Hadri Latif
Bagian Kesehatan Masyarakat Veteriner, Departemen Ilmu Penyakit Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner

Published : 18 Documents
Articles

Found 18 Documents
Search

DETEKSI RESIDU HORMON TRENBOLON ASETAT PADA SAPI SIAP POTONG IMPOR ASAL AUSTRALIA Danial, Rifky; Latif, Hadri; Indrawati, Agustin
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 3 No. 2 (2015): Juli 2015
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (180.149 KB) | DOI: 10.29244/avi.3.2.70-76

Abstract

Trenbolon asetat (TBA) merupakan hormon penggertak pertumbuhan yang diimplankan ke sapi untuk meningkatkan berat badan dan mengefisiensi konversi pakan. Penggunaan TBA dapat meninggalkan residu dalam urin dan dapat menyebabkan efek negatif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis keberadaan residu TBA dalam urin sapi siap potong impor dari Australia. Ukuran sampel dihitung dengan menggunakan rumus deteksi penyakit dan sampel dipilih secara acak. Sebanyak 60 sampel dianalisis menggunakan enzim-linked immunosorbent assay (ELISA). Tes menunjukkan bahwa sebanyak 100% urin sapi siap potong dari Australia mengandung residu TBA dengan konsentrasi yang bervariasi. Konsentrasi residu TBA < 2 part per billion (ppb) terdeteksi pada 37 sampel (61,67%), konsentrasi residu TBA 2-4 ppb terdeteksi pada 7 sampel (7%), dan konsentrasi residu TBA > 4 ppb terdeteksi pada 16 sampel (26,67%). Hasil positif menunjukkan bahwa sapi potong asal Australia mengandung residu hormon trenbolon asetat (TBA).Kata kunci: ELISA, residu, sapi potong impor, trenbolon asetat, urin (Detection of Trenbolone Acetate Hormone Residues in Imported Slaughter Cattle from Australia)Trenbolone acetate (TBA) is a growth hormone promoter which is implanted into cattle to increase weight gain and feed conversion efficiency. The use of TBA can leave residue in urine and may cause negative effects. The objective of this research was to analyze the presence of the TBA residue in imported slaughter cattle urine from Australia. Cattle urine samples were collected from Animal Quarantine Installation. Sample size was calculated using the formula of detect disease and selected by random sampling. A total of 60 samples of cattle urine were analyzed for level of trenbolone acetate residues by using enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) method. The test showed that positive results in all of urine samples (100%) of slaughter cattle imported from Australia with variation in TBA residues concentrations. The concentration of residual TBA < 2 ppb were detected in 37 samples (61.67%), the residual concentration of TBA 2-4 ppb were detected in 7 samples (7%), and the concentration of residual TBA > 4 ppb were detected in 16 samples (26.67%). Total of 60 urine samples contained TBA residues. The presence of TBA residues with concentration above 4 ppb was 16 samples (26.7%). Positive results in the samples was indicated the Australian cattle contains trenbolone acetate (TBA) residue.Keywords: ELISA, residue, imported slaughter cattle, trenbolone acetate, urine
KESEMPURNAAN KEMATIAN SAPI SETELAH PENYEMBELIHAN DENGAN DAN TANPA PEMINGSANAN BERDASARKAN PARAMETER WAKTU HENTI DARAH MEMANCAR Pisestyani, Herwin; Dannar, Nadhear Nadadyanha; Santoso, Koekoeh; Latif, Hadri
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 3 No. 2 (2015): Juli 2015
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.717 KB) | DOI: 10.29244/avi.3.2.58-63

Abstract

Parameter untuk mengetahui hewan sapi sempurna setelah disembelih yaitu dengan melihat refleks kelopak mata dan atau waktu henti darah memancar. Menurut EFSA (2004) kematian merupakan suatu keadaan yang ditandai dengan respirasi fisiologis dan sirkulasi darah telah berhenti sebagai akibat dari pusat sistem tersebut di batang otak secara permanen kehilangan fungsi karena kekurangan oksigen dan energi. Waktu henti darah memancar merupakan indikasi bahwa jantung sudah tidak dapat memompa darah keluar dari tubuh karena tidak ada lagi asupan oksigen darah dalam jantung, sehingga hewan tersebut dapat dikatakan mati. Tujuan dari penelitian ini untuk menghitung waktu henti darah memancar pada penyembelihan sapi dengan metode pemingsanan dan tanpa pemingsanan yang dipotong di rumah potong hewan ruminansia besar (RPHRB), sehingga diperoleh data rataan waktu hewan mati sempurna. Tiga puluh ekor sapi Brahman Cross dibagi menjadi 2 kelompok perlakuan yaitu, sebanyak 15 ekor yang disembelih dengan pemingsanan (kelompok 1) dan sebanyak 15 ekor yang disembelih tanpa pemingsanan (kelompok 2). Waktu henti darah memancar dihitung sesaat setelah hewan disembelih sampai darah berhenti memancar. Hasil dari penelitian diperoleh rataan waktu henti darah memancar pada sapi yang dipingsankan sebelum disembelih adalah sebesar 3,02 menit dan rataan waktu henti darah memancar pada sapi yang disembelih tanpa pemingsanan adalah sebesar 2,13 menit. Selang waktu henti darah memancar antara sapi yang dipingsankan dengan sapi yang tidak dipingsankan sebelum disembelih adalah 53,4 detik. Waktu henti darah memancar dipengaruhi oleh perlakuan hewan sebelum pemotongan, yaitu dengan atau tanpa pemingsanan.Kata kunci: Pemingsanan, sapi, tanpa pemingsanan, waktu henti darah (The Perfect Cow Died after Slaughtered by Stunning and Non Stunning Methods According to Gushing Blood Downtime)Palpebra reflex and gushing blood downtime can be used as parameters to see animals death after slaughtered. Stop bleeding time was an indication that the heart is unable to pump blood out of the body due to no more oxygen in the blood of the heart, so that the cattle can be said has been dead perfectly. The aims of this study was to calculate the stop bleeding time of cattle slaughtered by stunning and non stunning methods, thus obtained the avaraging data of perfectly death time of animals. Thirty catlles?s Brahman Cross divided into two treatment groups, firstly 15 cattle?s were slaughtered by stunning method (group 1) and the second one 15 cattle?s were slaughtered by non stunning method (group 2). Blood gushing downtime was calculated immediately after the animal is slaughtered until the blood stops radiating. The results showed the average blood gushing downtime in cattles that were stunning before slaughtered is 3.02 minutes and the average time to stop blood gushing in cattles of non stunning group is 2.13 minutes. The interval blood gushing downtime between the cattles slaughtered by stunning and non stunning was 53.4 seconds. Blood gushing downtime was affected by the treatment of animals before they were slaughtered.Keywords: cattle, gushing blood downtime, non stunning, stunning.
KARAKTERISTIK, PENGETAHUAN, SIKAP DAN PRAKTIK PETUGAS KARANTINA HEWAN DALAM PENGENDALIAN BRUSELOSIS DI SULAWESI SELATAN Sumitro, .; Latif, Hadri; Sudarnika, Etih
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 2 No. 2 (2014): Juli 2014
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (569.429 KB) | DOI: 10.29244/avi.2.2.62-69

Abstract

Praktik atau perilaku petugas karantina hewan dalam pengendalian bruselosis dipengaruhi oleh faktor internal berupa karakteristik individu yang bersifat khas dan dipengaruhi oleh faktor eksternal berupa lingkungan, sosial dan budaya. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi karakteristik individu petugas karantina hewan dan menganalisis pola hubungan karakteristik, pengetahuan, dansikap terhadap praktik petugas karantina hewan dalam pengendalian bruselosis di Sulawesi Selatan. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional study. Metode pengumpulan data melalui wawancara dan pengamatan terhadap 51 orang petugas karantina hewan di dua Unit Pelaksana Teknis Badan Karantina Pertanian di Sulawesi Selatan. Pengumpulan data menggunakan kuisioner terstruktur, dan dianalisis menggunakan path analysis. Hasil studi menunjukkan bahwa karakteristik petugas karantina hewan sebagian besar berusia antara 30-45 tahun, telah bekerja sebagai PNS maupun bekerja di tempat yang sekarang kurang dari lima tahun, pendidikannya SMA/sederajat. Tidak semua petugas karantina hewan adalah pejabat fungsional dan mayoritas belum pernah mengikuti pelatihan terkait bruselosis. Terdapat hubungan yang nyata antara pendidikan dan pengetahuan, pengetahuan dan sikap, serta sikap dan praktik. Pendidikan formal berperan penting dalam terbentuknya pengetahuan, sikap, dan praktik petugas karantina hewan dalam pengendalian bruselosis. Sehingga upaya peningkatan pendidikan formal pada petugas karantina hewan perlu dilakukan.
INDIRECT ENZYME LINKED IMMUNOSORBENT ASSAY SEBAGAI METODE UNTUK MELACAK BRUSELOSIS PADA SAPI PERAH (INDIRECT ENZYME IMMUNOSORBENT ASSAY (I-ELISA) AS METHOD FOR DETECT BRUCELLOSIS IN DAIRY COW) Ghurafa, Rinaldi; Lukman, Denny Widaya; Latif, Hadri
Jurnal Veteriner Vol 20 No 1 (2019)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (117.425 KB) | DOI: 10.19087/jveteriner.2019.20.1.30

Abstract

Brucellosis has become a zoonotic disease that received attention in efforts to prevent and eradicate strategic infectious animal diseases in Indonesia. Brucellosis can be detected early by the rose bengal test (RBT), followed by complement fixation test (CFT) and by enzyme linked immunosorbent assay (ELISA). The aims of this research was to study the indirect enzyme linked immunosorbent assay test (I-ELISA) as an alternative test for detecting brucellosis in dairy cattle. The method was used by conducting tests of RBT, CFT, I-ELISA and commercial I-ELISA to test brucellosis. The test results were calculated sensitivity and specificity, as well as analyzed by calculating the kappa value. The method was used by conducting tests of RBT, CFT, I-ELISA and commercial I-ELISA to test brucellosis. The test results were calculated for sensitivity and specificity, as well as analyzed by calculating the Kappa statistical value. The results of the sensitivity and specificity calculation showed that the indirect enzyme linked immunosorbent assay (I-ELISA) test developed a higher sensitivity (100%) compared to RBT test (93.75%) and commercial I-ELISA (93.75%). The developed I-ELISA specificity (74.68%) was still lower than RBT (89.87%), but higher than commercial I-ELISA (70.52%). The calculation of the statistical value of kappa RBT with CFT showed the kappa value 0.7120 which meaned it had a good agreement, commercial I-ELISA with CFT showed kappa value 0.6165 which meaned it had good suitability, whereas I-ELISA developed with CFT showed kappa value 0.4984 which meaned having a moderate agreement.In conclusion, the indirect enzyme linked immunosorbent assay (I-ELISA) which had been developed had low specificity, but the sensitivity was the highest compared to the commercial I-ELISA test and RBT, so this test was appropriate to be used as a screening test, especially in dairy cows movement into brucellosis-free areas or regions.
RESISTENSI ANTIBIOTIK TERHADAP BAKTERI ESCHERICHIA COLI YANG DIISOLASI DARI PETERNAKAN AYAM PEDAGING DI KABUPATEN SUBANG, JAWA BARAT (ANTIBIOTIC RESISTANCE TO ESCHERICHIA. COLI ISOLATED FROM BROILER FARMS IN SUBANG DISTRICT, WEST JAVA PROVINCE) Niasono, Aji Barbora; Latif, Hadri; Purnawarman, Trioso
Jurnal Veteriner Vol 20 No 2 (2019)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (72.825 KB) | DOI: 10.19087/jveteriner.2019.20.2.187

Abstract

Antibiotic resistance in avian bacterial pathogens is a common problem in the Indonesia poultry industry. The present study aimed to provide information on the present status of antibiotic resistance in Escherichia coli (E. coli) from a broiler farm environment. The research method uses a cross sectional study with a stratified random sampling pattern. E. coli was collected from litter using boot swab method at the broiler house farms in Subang District. E. coli isolates (n = 74) were obtained from 74 samples of boot swabs. The sample was isolated and identified morphologically and biochemically using the IMVIC test to obtain E. coli isolates. The test was followed by a sensitivity test for nine antibiotics, namely tetracycline, sulfamethoxazole, trimethoprim, ampicillin, nalidixic acid, ciprofloxacin, enrofloxacin, gentamicin and chloramphenicol by using the agar dilution method. The interpretation of the results of this sensitivity test refers to the Clinical and Laboratory Standards Institute CLSI VET01S (2015) and CLSI M100 (2018). Measurement of the level of knowledge is done using a structured questionnaire that has been tested for validity and reliability. E. coli was isolated from 74 samples of boot swab. 93.2% of E. coli samples were found to be MDR with the highest prevalence in four types of antibiotics at 40.5%. The most common resistances observed were against tetracycline 97.3%, sulfamethoxazole 87.8%, trimethoprim 74.3%, ampicillin 68.9%, nalidixic acid 64.8%, ciprofloxacin 45.9%, enrofloxacin 40.5%, gentamicin 28.4% and chloramphenicol 10.8%. The findings of this study revealed the high level of antibiotic resistance in broiler environment is worrisome and have negative implications for human and animal health.
ANCAMAN TERHADAP MASUKNYA VIRUS PENYAKIT MULUT DAN KUKU MELALUI DAGING ILEGAL DI PERBATASAN DARAT INDONESIA-MALAYSIA Silitonga, Risma Juniarti; Soejoedono, Retno Damayanti; Latif, Hadri; Sudarnika, Etih
Jurnal Sain Veteriner Vol 34, No 2 (2016): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (818.063 KB) | DOI: 10.22146/jsv.11422

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keberadaan daging ilegal di perbatasan darat Indonesia-Malaysia sebagai ancaman risiko masuknya virus PMK ke wilayah Indonesia. Data primer diambil menggunakan teknik pengumpulan pendapat pakar dengan kuisioner, wawancara mendalam (in-depth interview) dan pengamatan langsung di lapang. Data sekunder diperoleh dari publikasi ilmiah dan tulisan atau data yang tidak dipublikasi (statistik, dokumen dan laporan dari instansi berwenang). Penentuan responden secara purposive sampling. Hasil studi menunjukkan bahwa daging ilegal diperkirakan berasal dari berbagai negara termasuk dari negara/zona yang berstatus endemis PMK seperti Semenanjung Malaysia, Thailand, India dan negara/zona yang dinyatakan tidak diketahui oleh responden. Jenis daging ilegal yang masuk ke Entikong berisiko sebagai sumber infeksi PMK seperti daging beku bertulang tanpa limfoglandula dan jeroan beku tanpa limfoglandula. Berdasarkan jalur dan frekuensi pengangkutan, perkiraan volume pemasukan daging ilegal menunjukkan kemungkinan daging masih bisa lolos melalui jalur non-kendaraan. Kondisi-kondisi tersebut mengindikasikan bahwa pemasukan daging ilegal dapat sebagai ancaman risiko masuknya virus PMK ke Indonesia khususnya di perbatasan darat Indonesia-Malaysia, Entikong. Perlu dilakukan upaya pencegahan untuk mengurangi ancaman risiko yaitu dengan melakukan pengawasan yang lebih ketat di pintu-pintu pemasukan dengan koordinasi lintas instansi di perbatasan untuk bersama-sama mencegah pemasukan daging ilegal.
POLA RESISTENSI ANTIBIOTIK PADA ESCHERICHIA COLI PENGHASIL ESBL DARI SAMPEL LINGKUNGAN DI RPH-R KOTA BOGOR Normaliska, Ratna; Sudarwanto, Mirnawati Bachrum; Latif, Hadri
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 7 No. 2 (2019): Juli 2019
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (17.18 KB) | DOI: 10.29244/avi.7.2.42-48

Abstract

Extended spectrum ?-lactamase (ESBL) adalah enzim yang dapat menghidrolisis berbagai jenis antibiotik ?-laktam termasuk generasi ketiga sefalosporin spektrum luas dan monobaktam. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat kepekaan dan resistensi Escherichia coli penghasil ESBL terhadap beberapa antibiotik. Isolat Escherichia coli penghasil ESBL (n=10) diisolasi dari total 80 sampel lingkungan di RPH-R Kota Bogor, sebelum proses produksi, menggunakan metode difusi cakram pada media Mueller Hinton Agar (MHA) dan interpretasi hasil mengacu pada Clinical and Laboratory Standards Institute (CLSI). Hasil pengujian resistensi antibiotik menunjukkan isolat resisten terhadap penisilin 100%, amoksisilin 100%, streptomisin 70%, trimetoprim-sulfametoksasol 60%, dan tetrasiklin 30%. Bakteri E. coli penghasil ESBL di lingkungan RPHR Kota Bogor telah mengalami resistensi terhadap antibiotik dan berpotensi menyebarkan gen resisten tersebut ke bakteri lain. Hasil ini dapat menimbulkan risiko pada kesehatan masyarakat, oleh karena itu diperlukan evaluasi dan pengendalian lebih lanjut.
PENERAPAN METODE PENCUCIAN DENGAN AIR MENGALIR UNTUK MENURUNKAN KADAR NITRIT PADA SARANG BURUNG WALET (APPLICATION OF WASHING METHOD UNDER RUNNING WATER TO REDUCE NITRIT LEVEL OF EDIBLE BIRD’S NEST) Susilo, Heru; Latif, Hadri; Ridwan, Yusuf
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 10, No 2 (2016): J. Ked. Hewan
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.686 KB) | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v10i2.5021

Abstract

This study was aimed to determine the influence of the washing method under running water on nitrite levels of edible bird?s nest (EBN). Total of 40 samples of EBN were divided into four groups with different washing frequency, control group without washing treatmet (P0), once, twice, and three times washing treatment (P1, P2, and P3) respectively. Each washing was performed for 30 seconds under running water. Nitrite levels assessment was carried out by spectrophotometry at 540 nm of wavelength. The results showed that the average nitrite levels of EBN in P0, P1, P2, and P3 were 93.12±4.40 ppm, 65.24±3.38 ppm, 63.60±3.81 ppm, and 30.87±2.11 ppm, respectively. The nitrit level in edible bird?s nest decreased significantly (P 0.05) by using three times washing.
DEKONTAMINASI BAKTERI ESCHERICHIA COLI DAN STAPHYLOCOCCUS AUREUS PADA SARANG BURUNG WALET DENGAN PERLAKUAN PEMANASAN (DECONTAMINATION OF ESCHERICHIA COLI AND STAPHYLOCOCCUS AUREUS IN EDIBLE BIRD´S NEST USING HEAT TREATMENT) Saimah, Saimah; B. Sudarwanto, Mirnawati; Latif, Hadri
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 10, No 2 (2016): J. Ked. Hewan
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (192.857 KB) | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v10i2.5045

Abstract

This research was aimed to examine the heating effect at 70? C for 3.5 seconds on Escherichia coli (E. coli) and Staphylococcus aureus (S. aureus) decontamination in edible bird´s nest. This study used 40 clean edible bird´s nest samples. Samples were divided into two groups, first group was contaminated with E. coli and second group was contaminated with S. aureus. Each group was divided into two treatments. The first treatment was directly tested for microbiological examination and the second treatment was heating at temperature 70? C for 3.5 seconds prior to microbiological examination. The results showed that both of bacteria E. coli and S. aureus had been destroyed by heating treatment. Heating process at 70? C for 3.5 seconds was effective for decontamination of both E.coli and S.aureus.
INTERVENSI BERBASIS PARTISIPASI MASYARAKAT UNTUK PENINGKATAN PENGETAHUAN DAN SIKAP KADER KESEHATAN DALAM PENGENDALIAN RABIES DI KABUPATEN SUKABUMI Hidayati, Fitri; Sudarnika, Etih; Latif, Hadri
Jurnal Penyuluhan Vol. 15 No. 1 (2019): Jurnal Penyuluhan
Publisher : Department of Communication and Community Development Sciences and PAPPI (Perhimpunan Ahli Penyuluh Pertanian Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (378.605 KB) | DOI: 10.25015/15201920979

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat pengetahuan dan sikap kader posyandu sebelum dan setelah intervensi. Penelitian ini juga membandingkan perbedaan metode ceramah dan buzz grup dalam meningkatkan pengetahuan dan sikap kader. Penelitian ini menggunakan rancangan quasi eksperimen dengan pre-test and post-test design. Sampel terdiri dari 87 kader posyandu dari 4 desa terpilih di Kecamatan Jampang Tengah. Penelitian dilaksanakan dengan mengintervensi 43 kader menggunakan metode ceramah dan mengintervensi 44 kader menggunakan metode buzz. Kedua metode tersebut dilengkapileaflet, poster dan banneruntuk setiap desa. Data dianalisis dengan menggunakan uji sign dan U Mann Whitney. Penelitian ini menunjukkan bahwa ada perbedaan yang nyata antara tingkat pengetahuan dan sikap kader posyandu sebelum dan sesudah intervensi menggunakan metode ceramah (p=0,000 pengetahuan, p=0,000 sikap). Hasil intervensi menggunakan metode buzz menunjukkan perbedaan yang nyata pada tingkat pengetahuan (p=0,003), tetapi tidak ada perbedaan yang nyata pada tingkat sikap (p=0,096). Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa metode ceramah dan buzz tidak berbeda nyata dalam meningkatkan pengetahuan dan sikap kader posyandu (P>0,05). Penelitian ini membuktikan bahwa KASIRA mampu meningkatkan pengetahuan kader posyandu.Kata Kunci: Intervensi, kader posyandu, metode ceramah dan buzz, pengetahuan dan sikap, rabies