Articles

Found 16 Documents
Search

GETARAN BATANG SUBSOILER AKIBAT GANGGUAN ALAMI DARI VARIASI GAYA POTONG TANAH Soeharsono, Soeharsono; Setiawan, Radite P. A.; Mandang, Tineke
Jurnal Teknik Mesin Vol 10, No 1 (2008): APRIL 2008
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (255.179 KB) | DOI: 10.9744/jtm.10.1.pp. 46-51

Abstract

Analytical and experiment study on vibratory tillage tools by adding an external energy to the tillage tools has been widely applied. This method would significantly reduce soil?s resistance; unfortunately it uses a lot of energy. Self excited vibration phenomenon on vibrating subsoiler has also been shown experimentally reduce soil?s resistance though not as much as the former. However no analytical study of the latter method can be found. This paper present mathematical derivation of shank-subsoiler?s vibration due to natural excitation of varied cutting forces. Shank-subsoiler was modeled as a single degree of freedom; while the natural excitation of varied cutting force was modeled as a periodic function. This paper also discusses the effect of spring?s elasticity to maximum displacement of the tillage-tools. Therefore, the possibility of decreasing the soil-cutting force for loosening soil?s density due to self exited vibration significantly is visualized. Abstract in Bahasa Indonesia: Studi analitis dan eksperimental terhadap penggetaran tillage tools dengan cara memberikan energi mekanis ke tillage tools telah banyak dilakukan. Walaupun metode ini berhasil menurunkan tahanan tanah secara signifikan, namun penggunaannya berakibat pada kenaikan konsumsi energi secara berlebihan. Penggetaran dengan cara menggunakan metode eksitasi sendiri pada subsoiler getar juga telah banyak dilakukan secara eksperimental. Penggetaran dengan cara ini berhasil menurunkan tahanan tanah. Namun, penurunannya tidak sebesar yang dicapai dengan cara sebelumnya. Kendati demikian, studi analitis terhadap penggetaran dengan cara yang kedua ini belum pernah dilakukan. Oleh sebab itu, pada makalah ini akan dibahas tentang penurunan persamaan matematik dari getaran subsoiler shank akibat gangguan alami yang timbul karena variasi gaya potong tanah. Getaran subsoiler shank dimodelkan sebagai getaran dari sistem getaran dengan satu derajad kebebasan. Sedang gangguan alami dimodelkan sebagai fungsi periodik. Selain itu pengaruh elastisitas pegas terhadap besar simpangan maksimum dari getaran subsoiler shank juga dibahas pada makalah ini. Berdasarkan persamaan matematik yang telah diturunkan, diungkapkan bahwa pada frekuensi resonansi, subsoil shank akan begetar hebat sehingga diharapkan mampu menurunkan tahanan dan gaya potong yang diperlukan untuk membongkar kepadatan tanah, secara signifikan. Kata kunci: Self excited, vibration, subsoiler shank, tahanan tanah, elastisitas pegas
STUDI ERGONOMI PADA PENYIAPAN LAHAN SAWAH LEBAK MENGGUNAKAN ALAT TRADISIONAL TAJAK DI KABUPATEN BANJAR KALIMANTAN SELATAN Dewi, Indya; Syuaib, M. Faiz; Mandang, Tineke
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 25 No. 2 (2011): Jurnal Keteknikan Pertanian
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (562.702 KB)

Abstract

Abstract Traditional local farmers in South Kalimantan conventionally do the field preparation by using a traditional tool named ?tajak?. This typical traditional tool is very appropriate for land preparation in marshland field which is enabling to cultivate without raising the pirit (FeS2) layer. However, it is quite difficult, hard and dangerous to operate tajak, and it?s difficult to learn by a novis operator as well. Therefore, ergonomics study will be beneficial to develop more convenient, safe and effective tajak.  The result of workload analysis revealed that tajak operation is an ?extremey hard? workload, whichs the avarage of IRHR is 2.14.  The workload level of tajak operation is indicatively by workload intencity and swing elevation.  Regarding the Total energy cost per weight (TEC?) and hours of work (JOK), the tajak operation consumes  5.36 kcal/kg.hour and need 61.07 hour/ha in average.  Anthropometri and motion study analysed revealed that the dimentional suitability of tajak tool is strongly related to shoulders and waist heightly, arms length, and hands grips diameter.  Based on the result of tajak anthropometri and motion analyses, for better design of  tajak?s handle was recommended 75.70 cm. Keywords: tajak, marshland field, ergonomic, work load, motion analysis, anthropometri Abstrak "Tajak" adalah alat yang lazim digunakan untuk penyiapan lahanoleh umumnya petani padi rawa/lebak tradisional di Kalimantan Selatan. Alat ini sangat tepat dan sesuai untuk penyiapan lahan di area sawah lebak (rawa), di mana diperlukan suatu cara pengolahan dan penyiapan lahan yang tidak mengakibatkan naiknya lapisan pirit (FeS2) ke area perakaran tanaman. Cara penggunaan tajak relatif sulit, berat, dan berbahaya, bagi petani yang sudah berpengalaman sekalipun. Terlebih untuk para pemula, pengoperasian tajak sangat sulit dipelajari. Oleh karena itu, studi ergonomi ini diharapkan dapat bermanfaat untuk mengembangan desain serta cara penggunaan tajak yang lebih aman, nyaman dan efektif. Hasil analisis beban kerja mengindikasikan bahwa pengoperasian tajak tergolong pekerjaan "luar biasa berat", dengan nilai IRHR rata-rata 2.14. Tingginya tingkat beban kerja (IRHR) tersebut sangat ditentukan oleh dua indikator kerja, yaitu intensitas dan tinggi ayunan tajak. Laju konsusmsi energi kerja tajak adalah 5.36 kkal/jam.kg-bb (kilokalori per jam per berat badan operator), sedangkan rata-rata kebutuhan waktu kerja efektif adalah 61.07 jam/ha. Analisis antropometri dan gerak mengindikasikan bahwa tinggi bahu, tinggi pinggang, panjang lengan dan diameter genggaman tangan merupakan parameter terpenting untuk kesesuaian dimensional tajak terhadap operator penggunanya. Sesuai dengan antropometri petani setempat, panjang tangkai tajak ideal yang direkomendasikan adalah 75.70 cm. Kata kunci: tajak, lahan sawah lebak, ergonomi, beban kerja, analisis gerak, antropometri Diterima; 08 April 2011 ; Disetujui: 09 Agustus 2011    
EVALUASI SISTEM PENGGERAK DAN MODIFIKASI MESIN PENANAM JAGUNG BERTENAGA TRAKTOR TANGAN Hermawan, Wawan; Mandang, Tineke; Sutejo, Agus; Sitorus, Agustami
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 3 No. 1 (2015): Jurnal Keteknikan Pertanian
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (763.901 KB)

Abstract

AbstractTo improve the performance of corn planter powered by hand tractor, the following efforts were carried out: a) the evaluation of minimum tillage (strip tillage) using rotary tiller, b) the evaluation of the performance of the drive system for seed metering device; and c) modifications of the planting and fertilizing units. The machine capacity to be improved by using two planting rows in one pass. The machine was driven by a hand tractor equipped with a rotary tiller unit. The experiment results show that the strip tillage using the rotary tiller could be done when the soil is plowed, in a relatively loose condition. Among the five types of drive wheel to rotate the seed metering device, lugged rubber wheel had the lowest level of sliding (21- 22%), and produced seed spacing of the closest to the target (19-21 cm). The evaluation showed that one drive wheel is not able to drive two units of seed metering device and two units of fertilizer metering device. Rotation of tractor axle can be used effectively to drive the rotor of two units of the fertilizer applicator and corn seed metering devices of two planter units, using the sprocket-chain transmission. Modifications were constructed for two planting units; two fertilizing units; and the addition of drive system for the metering devices using rotation of the tractor axle.Keywords: Planting machine, fertilizer applicator, corn, tractor wheel axle, hand tractorAbstrakUntuk meningkatkan kinerja mesin penanam dan pemupuk jagung bertenaga traktor tangan, telah dilakukan: a) evaluasi pengolahan tanah minimal (strip tillage) menggunakan unit pengolah tanah rotari, b) evaluasi kinerja sistem penggerak bagian penjatah benih; dan c) modifikasi pada unit penanam dan pemupuk jagung. Kapasitas mesin ditingkatkan dengan penanaman dua alur dalam satu lintasan. Mesinpenanamdigerakkan oleh traktor tangan yang dilengkapi unit pengolah tanah rotari. Hasil percobaan menunjukkan bahwa pengolahan tanah strip dengan unit pengolah tanah rotari bisa dilakukan dengan baik bila tanah sudah dibajak, dalam kondisi yang relatif gembur. Dari lima jenis roda bantu untuk menggerakkan sistem penjatah benih, roda penggerak karet bersirip memiliki tingkat luncuran yang paling rendah (21-22%), dan menghasilkan jarak tanam benih yang paling mendekati target (19-21 cm). Hasil evaluasi menunjukkan bahwa sebuah roda bantu tidak mampu menggerakkan dengan baik dua unit penjatah benih dan dua unit penjatah pupuk. Putaran poros roda traktor dapat digunakan secara efektif untuk menggerakkan poros rotor penjatah pupuk pada dua unit pemupuk dan poros piringan penjatah benih jagung pada dua unit penanam, menggunakan transmisi sproket-rantai. Modifikasi terlah berhasil dilakukan pada unit penanam, pemupuk dan penambahan sistem penggerak unit penjatah benih dan pupuk dari putaran poros roda traktor.Kata kunci: Mesin penanam, pemupuk, jagung, poros roda traktor, traktor tanganDiterima: 06 November 2014; Disetujui: 05 Februari 2015
DESAIN ERGONOMIS SISTEM PENGGANDENGAN TRAILER PADA TRAKTOR RODA DUA Dhafir, Muhammad; Mandang, Tineke; Hermawan, Wawan; Syuaib, Muhammad Faiz
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 7 No. 1 (2019): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1106.322 KB)

Abstract

AbstractThe existing hitch system which pulled trailer on the two-wheel tractor had disadvantages when turning it, the tractor handlebar moved away from operator control, consequently the handlebar position is already beyond the operator control range so the operator had to bend. For a larger radius turning, the operator had to descend from operator seat. The purpose of this study was to design an ergonomic trailer hitching system for Indonesian operator. Prototype tests carried out include performance and functional testing. The pivot type trailer hitching system was the most superiortype compare to the other concept. With the design of this system the operator's position is fixed to the handlebars of the two-wheeled tractor, both in straight and turn operations, so that theoperator can fully control the two-wheeled tractor along with all the control levers. The ideal dimension of the operator seat were seat height of 410 mm, backrest distance of 1700 mm, seat length of 320 mm, and seat width of 300 mm. Two-wheel tractor with pivot type trailer hitching system has a turning radius of 2.18 m - 2.82 m better than existing system of 3.72 m - 4.03 m.AbstrakSistem penggandengan konvensional untuk menarik trailer pada traktor roda dua memiliki kelemahan pada saat berbelok, stang traktor bergerak menjauh dari posisi kendali operator, akibatnya posisi stang sudahberada di luar kendali jangkauan operator sehingga operator harus membungkuk. Untuk belokan dengan sudut yang lebih besar operator harus turun dari tempat duduk operator untuk dapat mengendalikan traktor. Tujuan penelitian adalah untuk mendesain sistem penggandengan trailer yang ergonomis untuk operator Indonesia.Pengujian-pengujian prototipe yang dilakukan meliputi pengujian kinerja dan fungsional. Sistem penggandengan trailer tipe pivot merupakan yang paling unggul dibandingkan dengan konsep-konsep lainnya. Dengan desain sistem ini posisi operator adalah tetap terhadap alat-alat kendali traktor, baik dalam keadaan berjalan lurus maupun berbelok, sehingga operator dapat sepenuhnya mengendalikan traktor roda dua beserta semua tuastuas kendalinya. Dimensi-dimensi ideal tempat duduk operator (seat) adalah tinggi tempat duduk (Td) 410 mm, jarak sandaran duduk (Jd) 1700 mm, panjang tempat duduk (Pd) 320 mm, dan lebar tempat duduk (Ld) 300 mm. Traktor roda dua dengan sistem penggandengan tipe pivot memiliki radius putar 2.18 m ? 2.82 m, lebih baik dibandingkan sistem konvensional yaitu 3.72 m ? 4.03 m.
Penentuan Parameter Desain Roda Besi Bersirip melalui Pengukuran Tahanan Penetrasi Tanah di Sawah Rizaldi, Taufik; Hermawan, Wawan; Mandang, Tineke; Pertiwi, Setyo
Agritech Vol 34, No 4 (2014)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (896.027 KB) | DOI: 10.22146/agritech.9443

Abstract

The objective of this study was to predict the design parameters of lugged wheel that fit through the soil penetration resistance measurement directly in paddy fields. Location of the study was on paddy fields in the village Situ Gede Bogor, West Java. Penetrometer with a plate size of 5 cm x 20 cm is used to press the soil to a depth of 20 cm with inclination press angle of 90o, 75o, 60o, 45o and 30o. Data were analyzed by linear regression method to obtain the relationship between the pressure force and depth presseure for each different inclination of pressure angle. By using the equation of force generated by active lug wheels were touching the soil and the resulting linear regression equation to predict the lugged wheel design for two-wheeled tractor (Yanmar TF85 MLY-in). Tractor assumed to be operating at 15 cm sinkage so that the selected design is a design in which the resulting reaction force able to resist the load supplied by the tractor and implement and used the most minimum construction materials. The results of the calculations recommended number of lugs 12, 45o angle of lugs, width of lugs 10 cm, length of lugs 35 cm, outer diameter wheels 84 cm is the lugged wheel design optimum.ABSTRAKTujuan penelitian ini adalah untuk memprediksi parameter desain roda besi bersirip yang sesuai melalui pengukuran tahanan penetrasi tanah secara langsung di lahan sawah. Lokasi penelitian berada pada lahan sawah di Desa Situ Gede Bogor, Jawa Barat. Penetrometer dengan ukuran plat 5 cm x 20 cm digunakan untuk menekan tanah sampai kedalaman 20 cm dengan kemiringan sudut tekan 90o, 75o, 60o, 45odan 30. Data dianalisis dengan metode regresi linier untuk memperoleh hubungan antara gaya penekanan dan kedalaman penekanan untuk tiap sudut penekanan yang berbeda. Dengan menggunakan persamaan gaya yang dihasilkan oleh sirip aktif roda yang menyentuh tanah dan persamaan regresi linier yang dihasilkan maka dapat diprediksi desain roda besi bersirip untuk traktor roda dua (yanmar TF85 MLY-di). Traktor diasumsikan beroperasi pada sinkage 15 cm sehingga desain yang dipilih adalah desain di mana gaya reaksi yang dihasilkan mampu mengatasi beban yang diberikan oleh traktor dan implemen serta penggunaan bahan konstruksi yang paling minimum. Hasil perhitungan merekomendasikan jumlah sirip 12, sudut sirip 45o, lebar sirip 10 cm, panjang sirip 35 cm, diameter luar roda 84 cm adalah desain roda besi bersirip yang optimum.
KINERJA RODA BESI BERSIRIP MULTI-ANGLE UNTUK LAHAN SAWAH TERASERING Cebro, Irwin Syahri; Mandang, Tineke; Hermawan, Wawan; Desrial, Desrial
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 6 No. 2 (2018): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2148.951 KB)

Abstract

AbstractThe paddy plots in upland area have fairly steep embankments between plots. This condition causes a hand tractor difficult to move from one plot to another. The objective of this research was to design and test a lug wheel equipped with a multi-angle lug mechanism for slope climbing using a hand tractor. The lug plates of the wheel can be rotated using a mechanism, so that the lug angle can be set at 0°, 15°, 30°, 45°, and -15°. Traction performance tests of the prototype wheel were conducted on slope tracks of 15o, 30o and 45o angle. Tractor velocity, torque of wheel shaft, wheel rotational speed and wheel sinkage were measured using corresponding sensors and recorded during the performance test. The test result on 45o slope show that lug wheel with lug angle of -15o produced the highest traction efficiency (93.83%). For climbing the slopes, lug wheel with a smaller lug angle (0o and -15o) produced a higher traction efficiency and a smaller wheel slip than that of using a higher lug angle. The multi-angle lug wheel with a small lug angle had a better slope climbing performance than that of the conventional fixed lug wheel.AbstrakPematang sawah di daerah dataran tinggi memiliki tanggul antara petakan yang cukup curam. Kondisi ini membuat traktor tangan sulit untuk berpindah dari satu petakan ke petakan lainnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendesain dan menguji sirip roda yang dilengkapi mekanisme sirip multi-angle untuk pendakian lereng dengan menggunakan traktor tangan. Pelat sirip dari roda dapat diputar dengan menggunakan mekanisme, sehingga sudut sudut dapat diatur pada 0°, 15°, 30°, 45°, dan -15°. Uji kinerja traksi prototipe roda dilakukan pada lintasan miring dengan sudut kemiringan 15o, 30o dan 45o. Kecepatan traktor, torsi poros roda, kecepatan putaran roda dan roda sinkage diukur dengan menggunakan sensor yang sesuai dan dicatat selama pengujian kinerja. Hasil pengujian pada kemiringan 45o menunjukkan bahwa roda pengangkut dengan sudut sirip -15o menghasilkan efisiensi traksi tertinggi (93.83%). Pada pendakian lereng, sirip roda dengan sudut sirip yang lebih kecil (0o dan -15o) menghasilkan efisiensi traksi yang lebih tinggi dan slip roda yang lebih rendah daripada sudut sirip yang lebih besar. Roda besi bersirip multi-angle dengan sudut sirip kecil memiliki kinerja pendakian lereng yang lebih baik daripada roda besi bersirip konvensional.
Analisis Kebutuhan Torsi Penjatah Pupuk Butiran Tipe Edge-Cell untuk Mesin Pemupuk Jagung Ichniarsyah, Annisa Nur; Hermawan, Wawan; Mandang, Tineke
Agritech Vol 34, No 1 (2014)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1308.803 KB) | DOI: 10.22146/agritech.9529

Abstract

A study on the design of metering device which could work more optimally was conducted to overcome the high friction between the rotor and its metering tube, and the clogging of fertilizer particle on the conventional rotor type metering device. An edge-cell rotor type metering device was proposed to overcome the problems. Objectives of the study were to analyze the torque requirement of the edge-cell type metering device and to design metering device of corn fertilizer applicator with lower torque requirements and high accuracy. A mathematical model to calculate the torque requirement of the rotor was developed and validated using torque measurement in the experiment. Experiments were conducted using a model of fertilizer applicator equipped with a rotor torque measuring sensor and rotated using an electric motor. The torque measurement results showed that the edge-cell type metering device could reduce the torque requirement up to 68% and 80% when tested using urea and TSP, respectively. By using the edge-cell type rotor, there was no problem of clogging of fertilizer particle on the rotor system. The validation results showed that the mathematical model could predict accurately the torque requirement of the rotor only on the lower volume of fertilizer (25%) in the hopper. However, on the higher volume of fertilizer (50% and 100%) in the hopper, the calculated torques was 2-4 times higher than the actual measuring torques. The amount of the fertilizer in the hopper not significantly affected the torque requirement of the rotor.ABSTRAKPenelitian mengenai desain penjatah pupuk yang dapat berfungsi lebih optimal dilakukan untuk mengatasi besarnya gaya gesek yang terjadi antara rotor penjatah dan ruang penjatah, serta terjadinya kemacetan perputaran rotor penjatah pupuk pada alat pemupuk dalam penelitian sebelumnya. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis kebutuhan torsi penjatah pupuk tipe edge-cell. Model pendugaan matematis untuk menghitung kebutuhan torsi telah dibangun dan divalidasi melalui pengujian kebutuhan torsi. Pengukuran dilakukan enggunakan model alat pemupuk jagung yang dilengkapi dengan sensor pengukur torsi. Penjatah tersebut diputar menggunakan motor AC variable speed. Hasil pengukuran torsi menunjukkan bahwa penjatah tipe edge-cell mampu mengurangi kebutuhan torsi penjatahan hingga 68% (pupuk urea) dan 80% (pupuk TSP). Kemacetan yang terjadi akibat ganjalan butiran pupuk yang besar pada ruang penjatah tidak terjadi saat menggunakan penjatah tipe edge-cell. Hasil pengujian validasi model menunjukkan bahwa model matematis mampu menduga kebutuhan torsi dengan akurat hanya pada saat tingkat volume pupuk dalam hopper 25%. Semakin tinggi volume pupuk dalam hopper (50 dan 100%), hasil pendugaan torsi lebih besar sekitar dua hingga empat kali hasil pengukuran torsi. Volume pupuk dalam hopper tidak berpengaruh signifikan terhadap kebutuhan torsi pada rotor.
PEMANFAATAN LIMBAH DAUN KELAPA SAWIT SEBAGAI BAHAN BAKU PUPUK KOMPOS Bulan, Ramayanty; Mandang, Tineke; Hermawan, Wawan; Desrial, Desrial
Rona Teknik Pertanian Vol 9, No 2 (2016): Volume 9, No. 2, Oktober 2016
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (581.377 KB) | DOI: 10.17969/rtp.v9i2.5650

Abstract

Abstrak. Limbah padat pada perkebunan kelapa sawit telah diketahui potensial sebagai bahan baku pupuk organik padat melalui proses pengomposan. Penelitian ini bertujuan mengembangkan teknik dan mengkarakterisasi proses pengomposan limbah daun kelapa sawit sebagai bahan dasar pupuk organik potensial. Proses pengomposan dilakukan dengan dua faktor perlakuan, meliputi komposisi bahan katalisator kompos (Bokashi, Vermikompos dan Natural) dan ukuran cacahan daun sawit (2 cm, 4 cm 6 cm). Parameter yang diamati meliputi persentase penyusutan massa dan fluktuasi perubahan suhu selama proses pengomposan, serta pengukuran zat hara Nitrogen, Phospor, Kalium (NPK) dan rasio C/N yang terkandung pada hasil pengomposan yang diukur setelah 10 dan 14 minggu proses pengomposan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode pengomposan dengan bokashi memberikan penyusutan massa terbesar jika dibandingkan dua metode lainnya pada semua ukuran cacahan yaitu sebesar 32%. Cacahan daun sawit yang berukuran kecil cenderung memberikan proses pengomposan yang lebih cepat dan memberikan produk kompos yang lebih baik. Hasil pengukuran setelah proses pengomposan menunjukkan bahwa interaksi dua faktor perlakuan yang diberikan hanya berpengaruh signifikan pada rasio C/N dan tidak signifikan pada zat hara NPK. Utilization of Waste Palm Leaves as Raw Material Palm CompostAbstract. The use of oil palm plantation solid waste, particularly oil palm leaf as organic compost raw material are now receiving greater attention by researchers, but have not been fully utilized on large scale, either agriculturally or industrially. The aim of present study was to characterize composting process with oil palm leaf as raw material. The research of composting conducted with two combination of composting factor, namely: composting starter composition (i.e. Bokashi, vermi-compost and natural composting) and piece of frond dimension (2 cm, 4 cm, 6 cm). The percentage of mass reduction and temperature fluctuation during composting process were measured. The NPK compound and C/N ratio measurement were conducted after composting process which are 10 and 14 weeks. The result indicates that Bokashi starter composition gives higher percentage of mass reduction on all variant of piece of frond dimension. Results also showed that smaller piece of frond enable the composting process quicker and had better result. Statistical analysis reveals that combination of composting factors have significant effect on C/N ratio but insignificant on NPK.
ANALISIS PERFORMANSI MODEL RODA RAMPING BERSIRIP (NARROW LUG WHEEL) PADA TANAH BASAH DI SOIL BIN Idkham, Muhammad; Mandang, Tineke; Hermawan, Wawan; Pramuhadi, Gatot
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 6 No. 1 (2018): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1375.922 KB)

Abstract

AbstractThe design of lug wheels are generally used for cultivation only, not for seeding, planting and weeding. This is due not compatible the shape and size of the lug wheel general design (existing). Therefore it would need to develop a design of narrow lug wheel which shape and size suitable for rice cultivation on the activities of seeding, planting and weeding. The purpose of this study is to analysis the performance of narrow lug wheel for wetland at soil bin test. Lug angle and lug height were were varied, designed lug angle of 300, 400 and 450, with with lug width 7 cm and lug heights 7 cm , 10.5 cm and 14 cm. Research result analysis included relation of tractive efficiency, wheel slip, wheel sinkage to several levels of drawbar load, and several levels of lug angle and lug height ratio. Lug angle have a dominant influence on the change of slip, sinkage and tractive efficiency. The optimal Lug dimension and lug angle is was was resulted by wide of lug was was 7 cm, high was was 10,5cm and and angle of of 45 degrees, maximum tractive efficiency value on optimal lug dimension and lug angle was was 24.5%.AbstrakRancangan roda besi bersirip pada umumnya digunakan untuk budidaya pertanian terbatas hanya pada kegiatan pengolahan tanah, tidak untuk pembenihan, penanaman dan pemeliharaan tanaman. Hal ini disebabkan oleh tidak cocok bentuk dan ukuran roda besi bersirip rancangan umum (existing). Oleh sebab itu perlu kiranya dikembangkan sebuah rancangan roda ramping bersirip (narrow lug wheel) yang bentuk dan ukurannya sesuai untuk budidaya padi sawah pada kegiatan pembenihan, penanaman dan pemeliharaan. Tujuan penelitian untuk menganalisis kinerja model roda ramping bersirip (narrow lug wheel) pada lahan basah dengan pengujian di soil bin. Sudut sirip dan tinggi sirip divariasikan, sudut sirip dirancang sebesar 300, 400 dan 450 dan lebar sirip tetap 7 cm serta tinggi sirip 7 cm, 10.5 cm dan 14 cm. Analisis hasil penelitian meliputi: hubungan tractive efficiency (%), slipp (%), sinkage (cm) terhadapbeban tarik (N) pada berbagai tingkat sudut dan rasio sirip roda. Sudut sirip memiliki pengaruh dominan terhadap perubahan slip roda, ketenggelaman roda (sinkage) dan efisiensi traksi. Ukuran sirip dan sudut sirip optimum dihasilkan oleh sirip berdimensi lebar 7 cm dan tinggi sirip 10.5 cm dengan sudut sirip 45 derajat, nilai efisiensi traksi maksimum pada ukuran sirip dan sudut sirip optimum adalah sebesar 24.5%. 
ANALISIS KINERJA TRAKSI RODA BESI BERSIRIP DI LAHAN SAWAH Taufiq, Muhammad; Mandang, Tineke; Hermawan, Wawan
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 5 No. 1 (2017): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2163.337 KB)

Abstract

AbstractPaddy field soil condition is an important factor to be considered in designing a lug wheel for paddy field cultivation. To get the optimum wheel design, the wheel traction performance should be predicted before constructing the wheel. The purpose of this research were 1) to develop a prediction method of lug wheel performance, 2) to analyze the performance of lug wheel, and 3) to select the best configuration of lug wheel design. Tractive performance prediction method was developed based on the forces acting onactive lugs when the wheel operates in the soil. Soil reaction forces to wheel lugs were predicted using measured data of soil resistance on plat penetration in the soil. Nine wheel designs were tested in a paddy field to validate the prediction of wheel traction performance. The results showed that the developedprediction method developed had not approached the wheel traction efficiency maesurement results. The wheel traction efficiency prediction showed a high level of error that was more than 65%. The best wheel design for the paddy field was determined from the highest average measurement value of the wheel traction efficiency i.e 47.81%, that was the wheel with 12 lugs and 30° lug angle.AbstrakKondisi lahan sawah merupakan faktor penting yang perlu dipertimbangkan dalam perancangan roda besi bersirip untuk pengolahan tanah. Untuk mendapatkan desain roda besi bersirip yang optimal, kinerja traksi harus diduga sebelum melakukan perancangan. Tujuan dari penelitian ini adalah 1) untuk mengembangkan sebuah metode pendugaan kinerja traksi roda besi bersirip, 2) untuk menganalisis kinerjatraksi roda besi bersirip, 3) untuk menentukan konfigurasi desain roda besi bersirip terbaik. Metoda untuk menduga kinerja traksi dikembangkan berdasarkan gaya-gaya reaksi yang bekerja pada sirip aktif pada saat roda besi bersirip beroperasi di lahan. Gaya reaksi tanah pada sirip roda diduga dengan menggunakan data pengukuran tahanan tanah terhadap penetrasi plat. Sebanyak 9 buah tipe desain roda besi bersirip telah diuji pada lahan sawah untuk memvalidasi hasil pendugaan kinerja traksi roda besi bersirip. Hasil validasi menunjukkan bahwa efisiensi traksi hasil pengembangan metode pendugaan belum mendekati hasil efisiensi traksi pengukuran. Pendugaan efisiensi traksi roda besi bersirip menghasilkan tingkat error yang tinggi yaitu lebih dari 65%. Desain roda besi bersirip terbaik untuk lahan sawah ditentukan dari ratarata nilai efisiensi traksi hasil pengukuran tertinggi sebesar 47.81% yaitu roda besi bersirip dengan jumlahsirip 12 dan sudut sirip 30°.