Articles

Found 20 Documents
Search

Sebaran akuifer dan pola aliran air tanah di Kecamatan Batuceper dan Kecamatan Benda Kota Tangerang, Propinsi Banten Hadian, Mohamad Sapari; Mardiana, Undang; Abdurahman, Oman; Iman, Munib Ikhwatun
Indonesian Journal on Geoscience Vol 1, No 3 (2006)
Publisher : Geological Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1226.33 KB) | DOI: 10.17014/ijog.v1i3.14

Abstract

http://dx.doi.org/10.17014/ijog.vol1no3.20061Geologically the Batuceper and Benda Sub-Regencies belongs to the western part of the Jakarta Basin. The area is covered by coastal alluvial and delta deposits, and volcanic product. Understanding the distribution and groundwater pattern, either in the shallow part or the deep part, are of the basic thing for a geometric model and its groundwater fl ow in identifying the groundwater conservation. The result of the aquifer distribution, either in the shallow or the depth parts, was approached by the geoelectrical and hydrogeological surveys in the fi eld and well data that has resulted in aquifer distribution, either in the shallow or the deep parts. In general, the shallow aquifer developed downward becomes semi confi ned and confi ned aquifers. Groundwater fl ow pattern indicated local cones depression of groundwater level, especially around the city. Depression of groundwater level is considered to be related to the natural shape of aquifer as lences. However, it was possible to be caused by over pumping in this zone.    
PENINGKATAN AKURASI PERHITUNGAN CADANGAN BATUBARA DI WILAYAH SEPARI - KALIMANTAN TIMUR BERDASARKAN DETEKSI KEMIRINGAN LUBANG BOR DENGAN SENSOR GYROSCOPE-ACCELEROMETER-HEADING DIJITAL Firmansyah, Gilang; Sukiyah, Emi; Yuniardi, Yuyun; Mardiana, Undang
Bulletin of Scientific Contribution: GEOLOGY Vol 14, No 1 (2016): Bulletin of Scientific Contribution
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1129.941 KB) | DOI: 10.24198/bsc geology.v14i1.9786

Abstract

Penaksiran sumber daya dalam suatu proses penambangan batubara didapatkan melalui perhitungan dan analisis data eksplorasi detil. Data ini diperoleh dengan metode pemboran dan pemetaan geologi. Penaksiran sumber daya dilakukan untuk mengetahui taksiran jumlah tonase sumber daya batubara. Hasil taksiran selanjutnya digunakan untuk perhitungan stripping ratio pada lahan tersebut untuk mengetahui keekonomian bahan tambang. Hasil yang diperoleh dapat  menentukan kelayakan suatu tambang untuk di eksploitasi. Pada proses pengeboran terdapat istilah borehole deviation, yaitu deviasi atau simpangan miring dari suatu target lubang bor. Selama ini, pengeboran tegak lurus selalu dinyatakan memiliki kemiringan 90°. Asumsi tersebut sebenarnya tidak tepat. Kemiringan lubang bor yang dinyatakan tegak lurus ternyata memiliki nilai bervariasi. Oleh karena itu, survei kemiringan lubang bor perlu dilakukan untuk mengetahui kemiringian lubang bor secara akurat. Nilai dip dan azimut lubang bor turut berperan sebagai parameter penting dalam meningkatkan akurasi perhitungan cadangan. Berdasarkan hasil uji coba terhadap penggunaan sensor gyroscope-accelerometer-heading dijital pada pengeboran eksplorasi di wilayah Separi diperoleh adanya peningkatan hasil perhitungan cadangan batubara.
GEOMETRI AKUIFER BERDASARKAN DATA GEOLISTRIK DAN SUMUR PEMBORAN DI DAERAH JASINGA, KECAMATAN JASINGA, KABUPATEN BOGOR, JAWA BARAT Mohammad, Febriwan; Mardiana, Undang; Yuniardi, Yuyun; Alfadli, Muhammad Kurniawan
Bulletin of Scientific Contribution: GEOLOGY Vol 15, No 3 (2017): Bulletin of Scientific Contribution:GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (598.522 KB) | DOI: 10.24198/bsc geology.v15i3.14700

Abstract

SARI            Daerah penelitian secara geografis terletak pada  106° 26? 45? BT sampai 106° 29? 15? BT dan -6° 26? 00? LS sampai  -6° 28? 30? LS. Secara administratif daerah penelitian berada di Desa Cikopomayak dan sekitarnya, Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Daerah penelitian terbagi menjadi 2 satuan batuan yaitu Satuan Batulanau dan Intrusi Andesit. Pengukuran geolistrik dan sumur pemboran digunakan untuk mengetahui kondisi geologi bawah permukaan secara vertikal maupun lateral. Daerah penelitian memiliki tiga kelompok nilai resistivitas dan litologi, yaitu batuan dengan nilai resistivitas rendah (0 ? 60 ?.m) dengan litologi batulempung ? serpih dan batulanau, resistivitas menengah (61 ? 130 ?.m) dengan litologi batulempung pasiran, batupasir sedang, dan batupasir kasar, dan resistivitas tinggi (131 ? 180 ?.m) dengan litologi batupasir halus, batulempung pasiran, dan andesit. Keberadaan lapisan akuifer dibuktikan dengan adanya lapisan batupasir sedang ? batupasir kasar pada kedalaman 10 dan kedalaman 20 meter dari sumur pemboran. Dari korelasi data geolistrik dan sumur pemboran,  dibuat penampang sistem akuifer yang melewati daerah penelitian yang selanjutnya di modelkan ke dalam diagram pagar geometri akuifer. Berdasarkan model geometri akuifer, daerah penelitian terbagi menjadi tiga jenis akuifer yaitu, akuifer bebas, akuifer semi tertekan, dan akuifer tertekan.Kata Kunci : geolistrik, sumur pemboran, geometri akuifer. ABSTRACTThe research area is geographically located at 106° 26? 45? East up to 106° 29? 15? East and 6° 26? 00? South up to  6° 28? 30? South. Administratively, area of research is in the Cikopomayak, Jasinga, Bogor District, West Java Province.  The research area is  divided into two rock units, Siltstone Unit and Andesite Intrusion. Georesistivity method and well drilling used to study subsurface geology. The research area have three kind of resistivity and lithology value, that is low resistivity (0 ? 60 ?.m) with shale and siltstone lithology, medium resistivity (61 ? 130 ?.m) with sandy clay and sandstone lithology, and high resistivity (131 ? 180 ?.m) with sandstone, sandy clay, and andesit lithology.  Presence of aquifer layer proved by sandstone in well drilling at depth of 10 ? 20 meters. From the georesistivity and well drilling data correlation, made a cross section of aquifer system in the research area, then modelled to fence diagram. According to geometric model of aquifer, the research area divided to three aquifer configurations, unconfined aquifer, semi confined aquifer, and confined aquifer.Keyword : resistivity, geometry aquifer
KARAKTERISTIK ENDAPAN VULKANIK SUB DAS CIGOMBONG LERENG TIMUR GUNUNG SALAK MUTAQIN, DEDEN ZAENUDIN; Mohammad, Febriwan; Mardiana, Undang; Yuniardi, Yuyun; Alfadli, Muhammad Kurniawan
Bulletin of Scientific Contribution: GEOLOGY Vol 17, No 2 (2019): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2557.95 KB) | DOI: 10.24198/bsc geology.v17i2.22569

Abstract

ABSTRAKMetode stratigrafi yang digunakan pada batuan vulkanik serupa dengan mempelajari stratigrafi pada batuan sedimen, yaitu membuat korelasi, urutan secara vertikal berdasarkan waktu, menentuakan perubahan fasies dan sejenisnya. Penelitian Stratigrafi rinci mengenai daerah vulkanik masih jarang dilakukan. Hal ini biasanya dikarenakan oleh kondisi lapangan yang sulit ditempuh. Penelitian ini berlokasi di Sub DAS Cigombong Lereng Timur Gunung Salak untuk mengetahui perubahan litologi baik secara lateral maupun vertikal. Permasalahan dipecahan dengan Observasi lapangan. Data lapangan berupa lintasan-lintasan stratigrafi berdasarkan daerah cekungan pengaliran. Berdasarkan fasies vulknik dari keseluruhan analisis , terdapat 6 kelompok fasies dari muda ke tua yaitu endpan aliran laharik gunung salak, endapan aliran lava 2 gunung salak, endapan aliran lava 1 gunung salak, endapan aliran piroklastik scoria 3 gunung salak endapan aliran lava 1 gunung salak, endapan aliran piroklastik scoria 2 berasosiasi dengan endapan Seruakan gunung salak, dan endapan aliran lava 1 gunung salak, endapan aliran piroklastik scoria 1 pra gunung salak.Kata kunci: Cigombong, Fasies Gunung Api, Salak, VulkanikABSTRACTStratigraphy in volcanic area have similar treatment with sedimentary rock study process, i.e. make correlations, order vertically based on time, determine changes in facies and the like. Detailed stratigraphic research on volcanic areas is rarely done. This is usually caused by field conditions that are difficult to go through. This research is located in the Cigombong East Slope Sub-watershed of Mount Salak to determine lithological changes both laterally and vertically. The problem is solved by field observations. Field data in the form of stratigraphic trajectories based on drainage basins. Based on the Vulcanic facies of the whole analysis, there are 6 facies groups from young to old, namely Salak mountain flow depletions, Salak flow 2, Salak flow 1, pyroclastic flow, scoria 3 Salak mountain deposition, lava flow 1 Salak mountain, scoria pyroclastic flow sediment 2 associated with Salak mountain excavation, Salak mountain lava flow 1, pyroclastic flow precipitate 1 Salak mountain.Keyword: Cigombong, Volcanic Facies, Mt. Salak, Volcanic.
POTENSI AIRTANAH BERDASARKAN NILAI RESISTIVITAS BATUAN DI KELURAHAN CANGKORAH, KECAMATAN BATUJAJAR, KABUPATEN BANDUNG BARAT Mohammad, Febriwan; Mardiana, Undang; Yuniardi, Yuyun; Firmansyah, Yusi; Alfadli, Muhammad Kurniawan
Bulletin of Scientific Contribution: GEOLOGY Vol 14, No 2 (2016): Bulletin of Scientific Contribution
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1321.29 KB) | DOI: 10.24198/bsc geology.v14i2.9799

Abstract

Groundwater is water that contain under the soil or rock which located in subsurface layer. The resistivity method or geoelectricity using electrical properties of subsurface materials to obtain the anomalies. Aquisition data did with 2 line of 2-D resistivity and 10 point of 1-D resistivity. The result from 1-D resistivity are divided into three classification : First classification had range between 1 ? 5 Wm which indicate the  rock with low resistivity and shallow. This layer interpretated as clay from Saguling Lake sedimentation and this layer act as aquiklud layer. The second classification with range between 6 ? 20 Wm indicated as medium resistivity and act as aquitard. The third classification  with range more than 20 Wm indicated as high resistivity and act as aquifer with low productivity. From the 2-D resistivity survey, such as : Low resistivity range assosiated with shaly tuff lithology and sandy tuff, depth of the low resistivity range about 0 ? 40 meters, Medium resistivity range had depth about 10 ? 70 meters, act as aquifer due to have well porosity properties. High resistivity range depth is more than 70 meters until 100 meters assosiated with massif layer, bad porosity, and did not have rock pore, the lithology is collaboration between massif breccia with igneous component. Keyword : Geoelectricity, Resistivity, Batujajar, Groundwater, Aquifer Air tanah merupakan air yang terdapat di dalam lapisan tanah atau batuan yang terletak di bawah permukaan tanah. Metode resistivitas (resistivity) atau geolistrik memanfaatkan sifat kelistrikan material bawah permukaan untuk mendapatkan anomali. Pengukuran dilakukan sebanyak 2 lintasan geolistrik 2-D dan 10 titik pengukuran 1-D. Dari hasil pengukuran metode 1-D diperoleh 3 paket batuan yaitu : Paket lapisan batuan 1 dengan nilai tahanan jenis berkisar antara 1 ? 5 Wm yang mengindikasikan batuan dengan resistivitas amat rendah dan dangkal. Lapisan ini diduga berupa lempung dari endapan danau Saguling. Lapisan ini diduga berperan sebagai akiklud. Paket lapisan batuan 2  dengan nilai tahanan jenis antara 6 hingga 20 Wm mengindikasikan batuan dengan resistivitas menengah dan bersifat sebagai akitar . Paket lapisan batuan 3 dengan nilai tahanan jenis antara lebih dari  20 Wm mengindikasikan batuan dengan resistivitas yang tinggi dan dapat berperan sebagai akifer dengan produktivitas rendah. Dan dari hasil geolistrik 2-D, yaitu : Rentang resisitivitas rendah kemungkinan berasosiasi dengan batuan dengan litologi tuf lempungan dan tuf pasiran memiliki kedalaman bervariasi antara 0-40 meter, Rentang resistivitas menengah memiliki kedalaman bervariasi sekitar 10-70 meter. Porositas paket batuan ini diperkirakan baik, dan dapat berperan sebagai akifer, Rentang resisitivitas tinggi ini berasosiasi dengan rentang kedalaman yang bervariasi mulai dari 70 meter hingga kedalaman lebih dari 100 meter berasosiasi dengan Lapisan keras, massif, porositas buruk dan tidak dapat menyimpan air di antara pori-pori batuannya, berupa perpaduan antara breksi padu dengan komponen batuan beku. Kata kunci : Geolistrik, Resistivitas, Batujajar, Airtanah, Akifer
ALTERASI DI SUMUR PENGEBORAN SMN-1 DAN SMN-2 DI DAERAH PANAS BUMI SUMANI, KABUPATEN SOLOK, PROPINSI SUMATERA BARAT Sukaesih, Sukaesih; Rezky, Yuanno; Rosana, Mega Fatimah; Mardiana, Undang
Buletin Sumber Daya Geologi Vol 10, No 3 (2015): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Buletin Sumber Daya Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1630.422 KB)

Abstract

Daerah penelitian berada di lokasi sumur pengeboran SMN-1 dan lokasi sumur pengeboran SMN-2 berada di daerah panas bumi Sumani, Kabupaten Solok, Provinsi Sumatera Barat. Penelitian dilakukan untuk mengetahui tipe alterasi bawah permukaan dalam lingkungan sistem panas bumi daerah Sumani. Metode yang digunakan adalah melakukan deskripsi megaskopis, mikroskopis dananalisis karakterisasi terhadap batuan inti dari sumur SMN-1 (702 meter) dan SMN-2 (428 meter). Dilakukan juga pengukuran suhu pada sumur SMN-1 dan SMN-2 untuk mengetahui anomali gradien geothermal. Berdasarkan hasil penelitian diketahui jenis-jenis mineral yang terbentuk dalam batuan bawah permukaan dan tipe ubahan serta korelasi zonasi alterasi bawah permukaan. Mineral ubahan yang dijumpai dalam batuan inti sumur SMN-1 terdiri dari; montmorilonit, smektit, sulfat, silika, halit, hematit, oksida vanadium, arsenat, karbonat, zeolit, ilit, pirofilit, klorit, muskovit, dan opal. Mineral ubahan yangterbentuk dalam sumur SMN-2 terdiri dari; kaolinit, montmorilonit, smektit, hematit, posfat, silikat, zeolit dan karbonat. Berdasarkan hasil pengelompokan mineral ubahan yang terbentuk dalam batuan bawah permukaan, sumur SMN-1 didominasi oleh tipe argilik (hingga kedalaman 100 meter) dan tipe propilitik (100-702 meter), sedangkan Sumur SMN-2 merupakan tipe ubahan argilik. Gradien geothermal dari permukaan hingga kedalaman 700 m di sumur SMN-1 menunjukkan ratarata 12,86 o C/100 meter, sedangkan di sumur SMN-2 diperoleh rata-rata 7 derajat C/100 meter. 
PENDUGAAN NILAI TAHANAN JENIS BATUAN UNTUK MENGETAHUI STRUKTUR GEOLOGI PADA ENDAPAN VULKANIK DI KEC. PADARINCANG, PROVINSI BANTEN. Endyana, Cipta; Hirnawan, Febri; Hendrawan, Hendrawan; Mardiana, Undang
Buletin Sumber Daya Geologi Vol 6, No 3 (2011): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Buletin Sumber Daya Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6143.995 KB)

Abstract

Pendugaan nilai-nilai tahanan jenis batuan menggunakan metode Schlumberger merupakan pendekatan yang efektif untuk menduga kondisi batuan bawah permukaan. Penggunaan teknik interpolasi danpengelompokkan nilai tahanan jenis lebih lanjut dapat menafsirkan kontinuitas lateral jenis batuan dan struktur geologi.Pengolahan dan pengujian secara statistik  analisis regresi berganda pada nilai tahananjenis menghasilkan enam jenis kelompok batuan, yaitu: Breksi grain supported, Tuf Lapili, Tuf Kasar, Breksi grain supported, tuf lapili, breksi matrix supported. Hasil uji korelasi pada karakter tahanan jenis keenam kelompok batuan tersebut ditemukan bahwa ada tiga sumber material yang berbeda pada saat pengendapannya. Material endapan diyakini berasal dari Gunung Parakasak, Gunung Karang dan Gunung Kamuning. Kesamaan nilai tahanan jenis pada pola berarah barat-timur menunjukkan kesamaan litologi, sedangkan kesamaan nilai tahanan jenis pada pola dengan arah utara-selatan menunjukkan nilai kontras tahanan jenis yang disebabkan oleh dua jenis sesar berarah relatif barat-timur dengan mekanisme yang berbeda.
FASIES PENGENDAPAN BATUBARA SEAM X25 FORMASI BALIKPAPAN BERDASARKAN LOG INSIDE CASING DI DAERAH SEPARI, KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA, PROVINSI KALIMANTAN TIMUR Margaesa, Dany; Isnaniawardhani, Vijaya; Mardiana, Undang
Buletin Sumber Daya Geologi Vol 8, No 3 (2013): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Buletin Sumber Daya Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3813.052 KB)

Abstract

Cekungan Kutai terletak di Kalimantan Timur menyimpan banyak kandungan sumber daya alam yang melimpah, seperti endapan batubara. Daerah penelitian secara geologi termasuk ke dalam Formasi Balikpapan yang dicirikan oleh keterdapatan litologi batupasir lepas (loose sand). Penggunaan Log Inside Casing merupakan salah satu solusi terbaik dalam pengambilan data well logging di Formasi Balikpapan ini untuk mengatasi beberapa kendala, seperti runtuhnya lubang bor dalam batuan sedimen lepas. Dengan metode Log Inside Casing ternyata terjadi penurunan kualitas pembacaan log sekitar 50% terutama pada Log Density. Namun demikian Log Gamma Ray masih sangat baik digunakan dalam interpretasi tekstur batuan sedimen sehingga suksesi sedimen dapat dipelajari sebagai aplikasi dari elektrofasies.Batubara seam X25 dibedakan menjadi dua fasies berbeda dan diendapkan pada lingkungan Transitional Lower Delta Plain yang dicirikan oleh pola fasies crevasse splay, channel, levee dan interdistributary bay berdasarkan model Horne (1978). Penelitian ini dapat mengkoreksi korelasi litostratigrafi dan perhitungan sumberdaya batubara berdasarkan genesa batubaranya secara tepat, akurat dan ilmiah.
Potensi Gas Biogenik di Cekungan Kutai Bagian Selatan, Kalimantan Timur Yuniardi, Yuyun; Mardiana, Undang; Abdullah, Fikri
Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol 16, No 4 (2015): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral
Publisher : Pusat Survei Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Delineation of the subsurface of data required to determined potential the presence of biogenic gas. Subsurface interpretation is done by using the data for analysis electrolysis cutting, the log data in the form of Logs GR, RT, NEU, RHOB of 39 wells and gas data (Mud Logs) from the chromatograph and Correlation wells are done. Shallow gas is concentrated or accumulated in the marker interval until Fs-s2 and Fs-s3 (at the depth interval of 950-1300 MSS), and isolated existence.The existence of gas on the platform M in shallow zones (shallow zone, above the marker MF2) is dominated by C1 gas/methane (gas surface), there were no gas C2 (only minor traces on the M38 start at a depth of wells 1200 MSS), while the presence of other gas (C3, C4, C5) only appear as minor traces. Based on gas analysis, it can be concluded that in the interval of 950-1300 MSS there is a surge of the total gas, when compared with data from its Master Log turns anomaly is derived from limestone and coal layers in which these results are correlated with a map of Gas Bearing Reservoir Mapping.Based on the data that has been processed, it can be concluded that the shallow gas accumulates at a depth of 950-1300 MSS or at interval marker Fs-s2 and Fs-s3. So for the next drilling activity on Platform M, is expected to be aware of the depth zone.Keyword - Biogenic Gas, Electrofacies Analysis, Delineation, Gas Analysis, , Marker Interval, Well Correlation
EVALUASI CADANGAN MINYAK ZONA A DAN B, LAPANGAN RAMSES, BLOK D, MELALUI PEMODELAN GEOLOGI BERDASARKAN DATA PETROFISIKA Iqbal, Prahara; Mardiana, Undang
Teknologi Indonesia Vol 32, No 1 (2009)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jti.v32i1.55

Abstract

Geology modelling has been done in Zone A and B, Ramses field, Blok D. The modelling was conducted by determining Zone A and B as zone having to be checked based on gamma ray, resistivity, and densitiy curve integrity reading (qualitative analysis) and petrophysic analysis which used GS software (quantitative analysis). Then the data were entered into IRAP RMS 7.3 software. The results are Zone A and B geology modelling and also oil concentration modeling which describe the biggest area of oil concentration, plus the oil amount. the result showed that, the biggest area of oil concentration is at south of each zone. The oil amount are: Zone A=82,78 million barrel, Zone B=36.08 million barrel.