat pare Bau sebesar 0,048 – 1,8101,435 mg/LKata Kunci: IAA, isolat cendawan, padi aromatik, rhisozfer
Potensi Jamur Pelapuk Dalam Mendekomposisi Limbah Kulit Kakao Rahim, Iradhatullah; Kuswinanti, Tutik; Asrul, Laode; Rasyid, Burhanuddin
Prosiding Seminar Biologi 2015: Seminar Nasional Mikrobiologi Kesehatan dan Lingkungan
Publisher : Prosiding Seminar Biologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu komoditas penting di Indonesia adalah kakao. Namun hanya isi biji yang dikelola secara komersial. Padahal limbah kulit kakao yang mencapai 95% dari total biomassa merupakan sumber bahan organik yang potensial. Namun, kulit kakao yang terdiri dari senyawa lignin, selulosa, dan hemiselulosa sangat sulit terdekomposisi. Jamur pelapuk merupakan salah satu jenis mikroba yang dapat mendegredasi senyawasenyawa tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi jamur pelapuk untuk mendekomposisi limbah kulit kakao. Penelitian dilakukan dengan mengisolasi jamur pelapuk dari pertanaman kakao. Jamur pelapuk kemudian diinokulasi pada limbah kulit kakao. Dilakukan pengamatan penurunan bobot kakao dan uji lignoselulotik. Hasil penelitian menunjukkan isolasi jamur pelapuk menghasil isolat BSA, BPB, BPC, BPE1, BPE2, BSF, BPG, dan JT. Penurunan bobot limbah kakao tertinggi pada pemberian isolat BPB. Kadar selulosa terendah pada pemberian isolat BSA, sedangkan kadar hemiselulosa dan lignin terendah, masing-masing pada pemberian isolat BPE2 dan BPB.Kata Kunci: jamur pelapuk, lignoselulotik, kulit kakao
NICKEL (NI) REDUCTION IN SOROWAKO POST-MINING SOIL THROUGH APPLICATION OF MYCORRHIZA ACAULOSPORA SP. ASSOCIATED WITH CANAVALIA ENSIFORMIS L. Akib, M. Akhsan; Mustari, Kahar; Kuswinanti, Tutik; Syaiful, Syatrianty Andi; `, Syatrawati; Kumalawati, Z.
Journal of Microbial Systematics and Biotechnology Vol 1, No 1 (2019): June 2019
Publisher : Microbiology Division, Research Center for Biology, Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (307.938 KB) | DOI: 10.37604/jmsb.v1i1.19

Abstract

The nickel (Ni) content in a post-mining soil of Pomalaa mines reached 14,200 mg.kg-1 and became a limiting factor in the plant growth process. A Ni reduction in the soil by using phyto-accumulator such as Jack bean (Canavalia ensiformis L.) can be improved by combining it with arbuscular mycorrhizal (AM) fungi. The purpose of this study was to determine the effect of the mycorrhizal fungus Acaulospora sp. on the efficiency of Ni reduction by C. ensiformis. This experiment was carried out by using a randomized block design with three different treatments, include: 1) C. ensiformis without Acaulospora sp. inoculation (negative control), 2) C. ensiformis inoculated with indigenous Acaulospora sp. and 3) C. ensiformis inoculated with non-indigenous Acaulospora sp. The study was conducted in the nursery that belongs to PT. Vale Indonesia Tbk., Sorowako, South Sulawesi, Indonesia. The results showed that highest nickel accumulation was found in the root inoculated with indigenous Acaulospora sp. (9500 mg.kg-1), followed by stem (1400 mg.kg-1), leaf and pod (1300 mg.kg-1), seed (1200 mg.kg-1), and flower (1100 mg.kg-1). This study indicates that application of the indigenous Acaulospora sp. can improve C. ensiformis efficiency to reduce Ni content at Sorowako post-mining area.
ISOLASI DAN IDENTIFIKASI JAMUR KAYU DARI HUTAN PENDIDIKAN DAN LATIHAN TABO-TABO KECAMATAN BUNGORO KABUPATEN PANGKEP Arif, Astuti ; Muin, Musrizal ; Kuswinanti, Tutik ; Harfiani, Fitri
PERENNIAL Vol 3, No 2 (2007)
Publisher : Forestry Faculty of Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24259/perennial.v3i2.171

Abstract

Wood deterioration were generally occured by the activities of biological agents. Fungal can attack wood and lignoselulosic substances and cause staining and decaying. Its damage levels were vary depending on the attacking fungal species. Eventhough it poses some disadvantages, actually fungy have potential benefits for human life such as nutrient, energy resources, medicine, etc. Fungy from Tabo-tabo educational forest were collected, isolated,and identified in this study. Identification was conducted throughout their macroscopic and microscopic characteristics. The result showed that the amount of fungal species were nineteen species, i.e: Aspergillus sp.,Poria subacida, Fomes sp., Lenzites sp., Hericium sp., Dacrymyces deliquescens, Ganoderma lucidum, Clitocybe sp., Trametes confragasa, Shizophyllum commune, Periconia sp., dan Helicosporium sp.,Clitocybe sp., Schizophyllum commune, dan Hygrophorus hypotejus,Ganoderma lucidum dan Coprinus atramentarius, Amanitopsis fulva dan Dacrymyces deliquescens, Collybia sp., Amanitopsis fulva, Hygrophorus hypotejus,Coprinus atramentarius, Monilia sitophilia, Gilmaniella sp. dan Conoplea sp. Key words: Wood fungy, deterioration, Tabo-tabo Educational Forest References
ISOLASI DAN IDENTIFIKASI JAMUR KAYU DARI HUTAN PENDIDIKAN UNIVERSITAS HASANUDDIN DI BENGO-BENGO KECAMATAN CENRANA KABUPATEN MAROS Arif, Astuti ; Muin, Musrizal ; Kuswinanti, Tutik ; Rahmawati, .
PERENNIAL Vol 5, No 1 (2009)
Publisher : Forestry Faculty of Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24259/perennial.v5i1.185

Abstract

Wood deterioration were generally occured by the activities of biological agents. Fungal can attack wood and lignoselullosic substances and cause staining and decaying. Its damage levels were vary depending on the attacking fungal species. Eventhough it poses some disadvantages, actually fungy have potential benefits for human life such as nutrient, energy resources, medicine, etc. Fungy from the Hasanuddin University Experimental Forest were collected, isolated, and identified in this study. Identification was conducted throughout their macroscopic and microscopic characteristics. The result showed that the amount of fungal species were fourteen species, i.e: Trichoderma sp., Phymatotrichum sp., Pycnoporus cinnabarinus, Pleurotus sp., Verticillium sp., Schizophyllum sp., Clavariadelphus truncates, Beuveria sp, Dendryphion sp., Penicillium sp., Amanita junguilea (jamur kikik), Auricularia auricularis (jamur kuping pimir), Amanita fuliginea Hongo, and Fusarium sp. Key words: Wood fungy, deterioration, Hasanuddin University Experimental Forest
Karakterisasi Bakteri Endofit Kitinolitik sebagai Agens Biokontrol Patogen Ganoderma boninense pada Kelapa Sawit [Characterization of Chitinolytic Endophyte Bacteria as Biocontrol Agents of Ganoderma boninense Pathogen on Oil Palm] Rahma, Rahma; Kuswinanti, Tutik; Rosmana, Ade
Buletin Palma Vol 20, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v20n1.2019.35-43

Abstract

Basal stem rot caused by Ganoderma boninense is one crucial disease in oil palm. The used of chitinolytic bacteria is one part of biological control to suppress G. boninense. This study aimed to isolate and characterize chitinolytic bacteria associated with roots of oil palm which have the potential as agents biocontrol against the pathogens of G. boninense, the caused of basal stem rot disease of oil palm. The study was conducted in North Luwu, East Luwu, and Makassar Districts from January to September 2017. The research was done in  four stages that consist of isolation of endophytic bacterial, testing chitinolytic activity, testing antagonistic and biochemical identification. The results showed that from 14 bacterial isolates obtained, two of them had chitinolytic activity with index of 2,35 and 3,37 respectively. Both of these bacteria can inhibit G. boninense on solid medium by 24,9% and 69,4% respectively and on the liquid medium by 47,5% and 68,5% respectively five days after inoculation. Based on biochemical characterization, these bacteria have similarities with Bacillus sp, and Serratia sp. To be concluded, Serratiasp. is a potential medium to be for controling basal stem rot disease on oil palm.ABSTRAKBusuk pangkal batang yang disebabkan oleh cendawan Ganoderma boninense merupakan salah satu penyakit penting pada kelapa sawit. Pemanfaatan bakteri kitinolitik merupakan salah satu bagian pengendalian hayati untuk mengontrol G. boninense. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengkarakterisasi bakteri kitinolitik yang berasosiasi dengan akar tanaman kelapa sawit yang berpotensi sebagai agens biokontrol terhadap G. boninense, penyebab penyakit busuk pangkal batang kelapa sawit. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Luwu Utara, Luwu Timur, dan Makassar sejak bulan Januari sampai September 2017. Penelitian ini terdiri atas empat tahap, yaitu isolasi bakteri endofit, uji aktivitas kitinolitik, uji antagonis dan identifikasi secara biokimia. Hasil penelitian diperoleh 14 isolat bakteri dimana dua bakteri diantaranya memiliki aktivitas kitinolitik dengan indeks masing masing 2,35 dan 3,37. Kedua bakteri tersebut dapat menghambat G. boninense pada medium padat masing masing 24,9% dan 69,4% serta pada medium cair masing masing 47,5% dan 68,5% lima hari setelah inokulasi. Berdasarkan karakterisasi secara biokimia, bakteri tersebut memiliki kemiripan dengan Bacillus sp, dan Serratia sp. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Serratia sp. berpotensi dalam mengendalikan penyakit busuk pangkal batang pada kelapa sawit.  
Karakterisasi Molekuler Isolat-Isolat Penyebab Bulai (Peronosclerospora spp) Pada Tanaman Jagung Berbasis Simple Sequence Repeat (SSR) Hikmahwati, Hikmahwati; Kuswinanti, Tutik; Melina, Melina
AGROVITAL : Jurnal Ilmu Pertanian Vol 3, No 1 (2018): Agrovital Volume 3, Nomor 1, Mei 2018
Publisher : Universitas Al Asyariah Mandar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35329/agrovital.v3i1.212

Abstract

Karakterisasi Molekuler Isolat-Isolat Penyebab Bulai (Peronosclerospora spp.) pada Tanaman Jagung Berbasis Simple Sequence Repeat (SSR).Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) spesies Peronosclerospora  spp yang diperoleh dari beberapa lokasi di Indonesia dan (2) keragaman genetik dan pengelompokkan antara isolat  Peronosclerospora  spp.  yang diperoleh dari beberapa lokasi di Indonesi.  Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Balai Penelitian Sereal (Balitsereal) Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan dan di Pusat Kegiatan Penelitan Universitas Hasanuddin.  Isolat yang digunakan berasal dari Medan, Kediri dan Maros.  Metode karakterisasi dilakukan secara molekuler dengan metode SSR. Hasil pengamatan dengan metode SSR efektif digunakan dalam studi keragaman genetik Peronosclerospora spp., Analisis kluster dengan UPGMA menghasilkan 3 kelompok, kelompok I terdiri dari 3 isolat asal Kediri, kelompok II terdiri dari 3 isolat asal Medan dan kelompok III terdiri dari 3 isolat asal Maros.  Berdasarkan karakterisasi dan analisis kluster isolat dari 3 lokasi yang berbeda memiliki kemungkinan adalah spesies yang berbeda.