Martarosa Martarosa
Unknown Affiliation

Published : 5 Documents
Articles

Found 5 Documents
Search

Apropriasi Musikal dan Estetika Musik Gamat Martarosa, Martarosa
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 17, No 1 (2016): April 2016
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v17i1.1687

Abstract

Penelitian ini membahas cara orang Pesisir Minangkabau mengimbuhkan atau mencangkokkan beberapa genre musik tradisional Pesisir Minangkabau hingga genre musik ini menjadi semakin kuat diakui sebagai musik mereka. Penelitian difokuskan pada perubahan dan estetika. Secara musikologis data dipisahkan menjadi dua aspek yaitu aspek musikal dan aspek sosial atau tekstual dan kontekstual. Secara tekstual data dianalisis berdasarkan konsep estetika yang meliputi harmoni dan  orkestrasi yang menyangkut penyajian formasi instrumen. Konsep ini dapat digunakan untuk melihat bentuk-bentuk apropriasi musikal yang terjadi pada musik gamat sebagai kajian analisis dalam bentuk dan struktur, vibrato dan ornamentasi melalui teknik penyajian  garitiak dan gayo. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa proses interaksi dan cara kepemilikan atau apropriasi terhadap musik gamat oleh orang-orang Minangkabau diduga terjadi melalui penawaran-penawaran pada sisi musikal antar budaya timbal balik.
THE HISTORY AND DEVELOPMENT OF GAMAT MUSIC AS A PROTOTYPE OF BANDAR ART IN THE WEST SUMATERA COASTAL AREA (PESISIR) Martarosa, Martarosa
Jurnal Humaniora Vol 28, No 1 (2016)
Publisher : Faculty of Cultural Science Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1026.901 KB) | DOI: 10.22146/jh.11503

Abstract

At the end of the 19th century and the beginning of 20th century, the city of Padang has been dubbed the metropolis of the island of Sumatera. This is because the population of the Europeans who live there is relatively higher than other cities in Sumatera. An influence of this condition appears to be the phenomenon of Western-style music which was introduced to the indigenous peoples (Bandar natives). The appropriation of this musical style from various cultures such as of Portuguese (European), Malay and Minangkabau eventually became known as Gamat. Nowadays, the well-known Gamat is part of the identity of the culture, especially for Minangkabau in the West Sumatera coastal area.
TERBANG KENCER IN DIGITAL MUSIC Munjazi, Achmad Ibnu; Martarosa, Martarosa; Nurkholis, Nurkholis
Laga-Laga : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 4, No 1 (2018): Laga-Laga: Jurnal Seni Pertunjukan
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (293.816 KB) | DOI: 10.26887/lg.v4i1.443

Abstract

Terbang kencer adalah kesenian musik tradisional yang berasal dari Jawa Tengah. Komponen penyusun Terbang Kencer terdiri dari Guru (Vokal/Penyair) dan alat musik perkusif yang berjumlah sembilan buah. Mereka Terdiri dari dua buah Terbang, empat buah Kencer, dua buah Kempling, dan satu buah Induk. Syair yang ada pada  Terbang kencer memiliki banyak jenis. Jenis Syair yang digunakan pada karya ini adalah Syair Sholawat  yang diambil dari Kitab Barzanji. Terbang kencer In Digital Music adalah sebuah karya yang mewujudkan permainan terbang kencer kedalam bentuk digital dan menerapkan rasa permainannya kedalam Musik elektronik dengan jenis House Music. Beberapa teknik Audio Digitalization yang digunakan antara lain Audio Sampling, Audio Variaton, dan Virtual Studio Instrumnetation. Karya ini dituangkan dalam dua bagian. Bagian pertama merupakan perwujudan bentuk Terbang kencer dalam bentuk MIDI Instrument. Bagian Kedua merupakan penuangan rasa permainan Terbang Kencer ke jenis House Music.  
Musik Bandar Dalam Perspektif Seni Budaya Nusantara Martarosa, Martarosa
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 18, No 1 (2017): April 2017
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v18i1.2444

Abstract

Musik bandar merupakan salah satu jenis musik yang dikategorikan sebagai hasil dari proses apropriasi musical, yaitu penyesuaian dan penerimaan antara budaya yang datang dengan budaya lokal. Artikel ini bertujuan untuk memaparkan proses pembentukan musik bandar dalam aspek-aspek apropriasi musikal. Dalam hal ini kehadiran musik bandar diwujudkan dari sebuah peradaban pluralistis yaitu, proses penyebaran dan interaksi dari berbagai unsur dapat diterima dan dimasukkan ke dalam proses pembentukan budaya. Jenis musik bandar tersebut meliputi: musik gamat, musik ronggeng, musik ghazal, musik dondang sayang, musik keroncong, dan musik gambang kromong.
Kesenian Ronggeng Pasaman Dalam Perspektif Kreativitas Apropriasi Musikal Martarosa, Martarosa; Yakin, Imal; Fernando, Kurniawan
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 34 No 1 (2019): Februari
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v34i1.642

Abstract

Tumbuh dan berkembangnya kesenian Ronggeng Pasaman tidak luput dari dampak interaksi secara multikultur antara musik Barat (Portugis dan Belanda) dan musik Timur (Arab, India, Melayu, Minangkabau,  Mandailling dan Jawa imigran). Hal ini terkait dengan isu identitas, migrasi (diaspora), dan bentuk apropriasi musikal. Fenomena yang muncul diisukan bahwa, kesenian Ronggeng yang berkembang dalam budaya masyarakat Pasaman saat ini, mereka yakin bahwa kesenian tersebut adalah didatangkan dari Jawa imigran. Namun secara musikal dijumpai bahwa, bentuk seni pertunjukan kesenian ronngeng pasaman yang berkembang, sangat jauh berbeda dengan bentuk seni pertunjukan Ronggeng yang berkembang di daerah Jawa. Ditinjau dari ciri-khasnya kesenian ronggeng teramati bahwa, bentuk seni pertunjukannya banyak kemiripannya dengan aspek musikal yang terkandung diluar ranah budaya masyarakat Pasaman seperti, dijumpai dalam pemakaian alat musik, sistem nada dan penggunaan teknik dalam permainan alat musik tradisi masyarakat Pesisir Sumatera Barat yang disebut garitiak dan gayo atau ornamentasi yang terkandung dalam kesenian rabab pasisie dan musik gamat. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah dibawah payung disiplin musikologi dengan menggunakan metode deskriptif analisis dan interpretatif yang terdiri dari dua aspek (tekstual dan kontekstual). Hasil akhir dari penelitian ini ditemukan bahwa,  tumbuh dan berkembangnya tradisi kesenian Ronggeng Pasaman disamping menggunakan alat musik biola Eropa (Barat) juga dapat dikatakan sebagai salah satu hasil produk budaya apropriasi musikal antara Barat (Portugis dan Belanda) dan Timur (Arab, India, Melayu, Minangkabau,  Mandailling dan Jawa imigran).