Articles

Found 24 Documents
Search

STRUKTUR UKURAN DAN JUMLAH TANGKAPAN TUNA MADIDIHANG MENURUT WAKTU PENANGKAPAN DAN KEDALAMAN DI PERAIRAN MAJENE SELAT MAKASSAR (STRUCTURE SIZE AND NUMBER OF CATCHES ACCORDING FROM YELLOW FIN (THUNNUS ALBACARES) TO TIME AND DEPTH IN MAKASSAR STRAIT) Kantun, Wayan; Mallawa, Achmar; Rapi, Nuraeni L
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 9, No 2 (2014): JURNAL SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (592.971 KB) | DOI: 10.14710/ijfst.9.2.39-48

Abstract

Ikan tuna madidihang di perairan Majene telah dimanfaatkan oleh nelayan sejak lama dengan menggunakan alat tangkap pukat cincin dan pancing ulur sehingga diduga telah terjadi pemanfaatan berlebihan dan penurunan populasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur ukuran tuna madidihang menurut waktu dan kedalaman.  Data yang digunakan berupa data primer seperti ukuran ikan, waktu penangkapan dan kedalaman (panjang tali pancing ulur). Data primer diperoleh melalui pengukuran langsung di lapangan.  Data dianalisis secara deskriptif melalui perbandingan histogram dan uji t ? student serta ANOVA. Hasil penelitian menjelaskan bahwa (1) Struktur ukuran (panjang dan bobot) ikan Tuna Madidihang yang tertangkap berdasarkan waktu harian pada waktu pagi dan sore hari tidak berbeda, (2) Struktur ukuran (panjang dan bobot) ikan Tuna Madidihang, yang tertangkap di sore hari lebih luas dibanding yang tertangkap di pagi hari, (3) Struktur ukuran (panjang dan bobot) ikan Tuna Madidihang berdasarkan waktu bulanan berbeda nyata antara yang tertangkap pada sore hari dengan pagi hari, (4) Pada kedalaman 30-40 m ikan-ikan yang tertangkap pada umumnya berukuran 25-145 cm, sedangkan yang tertangkap ? 50 m pada umumnya adalah ukuran layak tangkap (minimal sudah pernah mijah sekali dengan ukuran yang lebih besar. Kata kunci : Tuna madidihang, struktur ukuran, waktu penangkapan, kedalaman, pancing ulur, Selat Makassar Yellowfin in the waters of Majene has long been used by fishermen using purse seine and handline fishing gear that are estimated to have occurred over exploitation and population decline. This study aims to analyze the structure of yellowfin size according to time and depth. The data used in the form of primary data such as fish size, time of fishing and depth (length line of handline). Primary data was obtained through direct measurements in the field. Data were analyzed descriptively by comparing histograms and t-test - Student and ANOVA. The results of the study explained that (1) Structure size (length and weight) of fish caught yellowfin based on the time of day in the morning and the afternoon is no different, (2) Structure size (length and weight) yellowfin, which is caught in the afternoon higher than that captured in the morning, (3) Structure size (length and weight) yellowfin significantly different based on a monthly time between being caught in the afternoon to the morning, (4) at a depth of 30-40 m fish caught on generally measure 25-145 cm, while the captured ? 50 m in general is catching decent size (ever spawn) with a larger size. Key words: yellowfin, structure size, time of fishing, depth, handline, Makassar Strait
SIZE STRUCTURE, AGE GROUPS AND GROWTH OF SQUID LOLIGO PEALEII IN THE WATERS OF BARRU REGENCY, SOUTH SULAWESI Tresnati, Joeharnani; Mallawa, Achmar; Rapi, Nuraeni L.
Proceedings of The Annual International Conference, Syiah Kuala University - Life Sciences & Engineering Chapter Vol 2, No 1 (2012): Life Sciences
Publisher : Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (162.882 KB)

Abstract

Squid is an economically important resource. Currently, squid populations, especially in the District Barru, were intensive exploited, that is feared to affect the population biology parameters. The study was conducted fromFebruary to April 2011. The sampling period was three times a week. The Samples were obtained using random collection from the fishermen catch using Rambo left net. Squid mantle length was measured to the nearest one mm.The parameters analyzed were age group, gonad maturity stage, growth, mortality, and exploitation rate. Squid population in Barru district consists of three age groups with the length of each mode of 51 mm, 98 mm, 133 mm formales, and 51 mm, 96 mm, 127 mm for females. The gonad maturity stage ranging from TKG I to IV for males and females, with the largest percentage of TKG TKG III (47.82% in males and 50.06% in females). The squid firstmaturity is reached at 94.3827 mm in long coat for males, and 59.6735 mm for females. Growth equation for males was Lt = 227 {1 - e -0.31 (t + 0.30)} and females are Lt = 196 {1-e-0, 37 (t +0.26)}. The total mortality rate (Z) is1.59 for males and 1.63 for females. The natural mortality rate (M) is 0.20 for males and 0.57 for females. The capture mortality rate (F) is 1.39 for males and 1.06 for females. The highest CPUE values reached in 1999 was 0.0022 ton per trip, while the smallest CPUE values reached in 2001 was 0.0001 tons per year. The greatest catches could be reached with fishing effort of 50 000 trips with catches of 50 tonnes.
Analisis Hubungan Suhu Permukaan Laut, Salinitas, Dan Arus Dengan Hasil Tangkapan Ikan Tuna Di Perairan Bagian Barat Pulau Halmahera Tangke, Umar; Karuwal, John W. Ch.; Mallawa, Achmar; Zainuddin, Mukti
Jurnal IPTEKS Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Vol 3, No 5 (2016)
Publisher : Jurnal IPTEKS Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Banyak parameter oseanografi yang mempengaruhi ruaya dan keberadaan ikan tuna di suatu perairan antara lain suhu perairan, salinitas, arus dan kesuburan perairan. Beberapa penelitian mendapatkan bahwa sebaran ikan tuna dapat diprediksi melalui analisis parameter tersebut pada perairan secara berkala dan dipetakan untuk menunjang kegiatan perikanan tuna setempat. Di perairan Maluku Utara bagian barat diperkirakan parameter ini juga terbentuk sehingga dapat dijadikan indikator keberadaan ikan tuna. Penelitian ini dilakukan pada sisi barat perairan laut Pulau Halmahera selama bulan Agustus hingga Oktober 2015 dengan tujuan mengetahui hubungan antara suhu permukaan laut, salinitas dan arus terhadap hasil tangkapan ikan tuna di wilayah ini.Pengambilan data menggunakan metode survey dan dianalisis dengan analisis regresi linier berganda diharapkan dapat menjelaskan hubungan antara suhu permukaan laut, salinitas, arus dengan hasil tangkapan yellowfin tuna tersebut.  Hasil penelitian didapatkan bahwa secara bersama ketiga faktor oseanografi yang diuji memberikan pengaruh yang nyata terhadap hasil tangkapan ikan tuna dengan nilai fhitung  3,317 dengan signifikansinya sebesar 0,000. Namun secara parsial hanya dua   faktor oseanografi yang berpengaruh nyata terhadap hasil tangkapan ikan tuna, yaitu suhu permukaan laut (SPL) dan kecepatan arus pada perairan ini.
Perbandingan Struktur Ukuran Tuna Madidihang (Thunnus albacares) yang Tertangkap pada Rumpon Laut dalam dan Laut dangkal di Perairan Selat Makassar Kantun, Wayan; Mallawa, Achmar; Rapi, Nuraerni L
Jurnal IPTEKS Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Jurnal IPTEKS Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Yellowfin tuna (Thunnus albacares) has long been captured by commercial fishery in Makassar Strait using purse seine, trolling line and handline fisheries. It was probably it can cause over exploitation and decrease population structure for that fish. This study aimed to analyze the size structure of yellowfin tuna based on the positions of deep and shallow sea FADs (fish aggregating devices). The data consisted of fish length and weight ) and the size of gonad maturation, which were collected from the field observation . The data were analyzed using histogram graph and t- test. The results indicated that the fish length caught in the deep and shallow sea FADs ranged from 30 to120 cm with the average of 101.39 ± 2.49 cm, and from 105 to 170 cm with the average of 134.90 ± 1.90, respectively. The fish weight ranged from 20 to75 kg for deep sea FADs and ranged from 0.4 to 35 kg for shallow sea FADs. The first stage of gonad maturation on either female or male occurred at 118.88 cm forklength, where the smallest spawning size on  female  was 126.10 cm forklength.  
Keragaan Biologi Populasi Ikan Cakalang (katsuwonus pelamis) yang Tertangkap dengan Purse Seine pada Musim Timur di Perairan Laut Flores Mallawa, Achmar; Amir, Faisal; Zainuddin, Mukti
Jurnal IPTEKS Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Jurnal IPTEKS Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Biological performance of skipjack tuna has been done in the Flores Sea during the  southeast monsoon (June - August, 2013).  The objective of the research was to analyze biological performance of skipjack tuna captured by purse seine: including size composition,age classes, growth rate, food habit, gonad maturity and suitable length for capture.  The data for length structure and age class, the growth rate,  food habit, gonad maturity,  and volumetric fecundity estimation were analyzed using Bhattacharya, Von Bertalanffy, propendance index, histological and volumentric methods, respectively. The results showed that (1) the size structure and age class were different according to the fishing ground location and the fishing season, (2) the average size of fishes captured in the western part of Flores Sea was greater than the eastern one, (3) the average length of fishes catched by purse seine without fish aggregation device (FAD, rumpon) was longer than  that of with FAD, (4) the growth rate of skipjack tuna was slow where the growth coefficient was less than 0,5 per year, and the asymptotic length was 106,0 cm FL, (5) the skipjack tuna achieved the mature stage at 45 cm and  at 50 cm length for female and male, respectively, and ready to spawn at 55 cm and 60 cm for male and female , respectively, (6) it was more than 80 % of fishes captured by fishermen in the Flores Sea which were not yet suitable size for fishing.
Sebaran Suhu Permukaan Laut dan Klorofil-A Pengaruhnya Terhadap Hasil Tangkapan Yellowfin Tuna (Thunnus albacares) di Perairan Laut Halmahera Bagian Selatan Tangke, Umar; Karuwal, John Ch; Zainuddin, Mukti; Mallawa, Achmar
Jurnal IPTEKS Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Vol 2, No 3 (2015)
Publisher : Jurnal IPTEKS Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari - April 2015 dengan tujuan untuk melihat sebaran  temporal  dan  spasial  suhu  permukaan laut di perairan selatan Laut Halmahera dan pengaruhnya terhadap hasil  tangkapan ikan yellowfin tuna, dengan menggunakan data lapangan dan data citra yang dianalisis dengan analisis deskriptif, statistik dan analisis sistim informasi geografis (SIG) sehingga hasil penelitian yang didapat adalah sebaran suhu permukaan laut (SPL) dan klorofil-a serta hubungannya terhadap hasil tangkapan yellowfin tuna.  Citra satelit bulan Februari-April 2015 menunjukan bahwa sebaran suhu permukaan laut (SPL) di perairan Laut Halmahera pada bulan februari dan maret hampir sama yakni pada kisaran 29,0-31,5oC, sedangkan suhu permukaan laut bulan april lebih tinggi dari kedua bulan sebelumnya. Untuk klorofil-a juga mengalami fluktuasi dengan nilai sebaran klorofil-a tertinggi terdapat pada bulan Maret 2015.  Hasil analisis statistik menunjukan bahwa baik secara bersama-sama maupun secara individu kedua parameter oseanografi (SPL dan klorofil-a) berpengaruh nyata terhadap hasil tangkapan yellowfin tuna di Laut Halmahera bagian selatan.
Pengkajian Stok Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis) di Perairan Selat Makassar Amir, Faisal; Mallawa, Achmar
Jurnal IPTEKS Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Vol 2, No 3 (2015)
Publisher : Jurnal IPTEKS Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dinamika populasi ikan cakalang (Katsuwonus pelamis, Linnaeus) di perairan Selat Makassar yang merupakan bagian Wilayah Pengelolaan Perikanan Republik Indonesia 713 (WPP RI 713) di Provinsi Sulawesi Selatan dan Barat telah dilakukan dengan mengumpulkan sampel sejumlah 20.707 ekor ikan cakalang yang tertangkap dengan alat tangkap purse sSeine dan hand line di Kabupaten Barru dan Majene.  Pengambilan sampel dilakukan pada bulan Mei – Oktober 2014 di sentra pendaratan ikan.  Ukuran frekuensi panjang cagak diukur dan menduga parameter panjang cagak asimtot (L∞), koefisien pertumbuhan (K), koefisien kematian total (Z), koefisien kematian alami (M), koefisien kematian penangkapan (F), laju eksploitasi (E) dan potensi hasil tangkapan per rekrut relatif (Y’/R) dengan menggunakan alat bantu perangkat lunak FISAT-II.  Hasil dugaan parameter pertumbuhan von Bertalanffy  dengan metode Response Surface pada ELEFAN-I yaitu L∞ =  107,0 cm dan  K = 0,8 per tahun.   Laju mortalitas total diduga dengan menggunakan analisis kurva hasil tangkapan yaitu Z = 4,47 per tahun.  Kematian  alami diduga dengan rumus empiris Pauly diperoleh nilai dugaan M = 1,1 per tahun.  Kematian karena penangkapan (F) sebesar 3,37 per tahun memberikan hasil dugaan laju eksploitasi (E) sebesar 0,75.  Dugaan model hasil-per-rekruit relatif Beverton dan Holt menunjukkan bahwa tingkat eksploitasi telah memperlihatkan lebih tangkap sebesar 26,5% dari nilai E-optimumnya.   
Beberapa Aspek Perikanan Ikan Cakalang (Katsuwonus Pelamis) Di Perairan Barru Selat Makassar Sulawesi Selatan Mallawa, Achmar; Musbir, Musbir; Sitepu, Farida; Amir, Faisal
Jurnal IPTEKS Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Vol 3, No 5 (2016)
Publisher : Jurnal IPTEKS Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ikan cakalang merupakan salah satu komoditas perikanan penting di perairan Selat Makassar sehingga penting dilakukan penelitian biologi populasi dan aspek perikanan sumberdaya tersebut. Penelitian aspek perikanan ikan cakalang dilakukan di perairan Barru Selat Makassar, April – Oktober 2014, bertujuan (1) menganalisis struktur ukuran dan kelompok umur hasil tangkapan serta persentase ukuran layak tangkap menurut musim dan teknologi penangkapan, (2) menganalisis produksi dan produktivitas menurut musim dan upaya penangkapan. Data primer, ukuran panjang ikan dikumpulkan dari hasil tangkapan nelayan, data sekunder melalui desk studi. Perbandingan sebaran ukuran per musim dan teknologi penangkapan digunakan uji t student, kelompok umur metoda Bhattacharya, ukuran layak tangkap metoda histologi, persentase ukuran layak tangkap metoda Mallawa, produksi dan produktivitas menurut upaya dan musim penangkapan secara deskriptif. Hasil penelitian bahwa kisaran panjang, jumlah kelompok umur, dan ukuran layak tangkap masing-masing adalah 17,5 – 80,1 cm, dua – tiga kohort, dan 19,32 % pada musim  Timur, dan 17,5 – 80,1 cm, dua – tiga kohort, dan 22,68 % pada musim peralihan Timur ke Barat, dan 17,5 - 72,5 cm, dua – tiga kohort, dan 26.02 % pada peralihan Barat ke Timur. Produktivitas purse seine tertinggi pada musim Timur yaitu 1.000-2.000 ekor per trip, sedang musim lainnya 200 – 500 ekor per trip.Kesimpulan bahwa struktur ukuran berbeda menurut musim, jumlah kelompok umur sama untuk semua musim, ukuran layak tangkap bervariasi menurut musim dan sangat rendah. Produktuvitas alat tangkap berbeda menurut musim penangkapan, produktivitas tertinggi pada musim Timur dan nelayan dapat melakukan penangkapan sepanjang tahun.
KAJIAN KONDISI STOK IKAN CAKALANG (Katsuwonus pelamis) DI PERAIRAN TELUK BONE SULAWESI SELATAN Mallawa, Achmar; Amir, Faisal; Sitepu, Farida G
Jurnal IPTEKS Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Vol 4, No 7 (2017)
Publisher : Jurnal IPTEKS Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian tentang kondisi stok ikan cakalang  di perairan Teluk Bone Sulawesi Selatan  telah dilakukan Januari sampai Oktober 2016.  Tujuan penelitian yaitu  menganalisis kondisi stok ikan cakalang menurut musim penangkapan. Kondisi stok ikan cakalang dianalisis menggunakan indikator biologi dan dinamika populasi.  Struktur ukuran  memakai column diagram, jumlah kelompok umur metoda frekuensi panjang Bhattacharya, laju mortalitas penangkapan dan laju eksploitasi metoda Beverton dan Holt,   laju pertumbuhan metoda Von Bertalanffy dan Ford and Walford, ukuran layak tangkap metoda Mallawa. Hasil penelitian bahwa  struktur ukuran didominasi ikan cakalang  muda,  populasi terdiri dua sampai tiga kelompok umur, laju mortalitas penangkapan dan eksploitasi cukup tinggi (> 1,0), laju pertumbuhan populasi lambat (<0,5 pertahun) dan persentase ukuran layak tangkap rendah (> 20%)  pada semua musim penangkapan ikan.  Capaian stok terhadap nilai normal berkisar 40 – 60 %. Kesimpulan penelitian bahwa stok ikan  cakalang semua musim penangkapan di luar kondisi normal  dan termasuk ke dalam kategori populasi ikan yang mengalami tekanan.
PENDUGAAN MUSIM PENANGKAPAN IKAN CAKALANG (Katsuwonus Pelamis) DI TELUK BONE Fajrianti, Dwi; Mallawa, Achmar; Musbir, Musbir
Jurnal IPTEKS Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Vol 3, No 6 (2016)
Publisher : Jurnal IPTEKS Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perairan Teluk Bone yang terletak di wilayah pengelolaan perikanan (WPP 713) merupakan salah satu daerah penangkapan ikan cakalang terbaik di Indonesia. Tujuan dari penelitian ini menentukan musim penangkapan ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) di Teluk Bone dan menganalisis hubungan antara hasil tangkapan ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) dengan faktor oseanografi di Teluk Bone. Metode yang digunakan adalah metode survey, penelitian ini menggunakan dua kelompok data yaitu data primer adalah data hasil pengamatan langsung dilapangan, sedangkan data sekunder meliputi data citra suhu permukaan laut dan klorofil serta data hasil tangkapan perbulan selama kurun waktu 4 tahun terakhir (2011 – 2014) dari dinas perikanan kabupaten Luwu. Hasil penelitian menunjukkan puncak musim penangkapan ikan cakalang di Teluk Bone dalam kurun waktu tahun 2011 – 2014 terjadi pada kuartal IV (Oktober, November dan Desember). Distribusi suhu permukaan laut di daerah penangkapan ikan cakalang berkisar antara 29.5°C – 30°C dan konsentrasi klorofil-a berkisar 0,22 – 0,25 mg/m³. Terdapat korelasi yang signifikan antara hasil tangkapan cakalang dengan suhu permukaan laut, sedangkan tidak terdapat korelasi yang signifikan antara hasil tangkapan cakalang dengan klorofil-a.