Triyono Lukmantoro
Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Diponegoro

Published : 75 Documents
Articles

KEBERADAAN PROGRAM SIARAN LOKAL DI TELEVISI BERJARINGAN (STUDI IMPLEMENTASI KEBIJAKAN MEDIA TERHADAP PROTV) Hari Putri, Eva Ratna; Rahardjo, Turnomo; Lukmantoro, Triyono; Yulianto, Much.
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Undang-undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran, Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2005 tentang Penyelenggaraan Penyiaran Lembaga Penyiaran Swasta, Peraturan Menteri Kominfo Nomor 43 Tahun 2009 tentang Penyelenggaraan Penyiaran Melalui Sistem Stasiun Jaringan oleh Lembaga Penyiaran Swasta Jasa Penyiaran Televisi dan juga Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) merupakan kebijakan media yang memuat mengenai Sistem Siaran Jaringan (SSJ). Undang-undang penyiaran tersebut mengamanatkan bahwa televisi swasta yang mengudara secara nasional wajib mendirikan badan hukum baru, melepas stasiun relai, melepas saham secara bertahap serta pancaran siaran tidak boleh dilakukan dengan pancaran siaran relai. Sistem Stasiun Jaringan adalah tata kerja yang mengatur relai siaran secara tetap antarlembaga penyiaran. Salah satu televisi lokal di Semarang yang bergabung dengan Sistem Stasiun Jaringan yaitu PROTV yang berjaringan dengan SINDO TV. Kebijakan ini lahir dengan semangat diversity of content (keberagaman isi) dan diversity of ownership (keberagaman pemilik), yang menjelaskan bahwa semakin beragam isi siaran dan semakin beragam distribusi kepemilikan media maka ranah penyiaran akan semakin demokratis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui praktik kebijakan sistem stasiun jaringan dan keberadaan program siaran lokal di PROTV.Hasil penelitian yang didapatkan adalah implementasi sistem stasiun jaringan di PROTV sebagai anggota jaringan SINDOTV belum berjalan dengan ideal. Faktor kepemilikan menyebabkan adanya dominasi kekuasaan dari pemilik modal melalui berbagai keputusan yang memengaruhi keberadaan program siaran lokal. Terjadi pengurangan slot time bagi program siaran lokal dan pergeseran prime time program siaran lokal di PROTV. Kata kunci: sistem stasiun jaringan, program siaran lokal, keberagaman
REPRESENTASI ATURAN ADAT PEMILIHAN PASANGAN (ROMANTIC RELATIONSHIP) MASYARAKAT BATAK DALAM FILM MURSALA Saragih, Williams Wijaya; Naryoso, Agus; Suprihartini, Taufik; Lukmantoro, Triyono
Interaksi Online Vol 3, No 3: Agustus 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masyarakat Batak memiliki aturan pemilihan pasangan (romantic relationship).Aturan yang mengatur siapa saja yang boleh dinikahi dan siapa yang tidak boleh untukdinikahi berdasarkan janji yang ditetapkan, tidak boleh saling menikah bagi sepasangkekasih yang memliki marga yang sama. Di sisi lain ideal bagi masyarakat Batakmenikahi anak perempuan dari tulang (paman). Mursala adalah film drama cintaberbalut kebudayaan Batak yang bercerita tentang Anggiat Simbolon, seorangpengacara yang mencoba mempertahankan hubungan cintanya dengan Clarissa Saragihdi tengah larangan adat. Film ini menekankan aturan pernikahan adat Batak yang harusdijalankan dan dipertahankan sampai sekarang dan perasaan cinta yang berbenturandengan nilai adat sehingga menimbulkan konflik dalam keluarga dan masyarakat adat.Tujuan penelitian ini adalah mengetahui representasi aturan pemilihan pasangan(romantic relationship) masyarakat Batak dalam film Mursala. Tipe penelitian iniadalah deskriptif kualitatif, menggunakan pendekatan signifikasi dua tahap dari teorisemiotika Roland Barthes dan analisis semiotika dengan teknik analisis data dari konsepkode-kode televisi John Fiske. Analisis dilakukan dengan tiga level, yakni level realitas,level representasi, dan level ideologi. Level realitas dan level representasi dianalisissecara sintagmatik, sedangkan analisis secara paradigmatik untuk level ideologi.Hasil penelitian menemukan bahwa adat sebagai nilai yang memiliki kekuatanuntuk mengatur perilaku harus tetap dijalankan dan dipertahankan. Melalui analisissintagmatik pada level realitas dan representasi peneliti menemukan makna peneguhanadat sebagai proses penerapan dan penjagaan nilai-nilai adat dari tindakan pelanggaran.Selain itu peneliti juga menemukan konflik yang terjadi dalam penerapan nilai adatyang ditampilkan sebagai dampak benturan kepentingan individu dengan nilai adat.Sedangkan melalui analisis paradigmatik pada level ideologi peneliti menemukanpenegasan kolektivisme keluarga sebagai agen kebudayaan serta kekakuan dan superiornilai adat. Konstruksi ideologi kolektivisme keluarga sebagai agen kebudayaanmenampilkan fungsi dan pembagian peran anggota keluarga dalam penanaman nilaiserta sistem pengawasan terlaksananya nilai adat. Konstruksi kekakuan dan sifatsuperior adat direpresentasikan lewat ketidakberdayaan Anggiat sebagai pengacarauntuk mempertahankan hubungan cintanya di hadapan hukum adat. Selain itu didapatibahwa keyakinan terhadap keabsolutan nilai adat sebagai faktor dipertahankan adatsebagai pedoman perilaku.
PEMAKNAAN MASYARAKAT BELITUNG TERHADAP MARGINALISASI KELOMPOK DAN MOTIVASI DALAM FILM LASKAR PELANGI Ramadhini, Putri; Lestari, Sri Budi; Rakhmad, Wiwid Noor; Lukmantoro, Triyono
Interaksi Online Vol 3, No 2: April 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Phenomenal movie titled Laskar Pelangi represent group discrepancy occur in Belitong. Interpretation of Belitong?s citizen toward group marginalization and motivation that happen in Belitong potrayed in Laskar Pelangi to be background of this research. The problem that arises is movie has many multiple interpretations message that could be interpreted by audience in asymmetric way. Audience within Belitong Island have their own mindset to interpret Laskar Pelangi, accompanied their straight experience because the movie has background as it main story in Belitung. The purpose of this research to discribe the interpretation of Belitong?s citizens about marginalization symptom that newcomer group did toward local group, and motivation as represented in Laskar Pelangi movie. This reserarch uses theory of social stratifications, theory of active audience, and theory of audience interpretation with reception analyze methods. Object of research is Belitong?s local citizens that watched Laskar Pelangi movie. The result is show audience capability to identify group marginalization potrayed in many scene such as the comparison between students PN Timah primary school with Muhammadiyah primary school. Discrepancy also seen from the difference of look, tools and infrastucture of school, activities during holiday and their job. Boundary areas between groups be marked on guardrail with disallowance to enter specific area. Informants have different interpretation and interpret movie based on mindset that being affected b y their own background. Based on the decoding-encoding audience theory of Stuart Hall, informants grouped in Dominant-Hegemonic Position, Negotiated Position and Oppositional Position.Informant at Dominant-Hegemonic position accept the meaning as it contained in the film about group marginalization and motivation recognized by the informant indeed found in the real life. Informant at Negotiated position generally accept the meaning as it defined and signed but deny some inappropriate aspect because being represented excessively and unsuitable according Belitongs conditions are better than before. Informant at Opppositional position measure scenes in the film were too excessive and only intended to make the story being more attractive, even considered disfigure the condition of Belitong?s society that couldn?t found in the real life.
REPRESENTASI NASIONALISME WARGA PERBATASAN KALIMANTAN BARAT DALAM FILM (ANALISIS SEMIOTIKA PADA FILM TANAH SURGA...KATANYA) Nilasari, Febryana Dewi; Suprihatini, Taufik; Lukmantoro, Triyono; Widagdo, M Bayu
Interaksi Online Vol 2, No 3: Agustus 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Film bertema nasionalisme dianggap memiliki daya tarik tersendiri. Berbeda dengan film lainnya yang memiliki tema drama dan mengangkat fenomena kehidupan sehari-hari, film yang bertema nasionalisme sangat dipengaruhi oleh faktor sosial politik yang ada di Indonesia. Pada film Tanah Surga... Katanya memperlihatkan secara gamblang kondisi keterpurukan dan kekalahan Indonesia dari negara tetangga (Malaysia) dalam  hal mensejahterakan rakyatnya. Film ini bercerita tentang sudut pandang lain dari semangat nasionalisme bangsa Indonesia yaitu bagaimana perjuangan warga perbatasan Kalimantan Barat untuk mempertahankan semangat nasionalismenya di tengah kehidupan yang serba terbatas di daerah perbatasan.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui representasi nasionalisme warga perbatasan Kalimantan Barat dalam film Tanah Surga... Katanya. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori representasi Stuart Hall dalam paradigma konstruktivis. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan analisis semiotika John Fiske ?the code of television? yang memasukkan kode-kode sosial ke dalam tiga level yakni level realitas, level representasi dan level ideologi.Hasil penelitian menunjukkan pada level realitas film ini menunjukkan realitas kesenjangan yang terjadi di perbatasan Kalimantan Barat dan perbatasan Malaysia (Sarawak). Perbatasan Kalimantan digambarkan miskin (tradisional) sedangkan Malaysia digambarkan sejahtera (modern). Pada level representasi film ini menunjukkan visualisasi pesan nasionalisme di tengah keterpurukan warga perbatasan Kalimantan Barat yang disampaikan melalui beberapa aspek teknis. Alur cerita, konflik, dan dialog menceritakan kehidupan Salman dan Kakek Hasyim sebagai tokoh utama yang memiliki jiwa nasionalisme melawan setiap keadaan perbatasan yang menguji rasa nasionalisme. Level ideologis dalam film ini mengungkapkan ideologi nasionalisme warga perbatasan Kalimantan Barat melalui bentuk-bentuk perlawanan atau perjuangan melawan menghadapi keadaan (kemiskinan, keterpencilan, ketidakadilan dalam pembangunan). Bentuk-bentuk nasionalisme warga perbatasan meliputi, nasionalisme pada simbol-simbol negara, nasionalisme dalam mempertahankan kewarganegaraan, nasionalisme dalam kemiskinan, nasionalisme untuk generasi selanjutnya. Kata Kunci : film, nasionalisme, semiotika, perbatasan Kalimantan Barat
ANALISIS DESKRIPTIF PENGGEMAR K-POP SEBAGAI AUDIENS MEDIA DALAM MENGONSUMSI DAN MEMAKNAI TEKS BUDAYA Nursanti, Meivita Ika; Lukmantoro, Triyono; ulfa, Nurist Surraya
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kemunculan grup musik Seo Taji and Boys di Korea Selatan pada tahun 1992menjadi sebuah titik balik bagi industri musik populer Korea. Fenomena tersebutterus berkembang dan telah menjadi salah satu fenomena budaya pop yang hadir,tumbuh, dan berkembang di tengah-tengah masyarakat saat ini. K-pop (dalambahasa Korea ??, Gayo) (singkatan dari Korean pop atau Korean popularmusic) adalah sebuah genre musik terdiri dari pop, dance, electropop, hip hop,rock, R&B dan electronic music yang berasal dari Korea Selatan.Banyak orang menyebut serbuan K-pop sebagai hallyu (??) ataugelombang Korea (Korean Wave). Gelombang ini awalnya dipicu keranjinganorang terhadap drama romantis Asia, termasuk drama Korea. Dari sini, anak mudaAsia kemudian mengenal K-pop dan menggilainya. Maklum, K-pop tidak hanyamemanjakan telinga dan mata, tetapi juga menancapkan imajinasi tentang selebritiKorea yang berpenampilan apik dan berwajah semulus porselen. Tidak heran, kinibanyak anak muda yang ingin "dicetak" seperti selebriti Korea. Banyak anakmuda di mana-mana histeris melihat aksi boyband/girlband Korea. Inilah puncakgunung es dari kisah tentang penetrasi budaya pop Korea di sekitar kita.Dalam perkembangannya, K-Pop telah tumbuh menjadi sebuah subkulturyang menyebar secara luas di berbagai belahan dunia. Idol group dan solo artisseperti BoA, Rain, DBSK, JYJ, Super Junior, B2ST, Girls? Generations,BIGBANG, Wonder Girls, 2NE1, 2PM, 2AM, Miss A, KARA, SHINee, f(x),After School, Brown Eyed Girls, Se7en, CNBLUE, F.T. Island, Secret, MBLAQsangat terkenal di negara-negara Asia Timur dan Asia Tenggara, termasuk Jepang,Malaysia, Mongolia, Filipina, Indonesia, Thailand, Taiwan, Singapura, China, danVietnam (Cerojano, 2011).Kehadiran internet beserta jejaring sosial yang terdapat di dalamnya dapatdikatakan sangat membantu industri musik K-pop dalam menjangkau audiensyang lebih luas. Pengamat musik, Bens Leo?seperti dikutip dalam sebuah portalkomunitas dan berita online tnol.co.id?mengatakan musik K-pop yang telahmasuk ke Indonesia sekitar tahun 2009 berhasil populer di Indonesia berkatjaringan informasi dan teknologi internet, di mana kemudian masyarakat dapatdengan mudah mengakses dan melihat secara audiovisual. K-pop tidak hanyamengenalkan musik, tetapi K-pop juga mengenalkan budaya lewat gaya rambut,pakaian, maupun kostum (Nopiyanti, 2012).Pop culture yang beroperasi melalui fashion, musik, film maupun televisi inisangat dekat dengan dunia konsumsi di mana masyarakat dapat berekspresi didalamnya. Perilaku konsumsi individu maupun masyarakat yang terus menerus inipada akhirnya dapat menimbulkan sebuah sindrom fanatisme akibat hasilkomoditas budaya pop.Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia tahun 2009 (KBBI), fanatismeadalah keyakinan atau kepercayaan yang terlalu kuat terhadap suatu ajaran(politik, agama, dsb). Seseorang yang bersikap fanatik ini seringkali dijulukisebagai penggemar?atau yang dalam skripsi ini disebut sebagai fans ?selebritis,serial televisi, band, dan komoditas budaya pop lainnya?seperti halnya dalamindustri K-pop.Henry Jenkins dalam Textual Poachers: Television Fans and ParticipatoryCulture (1992) menjelaskan mengenai kata ?fan? (penggemar) yang merupakanabrevasi dari ?fanatic?, yang berasal dari kata Latin ?fanaticus?. Secara literal,?fanaticus? berarti ?Dari atau berasal dari sebuah pemujaan; pelayan suatupemujaan; seorang pengikut? (?Of or belonging to the temple, a temple servant, adevotee?) (Oxford Latin Dictionary). Dalam perkembangannya, ?fanatic?diartikan sebagai suatu bentuk kepercayaan religius yang berlebihan danmenyembah kepada setiap ?antusiasme yang salah dan berlebihan?, yang padaakhirnya banyak menimbulkan kritik karena melawan kepercayaan dan dianggapsebagai suatu kegilaan yang timbul dari suatu posesi atas dewa atau iblis (OxfordEnglish Dictionary).Fenomena yang kemudian terjadi adalah menjamurnya fans K-pop di seluruhbelahan dunia. Fans yang berasal dari berbagai macam fandom idolgroup?seperti misalnya ELF (Ever Lasting Friends) yang merupakan sebutanbagi penggemar Super Junior, B2UTY untuk penggemar B2ST, atau pun VIP bagipenggemar BIGBANG?menjadi sebuah kesatuan besar di bawah naunganfandom K-pop.Bagi kebanyakan orang, fandom K-pop dikenal dengan stereotip yangmelekat pada diri fans atau penggemarnya. Fans K-pop dianggap selalu bersikapberlebihan, gila, histeris, obsesif, adiktif, dan konsumtif?ketika mereka sangatgemar menghambur-hamburkan uang untuk membeli merchandise idola maupunmengejar idolanya hingga ke belahan dunia mana pun.Menurut Casey dalam Television Studies ? The Key Concepts (2002: 91), fansselalu diasumsikan sebagai ?canggung secara sosial dan kumpulan orang tidakberguna yang terbuai akan budaya populer, melalui sebuah media tertentu, dimanamenawarkan mereka kepuasan sintetis dan pelarian dari hidup mereka yangmenyedihkan.Stereotip tersebut salah satunya dapat dilihat dalam kehidupan di duniamaya. Mereka secara terang-terangan dapat menyatakan rasa cinta kepada idoladengan menggunakan fungsi mention pada Twitter dan ditujukan langsung keakun Twitter sang idola. Melalui dunia maya, mereka dapat dengan bebasmengungkapkan dan mencurahkan isi hati mereka kepada sesama fans K-popdengan posting pada blog maupun forum. Melalui dunia maya pula, fans K-popmelakukan sebuah aktivitas yang disebut dengan fangirling (berasal dari katafangirl. Fans lelaki disebut dengan sebutan fanboy. Fangirl dan fanboy seringdibedakan karena praktik tertentu yang mereka lakukan di dalam fandom. Namunpada dasarnya fans/penggemar/konsumen adalah sama) (Jenkins, 2007).Fangirling adalah sebutan yang digunakan untuk mendeskripsikankegembiraan berlebih atau bahkan ekstrim terhadap fandom tertentu. Internet telahmenjadi, bagi kebanyakan orang, sebuah sumber alternatif untuk informasi danhiburan, pada tingkat suatu bentuk media yang lebih ?mapan? ketimbang televisidan media cetak (Rayner, Wall, Kruger, 2004: 104). Mereka sering menghabiskanwaktunya di depan komputer selama berjam-jam untuk berdiskusi mengenai objekkesenangan mereka hingga ke perilaku obesesif yang berlebihan yaitu stalking(istilah yang digunakan untuk mengacu pada perhatian obsesif yang tidakdiinginkan oleh seorang individu atau grup yang dilakukan oleh orang tertentu.Perilaku stalking sering dikaitkan dengan pelecehan dan intimidasi termasukmengikuti sang korban ke mana pun ia pergi dan memonitor segala perilakunya(http://www.thehistoryofastalker.com/stalkers-psychological-file).Melalui media seperti TV, dan terutama internet pula, fans K-pop dapatmemenuhi rasa ?rindu? mereka. Mereka mengunduh video klip dan berbagaimacam variety show yang dibintangi idola mereka, mereka bertukar informasi dangossip terbaru melalui fanboard maupun bentuk media internet lainnya. Hal inibagi mereka adalah sebuah forum untuk mengekpresikan keluhan mereka, berbagiinformasi, dan mengesahkan identitas mereka sebagai fans (Rayner, Wall, Kruger,2004: 147).Bagi mereka fandom K-pop adalah sesuatu yang besar. Mereka memilikinama masing-masing, warna tertentu yang menunjukkan identitas mereka (warnabiru safir bagi fan Super Junior, warna merah untuk penggemar DBSK, dan lainlain),dan bahkan diakui secara resmi oleh label atau manajemen yang menaungiidola kesayangan mereka. Fandom K-pop telah berfungsi hampir menyerupaisebuah cult di mana penggemar yang terdapat di dalamnya seakan-akan telahdihipnotis untuk selalu memuja idola mereka selayaknya seorang dewa.Menurut Joli Jenson (dalam Storey, 2006:158), literatur mengenai kelompokpenggemar dihantui oleh citra penyimpangan. Penggemar selalu dicirikan sebagaisuatu kefanatikan yang potensial. Hal ini berarti bahwa kelompok penggemardilihat sebagai perilaku yang berlebihan dan berdekatan dengan kegilaan. Jensonmenunjukkan dua tipe khas patologi penggemar, ?individu yang terobsesi?(biasanya laki-laki) dan ?kerumunan histeris? (biasanya perempuan).Para penggemar ditampilkan sebagai salah satu liyan yang berbahaya dalamkehidupan modern. ?Kita? ini waras dan terhormat; ?mereka? itu terobsesi danhisteris. Penggemar dipahami sebagai korban-korban pasif dan patologis mediamassa. Penggemar tidak bisa menciptakan jarak di antara dirinya dan objekkesenangannya.Para khalayak pop dikatakan memamerkan kesenangan mereka hinggamenimbulkan ekses emosional, sementara budaya resmi dan budaya dominansenantiasa mampu memelihara jarak dan kontrol estetik yang terhormat.Kelompok penggemar itu disebut-sebut hanya melakukan aktivitas kulturalkhalayak pop, sementara kelompok-kelompok dominan dikatakan memiliki minat,selera dan preferensi kultural. Hal ini diperkuat oleh objek-objek kekaguman.Budaya resmi atau dominan menghasilkan apresiasi estetik; kelompok penggemarhanya pas untuk pelbagai teks dan praktik budaya pop.Fans K-pop juga dikenal selalu loyal terhadap idolanya. Mereka tak seganseganuntuk mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk membeli segala macampernak-pernik tentang idolanya. Mereka juga tidak sayang untuk mengeluarkankocek yang besar untuk membeli hingga sepuluh CD album, saat idolanya merilisalbum baru, agar idola mereka dapat memenangkan penghargaan di berbagaiajang penghargaan musik. Merchandise sendiri terkadang memiliki harga yangtidak masuk akal bagi kebanyakan orang, terutama di luar fandom K-pop.Tidak hanya konsumsi merchandise atau pernak-pernik yang berhubungandengan idolanya, penggemar K-pop tentu tidak bisa dilepaskan dari konsumsimenonton konser. Di Indonesia sendiri, Showmaxx, selaku promotor yangmendatangkan Super Junior untuk konser di Indonesia, sampai harusmemperpanjang jadwal konser yang bertajuk Super Junior World Tour: SuperShow 4, menjadi tiga hari. Sebuah situs berita K-pop online, dkpopnews,memberitakan bahwa 60% audiens yang hadir di perhelatan konser Super Junior(Super Show 3: Super Junior the 3rd Asia Tour) di Singapura adalah penontonIndonesia. Mereka bahkan menyelenggarakan sebuah project dengan memberikansepuluh medali emas yang dipesan khusus untuk para anggota Super Junior.Masing-masing medali seharga sekitar $ 442.77 (Lee, 2011).Tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa fandom K-pop telah berfungsihampir menyerupai sebuah cult di mana penggemar yang terdapat di dalamnyaseakan-akan telah dihipnotis untuk selalu memuja idola mereka selayaknyaseorang dewa. Obsesi mereka terhadap para idolanya sering dianggap berlebihandan melampaui batas.Casey (dalam Rayner, Wall, dan Kruger, 2004: 146) melihat bagaimana fansdalam representasinya seringkali ditolak dalam masyarakat. Casey menjelaskanbagaimana fans sering ditolak. Fans yang obsesif muncul karena telah ?diambil?oleh teks, dimana mereka (non-fans) tidak. Mereka (non-fans) mengkonstruksikanposisinya sebagai ?normal? di mana sangat bertolak belakang dengan perilakufans. ?Walaupun kita juga menikmati teks, ?mereka? sangat berbeda dengan?kita?.?Fans dan fandom sebagai salah satu area populer dalam studi mengenaiaudiens menjadi lebih layak dianalisis dalam studi kritikal ketika dalamperkembangannya, keberadaan fans telah dipengaruhi oleh teknologi dan media.Asumsi awal mengenai fans selalu dilihat sebagai mereka yang ?obsesif?, ?anorak?(seseorang yang memiliki ketertarikan yang kuat pada suatu hal, mungkin obsesifdan ketertarikan tersebut tidak dapat dipahami oleh orang lain; british slang,Oxford Dictionaries tahun 2012), dan ?aneh?, yang ketertarikan obsesinya adalahpada sebuah objek budaya tertentu sebagai ?tameng? untuk mengejarkecanggungan atas kehidupan sosial mereka.Dewasa ini, representasi fandom telah mengalami perubahan. Jenkins (dalamRayner, Wall, Kruger, 2004: 147) mendeskripsikan bahwa fandom adalah sesuatuyang positif dan memberdayakan. Fandom adalah salah satu cara di manakhalayak dapat menjadi aktif dan berpartisipasi dalam mengkreasikan makna darisebuah teks dalam media.Penelitian ini akan berfokus pada bagaimana fans K-pop sebagai audiensmedia mengonsumsi dan memaknai teks di dalam media terkait dengan perilakufanatisme di dalam fandom yang mereka ikuti. Lebih lanjut, penelitian ini jugaakan membahas mengenai perilaku produksi yang dilakukan oleh penggemarsebagai hasil dari aktivitas konsumsi dan pemaknaan yang mereka lakukan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku penggemar K-pop, berkaitandengan motif yang mendorong mereka untuk melakukan aktivitas konsumsiadalah motif yang didasari oleh motif kepuasan. Konsumsi yang mereka lakukandidasari oleh keinginan mereka sendiri akan perasaan puas yang timbulsetelahnya. Kecintaan mereka terhadap idola menghapuskan rasa sayang untukmenghabiskan waktu dan biaya yang tidak sedikit bagi kegiatan kegemaranmereka. Konsumsi yang mereka lakukan bukanlah diukur dari berapa banyakwaktu maupun biaya yang mereka keluarkan atau pun bagaimana lingkungansosial menilai mereka. Konsumsi yang mereka lakukan lebih berbicara mengenaikenikmatan yang dicapai sebagai pelampiasan akan hasrat atau perasaan rinduyang terpendam terhadap sang idola. Perilaku konsumsi yang dilakukan olehpenggemar K-pop umumnya meliputi mengunduh video, membeli merchandise,dan menonton konser. Video yang mereka unduh adalah video-video berupa videoklip, potongan-potongan scene, hingga video variety show. Sedangkan mengenaikonsumsi merchandise dapat bermacam-macam bentuknya seperti CD, kaos,photo book, dan light stick. Aktivitas menonton konser adalah aktivitas yangpaling ditunggu-tunggu. Hal ini disebabkan oleh satu tujuan utama yang samayaitu untuk bertatap muka langsung dengan idola.Selain itu, penggemar K-pop tidak hanya melakukan konsumsi, merekasenantiasa juga melakukan pemaknaan terhadap teks di media. Ketika merekamengonsumsi, mereka memaknai. Pemaknaan yang dilakukan oleh penggemartidak hanya dilakukan berdasarkan pengalaman mereka secara individu namunjuga secara kolektif, misalnya ketika sedang berada di dalam kelompok ataukomunitas penggemar. Perilaku pemaknaan secara kolektif ini, salah satunyadapat dilihat dengan seberapa sering penggemar saling berdiskusi, bertukarinformasi atau berdebat mengenai pengetahuan objektif yang tidak diketahui olehorang awam.Penggemar, selain melakukan aktivitas konsumsi, ternyata juga melakukanaktivitas produksi kreatif sebagai bentuk fanatisme. Aktivitas produksi adalahefek yang timbul dari kegiatan mengonsumsi teks di media secara terus-menerus.Serupa dengan motif penggemar dalam mengonsumsi, motif produksi teks budayayang dilakukan oleh penggemar K-pop juga didasari atas pemenuhan kebutuhanafeksi dan emosi mereka. Selain untuk mencapai kepuasan (satisfaction), produksiteks juga dilakukan untuk memenuhi kebutuhan mereka sebagai manusia sosial,yaitu kebutuhan akan penghargaan dan kebutuhan untuk mencari identitas sertakebutuhan akan pemenuhan diri. Contoh produksi yang dilakukan oleh penggemarK-pop adalah fan fiction dan fan art. Hasil produksi ini kemudian akan diunggahke media (internet) untuk kemudian dishare dengan sesama penggemar. Tidakhanya sampai di situ, penggemar lainnya yang turut mengonsumsi produksitersebut juga ditemukan memberikan feedback bagi si produser; seperti misalnyameninggalkan komentar atau kritik yang membangun.Media yang telah menjadi sebuah wadah utama bagi mayoritas penggemarK-pop adalah internet. Selain membantu mereka dalam kegiatan kegemaran(fangirling), internet juga membantu mereka dalam berkomunikasi serta bertukarinformasi dengan sesama penggemar lainnya di dunia maya walau belum pernahdilakukan tatap muka di antara keduanya. Penggemar K-pop biasanya memilikiforum-forum khusus yang memungkinkan mereka untuk melakukan sharingsecara beramai-ramai. Forum-forum ini umumnya adalah situs yang dibuat olehpenggemar dan diperuntukkan bagi penggemar pula. Tidak hanya melalui forum,tetapi situs-situs jejaring sosial seperti twitter dan tumblr juga memudahkanmereka dalam melakukan kegiatan fangirling. Melalui forum/jejaring sosialmereka bisa membicarakan berbagai macam hal, dari mulai video klip yang barukeluar hingga gaya rambut sang idola yang terus berganti-ganti.DAFTAR PUSTAKAAnda, Atri, et. Al. 2012. Jalan-Jalan K-pop. Jakarta: Gagas Media.Casey, Bernadette, et. Al. 2008. Television Studies: The Key Concepts, SecondEdition. Oxon: Routledge.Cheonsa, Choi. 2011. Hallyu: Korean Wave. Klaten: Cable Book.Engel, James F, Roger .D Blackwell, dan Paul W. 1995. Perilaku Konsumen.Jakarta: Binarupa Aksara.Featherstone, Mike. 2007. Consumer Culture and Postmodernism Second Edition.London: SAGE Publications Ltd.Friedman, Jonathan. 2005. Consumption and Identity. Singapore: HarwoodAcademic Publishers.Genosko, Gary. 1994. Baudrillard and Signs: Signification Ablaze. London:Routledge.Gray, Jonathan, Cornel Sandvoss, dan C. Lee Harrington (ed.). 2007. Fandom:Identities and Communities in A Mediated World. New York & London:New York University Press.Hellekson, Karen, dan Kristina Busse (ed.). 2006. Fan Fictions and FanCommunities in the Age of the Internet. Jefferson: McFarland & Company,Inc.Hills, Matt. 2002. Fan Cultures. London: Routledge.Jenkins, Henry. 1992. Textual Poachers: Television Fans and ParticipatoryCulture. New York & London: Routledge.Kelly, William. W (ed.). 2004. Fanning the Flames: Fans and Consumer Culturein Contemporary Japan. Albany: State University of New York Press.Korean Culture and Information Service. 2011. Contemporary Korea No. 1 TheKorean Wave: A New Pop Culture Phenomenon. Seoul: Koreean Cultureand Information Service Ministry of Culture, Sports and Tourism.Kuswarno, Engkus. 2009. Metodologi Penelitian Komunikasi Fenomenologi:Konsepsi, Pedoman, dan Contoh Penelitiannya. Bandung: WidyaPadjadjaran.Mackay, Hugh (ed.). 1997. Consumption and Everyday Life. London: SagePublications Ltd.Moran, Dermot. 2000. Introduction to Phenomenology. London: Routledge.Neuman, Lawrence W. 2007. Basics of Social Rasearch: Qualitative andQuantitative Approaches Second Edition. Boston: Pearson Education Inc.Rakhmat, Jalaluddin. 2001. Psikologi Komunikasi. Bandung: Rosda.Rayner, Philip, Peter Wall dan Stephen Kruger. 2004. Media Studies: TheEssential Resource. London & New York: Routledge.Ritchie, Jane dan Jane Lewis. 2003. Qualitative Research Practice: A Guide forSocial Science Students and Researchers. London: SAGE Publications.Rusbiantoro, Dadang. 2008. Generasi MTV. Yogyakarta & Bandung: Jalasutra.Sastranegara, Arif. 2012. Boyband dan Girlband Korea: 21 Grupband KoreaSuper Populer. Surabaya: Citra Publishing.Schacht, Richard. 2005. Alienasi: Pengantar Paling Komprehensif.Jakarta: Jalasutra.Storey, John. 2006. Pengantar Komprehensif, Teori, dan Metode: CulturalStudies dan Kajian Budaya Pop. Yogyakarta: Jalasutra.Storey, John. 2009. Fifth Edition Cultural Theory and Popular Culture: AnIntroduction. Harlow: Pearson Education Ltd.Yuanita, Sari. 2012. Korean Wave: Dari K-Pop Hingga Tampil Gaya Ala Korea.Yogyakarta: IdeaTerra Media Pustaka.Referensi SkripsiPujarama, Widya (2008). Kisah Harry Potter yang Menjadi Mitos: Studi Etnografiterhadap Penggemar Kisah Harry Potter dalam Situswww.harrypotterindonesia.com. Skripsi. Universitas Brawijaya.Qisthina (2010). Budaya Penggemar Musik Pop Korea (Studi Pada PolaKonsumsi dan Produksi ELF Super Junior di Kalangan Pelajar KotaMalang). Skripsi. Universitas Brawijaya.Sandika, Edria (2010). Dinamika Konsumsi dan Budaya Penggemar KomunitasTokusatsu Indonesia. Tesis. Universitas Indonesia.Referensi InternetCerojano, Teresa. (2011). K-pop?s Slick Productions Win Fans Across Asia.dalam http://lifestyle.inquirer.net/14895/k-pops-slick-productions-winfans-across-asia. diakses tanggal 17 November pukul 17:45.Grossman, Lev. (2011). The Boy Who Lived Forever. dalamhttp://www.time.com/time/arts/article/0,8599,2081784-1,00.html. diaksestanggal 15 Januari 2013 pukul 21:00.Halim, Denny F. (2012). My Jakarta: Wina and Siska, K-pop Fans. dalamhttp://www.thejakartaglobe.com/myjakarta/my-jakarta-wina-and-siska-kpop-fans/504997. diakses tanggal 23 April 2012 pukul 23:15.Jenkins, Henry. (2007). Gender and Fan Culture (Round Fifteen, Part Two: BobRehak and Suzanne Scott. dalamhttp://henryjenkins.org/2007/09/gender_and_fan_culture_round_f_4.html.diakses tanggal 27 April 2012 pukul 24:00.Kamil, Ati. (2012). ?Gelombang Korea? Menerjang Dunia. dalamhttp://entertainment.kompas.com/read/2012/01/15/18035888/.Gelombang.Korea.Menerjang.Dunia. diakses tanggal 17 November 2012 pukul 23:00.Lee, Dajeong. (2011). 10 Gold Medals for Super Junior from Indonesian ELF.dalam http://www.dkpopnews.net/2011/01/photos-10-gold-medals-forsuper-junior.html. diakses tanggal 23 April 2012 pukul 21:00.Nopiyanti. (2012). Bens Leo: K-pop Penyelamat Musik Indonesia!. dalamhttp://www.tnol.co.id/film-musik/12710-bens-leo-k-pop-penyelamatmusik-indonesia.html. diakses tanggal 24 April 2012 pukul 20:10.Pasandaran, Camelia. (2012). ?Gangnam Style? Star Psy to Ride Into Jakarta.dalam http://www.thejakartaglobe.com/entertainment/gangnam-style-starpsy-to-ride-into-jakarta/553423. diakses tanggal 16 November 2012 pukul21:45.Subi. (2012). K-pop Merchandising: Exploiting the Consumer. dalamhttp://seoulbeats.com/2012/01/k-pop-merchandising-exploiting-theconsumer/.diakses tanggal 27 April 2012 pukul 23:45.Suwarna, Budi dan Frans Sartono. (2010). Super Korea, Super Tampang. dalamhttp://nasional.kompas.com/read/2010/12/12/03182533/. diakses tanggal16 November 2012 pukul 19:05.Third Jakarta Show Added For K-pop Band Super Junior. (2012). dalamhttp://www.thejakartaglobe.com/entertainment/third-jakarta-show-addedfor-k-pop-band-super-junior/512038. diakses tangal 23 April 2012 pukul22:00.Today?s K-pop Fan Groups: Too Obsessive?. (2011). dalamhttp://seoulbeats.com/2011/11/todays-k-pop-fan-groups-too-obsessive/.diakses tanggal 27 April 2012 pukul 22:00.Referensi Media CetakBurhanudin, Tony. (2012, Juli). Imitator Jepang yang Sukses. Marketing: 66-67.Burhanudin, Tony. (2012, Juli). K-pop Sebagai National Branding Bangsa Korea.Marketing: 58-59.Ladjar, Angelina M. (2012, Juli). Tidak Sembarang Artis K-pop. Marketing: 76-77.Mulyadi, Ivan. (2012, Juli). Samsung as Global Brand. Marketing: 74-75.Tanoso, Harry. (2012, Juli). Harga Sinetron Korea Jauh Lebih Murah dariSinetron Lokal. Marketing: 82-83.Purwaningsih, Ike dan Miftah N. (2012, Oktober 7). Korea Masih Bikin Kepincut.Suara Merdeka: 21.
PEMAKNAAN KHALAYAK TERHADAP ADEGAN AXE EFFECT DALAM IKLAN TELEVISI AXE Sri Gelar Mukti, Galih Arum; Santosa, Hedi Pudjo; Lukmantoro, Triyono; Nugroho, Adi
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Iklan, merupakan sarana komunikasi yang digunakan untuk mempromosikan suatu produk atau jasa. Produk wewangian Axe yang ditujukan untuk konsumen laki-laki, selalu lebih menonjolkan sosok perempuan ketimbang laki-laki itu sendiri dalam iklan-iklannya. Perempuan-perempuan tersebut menjadi obyek yang terkena pengaruh Axe Effect dan berubah tingkah lakunya menjadi agresif untuk mendekati tokoh laki-laki.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui interpretasi khalayak terhadap adegan AxeEffect dalam iklan televisi Axe. Untuk itu, penelitian ini juga mendeskripsikan mengenai sosok laki-laki dan perempuan yang menjadi pemeran adegan Axe Effect, serta dimensi jender yang menyertainya. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis resepsi untuk memahami bahwa pengalaman dan latar belakang sosial dapat berperan dalam terciptanya makna yang berbeda-beda mengenai suatu adegan atau tayangan iklan. Usia dan jenis kelamin juga sangat mempengaruhi pemaknaan. Khalayak yang merupakan keluarga, dapat terlibat pula dalam perdebatan atas penilaiannya masing-masing saat menyaksikan suatu teks media (dalam hal ini tayangan iklan Axe) secara bersama-sama.Hasil penelitian menunjukkan khalayak memaknai adegan Axe Effect sebagai suatu adegan yang sangat berlebihan dan tidak mungkin terjadi dalam kehidupan nyata. Visualisasi laki-laki dan perempuan dalam adegan Axe effect juga seolah bertukar menurut enam dimensi infantalisasi simbolik. Sosok laki-laki dinilai cukup normal, meskipun terlalu pasif. Sosok perempuan dinilai terlalu agresif sehingga menimbulkan kesan negatif, oleh karena itu ada kekurangsetujuan iklan tersebut tampil di media massa. Meskipun begitu, maskulinitas tetap melekat pada sosok laki-laki, dan femininitas pada sosok perempuan. Karena iklan memang selalu dirancang untuk terciptanya jarak dari kenyataan, maka penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran untuk memahami sisi kreatif, penokohan, dan fungsi dari sebuah tayangan iklan. Khalayak tidak hanya harus sekedar mulai aktif memaknai, namun juga mengkritisi pesan iklan secara cerdas.Kata kunci : Resepsi, Interpretasi, Iklan, Jender, Axe effect
PROSES GATEKEEPING MAJALAH TEMPO TERHADAP CITRA JOKOWI Nabilla, Ayu; Lukmantoro, Triyono; Santosa, Hedi Pudjo; Gono, Joyo NS
Interaksi Online Vol 4, No 1: Januari 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini diawali dari ketertarikan penulis pada pemberitaan Tempo yang mengkritik berbagai kebijakan Joko Widodo, atau biasa disebut Jokowi, setelah ia terpilih sebagai presiden di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014. Padahal, saat Pilpres 2014 berlangsung, dengan jelas Tempo mendukung Jokowi. Citra Jokowi yang semula positif, khususnya saat kampanye Pilpres 2014 berlangsung, berubah setelah Jokowi berstatus sebagai presiden dalam pemberitaan Tempo.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kenapa dan bagaimana kebijakan redaksi Tempo dalam menghasilkan perubahan citra Jokowi di kedua periode tersebut. Penulis menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teori gatekeeping khususnya level organisasi, nilai berita, dan mediatization untuk menjelaskan proses produksi dan kebijakan redaksi. Untuk mengetahui proses itu, penulis melakukan wawancara dengan 2 (dua) narasumber dari Tempo, wartawan dan redaktur yang menulis berita Jokowi, dan 2 (dua) narasumber mantan wartawan Tempo.Hasil dari penelitian ini menunjukkan kebijakan redaksi Majalah Tempo yang menghasilkan perubahan citra Jokowi saat Pilpres dan saat menjadi presiden didasari rasa kewajiban untuk melindungi jalannya demokrasi di Indonesia. Tempo memilih pro Jokowi ketika Pilpres 2014 karena lawannya, Prabowo Subianto, diduga terlibat kasus pelanggaran HAM dan tidak sesuai dengan karakter pemimpin yang Tempo miliki. Tempo meyakini yang terbaik bagi demokrasi Indonesia adalah dengan memilih Jokowi, yang lebih masuk akal dipilih sebagai pemimpin, dibanding Prabowo. Setelah Jokowi terpilih menjadi presiden, Tempo berperan kembali sebagai pers yang mengoreksi pemerintah jika salah langkah, sebagai realisasi bentuk fungsi kontrol sosial.Proses gatekeeping level organisasi Tempo cenderung dipengaruhi oleh tujuan Tempo yang menjunjung tinggi fungsi dan kontribusi pers di masyarakat. Proses itu tidak dipengaruhi dikte pemilik media, diasumsikan karena saham Tempo dimiliki oleh banyak pihak. Nilai berita merupakan faktor penting dalam kebijakan redaksi Tempo dalam pemberitaan Jokowi, tapi verifikasi, konfirmasi, dan klarifikasi lebih diutamakan. Kebijakan redaksi Tempo tersebut tidak didasari kepentingan ekonomi seperti pasar dan iklan, juga bukan karena marketing politik.
REPRESENTASI SOSOK ANAK-ANAK PEDALAMAN PAPUA DALAM FILM DENIAS, SENANDUNG DI ATAS AWAN Rato R, Daeng Lanta Mutiara; Lukmantoro, Triyono; Hasfi, Nurul
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Representasi Sosok Anak-Anak Pedalaman Papua dalam Film Denias,Senandung di Atas AwanJUDUL : Representasi Sosok Anak-Anak Pedalaman Papuadalam Film Denias, Senandung di Atas AwanNAMA : Daeng Lanta Mutiara Rato RasanaeNIM : 14030110151029ABSTRAKFilm adalah media populer yang digunakan tidak hanya untuk menyampaikanpesan-pesan, tetapi juga menyalurkan pandangan-pandangan kepada khalayak.Perkembangan film Indonesia menjadikan para pembuat film semakin kreatifmengangkat tema dan subjek film, salah satunya tentang anak-anak pedalaman.Ini yang membuat Alenia Pictures memproduksi Denias, Senandung di AtasAwan. Film ini menjadi tema segar di tengah sedikitnya film anak-anak nasional,yang semuanya berlatar kota metropolitan. Film yang diproduksi tahun 2006 inimenceritakan perjuangan anak-anak pedalaman Papua mengejar pendidikan.Tujuan penelitian ini adalah mengetahui representasi sosok anak-anakpedalaman Papua. Dengan tipe penelitian kualitatif, penelitian menggunakananalisis semiotika. Teknik analisis data menggunakan konsep Kode-Kode Televisiyang dikemukakan John Fiske. Analisis dilakukan dengan tiga level, yakni levelrealitas, level representasi, dan level ideologi. Level realitas dan level representasidianalisis secara sintagmatik, sedangkan analisis secara paradigmatik untuk levelideologi.Hasil penelitian menemukan bahwa anak-anak pedalaman Papuadigambarkan sebagai Other, seperti halnya stereotip terhadap ras kulit hitam.Stereotip ini digambarkan primitif, miskin, bodoh, dan suka berkelahi. Sangatmungkin bagi pembuat film untuk mengonstruksi realitas agar dapatmenempatkan ideologi-ideologi. Di sini, pembuat film menggunakan anak-anaksebagai alat penyalur ideologi dominan. Pendidikan membuat peradaban danpemikiran anak-anak pedalaman lebih modern. Film ini juga menonjolkan sisinasionalis seorang anak pedalaman Papua, serta menjunjung peran militer secarapositif. Konstruksi realitas dilakukan dengan menghilangkan fakta tentang konfliksosial politik di Papua. Selain berusaha mengajak penonton anak-anak semangatbersekolah, film ini juga menyiratkan makna yang kuat bahwa Papua adalahbagian dari wilayah Indonesia yang tidak boleh dipisahkan.Kata kunci: film, representasi, anak-anak, PapuaTITLE : Representation of Papua Inland Children Figure onDenias, Senandung di Atas AwanNAME : Daeng Lanta Mutiara Rato RasanaeNIM : 14030110151029ABSTRACTMovie is popular media that is used not only to convey messages, but also to leadideas to public. Indonesia movie development causes the movie makers gettingcreative in raising movie themes and subjects, one of them is about the inlandchildren. This is the reason why Alenia Pictures produced Denias, Senandung diAtas Awan. The movie becomes a fresh theme in the middle of some nationalchildren movies, which all are set in metropolitan cities. The movie was producedin the year 2006, tells about the Papua inland children who struggle to reacheducation.The research aims to determine the representation of Papua inland childrenfigure. With qualitative type, the research uses semiotics analysis. Data analysistechnique applies the concept of Television Codes put forward by John Fiske. Theanalysis is applied by three levels, namely reality level, representation level, andideology level. Reality and representation level are sintagmatically analyzed,whereas paradigmatically analyzed for ideology level.The final results of the research find out that Papua inland children aredescribed as Other, just as the stereotypes of black race. The stereotypes aredescribed as primitive, poor, foolish, and fight a lot. It is very possible for moviemaker to construct reality so they can put down ideologies. Here, movie makeruse the children as a medium for dominant ideology. Education makes theircivilization and ideas get a little more modern. The movie also shows up theirnationalist side, and positively give a full respect for military role as well. Theconstruction of reality is attempted by missing the facts about social politicconflict in Papua. Beside attempting to invite the children audience to be schoolspirited,the movie implies a strong meaning that Papua is part of Indonesiaterritories that may not be separated.Keyword : movie, representation, children, PapuaPENDAHULUANMedia audio visual telah menjadi bentuk hiburan yang banyak digunakankhalayak, salah satunya film. Selain berfungsi menghibur, film diproduksi sebagaipenyalur pesan dari pembuat film kepada khalayak. Dalam perkembangan filmIndonesia pada kurun dekade terakhir, pembuat film semakin kreatifmengeksplorasi tema-tema baru. Tak hanya menyampaikan pesan, pembuat filmpun meletakkan ideologi-ideologi. Tujuannya selain agar penonton menerimapesan yang dimaksud, juga agar ideologi-ideologi tersebut terserap dan menempeldi benak penonton. Ini menjadikan film sebagai salah satu media komunikasimassa yang efektif.Pembuat film tentu menyadari benak penonton anak-anak dengan mudahmenyerap apa yang mereka lihat dan dengar. Namun, pembuat film juga perlumemilih tema yang sesuai dan disukai anak-anak, yakni film yang mengandungpesan moral dan bertema petualangan. Menurut analisis Heru Effendy (2008: 28),kelompok remaja maupun anak adalah sasaran empuk bagi film-film denganmuatan pendidikan yang baik. Dari segi ekonomis, bisa dideskripsikan bahwalebih dari separuh penonton film Indonesia di bioskop saat ini adalah remaja. Disisi lain, jumlah anak-anak tidak sebanyak remaja, hingga film anak-anak yangdiproduksi tidak sampai 5% dari total produksi film Indonesia.Rumah produksi Alenia Pictures menemukan celah baru yang selama inibelum dirambah film lain. Film Denias, Senandung di Atas Awan menjadi debutAlenia sekaligus film anak-anak pertama yang menyorot kehidupan di pedalamanPapua.Film Indonesia tampaknya masih berkiblat pada perfilman Hollywood, dimana kehidupan pedalaman ditampilkan secara kurang beradab atau masihprimitif. Terlebih pada ras kulit hitam, secara global mereka ditampilkan sebagaisosok yang identik dengan kekerasan, bodoh, miskin, dan primitif. Tak jauhberbeda dengan film tentang pedalaman Papua, pembuat film masihmengadopsi?walau walau tak seesktrem?stereotip-stereotip kulit hitamHollywood tersebut.Adalah kewenangan pembuat film untuk membentuk seperti apa realitas dilayar, terlepas dari sesuai tidaknya dengan dunia nyata. Demikian juga dalam filmDenias, Senandung di Atas Awan, menceritakan keinginan anak-anak pedalamanuntuk belajar, meski hanya di sekolah darurat yang berbentuk Honai sederhana.Denias dan teman-temannya diceritakan sangat akrab dengan seorang TNI-AD,dikenal dengan nama Maleo, yang bertugas di desanya.Namun tak dapat dipungkiri, sebagai daerah yang sedang mengalamikonflik, Papua ada dalam pengawasan TNI. Menurut laporan Human RightsWatch (HRW) pada 2007, wilayah pegunungan/dataran tinggi Papua telah lamamenjadi wilayah konfrontasi antara militer dan polisi Indonesia dengan sel-selkecil Organisasi Papua Merdeka (OPM), sebuah organisasi politik bawah tanahyang didirikan sejak tahun 1965. Organisasi rahasia ini telah berulang kalimelakukan serangan terhadap instalasi militer Indonesia, sementara militerIndonesia dengan gencar melakukan sweeping hingga ke daerah-daerah palingterpencil untuk memberantas kaum yang disebut pemberontak ini. Sweeping yangdilakukan Tentara Nasional Indonesia (TNI) tidak jarang disertai penjarahan,perusakan barang milik penduduk setempat bahkan tindak kekerasan hinggapemerkosaan dan pembunuhan terhadap rakyat sipil. Menurut laporan terbaruHRW, pengawasan militer untuk daerah dataran tinggi Papua jauh lebih intensifdari daerah-daerah lain di Papua(http://pravdakino.multiply.com/journal/item/24?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem diakses 4 Juli 2012).Mengesampingkan fakta-fakta tentang perlakuan kekerasan TNI di tanahPapua terhadap rakyat sipil, dalam Denias, Senandung di Atas Awan, sosok TNIADyang dipanggil Maleo (diperankan Ari Sihasale) justru sangat akrab dengananak-anak. Maleo merupakan salah satu tokoh panutan Denias yang mengantarsemangatnya mengejar mimpi ke sekolah fasilitas di kota.Di balik kesuksesan Denias, Senandung di Atas Awan menyentuh emosipenonton dalam kegigihan Denias untuk menuntut ilmu, film ini justrumenempatkan?tak hanya orang dewasa Papua seperti film-film sebelumnya,tetapi juga?anak-anak dalam ke-inferioritas-an. Alenia Pictures nampaknyaberhasil menggambarkan keoptimisan seorang anak meraih pendidikan sembarimenjual keibaan terhadap anak-anak Papua itu sendiri. Yang artinya, realitas yangdiadaptasi dari film ini berhasil dikonstruksi sedemikian rupa sehinggamembelokkan stereotip-stereotip miring terhadap orang-orang Papua, menjadilebih beradab lewat sosok anak-anak yang mengejar pendidikan. Namun tetap,terpinggirkan dan inferior bahkan di kampung halamannya sendiri.Berdasarkan sosok orang Papua yang ditampilkan sacara tidak mengancamseperti ini, maka penelitian merumuskan permasalahan tentang representasi sosokanak-anak pedalaman Papua dalam film Denias, Senandung di Atas Awan.ISIPenelitian ini menggunakan tipe deskriptif kualitatif dengan analisis semiotika,yakni menganalisis teks media sebagai suatu kesatuan struktur untuk melihat danmembaca makna yang terkandung di balik teks. Untuk meneliti respresentasisendiri menggunakan tanda (gambar, bunyi dan lain-lain) untuk menghubungkan,menggambarkan, memotret, atau mereproduksi sesuatu yang dilihat, diindera,dibayangkan, atau dirasakan dalam bentuk fisik tertentu (Danesi, 2010: 24).Data yang diperoleh untuk melakukan penelitian ini berdasarkanpengamatan dan pengkajian pada film Denias, Senandung di Atas Awan, denganteknik analisis kode-kode televisi John Fiske. Kode-kode ini meliputi tiga level,yakni level realitas, level representasi, dan level ideologi. Analisis ketiga leveltersebut lebih lanjut akan mengungkapkan bagaimana pembuat filmmerepresentasikan sosok anak-anak pedalaman Papua melalui tanda-tanda,bagaimana realitas dikonstruksi untuk mencapai makna yang mengandungideologi pembuat film.Memahami bagaimana media (termasuk film) merepresentasikan realitas,Croteau dan Hoynes (2000: 214) menjelaskan dalam tiga gagasan. Pertama,representasi bukanlah realitas. Ada proses seleksi di mana terdapat aspek-aspekyang ditonjolkan atau diabaikan. Kedua, media tidak merefleksikan dunia nyata.Disebabkan keterbatasan waktu, sumber daya, atau alasan lain yang tidakmemungkinkan. Ketiga, penggunaan kata nyata. Dalam perspektif konstruksionis,adanya pembingkaian isu menyebabkan representasi realitas tidak pernah benarbenarnyata.Bagi penonton anak-anak yang terbiasa dengan pemandangan kotametropolitan, film ini memiliki daya tarik sendiri. Pembuat film sengajamengenalkan Papua dari pemandangan etnografi yang indah dan eksotis,ditambah dengan budaya dan penampilan fisik orang Papua yang berbeda darikita. Perbedaan yang ditonjolkan ini seperti perulangan dari stereotip kulit hitamyang biasa dilihat di film Hollywood, yang oleh Donald Bogle dalam Hall (1997:251) disebut sebagai Other. Dari lima tipe stereotip yakni Tom, Coon, Mullato,Mammies, dan Bad Bucks, dua diantaranya terdapat di film ini. Sosok Denias yanglugu jelas dikategorikan pada tipe Tom. Karakternya adalah anak baik hati danpatuh, sering dianiaya Noel, tidak pernah melawan orang kulit putih(direpresentasikan pada sosok Maleo, Pak Guru, Ibu Gembala, dan Angel), gigihnamun pasrah ketika menyadari usahanya tidak membuahkan hasil. Karakter inicukup berhasil diperankan dengan baik oleh Albert Fakdawer hingga film inimendapat banyak pujian karena sukses menarik simpati penonton. Tapisebaliknya, karakter Noel yang suka berbuat onar mendekati tipe Bad Bucks.Meskipun di akhir cerita, anak nakal ini kapok dan menjadi anak baik sepertiDenias.Pengamatan menemukan bahwa pembuat film dekat dengan pemikirandominan bahwa Papua masih inferior. Tampak dari bagaimana realitas yangdirepresentasikan masih terkait dengan stereotip tentang Papua. Stereotip terkaitdengan pandangan atau judgment atas identitas, baik kondisi fisik, jender, ras,maupun politik. Sederhananya, menurut Richard Dyer (dalam Hall 1997: 257),stereotip didefenisikan sebagai karakteristik yang simpel, gamblang, dapat diingat,mudah diserap, umum dikenal tentang seseorang atau kelompok tertentu.Meskipun melalui karakter polos anak-anak, kepedalaman mereka ditonjolkandengan budaya dan adat yang primitif. Hal utama yang mudah ditangkap sebagaisisi primitif di film Denias, Senandung di Atas Awan tampak menonjol dalampenampilan fisik sebagai penanda tubuh. Bahkan kamera sering mengambilgambar penampilan ini secara close up. Penduduk lokal di latar pedalamantampak menonjol dengan kulit hitam dan penampilannya yang hampir telanjangkarena hanya berpakaian untuk menutupi alat kelaminnya saja. Pakaian ini berupakoteka pada laki-laki, dan sadli pada perempuan. Semuanya bertelanjang dada.Perbedaan dalam merepresentasikan tubuh ini menjadi bukti nyata akan perbedaanras. Ras dianggap sebagai fakta sosial, sebuah bukti diri atas identitas dan karaktermanusia. Di sisi lain, pembuat film memperhatikan sisi estetika berpakaian yangmenyesuaikan budaya kota, yaitu dengan memperlihatkan pakaian menutup auratpada tokoh-tokoh utama film. Selain itu, kehidupan pedalaman Papua yang miskinjuga ditampilkan di film ini. Diceritakan dari hambatan Denias dan Enos masuksekolah fasilitas di kota karena mereka bukan anak siapa-siapa.Kurangnya akses pendidikan di pedalaman direpresentasikan pada sosokanak-anak yang terkesan bodoh karena kepolosannya. Namun di dalam film,kesan bodoh ini justru dijadikan bahan lelucon untuk penonton. Bahkan Deniasyang tergolong paling cerdas di antara teman-teman desanya tidak bisamembedakan sapi, anjing, dan babi, serta tidak bisa menyusun peta Indonesiadengan benar. Sementara itu, stereotip keras pada watak orang Papua pundirepresentasikan pada anak-anak pedalaman ini. Denias dan Noel diceritakanbermusuhan dan mudah terpancing emosi yang berbuntut adu fisik. Teman-temanmereka, bukannya melerai, justru menonton perkelahian mereka dengan senang.Sedangkan secara tersirat, pembuat film memasukkan ideologi ataupandangan dominan. Lewat sosok anak-anak penuh semangat sekolah yangdisajikan di film Denias, Senandung di Atas Awan, Papua terlihat sangat damai.Namun di sinilah ideologi diletakkan, dan dikonstruksi melalui representasi,hingga memunculkan makna baru bagi penonton. Fiske (1987: 11) menyatakankita ini telah menjadi generasi pembaca yang dikonstruksi oleh teks, bahkanmenurut Althusser (1971), konstruksi subjek-dalam-ideologi merupakan praktikideologi utama pada masyarakat kapitalis, yang kemudian disebut ideologidominan. Ini mengapa banyak penonton simpati dengan film ini, karena maknadari pesan pembuat film tersalurkan.Adanya tokoh Maleo, Ibu Gembala, dan Pak Guru menjadi tandaberlakunya ideologi dominan di film ini. Ketiganya tokoh penting bagi hidupDenias, ketiganya pula diceritakan berasal dari Jawa. Di sini pembuat filmmemposisikan Jawa sebagai role model bagi anak-anak pedalaman Papua.Terdapat oposisi biner antara pemikiran anak-anak dan orang dewasa dipedalaman Papua tentang Jawa. Pemikiran anak-anak pedalaman Papua sudahlebih terbuka, maju, dan modern dibanding para orang tua yang kolot. Deniasmemandang belajar di sekolah adalah sebuah keharusan. Denias dan temantemannyabahkan mendambakan seragam merah-putih agar bisa seperti anak-anaksekolah di Jawa. Sementara ayah Denias, Samuel, dan kepala suku berkerasmenilai belajar adalah kewajiban anak-anak di Jawa, tak perlu diterapkan dipedalaman Papua. Ideologi yang disampaikan dalam film ini adalah pandanganmodernisme, yaitu dengan menyetarakan Papua dengan Jawa, tetapi tetapmerendahkan Papua dengan stereotip-stereotip atas Other yang mengacu padarasisme.Ada pun bagi penonton dewasa yang sedikit banyak mengertikompleksnya konflik yang terjadi di Papua, representasi ke-Indonesia-an yang adadi film ini jelas sebuah konstruksi yang berlebihan. Namun bagi penonton anakanak,yang dalam pelajaran di sekolahnya dipatenkan bahwa Papua, yang dulubernama Irian Jaya ini, adalah bagian dari Republik Indonesia, representasinasionalisme di film ini tidak mengada-ada. Berdasarkan argumen Ernest Gellnerdan Hobsbawn dalam Billig (2002: 19), nasionalisme sangat terkait dengankonsep negara-bangsa, yang mana di kondisi ini prinsip politik terlihat alami.Lingkup negara-bangsa adalah segala bentuk karakter dasar tentang modernitas.Sementara sejarawan Watson dan Johnson menyebut munculnya rasa patriotismedan loyalitas. Begitu nasionalisnya seorang Denias, bocah ini hormat di hadapanpeta Indonesia dari kertas karton meski dengan susunan pulau yang salah. Deniasjuga menyanyikan reffrain lagu Indonesia Raya dengan baik, walaupun denganlafal yang keliru: Endonesa. Anak-anak pedalaman ini pun senang bukan kepalangsaat Maleo memberikan masing-masing seragam merah-putih.Dari Maleo pula anak-anak ini belajar tentang Indonesia. Peran Maleo difilm ini tidak menunjukkan fungsi seorang tentara yang bertugas, karenakeberadaannya di desa Denias lebih pada misi sosial. Satu-satunya identitastentara Maleo yang terlihat jelas hanya pada saat ia mengenakan seragamprofesinya dengan lengkap. Menengok beberapa pemikiran Louis Althusser(1969), ideologi diproduksi pada subjek, seperti halnya pemaknaan representasi.Pada masyarakat kapitalis, Althusser menjelaskan pendekatan konseptual peranideologi (Wayne, 2005: 88). Repressive State Apparatus (RSAs) atau AparatusNegara Represif dan Ideological State Apparatus (ISAs) yaitu Aparatus NegaraIdeologis. Kedua pendekatan ini bersama-sama menyokong kekuatan negarauntuk kelas penguasa, dan mempertahankan status quo.Fungsi militer yang ditugaskan di Papua antara lain mengawasi aktivitaswarga setempat. Dari pemberitaan media, kerap terjadi bentrokan antara militerdengan warga sipil. Bahkan berbagai bentuk penindasan hingga pembantaiandilakukan satuan militer, mengakibatkan penderitaan dan tekanan dialami wargasipil. Anak-anak pun menjadi sulit mendapat akses pendidikan karena ketatnyaoperasi militer dijalankan. Dari sini terlihat pendekatan pertama Althusser.Tentara berkuasa, menguasai negara.Anak-anak pedalaman Papua digunakan sebagai alat untuk mengangkatkekuatan militer di Papua, tapi dengan menyinggung sisi lembut seorang militer,yang selama ini identik keras. Jelas bahwa ideologi di sini adalah militerismepemerintah Indonesia, direpresentasikam dengan menjunjung tinggi sosok militersebagai aspek yang ditonjolkan. Dan mengabaikan aspek lainnya seperti apasesungguhnya fungsi militer di tanah Papua, karena dalam film sama sekali tidakditampilkan konflik nyata sedikit pun.PENUTUPFilm ini tidak hanya berusaha menekankan pentingnya pendidikan bagianak-anak, termasuk anak-anak pedalaman Papua. Tetapi juga menyajikankebudayaan Papua, memberi contoh bagaimana menjadi anak Indonesia, hinggamemperkenalkan sosok militer. Penelitian menemukan representasi sosok anakanakpedalaman Papua, juga ideologi-ideologi yang tersimpan di baliknya.a. Anak-anak pedalaman Papua dianggap sebagai Other, yang membedakanmereka dengan anak-anak kita. Perbedaan tidak hanya diperlihatkan dariwarna kulit, tetapi juga kebudayaan, ekonomi, intelektual, dan perilaku.Anak-anak pedalaman berkulit hitam ini direpresentasikan dengankebudayaan primitif, keluarga miskin, tidak pintar, dan suka berkelahi.Representasi atas ke-other-an ini menyiratkan pandangan tentang perbedaanras. Bahwa ras orang Papua masih dianggap lebih rendah dan tidak seberadabkita yang tinggal di Jawa, misalnya.b. Pemikiran anak-anak pedalaman Papua direpresentasikan sudah lebih majudengan menyadari pentingnya pendidikan. Semangat belajar dan menuntutilmu hingga ke kota merupakan bentuk kemajuan peradaban anak-anakpedalaman Papua. Di samping itu, semangat belajar Denias dan teman-temandidorong oleh orang-orang pendatang dari Jawa. Pembuat film memasukkanideologi modernisme, sebagai upaya menyetarakan peradaban Papua denganJawa.c. Pada sosok Denias, anak pedalaman Papua direpresentasikan sebagai pribadiyang nasionalis. Bentuk kecintaannya pada negara ditonjolkan lewatpenghormatan terhadap wilayah Indonesia, seragam sekolah merah-putih,lagu Indonesia Raya, dan upacara bendera. Dengan representasi ini, pembuatfilm mengambil jalan aman, yakni menghilangkan konflik sosial politik diPapua, dan meletakkan nasionalisme sebagai ideologi dominan. Untukmematenkan Papua sebagai wilayah yang tak terpisah dari Negara KesatuanRepublik Indonesia.d. Keseharian hidup anak-anak pedalaman Papua digambarkan tidak lepas dariperan militer. Film merepresentasikan anak-anak pedalaman Papua yangberteman baik dengan TNI-AD yang bertugas di wilayahnya. Keakraban diantara mereka membentuk pencitraan positif militer di Papua. Maka dalamrepresentasi ini terdapat ideologi militerisme, yang mana penontonmenangkap makna bahwa militer adalah pengayom rakyat Papua, berdedikasitinggi untuk misi sosial, antara lain mengusahakan pendidikan yang layakbagi anak-anak pedalaman Papua.DAFTAR PUSTAKABillig, Michael. 2002. Banal Nationalism. London: SAGE Publications.Croteau, David dan William Hoynes. 2000. Media Society: Industries, Images andAudiences. Thousand Oaks: Pine Forge Press.Danesi, Marcel. 2010. Pesan, Tanda, dan Makna. Yogyakarta: Jalasutra.Effendy, Heru. 2008. Industri Perfilman Indonesia: Sebuah Kajian. Jakarta:Erlangga.Fiske, John. 2001. Television Culture. New York: Routledge.Hall, Stuart. 1997. Representation: Cultural Representations and SignifyingPractices. London: SAGE Publications.Wayne, Mike (ed.). 2005. Understanding Film: Marxist Perspectives. London:Pluto Press.Sumber internet:Veronique. 2008. Problem Representasi dalam Film ?Denias, Senandung di AtasAwan?. Dalam http://pravdakino.multiply.com/journal/item/24?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem. Diakses pada 4 Juli 2012.
CLICKTIVISM SEBAGAI DRAMATURGI DI MEDIA SOSIAL Zakiyyah, Kuni; Santosa, Hedi Pudjo; Yulianto, Much; Lukmantoro, Triyono
Interaksi Online Vol 3, No 1: Januari 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Media sosial adalah salah satu medium online yang paling banyak digunakan saat ini dengan angka pengguna yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Media sosial dipercaya telah membawa bentuk baru dalam dunia komunikasi, termasuk sosiologi komunikasi. Di Indonesia dan beberapa negara lainnya, penggunaan media sosial dalam sebuah aktivisme telah menjadi hal yang lumrah. Aktivisme suatu gerakan sosial menggunakan fitur-fitur yang terdapat dalam media sosial untuk mencari anggota/relawan dan mendukung penyebaran awareness dari gerakan agar menyebar luas (viral). Dengan tujuan tersebut, aktivisme dalam suatu gerakan sosial rentan berubah menjadi clicktivism, yaitu kemauan untuk menunjukkan kepedulian dari suatu gerakan sosial melalui aktivitas di dunia maya (click), tetapi tidak diimbangi dengan pengorbanan yang berarti (action) dalam membuat suatu perubahan sosial di dunia nyata. Banyaknya clicktivism yang terjadi di media sosial seakan memberi peluang bagi pelaku (clicktivist) untuk memanfaatkan aktivitas tersebut sebagai upaya unjuk diri, seperti yang dijelaskan dalam konsep dramaturgi oleh Erving Goffman (1959). Penelitian bertujuan untuk mengetahui makna dan gagasan-gagasan clicktivist yang menjadikan clicktivism sebagai dramaturgi di media sosial. Penelitian ini menggunakan model penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan metode analisis semiotika oleh Roland Barthes (1957). Teknik pengumpulan data dilakukan dengan studi dokumentasi, yaitu dengan mengumpulkan beberapa post di media sosial tentang gerakan Ice Bucket Challenge pada Agustus 2014. Data kemudian diinterpretasi menggunakan konsep analisis mitos dalam studi semiotika Barthes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa clicktivist menggunakan aksi dalam gerakan Ice Bucket Challenge sebagai upaya untuk menampilkan diri, seperti yang dijelaskan Goffman dalam konsep dramaturgi. Clicktivist menggunakan front stage untuk mempercantik tampilan dirinya melalui aksi yang dilakukan, atau pakaian dan atribut yang dikenakan. Clicktivist juga menggunakan impression management agar dipersepsikan secara positif oleh penonton sesuai dengan gambaran/image ideal dirinya. Impression management ditunjukkan melalui pakaian/atribut yang dikenakan, juga dari dialog dan gesture yang ditampilkan clicktivist. Sedangkan back stage merupakan fakta-fakta yang terdapat dalam aksi Ice Bucket Challenge yang dilakukan clicktivist. Fakta ini seringkali tidak sesuai dengan apa yang diungkapkan clicktivist pada front stage-nya Kata kunci: media sosial, clicktivism, Ice Bucket Challenge, dramaturgi
REPRESENTASI TOLERANSI ANTARUMAT BERAGAMA DALAM FILM “?” Kholisha, Nilna Rifda; Nugroho, Adi; Lukmantoro, Triyono; Widagdo, M Bayu
Interaksi Online Vol 2, No 3: Agustus 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Film merupakan sebuah media yang mampu menghadirkan kembali gambaran realitas yang terjadi dalam masyarakat, meskipun tidak sepenuhnya realitas tersebut dapat digambarkan dalam film. Realitas dalam film merupakan realitas bentukan dari sang pembuat film. Film ??? berusaha merepresentasikan (menghadirkan kembali) gambaran mengenai toleransi antarumat beragama melalui simbol-simbol visual dan linguistik. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengungkap ideologi atau gagasan-gagasan lain yang ingin disampaikan dalam film ???.Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode analisis semiotika. Pendekatan ini mengungkapkan signifikansi dua tahap Roland Barthes pada berbagai teks yang ditampilkan dalam Film ???. Teknik analisis data dilakukan berdasarkan pada teori John Fiske, yakni ?The Codes of Television?. Film ??? diuraikan secara sintagmatik melalui analisis scene yang setiap aspeknya dijelaskan pada level realitas (reality) dan level representasi (representation). Selanjutnya level ideologi (ideology) dianalisis secara paradigmatik.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa film ??? menggambarkan tentang hubungan antarumat beragama dengan didasarkan pada sikap toleransi antarumat beragama dalam beberapa scene melalui kode-kode ideologis yang direpresentasikan dalam shot-shot dan dialog-dialog dari para tokoh. Penggambaran secara visual dan suara melalui analisis sintagmatik mendukung terciptanya kesan dramatis di dalam film. Sedangkan berdasarkan analisis paradigmatik penggambaran sikap umat beragama yang berusaha menghayati dan mengamalkan ajaran agamanya masing-masing berdasarkan toleransi antarumat beragama ditampilkan dalam film ???. Hal tersebut mewujudkan sikap yang mengandung nilai-nilai inklusivisme yang mewujud dari masing-masing tokoh yang berbeda agama. Sikap inklusivisme tersebut merupakan ideologi lain yang terdapat dalam film ???.Pada bagian akhir cerita digambarkan bahwa toleransi antarumat beragama merupakan solusi yang tepat di tengah pluralitas keagamaan yang terjadi dan dialami oleh masing-masing tokoh dalam film ???. Kerukunan antarumat beragama dan keharmonisan dalam hubungan antarumat beragama dapat tercipta sebagai akibat dari perwujudan sikap toleransi antarumat beragama dan perwujudan nilai-nilai inklusivisme yang ditampilkan oleh masing-masing tokoh dalam film ??? dengan berbagai karakter yang melekat di dalamnya.Kata Kunci : Representasi, toleransi, umat beragama
Co-Authors Ade Ayu Kartika Sari Rezki Adi Nugroho Aditya Gilang Gifari, Aditya Gilang Agus Naryoso Agus Toto Widyatmoko, Agus Toto Amalia Ayu Wulansari Arfianto Adi Nugroho, Arfianto Adi Astuti Dwi Wahyu Pertiwi Ayu Nabilla, Ayu Ayu Pramudhita Noorkartika Bayu Hastinoto Prawirodigdo Beta Fiftina Aryani Candra Sateria, Candra Choirul Ulil Albab, Choirul Ulil Citra Luckyta Lentera Gulita Daeng Lanta Mutiara Rato R Dheayu Jihan B.K., Dheayu Jihan Dian Kurniati Diandini Nata Pertiwi Dina Tasyalia Dachman, Dina Tasyalia Djoko Setiabudi Djoko Setyabudi Dwinda Harditya Eva Ratna Hari Putri Evie S. Ibrahim, Evie S. Fariza Khumaedi Fathimatul Muyassaroh, Fathimatul Febryana Dewi Nilasari Fitri Damayanti Fitriana Nur Indah S Frans Agung Prabowo, Frans Agung Fransiscus Anton Saputro, Fransiscus Anton Frieda Isyana Putri, Frieda Isyana Galih Arum Sri Gelar Mukti Handono Priambodo, Handono Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas S, Hapsari Dwiningtyas Hedi Pudjo Santosa Herusna Yoda Sumbara, Herusna Yoda Ika Adelia Iswari, Ika Adelia Ima Putri Siti Sekarini Intan Murni Handayani Joyo NS Gono Kevin Devanda Sudjarwo Kuni Zakiyyah Leidena Sekar Negari Lintang Ratri Rahmiaji Luthfi Fazar Ridho M Bayu Widagdo M Rofiuddin, M Marliana Nurjayanti Nasoetion Meivita Ika Nursanti Much Yulianto Much. Yulianto Muhammad Bayu widagdo Muhammad Rofiuddin Nailah Fitri Zulfan Niki Hapsari Fatimah Nilna Rifda Kholisha Novelia Irawan S Nur Aini Nur Fajriani Falah, Nur Fajriani Nurhanatiyas Mahardika Nurist Surayya Ulfa Nurist Surraya ulfa Nurrist Surayya Ulfa Nurul Hasfi Pandu Hidayat, Pandu Primada Qurrota Ayun, Primada Qurrota Putri Ramadhini Putri Saraswati, Putri R. Sigit Pandhu Kusumawardana Ria Rahmawati Rifqi Aditya Utama, Rifqi Aditya Rika Futri Adelia Rizki Kurnia Yuniasti Sandy Allifiansyah Shafira Indah Muthia Sholakhiyyatul Khizana Sri Budi Lestari Sunarto Sunarto Swasti Kirana Putri, Swasti Kirana Syarifa Larasati, Syarifa Tandiyo Pradekso Taufik Suprihartini Taufik Suprihatini Theresia Karo Karo Titiek Hendriama, Titiek Tri Yoga Adibtya Tama, Tri Yoga Adibtya Trian Kurnia Hikmandika, Trian Kurnia Triliana Kurniasari Turnomo Rahardjo Veramitha Indriyani, Veramitha Wahyu Irara Williams Wijaya Saragih, Williams Wijaya Wiwid Noor Rakhmad Wiwied Noor Rakhmad Yoga M Pamungkas Zefa Alinda Fitria