Yanuar Luqman
Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Diponegoro

Published : 27 Documents
Articles

Found 27 Documents
Search

Pengaruh Terpaan Iklan Televisi dan Kualitas Website terhadap Keputusan Pembelian di Situs Belanja Online Bukalapak Sekarpramudita, Alifa Ardini; Luqman, Yanuar
Interaksi Online Vol 8, No 2: April 2020
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (257.461 KB)

Abstract

The purpose of this study was to determine the effect of exposure to television advertising and website quality on purchasing decisions on Bukalapak online shopping sites. This study uses the theory of advertising exposure and reasoned action (TRA). The sampling technique used is non-probability sampling with a total sample of 60 respondents with the characteristics of having accessed the Bukalapak online shopping site, having seen Bukalapak advertisements on television, and with ages ranging from 19-34 years. Analysis of the data used is a simple linear regression test. The results of the study indicate that there is a significant influence of exposure to television advertising and website quality on purchasing decisions on Bukalapak online shopping sites.
PR Campaign Klub Sepatu Roda di Bawah Porserosi Semarang Melalui Rangkaian event “Juara Bersama Sepatu Roda” dan “Fun Skate on Car Free Day” (Marketing Communications) Sawitri, Ruli; Luqman, Yanuar; ulfa, Nurist Surraya
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan Olahraga merupakan suatu kegiatan positif yang penuh dengan manfaat bagi setiapinsan yang menjalankannya. Berbagai jenis cabang olahraga telah dikenal di Indonesia,bahkan diantaranya mampu membawa Indonesia dikenal di kancah dunia, sebut saja BuluTangkis, Angkat besi, Dayung dan masih banyak lagi. Disamping olahraga – olahragatersebut, masih banyak cabang olahraga yang berpotensi untuk mengukir prestasi, sebut sajasepatu roda.Akhir-akhir ini masyarakat kota Semarang memang sedang mengalami musimpermainan sepatu roda, dimana tiap sore hingga malam disepanjang jalan Simpang Limadipenuhi masyarakat pecinta sepatu roda yang memainkan atraksinya dan tidak sedikit pulapara pemula yang belajar untuk mencoba permainan ini. Hal ini diikuti dengan menjamurnyakomunitas yang menyewakan sepatu roda di kawasan Simpang Lima Semarang. Tidak sedikitpengunjung yang ikut meramaikan permainan sepatu roda ini, mulai dari anak-anak hinggaremaja bahkan dewasa yang bermain sepatu roda tiap harinya.PORSEROSI (Persatuan Olah Raga Sepatu roda Seluruh Indonesia) kota Semarangpun menyatakan bahwa selama ini, sosialisasi tentang olah raga sepatu roda memang masihkurang. Sosialisasi klub – klub sepatu roda di bawah naungan PORSEROSI kota Semaranguntuk menjaring anggotanya juga sangat kurang. Sampai saat ini terdapat 3 (tiga) klub sepaturoda di kota Semarang, diantaranya Eagle, Ikos, Kairos. Klub-klub tersebut siap memberipelatihan dan mengajarkan teknik – teknik olahraga sepatu roda, baik untuk anak – anakmaupun dewasa. Karenanya PORSEROSI kota Semarang akan menyasar pada tingkat anakanak,dengan jenjang usia 7 – 12 tahun, dengan maksud dapat mendapatkan anak-anak yangberbakat sejak dini.Segmen pesepatu roda dini atau anak-anak, dipilih berdasarkan beberapa faktor,diantaranya anak-anak adalah fase yang berpeluang untuk dijejali motivasi dan gambarangambaran,yang akan mampu mendorong dan menjadi pedoman mereka untuk menggali danmenentukan bakatnya sejak dini. Kedua, anak – anak tersebut masih memiliki pemikiranyang terbatas sehingga hal ini merupakan peluang untuk mengedukasi mereka dan dapatmenghasilkan anak-anak berbakat yang akan menjadi atlet sebagai upaya regenerasi Sepaturoda Jawa Tengah khususnya Kota Semarang.Dapat dilihat antara fenomena yang terjadi sekarang ini, bahwa sepatu roda yangsedang digandrungi disemua kalangan. Namun, hal ini tidak diimbangi dengan pengetahuanmasyarakat akan keberadaan klub-klub sepatu roda di kota Semarang. Masih banyakmasyarakat yang belum mengetahui klub-klub sepatu roda, sehingga banyak diantara merekayang tidak berminat untuk bergabung ke klub-klub sepatu roda. Sebagian dari masyarakatkota Semarang yang gemar bersepatu roda, hanya melakukan olah raga ini untuk mengisiwaktu luang dan mengikuti trend terkini.Selain sosialisasi klub yang sangat kurang, faktor area atau lapangan untuk berlatihjuga minim sehingga jumlah anggota klub-klub yang terbentuk juga tidaklah banyak, hanyasekitar 50 – 70 anggota di tiap klub-nya. Dengan berkembangnya permainan sepatu roda dikota Semarang, PORSEROSI bermaksud untuk mengajak anak-anak yang tertarik Sepaturoda untuk turut serta bergabung dengan klub-klub Sepatu roda dengan tujuan agar merekamendapat pengarahan, pengetahuan serta teknik-teknik Sepatu roda. Di samping itu, dengantergabungnya mereka ke dalam klub sepatu roda juga dapat menjaring bibit-bibit unggulsebagai upaya regenerasi atlet Sepatu roda yang masih lambat.B. Batang TubuhKarya bidang ini disusun dengan menggunakan pendekatan persuasif serta penerapanteori- teori kampanye PR untuk mendukung keberhasilan tujuan komunikasinya. Melaluipenyelenggaraan serangkaian event yang meliputi roadshow “Juara Bersama Sepatu Roda”dan “Fun Skate on Car Free Day” cara ini dinilai efektif untuk meningkatkan awarenessmasyarakat akan klub sepatu roda. Roadshow diselenggarakan di enam sekolah dasar di kotaSemarang dengan materi acara meliputi perkenalan olah raga sepatu roda, perkenalan klubbeserta atletnya serta mengadakan coaching clinic teknik dasar bermain sepatu roda. Acarapuncak “Fun Skate on Car Free Day” diselenggarakan di area Car Free Day jalan Pahlawandengan menampilkan atraksi masing- masing klub sepatu roda. Masyarakat yang inginbergabung dalam klub pun dapat mendaftar secara langsung di stan masing-masing klub yangdiinginkan.Keberhasilan dalam mencapai tujuan komunikasi dapat diketahui berdasarkan risetpasca event. Setelah event berlangsung, awareness audiens meningkat sebanyak 23,37% dariyang semula 48,3% menjadi 71,67%. Sedangkan minat untuk bergabung ke dalam klubsepatu roda juga meningkat sebesar28,67%. Dengan demikian, rangkaian event PR campaignini efektif untuk mencapai tujuan komunikasi awal. Berikut merupakan parameterkeberhasilan event ini :Tabel Parameter keberhasilan eventParameter KeteranganCommunicationObjectiveDari riset penyelenggara pasca event yang dilakukan melalui60 responden yang mengetahui Klub sepatu roda kotaSemarang, sebanyak 43, yang berminat gabung ke dalamklub sebanyak 41 responden dan yang mengetahui event“Fun Skate on CFD” sebanyak 53 responden. Data per klubmenunjukkan jumlah kenaikan anggota setelah acaraterselenggara. (Ikos mengalami kenaikan anggota sebanyak18 anak, Kairos 21 anak dan Eagle 14 anak)Konsep Acara Dari 34 responden yang mengikuti acara “Fun Skate on CarFree Day”, sebanyak 23 responden menyatakan bahwa acaratersebut “sangat menarik”, sisanya menyatakan “menarik”.Target Audience Total peserta coaching clinic “Juara Bersama Sepatu Roda”dan „Fun Skate on CFD” secara akumulatif mencapai 550peserta dari target minimal 200 peserta.Rundown dan Timeline a. Tidak terjadi pembatalan event. Event “Fun Skate onCFD” tetap dilaksanakan pada hari H, yaitu Minggu, 28Oktober 2012 sesuai dengan kesepakatan.b. Acara “Fun Skate on CFD” berjalan sesuai denganrundown, meskipun terjadi delay selama 15 menit danovertime selama 20 menit, namun tetap masih dalam batastoleransi awal yaitu maksimal delay adalah selama 59 menit.Budgeting a. Tidak terjadi adanya pembengkakan budget selamaperencanaan hingga pelaksanaan eventb. Semua anggaran pelaksanaan acara” diperoleh darikegiatan sponsorshipc. Kegiatan “Fun Skate on CFD” mendapatkan surplussebesar Rp. 2.250.000,- dari sponsorshipSponsorship a. Kegiatan “Fun Skate on Car Free Day” berhasilmendapatkan pendanaan secara penuh dari pihak sponsor,yaitu PT KAI, Suara Merdeka group dan sponsor lainnyab. Kegiatan ini juga didukung oleh sponsor (dalam bentukproduk), yaitu Telkomsel, Aquaria, Horison,CocacolaPermit and Venue Kegiatan “Fun Skate on CFD” berhasil mendapatkan izinvenue di enam sekolah dasar dan area Car Free Day jalanpahlawan pada waktu yang telah ditentukan tanpamengeluarkan biaya.C. PenutupKarya bidang ini diharapkan dapat memberikan implikasi-implikasi dalam aspekakademis dan praktis. Implikasi akademis karya bidang ini berupa kontribusi untukmemperkaya pengetahuan akan penerapan strategy persuasive dan penerapan teori PRcampaign dalam pencapain tujuan komunikasi. Sementara itu, implikasi praktis memberikanpengetahuan dan pengalaman untuk membuat kegiatan promosi yang efektif sesuai dengantarget audiens serta tujuan komunikasinya.D. Daftar Pustaka1. Websitei. http://ponriau2012.com/index.php?option=com_content&view=article&id=200&Itemid=149 (diakses pada tanggal 30 Mei 2012 pukul 21.45 WIB).ii. http://www.satlakprima.com/news/sepatu-roda-berpeluang-ukir-medali/) diaksespada tanggal 30 Mei 2012 pukul 22.10 WIB).iii. http://sports.okezone.com/read/2012/04/02/43/603974/sepatu-roda-jabargemilang-di-selandia-baru (diakses pada tanggal 30 Mei 2012 pukul 22.17 WIB).iv. http://wsmulyana.wordpress.com/2008/12/16/69 (diakses pada tanggal 2 juni2012 pukul 23.10 WIB).2. Bukui. Belch E.George and Belch A. Michael,2001, Introduction to Advertasing andPromotions an Interegated Marketing Communications Perspective, New Yor; :Mc Graw Hill.ii. DeVito,Joseph.1997.Komunikasi Antar Manusia. Jakarta : Professional Bookiii. Effendy, Onong Uchjana. 2002, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung:PT. Remaja Rosda Karya.iv. Larson,Charles U.2009.Persuasion: Reception andResponsibility.California:Wadsworth Publishing Company.v. Lerbinger,Otto.2003.Design for Persuasive Communication. Yogyakarta;PustakaPelajar.vi. Littlejohn, Stephen W.2009.Teori Komunikasi ( Theories of HumanCommunication). Jakarta: Salemba Humanika Sissors, Jack Z. and Bumba,Lincoln. (1996). Advertising and Media Planning, (5th ed.). USA: Ntc BusinessBooks3. Sumberlaini. Data Statistik kota Semarang tahun 2009ii. Data keanggotaan klub Porserosi kota Semarang 2012
KOMUNIKASI STRATEGIS UNIVERSITAS DIPONEGORO DAN UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG DALAM MEMBANGUN BRAND IMAGE UNIVERSITAS SEBAGAI GREEN UNIVERSITY Akbar, Kurniawan; Luqman, Yanuar; Setiabudi, Djoko
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (252.676 KB)

Abstract

KOMUNIKASI STRATEGIS UNIVERSITAS DIPONEGORO DAN UNIVERSITASNEGERI SEMARANG DALAM MEMBANGUN BRAND IMAGE UNIVERSITASSEBAGAI GREEN UNIVERSITYAbstrakKebijakan green university merupakan kombinasi antara tiga elemen yaitu green building, greenplace dan green behaviour yang diterapkan pada komunitas akademis. Ketiga hal tersebut dapattercapai jika dilaksanakan melalui implementasi strategi komunikasi strategis yang tepat.Komunikasi strategis terdiri dari dua aspek yaitu komunikasi secara makro dan komunikasi secaramikro. Kedua aspek tersebut mempunyai fungsi untuk menyebarluaskan pesan komunikasi yangbersifat informatif, persuasif dan instruktif secara sistematis kepada sasaran untuk memperoleh hasilyang optimal pada implementasi program atau kebijakan.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mengevaluasi implementasi strategikomunikasi strategis Universitas Diponegoro (Undip) dan Universitas Negeri Semarang (Unnes)dalam membangun brand image universitas sebagai green university. Upaya menjawabpermasalahan dan tujuan penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan strategikomunikasi strategis yang diaplikasikan pada kebijakan green university. Metode penelitian yangdigunakan adalah metode penelitian deskriptif evaluatif dengan pendekatan studi kasus.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kebijakan green university belum diterapkansebagaimana mestinya karena masih menekankan pada pembangunan fisik kampus saja.Pemrosesan informasi pada target audiens terhadap kebijakan green university masih cukup rendahkarena strategi komunikasi yang dijalankan cenderung belum tepat sasaran dan tidakmengedepankan aspek efektivitas dan efisiensi sehingga berdampak pada pembangunan brandimage universitas yang tidak optimal. Hal tersebut juga dikarenakan strategi komunikasi yangdijalankan masih sebatas pada publisitas media dan pengadaan kegiatan.Disarankan setiap implementasi kebijakan sebaiknya dilakukan melalui pendekatankomunikasi strategis secara komprehensif dan didahului oleh proses riset serta dievaluasi denganindikator-indikator tertentu untuk mengetahui keberhasilan kebijakan yang diterapkan.Key Words: komunikasi strategis, green university, strategi komunikasi, brand image, implementasikebijakan.STRATEGIC COMMUNICATIONS OF UNIVERSITAS DIPONEGORO ANDUNIVERSITAS NEGERI SEMARANG IN BUILDING BRAND IMAGE AS GREENUNIVERSITYAbstractGreen university policy is a combination of the three elements of green building, green place andgreen behavior is applied to the academic community. These three things can be achieved in theimplementation of strategic communication suitable strategy. Strategic communication consists oftwo aspects : the micro communication and macro communication. Both aspects have a function todisseminate communication messages that are informative, persuasive and instructivesystematically to target audience to obtain optimal results in the implementation of the program orpolicy.The purpose of this study to determine and evaluate the implementation of a strategiccommunications strategy of Universitas Diponegoro and Universitas Negeri Semarang in buildingthe brand image of the university as a green university. Efforts to address concerns and goals ofresearch by using a strategic communications strategies approach that apply to green universitypolicy. The research method is descriptive evaluative research with the case study approach.Results of this study indicate that the university has not been implemented green policies as theyshould because they emphasize the physical development of the campus. Processing of informationon the target audience of the green university policies are still quite low due to communicationstrategies tend out of the target and not prioritizing aspects of the effectiveness and efficiency sothat the impact on the development of the brand image of the university that are not optimal. Thatwas caused by priority in the strategic communications just concern at themedia publicity and special events. Policy implementation should be done through a comprehensiveapproach to strategic communications and is preceded by a process of research and evaluated withspecific indicators to determine the success of the green university is applied.Key Words: strategic communications, green university, communication strategy, brand image, theimplementation of the policy.PendahuluanFenomena dan isu mengenai kerusakan lingkungan sedang menjadi sorotan dan perhatian berbagaikalangan masyarakat dewasa ini. Lingkungan diartikan sebagai sebuah sistem yang kompleks dalamtatanan kehidupan makhluk hidup. Kompleksitas permasalahan lingkungan tersebut menuntutsebuah gerakan penyelamatan lingkungan dari semua kalangan baik pemerintah, pihak swasta,akademisi dan semua masyarakat secara umum.Berbagai bentuk antisipasi menyiasati berupa mitigasi serta adaptasi sebagai wujudkepedulian telah mewujudkan telah melahirkan berbagai program maupun gerakan lingkungan, baikprogram yang diprakarsai oleh pemerintah, gerakan lingkungan oleh LSM lingkungan, pendidikanlingkungan di lembaga pendidikan serta kampanye dan lain sebagainya.Salah satu hal yang muncul dalam bentuk antisipasi fenomena kerusakan lingkungan adalahmanifestasi konsep green campus pada perguruan tinggi. Green campus adalah sistem pendidikan,penelitian pengabdian masyarakat dan lokasi yang ramah lingkungan serta melibatkan wargakampus dalam aktifitas lingkungan yang harus berdampak positif bagi lingkungan, ekonomi dansosial. Green campus tersebut merupakan konsep perpaduan antara lingkungan dengan duniakampus dimana konsep lingkungan yang meliputi 3R, penghijauan, in front of office, CSR dansebagainya digabung dengan konsep kampus yang terdiri dari fisik kampus, lokasi dan perilakuwarga kampus. Sehingga dapat disimpulkan bahwa green campus merupakan kombinasi antaragreen building, green place dan green behaviour.Implementasi konsep green campus di beberapa perguruan tinggi disebut juga sebagai sebuahkomunitas perguruan tinggi untuk meningkatkan efisiensi energi, melestarikan sumber daya danmeningkatkan kualitas lingkungan yang berkelanjutan serta menciptakan lingkungan belajar yangsehat (Humblet, E.M, Owens, R. Roy, L.P., 2010). Konsep green campus meliputi beberapa elemenantara lain :a. Green BuildingGreen Building memiliki 4 ciri yaitu: Material Bangunan ramah lingkungan, Pengolahanlimbah, media promo tools yang ramah lingkungan dan bebas polusi udara dan suara.b. Green PlaceGreen Place memiliki lima ciri yaitu permukiman tersebut memiliki konsep yang disebutone stop living, ruang terbuka hijau, harmonis, mengurangi penggunaan kendaraan bermotordan kemudahan mengakses transportasi umum.c. Green BehaviourGreen behaviour memiliki ciri yaitu pengetahuan lingkungan, perilaku lingkungan sertatanggung jawab sosial.Terdapat fenomena menarik ketika banyak kampus khususnya yang tak hanya berwacananamun berlomba-lomba untuk menjadikan konsep green university sebagai reputasi dan citra yangdekat dengan perguruan tinggi tersebut yakni sebagai lembaga pendidikan yang berwawasanlingkungan. Sebagai contoh Universitas Indonesia (UI) bertekad menjadi green campus denganmengembangkan hutan kota seluas 100 hektare. Upaya tersebut sangat positif dalam kaitannyapelestarian flora dan fauna serta bisa menjadi daerah resapan air sekaligus mencegah banjir danlongsor, selain membangun danau untuk penghijauan, UI juga merilis green metric world universityranking yang melakukan pemeringkatan universitas di dunia merujuk pada konsep green university.Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) dan Institut Teknologi Bandung (ITB) juga mengusungkonsep green kampus dengan mengoptimalkan kampus dengan fasilitas ramah lingkungan, InstitutPertanian Bogor (IPB) juga gencar melaksanakan gerakan penghijauan untuk mewujudkan greenuniversity pada area kampus.Universitas Diponegoro (Undip) muncul melalui gerakan penghijauan dan mewujudkan hutankampus dan diterapkannya program car free day di area kampus Undip Tembalang sekali setiapminggu setidaknya dapat meminimalisir polusi dan merupakan bagian dari upaya implementasi darikampus berwawasan lingkungan (green campus). Universitas Negeri Semarang (Unnes)mengembangkan taman keanekaragaman hayati yang meliputi program penghijauan, pemilahansampah organik dan anorganik di kawasan kampus termasuk pengolahan sampah organik menjadikompos. Dalam mewujudkan kampus berkonsep hijau, Pada tahun 2010 Unnes mendeklarasikandiri sebagai kampus konservasi dan masih banyak universitas lain di Indonesia yang membangunbrand image kampus sebagai green university. (Suara Merdeka, 17 Januari 2013)Undip dan Unnes dikenal sebagai tempat aktivitas pendidikan berlangsung danmengedepankan wawasan lingkungan terhadap warga kampus melalui penerapan konsep greenuniversity. Hal tersebut didukung dengan apresiasi yang diberikan oleh Kementerian LingkunganHidup Republik Indonesia dimana Universitas Diponegoro (Undip) ditunjuk sebagai model greencampus pertama di Indonesia, sebelumnya Undip juga meraih penghargaan dari KementerianKehutanan RI sebagai perguruan tinggi yang peduli terhadap penghijauan (Suara Merdeka, 30November 2012) sedangkan Universitas Negeri Semarang (Unnes) di tahun 2010 dikukuhkanKementerian Pendidikan RI untuk mendeklarasikan diri sebagai Universitas Konservasi bertarafinternasional. Hal tersebut berdampak pada citra Undip dan Unnes sebagai kampus dalampenerapan konsep green university dan berwawasan lingkungan terbaik dengan reputasiinternasional.PembahasanImplementasi dari sebuah kebijakan selalu berawal pada keputusan-keputusan lintas fungsionalyang dapat memungkinkan suatu perusahaan atau lembaga mencapai sasarannya, sehingga perludilakukan langkah strategis yang berfokus pada proses penetapan tujuan organisasi, pengembangankebijakan dan perencanaan untuk mencapai sasaran, serta mengalokasikan sumber daya untukmenerapkan kebijakan dan merencanakan pencapaian tujuan organisasi tersebut, salah satu hal yangdisebut memiliki peran yang signifikan dalam keberhasilan suatu kebijakan agar dapat mencapaitujuan yang diinginkan oleh para perumus dan pelaksana kebijakan adalah upaya-upaya strategisdalam melakukan komunikasi yang baik dan terarah kepada sasaran kebijakan.Universitas Diponegoro (Undip) dan Uniiversitas Negeri Semarang (Unnes) merupakansalah satu lembaga pendidikan yang tengah menjalankan kebijakan green university di lingkungankampusnya. Melalui berbagai langkah strategis, Kedua lembaga pendidikan tinggi tersebutmengupayakan terciptanya brand image baru yang muncul di mata khalayak terhadap kampussebagai perguruan tinggi yang berhasil mengintegrasikan antara isu lingkungan dengan kehidupanakademis.Secara konsepsi kebijakan, Universitas Diponegoro dikenal khalayak baik secara internalmaupun eksternal sebagai universitas riset sehingga image excellent research university dilekatkanpada lembaga pendidikan tersebut, namun melalui pemikiran pimpinan universitas yang jugaberperan sebagai policy makers maka menginginkan adanya image baru yang ingin diciptakan olehUndip yakni sebagai lembaga pendidikan tinggi yang bukan hanya dikenal sebagai universitas risettetapi juga universitas yang memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan sedangkan konsepgreen university diterapkan Unnes sejak tahun 2010 dengan mendeklarasikan diri sebagaiuniversitas konservasi. Konsep konservasi yang dirumuskan oleh Universitas Negeri Semarang(Unnes) adalah menciptakan suasana kampus dengan melakukan pelestarian alam dan lingkungansekitar dan mengajarkan unsur nilai seni dan budaya kepada civitas akademika.Upaya untuk membangun brand image sebagai kampus green university dilakukan melaluiberbagai strategi oleh Undip dengan tujuan mencapai mutual understanding dari target audiens baikpublik internal seperti mahasiswa, dosen dan karyawan (seluruh civitas akademika) dan publikeksternal seperti masyarakat luas pada umumnya. Penerapan kebijakan green university olehUniversitas Diponegoro (Undip) dilakukan melalui langkah-langkah strategis dalam mencapaitujuan kebijakan. Hal tersebut sesuai dengan konsepsi green university yang dirumuskan olehUndip yakni dengan mengembangkan drainase (penataan lingkungan termasuk penghijauan),biopori, pengolahan sampah dan transportasi sedangkan Unnes menerapkan kebijakan greenuniversity atau kampus konservasinya berdasarkan 7 pilar konservasi Unnes yang meliputiarsitektur hijau dan transportasi internal, biodiversitas, pengolahan limbah, energi bersih, kebijakannir kertas, kaderisasi konservasi dan seni budaya.Kebijakan tersebut memiliki tujuan jangka panjang yaitu menciptakan mutual understandingtarget audiens dan stakeholders dan berakhir pada munculnya brand image sebagai greenuniversity. Tujuan green university akan tercapai melalui perumusan kebijakan komunikasi yangbaik dan tepat sasar. Upaya tersebut dilakukan oleh Undip dan Unnes dalam mencapai tujuan greenuniversity melalui formula kebijakan komunikasi seperti fact finding, planning, action andcommunication dan evaluation. Tahap fact finding dan planning dilakukan oleh perumus kebijakanmelalui observasi lingkungan kampus yang ternyata masih sangat minimnya jumlah ruang terbukahijau serta tingkat polusi udara yang cukup tinggi terlebih Unnes yang didukung dengan topologiatau lokasi kampus yang sangat mendukung untuk dikembangkannya kebijakan tersebut. Tahapanaction communication dijalankan oleh UPT. Hubungan Masyarakat (Humas) dari masing-masinginstitusi, berbeda dengan Undip , Unnes memiliki Badan Pengembang Konservasi sebagaipelaksana kebijakan tersebut berkoordinasi dengan Humas dalam menjalankan kebijakankomunikasinya. Undip lebih cenderung menekankan pada upaya publisitas dan pemanfaatan mediadalam membangun citranya sebagai green university, melalui pendistribusian press release kepadasejumlah media dengan ekspektasi yakni intensitas publikasi pemberitaan sebanyak-banyaknya sementaraUnnes lebih cenderung pada upaya media relations yakni membangun hubungan jangka panjang denganwartawan dalam upaya pemberitaan pada media melalui pengadaan acara bersama rekan pers dansebagainya, Pengadaan kegiatan (event) juga menjadi pilihan dalam melaksanakan startegi komunikasiseperti diadakannya car free day setiap hari jumat pagi di kampus Undip dan kebijakan kampus bebaskendaraan di lingkungan Unnes. Sementara untuk tahapan evaluasi, baik Undip maupun Unnes belummempunyai indikator keberhasilan yang rigid, hal tersebut dikarenakan tidak adanya target pencapaian yangharus dilakukan dalam strategi komunikasi. Tingkat keberhasilan diukur melalui respon dan kendali yangdiberikan oleh perumus kebijakan dan respon target audiens yang dilakan melalui survey secara informal.PenutupPengembangan kebijakan dan komunikasi strategis mempunyai hubungan yang kuat dalamimplementasi kebijakan dan akan berdampak pada respon audiens terhadap pelaksanaan kebijakantersebut dan akan berimbas pada tujuan kebijakan. Dalam membangun brand image universitassebagai green university, implementasi strategi komunikasi strategis yang diterapkan oleh Undipbelum diformulasikan secara optimal. Secara konsep kebijakan green university yang diterapkanoleh Undip belum dengan pola kebijakan green university yang seharusnya mencakup pada tigaaspek yaitu green builing, green place dan green behaviour. Hal tersebut dikarenakan Undip masihmenekankan pada pembangunan secara fisik atau green building dan green place sedangkan aspekgreen behaviour belum me Dalam menjalanjadi prioritas, Kondisi audiens yang masih sangatrendah jika dilihat dari segi pemrosesan informasi (aspek kognisi, afeksi dan konasi) menunjukkanbahwa belum diterpkannya kebijakan komunikasi secara efisien dan tepat sasar.Implementasi kebijakan green university Unnes dilakukan oleh Badan PengembangKonservasi Unnes bekerjasama dengan pimpinan universitas berupaya untuk mencapai aspek greenbehaviour sehingga yang dilakukan bukan hanya pada aspek green building dan green place sajanamun program yang dijalankan dan berdasarkan pada tujuh pilar konservasi sesuai rencanastrategis universitas dalam kebijakan cenderung tidak didasarkan pada proses riset tetapi lebihmenekankan pada kewajiban yang diberlakukan oleh perumus kebijakan dan harus diikuti olehtarget audiens. Hal tersebut berdampak positif terhadap tingkat kognisi, afeksi dan konasi targetaudiens namun karena dilakukan melalui tidakan koersif maka tidak akan mencapai pada tataranbehaviour (perilaku) dalam jangka waktu yang lama.Strategi komunikasi dalam kebijakan green university Unnes dilakukan dengan cara mediarelations (hubungan media), event (pengadaan kegiatan) dan komunikasi verbal dua arah melaluisosialisasi langsung namun karena hal tersebut tidak melalui proses riset dan perencanaan makaaspek green behaviour yang dicapai hanya merupakan efek dari tindakan koersif yang diberlakukanoleh perumus kebijakan saja meskipun tetap dapat disimpulkan bahwa dampak implementasistrategi komunikasi strategis Unnes kaitannya dalam kebijakan green university dapat dikatakansudah berhasil dalam membangun brand image universitas sebagai green university meskipunbelum secara optimal.DAFTAR PUSTAKAAbdurahman, Oemi. 2001. Dasar-dasar Public Relations, Bandung : PT. Citra Aditya Bakti.Allen , Center dan Scott Cutlip. 2007. Effective Public Relations. Jakarta : PT. Kencana PrenadaMedia GroupAlo, Liliweri. 2011. Komunikasi Serba Ada Serba Makna. Jakarta : Kencana Prenada Media GroupArdianto, Elvinaro & Soemirat, Soleh. 2004. Dasar-Dasar Public Relations, Cetakan Ketiga,Bandung : Remaja Rosda KaryaAprilia, Hera. 2009. Evaluasi Pelaksanaan Program Transmigrasi Model Ring Satu. Tesis.Universitas Gadjah Mada.Argenti, Paul. A. Howell, Robert A, Beck, Karen A. 2005. The Strategic Communication. MITSloan ManagementBeard, M. 2002. Running a Public Relations Departement. London : Kogan SageCutlip, S. M., Center, A. H., & Broom, G. M.. (2000). Effective Public Relations.Jakarta : Kencana.Cutlip, S. M., Center, A. H., & Broom, G. M.. (2007). Effective Public Relations.Jakarta : Kencana.Danim Sudarman. 2000. Pengantar Studi Penelitian Kebijakan, Jakarta : Bumi Aksara.Denig, E, A. Van Der Meiden. 1985. A Geographic of Public Relations Trends. Dordrecht :Martins Publisher.Effendy, Onong Uchajana. 1981. Komunikasi dan Modernasi, Bandung : AlumniJefkins, Frank. (1998). Public Relations. Jakarta : Erlangga.Jefkins, Frank. (2003). Public Relations. Jakarta : Erlangga.Goldblatt, Joe. 2010. Special Events A New And The New Frontier. 6ed. John Willey : New Jersey.Grindle, Marilee. 1980. Politics and Policy Implementation in The Third World. PrincetonUniversity Press : New JerseyGregory, Anne. 2010. Planning and Managing Public Relations Campaigns : A StrategicApproach. Kogan Page Publisher : LondonKurniawan.E, 2006. Studi Analisis Isi Pemberitaan Media Masa Tentang Lingkungan danImplikasinya Terhadap Kebijakan Pengelolaan Lingkungan di Kabupaten Bangka. Tesis.Universitas DiponegoroLesly, Philip, 1987. Lesly’s Public Relations Handbook Third Edition. Englewood Cliff, New York: Prentice Hall.Moleong, Lexy J. 2008. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : PT. Remaja Rosda Karya.Mulyana, Dedy. 2007. Ilmu Komunikasi : Suatu Pengantar. Bandung : PT. Remaja Rosda Karya.Nakamura, R & Smallwood. F, 1980. Politics and Policy Implementation. New York : St. Martin’sPress.Ruslan, Rosady. 2005. Kiat dan Strategi Kampanye Public Relations, Jakarta : PT. Raja GrafindoPersadaRakhmat Jalaludin, 1996. Komunikasi Massa. Bandung : PT. Remaja Rosda KaryaSabatier, Paul. 1986. Top Down And Bottom Up Models of Policy Implementation : A CriticalAnalysis and Sugested Synthesis. Journal of Public Policy.Sukmadinata. 2005. Landasan Kebijakan Makro, Bandung : PT. Remaja Rosda KaryaSoemirat, Soleh dan Elvinaro Radianto.2003. Dasar-Dasar Public Relations. Bandung : RemajaRosdakarya.Wilcox, Dennis L, dkk. 2006. Public Relations Strategies and Tactics. Interaksa : Batam.www.e-journal.undip.ac.id/index.php/pwk/article/view/1451/teknik-perencanaan-wilayah-dankota/ISSN-2338-3526. (diunduh 19 Maret 2013, pk. 16.35)www.edukasi.kompas.com/read/2011/12/14/13141023/inilah.kampus.hijau.terbai.di.dunia.versi.ui(diunduh 23 Maret 2013, pk.20.09)www.dikti.go.id/?p=8453&lang-id 5 perguruan tinggi jadi percontohan kampus hijau. (diunduh 23Maret 2013, pk. 21.44)www.digilib.unmuhjember.ac.id/gdl.pdf?mood=browse&op=read&id=umj-ix-heribudh-1355Analisis asosiasi merek dalam membentuk brand image (diunduh 24 Maret 2013, pk. 16.37)www.suaramerdeka.com/vi/index.php/read/news/2013/03/06/148015/ tahun ini lima perguruantinggi dijadikan green campus. (diunduh 26 Maret 2013, pk. 17.22)www.sustainablecampus.org/universities.html.the.sustainable.campus. sustainable campusdevelopment. (diunduh 26 Maret 2013, pk.14.22)www.unnes.ac.id/bulettin/sosialisasi-kebijakan-transportasi-hijau-unnes-sekaran (diunduh 26 Maret2013, pk. 20.10)www.e-resources.pnri.go.id/index.php?option=com-library&itemid=53key=1. corporatecommunication : a strategic approach to building reputation. (diunduh 27 Maret 2013pk.17.23)http://www.shnews.co/duniakampus/detile-1206-ui-raih-peringkat-kampus-terhijau-ke25-didunia.html (diunduh 29 Maret 2013 pk.16.42)http://www.ui.ac.id/en/campus/page/green-campus green campus global development in recentyears brings indications that the future of the world are on the down edge of the environmen.(diunduh 5 April 2013 pk.13.20)www.find.lib.uts.edu.au/search-do-jsesionedid, Building The Brand : A Case Study of TroyUniversity (diunduh : 23 Maret 2013, pk. 19.22)www.researchgate.net/profile/andrea-muntean/publication, The Brand : One of The University’sMost Valuable Asset. (diunduh : 24 Maret, pk.13.21)www.palgrave.journal.com.pb./journal.abs/p20137a.html, City Branding : A brand concept mapAnalisys of a university top (diunduh 24 Maret 2013, pk. 17.09)www.digilib.ui.ac.id/file?file-abstrak-79123.pdf, Studi Kasus Brand Image Universitas Terbuka(Membangun ekuitas merek (brand equity) elemen brand awareness dan brand associationUniversitas Terbuka (diunduh : 24 Maret 2013, pk. 22.14)www.e-prints.undip.ac.id/21945/1/447.ki-fsp-1995a.pdf. Membentuk Citra Undip Melalui Media(diunduh :25 Maret 2013, pk.12.18)www.puslit.petra.ac.id.journals/iko/190080202/180020202.pdf. Kajian Peran Public Relationsdalam Meningkatkan Citra Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Tengah (diunduh : 25 Maret 2013,pk. 17.22)
KONSTRUKSI REALITAS DI MEDIA ONLINE (STUDI ANALISIS FRAMING TERHADAP PEMBERITAAN RUU PERMUSIKAN DI MEDIA ONLINE DETIK.COM) Rahmatulloh, Faizuddin; Luqman, Yanuar
Interaksi Online Vol 8, No 1: Januari 2020
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.301 KB)

Abstract

Information has become one of the main needs of society today. As a platform that is easily accessed and presented with full information, online media such as Detikcom are the first choice for the community. We often find many differences in how the news reported by online media. This is caused by differences in point of view and media agendas powned by media itself. The difference in how the news reported is a result of the reality created by the media which has a direct effect on the community that shapes understanding of the issue/event. This research tries to define the form of framing conducted by Detickcom in reporting the issue of RUU Permusikan. This research used Pan and Kosicki framing analysis method to decode the news. The result of this research indicate that Detikcom has interest in siding to DPR RI as the compiler of RUU Permusikan by presenting them as the dominanty party. Detik construct Jajak pendapat RUU Permusikan as an initial form of cooperation between musician and DPR RI in drafting process of RUU Permusikan. Detikcom tried to hide the fact that in this discussion that musicians found a lot of bug on the draft. This is intended to form a positive public perception of RUU Permusikan. Detik alignment also built by represent RUU Permusikan as a musician needs by feature only the postive point of view. In addition, Detik try to change th epublic perception
MEMAHAMI KEGIATAN KOMUNIKASI DALAM UPAYA MEMBENTUK RASA PERCAYA (TRUST) DI GROUP BLACKBERRY MESSENGER (BBM) SHOP Novitasari, Eka; Setyabudi, Djoko; Luqman, Yanuar
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan Sejak munculnya e-commerce, penjual dan pembeli dapat melakukan transaksi jualbeli tanpa harus bertemu langsung (face to face). E-commerce merupakan prosestransaksi komersial yang dilakukan melalui teknologi digital. Sebagian besar transaksiyang terjadi melalui internet dan Web (Loudon & Traver,2009:10).Masyarakat Indonesia sekarang ini mulai “melek” dengan teknologi sehinggatransaksi melalui e-commerce mulai banyak dilakukan, karena dinilai lebih efektif danefisien. Ini terbukti dari hasil survey Nielsen Company Indonesia (AC Nielsen 2011)yang menyatakan tren belanja lewat e-commerce di Indonesia meningkat sepanjangtahun 2011. Tercatat 70 persen dari 30 juta pengguna internet di Indonesia melakukane-commerce sepanjang Maret hingga September 2011. Catherine Eddy, DirekturEksekutif Riset Konsumen Nielsen Company Indonesia, menyatakan bahwa padaperiode yang sama tahun sebelumnya keinginan berbelanja secara e-commerce masihdi bawah 68 persen, namun saat ini telah mengalami kenaikan karena kenyamanandan keamanan dalam berinternet juga meningkat. Nielsen melakukan riset konsumensejak Maret 2011 lalu terhadap 500 orang yang mewakili 29 juta pengguna internet diIndonesia. Hasil penelitian juga menunjukkan 52 persen pelaku e-commerce tertarikuntuk membeli buku, pakaian dan sepatu (44 persen), tiket pesawat 35 persen, sertaperalatan elektronik 32 persen.Fenomena yang sedang berkembang di Indonesia belakangan ini adalahmaraknya penggunaan Blackberry Messenger (BBM) sebagai tempat untukmelakukan kegiatan e-commerce melalui fitur Group BBM. Adanya fenomena GroupBBM Shop yang berkembang di masyarakat, merupakan bagian dari perkembanganmedia baru yang ada. Perkembangan media baru ini tidak dapat dihindari, karenatermasuk dalam perkembangan kehidupan manusia. Banyak penjual yang beralihmenggunakan Group BBM Shop sebagai alternatif dalam melakukan e-commercekarena dinilai efektif dan murah. Seperti yang dikatakan oleh Manzur dalam bukunya(2011:6), dengan menggunakan Blackberry seseorang dapat melakukan aktivitas ecommercedimanapun dan kapanpun tanpa memandang tempat dan waktu. Sehinggaseseorang dapat melakukan interaksi dengan pelanggannya baik melalui email ,chat,maupun jejaring sosial secara mobile.Walaupun demikian, proses transaksi tidak langsung yang terjadi pada groupbbm shop tetap menjadi kendala yang menyebabkan terjadinya kegagalan komunikasidan penipuan. Sehingga rasa percaya pada transaksi didalam group bbm shop inimemiliki peran yang sangat penting agar pembeli mau melakukan pembelian.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kegiatan komunikasi yangdilakukan dalam membentuk rasa percaya (Trust) melalui transaksi jual beli yangterjadi pada Group Blackberry Messenger (BBM) Shop.Teori yang digunakan adalah teori komunikasi persuasif yang digunakanuntuk mendeskripsikan bagaimana upaya membentuk rasa percaya (trust) di dalamgroup bbm shop. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatifdengan pendekatan fenomenologi. Subyek dalam penelitian ini adalah penjual danpembeli yang melakukan transaksi melalui group bbm shop.B. Batang TubuhSebelum bergabung dalam sebuah group bbm shop, biasanya pembeli akanmemperhatikan beberapa faktor. Faktor – faktor tersebut diantaranya produk, hargadan yang paling penting rekomendasi dari orang terdekat, seperti teman maupunsaudara. Ketiga faktor inilah yang dijadikan acuan oleh para pembeli sehinggaakhirnya memutuskan bergabung dalam group bbm shop.Setelah pembeli bergabung didalam sebuag group bbm shop untukmembentuk rasa percaya di group bbm shop, penjual melakukan kegiatan komunikasidengan pembeli. Seperti yang diungkapkan oleh Engel, Blackwell dan Miniard(1995:382) bahwa kegiatan komunikasi yang terjadi antara penjual dan pembeliketika melakukan transaksi merupakan kegiatan yang digunakan untuk salingmembagi informasi untuk mencapai tujuan bersama. Tujuan bersama disini adalahadanya pembelian. Kegiatan komunikasi yang dilakukan terjadi dengan tiga tahapan:Pertama, yaitu penjual melakukan kegiatan komunikasi yang dilakukan untukmenarik pembeli agar mau melakukan pembelian. Kegiatan ini diawali denganpenjual terlebih dulu mengupload foto produk yang dijual di group bbm shop,kemudian penjual menjelaskan harga dari produk tersebut. Dan yang terakhir penjualmelakukan promosi dengan menggunakan broadcast message maupun menggunakandisplay picture. Hal ini merupakan bagian dari adanya konsep bauran pemasaran(marketing mix) yang digunakan untuk mempengaruhi permintaan pembeli (Mowendan Minor,2008:62-63).Kedua, setalah penjual melakukan tahapan kegiatan komunikasi yang pertama,pembeli yang merasa tertarik untuk melakukan pembelian akan mengomentari fotoproduk tersebut. Kemudian penjual pun akan melakukan tahapan kegiatan komunikasikedua yang dilakukan untuk meyakinkan pembeli.Pada tahapan kedua ini, akan terjadi dua pendekatan yaitu pendekatan nonpersonal dan pendekatan personal. Pada pendekatan non personal penjual melakukaninteraksi dengan pembeli menggunakan group chat. Pada pendekatan ini biasanyapembeli akan merasa kurang nyaman, karena dapat mengganggu pembeli lain.Sehingga pembeli biasanya akan membatalkan pembelian jika penjual hanyamelakukan interaksi dengan menggunakan group bbm shop.Sedangkan pada pendekatan personal, penjual biasanya menggunakan bbm.Pendekatan ini sangat efektif bagi penjual, karena pembeli akan merasa lebih nyamanuntuk melakukan interaksi. Sehingga pembeli pun merasa yakin untuk melakukanpembelian. Pada interaksi yang terjadi terjadi upaya – upaya yang bertujuan untukmeyakinkan pembeli dimana hal ini merupakan bagian dari komponen komunikasipersuasif yang diungkapkan oleh Adler (2000:405) yaitu Meyakinkan. Dimana darimeyakinkan pembeli rasa percaya dapat terbentuk. Untuk meyakinkan pembeli inipenjual melakukan upaya2 diantaranya menggunakan sapaan, promosi, prosestransaksi yang dilakukan, jaminan dan informasi detail mengenai produk yang dijual.Pada tahapan ketiga, setelah pembeli merasa yakin maka penjual punmelakukan tahapan kegiatan komunikasi yang terakhir yang bertujuan untukmembangun rasa percaya. Rasa yakin yang terbentuk pada tahapan kegiatankomunikasi sebelumnya, akan berkembang menjadi rasa percaya pada tahapan ini.Dari rasa percaya inilah pembeli memutuskan untuk melakukan pembelian. Sehinggapembelian pun akhirnya terjadi. Berikut merupakan bagan yang menjelaskanmengenai bagaimana kegiatan komunikasi yang terjadi pada group bbm shopsehingga dapat terbentuk rasa percaya.Bagan Kegiatan Komunikasi dalam Upaya Membentuk Rasa Percaya (Trust) diGroup Blackberry Messenger (BBM) ShopC. PenutupHasil penelitian mengenai kegiatan komunikasi dalam upaya membentuk rasa percaya(trust) di group bbm shop, menunjukkan beberapa hasil yang dapat memberisumbangan kepada penjual maupun pembeli yang melakukan transaksi melalui groupbbm shop. Dalam membentuk rasa percaya (trust) kepada pembeli, penjual perlumelakukan kegiatan komunikasi yang pada akhirnya nanti dapat membentuk rasapercaya pada pembeli sehingga pembelian pun terjadi. Untuk membentuk rasapercaya tersebut, penjual dapat melakukan kegiatan komunikasi yang dilakukan untukmenarik pembeli terlebih dahulu. Setelah pembeli merasa tertarik, maka selanjutnyapenjual dapat melakukan kegiatan komunikasi yang dilakukan untuk meyakinkanpembeli. Pada tahapan kegiatan komunikasi ini pembeli akan merasa yakin denganadanya pendekatan personal yang dilakukan penjual melalui blackberry messenger(bbm). Setelah pembeli merasa yakin maka rasa percaya pun terbentuk sehinggaterjadilah pembelian pada transaksi melalui group bbm shop.D. Daftar PustakaAdler,Ronald B. dan Goerge Rodman.2000.Understanding Human Communication(7th edition).USA.Horcourt Collage PublisersDenscombe,Martyn.2007.”The Good Research Guide”for small-scale social researchprojects. 3th Edition.LondonEngel,James F, Roger D. Blackwell & Paul W. Miniard.1995. Perilaku KonsumenJilid I.Jakarta.Binarupa AksaraEngel,James F, Roger D. Blackwell & Paul W. Miniard.1995. Perilaku KonsumenJilid 2.Jakarta.Binarupa AksaraHawkins, Dell, dkk. 2007.Consumer Behaviour:Building Marketing Strategi.NewYork :Mc Graw – Hill/IrwinKotler, Philip& Gary Amstrong.2008. Prinsip-Prinsip Pemasaran Jilid1.Jakarta.ErlanggaKotler, Philip& Gary Amstrong.2008. Prinsip-Prinsip Pemasaran Jilid2.Jakarta.ErlanggaLittle John, Stephen.W & Karen A Foss.2008.Teori Komunikasi “Theories of HumanCommunication”edisi ke 9.Jakarta:Salemba HumanikaLoudon, Kenneth C. 2009.E-Commerce “The Revolution is Just Beginning”Manzur,Aunurrofiq.2011.Kendalikan Dagang Online dengan Blackberry. Jakarta:PTElex Media KomputindoMulyana,Deddy.1996. Human Communication. Prinsip-Prinsip Dasar.Bandung:Remaja RosdakaryaMcQuail,Dennis.1987.Mass Communication Theory.Jakarta:ErlanggaMcQuail,D.2000. McQuail’s Mass Communication Theory, 4th Edition, / London,Thousand Oaks, New Delhi: Sage Publications.Moleong, Lexy J.2007.Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi Revisi.Bandung: PTRemaja RosdakaryaMowen,John C. & Michael Minor.(2002).Perilaku Konsumen Jilid 1 (edisi5).Jakarta.ErlanggaMulyana,Deddy.2001.Metodologi Penelitian Kualitatif.Bandung.PT RemajaRosdakaryaSellers, L. 1999. Warning: Shameless Advertising Disguised as Editorial Content WillKill Your Credibility, Alianate Your Costumers, and You May Burn In Hell,dalam Severin, Werner J. & James W. Tankard,Jr. (2009). Teori Komunikasi :Sejarah, Metode, dan Terapan di dalam Media Massa Edisi Kelima. Jakarta:Kencana Prenada Media GroupSeverin,Werner J. & James W. Tankard,Jr. (2009). Teori Komunikasi : Sejarah,Metode, dan Terapan di dalam Media Massa Edisi Kelima. Jakarta: KencanaPrenada Media GroupSutopo,H.B.2002.Metode Penelitian Kualitatif:Dasar Teori dan Terpaannya dalamPenelitian.Surakarta:Sebelas Maret University PressYuswohady.2012.Consumer 3000: Revolusi Konsumen Kelas Menengah diIndonesia.Jakarta:Gramedia
PENGARUH KETEPATAN PENGGUNAAN SELEBRITI ENDORSER OREO ICE CREAM ORANGE DAN FREKUENSI PERBINCANGAN IKLAN DI JEJARING SOSIAL MEDIA TERHADAP MINAT BELI PRODUK Ekantina, Yuaristi; Naryoso, Agus; Luqman, Yanuar
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PENGARUH KETEPATAN PENGGUNAAN SELEBRITIENDORSER OREO ICE CREAM ORANGE DAN FREKUENSIPERBINCANGAN IKLAN DI JEJARING SOSIAL MEDIATERHADAP MINAT BELI PRODUKOleh : Yuaristi EkantinaIlmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas DiponegoroSemarangABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ketepatan penggunaan selebriti endorser Oreo IceCream orange dan frekuensi perbincangan iklan di jejaring sosial media terhadap minat beli produktersebut. Penelitian kuantitatif ini merupakan tipe penelitian explanatory. Subjek penelitian adalahremaja SMA di Kota Semarang. Data diperoleh melalui wawancara, dan kuesioner. Teknikpengambilan sampel dengan menggunakan random sampling, sebanyak 90 responden. Penelitian inimenggunakan metode kuantitatif dengan uji statistik menggunakan rumus konkordansi Kendall. Teoriyang mendasari penelitian ini adalah Model VisCAP dan teori WOM (Word of Mouth). Uji korelasidiantara ketiga variabel menunjukkan signifikansi sebesar 0,000 yang artinya diantara ketiga variabelmemiliki hubungan yang sangat kuat, di mana antara variabel saling mempengaruhi satu sama lain.Penggunaan endorser yang tepat dalam sebuah iklan serta terjadinya fenomena word of mouthterbukti efektif dalam mempengaruhi minat konsumen untuk membeli produk.Kata Kunci : Selebriti Endorser, Perbincangan Iklan, Minat Beli, model VisCAP, Word Of MouthABSTRACTThis research aims to know the influence appropriate uses selebrity endorser Oreo Ice Cream Orangeand conversation frequency of advertising in social media network to purchase intention these product.This quantitative research is a type of explanatory. The underlying theory this research is VisCAPmodels and theories WOM (Word of Mouth). Subjects are high school students in Semarang. Datawere obtained through interviews and questionnaire. Sampling technique using random sampling, totalof 90 respondents. This study uses quantitative statistical test using the formula Kendall concordance.Test the correlation between these three variables showed a significance of 0.000, which means thesethree variables has a very strong correlation, in which the variables influence each other.Anappropriately used celebrity in advertisement as well as the phenomenon of word of mouth provedto be effective in influencing consumer intention to buying the product.Keywords : Selebrity Endorser, Conversation of Advertising, Purchase Intention, VisCAP model,Word of Mouth1. PENDAHULUANDi zaman yang semakin modern ini,persaingan bisnis semakin dinamis, kompleks,dan serba tidak pasti. Setiap perusahaan dalamindustri ini berusaha untuk menarik perhatian(calon) konsumen melalui pemberianinformasi tentang produk. Dalam hal ini,periklanan merupakan salah satu bentukpembeian informasi mengenai produk sebagaifungsi komunikasi dalam melakukanpemasaran. Saat ini, banyak produk yangsaling berlomba-lomba untuk menarik minatkonsumennya melalui penyampaian iklan yangmenarik. Berbagai stretegi periklananditerapkan untuk menarik minat masyarakatterhadap produk yang diiklankan. Bintangtelevisi, aktor film, dan atlit terkenal saat inibanyak digunakan dalam iklan majalah,maupun TV komersial untuk mendukung suatuproduk. Selain itu selebriti dapat jugadigunakan sebagai alat yang cepat untukmewakili segmen pasar yang dibidik (Royan,2005:12). Dalam hal ini produk Oreo IceCream Orange yang menyasar untuk anakanakdan remaja sebagai target market mereka,menggunakan Afika sebagai endorser produkOreo Ice Cream Orange, dalam iklan tersebutsosok Afika digambarkan sebagai sosok yangperiang, cerdas dan sangat menggemaskandengan gaya dan tingkah anak-anak seusianya.Dalam tayangan iklan Oreo Ice Cream Orangedimana terdapat dua gadis cilik, yaitu Afikabersama temannya sedang menikmatipengalaman mereka dalam merasakan sensasidingin Oreo Ice Cream Orange. Iklan tersebutmenggambarkan keceriaan, keseruan dankelucuan mimik muka mereka, dengan atributpakaian perlengkapan dingin serta ritual“diputar-dijilat-dicelupin” dalam menikmatibiskuit tersebut. Dalam hal ini iklan Oreo IceCream Orange menggunakan teknikadvertising Slice of life yang dimaksud adalahiklan oreo ini berhasil menstimulasimasyarakat dalam situasi kehidupansebenarnya (real life). Slice of slice advertisingini terlihat dalam gambar, dimana Afika yangsedang belajar di rumah (seperti kegiatan anakkecil pada umumnya), kemudian diajakbermain oleh temannya selain itumenggunakan teknik Vignettes dan Sittuation.Menurut Russel dan kawan-kawan, produkprodukyang sering menggunakan teknikseperti ini adalah minuman, permen, danproduk-produk lain yang sering dikonsumsidalam kehidupan sehari-hari. Gambar yangditampilkan menunjukkan sejumlah orangyang tengah asik menikmati suatu produk,seperti layaknya menikmati hidup (Kasali,1995:95).Berikut merupakan grafik perbincangan Afikayang sempat menjadi trending topic di linimasa Twitter :Gambar 1.1 (sumber :http://salingsilang.com/baca/tren-twitterpekan-3-februari-valentine-angie-adeledan-afika , 4 Maret 2012, 21:33 WIB)Dari grafik diatas dapat kita lihatpekan ketiga Februari yang lalu (13-19Februari 2012), dari 15 topik yang terjaring diSalingsilang.com, terdapat empat topik yangpaling populer: Hari Valentine, AngelinaSondakh (politisi Partai Demokrat), Adele dariajang Grammy Awards, dan bintang iklanOreo, Afika. Topik lainnya datang dari ajangsepakbola, dan peristiwa dari acara televisi dankehidupan sehari-hari.Gambar 1.5 (sumber :http://media.kompasiana.com/mainstreammedia/2012/02/21/jangan-salahkan-afikabila/,4 Maret 2012, 22:45 WIB)Tanda merah di sebelah kiri grafik,dengan kata Bantu iklan oreo, justru kata-kataAfika mendapatkan urutan lebih tinggi dalamanalisa terhadap 499 Twitter pada 21 Februari2012 pukul 17.08 WIB. Dengan adanya datadatadi atas tersebut, membuktikan bahwasosok Afika sangatlah populer di dunia mayakarena membintangi produk Oreo Ice CreamOrange di televisi banyak orang menyukaiwajahnya yang imut dan tingkahnya yang amatmenggemaskan. Bahkan justru nama Afikalebih dikenal oleh masyarakat dibandingkandengan produk iklan yang ia bintangi, yaituvarian rasa baru dari biskuit Oreo. Kata kunci(key word) pencarian tidak secara langsungmerujuk kepada produk “Oreo”, akan tetapijustru lebih merujuk kepada endorser “Afika”.Bahkan dengan adanya perkembangan socialmedia sekarang ini, hampir di semua socialmedia terjadi “Demam” Afika. Sering kita lihatfoto-foto yang sudah mengalami olah digital,dimana dialog antara Afika dan temannyadalam iklan Oreo diplesetkan menjadi sebuahcerita bergambar yang lucu. Kepolosan Afikaini dijadikan komik strip oleh para penggunaInternet. Hal inilah yang akhirnya membuatnama Afika semakin berkibar. Komik yangkebanyakan dapat membuat kita tersenyumtersebut bahkan sempat menghebohkan duniamaya. Namun yang perlu digaris bawahiadalah bahwa salah satu tujuan iklan jamansekarang adalah menjadikan iklan tersebutbahan perbincangan di situs jejaring sosialkarena itu akan menjadi media promosi gratisuntuk mereka. Di era ini, komunikasipemasaran diwarnai dengan makinmembludaknya data dan makin cerdasnyakonsumen. Facebook, Twitter, Google telahmembawa banyak orang ke dalam duniapercakapan online. Social media merupakansumber informasi tentang berbagai macamperistiwa dan update, bahkan pemantauan dirisendiri oleh jutaan pengguna di seluruh dunia.Social media juga menjadi tools untuk bereaksiterhadap peristiwa yang terungkap di mediasecara real time. Fenomena ini membuat socialmedia makin powerful dan hanya masalahwaktu sebelum beralih ke komunitasriset sebagai sumber informasi sosial,pemasaran komersial, dan politik yang kaya.(http://mix.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=816&Itemid=14, diaksespada tanggal 10 Maret 2012, pukul 01.45WIB)Fenomena sosial media jugamelahirkan selebriti baru di luar jalurkonvensional seperti yang terjadi pada limaatau sepuluh tahun lalu. Banyak orang tiba-tibamenjadi terkenal dan sukses karena sosialmedia. Mereka kini menjadi brand ambassadoryang dengan segala kreativitasnya berhasilberimprovisasi mengemas pesan-pesanmenjadi sangat menarik dan interaktif sesuaidengan target market brand. Implikasinyaadalah perusahaan semakin ketat memantaudan menjaga bagaimana caranya supaya pesanyang disampaikan oleh para ambassadortersebut sesuai dengan positioning merek.Tentunya setiap endorser pasti memiliki gayakomunikasinya masing- masing.Oreo Ice Cream Orange merupakanvarian rasa baru dari biskuit Oreo yangmemiliki cream dengan sensasi dingin sepertiIce Cream rasa jeruk. Target marketnya adalahanak-anak mulai usia 6-12 tahun, serta remajausia 13-19 tahun. Harga Oreo sangatlahterjangkau bagi seluruh kalangan masyarakat.Oreo sebagian besar didistribusikan pada minimarket ataupun toko didaerah perkotaan. Oreokental dengan ciri khas ritualnya “Diputar-Dijilat-Dicelupin” yang disebut juga sebagai‘Momen Oreo’. Biskuit Oreo merupakan salahsatu merek biskuit yang cukup dikenal diIndonesia. Kondisi ini terlihat jelas padaperolehan top brand index biskuit Oreo selamaempat tahun terakhir. Berikut disajikan padaTabel 1.2 di bawah ini.Gambar berikut merupakan TopBrand Index beberapa produk biskuit selamaempat tahun terakhir :Gambar 1.6 (sumber :http://www.topbrand-award.com/topbrand-survey/survey-result/top-brandresult-2012/#, diunduh : 12 Maret, 15:43WIB)Dari grafik di atas tersebut dapatdilihat bahwa produk biskuit Oreo memilikibeberapa kompetitor yang cukup kuatkedudukannya, yaitu produk biskuit Biskuatdan Roma yang selalu menduduki peringkattop brand award, dengan top brand indexminimum sebesar 10%.Dalam hal ini, Top Brand Indexdiukur dengan menggunakan 3 parameter,yaitu top of mind awareness (yaitu didasarkanatas merek yang pertama kali disebut olehresponden ketika kategori produknyadisebutkan), last used (yaitu didasarkan atasmerek yang terakhir kali digunakan/dikonsumsi oleh responden dalam 1 repurchasecycle), dan future intention (yaitudidasarkan atas merek yang ingin digunakan/dikonsumsi di masa mendatang). Top BrandAward diberikan kepada merek-merek didalam kategori produk tertentu yangmemenuhi dua kriteria, yaitu merek-merekyang memperoleh Top Brand Index minimumsebesar 10%, dan merek-merek yang menuruthasil survei berada dalam posisi top three didalam kategori produknya.Penelitian ini bertujuan untukmenganalisis pengaruh ketepatan penggunaanselebriti endorser dan frekuensi perbincanganmengenai iklan Oreo Ice Cream Orange di05101520253035RomaBiskuatKhongGuanRegalOreoMondeBetterjejaring sosial media terhadap minat beliproduk.Tayangan iklan televisi produk Oreoversi Afika cukup tenar di dunia maya, banyakorang yang memperbincangkan kelucuan dankeluguan afika dalam iklan tersebut. Oranglebih tertarik untuk memperbincangkan sosokdan tingkah afika yang lucu danmenggemaskan dibandingkan dengan produkOreo Ice Cream Orange yang ia bintangi.Selayaknya seeorang endorser berfungsi untukmemasarkan produk yang ia iklankan, akantetapi tak jarang yang terjadi justru sebaliknya,dimana ia memperoleh ketenaran ataupopularitas melalui iklan yang ia bintangi,seperti halnya dalam kasus ini. Oleh karena itujika hal tersebut terjadi akan dapatmengakibatkan endorser akan lebih dikenaldan disukai masyarakat, sementara produkakan tertinggal serta penjualan tidakmeningkat, atau tidak berpengaruh terhadapminat beli masyarakat terhadap produk yangdiiklankan.Asosiasi berulang dari suatu merekdengan seorang selebriti akhirnya membuatkonsumen berpikir bahwa merek tersebutmemiliki sifat-sifat menarik yang serupadengan sifat-sifat yang dimiliki oleh siselebriti. Para konsumen mungkin menyukaimerek hanya karena mereka menyukai selebritiyang mendukung produk tersebut. Selebritiadalah tokoh (aktor, penghibur, atau atlet)yang dikenal masyarakat karena prestasinya didalam bidang-bidang yang berbeda darigolongan produk yang didukung. Para selebritibanyak diminta sebagai juru bicara produk.Ohanian membagi tiga faktor yang ada padaselebriti yang dapat mempengaruhi konsumenuntuk membeli, antara lain daya tarik fisik(kecantikan, ganteng, lucu dan sebagainya),dapat dipercaya dan expertise (adanyakeahlian). Sementara itu menurut PhilipKotler, seorang selebriti yang sangatberpengaruh disebabkan memiliki kredibilitasyang didukung faktor keahlian, sifat dapatdipercaya, dan adanya kesukaan (Royan,2005:8).Dalam buku “AdvertisingCommunication and promotion management”tulisan John Ressiter dan Larry Percy,disebutkan bahwa selebriti dapat digunakanoleh pemasar untuk melakukan boostingterhadap satu atau lebih komunikasi yang akandilakukan. Itu artinya selebriti diharapkannantinya dapat membantu brand awareness,brand recognition, brand recall dan meningkatpada brand purchase. Kenyataan yang ada jikadihubungkan dengan statement di atas,memang penggunaan selebriti yang sedang“naik daun” dapat meningkatkan penjualanketika produk diiklankan. Hal ini jugaditegaskan Agrawal dan Kamakura dalamJurnal marketing tahun 1995 bertajuk “Theeconomic worth of celebrity endorser: an eventstudy analysis”, bahwa konsumen lebihmemilih barang atau jasa yang di-endor olehselebriti dibanding tidak (Royan, 2005:12).Setiap pemasar perlu mengarahkanusaha mereka pada penciptaan kesadaran akanmerek dan mempengaruhi sikap serta niatpositif atas merek. Kesadaran (awareness)adalah upaya untuk membuat konsumenfamiliar melalui iklan, promosi penjualan, dankomunikasi pemasaran lainnya akan suatumerek, memberikan informasi kepada banyakorang tentang ciri khusus dan manfaatnya,serta menunjukkan perbedaannya dari merekpesaing, dan menginformasikan bahwa merekyang ditawarkan lebih baik ditinjau dari sisifungsional atau simbolisnya. Jika komunikatorsukses memberikan kesadaran konsumen akanmereknya, konsumen dapat membentuk sikap(attitudes) positif terhadap merek tersebut danmungkin akan muncul niat (intention) untukmembeli merek tersebut, ketika timbulkeinginan untuk membeli suatu produk dimasa yang akan datang (Shimp, 2003:161).Dalam model yang telahdikembangkan oleh Rossiter dan Percy,karakter si selebritis akan disesuaikan denganCommunication objective yang hendak dicapai.VisCAP itu sendiri terdiri dari 4 unsur yaituVisibility, Credibility, Attraction dan Power.Di mana visibility memiliki dimensi seberapajauh popularitas selebriti. Credibilityberhubungan dengan product knowledge yangdiketahui sang bintang. Attraction lebihmenitikberatkan pada daya tarik sang bintang,personality, tingkat kesukaan masyarakatkepadanya (nge-fans), dan kesamaan dengantarget user. Power adalah kemampuan selebritidalam menarik konsumen untuk membeli(Royan, 2005:15).Bintang iklan Afika cukup banyakmenarik perhatian masyarakat. Seperti halnyadi Jejaring sosial media banyak sekali yangmengunggah dan melihat video Afika dalamIklan Oreo Ice Cream Orange, serta banyakpula yang mengupload foto Afika besertaprofilnya. Consumer Generated Marketing(Advertising) adalah penciptaan iklan ataukonten pemasaran lainnya oleh pelanggan baikdisengaja maupun tidak disengaja. Dalam halini konsumen sendiri yang menghasilkan tidakhanya iklan yang menarik, tetapi juga beberapapers yang baik dan WOM yang dihasilkan juga(Kardes 2010:320). Contohnya adalah dalamkasus Oreo Ice Cream Orange, banyak sekaliyang membicarakan mengenai iklan tersebut dijejaring sosial media, tingkah Afika yang lucudan menggemaskan mampu menyedotperhatian masyarakat sehingga banyakmenimbulkan perbincangan di sosial media,seperti halnya twitter, facebook, dan youtube.Seiring dengan perkembangan pesat teknologikomunikasi serta semakin banyakpenggunanya yang mahir dalam menggunakanaplikasi, software, website terbaru menjadisalah satu faktor penting yang memungkinkanmunculnya fenomena ini. Kini siapa saja bisamembuat video, merekam gambar kemudianmemasukkannya ke situs sosial seperti Twitter,Youtube, dan Facebook di mana siapa sajadapat melihat hasil karya orang tersebutdengan mudah. Sebenarnya ConsumerGenerated Marketing berawal dari kehausanmanusia akan perhatian dari orang lain.Dimana tujuan utamanya adalah untukmemungkinkan konsumen untukmengekspresikan, dalam kata-kata merekasendiri, bagaimana perasaan mereka tentangmerek. Akibatnya, pesan-pesan otentik,inovatif, dan menghibur menawarkankesempatan yang lebih besar untukmenghasilkan desas-desus/Word Of Mouthyang positif tentang merek daripadakomunikasi pemasaran tradisional.Word Of Mouth adalah tindakan satukonsumen berbicara lain tentang merek, danitu bisa terjadi tatap muka dan secara tidaklangsung melalui telepon, surat, atau internet.Berkat teknologi, word of mouth dapatmenyebar lebih cepat dan lebih jauhdibandingkan sebelumnya, melalui teleponseluler, email, pesan teks, situs jejaring sosial,blog, instant messaging, chat room, dan papanpesan. Karena adanya internet, Word OfMouth dapat berlama-lama untuk waktu yanglama di ruang cyber (Kardes, 2010:317).Suprapti (2010:248), mengungkapkan ada 2(dua) fungsi komunikasi WOM yaitu memberiinformasi dan mempengaruhi. Pembicaraanmengenai iklan Oreo Ice Cream Orange versiAfika di jejaring sosial media membuat orangsemakin mengenal secara lebih jauh mengenaisosok Afika, dan juga membuat orang-orangmengetahui bahwa Oreo mengeluarkan varianrasa baru yaitu Oreo Ice Cream Orange yangmemiliki sensasi dingin.Word of mouth dilahirkan justruuntuk kepentingan komunikasi pemasaranyang lebih efisien dan credible. Word of mouthditujukan untuk menggantikan programkomunikasi pemasaran konvensional sepertiiklan yang sudah kehilangan kredibilitas danterlalu memakan biaya. Keberhasilan WOMtidaklah tunggal. WOM juga dipengaruhi olehperan public relations, media iklan, yangmempunyai peran untuk membangunawareness akan sebuah produk atau merek.Jika konsumen datang ke point of purchaseuntuk memutuskan membeli barang atau tidak,WOM menjadi sebuah faktor yangmenentukan. Advertising membangkitkankesadaran orang. Namun, orang yang inginmembeli produk dipengaruhi oleh referensidari orang lain.Banyak orang dan juga komponenyang terlibat dalam menciptakan saranapromosi bagi suatu brand atau produkmenggunakan social media, kesemuanya ituharus mampu memunculkan influence ataupengaruh. Influence dideskripsikan sebagaikemampuan dalam membentuk dan mengubahpesan yang mampu menarik perhatian orangorangdan menginspirasi orang-orang untukmengambil tindakan dari atensi yang berhasildimunculkan. Influencer ini harus mampumembentuk ikatan yang sangat kuat ataudiistilahkan dengan Engagement. Engagementmengandung arti keterikatan yang dibangunsecara langsung atau tidak langsung dari tujuanutamanya untuk memberikan perhatian padaproduk atau brand juga memungkinkanterjadinya interaksi di dalamnya, ini dilakukansecara virtual karena social medialah sebagaitool-nya (Juju&Sulianta, 2010:10-11).Keberadaan selebriti dalam iklanyang dapat berjalan selaras dengan frekuensiperbincangan iklan dalam media jejaring sosialakan memunculkan minat beli konsumen.Minat membeli merupakan tahap awal dariperilaku konsumen. Engel (1994:3)mndefinisikan perilaku konsumen sebagaitindakan yang langsung terlibat dalammendapatkan, mengkonsumsi danmenghabiskan produk dan jasa, termasukproses keputusan yang mendahului danmenyusuli tindakan ini.Minat membeli merupakan aktivitaspsikis yang timbul karena adanya perasaan danpikiran yang diikuti oleh perasaan senang dancenderung untuk mencari terhadap suatu objekyaitu barang atau jasa yang diinginkan danmerupakan tahapan sebelum terjadi keputusanmembeli (Marx dalam Engel, 1994: 201).Hipotesis penelitian dimana terdapathubungan positif antara variabel pengaruhketepatan penggunaan selebriti endorser OreoIce Cream Orange dan frekuensi perbincanganiklan di jejaring sosial media terhadap minatbeli produk, artinya semakin tepat selebritiyang digunakan dalam sebuah iklan Oreo IceCream Orange, maka semakin tinggi minat beliterhadap produk tersebut. Serta semakin seringfrekuensi perbincangan iklan yang dilakukandi jejaring sosial media , maka semakin tinggiminat beli terhadap produk tersebut.2. METODETipe penelitian yang digunakanadalah eksplanatory (penjelasan), yaitu untukmejelaskan ada tidaknya hubungan danpegaruh dua gejala atau lebih(Singarimbun,1995 : 5). Yang dimaksudkandalam penelitian ini untuk menegetahui sejauhmana pengaruh ketepatan penggunaan selebritiendorser Oreo Ice Cream Orange dan frekuensiperbincangan iklan di jejaring sosial mediaterhadap minat beli Produk.Sampel dari penelitian ini adalahsiswa SMA Negeri 1 Semarang kelas X dan XIyang memiliki akun jejaring sosial dan masihaktif menggunakannya dalam ±5 bulanterakhir. Dan yang menjadi sample riil yangdidapat menggunakan rumus Slovin adalahsebanyak 90 siswa.Teknik sampling yang digunakanadalah teknik random sampling, yaitu teknikpengambilan sample yang memberi peluangatau kesempatan sama bagi setiap unsur atauanggota populasi untuk dipilih menjadisample, dengan kata lain penentuan sampelberdasarkan tidak berdasarkan pertimbanganatau kriteria responden tertentu. Alat danteknik pengumpulan data yang digunakanuntuk memperoleh data dalam penelitian iniadalah interview dan kuesioner.3. PEMBAHASANBerdasarkan hasil perhitunganstatistik konkordasi Kendall diperoleh nilaikoefisien sebesar 0,909 dengan tarafsignifikansi sebesar 0,000. Hasil uji hipotesismembuktikan bahwa ketika ketepatanpenggunaan selebriti endorser Oreo Ice CreamOrange dan frekuensi perbincangan iklan dijejaring sosial media bersama-sama,mempengaruhi minat beli produk tersebut.Dengan demikian, hipotesis yang menyatakanbahwa terdapat hubungan positif antaravariable pengaruh ketepatan selebriti endorserOreo Ice Cream Orange dan frekuensiperbincangan iklan di sosial media terhadapminat beli terhadap produk dapat diterima.Selebriti dapat digunakan olehpemasar untuk melakukan boosting terhadapsatu atau lebih komunikasi yang akandilakukan. Itu artinya selebriti diharapkannantinya dapat membantu brand awareness,brand recognition, brand recall dan meningkatpada brand purchase. Kenyataan yang ada jikadihubungkan dengan statement di atas,memang penggunaan selebriti yang sedang“naik daun” dapat meningkatkan penjualanketika produk diiklankan. Hal ini jugaditegaskan Agrawal dan Kamakura dalamJurnal marketing tahun 1995 bertajuk “Theeconomic worth of celebrity endorser: an eventstudy analysis”, bahwa konsumen lebihmemilih barang atau jasa yang di-endor olehselebriti dibanding tidak (Royan, 2005:12).Setiap pemasar perlu mengarahkanusaha mereka pada penciptaan kesadaran akanmerek dan mempengaruhi sikap serta niatpositif atas merek. Kesadaran (awareness)adalah upaya untuk membuat konsumenfamiliar melalui iklan, promosi penjualan, dankomunikasi pemasaran lainnya akan suatumerek, memberikan informasi kepada banyakorang tentang ciri khusus dan manfaatnya,serta menunjukkan perbedaannya dari merekpesaing, dan menginformasikan bahwa merekyang ditawarkan lebih baik ditinjau dari sisifungsional atau simbolisnya. Jika komunikatorsukses memberikan kesadaran konsumen akanmereknya, konsumen dapat membentuk sikap(attitudes) positif terhadap merek tersebut danmungkin akan muncul niat (intention) untukmembeli merek tersebut, ketika timbulkeinginan untuk membeli suatu produk dimasa yang akan datang (Shimp, 2003:161).Dalam model yang telahdikembangkan oleh Rossiter dan Percy,karakter si selebritis akan disesuaikan denganCommunication objective yang hendak dicapai.VisCAP itu sendiri terdiri dari 4 unsur yaituVisibility, Credibility, Attraction dan Power.Di mana visibility memiliki dimensi seberapajauh popularitas selebriti, Afika dinilai cukuppopular karena dia sebelumnya memenangkankontes Bebelac Star dan membintangi iklanBebelac “You are my everything”. Credibilityberhubungan dengan product knowledge yangdiketahui sang bintang, serta layak dan dapatdipercaya. Tokoh Afika dinilai respondencukup kedible, selain karena dia merupakantokoh anak-anak yang polos, aktingnya pundinilai cukup memuaskan dan tidak dibuatbuat.Attraction lebih menitikberatkan padadaya tarik sang bintang, personality, tingkatkesukaan masyarakat kepadanya (nge-fans),dan kesamaan dengan target user. Afikadengan tingkahnya yang lucu danmenggemaskan banyak disukai olehmasyarakat, selain itu wajahnya yang cantikdan imut-imut juga memiliki daya tariktersendiri. Dan yang terakhir adalah Poweryang merupakan kemampuan selebriti dalammenarik konsumen untuk membeli (Royan,2005:15).Pengalaman manusia hanyamerupakan perubahan sikap yang temporersifatnya ketika dipersuasi melalui jalurperiferal dibandingkan dengan perubahan yangbersifat tetap yang dialami dalam jalur utama.Sikap yang dibentuk melalui jalur utama akanrelatif tetap dan bertahan terhadap perubahan.Seperti yang juga dijabarkan dalam hipotesispertama (H1) hasil uji korelasi dijelaskanbahwa nilai koefisien bertanda positif yangberarti terjadi hubungan positif, namun beradapada kondisi yang lemah karena nilai koefisienkorelasi < 0,5. Yang berarti ketepatanpenggunaan selebriti endorser Oreo Ice CreamOrange terbukti memiliki pengaruh dankorelasi dalam menarik minat konsumen untukmembeli produk, hanya saja tidak terlalu besar.Secara komparatif, ketika kecenderunganelaborasi rendah (karena topik komunikasitidak terlalu relevan dengan penerima pesan),perubahan sikap dapat terjadi, namun sifatnyatemporer kecuali jika konsumen dihadapkansecara kontinu (Shimp, 2003:248). Afikamemang pernah memenangkan kontes BebelacStar yang di tayangkan di Televisi, akan tetapiberdasarkan wawancara peneliti, repondenkurang mengenal sosok Afika sebelum iamembintangi Iklan Oreo Ice Cream Orange.Nama Afika booming dan banyak dibicarakansetelah ia membintangi produk Oreo IceCream Orange.Asosiasi berulang dari suatu merekdengan seorang selebriti akhirnya membuatkonsumen berpikir bahwa merek tersebutmemiliki sifat-sifat menarik yang serupadengan sifat-sifat yang dimiliki oleh siselebriti. Para konsumen mungkin menyukaimerek hanya karena mereka menyukai selebritiyang mendukung produk tersebut. Selebritiadalah tokoh (aktor, penghibur, atau atlet)yang dikenal masyarakat karena prestasinya didalam bidang-bidang yang berbeda darigolongan produk yang didukung. Para selebritibanyak diminta sebagai juru bicara produk.Ohanian membagi tiga faktor yang ada padaselebriti yang dapat mempengaruhi konsumenuntuk membeli, antara lain daya tarik fisik(kecantikan, ganteng, lucu dan sebagainya),dapat dipercaya dan expertise (adanyakeahlian). Sementara itu menurut PhilipKotler, seorang selebriti yang sangatberpengaruh disebabkan memiliki kredibilitasyang didukung faktor keahlian, sifat dapatdipercaya, dan adanya kesukaan (Royan,2005:8).Fenomena Afika cukupmenghebohkan dunia maya, seperti halnya dijejaring sosial media banyak sekali yangmengunggah dan melihat video Afika dalamIklan Oreo Ice Cream Orange, serta banyakpula yang mengupload foto Afika besertaprofilnya. Consumer Generated Marketing(Advertising) adalah penciptaan iklan ataukonten pemasaran lainnya oleh pelanggan baikdisengaja maupun tidak disengaja. Dalam halini konsumen sendiri yang menghasilkan tidakhanya iklan yang menarik, tetapi juga beberapapers yang baik dan WOM yang dihasilkan juga(Kardes 2010:320). Contohnya adalah dalamkasus Oreo Ice Cream Orange, banyak sekaliyang membicarakan mengenai iklan tersebut dijejaring sosial media, tingkah Afika yang lucudan menggemaskan mampu menyedotperhatian masyarakat sehingga banyakmenimbulkan perbincangan di sosial media,seperti halnya twitter, facebook, dan youtube.Seiring dengan perkembangan pesat teknologikomunikasi serta semakin banyakpenggunanya yang mahir dalam menggunakanaplikasi, software, website terbaru menjadisalah satu faktor penting yang memungkinkanmunculnya fenomena ini. Kini siapa saja bisamembuat video, merekam gambar kemudianmemasukkannya ke situs sosial seperti Twitter,Youtube, dan Facebook di mana siapa sajadapat melihat hasil karya orang tersebutdengan mudah. Pada dasarnya ConsumerGenerated Marketing berawal dari kehausanmanusia akan perhatian dari orang lain.Dimana tujuan utamanya adalah untukmemungkinkan konsumen untukmengekspresikan, dalam kata-kata merekasendiri, bagaimana perasaan mereka tentangmerek. Akibatnya, pesan-pesan otentik,inovatif, dan menghibur menawarkankesempatan yang lebih besar untukmenghasilkan desas-desus/Word Of Mouthyang positif tentang merek daripadakomunikasi pemasaran tradisional. Sepertihalnya banyak pula yang membuat ‘komikstripplesetan’ perbincangan Afika dalam iklanOreo Ice Cream Orange. Consumer generatedadvertising adalah bentuk baru yang menarikdari keterlibatan pelanggan yangmemanfaatkan kemampuan komunikasidigital.Word Of Mouth adalah tindakan satukonsumen berbicara lain tentang merek, danitu bisa terjadi tatap muka dan secara tidaklangsung melalui telepon, surat, atau internet.Berkat teknologi, word of mouth dapatmenyebar lebih cepat dan lebih jauhdibandingkan sebelumnya, melalui teleponseluler, email, pesan teks, situs jejaring sosial,blog, instant messaging, chat room, dan papanpesan. Seperti fenomena yang terjadi dalamkasus ini, beberapa orang yang mengunduhtentang iklan Oreo Ice Cream Orange tersebut,baik berupa video, komik strip dan lainsebagainya ke berbagai jejaring sosial media,cukup banyak menggundang tanggapan dankomentar dari pengguna jejaring sosial medialainnya. Karena adanya internet, Word OfMouth dapat berlama-lama untuk waktu yanglama di ruang cyber (Kardes, 2010:317).Seperti halnya ketika Afika dalam iklan OreoIce Cream menjadi perbincangan (TrendingTopic) di Twitter, Serta banyaknya yangmelihat dan me likes video iklan Oreo IceCream Orange di youtube atau bahkanbanyaknya like fanspage Afika di Facebook.Bahkan banyak pula yang membuat konten‘tiruan’ mengenai profil Afika di Facebook.Suprapti (2010:248), mengungkapkan ada 2(dua) fungsi komunikasi WOM yaitu memberiinformasi dan mempengaruhi. Pembicaraanmengenai iklan Oreo Ice Cream Orange versiAfika di jejaring sosial media membuat orangsemakin mengenal secara lebih jauh mengenaisosok Afika, dan juga membuat orang-orangmengetahui bahwa Oreo mengeluarkan varianrasa baru yaitu Oreo Ice Cream Orange yangmemiliki sensasi dingin.Word of mouth yang berawal darisesuatu yang natural dan tidak terencanaakhirnya berkembang menjadi bagian daripromotion mix yang dapat didesain dandirencanakan layaknya melakukan rencanakomunikasi pemasaran lainnya seperti iklandan even. Dalam hal ini banyaknya masyarakatyang membicarakan iklan tersebut di jejaringsosial media secara tidak langsung telah terjadiWOM (word of mouth) yang memiliki peluanguntuk mempersuasi calon konsumen untukmembeli produk yang dibicarakan, yangtermasuk dalam level Word of mouth yangmembuat konsumen yang mempromosikanproduk perusahaan, namun kegiatan promosidan komunikasi seperti ini biasanya tidakterlalu mempengaruhi penjualan selain hanyamenambah kehebohan dan menambah jumlahantrian (Harjadi&Fatmasari, 2008:75). Sepertiyang juga dijabarkan dalam hipotesis kedua(H2) hasil uji korelasi dijelaskan bahwa nilaikoefisien bertanda positif yang berarti terjadihubungan positif, namun berada pada kondisiyang lemah karena nilai koefisien korelasi <0,5. Yang berarti frekuensi perbincangan iklandi jejaring sosial media terbukti memilikipengaruh dan korelasi dalam menarik minatkonsumen untuk membeli produk, hanya sajatidak terlalu memiliki pengaruh yang besar.Oreo merupakan produk yang cukupdiminati oleh masyarakat, terutama anak-anakdan remaja. Walaupun persaingan produk Oreodengan beberapa produk biskuit lainnya tinggi.Keseluruhan responden tetap memilih produkOreo. Hal ini di sebabkan karena produk Oreomerupakan produk yang dipercaya olehkonsumen, baik segi kualitas rasa, dan lainsebagainya. Minat membeli merupakanaktivitas psikis yang timbul karena adanyaperasaan dan pikiran yang diikuti olehperasaan senang dan cenderung untuk mencariterhadap suatu objek yaitu barang atau jasayang diinginkan dan merupakan tahapansebelum terjadi keputusan membeli (Marxdalam Engel, 1994: 201).4. KESIMPULANDiantara ketiga variable yang diteliti,dimana Ketepatan penggunaan selebritiendorser Oreo Ice Cream Orange dan frekuensiperbincangan iklan di jejaring sosial mediaterhadap minat beli produk memiliki korelasisangat kuat. Hasil uji korelasi antara variableX1, X2, dengan Y diperoleh signifikansisebesar 0,000 yang menunjukkan bahwahubungan antar variable sangat signifikan. Jikanilai signifikansi < 0,05 berarti pengaruh antarvariable sangat signifikan. Maka hipotesisditerima. Dimana penggunaan selebriti yangtepat dalam iklan Oreo Ice Cream Orange,menjadikan iklan tersebut banyakdiperbincangkan di jejaring sosial media, yangmana secara tidak langsung dapatmempengaruhi sikap seseorang untuk tertarikmembeli produk tersebut.Pemanfaatan ketenaran endorserAfika dalam membintangi iklan tersebutmemiliki peluang dalam merubah sikapkonsumen, namun sifatnya temporer kecualijika konsumen dihadapkan secara kontinudengan menampilkan bintang iklan tersebutdalam iklan-iklannya. Dengan dihadirkannyaendorser yang tepat secara kontinu tentunyaakan dapat merubah sikap calon konsumenagar tertarik untuk membeli produk tersebut.5. DAFTAR PUSTAKAAndeas, Diki. 2010.Chickenstrip:Why Did The Chicken BrowseThe Social Media?. Jakarta : PT. Elex MediaKomputindoArens, William F. 2006.Contemporary Advertising. New York:McGrawHill/Irwin.Durianto, Darmadi., Sugiarto & ToniSitinjak. 2001. Strategi Menaklukan Pasar:melalui riset ekuitas dan perilaku merek.Jakarta : PT. Gramedia Pustaka UtamaEngel, J.F., Roger D. Blackwell &Paul W. Miniard. 1994. Perilaku konsumen(Edisi keenam Jilid 1). Alih Bahasa: Drs.Budijanto. Jakarta: Binarupa Aksara.Griffin, EM. 1997. A First Look AtCommunication Theory (Third Edition). TheMcGraw-Hill Companies, IncHasan, Ali. 2008. Marketing.Yogyakarta: MedPress.Holmes, David. 2005.Communication Theory: Media, Technology,Society. London, Thousand Oaks, New Delhi:Sage Publications.Ibnu Widiyanto. 2008. Pointers :Metodologi Penelitian. Semarang: BP UndipJuju, Dominikus & Feri Sulianta.2010. Branding Promotion with SocialNetwork. Jakarta: PT. Elex MediaKomputindo.Kardes, Frank R., Maria L. Cronley,and Thomas W. Cline. 2010. ConsumerBehaviour. USA : Cengage LearningKurniawan, Albert. 2009. BelajarMudah SPSS Untuk Pemula. Jakarta : PT.Buku Kita.Littlejohn, Stephen W., and Karen A.Foss. 2009. Encyclopedia of CommunicationTheory. London: Sage Publications.McQuail, Denis. 2000. Mediaperformance; mass communication and thepublic interest. London: Sage Publications.Nunnally dalam Ghozali, Imam.2001. Aplikasi Analisis Multivariate denganProgram SPSS, Badan Penerbit UniversitasDiponegoro, Semarang.Royan, Frans M. 2005. MarketingSelebritis. Jakarta : PT. Elex MediaKomputindoShimp, Terence A. 2000/2003.Advertising Promotion and Supplement Aspectof Integrated Marketing Communication 5thEdition ; Alih Bahasa : Periklanan Promosidan Aspek Tambahan Komunikasi PemasaranTerpadu, edisi ke-5 , Terjemahan: ReyvaniSyahrial. Jakarta : ErlanggaSuprapti, Ni Wayan, Sri. 2010.Perilaku Konsumen Pemahaman Dasar danAplikasinya dalam Strategi Pemasaran. Bali :Udayana University PressThurlow, Crispin dan kawan-kawan.2004. Computer Mediated Communication :Social Interaction and The Internet. London :Sage Publications.Trompenaars, Fons dan PeterWoolliams. 2004. Marketing Across Cultures.West Sussex, England: Capstone PublishingLtd.JurnalHarjadi, Dikdik & Dewi Fatmasari.,2008. Word of mouth (WOM) communicationsebagai alternatif kreatif dalam komunikasipemasaran. Equilibrium Vol 4 No.8, 72-78Internet(http://mix.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=816&Itemid=14, diaksespada tanggal 10 Maret 2012, pukul 01.45WIB)(http://dc204.4shared.com/doc/N6ZM5ijl/preview.html (Majalah MARKETING –Edisi Khusus TOP BRAND / 2008), diaksespada tanggal 22 Oktober, pukul 01.34 WIB)(http://www.mayora.com/ourcompany/mayora-at-a-glance/, diakses padatanggal 23 Oktober, pukul 20.00 WIB)(http://www.khongguan.co.id/index.php?option=com_content&view=section&layout=blog&id=6&Itemid=54, diakses pada tanggal 23Oktober, pukul 20.28 WIB)(http://www.topbrand-award.com/top-brandsurvey/survey-result/top-brand-result-2012/#,diakses pada tanggal 12 Maret, pukul 15:43WIB)(http://www.topbrand-award.com/top-brandsurvey/survey-report/, diakses pada tanggal 13November 2012, pukul 01:52 WIB)(http://media.kompasiana.com/mainstreammedia/2012/02/21/jangan-salahkan-afika-bila/,diakses pada tanggal 4 Maret 2012, pukul22:45 WIB)(http://www.scribd.com/doc/111639637/Kraft-Foods-Company, diakses pada tanggal 23Oktober, pukul 18:49 WIB)(http://poppyfriscilla.blogspot.com/2012/04/analisis-iklan-oreo-terbaru-dengan.html, diaksespada tanggal 18 Juni 2012, pukul 05:09 WIB)(http://www.hanyaoreo.com/products.php,diakses pada tanggal 23 Oktober 2012, pukul18:45 WIB)(http://www.idnewsblast.com/foto-profil-afikaiklan-oreo-ice-cream.html, diakses padatanggal 10 November 2012, pukul 02:21 WIB)(http://antumfiqolbi.wordpress.com/2012/03/19/kumpulan-komik-afika-update/, diakses padatanggal 10 November 2012, pukul 02:07 WIB)(http://salingsilang.com/baca/ketika-afikabernyanyi-paman-datang, diakses pada tanggal4 Maret 2012, pukul 21:36 WIB)(http://blogsiffahartas.blogspot.com/2011/07/produk-biskuit-oreo-produksi-pt-kraft.html,diakses pada tanggal 23 Oktober 2012, pukul18:17 WIB)(http://balakampret.blogspot.com/2012/02/kumpulan-komik-strip-lucu-afika-oreo.html,diakses pada tanggal 05 Maret 2013, pukul02:54 WIB)(http://salingsilang.com/baca/tren-twitterpekan-3-februari-valentine-angie-adele-danafika,diakses pada tanggal 4 Maret 2012,pukul 21:33 WIB(http://salingsilang.com/baca/pola-marketingdi-media-sosial, diakses pada tanggal 18 Juni2012, pukul 05:31 WIB)(http://id.wikipedia.org/wiki/Pemasaran_kreasi_konsumen, diakses pada tanggal 05 Maret2013, pukul 02.20 WIB)
Peran dan Posisi Hubungan Masyarakat Sebagai Fungsi Manajemen Perguruan Tinggi Negeri di Semarang Luqman, Yanuar
Interaksi: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 2, No 1 (2013): January 2013
Publisher : Master of Communication Science Program, Faculty of Social and Political Science, Diponego

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (309.133 KB) | DOI: 10.14710/interaksi.2.1.1-10

Abstract

Abstract :The goal of research to find out the role and position in public relations in management education in­stitution (university) in achieving its objectives. After identification of roles and positions preformance, the study aims to evaluate the performance of public relations as part of management. The basic concept as the foundation is the concept of the role of Public Relations degree : expert precriber, problem solving facilitator, communications facilitator and communication technician. This study used a qualitative descriptive research method with the study subjects were Diponegoro Uni­versity and Public Relations Semarang Public Relations and internal stakeholders. The results of this study indicate Role of Public Relations at State University of Communication tends to act as a technician and only a small role as Communications facilitator. The position of Public Relations at State University is a marginal position as evidenced by many levels of bureaucracy that must be passed in implementing Public Relations function. Performance-related Public Relation role and position in this study assessed the positive and in line with the work portion.  Keywords: role, position, public relations, state university Abstraksi :Tujuan penelitian untuk mengetahui peran dan posisi hubungan masyarakat (humas) dalam manajemen di institusi pendidikan dalam hal ini universitas dalam mencapai tujuan. Setelah melakukan identifikasi per­an dan posisi humas dalm perusahaan, dengan penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja humas se­bagai bagian dari manajemen. Konsep dasar sebagai pijakan adalah konsep tentang tingkatan peran humas : expert precriber, problem solving facilitator, communications facilitator dan communication technicianPenelitian ini menggunakan metoda penelitian deskriptif kualitatif dengan subyek penelitian adalah hu­mas Universitas Diponegoro dan Universitas Negeri Semarang beserta stakeholder internal. Hasil penelitian ini menunjukkan peran humas di universitas negeri cenderung bertindak sebagai communication technician dan hanya sedikit berperan sebagai communication facilitator. Posisi humas di universitas negeri berada posisi yang marginal terbukti dengan masih banyak jenjang birokrasi yang harus dilalui dalam melaksanakan fungsinya. Kinerja humas berkaitan dengan peran dan posisinya pada penelitian ini dinilai positif dan sesuai dengan porsi kerja. Kata Kunci: peran, posisi, hubungan masyarakat, universitas negeri
TEORI RELATIONAL DIALECTICS DALAM KONTEKS RELASI BUDAYA JAWA Manalu, S. Rouli; Santosa, Hedi Pudjo; Luqman, Yanuar
JURNAL ILMU SOSIAL Volume 6, Issue 1, Year 2007
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (11685.807 KB) | DOI: 10.14710/jis.6.1.2007.20-31

Abstract

Theory is always formed within a specific social and cultural background. Therefore , Eastern and Western cultures are differs in the way they look at the concept of relationship. While Western theories tend to perceive relationship as the rel connections between two people or more, eastern theories consider roles, status, power, and social positions as important elements in building relationship. The main aim of this research is to implement a Relational Dialectics Theory, which is formed in the Western tradition to Javanese cultural contexts (as a part of Eastern Culture).  The research’s findings indicate that some important elements in the theory are inapplicable in Javanese contexts of relationship. This phenomenon due to the domination of partiarchal ideology in the Javanese culture.
Pengaruh Terpaan Iklan Frestea di Televisi dan Terpaan Komunikasi Word of Mouth terhadap Keputusan Pembelian Produk Frestea Eris Ariesda, Teo; Luqman, yanuar
Interaksi Online Vol 8, No 1: Januari 2020
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (133.748 KB)

Abstract

The purpose of this study was to understand the effects of Frestea advertising exposure on television and word of mouth communication exposure towards purchase decisions of Frestea products. Theory that was used in this research are Advertising Exposure Theory and Buyer Information Environment Theory. Sampling techniques that being used is non-probability sampling with 60 total samples, man or woman domiciled in Semarang Cit, aged 17 – 30 years, had seen Frestea advertisement on television, and had interact through word of mouth about Frestea products. The analysis data used is simple linear regression. The results of the study indicates that advertising exposure and word of mouth communication exposure had a very significance effects to purchase decisions of Frestea products.
KOMPETENSI PRAKTISI PR DI KOTA SEMARANG 2012 (PADA BADAN USAHA MILIK NEGARA) Luqman, Yanuar
Jurnal Ilmiah Komunikasi Makna Vol 2, No 2 (2012): Jurnal Komunikasi Makna Vol. 2 No. 2 Agustus 2011 - Januari 2012
Publisher : Program Studi Ilmu Komunikasi FBIK Unissula

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/jikm.2.2.165-174

Abstract

Public Relations (PR) sebagai profesi yang berkembang memerlukan standar kompetensi.  Masalah yang coba dijawab adalah bagaimanakah kompetensi praktisi PR di kota Semarang dalam menjalankan tugasnya.  Kegunaan studi ini untuk mengukur tingkatan kompetensi praktisi PR. Pada penelitian ini menggunakan teori dan konsep : PR Excellence (Grunig), PR sebagai fungsi manajemen dan peran PR (Cutlip, Center & Broom).  Menggunakan metode deskriptif kuantatif dengan populasi praktisi PR Semarang, samplenya PR BUMN. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PR Junior, kompeten 89,5% dan 68,4% dari intensitas tinggi dalam melakukan pekerjaan, Public Relations Associate, kompeten dan 78,9% dari intensitas tinggi di kisaran 42,1% dan 47,4% cukup untuk melakukan pekerjaan itu, PR Ahli, kompeten 68,4% dan intensitas dalam kisaran cukup tinggi 42,1% dan 47,4% dalam melakukan pekerjaan dan kompetensi PR Manajerial bervariasi: 47,4% yang kompeten, 26,3% cukup kompeten, 21,1% kurang kompeten. Melakukan pekerjaan yang intensitas bervariasi: 26,3% tinggi, 36,8% dan 26,3% kurang cukup. Kata kunci : kompetensi, Public Relations, BUMN