Sri Budi Lestari
Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Diponegoro

Published : 36 Documents
Articles

Found 36 Documents
Search

Memahami Penerimaan Pembaca Fashion Blog Hijabers (Pengguna Hijab Modern) Terhadap Pergeseran Makna Penggunaan Hijab (Analisis Resepsi Terhadap Blog Dian Pelangi) Aini, Qury; Rahardjo, Turnomo; Lestari, Sri Budi
Interaksi Online Vol 1, No 4: Oktober 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (536.633 KB)

Abstract

Nama : Qury AiniNIM : D2C009124Judul : Memahami Penerimaan Pembaca Fashion Blog Hijabers (Pengguna Hijab Modern) Terhadap Pergeseran Makna Penggunaan Hijab(Analisis Resepsi Terhadap Blog Dian Pelangi)ABSTRAKPerkembangan tren fashion busana muslim yang semakin melesat di Indonesia menjadi pusat perhatian masyarakat hingga ke mancanegara. Hal itulah yang akhirnya membuat banyak wanita muslimah berani menggunakan hijab dan banyak bermunculan komunitas hijabers (pengguna hijab modern), dengan menampilkan konstruksi wanita berhijab yang dulunya tradisional menjadi modern. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pergeseran makna penggunaan hijab yang dikonstruksikan melalui fashion blog Dian Pelangi, dan memahami penerimaan pembaca fashion blog Dian Pelangi terhadap pergeseran makna penggunaan hijab. Teori yang digunakan Fashion as Communication (Malcolm Barnard, 2002) serta Masyarakat Pascamodern dan Budaya Konsumsi (Jean Baudrillard dalam Yasraf Amir, 1998). Tipe penelitian ini analisis resepsi Stuart Hall. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan indepth interview kepada enam informan yang telah dipilih oleh peneliti, yakni pembaca blog wanita yang aktif atau pernah aktif membaca blog Dian Pelangi.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembaca fashion blog Dian Pelangi dapat melihat pergeseran makna penggunaan hijab yang dikonstruksikan Dian Pelangi melalui blognya tersebut. Pergeseran makna penggunaan hijab yang diuraikan yakni, busana muslim yang dikenakan menjadi sangat fashionable, atribut fashion berupa barang-barang branded yang dikenakan Dian Pelangi, serta model hijab dengan selera fashion yang high classdalam blognya menunjukkan bahwa kini wanita berhijab mencerminkan sebagai sekelompok orang dengan status sosial menengah ke atas. Banyaknya variasi model busana muslim yang membuat penampilan wanita muslimah tidak lagi membosankan juga membuat hijab diterima di semua ranah lingkungan. Pergeseran ini terjadi karena adanya perkembangan tren fashion yang selalu berputar sepanjang waktu. Kemudian penerimaan pembaca terhadap pergeseran makna penggunaan hijab sendiri dapat dilihat dari penampilan hijab yang mereka gunakan, dimana mereka harus mengikuti perkembangan zaman demi menunjang kepercayaan diri dalam pergaulan. Sehingga membuat mereka harus menggunakan hijab yang fashionable. Mereka sesekali juga mengakui jika pernah berpenampilan seperti Dian Pelangi. Penelitian ini menunjukkan bahwa pembaca menerima kegunaan hijab sebagai sebuah gaya hidup yang mencerminkan identitas dan status sosial kelas sebagai sekelompok orang sosialita sesuai dengan tren fashion yang sedang berkembang.Kata kunci : Penerimaan pembaca, hijabers, fashionableName : Qury AiniNIM : D2C009124Title : Understanding The Readers Acceptance of Hijabers (Modern Veil Users) Fashion Blogto Shift The Meaning of The Veil Use(Reception Analysis to Dian PelangiBlog)ABSTRACTThe growth of Moslem fashion trend are increasingly darted in Indonesia to be the center of attention tillforeign country. That is what ultimately makes a lot of Moslem women use the veil bravely and many communities called hijabers (modern veil users) are springing up, with construction the women features which used traditional veil became modern. The purpose of this research is to find out the shifting meanings of the veil use and understand the readers acceptance on it that are constructed on Dian Pelangi fashion blog. Theories used are Fashion as Communication (Malcolm Barnard, 2002) also Pascamodern Community and Consumption Cultural (Jean Baudrillard in Yasraf Amir, 1998). This type of research is Stuart Hall reception analysis. Data collection technique is done by using indepth interview with six informants who were selected by the researcher, they are active women readers or have actively read Dian Pelangi blog.The results of this study showed that Dian Pelangi fashion blog readers saw a shift meaning of the veil use which constructed in Dian Pelangi blog. Those are veil worn to be very fashionable, fashion attributes such as branded goods imposed DianPelangi, and the veil models with high class fashion sense in her blog shows that veil user now reflect the veil as a group of people with status middle to upper social. The great variation in Moslem fashion model who made her appearance is no longer boring, veil is also made welcome in all aspects of the environment. This shift is due to the development of the fashion trends are always spinning all the time. Then acceptance of the shifting meanings readers use their own veil can be seen from the appearance of veil that they use, where they must keep abreast of the times in order to support confidence in the association. Thus making them have to use a fashionable veil. Occasionally they also recognize if it ever look like Dian Pelangi. This study shows that the readers accept use of the veil as a lifestyle of the socialite class social status and identity in accordance with emerging fashion trends.Keywords : Readers acceptance, hijabers, fashionable.Memahami Penerimaan Pembaca Fashion Blog Hijabers (Pengguna Hijab Modern) Terhadap Pergeseran Makna Penggunaan Hijab(Analisis Resepsi Terhadap Blog Dian Pelangi)SkripsiPENDAHULUANBerbusana merupakan hal yang tidak akan pernah lepas dari perhatian setiap individu, karena hal ini bisa menjadi penilaian tersendiri dari orang lain terhadap karakter masing-masing individu tersebut. Biasanya orang akan memilih busana yang sedang populer pada jangka waktu tertentu, hal tersebut biasanya kita kenal dengan istilah fashion. Fashion membuat setiap individu dapat mengekspresikan apa yang sedang dirasakan melalui pilihan warna yang digunakan, corak ataupun model yang digunakan, karena fashion dipandang memiliki suatu fungsi komunikatif. Busana, pakaian, kostum, dan dandanan adalah bentuk komunikasi artifaktual (artifactual communication) yaitu komunikasi yang berlangsung melalui pakaian dan penataan berbagai artefak, misalnya pakaian, dandanan, barang perhiasan, kancing baju, atau furnitur di rumah anda serta penataannya, ataupun dekorasi ruang. Karena fashion, pakaian atau busana menyampaikan pesan-pesan non verbal, ia termasuk komunikasi non verbal (Idi Subandy, 2007 : vii).Berbicara tentang fashion, akhir-akhir ini sedang maraknya fashion di kalangan muslimah. Busana muslim yang dulunya dianggap sebagai busana yang islami, menggambarkan kesan tradisional, monoton, ketinggalan zaman, kuno, dan sebagainya, berbeda cerita dengan sekarang yang sudah menjadi tren di masyarakat. Hal tersebut nampaknya semakin dikonstruksikan melalui munculnya hijabers community yaitu komunitas yang terdiri dari sekelompok remaja maupun dewasa yang memakai hijab dengan gaya terkini. Komunitas tersebut awalnyatercetus dari seorang designer muda cantik yaitu Dian Pelangi yang merancang busana-busana trendy khususnya busana muslim dengan tujuan menginspirasi wanita muslimah untuk mengenakan busana muslim. Sejak kemunculan dirinya lah, eksistensi muslimah semakin meningkat. Sesuai dengan nama belakangnya “Pelangi” pilihan warna yang digunakan pada rancangan busananya memang menunjukkan image yang unik, colourful, ceria, energik, muda, dan stylish (baca:pandai memadupadankan gaya). Konsep yang dipakainya adalah tie dye, dan mix and match berbagai warna yang kontras layaknya warna pelangi.Melalui blognya yang diberi nama The Merchant Daughter dalam www.dianrainbow.blogspot.com, Dian Pelangi mengekspresikan segala sesuatu tentang gaya fashion-nya dengan konsistensi konsep dirinya yaitu rainbow. Gaya fashion yang ia terapkan tersebut mampu menarik perhatian masyarakat Indonesia serta mampu menginspirasi banyak orang dalam hal fashion, terutama bagi wanita muslimah. Hal itu terbukti dari beberapa wanita muslimah yang awalnya tidak menggunakan hijab menjadi menggunakan hijab setelah diterpa komunikasi Dian Pelangi melalui blognya. Selain foto-foto dirinya, Dian Pelangi juga meng-upload tutorial penggunaan hijab khas dirinya melalui Youtube yang di-link-an ke blognya itu dan beberapa media sosial lain miliknya seperti Twitter, Facebook, Instagram, dan lain-lain sehingga masyarakat dapat dengan mudah mempelajari bagaimana jika menjadi seperti seorang Dian Pelangi.Hadirnya Dian Pelangi di tengah dunia fashion seolah-olah melawan persepsi masyarakat tentang muslimah berjilbab yang selama ini dilihat sebagai sosok yang kuno, tidak energik, tertutup, dan sebagainya. Namun, kehadirannyatersebut juga mengubah gaya hidup wanita muslimah Indonesia yang dulu hanya beberapa orang saja menggunakan jilbab atau busana muslim, kini semakin banyak wanita yang berani memutuskan untuk menutupi auratnya entah itu hanya sebagai popularisme budaya atau memang sudah sesuai dengan syariat Islam.Fashion juga dapat mencerminkan status sosial dari si pemakai. Dian Pelangi dengan gaya fashion-nya hadir dengan menampilkan gaya terkini yang termasuk high fashioned (baca:fashion dengan selera yang tinggi) sehingga terlihat sebagai seseorang yang eksklusif dan dinilai memiliki status sosial yang bonafit atau „mahal‟ serta dinilai sebagai individu yang tidak ketinggalan zaman dalam lingkungan pergaulannya. Seperti yang dikatakan oleh Thomas Carlyle, pakaian menjadi “pelambang jiwa” (emblems of the soul). Pakaian dapat menunjukkan siapa pemakainya. Dalam kata-kata dari Eco, “I speak through my cloth” (Aku berbicara lewat pakaianku) (Barnard, 2002 : vi).Melalui blognya, Dian Pelangi mencoba menarik perhatian wanita muslimah untuk menutup aurat atau menggunakan hijab akan tetapi nampaknya juga tidak sedikit khalayak yang memiliki penilaian negatif terhadap cara komunikasi Dian Pelangi yang dicerminkan melalui gaya fashion-nya tersebut. Oleh karena itu, melalui penelitian ini peneliti akan melihat apa yang ditampilkan dalam fashion blog Dian Pelangi dan konstruksi wanita berhijab yang ditampilkan serta mengamati atribut fashion yang dipakai. Kemudian melihat penerimaan masyarakat terhadap adanya pergeseran makna dalam penggunaan hijab oleh muslimah saat ini.ISIMunculnya banyak hijabers di Indonesia saat ini menjadikan Indonesia sebagai trendsetter busana muslimah di dunia. Ditambah lagi hadirnya designer muda Indonesia dengan koleksi-koleksi rancangan mereka yang juga sudah mulai mendunia. Melalui koleksi fashion mereka yang semakin beragam itulah membuat banyak orang tertarik untuk menggunakan hijab. salah satu ikon hijabers yang paling banyak menyita perhatian adalah Dian Pelangi. Dirinya terus mempromosikan fashion busana muslim sehingga hijab bisa go international. Melalui blognya, Dian Pelangi terus mengembangkan kreativitasnya untuk menjadikan hijab sebagai sesuatu yang modern sehingga tidak ada lagi yang memandang wanita berhijab sebelah mata.Blog dan jejaring sosial merupakan media sosial yang paling umum digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia dan memiliki power yang luar biasa untuk meneruskan informasi dari pengguna satu ke pengguna lainnya. Untuk perihal kegiatan seputar fashion nampaknya blog menjadi media yang tepat untuk menumpahkan segala sesuatu entah dalam bentuk tertulis atau sekedar gambar-gambar yang menampilkan hal-hal yang disukai. Melalui blog itulah audiens dapat mengetahui semua item fashion yang biasa dikenakan para fashion blogger karena di setiap mereka mengunduh gambar, akan disertai dengan deskripsi dari masing-masing item fashion-nya dan semua item tersebut merupakan item yang bermerek sehingga mereka menjadi sorotan masyarakat terutama Dian Pelangi yang juga merupakan designer dari busana-busana muslimah yang ia kenakan sendiri.Dengan adanya konstruksi wanita muslimah yang digambarkan melalui blog Dian Pelangi memunculkan adanya pergeseran makna penggunaan hijab. Pergeseran makna tersebut bisa dilihat dari banyaknya masyarakat yang tertarik menggunakan hijab karena gaya fashion hijab yang beragam dan fashionable. Selain itu, hijab saat ini merupakan pakaian yang fleksibel karena model hijab yang beragam dan diterimanya hijab sebagai sebuah gaya hidup yang mengikuti tren perkembangan fashion. Gaya hidup merupaka refleksi identitas seseorang, dimana identitas tersebut untuk melihat separti apa orang tersebut serta bagaimana orang tersebut. Oleh karena itu, gaya hidup sering dihubungkan dengan kelas sosial ekonomi dan menunjukkan citra seseorang. Gaya hidup orang ditunjukkan dalam variasi keputusan cita rasanya: mobil yang dikendarainya, majalah yang dibacanya, tempat mereka tinggal, bentuk rumahnya, makanan yang disantapnya dan restoran yang sering dikunjunginya, tempat hiburannya, merek-merek baju, jam tangan, sepatu, dan lain-lain yang sering dipilihnya, dan sebagainya.Dian Pelangi melalui blognya, menggambarkan sebagai sosok individu dengan gaya hidup yang konsumtif terhadap fashion. Apa yang ia kenakan untuk mendukung penampilannya menciptakan makna tersendiri bagi pembacanya. Terdapat dua pokok penting yang ditekankan dalam gaya yang ditampilkan individu yaitu sebagai simbol perlawanan terhadap apa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari dan sebagai cara agar diterima di kelompoknya. Individu berusaha mengidentifikasi diri mereka dan berkumpul bersama orang-orang yang memiliki kesamaan, sehingga identitasnya menjadi bagian dari identitas kelompok (Steele, 2005: 39). Dalam hal ini, Dian Pelangi menciptakan komunitas penggunahijab modern (hijabers) di Indonesia yang sampai saat ini terus berkembang hampir di seluruh wilayah Indonesia. Hal tersebut menunjukkan bahwa penggunaan hijab modern sudah diterima di masyarakat. Itulah yang membuat beberapa informan memilih untuk juga bergabung dengan komunitas hijabers, dimana komunitas tersebut berisi sekelompok muslimah pengguna hijab modern yang memiliki identitas sebagai kelompok pengguna hijab sosialita karena atribut fashion yang digunakan branded dan eksklusif. Bukan hanya pakaian atau hijab yang menunjukkan identitas mereka sebagai muslimah sosialita, melainkan juga aksesoris yang digunakan, gadget, ataupun kebiasaan mereka seperti mengadakan perkumpulan di mall, dan sebagainya.Dalam penelitian analisis resepsi penerimaan pembaca fashion blog hijabers terhadap pergeseran makna penggunaan hijab dalam blog Dian Pelangi ini, teori yang tepat digunakan adalah analisis resepsi Stuart Hall. Dimana analisis resepsi menyampaikan bahwa teks dan penerimanya adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan, khalayak memaknai dan menginterpretasi sebuah teks berdasarkan latar belakang sosial dan budaya serta pengalaman mereka masing-masing. Analisis resepsi memfokuskan pada perhatian individu dalam proses komunikasi massa (decoding), yaitu pada proses pemaknaan dan pemahaman yang mendalam atas teks media, dan bagaimana individu menginterpretasikan isi media. Hal tersebut bisa diartikan bahwa individu secara aktif menginterpretasikan teks media dengan cara memberikan makna atas pemahaman pengalamannya sesuai apa yang dilihatnya dalam kehidupan sehari-hari.Hall menjelaskan model encoding/decoding sebagai pendekatan yang melihat pembaca sebagai korban, dan pembaca sebagai pemilik hak. Ia mengungkapkan bahwa teks media memiliki arti yang spesifik yang dikodekan ulang namun penerimaan pembaca ditentukan dari bagaimana mereka membaca teks media tersebut. Pesan yang telah dikirimkan akan menimbulkan berbagai macam efek kepada audiens. Sebuah pesan dapat membuat pembaca merasa terpengaruh, terhibur, terbujuk, dengan konsekuensi persepsi, kognitif, emosi, ideologi, dan perilaku yang sangat kompleks. Hall mengidentifikasi tiga kategorisasi audiens yang telah mengalami proses encode/decode sebuah pesan, yaitu dominant reading, negotiated reading, dan oppositional reading (Hall dalam Baran, 2003: 15-16).Khalayak yang menjadi informan dalam penelitian ini merupakan khalayak yang aktif atau pernah aktif membaca fashion blog Dian Pelangi. Keenam informan memiliki tingkat pendidikan, lingkungan sosial, serta pengalaman yang berbeda. Dalam wawancara, informan menyampaikan interpretasi mereka masing-masing terkait dengan pemaknaan terhadap blog Dian Pelangi serta penerimaan terhadap adanya pergeseran makna penggunaan hijab yang dikonstruksikan melalui blog Dian Pelangi. Khlayak yang dalam hal ini penghasil makna, memaknai blog Dian Pelangi secara beragam karena teks yang berbeda dapat menghasilkan pemaknaan yang berbeda pula.Dari hasil penelitian dan wawancara dapat disimpulkan sebagai berikut :1. Berdasarkan pemaknaan keenam informan, pergeseran makna penggunaan hijab yang dikonstruksikan dalam fashion blog Dian Pelangi dapat dilihatpada setiap penampilan Dian Pelangi yang menjadikan hijab sebagai sebuah gaya hidup. Selain itu, atribut fashion berupa barang-barang branded yang dikenakan Dian Pelangi, serta model hijab dengan selera fashion yang high class dalam blognya menunjukkan bahwa kini wanita berhijab mencerminkan identitas dan status sosial sebagai sekelompok orang sosialita. Banyaknya variasi model hijab yang fashionable membuat penampilan wanita muslimah tidak lagi membosankan juga membuat hijab diterima di semua ranah lingkungan. Pergeseran ini terjadi karena adanya perkembangan tren fashion yang selalu berputar sepanjang waktu. Hal itulah yang membuat hijab tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang tradisional dan konvensional. Sehingga membuat semakin banyak orang menggunakan hijab.2. Hasil penelitian ini menunjukkan lima informan berada pada posisi dominan. Mereka menerima adanya pergeseran makna penggunaan hijab, yang dapat dilihat dari penampilan hijab yang mereka gunakan, dimana mereka harus mengikuti perkembangan zaman untuk menunjang kepercayaan diri dalam pergaulan. Sehingga membuat mereka harus menggunakan hijab yang sesuai tren fashion. Mereka sesekali juga mengakui jika pernah berpenampilan seperti Dian Pelangi, dan mendukung jika ada yang berpenampilan seperti yang dikonstruksikan Dian Pelangi.3. Sementara satu informan berada pada posisi oposisi. Dirinya tidak melihat adanya pergeseran makna penggunaan hijab, karena benar atau tidaknya penggunaan hijab tergantung pada tujuan awal masing-masing individu untuk menggunakan hijab tersebut, bukan berdasarkan pengaruh dari luar dirimereka seperti perkembangan fashion busana muslim atau munculnya Dian Pelangi yang mengkonstruksikan perubahan penggunaan hijab.PENUTUPBerbagai penelitian tentang makna penggunaan hijab, mayoritas menunjukkan bahwa hijab mengalami pergeseran. Dimana seseorang yang menggunakan hijab bukan lagi berpegang kepada nilai guna (use value) dari hijab tersebut, melainkan lebih kepada simbol/nilai tanda (sign value). Simbol tersebut yakni simbol gaya hidup yang menggambarkan identitas orang yang menggunakan hijab sebagai sekelompok orang yang mengikuti perkembangan tren fashion. Tren fashion hijab sendiri, saat ini tidak perlu diragukan. Beragam model hijab yang unik, kreatif, dan modern membuat banyak orang tidak takut lagi menggunakan hijab serta membuat orang yang sudah menggunakan hijab tidak takut lagi dikucilkan dalam pergaulan ataupun lingkungan sosialnya.Pergeseran makna penggunaan hijab sendiri tidak hanya dikarenakan pengaruh kemunculan media sosial khususnya blog hijabers yang mengkonstruksikan perubahan image wanita muslimah menjadi sekelompok orang dengan gaya hidup sosialita. Namun, makna penggunaan hijab juga bisa bergeser karena tuntutan mengikuti perkembangan tren fashion yang terus berputar setiap waktu.DAFTAR PUSTAKAA.Bell, M.Joyce and Rivers. (1999). Advanced Media Studies. Hodder & Stoughton.Allen, Pamela. (2004). Membaca, dan Membaca Lagi : [Re]interpretasi Fiksi Indonesia 1980-1995. Magelang : Indonesia Tera.Baran, Stanley J. (2003). Teori Komunikasi Massa. Jakarta: Salemba Humanika. Barnard, Malcolm. (2002). Fashion as Communication (Second Edition). New York : Routledge Taylor & Francis Group. Barnard, Malcolm. (2006). Fashion Sebagai Komunikasi : Cara Mengkomunikasikan Identitas Sosial, Seksual, Kelas, Dan Gender. Yogyakarta : Jalasutra. Berger, Arthur Asa. (2010). The Objects of Affection: Semiotics and Consumer Culture. USA: Palgrave MacMillan. Blood, Rebecca. (2002). The Weblog Handbook, Basic Books, A Member Of The Perseus Books Group. Croteau, David and William, Hoynes. (2003). Media Society : Industry, Images, and Audience (3rd Ed.). California : Pine Forge Press. Danesi, Marcel. (2009). Pesan, Tanda, dan Makna. Yogyakarta : Jalasutera. Downing, John, Ali Mohammadi, and Annable Sreberny-Mohammadi. (1990). Questioning The Media : A Critical Introduction. California : SAGE Publication. Vina, Hamidah. (2008). Jilbab Gaul (Berjilbab Tapi Telanjang). Jakarta: Al-Ihsan Media Utama. Hoed, Benny H. (2011). Semiotik & Dinamika Sosial Budaya. Jakarta: Komunitas Bambu. Idi Subandy, Ibrahim. (2007). Budaya Populer Sebagai Komunikasi (Dinamika Popscape Dan Mediascape Di Indonesia Kontemporer). Yogyakarta : Jalasutra. Kawamura, Yuniya. (2005). Fashion-ology. An Introduction to Fashion Studies. New York: Berg Oxford. Littlejohn, Stephen W [ed]. (1999). Theories Of Human Communication. London : Wadsworth Publishing Company.Littlejohn, Stephen W., and Karen, A. Foss. (2009). Teori Komunikasi: Theories of Human Communication, Ninth Edition. Jakarta: Salemba Humanika. Littlejohn, Stephen W., and Karen, A. Foss [eds]. (2009). Ensyclopedia Of Communication Theory. California : SAGE Publications, Inc. Lurie, Alison. (1992). The Language Of Clothes. London : Cornell. Leah A. Lievrouw. (2006). The Handbook of New Media Updated Student Edition. London : SAGE Publications, Inc. Manovich, Lev. (2002). „What Is New Media?’ In The language Of New Media. Dalam Hassan, Robert Dan Julian Thomas [eds]. 2006. The New Media Theory Reader. England : Open University Press. McQuail, Denis. (2000). Media Performance; Mass Communication and The Public Interest. London: SAGE Publications. McQuail, Denis. (2011). Teori Komunikasi Massa (Ed.6). Jakarta: Salemba Humanika.Moleong, Lexi J. (2007). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Morreale, Sherwyn, Barge, Wood, Spitzberg & Tracy. (2004). Introduction To Human Communication The Hugh Downs Of Human Communication. USA: Wardsworth. Yasraf Amir, Piliang. (1998). Sebuah Dunia Yang Dilipat: Realitas Kebudayaan Menjelang Millenium Ketiga Dan Matinya Posmodernisme. Bandung : Penerbit Mizan. Jalaludin, Rakhmat. (2007). Psikologi Komunikasi. Bandung: PT. Rosdakarya. Ritzer, George. (2009). Teori Sosial Postmodern. Yogyakarta: Kreasi Wacana. Sassatelli, Roberta. (2007). Consumer Culture: History, Theory, and Politics. London : SAGE Publications. M.Quraish, Shihab. (2004). Jilbab Pakaian Wanita Muslimah. Jakarta: Lentera Hati. Steele, Valeriee. (2005). Encyclopedia of Clothing and Fashion Vol.1&2. USA: Thompson Gale. Strinati, Dominic. (2007). Popular Culture: Pengantar Menuju Teori Budaya Populer. Yogyakarta : Penerbit Jejak.JurnalRatna Dewi, Ayuningtyas. (2011). Menginterpretasikan Fashion Pria Metroseksual Dalam Fashion Blog. Skripsi. Universitas Diponegoro.Dwita, Fajardianie. (2012). Komodifikasi Penggunaan Jilbab Sebagai Gaya Hidup Dalam Majalah Muslimah (Analisis Semiotika Pada Rubrik Mode Majalah Noor). Skripsi. Universitas Indonesia.Hapsari, Sulistyani. (2006). Modul Pelatihan Metode Penelitian Kualitatif. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro.Hari, Sapto. (2009). Memahami Makna Jilbab Dalam Mengkomunikasikan Identitas Muslimah. Skripsi. Universitas Diponegoro.InternetStefanone, M.A., and Jang, C.Y. (2007). Writing For Friends And Family : The Interpersonal Nature Of Blogs. Journal Of Computer-Mediated Communication, 13 (1), article 7. Dalam http://jcmc.indiana.edu/vol13/issue1/stefanone.html. Diunduh pada tanggal 18 Maret 2013 pukul 10.00 WIBPengertian Fashion Menurut Poppy Dharsono. Dalam www.fashionupdatemodeon.blogspot.com/fashion/03.html. Diakses pada tanggal 3 Maret 2012 pukul 18.30 WIBIslam Akan Menjadi Agama Terbesar. (2012). Dalam http://www.dokumenpemudatqn.com/2012/11/islam-akan-menjadi-agama-terbesar-di.html#ixzz2Nxf08BSQ. Diunduh pada tanggal 19 Maret 2013 pukul 14.00 WIBProfil Dian Pelangihttp://tabloidnova.com/DianPelangiAnakBawangYangMenembusDunia.html. Diakses pada 25 Juni 2013 pukul 09.20 WIBMencari Sebuah Identitas Dalam Budaya Pop. Dalam http://parekita.wordpress.com/2013/12/04/55.html. Diakses pada tanggal 19 Agustus 2013 pukul 11.40 WIBKami Bukan Sosialita Berjilbab. Dalam www.hijaberscommunity.blogspot.com/gayahidup/hobi.html. Diakses padatanggal 3 Juli 2013 pukul 18.54 WIBwww.theoppositeofpink.blogspot.com. Diakses Kamis, 4 Juli 2013 pukul 13.30 WIBwww.ayuchairunisa.blogspot.com. Diakses Kamis, 4 Juli 2013 pukul 13.30 WIBwww.dallamudrikah.blogspot.com. Diakses Kamis, 4 Juli 2013 pukul 13.30 WIBhttp://twitter.com/FatinSL. Diakses Senin, 8 Juli 2013 pukul 06.30 WIBwww.amischaheera.blogspot.com. Diakses Senin, 8 Juli 2013 pukul 08.00 WIBwww.fashionesedaily.blogspot.com. Diakses Senin, 8 Juli 2013 pukul 08.51 WIB) Data pengunjung blog Dian Pelangi. Dalam www.dianrainbow.blogspot.com. Diakses pada tanggal 8 Juli 2012 pukul 08.30 WIBFoto-foto Dian Pelangi. Dalam www.dianrainbow.blogspot.com.
HUBUNGAN ANTARA INTENSITAS KOMUNIKASI DENGAN KELOMPOK RUJUKAN, KONSEP DIRI DENGAN KEMAMPUAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN PILIHAN PEKERJAAN. Apriani, Desi; Lestari, Sri Budi; Purbaningrum, Dwi; Naryoso, Agus
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.804 KB)

Abstract

Masa remaja merupakan masa dimana seseorang mengalami perkembangan yang bermakna didalam hidupnya, termasuk dalam mengambil sebuah keputusan. Dalam pengambilan keputusan tersebut diperlukan faktor psikologis untuk mewujudkannya, salah satuya ialah faktor konsep diri. Selain konsep diri, pengambilan keputusan dapat dilakukan karena adanya pertimbangan atau masukan dari kelompok luar seperti keluarga, teman, dan lingkungan sosial dimana tempat ia tinggal. Metode penelitian ini adalah metode kuantitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan kuesioner. Teknik analisis data yang digunakan dalam peneltiian ini adalah menggunakan uji korelasi menggunakan bantuan SPSS versi 17. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa terdapat hubungan antara intensitas komunikasi dengan kelompok rujukan terhadap pengambilan keputusan pilihan pekerjaan dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,21 dan hubungan antara konsep diri dengan pengambilan keputusan pilihan pekerjaan dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,66.
Analisis Bingkai: Objektifikasi Perempuan dalam Buku Sarinah Nugraha, Yudha Setya; Lestari, Sri Budi; Nugroho, Adi; Sunarto, Dr
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (110.579 KB)

Abstract

Munculnya berbagai kasus – kasus seperti pemerkosaan diangkot, kekerasan dalam rumah tangga, hingga larangan menggunakan rok mini di DPR menuding perempuan sebagai penyebabnya. Dalam kasus tersebut, banyak dari pejabat publik memandang perempuan secara diskriminatif. Berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Soekarno diawal kemerdekaan Indonesia. Pada tahun 1947, diterbitkan buku Sarinah yang ditulis oleh presiden pertama Indonesia yaitu Ir. Soekarno. Sebagai pejabat negara, tujuan Soekarno menulis dan menerbitkan buku Sarinah ini untuk memberikan dukungan terhadap perjuangan pergerakan perempuan Indonesia dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Namun terdapat temuan – temuan yang bersifat objektifikasi perempuan berupa penggunaan metafora dewi – tolol sebagai perumpamaan untuk perempuan yang dipundi  - pundikan layaknya seorang dewi, tetapi dianggap tidak penuh layaknya seorang tolol. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan objektifikasi isi penulisan terhadap perempuan oleh Soekarno dalam buku Sarinah beserta ideologi yang dominan di belakangnya.Penelitian ini menggunakan teori kelompok dibungkam sebagai salah satu penerapan dalam pendekatan teori objektifikasi dan feminisme radikal dalam paradigma kritis melalui metode analisis bingkai model William A. Gamson. Subjek penelitian ini adalah tulisan atau teks dalam buku Sarinah ini yang merupakan hasil dari pemikiran atau pandangan dari Soekarno sebagai penulisnya.Berdasarakan temuan penelitian, objektifikasi terkait isi penulisan buku Sarinah berupa dehumanisasi dan stereotipe terhadap perempuan. Dehumanisasi dalam buku Sarinah dimunculkan melalui metafora, leksikon, dan ilustrasi seperti menganggap perempuan sebagai blesteran dewi – tolol, sebagai benda yang harus dimiliki, barang yang harus ada dalam rumah, benda perhiasan rumah tangga, perempuan tidak lebih dari "benda zaliman suaminya", dan "seorang pengurus rumah yang tidak bergaji serta alat pelahirkan anak". Sedangkan stereotipe perempuan yang dimunculkan dalam buku Sarinah berupa penggambaran sosok perempuan sebagai kaum lemah, kaum bodoh, kaum nrimo, perempuan diperintah laki – laki, bunga rumah tangga, sebagai budak, dan "kodrat" perempuan hidup di bawah telapak laki-laki. Ideologi yang melatarbelakangi terjadinya objektifikasi perempuan ini dikarenakan adanya patriarkisme yang mengakar kuat di masyarakat. Terbukti dengan adanya dominasi kaum laki – laki terhadap perempuan berupa dehumanisasi dan stereotipe dalam isi penulisan buku Sarinah. Kata Kunci: Objektifikasi, Dehumanisasi, Stereotipe, Patriakisme
Memahami Komunikasi Ibu yang Berkarier dalam Membentuk Konsep Diri Anak Sebagai Pribadi yang Mandiri Hadi Saputri, Rakasiwi Oktaviana; Lestari, Sri Budi; Naryoso, Agus; Ayun, Primada Qurrota
Interaksi Online Vol 4, No 1: Januari 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (82.475 KB)

Abstract

Latar belakang dilakukannya penelitian ini adalah fenomena ibu yang berkarier membuat anak harus bersikap mandiri dalam melakukan setiap hal dikarenakan kesibukan orangtua, oleh karena itu setiap ibu yang berkarier menginginkan anaknya memiliki konsep diri sebagai pribadi yang mandiri. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan komunikasi antara ibu yang berkarier dalam membentuk konsep diri anak sebagai pribadi yang mandiri. Penelitian ini merujuk pada paradigma interpretif dan teknik analisa data yang digunakan mengacu pada metode fenomenologi. Subyek penelitian ini ialah tiga pasang informan dari keluarga dengan ibu yang berkarier dan memiliki anak berusia 12-14 tahun (Sekolah Menengah Pertama). Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Relationship Development dan Close Relationship. Hasil penelitian menunjukan bahwa jenis pekerjaan yang digeluti oleh ibu yang berkarier berpengaruh pada intensitas pertemuan, frekuensi dan durasi komunikasi antara ibu dan anak. Hal tersebut berpengaruh pada kedekatan antara keduanya sehingga pengembangan hubungan dengan cara komunikasi yang efektif perlu dilakukan. Respon positif dari orangtua membuat anak senang untuk bercerita sehingga keterbukaan dan kedekatan antara keduanya dapat terbentuk. Kedekatan yang tercipta membuat anak merasa bergantung pada orangtua dalam hal pengambilan keputusan mengenai masa depan, yakni mereka lebih mantap untuk memutuskan suatu hal setelah berdiskusi terlebih dahulu dengan orangtua. Komunikasi yang efektif antara ibu dan anak serta sikap orangtua yang konsisten memberlakukan pembagian tugas dirumah disertai dengan pemberian reward dan punishment, akan membuat anak memiliki konsep diri positif. Dua dari tiga informan anak memiliki konsep diri positif dan kemandirian meskipun masih terbatas pada kemandirian emosi dan intelektual, sedangkan informan anak lainnya memiliki konsep diri negatif karena kurangnya intensitas komunikasi antara ibu yang berkarier dengan anaknya serta kemandirian dalam hal intelektual dan sosial
REPRESENTASI PEMBISUAN WANITA DI DALAM RUBRIK OLAHRAGA “SPIRIT” PADA HARIAN UMUM SUARA MERDEKA Utomo, Dimas Herdy; Sunarto, Dr; Nugroho, Adi; Lestari, Sri Budi
Interaksi Online Vol 3, No 1: Januari 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (258.616 KB)

Abstract

Surat kabar merupakan salah satu media massa yang mempunyai kemampuan untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat luas. Artikel berita yang terdapat dalam surat kabar dapat menghasilkan representasi mengenai realitas yang sengaja di konstruksi-kan sesuai dengan kode-kode dan ideology yang dianut surat kabar tersebut. Rubrik olahraga “Spirit” pada harian umum Suara Merdeka adalah sebuah rubrik yang menggambarkan posisi wanita dalam hubungannya dengan dunia olahraga yang cenderung maskulin.Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana pembisuan wanita ter representasikan dari hal-hal yang terungkap dan terdapat dalam teks berita yang ditampilkan. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori Muted group yang dirintis oleh Antropolog Edwin dan Shirley Ardener dan teori representasi dari Stuart Hall. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan analisis semiotika Rolland Barthes untuk meneliti kode-kode yang nampak dalam teks berita.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa wanita dalam dunia olahraga hanya menarik khalayak dari segi fisiknya saja, wanita adalah Secondary Sex, dan budaya patriarki menjadi langgeng dengan stereotipe yang dikemukakan oleh media massa. Kesemua hasil penelitian yang ada dengan jelas telah merepresentasikan pembisuan yang ada dalam diri seorang wanita yang menjadi objek berita. Hal tersebut dapat dilihat dari ke-tujuh berita yang menjadi fokus penelitian. Saran dari penelitian yang dilakukan ini adalah arti penting dari jurnalisme media yang berprespektif gender.Keywords : Surat kabar, Representasi, Semiotika, Wanita
OBJEKTIVIKASI PEREMPUAN DALAM MAJALAH PRIA DEWASA (Analisis Semoiotika Foto pada Majalah For Him Magazine Indonesia) Putri, Annisa Arum; Sunarto, Sunarto; Lestari, Sri Budi
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.491 KB)

Abstract

OBJEKTIVIKASI PEREMPUAN DALAM MAJALAH PRIA DEWASA (Analisis Semoiotika Foto pada Majalah For Him Magazine Indonesia)Annisa Arum Putri1ABSTRAKSIMajalah merupakan media massa yang kini hadir sesuai dengan segmentasi pembacanya. Salah satunya adalah ‘For Him Magazine’ (FHM) Indonesia, yang merupakan majalah dengan segmentasi pembaca pria dewasa. FHM Indonesia pada setiap edisinya menampilkan foto-foto perempuan dengan menonjolkan sisi sensualitasnya. Jika dicermati secara kritis, perempuan dalam majalah ini dijadikan objek. Lantas bagaimana bentuk-bentuk objektivikasi perempuan dalam majalah ini dan apa ideologi yang tersembunyi yang melatarbelakanginya?Penelitian ini bertujuan untuk melihat posisi perempuan sebagai objek dalam majalah FHM Indonesia melalui foto-foto perempuan yang terdapat di dalamnya dan menjelaskan ideologi dominan yang melatarbelakanginya. Teori yang digunakan adalah teori standpoint dan teori feminis radikal kultural. Metode yang digunakaan dalam penelitian ini adalah analisis semiotika Roland Barthes, yaitu dengan analisis leksia dan lima kode pembacaan.Temuan dalam penelitian ini adalah pada majalah FHM Indonesia terdapat dualitas objektivikasi seksual perempuan. Pertama, perempuan dijadikan “objek santapan” atau komodifikasi seksual yakni perempuan dan nilai seksualitasnya dijadikan komoditas yang dijual pada pembaca majalah ini. Kedua, perempuan dijadikan “objek tatapan“ atau objek hasrat seksual laki-laki pembaca majalah ini. Objektivikasi perempuan dalam majalah ini dilatarbelakangi oleh ideologi patriarki, dimana laki-laki memiliki posisi yang lebih berkuasa sehingga dapat melakukan kontrol seksualitas pada perempuan. Praktik objektivikasi perempuan agaknya disadari oleh masyarakat, namun praktik ini masih dianggap alami dan seolah dibiarkan saja.Kata kunci : majalah pria dewasa, objektivikasi, perempuan,1 Penulis merupakan mahasiswi jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoroannisaarumputri@gmail.comOBJECTIFICATION OF WOMEN IN MEN'S MAGAZINES (Semiotic Analysis Photos on the For Him Magazine Indonesia)Annisa Arum PutriABSTRACTMagazine was one of the mass media that present in accordance with the intended audience segmentation. One of them was For Him Magazine (FHM) Indonesia, which was the magazine with the adult male readership segmentation. FHM Indonesia, on each publication, features pictures of women with accentuated their sensuality side. In critically observed, women in this magazine became an object. Hence, what were the manifestations of women objectification in this magazine and what were the hidden dominant ideology that exist in this situation?The purpose of this study was to see the position of women as objects in FHM Indonesia through photographs of women contained in it and explain the background ideology of it. This study used standpoint theory and radical cultural feminist theory. The method in this study was semiotic analysis by Roland Barthes, include the lexias analysis and five major codes.The results of this research was there was duality of sexual objectification of women on FHM magazine Indonesia. First, commodification of women and their sensuality. The women became commodity which was sold on readers. Second, the women became object of sexual desire male readers of this magazine. Objectification of women in the FHM Indonesia distributed by patriarchal ideology, where men had a more powerful position, so they can control women including their sexuality. The practice of objectification of women presumably realized by the public, but the practice was still considered to be natural and seemed to be left alone.Key words: men’s magazine, objectification, women1. PendahuluanKonten majalah hadir mengikuti segmentasi pembacanya. Demikian pula dengan majalah For Him Magazine (FHM) Indonesia yang menjadi fokus bahasan penelitian ini. Konten majalah ini mengikuti segmentasi pembaca pria dewasa, yakni seputar gadget, gaya hidup, pengetahuan, karier, seks, dan perempuan. Namun, di dalamnya, FHM Indonesia menampilkan foto-foto perempuan berbusana minim dan artikel-artikel yang menngarah pada sensualitas dari perempuan.Perempuan dalam majalah ini adalah komoditas yang disajikan bagi pembacanya yang merupakan laki-laki dewasa berusia 21 tahun ke atas. Foto-foto perempuan berbusana minim merupakan bagian dari objektivikasi perempuan. Objektivikasi terjadi ketika seseorang melalui sarana-sarana sosial direndahkan derajatnya, dijadikan benda atau komoditas, dibeli atau dijual (Syarifah, 2006: 153).Laki-laki menonton perempuan dan perempuan disajikan sedemikian rupa untuk kesenangan laki-laki. Hal ini mengindikasikan bahwa wanita adalah pihak inferioritas sedangkan pria ada di posisi superior. Kondisi ini berbenturan dengan apa yang tertuang dalam pasal 5 (a) UU Nomor 7 Tahun 1984 tentang Pengesahan Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Wanita disebutkan: “Negara-negara peserta wajib melakukan langkah-tindak yang tepat untuk mengubah pola tingkah laku sosial budaya pria dan wanita dengan maksud untuk mencapai penghapusan-penghapusan prasangka dan kebiasaan dan segala praktek lainnya yang berdasarkan atas inferioritas atau superioritas salah satu jenis kelamin atau berdasar peranan stereotip bagi pria dan wanita”. Secara garis besar, penelitian ini bertujuanuntuk melihat posisi perempuan sebagai objek dalam majalah ini dan menjelaskan ideologi dominan yang melatarbelakanginya.2. MetodaTipe penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian deskriptif yang dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif serta menggunakan metode analisis semiotika milik Roland Barthes, yakni analisis sintagmatik melalui analisis leksia dan analisis paradigmatik melalui lima kode pembacaan. Lima kode pembacaan tersebut adalah kode hermeneutika, kode proairetik, kode simbolik, kode kultural, dan kode semik. Unit analisis dalam penelitian ini adalah: FHM Indonesia Mei 2011 halaman 44 dan 46, FHM Indonesia April 2011 halaman 46 dan 42, dan foto dengan subjek bernama Sitha Destya pada FHM Indonesia Januari 2012.3. Hasil Penelitian3.1 Analisis SintagmatikBerdasarkan analisis yang telah dilakukan, semua unit analisis menggunakan konsep glamour photography, yang menurut Pegram (2008: 90-93) adalah konsep fotografi yang memfokuskan pada keindahan tubuh subjek. Sehingga dapat disimpulkan bahwa foto-foto yang terdapat pada majalah FHM Indonesia di berbagai edisi memiliki fokus untuk menonjolkan keindahan tubuh subjek semata.3.2 Analisis Paradigmatik: Adanya Objektivikasi Perempuan dalam Majalah FHM Indonesia3.2.1 Kode HermeneutikaKode hermeneutika pertama dari teknik pengambilan gambar. Berdasarkan teknik pengambilan gambar yang digunakan dapat memperlihatkan detail subjek sepertilekukan tubuh subjek, detail kostum subjek, ekspresi subjek, dan setting foto.Kode hermeneutika kedua yang muncul selanjutnya adalah pose subjek. Gestur-gestur yang ditampilkan oleh subjek dalam majalah ini banyak diantaranya yang tergolong dalam isyarat-isyarat yang menggoda laki-laki. Kemudian dari aspek kostum, subjek pada kelima unit analisis dalam penelitian ini semuanya diarahkan untuk menggunakan kostum tertentu oleh majalah ini. Hal ini terlihat dari keterangan foto yang menyebutkan bahwa terdapat pengarah kostum dalam foto ini. Selanjutnya, kostum yang banyak digunakan adalah bra. Kemudian asesoris yang sering ditemukan adalah sepatu hak tinggi.Menurut Danesi (2012: 216), dalam representasi seksual pakaian memainkan peranan sentral dalam menekankan seksualitas. Sehingga disini bra dan celana dalam yang dikenakan subjek dapat dipahami sebagai penegasan seksualitas perempuan yang dapat merangsang laki-laki secara visual. Secara keseluruhan, perempuan pada unit-unit analisis di atas digambarkan sebagai sosok yang sensual dan berusaha mengundang gairah pembaca.3.2.2 Kode ProairetikHasil dari analisis kode proairetik menyebutkan bahwa pada foto-foto kelima unit analisis penelitian ini, terdapat 3 jenis implikasi yang tidak berpihak pada perempuan yang berada di dalamnyaImplikasi pertama yang muncul adalah eksploitasi bagian tubuh subjek dan kualitas fisik subjek. Kemudian implikasi kedua dari tindakan-tindakan pada kelima unit analisis ini adalah merupakan lanjutan dari implikasi pertama, dimana eksploitasi tubuh subjek dapat berlanjut pada memunculkan fantasi erotis bagi laki-laki ataumemberikan rangsangan secara visual bagi laki-laki.Implikasi ketiga yang kemudian berkaitan dengan perempuan dalam foto ini adalah ia dapat dipersepsikan sebagai perempuan “tidak baik”. Menunjukkan hasrat seksual atau bahkan pengalaman seksual ini berarti menjebloskan diri perempuan itu sendiri ke dalam kategori “perempuan jalang”. (Prabasmoro, 2006:53).3.2.3 Kode SimbolikKesimpulan dari kode simbolik yang ditelaah dalam kelima unit analisis di atas adalah terdapat simbol-simbol yang menyatakan bahwa perempuan adalah objek seksual bagi pembaca laki-laki majalah FHM Indonesia.Pada akhirnya, simbol-simbol perempuan yang ada merujuk kepada suatu simbol dominan yaitu simbol dominasi laki-laki. Perempuan ini diarahkan oleh majalah ini untuk menarik di mata laki-laki dan merangsang secara visual bagi laki-laki. Kostum seksi yang digunakan, pose yang merangsang hasrat seksual, kemudian bagian-bagian tubuh subjek yang ditonjolkan, kesemuanya itu diarahkan mengikuti selera atau kesukaan laki-laki.3.2.4 Kode KulturalSetelah menganalisis kode kultural dari masing-masing unit analisis dalam penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa lima foto yang diambil dalam majalah FHM Indonesia tidak mencerminkan kultur Indonesia. Kesimpulan ini didasarkan pada dua aspek yang dianggap mampu mengarahkan peneliti pada kode kultural tersembunyi, yakni kostum subjek dan pose subjek.Kostum subjek secara eksplisit dapat dikatakan terbuka atau memamerkan bagian-bagian tubuh tertentu dan menonjolkan keindahannya. Keadaan ini tentu tidaksesuai dengan kultur masyarakat Indonesia dimana dijelaskan Hidayana (2013: 60) dalam Jurnal Perempuan No.77 bahwa perempuan yang berpakaian mengumbar aurat, terbuka, dan seksi dapat diberi label perempuan ‘tidak baik’. Dengan begitu, subjek sebagai perempuan Indonesia yang tampak mengenakan pakaian yang ‘terbuka’ dapat dianggap sebagai ‘perempuan tidak baik’.Tidak hanya itu, perempuan dalam kelima unit analisis ini terlihat mengekspresikan seksualitasnya melalui beberapa bentuk gestur dan ekspresi yang diterjemahkan menjadi isyarat-isyarat merangsang laki-laki. Keadaan ini bertolak belakang dengan kultur masyarakat Indonesia. Perempuan dituntut untuk membendung dan mengontrol hasrat seksualnya. Setiap gerak tubuh perempuan seperti kerling mata, senyuman, cara duduk, dan lainnya selalu diawasi dengan ketat (Hidayana, 2013: 61).Perempuan yang menjadi subjek foto memang perempuan Indonesia, namun bagaimana majalah ini merepresentasikannya jelas bukan menggunakan kultur Indonesia. Sehingga dapat disimpulkan bahwa perempuan Indonesia pada majalah waralaba asal Britania Raya ini dikontruksi menggunakan kultur barat.3.2.5 Kode SemikSetelah melakukan analisis pada kelima foto yang menjadi unit analisis penelitian ini, penulis melihat bahwa perempuan yang menjadi subjek foto dalam majalah FHM Indonesia digambarkan sebagai objek seksual bagi pembacanya yang merupakan laki-laki. Dengan begitu FHM Indonesia turut melanggengkan mitos bahwa perempuan adalah objek seksual bagi laki-laki.Pada saat pembaca laki-laki melihat foto-foto ini maka terjadi sebuah alur yakni: memandang foto secara keseluruhan, mengidentifikasi aspek-aspek yang ada dalam foto, memandang bagian-bagian tubuh subjek sekaligus nilai-nilai sensualitasnya (berupa kualitas fisik, pose, dan lainnya), kemudian terjadi stimulasi seksual. Dengan begitu, terciptalah suatu konsep dimana perempuan dalam majalah ini adalah objek ‘tatapan’ laki-laki dan laki-laki adalah subjek atau pelaku ‘tatapan’. Konsep ini meminjam konsep Laura Mulvey, bahwa perempuan dipajang sebagai objek seksual yang berfungsi secara simultan bagi khalayak laki-laki yang dapat memperoleh kepuasan scopophilis dari kehadiran mereka.4. PembahasanGambaran perempuan dalam foto-foto yang ada pada majalah FHM Indonesia ini merupakan perwujudan dari objektivikasi perempuan. Terkait dengan objektivikasi, Star menguraikannya sebagai berikut:Objektivikasi adalah analisis yang digunakan untuk menjelaskan perlakuan-perlakuan terhadap perempuan (seringkali citra perempuan) yang mereduksi kaum perempuan menjadi pasif dan objek gender (hasrat, eksploitasi, siksaan) daripada menampilkan perempuan sebagai subjek manusia seutuhnya. Gagasan yang berhubungan dengan objektivikasi antara lain: tatapan (gaze), stereotip, komodifikasi, tontonan (spectatorship), dan pembelajaran peran-peran gender (Sunarto, 2009:163).Pada lima foto yang dianalisis terdapat indikasi adanya dualitas objektivikasi perempuan, dimana perempuan dijadikan “santapan“ dan “tatapan“ pada majalah FHM Indonesia. “Santapan“ disini merujuk pada posisi perempuan sebagai objek komodifikasi yang dijual oleh FHM Indonesia kepada pembaca laki-laki. Kemudian “tatapan“ yang merujuk pada posisi perempuan sebagai objek seksual bagi pembaca laki-laki.Pada tahapan pertama, perempuan dalam majalah ini dijadikan sebagai “objek santapan“, dimana perempuan dijadikan komoditas yang dijual kepada para pembaca. Hal ini merupakan perwujudan dari gagasan dalam objektivikasi yang diutarakan diatas, yakni komodifikasi perempuan. Majalah FHM Indonesia adalah majalah dengan segmentasi pembaca utama laki-laki dewasa atau berusia 21 ke atas, atau yang dikenal sebagai ‘majalah pria dewasa‘.Kemudian berbicara mengenai motif media dengan tema seperti ini. Hal ini pernah dideskripsikan Yasraf Amir Pilliang bahwa penggunaan unsur seks dan sensualitas di dalam berbagai media akibat diterapkannya prinsip ‘Libidinal Economy‘ atau merangsang hasrat setiap konsumen melalui strategi sensual komoditas (Syarifah, 2006: 7). Perempuan merupakan hal yang disukai laki-laki, majalah pria dewasa kemudian mengusung tema sensualitas untuk meraup lebih banyak keuntungan dari pembaca laki-laki yang menghasrati perempuan sensual.Kedua, perempuan dalam majalah ini dijadikan sebagai “objek tatapan“ yang merujuk pada posisi perempuan sebagai objek hasrat seksual bagi pembaca laki-laki. Subjek pada foto-foto ini dikonstruksi sedemikian rupa agar sesuai dengan kesenangan pandang laki-laki, kemudian ia diharapkan dapat memberikan kepuasan seksual bagi laki-laki dengan cara melambungkan fantasi-fantasi erotis setelah melihat foto-foto ini. Dengan begitu hal ini sesuai dengan gagasan objektivikasi yakni: tatapan (gaze). dimana perempuan adalah objek ‘tatapan’ laki-laki dan laki-laki adalah subjek atau pelaku ‘tatapan’.Namun terdapat temuan yang menarik disini. perempuan dalam kelima foto ini juga terlihat secara aktif mengekspresikan seksualitasnya dalam berpose. Penulismenyimpulkan bahwa perempuan dalam foto ini merupakan objek seksual aktif, yang berarti suatu kondisi dimana perempuan dalam majalah ini dikonstruksi sedemikian rupa agar sesuai dengan male gaze, kemudian ia diharapkan dapat memberikan kepuasan seksual bagi laki-laki dengan cara melambungkan fantasi-fantasi erotis setelah melihat foto-foto ini. Namun ia sendiri tidak bersifat pasif, melainkan memiliki keterlibatan aktif dimana ia terlihat secara sadar melakukan pose-pose yang kerap disebut “pose syur”.Terdapat suatu pola dimana semua berpusat pada pembaca laki-laki, termasuk pendefinisian seksualitas perempuan yang ada dalam majalah ini. Prabasmoro (2006: 293) menyebutnya dengan pemusatan seksualitas pada seksualitas laki-laki menyebabkan seksualitas perempua dimaknai dan ditandai sebagai sesuatu untuk seksualitas laki-laki .Laki-laki terkesan superior dan perempuan sebagai pihak dibawahnya. Hal ini yang kemudian sejalan dengan konsep penting teori standpoint, bahwa pengetahuan yang dimiliki seseorang bergantung pada konteks dan keadaan tertentu dimana perbedaan lokasi dalam kedudukan sosial akan menghasilkan standpoint yang berbeda, tergantung dari pengalaman masing-masing.Melalui posisi superior, laki-laki dapat melanggengkan kekuasaannya atas seksualitas perempuan. Salah satu bentuk kontrol laki-laki dalam seksualitas perempuan adalah objektivikasi seksual, yaitu perlakuan-perlakuan yang mereduksi kaum perempuan menjadi pasif dan objek gender (hasrat, eksploitasi, siksaan) daripada menampilkan perempuan sebagai subjek manusia seutuhnya (Sunarto, 2009:163). Namun perempuan yang berada di posisi marjinal hanya bisa mengikutisudut pandang bentukan laki-laki bahkan terlibat aktif agar biasa diterima di lingkungan sosial. Feminis radikal kultural memandang bahwa objektivikasi seksual dimana laki-laki sebagai subjek dan perempuan sebagai objek merupakan suatu bentuk opresi seksualitas.Objektivikasi perempuan dalam majalah FHM Indonesia terjadi karena adanya ideologi besar yang tersembunyi di dalamnya, yakni patriarki yang dianut oleh majalah ini dan masyarakat pada umumnya. Sistem patriarki yang ada dalam masyarakat menentukan nilai-nilai terhadap perempuan.Patriarkisme menurut Bhasin (dalam Sunarto, 2009: 38), merupakan suatu pandangan yang menempatkan kaum laki-laki lebih berkuasa dibanding kaum perempuan. Pada penerapannya, seperti yang dijelaskan Soemandoyo (1999: 63) posisi laki-laki yang lebih dominan, lebih menentukan. Sedangkan posisi perempuan yang sub-ordinat, dalam beberapa hal, ditentukan dan dikuasai oleh laki-laki. Sistem patriarki yang ada dalam masyarakat menentukan nilai-nilai terhadap perempuan. Keberadaan perempuan dalam masyarakat dilihat dari perspektif laki-laki.5. Penutup5.1 SimpulanPada majalah FHM Indonesia terdapat dualitas objektivikasi perempuan. Objektivikasi perempuan yang terjadi dalam majalah FHM Indonesia terdiri dari 2 poin. Pada tahapan pertama, perempuan dalam majalah ini dijadikan “objek santapan“ atau komoditas yang dijual kepada para pembaca. Ini merupakan perwujudan dari salah satu gagasan dalam objektivikasi, yakni komodifikasi seksual perempuan. Majalah ini mengusung tema sensualitas perempuan untuk meraup keuntungan daripembaca laki-laki. Kedua, perempuan dalam majalah ini dijadikan “objek tatapan“ atau objek hasrat seksual bagi pembaca laki-laki. Perempuan pada foto-foto ini dikonstruksi sedemikian rupa agar sesuai dengan kesenangan pandang laki-laki, kemudian ia diharapkan dapat memberikan kepuasan seksual bagi laki-laki dengan cara melambungkan fantasi-fantasi erotis setelah melihat foto-foto ini. Dengan begitu hal ini sesuai dengan gagasan objektivikasi yakni: tatapan (gaze).Objektivikasi perempuan berkaitan dengan struktur yang tanpa disadari telah lama tertanam di masyarakat yakni dominasi laki-laki. Sistem patriarki yang ada dalam masyarakat menentukan nilai-nilai terhadap perempuan. Keberadaan perempuan dalam masyarakat dilihat dari perspektif laki-laki.5.2 RekomendasiSecara teoritis, penelitian ini diharapkan mampu menjadi acuan atau refrensi bagi peneliti-peneliti lainnya untuk dilakukannya penelitian yang lebih lanjut, detail dan komprehensif tentang objektivikasi perempuan. Secara praktis, penelitian ini diharapkan memberi pemahaman bagi para praktisi industri media massa, mengenai ketimpangan relasi gender yang terjadi melalui penggambaran perempuan dalam media massa khususnya majalah. Para praktisi diharapkan dapat memperhatikan kepentingan kaum perempuan agar dapat melakukan pemberitaan atau penggambaran yang layak dan berimbang mengenai perempuan. Dengan demikian, tidak semakin mengecilkan posisi perempuan dalam struktur masyarakat.Secara sosial, penelitian ini berusaha mengungkap objektivikasi yang dialami perempuan dalam masyarakat sebagai implikasi dari ideologi dominan patriarki. Khalayak diharapkan dapat berpikir kritis dan terus mempertanyakan ketimpanganyang terjadi pada perempuan, sebagai berbagai bentuk diskriminasi yang dialami perempuan dalam masyarakat. Sehingga terwujudnya masyarakat yang berkeadilan gender.6. Daftar RujukanSumber Buku:Barthes, Roland. (2010). Imaji, Musik, dan Teks. Yogyakarta: Jalasutra.Brooks, Ann. (2011). Posfeminisme & Cultural Studies: Sebuah Pengantar Paling Komprehensif. Yogyakarta: JalasutraBudiman, Kris. (2011). Semiotika Visual: Konsep, Isi, dan Problem Ikonitas. Yogyakarta: Jalasutra.Danesi, Marcel. (2012). Pesan, Tanda, dan Makna: Buku Teks Dasar Mengenai Semiotika dan Teori Komunikasi. Yogyakarta: Jalasutra.Ibrahim, Idi Subandy, (2011), Kritik Budaya Komunikasi, Yogyakarta: Jalasutra.Kurniawan, Heru. (2009). Sastra Anak: dalam Kajian Strukturalisme, Sosiologi, Semiotika, hingga Penulisan Kreatif. Yogyakarta: Graha IlmuPegram, Billy. (2008). Posing Techniques: For Photographing Model Portfolios. New York: Amherst Media.Prabasmoro, Aquarini Priyatna. (2006). Kajian Budaya Feminis: Tubuh, Sastra dan Budaya Pop. Yogyakarta: Jalasutra.Soemandoyo, Priyo. (1999). Wacana Gender dan Layar Televisi: Studi Perempuan dalam Pemberitaan Televisi Swasta, Jakarta, Yayasan Galang.Sunarto. (2009). Televisi, Kekerasan dan Perempuan. Jakarta: KompasSyarifah. (2006). Kebertubuhan Perempuan dalam Pornografi. Jakarta: Yayasan Kota Kita.Sumber JurnalApsari, Diani. (2010). “Visualisasi Wanita Indonesia dalam Majalah Pria Dewasa”. Wimba Jurnal Komunikasi Visual dan Multimedia Vol. 2 No. 1: hal 65-79.Hidayana, Irwan. M. (2013, Mei). “Budaya Seksual dan Dominasi Laki-Laki dalam Perikehidupan Seksual Perempuan”. Jurnal Perempuan Edisi 77 Vol.18. No.2: hal 57-67.Muhammad, Husein. (2013, Mei). “Bukan Soal Tubuh tetapi Ruh”. Jurnal Perempuan Edisi 77 Vol.18. No.2: hal 103-115.
Pemaknaan Jilbab Kreatif bagi Perempuan Muslim sebagai Identitas Diri Hanifah, Mar'atul; Rakhmad, Wiwid Noor; Suprihartini, Taufik; Lestari, Sri Budi
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (463.699 KB)

Abstract

Peminat menggunakan jilbab meningkat setelah model-model jilbab kreatif mulai hadirmenghiasi ranah fashion. Tidak dapat dipungkiri, perkembangan jilbab sebagai trend fashiontelah membuat sebagian perempuan muslim lainnya menjadi dapat berkreasi mengenai modeljilbab seperti apa yang ingin dikenakannya. Karena jilbab yang dahulu dikenal denganmodelnya yang polosan dan ukuran yang besar atau lebar, telah berubah menjadi jilbab yangserba modern dan dinamis. Hal ini bergantung pada pengetahuan dan pengalaman perempuanmuslim dalam memaknai jilbab. Penampilan masih terus berperan penting dalammencerminkan identitas pemakainya, serta berdampak pada orang lain dalam menentukansikap terhadap orang tersebut. Meskipun sebagian orang tidak memperdulikannya, dan hanyamengubah penampilan sesuai tren yang sedang berkembang.Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pemaknaan mengenai jilbab yangdipahami oleh perempuan muslim sebagai sarana mempresentasikan diri. Penelitian inimerupakan penelitian kualitatif dan pendekatan fenomenologi. Sedangkan teknik analisis datadilakukan berdasarkan model analisis data fenomenologi dari Von Eckartsberg. Penelitimenggunakan teori dari Erving Goffman tentang presentasi diri yang menjelaskan beberapahal seperti busana yang dipakai, tempat tinggal, cara berjalan, berbicara, dan lain-laindigunakan untuk presentasi diri. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakanindepth interview kepada lima informan yang telah dipilih oleh peneliti, yakni perempuanmuslim yang menggunakan jilbab syar’i, menggunakan jilbab kreatif, dan belummenggunakan jilbab.Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan muslim memaknai jilbab kreatifsebagai pakaian yang modis, elegan, dan menjadikan penggunanya terlihat lebih cantik.Meski alasan mereka menggunakan jilbab adalah karena jilbab merupakan pakaian wajibbagi perempuan muslim, terkadang secara sadar ataupun tidak, jilbab kreatif tersebutmengabaikan beberapa aturan berjilbab dalam Islam dan lebih terpusat pada perkembangantren. Meski demikian, adanya variasi model, bahan, dan aksesoris jilbab membuat perempuanmuslim tertarik untuk mengenakannya.Berdasarkan hasil penelitian, peneliti menyimpulkan bahwa kehadiran trend fashionjilbab kreatif menimbulkan bermacam makna mengenai jilbab. Namun, jilbab kreatif lebihmemperhatikan aspek kecantikan dan tren yang sedang berkembang. Jilbab kreatif membuatbeberapa perempuan muslim merasa lebih nyaman melaksanakan kewajiban berjilbab dengantetap terlihat cantik dan modern.
Hubungan antara Terpaan Publisitas dan Faktor Demografis dengan Dukungan Masyarakat pada Kegiatan City Branding Jepara Wildan, Arbi Azka; Naryoso, Agus; Lestari, Sri Budi; Rahmiaji, Lintang Ratri
Interaksi Online Vol 4, No 1: Januari 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (238.016 KB)

Abstract

City branding merupakan upaya atau strategi dari suatu kota untuk membuat positioning yang kuat di regional maupun global. Jepara memerlukan kegiatan city branding untuk memperkuat positoningnya diantara kota-kota lain, turut serta melibatkan masyarakat dan media juga sangat diperlukan dalam kegiatan city branding. Lalu, adakah hubungan antara terpaan publisitas dan faktor demografis dengan dukungan masyarakat pada kegiatan city branding Jepara?Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji korelasi terpaan publisitas dan faktor demografis dengan dukungan masyarakat pada kegiatan city branding Jepara. Hipotesis dari penelitian ini adalah Terdapat hubungan antara terpaan publisitas dengan dukungan masyarakat pada kegiatan city branding Jepara dan Terdapat hubungan antara terpaan publisitas dan faktor demografis dengan dukungan masyarakat pada kegiatan city branding Jepara. Penelitian ini menggunakan uji analisis korelasi pearson dan Reinforcement Theory serta Teori Kategori Sosial digunakan untuk menjelaskan hubungan antara terpaan publisitas dan faktor demografis dengan dukungan masyarakat pada kegiatan city branding Jepara. Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat Jepara yang diambil sebanyak 50 orang, secara purposive.Adapun hasil penelitian menunjukkan nilai koefiensi korelasi terpaan publisitas kegiatan city branding kota Jepara menunjukkan angka sebesar 0,219, artinya terpaan publisitas kegiatan city branding kota Jepara dan dukungan masyarakat pada kegiatan city branding memiliki korelasi rendah. Sedangkan koefisiensi korelasi faktor demografis menunjukkan angka 0,059, artinya faktor demografis dan dukungan masyarakat pada kegiatan city branding memiliki korelasi sangat rendah. Nilai koefisiensi korelasi keduanya menujukkan angka positif (+), maka dapat disimpulkan bahwa keduanya memiliki hubungan yang searah atau linier, artinya semakin tinggi terpaan publisitas dan faktor demografis maka semakin tinggi pula dukungan masyarakat pada kegiatan city branding kota Jepara. Pada penelitian ini hasil uji korelasi menunjukkan korelasi rendah, berarti bahwa publikasinya rendah sehingga dukungan masyarakat pada kegiatan city branding juga rendah.
MEMAHAMI PENGALAMAN KOMUNIKASI PENGASUHAN ANAK DALAM EXTENDED FAMILY YULION, MERCYANA MAJESTY; Lestari, Sri Budi; Rakhmad, Wiwid Noor
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.802 KB)

Abstract

JURNALMEMAHAMI PENGALAMAN KOMUNIKASI PENGASUHAN ANAKDALAM EXTENDED FAMILYMERCYANA MAJESTY YULIOND2C009132JURUSAN ILMU KOMUNIKASIFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKUNIVERSITAS DIPONEGOROSEMARANG2013MEMAHAMI PENGALAMAN KOMUNIKASI PENGASUHAN ANAKDALAM EXTENDED FAMILYABSTRAKSIKeluarga merupakan lembaga sosial inti di dalam masyarakat, sebab di dalamkeluargalah seorang anak memperoleh berbagai bekal dalam menghadapikehidupannya kelak di masyarakat. Konsep keluarga meluas (extended family)atau keluarga besar yang tidak hanya terdiri dari orang tua dan anak (keluarga inti)tetapi juga anggota keluarga besar yang lain seperti kakek-nenek, paman, bibi, dansaudara sepupu. Di dalam keluarga besar yang memiliki anak sebagai salah satuanggotanya menimbulkan adanya intervensi atau campur tangan juga dominasipengasuhan anak oleh anggota keluarga besar selain orang tua kandung anak itusendiri.Penelitian ini menggunakan genre interpretif dan tradisi fenomenologiyang berusaha untuk menyelami dunia pengalaman perceiver dalam kasus ini,yaitu orang tua dan anggota keluarga besar yang lain ketika melakukan kegiatanpengasuhan anak sehari-hari di dalam keluarga besar. Dengan menggunakan teorirelational dialectics theory (RDT) atau teori dialektika hubungan yang berfokuspada dialog multivocal dalam komunikasi keluarga, penelitian ini berupaya untukmenjelaskan pemaknaan partisipan terhadap pengasuhan anak dalam keluargabesar.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa figur orang tua di dalam keluargabesar memiliki pemaknaan bahwa pengasuhan anak, selain dari segi fisik seperimemberikan suplai kebutuhan pokok, juga berkaitan dengan segi psikis dan sosialyang diwujudkan dalam bentuk kasih sayang, perhatian, komunikasi,pembelajaran, serta kontrol orang tua kepada anak-anak. Keberadaan pihak ketigadalam pengasuhan anak dipandang dapat memicu konflik akibat perbedaan carapandang dan cara pengasuhan anak. Hal ini terlihat pada pengalaman informan, dimana keberadaan anggota keluarga lain sebagai pihak ketiga yang lebih banyakberinteraksi dengan anak pada pengasuhan anak dalam keluarga besar, kerapmenimbulkan konflik antara orang tua dan anggota keluarga besar. Penyelesaianmasalah dalam keluarga besar dilakukan dengan gaya collaboration dimanapihak-pihak yang terlibat dalam konflik berdiskusi mengenai suatu masalah untukdiselesaikan bersama.Kata kunci: intervensi, pengasuhan anak, keluarga besarUNDERSTANDING THE COMMUNICATION EXPERIENCE OFPARENTING IN EXTENDED FAMILYABSTRACTThe family is a core social institution in society, as in the family a child obtainsvarious provisions to face their future life in the community. The concept of anextended family or a big family does not only consist of parents andchildren (nuclear family), but also other major family members, such asgrandparents, uncles, aunts, and cousins. In an extended families who havechildren as their members raises any intervention or interference, and also thedominance of parenting by a family member other than the child's biologicalparents itself.This research uses interpretive genre and phenomenology approach todeeply understanding the perceiver's world, which is parents and other familymembers when performing activities of daily child care within the family. Byaccomodating the theory of relational dialectics (RDT) focusing on familycommunication in multivocal dialog, this study seeks to explain participants’sdefinition of parenting in an extended family.The results of this research shows that the figure of the elderly within thefamily have the meaning of parenting, aside from the physical aspects such asdelivering supplies of basic necessities, also related to psychic and social aspectwhich is manifested in the form of affection, attention, communication, learning,as well as parent’s control to children. The presence of a third party in parenting isseen could trigger the conflict due to differences in viewpoints and ways ofparenting. It can be seen at the informants’s experience, in which the existence ofother family members as third parties that dominate the parenting in an extendedfamily, often gives rise the conflicts between parents and other family members.To solve a problem in an extended family is using collaboration style where theparties involved in the conflict discuss about an issue to be resolved together.Keywords: intervention, parenting, extended familyPendahuluanPengasuhan anak di dalam sebuah keluarga meluas (extended family) tidak hanyamenjadi dominasi orang tua si anak, tetapi turut menimbulkan adanya intervensibahkan dominasi dari keluarga besar. Mengasuh dan merawat anak menjadi perandan tanggung jawab orang tua di dalam keluarga. Namun di saat sebuah keluargainti tinggal bersama dengan orang tua maupun saudara-saudara mereka, makaperan mengasuh dan merawat tidak hanya menjadi milik orang tua. Akibatnyamuncul suatu campur tangan atau intervensi dari keluarga besar di dalampengasuhan anak tersebut.Keluarga merupakan lembaga sosial dasar di dalam masyarakat. Dalampraktiknya masyarakat memiliki berbagai definisi mengenai keluarga. Keluargainti (nuclear family) merupakan keluarga yang didasarkan pada pertalianperkawinan atau kehidupan suami-istri dengan anak-anak mereka. Selain keluargainti, juga ada keluarga hubungan sedarah yang dewasa ini lebih dikenal denganistilah keluarga meluas (extended family), yaitu keluarga inti berikut kerabat laindengan siapa hubungan baik dipelihara dan dipertahankan. Bentuk keluarga initidak didasarkan pada perkawinan, melainkan pada pertalian darah dari sejumlahkerabat dekat. (Horton, 2006: 268).Bentuk keluarga tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan masyarakatsekitar tempat tinggal. Bagi masyarakat kebudayaan barat keluarga bisa terbentukbaik dengan atau tanpa ikatan perkawinan yang sah, sedangkan di budaya timuryang disebut keluarga adalah mereka yang terikat dalam ikatan perkawinan yangsah. Jumlah anggota keluarga di masyarakat barat biasanya hanya terdiri darianggota keluarga inti yaitu ayah, ibu, dan anak. Sedangkan di masyarakat timurkonsep anggota keluarga bukan hanya terdiri dari keluarga inti namun termasukanggota keluarga yang lainnya seperti nenek, kakek, adik, keponakan, dansebagainya yang tinggal dalam satu rumah. (Sumarwan, dalam Wardyaningrum,2010: 289-298).Perubahan bentuk keluarga inti akan menimbulkan kesulitan dalamkomunikasi keluarga dan peran yang disandang. Hal ini juga berlaku ketikabentuk keluarga inti berubah ke bentuk keluarga meluas. Anak yang dibesarkanoleh kakek-neneknya mungkin merasa bahwa bentuk keluarganya tidak lazim danmenolak untuk membicarakan tentang keluarganya ketika berada di sekolah. (LePoire, 2006: 17-19).Salah satu peran utama dalam keluarga inti adalah pengasuhan anak.Namun di dalam sebuah keluarga meluas (extended family) peran ini tidak hanyamenjadi dominasi orang tua, tetapi turut menimbulkan adanya intervensi darikeluarga besar. Peran yang disandang oleh ayah dan ibu di dalam keluarga intisebenarnya memiliki porsi yang sama terutama dalam hal mendidik anak mereka.Pendidikan non formal dalam lingkungan keluarga sadar atau tidak, akan turutmembentuk karakter dan kepribadian anak. (Le Poire, 2006: 16-22).Sosialisasi juga menjadi salah satu fungsi keluarga. Keluarga menjadiujung tombak bagi masyarakat untuk melakukan sosialisasi kepada anak-anakmengenai alam dewasa sehingga nantinya mereka dapat berfungsi dengan baik didalam masyarakat itu. (Horton, 2006: 275-276).Fungsi sosialisasi tersebut diterapkan perlahan-lahan dalam prosespengasuhan anak. Pengasuhan yang dilakukan keluarga ini memiliki pola.Menurut pedoman yang dikeluarkan oleh Tim Penggerak PKK Pusat (1995) yangdimaksud sebagai pola asuh anak dalam keluarga, adalah usaha orang tua dalammembina anak dan membimbing anak baik jiwa maupun raganya sejak lahirsampai dewasa (18 tahun), serta kegiatan kompleks yang memiliki dampak padaanak dengan tujuan menciptakan kontrol pada anak. (Puspa, 2013).Keberadaan beberapa orang dewasa ini memicu adanya intervensi atauikut campur tangan bahkan dominasi dari orang-orang sekitar dalam mendidikanak. Keberadaan keluarga besar yang terlibat dalam mengasuh anak terkadangmenimbulkan kontra terhadap peraturan yang sudah disepakati sebelumnya yangdapat menimbulkan kebingungan bagi anak. Bahkan dominasi pengasuhan olehpihak ketiga membuatnya menjadi lebih dekat dengan anak, sehingga memicuadanya kecemburuan orang tua terhadap pihak ketiga. Hal-hal tersebut dapatmemicu konflik di antara orang tua si anak dengan anggota keluarga besar yanglain.Teori dan Metoda PenelitianTeori dialektika hubungan (RDT) digunakan untuk memahami bahwa orangorangyang telah memiliki hubungan menggunakan komunikasi untuk mengatasikekuatan yang bertentangan secara alami yang menimpa hubungan mereka setiapsaat. RDT menjelaskan bagaimana di dalam setiap hubungan mengalamikontradiksi dialektika, yaitu suara-suara yang bersatu tetapi bertentangan. Dalamteori ini disebutkan 3 pandangan mengenai dialog yaitu dialog sebagai proseskonstitutif, dialog sebagai percakapan, dan dialog sebagai estetika. (Littlejohn danFoss, 2009: 298-300).Pengasuhan anak dalam keluarga besar melibatkan beberapa pihak selainorang tua kandung si anak. Hubungan antar partisipan (orang tua, kakek-nenek,paman, bibi, anak) berkembang melalui proses komunikasi yang kontradiktifterutama dalam konteks pengasuhan anak. Pemaknaan masing-masing individuterhadap pengasuhan anak mungkin berbeda dan bahkan bertentangan. Dalamperbedaan ini justru makna dapat terbentuk. Tidak menutup kemungkinan masingmasingindividu dapat saling mengerti dan hubungan keluarga semakin dekat.Dalam keluarga besar yang terdiri dari beberapa individu menggunakan dialogsebagai proses komunikasi yang tidak terlepas dari kontradiksi dialektika. Meskiterdapat kontradiksi, dalam dialog tersebut muncul suatu pemahaman yang estetistentang hubungan keluarga besar yang dimiliki oleh partisipan (Littlejohn danFoss, 2009: 306).Sedangkan untuk menyelesaikan konflik yang muncul di dalam keluarga,terdapat lima macam gaya penyelesaian konflik menurut K.W.Thomas dan R.H.Killmann (dalam Bebee, 2005: 231-236): (1) avoidance atau menghindar darimasalah yang ada, (2) accomodation atau mengalah kepada partner, (3)competition atau menyelesaikan masalah dengan beradu pendapat hingga salahsatu pihak menang, (4) compromise atau menentukan jalan tengah, (5)collaboration atau menampilkan konflik sebagai sebuah masalah untukdiselesaikan bersama-sama.Penelitian ini menggunakan tipe penelitian kualitatif yang merujuk padaparadigma intepretif. Penelitian tipe kualitatif merupakan penelitian yangmenggunakan pendekatan alamiah untuk mencari dan menemukan pengertian ataupemahaman tentang fenomena dalam suatu latar yang berkonteks khusus dantidak mengadakan perhitungan. (Moleong, 2007: 3-5).Pendekatan yang digunakan dalam mengkaji fenomena tersebut adalahtradisi fenomenologi. Fenomenologi berusaha memahami arti suatu peristiwa dankaitannya terhadap orang-orang biasa dalam situasi tertentu, dimana yangditekankan adalah aspek subjektif dari perilaku orang tersebut. Fenomenologimenganggap bahwa manusia secara aktif merepresentasikan pengalaman merekadan memahami dunia berdasarkan pengalaman mereka. (Littlejohn, 2002: 38).Komunikasi dalam pengasuhan anak merupakan fenomena yang dialamisecara sadar yang diseleksi untuk menjadi pengalaman masing-masing individu.Tujuan penelitian ini sejalan dengan tujuan fenomenologi, yaitu untukmempelajari bagaimana fenomena dialami dalam kesadaran, pikiran, dan tindakan,seperti bagaimana fenomena tersebut bernilai atau diterima secara estetis.(Kuswarno, 2009: 2).Memahami Pengalaman Komunikasi Pengasuhan Anak Dalam ExtendedFamilyCara pengasuhan anak yang diterapkan seseorang tidak terlepas dari pemaknaanmasing-masing individu terhadap pengasuhan itu sendiri. Pengasuhan anak dimata para informan bukan saja merupakan perkara fisik atau sesuatu hal yangdapat dilihat mata. Lebih dari itu seluruh informan mengungkapkan bahwapengasuhan anak juga berkaitan dengan memberikan pendidikan baik secarapsikis dan sosial dalam bentuk kasih sayang, perhatian, komunikasi, pembelajaran,dan kontrol. Le Poire (2006: 134) mencatat bahwa figur orang tua di dalamkeluarga amat memperhatikan keperluan anak-anak agar mereka tumbuh dengansehat. Orang tua berkomunikasi dalam cara-cara yang dibentuk untuk membantuanak berkembang secara intelektual, fisik, emosional, dan sosial, yang mengarahpada kesehatan dan kesejahteraan terbaik bagi mereka.Kegiatan pengasuhan anak yang dilakukan para informan sehari-haridilakukan bergantian dengan anggota keluarga besar yang lain, biasanyaberdasarkan waktu luang di luar jam kerja mereka. Aktifitas keseharian tersebutterkadang digunakan informan untuk berbincang-bincang dengan anak, mengajakmereka bercerita kegiatan selama di sekolah, atau menjelaskan kepada anak halhalyang baru mereka temukan. Akan tetapi kemajuan teknologi yang berkembangsampai ke dunia permainan lebih menarik bagi anak-anak dari pada harusmenuruti perintah orang tua untuk belajar, tidur siang, bahkan makan. Dalammenghadapi dan menyelesaikan hal ini hampir seluruh informan mengambillangkah serupa yaitu memarahi anak dan menjelaskan. Langkah ini selaludilakukan agar perilaku anak dapat terkontrol dengan baik.Meskipun berpartisipasi dalam kegiatan pengasuhan anak yangmelibatkan orang ketiga, mayoritas informan justru menyatakan ketidaksetujuanbahkan ketidaksukaan terhadap keberadaan pihak ketiga dalam proses pengasuhananak. Menurut mereka campur tangan pihak ketiga justru berpotensi menimbulkanperbedaan pandangan yang berdampak pada perbedaan cara pengasuhan anak.Berdasarkan temuan penelitian kedua ibu yang menjadi informan memilikipandangan bahwa sebagai ibu, mereka lah yang mengemban tanggung jawabdalam mengasuh anak, sementara anggota keluarga besar hanya membantu,selama yang bersangkutan tidak bisa melakukan kewajibannya.Strategi komunikasi pengasuhan anak meliputi aspek perawatan dankontrol. (Baumrind, dalam Le Poire 2006: 134-139). Kedua hal ini memerlukanproses interaksi orang tua dan anak. Dalam penelitian ini ditemukan suatu realitadimana anggota keluarga besar memiliki intensitas interaksi dengan anak yanglebih tinggi, jika dibandingkan dengan ibu sebagai orang tua, sehingga seolaholahmereka mendominasi pengasuhan anak. Tingginya intensitas interaksi pihakketiga dengan anak dalam keluarga besar membuat anak-anak lebih merasa dekatdan terbuka kepada nenek dan paman.Upaya Menangani Konflik tentang Pengasuhan Anak dalam ExtendedFamilySaat berhubungan dengan pengasuhan anak di dalam keluarga, terutama dalamkeluarga besar, dimungkinkan terjadi adanya perbedaan pendapat, cara pandang,cara pengasuhan, yang seringkali menimbulkan pertengakaran di antara anggotakeluarga. Dalam menyelesaikan masalah tentang pengasuhan anak dalam keluargabesar, masing-masing informan mengesampingkan gaya penyelesaian konfliknya,dan cenderung mengambil gaya collaboration dimana mereka mengambil jalanberdiskusi dengan anggota keluarga yang bermasalah untuk mencari jalankeluarnya bersama-sama. Semua proses komunikasi secara tatap mata tersebutdilakukan tanpa adanya pihak ketiga dari anggota keluarga besar yang menjadipenengah.Berdasarkan pengalaman menghadapi konflik di dalam keluarga, semuainforman sepakat bahwa mereka tetap memiliki hubungan baik dengan anggotakeluarga, bahkan menjadi semakin dekat dan mengenal kepribadian masingmasing.Kesimpulan1. Kegiatan pengasuhan anak dianggap lebih tepat jika dilakukan oleh orang tuakandung anak dari pada oleh figur orang tua yang lain, sebab merekalah yanglebih mengerti apa saja kebutuhan pokok anak. Anggota keluarga besar hanyabersifat mendukung dalam proses kegiatan pengasuhan dalam bentukmemberikan perhatian dan memenuhi kebutuhan anak di saat orang tuakandung mereka tidak berada di rumah karena berbagai alasan, misalnyakarena harus bekerja.2. Proses pengasuhan anak yang terjadi di dalam keluarga besar tetapmelibatkan dimensi responsif dan tuntutan guna mengarahkan perilaku anak.Gaya authoritative di mana tingkat responsif dan kontrol tinggi menjadipilihan anggota keluarga dengan pertimbangan anak-anak akan menjadi lebihsegan terhadap figur orang tua memegang kuasa penuh atas diri mereka,namun di saat lain tetap memberikan perhatian, kehangatan, dan kasihsayang.3. Perbedaan cara pengasuhan dan intensitas komunikasi tatap muka dengananak di antara orang tua dan anggota keluarga besar berdampak padakedekatan dan keterbukaan anak dengan pihak ketiga lebih besar dari padadengan orang tuanya sendiri.4. Penyelesaian konflik yang muncul di dalam keluarga besar cenderungmenggunakan gaya collaboration di mana anggota keluarga besar berdiskusimengenai suatu masalah untuk diselesaikan bersama. Gaya penyelesaiankonflik individu tidak selalu diterapkan. Mereka akan menyesuaikan diridengan anggota keluarga yang lain, terutama demi kepentingan anak-anak.DAFTAR PUSTAKABeebe, Steven. A. (2005). Interpersonal Communication Relating to Others(4thed). USA : Pearsons Education.Braithwaite, Dawn O and Leslie A. Baxter. (2006). Engaging Theories in FamilyCommunication Multiple Perspectives. California: Sage Publications,Inc.Horton, Paul dan Chester L. Hunt. (2006). Sosiologi Jilid I (Edisi 6). Jakarta:ErlanggaKuswarno, Engkus. (2009). Metodologi Penelitian Komunikasi Fenomenologi:Konsepsi, Pedoman, dan Contoh Penelitian. Bandung: WidyaPadjadjaranLe Poire, Beth. A. (2006). Family Communication Nurturing and Control in aChanging World. California: Sage PublicationLittlejohn, Stephen W. (2002). Theories of Human Communication (7thed).USA:Wadsworth.Littlejohn, Stephen W dan Karen A. Foss. (2009). Teori Komunikasi(Edisi 9).Jakarta: Salemba Humanika.Moleong, Lexy J. (2007). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: RemajaRosda KaryaWadyaningrum, Damayanti. (2010). Pola Komunikasi Keluarga dalamMenentukan Konsumsi Nutrisi bagi Anggota Keluarga. Jurnal IlmuKomunikasiFISIP UPN Yogyakarta 8 (3): 289-298.Puspa, Dian. (2013). Pola Asuh Anak dalam Keluarga (Makalah). http://blogdianpuspa.blogspot.com/2013/04/pola-asuh-anak-dalam-keluargamakalah.html. Diunduh 1 Juli 2013, pukul 10.20 WIB
KOMPETENSI KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI DALAM PROSES PENGUATAN HUBUNGAN SUAMI ISTRI BEKERJA Lestari, Sri Budi
JURNAL ILMU SOSIAL Volume 6, Issue 1, Year 2007
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8352.798 KB) | DOI: 10.14710/jis.6.1.2007.42-50

Abstract

Communication competence in a family whose parent were working, in the reality cn give one agreement concerning role which they run. There are some changes of role, especially at role of children education, nowadays, not only predominated by a mother. In this reseach,was also found that children togetherness, in fact, their time is much more with his father rather than their mother, because of their father’s flexibility time to work.