Yudhi Lastiasih
Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya

Published : 5 Documents
Articles

Found 5 Documents
Search

REABILITAS DAYA DUKUNG PONDASI TIANG BOR BERDASARKAN FORMULA REESE & WRIGHT DAN USULAN LOAD RESISTANCE FACTOR DESIGN DALAM PERENCANAAN PONDASI TIANG BOR STUDI KASUS PROYEK JAKARTA Lastiasih, Yudhi; Irsyam, Masyhur; Sidi, Indra Djati; Toha, FX
MEDIA KOMUNIKASI TEKNIK SIPIL Volume 19, Nomor 2, DESEMBER 2013
Publisher : Department of Civil Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (475.78 KB) | DOI: 10.14710/mkts.v19i2.8422

Abstract

Design bored pile foundation often use formulae of Reese and wright (1977) on projects heild in Jakarta. The safety factor often use on the design foundation on project in Jakarta are generally 2 or 3. By using advance First Order Liability Method to analysis design foundation, the result showed that the design was very conservative. Proven by the safety index for this design is 2.68 where?s the equivalent of failure probably 3.72 x 10-3, this result is less than requirement of failure probability 1 x 10-2. Lastiasih (2012) propose the use of multiple safety factors by applying Load Resistance Factor Design (LRFD) in accordance with the design of building age so as not to use single safety factor again. Further more the design of bored pile foundation become more efficient.
USULAN METODA PERHITUNGAN INTERAKTIF STRUKTUR PONDASI DI ATAS TANAH LUNAK DENGAN MENYERTAKAN PENGARUH PENURUNAN KONSOLIDASI JANGKA PANJANG Lastiasih, Yudhi; Mochtar, Indrasurya B.
MEDIA KOMUNIKASI TEKNIK SIPIL Tahun 16, Nomor 2, JUNI 2008
Publisher : Department of Civil Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.848 KB) | DOI: 10.14710/mkts.v16i2.3691

Abstract

Calculation of shallow foundation, as mat foundation or other types of raft foundation, on soft soil has never included any consideration of soil consolidation. Generally in calculation, the upper structure is considered separate from the lower structure. If long term consolidation is included, the problem will occur when a relatively very rigid structure (on shallow foundation) is assumed to cause relatively uniform settlement, so as to assume no differential settlement. Whereas, uniform consolidation settlement is induced only by non-uniform soil reaction, so that this problem can never be solved with the assumption of separate upper-lower structures. In this paper, a method of structural calculation is suggested so that building may undergo uniform settlement as long as the soil consolidation occurs, without causing any damage to the building. The calculation is performed using special program with assumption that the induced soil reaction is always to cause uniform settlement. From this method, a procedure of soil ?structure interaction is proposed that building on soft soil may experience large settlement without damage. Keywords: Method of foundation design, Soil-structure interaction, Consolidation settlement, Shallow foundation, Soft soil problem ABSTRAK Perhitungan pondasi dangkal seperti pondasi pelat penuh ( mat foundation) atau tipe pondasi rakit lainnya di atas tanah lunak belum ada yang memasukkan unsur penurunan konsolidasi tanah dasar dalam perhitungan. Umumnya dalam perhitungan yang ada, struktur atas dan bawah dianggap terpisah. Untuk memasukkan konsolidasi jangka panjang, masalah akan terjadi ketika gedung yang relatif sangat kaku diasumsikan menyebabkan penurunan yang merata,sehingga dianggap tidak ada beda penurunan. Padahal untuk penurunan konsolidasi yang merata dibutuhkan reaksi tanah yang tidak merata, sehingga masalah ini tidak akan pernah dapat diselesaikan dengan sistem perhitungan terpisah. Pada uraian ini diupayakan suatu metoda perhitungan struktur yang dapat mengalami penurunan secara merata selama konsolidasi tanah berlangsung, tanpa menyebabkan terjadinya kerusakan pada strukturnya. Perhitungan dilakukan dengan program khusus dengan asumsi reaksi tanah selalu menghasilkan penurunan yang merata. Dari metode ini diusulkan cara perhitungan interaksi tanah ? gedung di tanah lunak yang menyebabkan gedung dapat mengalami settlement tanpa rusak. Kata kunci: Metoda perencanaan pondasi, Interaksi tanah-gedung, Penurunan konsolidasi, Pondasi dangkal, Masalah tanah lunakPermalink: http://ejournal.undip.ac.id/index.php/mkts/article/view/3691[How to cite: Lastiasih, Y. dan Mochtar, I.B. (2008), Usulan Metoda Perhitungan Interaktif Struktur Pondasi di Atas Tanah Lunak dengan Menyertakan Pengaruh Penurunan Konsolidasi Jangka Panjang, Jurnal Media Komunikasi Teknik Sipil, Tahun 16, Nomor 2, pp. 160-170]
Proposed Design Graphs of Geotextile Reinforcement on Soft Clay under Various Field Conditions Sari, Putu Tantri K.; Lastiasih, Yudhi; Sugiarto, Sugiarto
Civil Engineering Dimension Vol 18, No 2 (2016): SEPTEMBER 2016
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (902.731 KB) | DOI: 10.9744/ced.18.2.109-116

Abstract

This paper describes the behavior of reinforced embankments constructed on soft clay subgrade with varying compressible depths, embankment slopes and embankment heights. The stability of the embankment is evaluated using the Bishop method. The resistance moment and the numbers of geotextiles required are examined. It is shown that varying the subgrade and embankment can significantly affect the embankment stability and also the number of reinforcements. It requires a lot of time to design embankment reinforcements, especially when the length of the embankment is tens of kilometers. The main aim of this study is to develop graphs to assist in designing the number of geotextile reinforcements. This paper proposes design graphs to support engineers and designers to determine the required geotextile reinforcements for embankments.
Alternatif Perencanaan Timbunan Jalan dengan Material Sirtu dan Material Ringan Mortar Busa pada Jalan Tol Batang – Semarang Seksi III Weleri – Kendal STA 414+525 – STA 424+576 Putra Adi, Moch. Alfian; Lastiasih, Yudhi; Mochtar, Indrasurya B.
Jurnal Transportasi: Sistem, Material, dan Infrastruktur Vol 1, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat - Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (622.844 KB) | DOI: 10.12962/j26226847.v1i2%.a%

Abstract

Jalan Tol Batang – Semarang merupakan bagian dari proyek Jalan Tol Trans Jawa. Jalan Tol Trans Jawa adalah jaringan jalan tol antar kota di Pulau Jawa dengan tujuan utamanya untuk menghubungkan wilayah di Pulau Jawa, yaitu dari Kota Jakarta sampai Kota Surabaya, dan rencana akan dilanjutkan hingga Kabupaten Banyuwangi. Proyek Jalan Tol Batang – Semarang direncanakan memiliki panjang total ± 75 km terbagi dalam 3 seksi. Jalan tol ini rencananya akan dibangun di atas timbunan dengan elevasi yang relatif tinggi yaitu 3-meter s/d 12-meter pada STA 414+525 – STA 424+576. Kondisi tanah dasarnya adalah tanah lunak hingga medium yang memilki kedalaman ± 10 meter dengan nilai N-SPT rata – rata berkisar 5 s.d. 12 sehingga memiliki daya dukung yang rendah dan pemampatan tanah yang relatif besar. Oleh karena itu, perlu adanya desain perencanaan konstruksi timbunan jalan dari material yang aman dan cukup ringan agar pemampatan tanah dasar yang terjadi dapat diminimalisir. Diperlukan juga perencanaan perbaikan tanah dasar dan perencanaan perkuatan timbunan agar timbunan menjadi lebih stabil. Perencanaan timbunan jalan dilakukan dengan menggunakan 2 (dua) material yang berbeda, yaitu material tanah sirtu dan material ringan mortar busa sebagai material timbunan. Metode perbaikan tanah dasar direncanakan menggunakan metode pra – pembebanan (pre-loading) yang dikombinasikan dengan Prefabricated Vertical Drain (PVD) kedalaman penuh sedalam tanah lunak dan vacuum pre-loading direncanakan untuk perbaikan tanah dasar dibantu dengan pompa untuk mengangkat air dari dalam lapisan tanah dasar. Hasil analisa, perencanaan timbunan dengan material mortar busa memiliki nilai pemampatan tanah yang lebih kecil daripada perencanaan timbunan dengan material tanah sirtu. PVD yang digunakan memakai pola segitiga dengan jarak 1 m dan 1,2 m. Selain itu, perencanaan timbunan dengan material mortar busa jauh lebih stabil sehingga tidak membutuhkan perkuatan, sedangkan untuk perencanaan timbunan dengan material tanah sirtu membutuhkan perkuatan geotextile un-woven sebanyak 4 – 43 lapis untuk tinggi timbunan rencana 11,5m dan untuk timbunan rencana 3,1m tidak memerlukan geotextile sebagai perkuatan. Total biaya material perencanaan untuk variasi timbunan dengan material mortar busa jauh lebih besar daripada total biaya material perencanaan untuk timbunan tanah sirtu.
Studi Analisa Stabilitas Timbunan Dengan Metode Limit Equlibrium Dan Finite Elemen Berdasarkan Kondisi Tanah Di Indonesia KSari, Putu Tantri; Lastiasih, Yudhi
Jurnal Intake : Jurnal Penelitian Ilmu Teknik dan Terapan Vol 6 No 1 (2015): April 2015
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Darul Ulum Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kelongsoran timbunan sering terjadi di daerah yang memiliki kontur topografi yang beragam, salah satunya di Indonesia. Ketidakstabilan timbunan memicu berbagai masalah yang perlu diteliti lebih lanjut. Stabilitas lereng menjadi perhatian utama di bidang teknik Geoteknik terutama di daerah yang memiliki beragam topografi. Ada dua metode yang umum digunakan dalam analisis stabilitas tanggul. Limit Equilibrium Method (LEM) secara luas digunakan oleh para penelitia dan perencana dalam melakukan analisis stabilitas lereng. Analisis stabilitas lereng menggunakan Finime Element Method (FEM) juga telah diterima secara luas selama bertahun-tahun. Masing-masing metode memiliki perbedaan dalam memperoleh nilai Angka keamanan (SF). Beberapa penelitian sebelumnya telah dilakukan untuk membandingkan kedua metode yang ada. Hasil yang diperoleh dari perbandingan metode LEM dan FEM masih sangat bervariasi sesuai dengan lokasi review setiap penelitian dan belum menunjukkan hasil yang pasti dan sesuai dengan kondisi tanah di Indonesia.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis stabilitas timbunan untuk melakukan perbandingan pada berbagai kondisi tanah sesuai dengan jenis tanah di Indonesia dengan menggunakan LEM dan FEM. Metode Limit Equlibrium dilakukan dengan membandingkan metode yang dikembangkan sebelumnya: Ordinary / Fellenius, Metode Bishop disederhanakan, Metode Janbu disederhanakan, Spencer Metode, metode Morgenstern-Prince, Metode Lowe-Karafiath. Analisa stabilitas timbunan dengan LEM dan FEM dilakukan dengan menggunakan program bantukomputer.Analisa stabilitas timbunan dalam penelitian ini memperoleh hasil yang variatif. Nilai safety factor pada metode-metode dengan LEM menghasilkan nilai yang berbeda tergantung dari jenis tanahnya. Perbedaan nilai safety factor tersebut disebabkan oleh perbedaan prinsip perhitungan kelongsoran. Rentang perbedaan nilai SF adalah ±2-11% untuk natural slope dan 3-20% untuk timbunan jalan baik pada kondisi muka air tinggi maupun rendah.Nilai SF dengan metode finite element menghasilkan nilai yang lebih besar dibandingkan dengan metode limit equilibrium. Perbedaan nilai SF adalah variatif berkisar antara 7-10% tergantung dari jenis tanahnya.