Articles

Found 9 Documents
Search

ANALISIS KELAYAKAN USAHA BUDI DAYA IKAN NILA (OREOCHROMIS NILOTICUS) SISTEM KARAMBA JARING TANCAP DI DESA PASLATEN KECAMATAN REMBOKEN KABUPATEN MINAHASA Wowor, Injilly V.; Pangemanan, Jeannette F.; Lumenta, Vonne
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol 4, No 8 (2016): Oktober (2016)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.4.8.2016.14962

Abstract

Abstract This study aims to determine the feasibility of cultivation of Tilapia system net cages step in the Village Paslaten District of Remboken Minahasa based business feasibility analysis net cages step for determining operating profit (OP), net profit (?), the profit rate (PR), benefit cost ratio (BCR), profitability, break-even point (BEP) and payback period (PP). The results of the business analysis system aquaculture net cages Paslaten step in the Village District of Remboken eligible to run for Value operating profit (OP) is Rp. 73.564 million. Value of net profit or Rp absolute advantage. 65,994,296. Profit rate (PR) of 98.45%. The value of the benefit cost ratio (BCR) more than 1 is 1.98. Business profitability into the category of nice because more than 100%, ie 166%. Break even point sales of Rp. 13,517,328 and BEP unit 540 kg with a payback period of 7.2 months or seven months and six days. Based on these calculations, the business system Tilapia aquaculture net cages Paslaten step in the Village District of Remboken feasible. Keywords : cultivation, net cages, feasibility, financial   Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan usaha budi daya ikan Nila sistem karamba jaring tancap di Desa Paslaten Kecamatan Remboken Kabupaten Minahasa berdasarkan analisis kelayakan usaha karamba jaring tancap untuk menentukan operating profit (OP), net profit (?), profit rate (PR), benefit cost ratio (BCR), rentabilitas, break even point (BEP) dan payback period (PP). Hasil analisis usaha budi daya ikan sistem karamba jaring tancap di Desa Paslaten Kecamatan Remboken layak untuk dijalankan karena Nilai operating profit (OP) yaitu Rp. 73.564.000. Nilai net profit atau keuntungan absolut Rp. 65.994.296. Profit rate (PR) sebesar 98,45%. Nilai benefit cost ratio (BCR) lebih dari 1 yaitu 1,98. Rentabilitas usaha masuk dalam kategori baik sekali karena lebih dari 100% yaitu 166%. Break even point penjualan sebesar Rp. 13.517.328 dan BEP satuan 540 kg dengan jangka waktu pengembalian 7,2 bulan atau tujuh bulan enam hari. Berdasarkan perhitungan tersebut maka usaha budi daya ikan Nila sistem karamba jaring tancap di Desa Paslaten Kecamatan Remboken layak untuk dijalankan. Kata Kunci : budidaya, jaring tancap, kelayakan, finansial
ANALISIS PERANAN WANITA PADA RANTAI NILAI PRODUK TUNA CAKALANG ASAP DI KOTA BITUNG PROVINSI SULAWESI UTARA Lambaniga, Kristi M.R.; Jusuf, Alvon; Lumenta, Vonne
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol 5, No 9 (2017): (April 2017)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.5.9.2017.16995

Abstract

AbstrakWanita merupakan komponen penting dalam pembangunan ekonomi perikanan, terutama pada rantai nilai perikanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranan wanita pada rantai nilai produk tuna-cakalang asap di Kota Bitung Provinsi Sulawesi Utara. Aspek-aspek yang diteliti mencakup profil aktivitas, profil akses dan kontrol, faktor-faktor yang mempengaruhi peranan wanita, serta kendala-kendala yang dihadapi wanita dalam melaksanakan peranannya.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus dengan fokus pada wanita pengolah produk tuna-cakalang asap di kampung Loyang, Kelurahan Girian Atas, Kota Bitung. Sampel diambil dengan menggunakan metode purposive sampling dan pengumpulan data dilakukan dengan non participant observation, wawancara dan dokumentasi. Data dianalisis menggunakan analisis deskriptif kualitatif dan analisis deskriptif kuantitatif.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peranan wanita dalam rantai nilai produk tuna-cakalang asap meliputi: melakukan transaksi penjualan dan pembukuan, dan menyiapkan makanan untuk pekerja, sementara pembelian ikan sebagai bahan baku dan bahan pelengkap lainnya dilakukan bersamaan dengan laki-laki. Wanita juga menjual produk ke pasar, mengatur dan mengelola keuangan bisnis, dan mengontrol pengolahan ikan yang dilakukan oleh laki-laki. Peranan wanita pada rantai nilai produk tuna-cakalang asap didukung oleh beberapa faktor, yaitu rata-rata usia yang produktif, pengalaman kerja yang cukup, jumlah tanggungan keluarga yang kecil, keterampilan kerja yang tinggi, tingkat pendidikan yang memadai, interaksi sosial yang baik, ketersediaan modal dan keberadaan tenaga kerja pria di sekitar lokasi usaha wanita. Kendala-kendala yang dihadapi wanita adalah ketidakmampuan melakukan kegiatan fisik yang berat serta tingkat persaingan usaha yang sangat ketat. Kata kunci : peranan wanita, rantai nilai, tuna-cakalang asap
PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP PENGELOLAAN HUTAN MANGROVE DI DESA TIWOHO KECAMATAN WORI KABUPATEN MINAHASA UTARA PROVINSI SULAWESI UTARA Sondakh, Vina S.; Suhaeni, Siti; Lumenta, Vonne
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol 7, No 1 (2019): April 2019
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.7.1.2019.24395

Abstract

AbstrakTujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji apakah masyarakat mengetahui, mengerti tentang fungsi dan manfaat hutan mangrove serta untuk mengetahui persepsi masyarakat Desa Tiwoho terhadap pengelolaan hutan mangrove. Metode dasar penelitian ini adalah survey. Jumlah populasi sebanyak 691 orang, sampel yang diambil sebanyak 35 orang atau 5% dari jumlah populasi dengan menggunakan metode purposive sampling. Data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder. Analisis data menggunakan skala Gutman, sedangkan untuk mengetahui persepsi masyarakat menggunakan skala Likert. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa pengetahuan masyarakat terhadap fungsi dan manfaat hutan mangrove yang ada di Desa Tiwoho 95% sangat baik, hanya 5% masyarakat yang kurang mengetahui fungsi dan manfaat hutan mangrove. Pengetahuan masyarakat yang sangat baik tentang fungsi dan manfaat hutan mangrove, ini tidak terlepas dari peran aktif pemerintah setempat dan tokoh masyarakat dalam mensosialisasikan fungsi dan manfaat hutan mangrove. Persepsi masyarakat Desa Tiwoho terhadap pengelolaan hutan mangrove yang dinilai berdasarkan 10 kriteria hampir semua masyarakat mempunyai persepsi baik dan termasuk dalam rentang yang positif. Ada salah satu kriteria yang mempunyai persepsi sangat baik dan sangat positif dari masyarakat, mereka sangat setuju kalau pengelolaan hutan mangrove bukan saja merupakan tanggung jawab pemerintah melainkan tanggung jawab bersama, baik pemerintah, swasta maupun masyarakat.
KONDISI SOSIAL EKONOMI NELAYAN PANCING TONDA DI DESA KAMPO-KAMPO KECAMATAN BINONGKO KABUPATEN WAKATOBI PROVINSI SULAWESI TENGGARA Hendri, Hendri; Pangemanan, Jeannette F.; Lumenta, Vonne
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol 6, No 12 (2018): Oktober 2018
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.6.12.2018.22606

Abstract

AbstractThe purpose of this research was to reveal and study the socio-economic condition of using Tonda fishing rods (100%).The research method used descriptive with the census basic. The analytical method used is quantitative and qualitative descriptive analysis.In general, the education of the respondents was graduated from elementary and junior high school with a percentage of 30%, most of the dependents family were 3 people. The condition of fisherman Tonda housing that is as much as 50% has permanent, 10% semi-permanent and 40% non-permanent.The average production of each fishing Tonda fisherman is 684 kg per month. The income is IDR 102,600,000 per month, while other business income is IDR 5,300,000 with total revenue is IDR 107,900,000 per month. Expenditure is IDR 56,535,000 per month. The final income is IDR. 51,365,000 per month with the average is IDR. 5,136,500 each month.Key words : Socio economic, trolling fisheries AbstrakTujuan penelitian ini adalah untuk mengungkapkan dan mengkaji kondisi sosial ekonomi nelayan yang menggunakan alat pancing Tonda di Desa Kampo-Kampo Kecamatan Binongko Kabupaten Wakatobi Provinsi Sulawesi Tenggara.Metode penelitian yang digunakan, yaitu bersifat deskriptif dengan metode dasar sensus. Populasi dari penelitian ini adalah seluruh nelayan yang menggunakan alat pancing Tonda (100%). Metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif kuantitatif dan analisis deskriptif kualitatif.Pada umumnya tingkat pendidikan responden adalah tamat SD dan SMP dengan persentase 30%, sebagian besar tanggungan keluarga berjumlah 3 orang. Dari segi kesehatan hampir semua responden menggunakan sarana pengobatan, yaitu puskesmas pembantu. Keadaan perumahan nelayan pancing Tonda, yaitu sebanyak 50% memilki rumah permanen, rumah semi permanen 10% dan non permanen 40%.Produksi rata-rata setiap nelayan pancing Tonda 684 kg/bulan. Pemasaran hasil tangkapan langsung dijual ke konsumen oleh istri nelayan. Tetapi apabila ikan tidak habis terjual langsung memasarkannya ke desa setempat atau desa-desa tetangga. Pendapatan usaha perikanan pancing Tonda sebesar Rp. 102.600.000 per bulan, sedangkan pendapatan usaha lainnya Rp. 5.300.000 dengan pendapatan total Rp. 107.900.000 per bulan. Pengeluaran nelayan pancing Tonda sebesar Rp. 56.535.000 per bulan. Pendapatan akhir nelaya pancing Tonda Rp. 51.365.000 dengan rata-rata setiap nelayan Rp. 5.136.500 per bulannya.Kata kunci : Sosial ekonomi, perikanan tangkap
KONTRIBUSI WANITA PENJUAL IKAN TERHADAP PENDAPATAN RUMAH TANGGA DI PASAR BAHU KECAMATAN MALALAYANG KOTA MANADO Musa, Wanda Ester Tika; Pontoh, Otniel; Lumenta, Vonne
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol 3, No 5 (2015): (April 2015)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.3.5.2015.13404

Abstract

Abstract The Woman?s participation in working is not only for equality of rights but generally the reason why the woman is looking for a job is family need. This Research aims to know social economy condition of woman who sells fish depend on their age, education, experiences, and kinds of fish, fish handling, marketing, venture capital for woman income level, husband income level and how far influence the woman income for the family. This research has done in Bahu market, Malalayang District Manado City. The Researcher used study case and for the collecting data by survey and the data has taken by purposive sampling method. The result refers to social aspect of the woman who has dominant age around 25-50 and the highest formal education in senior high school are 7 people and the lowest formal education is elementary school are 7 people. The experience of working is 2-45 years old and skilled. Their houses are semi permanent. The sources of fish are bersehati market, Karombasan market, TPI Jati, Pantai Bahu, Pantai Malalayang, and Pantai Tanawangko with 9 kinds of fish and non fish. They use ice and salt for fish handling. For the capital they need Rp. 300,000-500,000 a day, Income for the woman who sells the fish is around Rp. 5,257,955 a month, whereas husband?s income is around Rp. 2,862,727 a month. Contribution of the woman who sells fish is 64.75% and the husband?s contribution is 35.25% Key words: contribution, woman, sells the fish, income Abstrak Partisipasi wanita tidak hanya menuntut persamaan hak, akan tetapi secara umum alasan perempuan bekerja adalah untuk membantu ekonomi keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari dan mengetahui sosial ekonomi wanita penjual ikan seperti umur, pendidikan, pengalaman, perumahan, sumber dan jenis ikan, penanganan ikan, pemasaran, modal usaha, tingkat pendapatan wanita penjual ikan dan tingkat pendapatan suami serta berapa besar kontribusi wanita penjual ikan terhadap pendapatan rumah tangga. Penelitian dilaksanakan di Pasar Bahu Kecamatan Malalayang Kota Manado. Metode penelitian yang digunakan dengan dasar studi kasus, pengumpulan data dilakukan dengan cara survei dan data diambil menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian dilihat dari aspek sosial wanita penjual ikan memiliki umur dominan 25 - 50 tahun dengan pendidikan tertinggi yaitu SMA berjumlah 7 orang dan terendah yaitu SD berjumlah 7 orang. Pengalaman kerja 2 - 45 tahun dan cukup terampil, tipe rumah dominan semi permanen. Sumber ikan dari beberapa tempat yaitu Pasar Bersehati, Pasar Karombasan, TPI Jati, Pantai Bahu, Pantai Malalayang, dan Pantai Tanawangko dengan 9 jenis ikan dan non ikan. penanganan ikan menggunakan es dan garam. Dalam menjual ikan modal yang diperlukan Rp.300.000 - Rp.5.000.000 per hari, hasil pendapatan keseluruhan wanita penjual ikan rata-rata Rp.5.257.955 per bulan, sedangkan pendapatan suami rata-rata Rp.2.862.727 per bulan. Kontribusi wanita penjual ikan terhadap pendapatan rumah tangga sebesar 64,75% sedangkan kontribusi suami terhadap pendapatan rumah tangga sebesar 35,25%. Kata Kunci : kontribusi, wanita, penjual ikan, pendapatan
KEADAAN SOSIAL EKONOMI NELAYAN SOMA GIOP DI DESA LELEOTO KECAMATAN TOBELO SELATAN KABUPATEN HALMAHERA UTARA PROVINSI MALUKU UTARA Atihuta, Velsia Marle D.; Aling, Djuwitha R.R.; Lumenta, Vonne
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol 2, No 3 (2014): (April 2014)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.2.3.2014.13377

Abstract

Abstract The study was conducted aim to analyze the socio-economic condition of soma giop fishermen who?s Living in Leleoto fishing community, South Tobelo District, North Halmahera Regency, North Moluccas Province. Data was collected based in census method that is gathering data from all 5 owners of soma giop fishing gear. The result of study indicated that averagely the ages of fishermen are 31 years old with 35 to 40 years experiences working on this kind of livelihood. The study also found still there are mutual works among community members however, there are also bad custom to drink alcoholic beverages. The reset of study also found the maximum catch are 7,403.33 kg while minimum catch is 33.33 kg. The distribution system of catch is 50% for owners and 50% for vessel crews. Keywords: socio-economic, soma giop, fishermen, livelihood, distribution system of catch   Abstrak Penelitian ini mengkaji tentang keadaan sosial ekonomi nelayan pemilik alat tangkap soma giop di desa leleoto, Kecamatan Tobelo Selatan, Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara. Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara sensus terhadap obyek yang menjadi tujuan penelitian, yaitu semua nelayan pemilik alat tangkap soma giop yang berjumlah 5 orang. Rata-rata umur nelayan 31 tahun, dan nelayan soma giop yang memiliki pengalaman kerja, yaitu 35 tahun sampai 40 tahun. Berdasarkan hasil penelitian masih terdapat kegiatan gotong royong dan masih adanya kebiasaan nelayan, yaitu minum minuman beralkohol. Hasil tangkapan tertinggi 7.403,33 kg dan terendah 33,33 kg. Sistem bagi hasil 50% untuk nelayan pemilik dan 50% untuk nelayan pekerja. Kata Kunci: sosial ekonomi, soma giop, nelayan, rumah tangga, system bagi hasil
PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP PENGELOLAAN EKOWISATA BAHARI DI DESA BAHOI, KECAMATAN LIKUPANG BARAT, KABUPATEN MINAHASA UTARA, PROVINSI SULAWESI UTARA Pangau, Ghea Meily Gloria; Andaki, Jardie A.; Lumenta, Vonne
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol 6, No 11 (2018): April (2018)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.6.11.2018.19533

Abstract

AbstractThis study uses a descriptive approach, ie a study that leads to the disclosure of a problem or situation as it is and reveals the facts that exist, although sometimes given interpretation or analysis (Tika, 2005). According Kusmayadi (2000), descriptive research is research that try to describe or describe phenomena and relationship between phenomena studied with systematic, factual, and accurate.Based on population data in 2014 Bahoi Village population amounted to 439 inhabitants, consisting of 143 heads of household (KK) divided into 3 guard boundaries. Determination of the sample by purposive as much as 20% from 439 soul that is 90 villagers divided by marine ecotourism managers, managers of Marine Protected Areas, village apparatus and villagers who utilize the existence of marine ecotourism.Data collection techniques were conducted by observation, interview and questionnaire. While the data analysis technique used is descriptive analysis. The data obtained in the study is made in a simpler form for easy understanding. Data are presented in the form of frequency tables and percentages, then described.Overall, it can be concluded that community perception on marine ecotourism management in Bahoi Village, West Likupang District, and North Minahasa Regency North Sulawesi Province is good.Based on the results of research and discussion that has been done shows that community perception of marine ecotourism management planning of Bahoi Village West Likupang District North Mianahasa Regency North Sulawesi Province that most of respondents expressed very good on life support ability, both at source data and management information available SDA data and information, as well as regional characteristics.Public perceptions on the use of marine ecotourism that most of the respondents stated both on the sustainability of the function of sustainability, productivity and community welfare.Public perceptions of marine ecotourism control of Bahoi Village, West Likupang District, North Minahasa District, North Sulawesi Province, mostly respondents stated good prevention, preventive role, countermeasures and countermeasures. Public Perceptions of Marine Ecotourism Maintenance in Bahoi Village most of the respondents stated good.Public perceptions of law enforcement in marine ecotourism areas in Bahoi Village are the majority of respondents stated very well on the complaint, and stated both on the socialization of complaints, law enforcement.Keywords: management, marine ecotourism, community perception AbstrakPenelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif, yaitu suatu penelitian yang mengarah pada pengungkapan suatu masalah atau keadaan sebagaimana adanya dan mengungkapkan fakta-fakta yang ada, walaupun kadang-kadang diberikan interpretasi atau analisis (Tika, 2005). Menurut Kusmayadi (2000), penelitian deskriptif adalah penelitian yang berusaha mendeskripsikan atau menggambarkan fenomena serta hubungan antar fenomena yang diteliti dengan sistematis, faktual, dan akurat.Berdasarkan data kependudukan tahun 2014 jumlah Penduduk Desa Bahoi berjumlah 439 jiwa, terdiri dari 143 kepala keluarga (KK) yang dibagi dalam 3 batas jaga. Penentuan sampel secara purposive sebanyak 20% dari 439 jiwa yaitu 90 warga desa yang dibagi atas pengelola ekowisata bahari, pengelola Daerah Perlindungan Laut, aparatur desa dan warga desa yang memanfaatkan keberadaan ekowisata bahari.Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara dan kuesioner. Sedangkan teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif. Data yang diperoleh dalam penelitian dibuat dalam bentuk yang lebih sederhana agar mudah dipahami. Data disajikan dalam bentuk tabel frekuensi dan persentase, kemudian dideskripsikan.Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa persepsi masyarakat terhadap pengelolaan ekowisata bahari di Desa Bahoi Kecamatan Likupang Barat Kabupaten Minahasa Utara Provinsi Sulawesi Utara tergolong baik.Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan menunjukkan, bahwa persepsi masyarakat terhadap perencanaan pengelolaan ekowisata bahari Desa Bahoi Kecamatan Likupang Barat Kabupaten Mianahasa Utara Provinsi Sulawesi Utara yakni sebagian besar responden menyatakan sangat baik pada kemampuan mendukung kehidupan, baik pada sumber data dan informasi pengelolaan, sumber data dan informasi SDA yang tersedia, serta karakteristik wilayah.Persepsi masyarakat terhadap pemanfaatan ekowisata bahari yakni sebagian besar responden menyatakan baik pada keberlanjutan fungsi keberlanjutan, produktivitas dan kesejahteraan masyarakat.Persepsi masyarakat terhadap pengendalian ekowisata bahari Desa Bahoi Kecamatan Likupang Barat Kabupaten Minahasa Utara Provinsi Sulawesi Utara yakni sebagian besar responden menyatakan baik pada upaya pencegahan, peran pencegahan, upaya penanggulangan dan peran penanggulangan. Persepsi Masyarakat terhadap Pemeliharaan Ekowisata Bahari di Desa Bahoi sebagian besar responden menyatakan baik.Persepsi masyarakat terhadap penegakan hukum pada kawasan ekowisata bahari di Desa Bahoi yakni sebagian besar responden menyatakan sangat baik pada pengaduan, dan menyatakan baik pada sosialisasi pengaduan, penegakan hukum.Kata kunci: pengelolaan, ekowisata bahari, persepsi masyarakat
PERBANDINGAN KEADAAN SOSIAL EKONOMI NELAYAN KELOMPOKDAN MANDIRI DI DESA TATELI WERU KECAMATAN MANDOLANG KABUPATEN MINAHASA PROVINSI SULAWESI UTARA Konore, Gabrila; Manoppo, Victoria E.N.; Lumenta, Vonne
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol 6, No 12 (2018): Oktober 2018
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.6.12.2018.22608

Abstract

AbstractThe aims of this research to explain and compared the socioeconomic condition of fishermen group and independently in Tateli Weru Village, Mandolang District.This research to add the information and knowledge about socio economic as well as the issue of fisheries developing.Method to be usedis survey method by using questioner sampling uses is purposive sampling namely fisheries group and independently.Fishermen in Tateli Weru Village were 105 because all of them lived and activities in coastal closed to mooring boat and fishing equipment. If the fisherman not makes activity, they usually do such as farming, repairing a boat or helpinghis wife. The comparison of two groups were the fisheries group do not go fishing togetheraccordance who needs of each member because the equipment are given by the government but the independly group they fishing depended on climate.Keywords: Socioeconomic, fishermen group, independently group  AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menjelaskan dan membandingkan keadaan sosial ekonomi nelayan kelompok dan mandiri di Desa Tateli Weru Kecamatan Mandolang, menambah informasi dan pengetahuan mengenai keadaan sosial ekonomi nelayan kelompok dan mandiri selain itu sebagai hal-hal yang dapat menjadi bahan untuk membangun perikanan melalui pekerjaan peneliti di kemudian hari.Metode Penelitian menggunakan metode survei, yaitu berupa pertanyaan-pertanyaan terstruktur berupa kuisioner.Pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling yaitu nelayan yang tergabung dalam kelompok dan mandiri.Nelayan yang ada di Desa Tateli Weru berjumlah 105 orang nelayan karena suatu kelompok masyarakat yang kehidupannya berada di pesisir pantai dan mata pencahariannya tergantung pada aktivitas penangkapan ikan di laut, serta pemukiman berada di pesisir pantai yang dekat dengan tambatan perahu dan peralatan tangkap. Peralatan kelengkapan yang dibawa responden untuk melaut berupa jerigen bensin, dayung, jangkar, serok.Jika responden tidak melakukan aktivitas melaut, mereka biasanya melakukan aktivitas lain, seperti bertani, memperbaiki perahu, dan ada yang membantu istri.Jika dilihat dari kelompok nelayan, mereka tidak pergi menangkap ikan secara bersama-sama, hanya peralatan yang diberikan pemerintah digunakan sesuai dengan keperluan dari setiap anggota, jadi para anggota bergantian menggunakan alat tersebut.Kata kunci: Sosial ekonomi, nelayan kelompok, nelayan mandiri
A STUDY ON MANAGEMENT OF MANGROVE AND THE KNOWLEDGE OF LOCAL COMMUNITY IN BAHOI OF WEST LIKUPANG SUBDISTRICT OF NORTH MINAHASA DISTRICT Lumenta, Vonne; Mandagi, Stephanus V.; Lasut, Markus T.
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol 5, No 1 (2017): EDISI JANUARI - JUNI 2017
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.5.1.2017.14970

Abstract

A study on community based mangrove management was conducted in Bahoi of North Minahasa District of North Sulawesi Province of Indonesia. This aims of the study were to examine the management of mangrove including community involvement in the whole processes as well as the institutional settings; to examine knowledge and atitute of the community of Bahoi toward the management processes; to find out its impacts to the community and marine ecosystems.   Methods used in this study were interviews and surveys. For the former, all key persons involving in the management including representative of government were interviewed. With the latter, 30 community members or around 10% of total population were randomly selected and requested to fill in questionnaries containing multiple choices questions to meet the objectives of the study. This study revealed that the management of mangrove has been projects driven activities since year 2000. Yet communities were partly involved in the management including during the establishment of organization and village Ordinance, the survey shows that only 30% of respondents actively involved. That is why 63% of respondent argue that the management processes is lacking and 23% recon that it should be improved. Moreover, 100% of respondents claim that they strongly support conservation of mangrove and other coastal resources; 90% of the respondent answer that cultural background (Sangiran ethnicity) drives their attitude about preserving the coastal resources. In terms of implication of the management mangrove and other coastal resources in Bahoi, they argue that it has resulted in improvement of income and a healthy mangrove ecosystem. Keywords: Mangrove, Management, Bahoi     Abstract Penelitian ini tentang pengelolaan mangrove berbasis masyarakat telah dilakukan di Desa Bahoi di Kabupaten Minahasa Utara Propinsi Sulawesi Utara Indonesia. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui proses dan dinamika pengelolaan mangrove berbasis masyarakat khususnya tentang keterlibatan masyarakat dan faktor-faktor yang mempengaruhi pengelolaan terutama pengetahuan dan sikap masyarakat, serta dampak pengelolaan terhadap masyarakat dan ekosistem pesisir lainnya. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara (interview) dan survei. Wawanara telah dilakukan terhadap semua tokoh kunci yang terlibat dan mempengaruhi pengelolaan, sedangkan untuk survei dengan menggunakan kuisioner, sejumlah 30 responden atau sekitar 10% dari jumlah penduduk telah dipilih secara random bersedia memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan pilihan berganda (multiple choises). Penelitian ini mengdapatkan bahwa pengelolaan mangrove di Desa Bahoi didorong oleh proyek pemerintah sejak tahun 2000. Namun masyarakat belum seluruhnya dalam proses pengelolaan mangrove termasuk dalam pembuatan lembaga dan Peraturan Desa tentang pengelolaan sumberdaya pesisir. Makanya 63% responden mengakui kalau pengelolaan yang ada kurang baik dan 23 % menyarankan perlu perbaikan. Selanjutnya 100% menyatakan mendukung sepenuhnya usaha konservasi mangrove dan sumberdaya pesisir lain. 90 % dari mereka percaya bahwa factor budaya Sangir yang mendorong sikap mereka untuk menjaga lingkungan pesisir. Mengenai dampak pengelolaan ekosistem mangrove, masyarakat dan pemerintah menjawab bahwa telah membantu meningkatkan pendapatan atau ekonomi masyarakat dan ekosistem mangrove semakin sehat. Kata kunci: Mangrove, Managemen, Bahoi