Lina Mariantika
Brawijaya University

Published : 3 Documents
Articles

Found 3 Documents
Search

Perubahan Struktur Komunitas Makroinvertebrata Bentos Akibat Aktivitas Manusia di Saluran Mata Air Sumber Awan Kecamatan Singosari Kabupaten Malang Mariantika, Lina; Retnaningdyah, Catur
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 2, No 5 (2014)
Publisher : Biotropika: Journal of Tropical Biology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (378.922 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan struktur komunitas makroinvertebrata bentos dan kualitas air di saluran mata air Sumber Awan berdasarkan indeks biotik. Makroinvertebrata bentos diambil di tujuh titik pengambilan sampel masing-masing sebanyak ±100 individu, lalu diidentifikasi, dicari struktur komunitas dan nilai indeks HBI, FBI dan ASPT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur komunitas makroinvertebrata bentos pada stasiun dua hingga lima didominasi oleh jenis yang intoleran terhadap pencemaran yakni Hydropsychidae dan Lepidostomatidae, stasiun satu dan enam didominasi oleh jenis fakultatif yakni Thiaridae, dan stasiun tujuh didominasi oleh cacing Oligochaeta dan Chironomidae yang toleran terhadap pencemaran. Berdasarkan nilai FBI dan H, stasiun satu hingga enam digolongkan memiliki kualitas air sedang dan belum tercemar (nilai FBI 5,16-5,57 dan H 2,05-2,77), sedangkan stasiun tujuh digolongkan memiliki kualitas air yang sangat buruk dan tercemar (nilai FBI 7,63 dan H 1,72). Berdasarkan nilai HBI dan ASPT, stasiun satu hingga lima digolongkan memiliki kualitas air bagus/air bersih (nilai HBI 4,89-5,27 dan ASPT 7,45-6,27), stasiun enam digolongkan memiliki kualitas air sedang/tercemar sedang (nilai HBI 5,56 dan ASPT 6), dan stasiun tujuh digolongkan memiliki kualitas air buruk/tercemar berat (nilai HBI 7,60, dan ASPT 4). Berdasarkan hasil tersebut disimpulkan bahwa semakin ke hilir telah terjadi gradasi penurunan kualitas air pada saluran air hingga ±800 m dari mata air Sumber Awan karena pencemaran bahan organik dari aktivitas manusia di sekitarnya yakni MCK, residu pertanian dan peternakan.Kata kunci: indeks biotik, kualitas air, makroinvertebrata bentos, Sumber Awan
PERUBAHAN STRUKTUR KOMUNITAS MAKROINVERTEBRATA BENTOS AKIBAT AKTIVITAS MANUSIA DI SALURAN MATA AIR SUMBER AWAN KECAMATAN SINGOSARI KABUPATEN MALANG Mariantika, Lina; Retnaningdyah, Catur
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 2, No 5 (2014)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan struktur komunitas makroinvertebrata bentos dan kualitas air di saluran mata air Sumber Awan berdasarkan indeks biotik. Makroinvertebrata bentos diambil di tujuh titik pengambilan sampel masing-masing sebanyak ±100 individu, lalu diidentifikasi, dicari struktur komunitas dan nilai indeks HBI, FBI dan ASPT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur komunitas makroinvertebrata bentos pada stasiun dua hingga lima didominasi oleh jenis yang intoleran terhadap pencemaran yakni Hydropsychidae dan Lepidostomatidae, stasiun satu dan enam didominasi oleh jenis fakultatif yakni Thiaridae, dan stasiun tujuh didominasi oleh cacing Oligochaeta dan Chironomidae yang toleran terhadap pencemaran. Berdasarkan nilai FBI dan H, stasiun satu hingga enam digolongkan memiliki kualitas air sedang dan belum tercemar (nilai FBI 5,16-5,57 dan H 2,05-2,77), sedangkan stasiun tujuh digolongkan memiliki kualitas air yang sangat buruk dan tercemar (nilai FBI 7,63 dan H 1,72). Berdasarkan nilai HBI dan ASPT, stasiun satu hingga lima digolongkan memiliki kualitas air bagus/air bersih (nilai HBI 4,89-5,27 dan ASPT 7,45-6,27), stasiun enam digolongkan memiliki kualitas air sedang/tercemar sedang (nilai HBI 5,56 dan ASPT 6), dan stasiun tujuh digolongkan memiliki kualitas air buruk/tercemar berat (nilai HBI 7,60, dan ASPT 4). Berdasarkan hasil tersebut disimpulkan bahwa semakin ke hilir telah terjadi gradasi penurunan kualitas air pada saluran air hingga ±800 m dari mata air Sumber Awan karena pencemaran bahan organik dari aktivitas manusia di sekitarnya yakni MCK, residu pertanian dan peternakan.Kata kunci: indeks biotik, kualitas air, makroinvertebrata bentos, Sumber Awan
AGROECOSYSTEM DEGRADATION EVALUATION OF BROCCOLI (BRASSICA OLERACEA) FARM USING SOME BIOTIC INDICES IN BATU, EAST JAVA, INDONESIA Mariantika, Lina; Retnaningdyah, Catur; Arisoesilaningsih, Endang
Indonesian Journal of Environment and Sustainable Development Vol 10, No 1 (2019)
Publisher : Graduate Program

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jpal.2019.010.01.07

Abstract

The aim of this study was to evaluate the degradation of broccoli agroecosystem in Batu caused by a longterm of intensive farming and of synthetic chemical exposure using some biotic indices. Evaluation covered on quality of habitat, biodiversity, and environmental services in three organic and intensive farm, each Batu, Bumiaji, and Junrejo Regencies, using five repetitions in each location. Habitat quality was evaluated by measuring the soil organic matter, water irrigation and soil suspension pH, electric conductivity, and water turbidity in situ. Biodiversity quality was evaluated by determining the score of Importance Value Index (IVI), Shannon-Wiener Diversity Index (H?) and Margalef?s Richness Index (R) soil fauna using handsorting within the area of l m2, as well as refugial vegetation. Environmental service quality was evaluated by scoring using the Ecosystem Integrated Assessment (EIA). The data were analyzed statistically using Principal Component Analysis (PCA). The result showed that soil organic matter and pH were obviously higher, while the irrigation water was less turbid in organic farming rather than the intensive one. Furthermore, the H? and R indices proved that biodiversity quality in organic farming field was higher (H? score 1.4-1.9 and R 3.5-4.0) comparing to those of intensive farming (H? score 0.6-0.9 and R 1.2-1.6). Whereas, the ecosystem service based on EIA index revealed that the organic agroecosystem showed a fair to good quality with the score 3.0-4.3. It was higher than those of intensive farming which was classified as poor to fair with the score 1.7-2.8. Therefore, the organic broccoli agroecosystem in Batu provided a better habitat for biodiversity conservation and greater the environmental service as a sustainable farming system.Key words: Agroecosystem, Biodiversity, Ecological services, Intensive, Organic