Articles

Found 16 Documents
Search

KAJIAN GEOEKOLOGI DAERAH KEPESISIRAN LOMBOK BARAT UNTUK PENGEMBANGAN WISATA PANTAI Mardiatno, Djati
Majalah Geografi Indonesia Vol 16, No 1 (2002): Maret 2002
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mgi.13230

Abstract

ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah: (1) mengidentifikasi dan mengklasifikasi satuan geoekologi daerah kepesisiran dan memetakan satuan-satuan geoekologi daerah kepesisiran di daerah Lombok Barat; (2) mengetahui karakteristik satuan geoekologi daerah kepesisiran Lombok Barat; dan (3) mengetahui tipe geoekologi dan fungsi masing-masing tipe geoekologi daerah kepesisiran di daerah Lombok Barat untuk menentukan altenatif pengembangan dan pengelolaan kawasan kepesisiran. Metode penelitian menggunakan metode survey dengan penentuan sampel secara purposif. Satuan analisis yang digunakan adalah satuan geoekologi yang dinilai potensi dan kendala masing-masing untuk dikembangkan kegiatan wisata tertentu. Penilaian potensi menggunanakan analisis SWOT (Strength, Weakness, Oppurtunity, dan Threat) untuk menentukan klasifikasi tipe geoekologi tiap lokasi. Klasifikasi tipe geoekologi untuk satuan geoekologi A memiliki peluang jenis kegiatan wisata 6 macam, tipe B jenis kegiatan 4 s.d 5 macam, dan tipe C jenis kegiatan wisata 3 macam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk kawasan kepesisiran Lombok Barat terdiri atas 7 satuan geoekologi yaitu satuan geoekologi lepas pantai, gisik, dataran alluvial pantai, dataran alluvial, lembah antar bukit, lereng kaki perbukitan, dan perbukitan denudasional. Berdasarkan identifikasi terhadap 18 titik pengamatan, tipe geoekologi A merupakan tipe geoekologi yang dominan (10 lokasi), diikuti oleh tipe C (6 lokasi), dan tipe B (2 lokasi). Kondisi fisik di kawasan kepesisiran di Lombok Barat sangat menunjang untuk pengembangan wisata. Upaya pemantauan dan pengendalian perlu dilakukan pada lokasi dengan tipe geoekologi A. Lokasi yang potensial tetapi belum berkembang perlu dikembangkan dengan meningkatkan sarana pendukung yang memadai.
ANALISIS KEKERINGAN BERDASARKAN BENTUKLAHAN DI DAS BOMPON Rahmi, Maulida; Setiawan, M. Anggri; Mardiatno, Djati
Media Komunikasi Geografi Vol 20, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/mkg.v20i2.18399

Abstract

Analisis kerawanan kekeringan dipengaruhi oleh kondisi satuan bentuklahan yang bervariasi pada wilayah kajian. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Memetakan kerawanan kekeringan menggunakan pengharkatan, (2) Menganalisis kerawanan kekeringan berdasarkan bentuklahan. Metode yang digunakan untuk memetakan kerawanan kekeringan yaitu pendekatan geomorfologi, pembobotan atau skoring diberikan pada setiap satuan bentuklahan sebagai indikator yang digunakan untuk menilai kelas kerawanan. Semakin besar pengaruh yang diberikan oleh indikator maka semakin besar pula skor atau pengharkatan yang diberikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa satuan bentuklahan interfluve dan lereng atas perbukitan memiliki tingkat kerawanan kekeringan tinggi. Kelas kerawanan kategori tinggi ditandai dengan kemunculan airtanah yang sulit ditemui. Kerawanan kekeringan kelas sedang berada pada bentuklahan lereng tengah perbukitan dan lereng bawah perbukitan. Bentuklahan lereng kaki koluvial dan dataran aluvial berada pada tingkat kekeringan kelas rendah, hal ini sesuai dengan kondisi yang ditemukan di lapangan, yaitu kemunculan airtanah yang mudah ditemui. Kekeringan pada satuan bentuklahan ditandai oleh kondisi morfologi dan lokasi ditemukannya mataair yang muncul di tekuk lereng. Penggunaan metode untuk kajian kekeringan dengan skala detail baik secara kualitatif dan kuantitatif perlu dilakukan lagi untuk menemukan perkembangan metode yang tepat dalam melakukan analisis kajian kekeringan dari segi sosial. Kata kunci: Bentuklahan; Daerah Aliran Sungai (DAS); Geomorfologi; Kerawanan; Kekeringan
ANALISIS KESIAPSIAGAAN RUMAH SAKIT DI KOTA PADANG UNTUK MENGANTISIPASI ANCAMAN GEMPA BUMI DAN TSUNAMI Wijaya, Oktomi; Trisnantoro, Laksono; Mardiatno, Djati
Jurnal Publikasi Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol 4, No 3 (2017): Jurnal Publikasi Kesehatan Masyarakat Indonesia
Publisher : University Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kota Padang adalah salah satu area di Indonesia yang memiliki risiko tinggi untuk gempa dan tsunami yang dikenal dengan Mentawai Megathrust. Para Peneliti memperkirakan bahwa ada potensi gempa bumi 8,8 SR dan diikuti tsunami. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui status kesiapsiagaan Rumah Sakit Islam Siti Rahmah, mengevaluasi kendala serta untuk merekomendasikan  kebijakan terkait rencana kesiapsiagaan rumah sakit dalam mengantisipasi ancaman mentawai megathrust. Penelitian ini menggunakan metode kombinasi (gabungan anatara metode kualitatif dan kuantitatif). Metode kualitatif dengan menggunakan wawancara mendalam, observasi, dan telaah dokumen, sedangkan metode kuantitatif dengan menggunakan indeks kesiapsiagaan. Hasil penelitian ini adalah Kesiapsiagaan rumah sakit menurut konsep hospital safety index PAHO adalah 0,558, kesiapsiagaan Rumah Sakit Islam Siti Rahmah berdasarkan konsep PKMK FK UGM adalah 0,16. Kesiapsiagaan Rumah Sakit Islam Siti Rahmah berada pada level kesiapsiagaan rendah. Hal ini berarti Tindakan perbaikan sangat dibutuhkan segera. Status kesiapsiagaan rumah sakit belum memadai untuk melindungi pasien dan staf RS selama dan sesudah terjadi bencana. Kata-kata kunci: Kesiapsiagaan, rumah sakit, manajemen bencana  Abstract Padang city is one area of Indonesia that posed high risk on earthquake and tsunami as known as Mentawai Megathrust. The objective of this research was to examine the preparedness status of Siti Rahmah Islamic Hospital, evaluate the constraints and formulate recommendation policy related to hospital disaster plan to anticipate mentawai megathrust. This research using mix methods (combine qualitative and quantitative methods). Qualitative methods using indepth interview, observation, and document review, while quantitative methods using preparedness index. The result of this research showed that hospital preparedness level was 0.558 (PAHO concept), while based on PKMK FK UGM, the hospital preparedness level was 0.16. Hospital Preparedness level was on low level. This level means that urgent intervention measures are needed. The hospitals current preparedness level is inadequate to protect the lives of patients and hospital staffs during and after disaster.  Keywords: Preparedness, Hospital, disaster management
PENDEKATAN SEL SEDIMEN MENGGUNAICAN CITRA PENGINDERAAN JAUH SEBAGAI DASAR PENATAAN RUANG WILAYAH PESISIR (STUDI KASUS DI PESISIR UTARA PROPINSI JAWA TENGAH) Khakhim, Nurul; Dulbahri, Dulbahri; Mardiatno, Djati; Arminah, Valentina
Majalah Geografi Indonesia Vol 19, No 2 (2005): September 2005
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (576.455 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13291

Abstract

ABSTRAK Wilayah pesisir adalah wilayah peralihan antara darat dan taut. Terdapat banyak sekali amberdaya alam yang dapat dimanfaatkan oleh manusia, sehiagga perkernbangan wilayah pesisir emakin pesat dan kondisi ini menyebabkan konflik antara berbagai kepentingan manusia di ,ilayah tersebut. Diperlukan pengaturan ruang di wilayah pesisir untuk mengatasi konflik antar epentingan tersebut dengan menggunakan suatu pendekatan yang mempertimbangkan hubungan etiap sumberdaya dalam ekosistem wilayah pesisir dan dengan tetap memperhatikan ekosistem ersebut secara menyeluruh. Pendekatan tersebut adalah pendekatan set sedimen (sediment cell). iel sedimen adalah satuan panjang pantai yang mempunyai keseragaman kondisi fisik dengan carakieristik dinamika sedimen detain wilayah pergerakannya tidak mengganggu keseimbangan iondisi pantai yang berdekatan. Pendekatan set sedimen untuk perencanaan tats ruang pada winsipnya adalah bahwa satu unit pengelolaan adalah panjang pantai dengan karakteristik tertentu yang berkaitan dengan proses alami dan penggunaan lahan pesisir. Tujuan dart penelitian ini edalah menentukan batas set sedimen di wilayah pesisir utara Propinsi Jawa Tengah sebagai dasar penataan ruang pesisir di wilayah tersebut. Metode yang digunakan untuk menentukan sel sedimen adalah dengan interpretasi citra Landsat ETM+ tahun 2002 dan pengukuran lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di wilayah pesisir utara Propinsi Jawa Tengah terdapat 6 sel sedimen, dimana dap sel sedimen tersebut mempunyai keseragaman kondisifisik dengan karalaeristik dinamika sedimen yang berbeda dengan sedimen set lainnya. Sel sedimen-sel sedimen tersebut meliputi : Sel sedimen 1 yang dimulai dari Muara Sungai Cisanggarung sampai sebelah timur Muara Sungai Pemali, Sel sedimen 2 yang dimulai dart sebelah Timur Sungai Pemali sampai Muara Sungai Bodri, Sel sedimen 3 yang dimulai dart Muara sungai Bodri sampai Muara Sungai Wulan, Sel Sedimen 4 yang dimulai dan muara Sungai Wulan sampai pesisir utara Kabupaten Jepara, Set sedimen 5 yang dimulai dart pesisir utara Kabupaten Pea sampai Muara Sungai Kalioso Rembang, dan Sel sedimen 6 yang dimulai dart muara Sungai Kalioso sampai pesisir utara Kabupaten Rembang, Tap-flap sel sedimen dapat digunakan sebagai dasar pengaturan peruntukan ruang kegiatan pembangunan dengan memperhatikan perilaku sedimen dengan menvusun matrik keserasian kegiatan pembangunan di wilayah pesisir.
Kerangka Aset Rumah Tangga Miskin dalam Peristiwa Banjir Pasang Surut di Kecamatan Pekalongan Utara Kota Pekalongan Ni’mah, Novi Maulida; Sadharto, Djarot; Mardiatno, Djati
Majalah Geografi Indonesia Vol 29, No 2 (2015): September 2015
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1753.633 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13119

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini membahas tentang penghidupan rumah tangga miskin dalam konteks bencana banjir pasang surut di Kota Pekalongan. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mengetahui aset dan (2) dampak banjir pasang surut terhadap aset. Penelitian ini menggunakan pendekatan descriptive exploratory dan field research yang dibahas secara deskriptif kualitatif dengan menguraikan aset rumah tangga miskin dan dampak banjir pasang surut terhadap aset. Pemanfaatan aset oleh rumah tangga miskin di Kecamatan Pekalongan Utara dilakukan sesuai mata pencaharian yang dimiliki yaitu sektor pertanian dan perikanan serta sektor industri, perdagangan, dan jasa. Sektor pertanian dan perikanan bergantung pada natural asset yaitu laut, sungai, dan lahan, sedangkan sektor industri, perdagangan, dan jasa bergantung pada physical asset yaitu rumah, alat transportasi, dan alat bekerja. Kerusakan kedua aset tersebut akibat bencana banjir pasang surut telah menghambat peningkatan kesejahteraan hidup. ABSTRACT This study discusses the livelihoods of poor households in the context of tidal flood in Pekalongan City. The purpose of this study was (1) to know the assets and (2) to determine the impact of tidal flood to assets. This study used descriptive exploratory and field research approach which discussed in qualitative descriptive with outline of assets of poor households and the impact of tidal flood to assets. Utilization of assets by poor households in the Pekalongan Utara District done according owned livelihood that is agriculture and fisheries sectors as well as industry, trade, and services. Agriculture and fisheries rely on the natural assets of the sea, river and land, while the industrial sector, trade, and services depend on the physical asset of a house, transportation, and work tools. Damages to the two assets caused by flood tides have prevented an increase in welfare.
Errata: Kerangka Aset Rumah Tangga Miskin dalam Peristiwa Banjir Pasang Surut di Kecamatan Pekalongan Utara Kota Pekalongan Ni’mah, Novi Maulida; Sadharto, Djarot; Mardiatno, Djati
Majalah Geografi Indonesia Vol 29, No 2 (2015): September 2015
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (40.453 KB) | DOI: 10.22146/mgi.17332

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini membahas tentang penghidupan rumah tangga miskin dalam konteks bencana banjir pasang surut di Kota Pekalongan. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mengetahui aset dan (2) dampak banjir pasang surut terhadap aset. Penelitian ini menggunakan pendekatan descriptive exploratory dan field research yang dibahas secara deskriptif kualitatif dengan menguraikan aset rumah tangga miskin dan dampak banjir pasang surut terhadap aset. Pemanfaatan aset oleh rumah tangga miskin di Kecamatan Pekalongan Utara dilakukan sesuai mata pencaharian yang dimiliki yaitu sektor pertanian dan perikanan serta sektor industri, perdagangan, dan jasa. Sektor pertanian dan perikanan bergantung pada natural asset yaitu laut, sungai, dan lahan, sedangkan sektor industri, perdagangan, dan jasa bergantung pada physical asset yaitu rumah, alat transportasi, dan alat bekerja. Kerusakan kedua aset tersebut akibat bencana banjir pasang surut telah menghambat peningkatan kesejahteraan hidup.  ABSTRACT This study discusses the livelihoods of poor households in the context of tidal flood in Pekalongan City. The purpose of this study was (1) to know the assets and (2) to determine the impact of tidal flood to assets. This study used descriptive exploratory and field research approach which discussed in qualitative descriptive with outline of assets of poor households and the impact of tidal flood to assets. Utilization of assets by poor households in the Pekalongan Utara District done according owned livelihood that is agriculture and fisheries sectors as well as industry, trade, and services. Agriculture and fisheries rely on the natural assets of the sea, river and land, while the industrial sector, trade, and services depend on the physical asset of a house, transportation, and work tools. Damages to the two assets caused by flood tides have prevented an increase in welfare. 
Pemodelan Spasial untuk Pembuatan Peta Rawan Banjir dan Peta Tingkat Risiko Banjir Bengawan Solo di Kota Surakarta Cahyono, Toto; Hadi, Mohammad Pramono; Mardiatno, Djati
Majalah Geografi Indonesia Vol 29, No 1 (2015): Maret 2015
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4823.532 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13102

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pemodelan spasial untuk menyusun Peta Bahaya Banjir dan Peta Tingkat Risiko Banjir akibat luapan Bengawan Solo di Kota Surakarta. Lokasi penelitian meliputi penggal alur Bengawan Solo di wilayah Kota Surakarta. Metode penelitian yaitu dengan analisis hidrograf, pemodelan banjir, analisis potensi bahaya banjir, analisis kerentanan banjir, dan analisis tingkat risiko banjir. Analisis hidrograf dilakukan dengan menghitung debit puncak rancangan, analisis geometrik sungai, dan analisis karakteristik banjir. Pemodelan spasial banjir menggunakan perangkat lunak ArcView dengan ekstensi HEC-GeoRAS dan perangkat lunak hidrologi HEC-RAS. Analisis potensi bahaya banjir dari peta genangan hasil pemodelan spasial dengan input debit puncak rancangan banjir periode ulang 60. Analisis kerentanan dengan identifikasi elemen yang berisiko pada peta penggunaan lahan daerah bahaya. Analisis tingkat risiko dilakukan dengan cara overlay peta bahaya dan peta kerentanan banjir. Perangkat lunak ArcView 3.3 dengan ekstensi HEC-GeoRAS mampu untuk melakukan pemodelan banjir dengan tingkat validasi yang tinggi. Validasi dilakukan dengan membandingkan kedalaman maksimum hasil pemodelan dengan hasil perhitungan debit puncak rancangan. Nilai  perbedaan antara 0,68% - 4,54%. Meskipun secara kuantitatif peta model bahaya banjir rancangan sesudah pelurusan lebih luas daripada sebelum pelurusan, tetapi berdasarkan uji statistik penambahan luas tersebut tidak berbeda signifikan. Dari peta tingkat risiko banjir diketahui Kelurahan Sewu, Semanggi, Sangkrah dan Gandekan mempunyai potensi risiko banjir tertinggi di Kota Surakarta. ABSTRACT This research is intended to perform flood modelling in Bengawan Solo River in order to develop flood hazard map, flood vulnerability map, and flood risk map as a result of overflow of such river in Surakarta City. The research area covers cut-off channel of Bengawan Solo in Surakarta City. The research was conducted by applying hydrograph analysis, flood modelling, flood hazard analysis, flood susceptibility analysis, and flood risk analysis. Hydrograph analysis was executed by calculating peak discharge designed, analysis of river geometric, and analysis of flood characteristic. Flood spatial modelling was done by means of ArcView with HEC-GeoRAS extention and hydrological software HEC-RAS. Flood hazard analysis was obtained by spatial modelling of flood inundation map with returned period of peak discharge designed of 60. Flood vulnerability analysis was derived from land use map used to identify risk element which exists in prone area. Flood risk analysis was carried out by overlying flood hazard map and flood susceptibility map. ArcView with HEC-GeoRAS extention and HEC-RAS was able to perform high validation of flood modelling. The validation was done by comparing maximum depth of the model and estimated peak discharge with different percentage 0.86% – 4.54%. Even the estimated flood hazard after river streamlining was wider than before, statistical analysis proves that different width of it was not significance. It means of river streamlining didn’t influence the wide of flood hazard area. Sewu, Semanggi, Sangkrah,and Gandekan Sub District has the highest risk of flood in Surakarta City.
Kajian Luas Hutan Kota Berdasarkan Kebutuhan Oksigen, Karbon Tersimpan, dan Kebutuhan Air di Kota Yogyakarta Susanto, Kelik Eko; Mardiatno, Djati
Majalah Geografi Indonesia Vol 24, No 2 (2010): September 2010
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1292.475 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13348

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan: a) memperkirakan kenaikan muka laut dan daerah dampak penggenangannya, b) menghitung kerentanan pesisir yang didasarkan pada kondisi fisik dan sosial-ekonomi, dan c) memperkirakan tingkat risiko peng­ge­nangan  yang didasarkan pada kerentanan pesisir dan tingkat pengge­nangan, dan memperkirakan infrastruktur yang berada pada daerah pengge­na­ngan. Penelitian ini difokuskan pada skenario kenaikan muka laut yang di­tu­runkan dari data pasang surut pelabuhan Tanjung Mas Semarang, stasiun pasang surut terdekat dengan perairan Demak. Komponen pasang surut yang dibutuhkan dalam perhitungan kenaikan muka laut dihitung menggunakan metode British Admiralty. Daerah potensi genangan diturunkan dari titik tinggi Peta RBI meng­gunakan teknik interpolasi Spline with Barriers untuk menghasilkan model per­mukaan digital (DEM). DEM tersebut bermanfaat dalam membedakan posisi ke­ting­gian lahan dari rerata muka laut. Teknik Iterasi digunakan untuk menentukan daerah potensi genangan dengan memanfaatkan data DEM pada proses sebe­lumnya. Bersamaan dengan penentuan daerah genangan juga dihitung nilai ke­ren­tanan pesisir yang menunjuk pada kelemahan internal dari proses-proses eksternal yang merusak. Kerentanan tersebut diturunkan dari kerentanan fisik dan keren­tanan sosial-ekonomi. Interaksi antara tingkat kerentanan pesisir dan tingkat peng­ge­nangan akan menghasilkan tingkat risiko pesisir. Tingkat risiko tinggi di­hasilkan dari kerentanan tinggi dengan tingkat penggenangan yang juga tinggi. Se­baliknya, tingkat risiko rendah dihasilkan dari kerentanan rendah dengan tingkat penggenangan yang rendah pula.Seluruh proses mengindikasikan bahwa selama 1999-2009 pesisir Demak telah mengalami kenaikan sebesar 0.72 mm/tahun pada kenaikan muka laut statis dan 7,9 mm/tahun pada kenaikan muka laut relatif. Peningkatan muka laut tersebut menggenangi area seluas 26,83 km² di 8 desa pada kenaikan air 60,1 cm, 41,74 km² di 16 desa pada kenaikan air 82,8 cm dan 55,58 km² di 16 desa pada kenaikan 94,1 cm.  Berdasarkan skenario kenaikan muka laut tahun 2010-2050, ditemukan bah­wa jumlah desa dengan risiko tinggi semakin meningkat dari tahun ke tahun dalam setiap skenarionya. Hal yang sama juga dialami oleh infrastuktur yang terdapat di dataran rendah. Jumlah infrastruktur yang terkena dampak semakin meningkat dari tahun ke tahun dalam setiap skenario yang digunakan. ABSTRACT This study aims to: a) estimates of sea level rise and regional impacts penggenangannya, b) calculate the vulnerability of the coast which is based on the physical conditions and socio-economic, and c) estimate the level of risk that is based on the vulnerability of flooding and coastal inundation level, and estimate the infrastructure in the region of inundation.  This study focuses on sea level rise scenarios are derived from the tidal data port of Tanjung Mas Semarang, tidal station nearest to the waters of Demak. Tidal components required in the calculation of sea level rise calculated using the method of the British Admiralty. Potential inundation areas derived from the high point of RBI Map using Spline interpolation technique with Barriers to produce a digital surface model (DEM). DEM is useful in distinguishing the position of land from the mean height of sea surface. Iteration techniques are used to determine the potential inundation areas using DEM data on the previous process. Simultaneously with the determination of inundation areas also calculated the value of coastal vulnerability refers to the internal weakness of the external processes that damage. Vulnerability is derived from the physical vulnerability and socio-economic vulnerability. The interaction between level and level of vulnerability of coastal inundation will result in the level of coastal risk. High risk levels resulting from a high vulnerability to flooding are also high level. Conversely, low risk levels resulting from low susceptibility to low levels of water inundation as well. The whole process indicates that during 1999-2009 the coastal Demak has experienced an increase of 0.72 mm per year on static sea level rise and 7.9 mm / year in relative sea level rise. Increased sea level is flooded an area of 26.83 km² in eight villages on the water rise 60.1 cm, 41.74 km² in 16 villages on the water rise 82.8 cm and 55.58 km² in 16 villages on the rise of 94.1 cm . Based on the scenario of sea level rise in 2010-2050, found that the number of villages with high risk increasing from year to year in each scenario. The same was experienced by the infrastructure contained in the lowlands. The number of affected infrastructure increasing from year to year within each scenario that is used. 
Evaluasi Efektivitas Rencana Tata Ruang dalam Mengurangi Risiko Kekeringan di Kawasan Karst dengan Analisis Berbasis Sistem Informasi Geografis (Studi Kasus : Rencana Tata Ruang Kawasan Koridor Yogyakarta-Sadeng) Valeda, Hogy Prima; Setiawan, Bakti; Mardiatno, Djati
Majalah Geografi Indonesia Vol 30, No 1 (2016): Maret 2016
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3868.178 KB) | DOI: 10.22146/mgi.15616

Abstract

Tujuan utama penataan ruang di Indonesia adalah untuk mewujudkan ruang yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan. Implikasinya, semua rencana tata ruang di Indonesia harus dapat membawa masyarakat lebih aman dari bencana, yang berarti juga mengurangi risiko bencana. Rencana Tata Ruang Kawasan Koridor Yogyakarta-Sadeng adalah salah satu rencana tata ruang yang bertemakan pengembangan ekonomi. Dari temanya, rencana tersebut fokus pada tujuan produktivitas. Akan tetapi dari lokasinya, sebagian dari Kawasan KoridorYogyakarta-Sadeng merupakan kawasan karst yang sering terancam bencana kekeringan. Suatu kajian diperlukan untuk melihat apakah produk Rencana Tata Ruang Kawasan Koridor Yogyakarta-Sadeng juga telah memperhitungkan aspek keamanan dari bencana, khususnya bencana kekeringan. Penelitian dilakukan dengan membandingkan risiko bencana dari kondisi eksisting dengan risiko bencana yang muncul dari penerapan produk rencana. Metode yang dilakukan untuk menghitung risiko adalah dengan menghitung bahaya, kerentananm dan kapasitas baik pada kondisi eksisting maupun rencana. Penelitian ini juga melibatkan Sistem Informasi Geografis (SIG) sebagai alat utama. Hasil yang didapatkan adalah, apabila rencana sepenuhnya dilaksanakan, 66% wilayah studi akan mengalami penurunan risiko kekeringan, sementara itu 34% sisanya akan mengalami kenaikan risiko. Wilayah yang mengalami peningkatan risiko umumnya terletak pada kawasan yang direncanakan untuk dikembangkan dan kawasan sekitarnya. Peningkatan risiko yang terjadi pada wilayah tersebut berasal dari peningkatan kerentanan yang muncul dari rencana pengembangan. Hal yang dapat dipelajari dari penelitian ini adalah bahwa semua produk rencana tata ruang seharusnya mengantisipasi setiap dampak yang muncul dari rencana, khususnya dampak yang meningkatkan risiko bencana.
Pemetaan Risiko Tsunami terhadap Bangunan secara Kuantitatif Wibowo, Totok Wahyu; Mardiatno, Djati; Sunarto, Sunarto
Majalah Geografi Indonesia Vol 31, No 2 (2017): September 2017
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2786.581 KB) | DOI: 10.22146/mgi.28044

Abstract

ABSTRAK Tsunami merupakan bencana alam yang sebagian besar kejadiannya dipicu oleh gempabumi dasar laut. Dampak kerugian tsunami terhadap lingkungan pesisir antara lain rusaknya properti, struktur bangunan, infrastruktur dan dapat mengakibatkan gangguan ekonomi. Bencana tsunami memiliki keunikan dibandingkan bencana lainnya, karena memiliki kemungkinan sangat kecil tetapi dengan ancaman yang tinggi. Paradigma Pengurangan Risiko Bencana (PRB) yang berkembang dalam beberapa tahun terakhir yang menekankan bahwa risiko merupakan hal utama dalam penentuan strategi terhadap bencana. Kelurahan Ploso, merupakan salah satu lokasi di Kabupaten Pacitan yang berpotensi terkena bencana tsunami. Pemetaan risiko bangunan dilakukan dengan metode kuantitatif, yang mana disusun atas peta kerentanan dan peta harga bangunan. Papathoma Tsunami Vulnerability 3 (PTVA-3) diadopsi untuk pemetaan kerentanan. Data harga bangunan diperoleh dari kombinasi kerja lapangan dan analisis Sistem Informasi Geografis (SIG). Hasil pemetaan risiko menunjukkan bahwa Lingkungan Barehan memiliki risiko kerugian paling tinggi diantara semua lingkungan di Kelurahan Ploso. Hasil ini dapat dijadikan sebagai acuan untuk penentuan strategi pengurangan risiko bencana di Kelurahan Ploso.ABSTRACT Tsunami is a natural disaster whose occurrences are mostly triggered by submarine earthquakes. The impact of tsunami on coastal environment includes damages to properties, building structures, and infrastructures as well as economic disruptions. Compared to other disasters, tsunamis are deemed unique because they have a very small occurrence probability but with a very high threat. The paradigm of Disaster Risk Reduction (DRR) that has developed in the last few years stresses risk as the primary factor to determine disaster strategies. Ploso Sub-district, an area in Pacitan Regency, is potentially affected by tsunamis. The risk mapping of the buildings in this sub-district was created using a quantitative method based on maps of vulnerability and building’s cost. This research used Papathoma Tsunami Vulnerability 3 (PTVA-3) for vulnerability mapping. The cost of the buildings was obtained from a combination of fieldwork and Geographic Information System (GIS). The results of risk mapping showed that the Barehan Environment had the highest risk of loss among the other environments in Ploso Sub-district. These findings, thereby, can be used as a reference for determining DRR strategy in Ploso Sub-district.