Eni Masruriati
T.N. Saifullah S, Elok Syarifah, Eni Masruriati

Published : 15 Documents
Articles

Found 15 Documents
Search

RENDEMEN KITOSAN LIMBAH CANGKANG KERANG SIMPING (AMUSIUM PLEURONECTES) DAN KERANG KEPAH (POLYMESODA EROSA) DARI KENDAL JAWA TENGAH Ariyanti, Ariyanti; Masruriati, Eni; Nuari, Arin Widya; Syahputra, M. Himawan Yoga
Jurnal Ilmu Farmasi dan Farmasi Klinik Jurnal Ilmu Farmasi & farmasi Klinik Vol 16 No 1 Juni 2019
Publisher : Universitas Wahid Hasyim Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/jiffk.v16i01.2931

Abstract

ABSTRACTChitosan is the result of the deacetylation process of chitin by removing acetyl groups to obtain polymer compounds and glucosamine. Utilization of chitosan derived from waste of Amusium pleuronectes and Polymesoda erosa has not been maximize. This study aims to determine the highest chitosan yield in Amusium pleuronectes and Polymesoda erosa. The method used in this study was a deacetylation isolation method with five replications. The yield of the yield content was analyzed by univariate and bivariate with spps 19.0 using a ttest. Based on the results of the research on the sample of Amusium pleuronectes and Polymesoda erosa, the highest yield of chitosan at 75% b/v concentration of NaOH was 6,972% b/v for Amusium pleuronectes and 5.972% b/v for Polymesoda erosa. The results showed that NaOH concentrations of 15v, 25, 50, and 75% b/v could affect the chitin change to chitosan against Amusium pleuronectes and Polymesoda erosa.Keywords: Amusium pleuronectes, Polymesoda erosa, deacetylation, chitin, chitosan
Perbandingan Mutu Ekstrak Daun Dan Kulit Batang Tanaman Kelor(Moringa Oleifera)Dari Langenharjo Kendal Ariyanti, Ariyanti; Masruriati, Eni; Angellia, Rhyra
Cendekia Journal of Pharmacy Vol 3, No 1 (2019): Cendekia Journal of Pharmacy
Publisher : STIKES Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.263 KB) | DOI: 10.31596/cjp.v3i1.40

Abstract

Pendahuluan: Tanaman obat bahan alam di Indonesia telah semakin banyak dimanfaatkan menjadijamu, obat herbal terstandar danfitofarmaka. Daundankulitbatangtanamankelor (Moringa oleifera)memiliki senyawa flavonoid, saponin, tannin. Pada penelitian ini dilakukan standarisasi mutu terhadap simplisia daundankulit batangtanamankelordaridaerahLangenharjo Kendal.Metode: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui mutu simplisia kulit daunkelor dariLangenharjo Kendal. Langkahawaldaripenelitianiniadalahdengan mengekstrak serbuk daundankulitbatangtanamankelor dengan pelarut etanol 96% dengan metode maserasi.Pengujian yang dilakukanadalah uji skrining fitokimia, parameter senyawa terlarut.Hasil: Hasil uji skrining fitokimia pada ekstrak etanol daundankulitbatangtanamankelor menunjukkan adanya senyawa flavonoid, saponin dan tanin. Hasil uji kelarutan dalam air ekstrak etanol dauntanamankelor dengan rata-rata 8,58% dan kulitbatangtanamankelor 8,89%. Hasil uji kelarutan dalam etanol ekstrak daundankulitbatangtanamankelor dari Kendal dengan rata-rata 18,96% dan 22,92%.
OPTIMASI SETIL ALKOHOL DAN TWEEN 80 DALAM KRIM MINYAK ATSIRI DAUN CENGKEH (EUGENIA CARYOPHYLLATA) TERHADAP AKTIVITAS ANTIBAKTERI Masruriati, Eni
Jurnal Farmasetis Vol 3 No 2 (2014): November
Publisher : LPPM STIKES KENDAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.78 KB) | DOI: 10.32583/farmasetis.v3i2.294

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Kandungan utama dari minyak atsiri daun cengkeh (Eugenia caryophyllata) adalah eugenol, dimana senyawa tersebut berfungsi sebagai antibakteri. Penggunaan minyak atsiri daun cengkeh secara langsung pada kulit menimbulkan ketidaknyaman sehingga pada diformulasikan ke dalam bentuk krim. Formulasi krim minyak atsiri daun cengkeh dibuat dengan menambahkan setil alkohol sebagai emulgator dan tween 80 sebagai solubilizing agent. Metode: Tujuan penelitian ini adalah  untuk mengetahui pengaruh  dari  masing-masing komponen    setil  alkohol,  tween  80,  dan kombinasi setil alkohol dengan tween 80 pada karakteristik fisik dan aktivitas antibakteri. Selain itu, dicari formula yang menghasilkan krim dengan karakteristik fisik dan aktivitas antibakteri yang optimum. Berdasarkan persamaan simplex lattice design dapat diketahui pengaruh masing-masing komponen dan interaksi kedua komponen. Setil alkohol dan tween 80 akan meningkatkan respons viskositas, aktivitas antibakteri dan daya sebar. Interaksi keduanya akan meningkatkan respons viskositas  serta  menurunkan  daya  sebar  dan  aktivitas  antibakteri.    Hasil:  Berdasarkan  program optimasi Design Expert 7.1.5 diperoleh formula optimum dengan komposisi setil alkohol 
PERBANDINGAN KARAKTERISTIK FISIK DAN KADAR ZAT AKTIF NATRIUM DIKLOFENAK PADA TABLET GENERIK DAN TABLET DENGAN NAMA DAGANG Masruriati, Eni
Jurnal Farmasetis Vol 2 No 2 (2013): November
Publisher : LPPM STIKES KENDAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (310.278 KB) | DOI: 10.32583/farmasetis.v2i2.198

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan : Pabrik farmasi memproduksi dua jenis obat yaitu obat generik dan obat paten. Banyak masyarakat masih menganggap bahwa obat yang bermutu adalah obat yang harganya mahal dan kemasannya bagus. Oleh karena itu masyarakat perlu diberi informasi yang tepat mengenai obat generik. Natrium diklofenak banyak digunakan oleh masyarakat dapat sebagai obat nyeri dan radang pada penyakit rematik. Metode: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik fisik dan kadar  tablet natrium diklofenak generik dan tablet natrium diklofenak paten. Pemeriksaan karakteristik fisik meliputi uji organoleptis, keseragaman bobot, kekerasan, kerapuhan dan waktu hancur tablet. Metode yang digunakan untuk mengetahui kadar zat aktif tablet natrium diklofenak dengan menggunakan metode spektrofotometri pada panjang gelombang 277,5 nm. Hasil: Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa rerata bobot tablet natrium diklofenak generik 184,65 mg dan paten 169,36 mg. Kekerasan tablet generik 11,58 kg dan paten 12,02 kg. Kerapuhan tablet generik 0,15% dan paten 0,04%. Waktu hancur tablet generik 159,64 menit dan paten150,79 menit. Kadar tablet generik 95,53%, tablet paten 103,83%. Data yang diperoleh dari hasil penelitian kemudian di uji statistika dengan SPSS. Berdasarkan uji keseragaman bobot, waktu hancur dan kadar antara tablet natrium diklofenak generik dan paten dapat disimpulkan berbeda signifikan. Sedangkan untuk uji kekerasan dan kerapuhan keduanya berbeda tetapi tidak signifikan.   Kata kunci: natrium diklofenak, karakteristik fisik, kadar, generik, paten.   ABSTRACT Introduction:. The pharmaceutical factory produces two types of drugs namely generic drugs and patent drugs. Many people still consider that a quality drug is a drug that is expensive and good packaging. Therefore, the public needs to be given the right information about generic drugs. Sodium diplofenac is widely used by the public as a pain and inflammatory medicine in rheumatic diseases. Metode: This study aims to determine the physical characteristics and content of generic diclofenac sodium tablets and diclofenac sodium sodium tablets. Examination of physical characteristics include organoleptic test, weight uniformity, hardness, fragility and tablet disintegration time. The method used to determine the active substance of diclofenac sodium tablets by using spectrophotometric method at wavelength 277,5 nm. Result: Based on the research that has been done can be seen that the average weight of generic diclofenak sodium tablet 184,65 mg and patent 169,36 mg. The hardness of the generic tablet is 11.58 kg and the patent is 12.02 kg. The fragility of generic tablets is 0.15% and patents are 0.04%. Time crashed generic tablet 159.64 minutes and patent150,79 minutes. 95.53% generic tablets, patent tablets 103.83%. Data obtained from the results of research then in statistical tests with SPSS. Based on the weight uniformity test, the crushed time and the content between the generic diclofenac sodium tablet and the patent can be inferred significantly different. As for the hardness and fragility test both are different but not significant.   Keywords:  Curcuma aeroginosa Roxb., Toxicity, antifeedant.
PENGARUH KONSENTRASI TWEEN 80 SEBAGAI EMULGATOR PADA KARAKTERISTIK KRIM MINYAK ATSIRI DAUN CENGKEH Masruriati, Eni
Jurnal Farmasetis Vol 3 No 1 (2014): Mei
Publisher : LPPM STIKES KENDAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.634 KB) | DOI: 10.32583/farmasetis.v3i1.205

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Salah satu tanaman yang berpotensi sebagai bahan obat dan sering digunakan oleh masyarakat di indonesia adalah temu hitam (Curcuma Aeruginosa Roxb.).Temu hitam merupakan tanaman yang dapat mengobati berbagai macam penyakit diantaranya adalah gangguan pernafasan dan gangguan pencernaan. Metode:Tujuan penelitian ini untuk mengeetahui toksisitas dan antimakan dari rimpang temu hitam. Penelitian ini diawali dengan mengekstrak serbuk rimpang temu hitam menggunakan tiga pelarut, yaitu n-heksana, kloroform, dan metanol. Uji fitokimia pada ekstrak kasar rimpang temu hitam menunjukkan adanya senyawa flavonoid, saponin, tanin, dan terpenoid. Ekstrak metanol difraksinasi menggunakan kromatografi kolom, dengan fase diam silika gel dan fase gerak n-heksana-kloroform-metanol dengan metode step gradient (peningkatan kepolaran). Hasil: Hasil uji toksisitas ekstrak kasar rimpang temu hitam terhadap larva udang menunjukkan nilai LC50 dari ekstrak n-heksana-kloroform-metanol berturut-turut sebesar 153.391 ppm, 132.770 ppm, 107.473 ppm, maka dapat dikatakan bahwa semua ekstrak rimpang temu hitam bersifat toksik karena dapat mematikan larva 50% pada konsentrasi kurang dari 1000 ppm. Hasil uji aktivitas antimakan ekstrak temu hitam terhadap larva C. pavonana menunjukkan bahwa ketiga ekstrak temu hitam pada konsentrasi 10 ppm dan 100 ppm tidak memiliki aktivitas antimakan.   Kata kunci : Curcuma Aeroginosa Roxb, Toksisitas, Antimakan.   ABSTRACT Introduction: One of the plants potential as a drug ingredient and often used by people in Indonesia is temu hitam (Curcuma aeruginosa Roxb.).  The purpose of this study to determine the toxicity and antifeedant from the rhizome of temu hitam. Methods: Research was initiated with powdered rhizome extract of temu hitam using three solvents, namely n-hexane, chloroform, and methanol. Phytochemicals assay in the crude extract of rhizome of temu hitam showed flavonoids, saponins, tannins, and terpenoids. Methanol extract was fractionated using silica gel column chromatography and mobile phase n-hexane-chloroform-methanol step gradient method (increasing polarity). Results: The toxicity assay of n-hexane, chlorofrom and methanol extract on shrimp larvae showed values of LC50 ?? about 153.39 ppm, 132.77 ppm, 107.47 ppm, respectively. Therefore it can be concluded that all rhizome extracts of temu hitam was toxic because it can kill the 50% of  larvae at concentrations of less than 1000 ppm. Antifeedant activity of temu hitam extracts against C. pavonana showed that the three extracts of temu hitam at a concentration of 10 ppm and 100 ppm had no antifeedant activity.   Keywords:  Curcuma aeroginosa Roxb., Toxicity, antifeedant.
FORMULASI PEKTIN BUAH JERUK BALI ( CITRUS MAXIMA MERR.) PADA TABLET MUCOADHESIVE TEOFILIN Masruriati, Eni; Ariyanti, Ariyanti
Jurnal Farmasetis Vol 5 No 1 (2016): Mei
Publisher : LPPM STIKES KENDAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (353.522 KB) | DOI: 10.32583/farmasetis.v5i1.250

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Pektin pada tanaman banyak terdapat pada lapisan kulit pada buah. Salah satu sumber pektin yang belum banyak diketahui orang adalah kulit buah jeruk bali. Bagian dari kulit buah jeruk bali yang mengandung pektin disebut albedo yaitu lapisan yang berwarna putih bersih. Teofilin dipilih karena indeks terapi yang sempit dan frekuensi pemberian yang terlalu sering ( umumnya setiap 4 ? 6 jam secara oral ).  Metode:Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh masing-masing polimer pektin albedo buah jeruk bali dan HPMC K15M pada karakteristik fisik dan kadar terdisolusi tablet mucoadhesive teofilin. Menentukan formula optimum tablet mucoadhesive teofilin dengan menggunakan polimer pektin albedo buah jeruk bali dan HPMC K15M. Penelitian ini diawali dengan pembuatan pektin albedo buah jeruk bali dan dibuat formulasi. Setelah itu pembuatan tablet mucoadhesive teofilin dan dibuat kurva baku. Hasil: Pengaruh masing-masing komponen pektin albedo buah jeruk bali, HPMC K15M, dan interaksi kedua komponen pada tablet mucoadhesive teofilin menunjukkan: Pektin albedo buah jeruk bali meningkatkan nilai kecepatan alir, kekerasan, kerapuhan, daya swelling, daya mucoadhesive, dan kadar terdisolusi (C360). Pektin albedo buah jeruk bali lebih dominan berpengaruh pada kerapuhan dan kadar terdisolusi tablet (C360). HPMC K15M meningkatkan nilai kecepatan alir, kekerasan, kerapuhan, daya swelling, daya mucoadhesive, dan kadar terdisolusi (C360). HPMC K15M lebih dominan berpengaruh pada kecepatan alir dan kekerasan. Interaksi antara pektin albedo buah jeruk bali dan HPMC K15M dapat menurunkan kecepatan alir dan kerapuhan serta meningkatkan kekerasan, daya swelling, daya mucoadhesive, dan kadar terdisolusi (C360). Interaksi antara pektin albedo buah jeruk bali dan HPMC K15M dominan berpengaruh pada daya swelling dan daya mucoadhesive. Formula optimum tablet mucoadhesive teofilin dengan kombinasi komponen bahan HPMC K15M dan pektin albedo buah jeruk bali adalah pada perbandingan 0,450 : 0,550 ; dengan nilai kecepatan alir 9,9942 gram/detik, kekerasan 7,85 kg, kerapuhan 0,31%, daya swelling 25,51, daya mucoadhesive 0,0674 serta kadar terdisolusi (C360) 98,39%. Dari pengujian one sample t-test antara hasil teoretis dan praktik tidak terdapat perbedaan yang signifikan, sehingga persamaan simplex lattice design pada optimasi pektin albedo buah jeruk bali dan HPMC K15M adalah valid.   Kata kunci : Formulasi pektin, Buah jeruk bali, tablet teofilin   ABSTRACT Introduction: Pectin in plants is mostly found in the skin layer on the fruit. One of the most unknown sources of pectin is the peel of the grapefruit. Part of the skin of grapefruit fruit containing pectin called albedo is a clean white layer. Theophylline is selected because of its narrow therapeutic index and frequent administration frequency (usually every 4-6 hours orally). Methods: The purpose of this study was to determine the effect of each pectin albedo citrus citrus and HPMC K15M polymer on physical characteristics and dissolved content of theophylline mucoadhesive tablets. Determine the optimum formula of theophylline mucoadhesive tablet by using pectin albedo pomelo and HPMC K15M polymer. This study begins with making pectin albedo citrus fruits and made formulations. After that the making of theophylline mucoadhesive tablet and made raw curve. Results: The effect of each component of albedo pectin of grapefruit, HPMC K15M, and interaction of both components in theophylline mucoadhesive tablet showed: albedo pectin grapefruit increased the value of flow rate, hardness, brittleness, swelling power, mucoadhesive power, and dissolution rate ( C360). Pectin albedo grapefruit fruit more dominant effect on the fragility and content of tablets (C360). HPMC K15M increases the value of flow velocity, hardness, brittleness, swelling power, mucoadhesive power, and discontinued levels (C360). HPMC K15M more dominant effect on flow rate and hardness. The interaction between pectin albedo citrus fruits and HPMC K15M can decrease the flow rate and brittleness and increase hardness, swelling power, mucoadhesive power, and discontinued levels (C360). The interaction between pectin albedo citrus fruits and HPMC K15M predominantly influences the power of swelling and mucoadhesive power. The optimum formula of theophylline mucoadhesive tablets with combination of HPMC K15M material component and albedo pectin of grapefruit fruit is in the ratio of 0.450: 0.550; with a flow rate of 9.9942 grams / second, hardness 7.85 kg, brittleness 0.31%, swelling power 25.51, 0.0674 mucoadhesive power and discolored (C360) 98.39%. From the test of one sample t-test between the theoretical results and the practice there is no significant difference, so the simplex lattice design equation on optimization pectin albedo citrus fruits and HPMC K15M is valid.   Keywords: pectin formulation, grapefruit, theophylline tablet
PERBEDAAN KADAR KAFEIN PADA EKSTRAK BIJI, KULIT BUAH DAN DAUN KOPI (COFFEA ARABICA L.) DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS Dewi, Nuzul Valianti; Fajaryanti, Nita; Masruriati, Eni
Jurnal Farmasetis Vol 6 No 2 (2017): November
Publisher : LPPM STIKES KENDAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (578.064 KB) | DOI: 10.32583/farmasetis.v6i2.270

Abstract

ABSTRAK Biji, kulit buah dan daun kopi (Coffea arabica L.) memiliki kandungan kafein yang merupakan senyawa alkaloid turunan xantine (basa purin). Penelitian ini  bertujuan untuk mengetahui perbedaan kadar kafein pada ekstrak biji, kulit buah dan daun kopi dengan metode spektrofotometri UV-Vis. Metode ekstraksi yang digunakan dalam penelitian ini adalah ekstraksi sokletasi dengan pelarut etanol 96% dan metode yang digunakan untuk uji kadar kafein adalah metode spektrofotometri UV-Vis.Kadar kafein ekstrak biji, kulit buah dan daun kopi dianalisis secara statistik menggunakan uji post hoct LSD menunjukkan sampel ekstrak biji dengan kulit buah kopi tidak ada perbedaan kadar kafein (p> 0,05), sedangkan pada sampel ekstrak biji dengan daun kopi dan ekstrak kulit buah dengan daun kopi menunjukkan adanya perbedaan kadar kafein (p< 0,05). Kadar kafein tertinggi terdapat pada ekstrak daun kopi yaitu 3,28% b/b.   Kata kunci : Biji, kulit buah, daun kopi   DIFFERENCE BETWEEN KAFEIN ON SEED EXTRACT, LEATHER FRUIT AND COFFEE LEAVES (COFFEA ARABICA L.) WITH METHOD SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS   ABSTRACT Seeds, fruits and coffea leaves (Coffea arabica L.) contain caffeine which is an alkaloid compound of xanthine derivates (purine base). This study aims to determine differences in caffeine levels in seed extract, fruit skin and coffea leaves with spectrophotometry UV-Vis method. The extraction method used in this study was socletation extraction with  ethanol 96%solvent and the method used for caffeine grade assay was spectrophotometry UV-Vis method. Levels of caffeine seed extract, fruit skin and coffea leaves were analyzed statistically using post hoct LSD test showed a sample of seed extract with coffea pell no difference of caffeine content (p> 0,05), whereas in sample extract of seed with coffea leaves and skin extract fruit with coffea leaves showed a difference in caffeine levels (p< 0,05). The highest levels of caffeine found in coffea leaf extract is 3,28% w/w.   Keywords:  Seed, fruit skin and coffea leaves.
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI INFUSA DAN SIRUP DAUN RAMBUTAN (NEPHELIUMLAPPACEUM LINN) TERHADAP BAKTERI SALMONELLA TYPHI SECARA IN VITRO Jayanti, Desy Tri; Ariyanti, Ariyanti; Masruriati, Eni
Jurnal Farmasetis Vol 6 No 2 (2017): November
Publisher : LPPM STIKES KENDAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.937 KB) | DOI: 10.32583/farmasetis.v6i2.276

Abstract

ABSTRAK Daun rambutan memiliki efek antidiare karena mengandung senyawa tanin dan saponin yang digunakan mengatasi diare. Tanin memiliki rasa sepat dan mempunyai sifat adstrigen bekerja dengan jalan menciutkan selaput lendir usus. Saponin diketahui memiliki sifat antibakteri terhadap beberapa jenis bakteri seperti Salmonella typhi, yaitu bakteri yang menyerang gastointestinal, setelah tertelan Salmonella typhi timbul beberapa gejala salah satunya diare hebat dengan beberapa leukosit di dalam feses. Tujuan Penelitian untuk mengetahui efek antibakteri infusa dan sirup daun rambutan, serta untuk mengetahui besar zona serta perbedaan hambat dari infusa dan sirup daun rambutan terhadap bakteri Salmonella typhi secara in vitro. Penelitian eksperimental dengan  rancangan perbandingan kelompok statis (Static Group Comparison) dengan menambahkan kelompok kontrol. Sampel yang digunakan adalah daun rambutan segar sebanyak 10g kemudian di infusa dengan 100ml aquades sampai diperoleh volume infusa 100ml. Kemudian dibuat sediaan sirup lalu diujikan dengan metode cakram kertas dengan 5x replikasi. Ada efek antibakteri infusa daun rambutan (Nepheliumlappaceum L.) terhadap bakteri Salmonella typhi secara in vitro. Rata-rata nilai zona hambat infusa daun rambutan yaitu 4,34 mm, dan kontrol positif kloramfenikol 9,26 mm. Infusa daun rambutan (Nephelium lappaceum L.) mempunyai aktivitas antibakteri terhadap bakteri Salmonella typhi secara in vitro. Ada perbedaan zona hambat antara infusa dan sirup daun rambutan.   Kata kunci : Antibakteri, daun rambutan,salmonella typhi   THE FORMULATION OF EXTRACT ETHANOL OF BILIMBI FRUITS (AVERRHOA BILIMBI L) GEL HAND SANITIZER AS ANTIBACTERY TOWARDS STAPHYLOCOCCUS AERUS   ABSTRACT Rambutan leaves have antidiarrheal effects because they contain tannin and saponin compounds used to treat diarrhea. Tanin has a sense of sepat and has adstrigent properties work by shrinking the intestinal mucous membrane. Saponins are known to have antibacterial properties against several types of bacteria such as Salmonella typhi, which is a bacterium that attacks gastointestinal, after swallowing Salmonella typhi arise some of the symptoms one of them terrible diarrhea with some leukocytes in the feces. The purpose of this research is to know the antibacterial effect of infusa and rambutan leaf syrup, and to know the zone and the difference of inhibition of infusa and rambutan leaf syrup against Salmonella typhi bacteria in vitro. Experimental study with static group comparison design (Static Group Comparison) by adding control groups. The sample used is fresh rambutan leaf as much as 10g then in infusa with 100ml aquades until obtained 100ml infusa volume. Then made a syrup and then tested by paper disc method with 5x replication. There is antibacterial effect of rambutan leaf infoto (Nepheliumlappaceum L.) to Salmonella typhi bacteria in vitro. The mean inhibition zone of rambutan leaf zone is 4.34 mm, and a positive control of chloramphenicol 9.26 mm. Rambutan leaf infusa (Nephelium lappaceum L.) has antibacterial activity against Salmonella typhi bacteria in vitro. There is a difference of inhibition zone between infusa and rambutan leaf syrup.   Keywords:  Antibacterial, leaves rambutan, salmonella typhi  
FORMULASI PEG 400 – TWEEN80 DALAM SEDIAAN KRIM MINYAK ATSIRI DAUN NILAM Masruriati, Eni; Ariyanti, Ariyanti; Intan, Intan
Jurnal Farmasetis Vol 4 No 2 (2015): November
Publisher : LPPM STIKES KENDAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (193.188 KB) | DOI: 10.32583/farmasetis.v4i2.295

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Kandungan utama dari minyak atsiri daun nilam (Pogostemon cablin) adalah eugenol, dimana senyawa tersebut berfungsi sebagai antibakteri. Penggunaan minyak atsiri daun nilam secara langsung pada kulit menimbulkan ketidak nyaman sehingga diformulasikan ke dalam bentuk krim. Formulasi krim minyak atsiri daun nilam dibuat dengan menambahkan PEG 400 sebagai emulgator dan tween 80 sebagai solubilizing agent. Metode: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dari masing-masing komponen  PEG 400, tween 80, dan kombinasi PEG 400 dengan tween 80 pada karakteristik fisik dan aktivitas antibakteri. Selain itu, dicari formula yang menghasilkan krim dengan karakteristik fisik dan aktivitas antibakteri yang optimum. Hasil: Berdasarkan persamaan simplex lattice design dapat diketahui pengaruh masing-masing komponen dan interaksi kedua komponen. PEG 400 dan tween 80 akan meningkatkan respons viskositas, aktivitas antibakteri dan daya sebar. Interaksi keduanya akan meningkatkan respons viskositas serta menurunkan daya sebar dan aktivitas antibakteri.   Berdasarkan program optimasi  Design Expert  7.1.5 diperoleh formula optimum  dengan  komposisi  PEG  400  :  tween  80  =  0:1  (2%:5%)  menghasilkan  viskositas 3762±132,012 cps, daya sebar 8,2±0,071 cm dan aktivitas antibakteri 1,059±0,225 cm.       ABSTRACT Introduction: The main content of the nilam (Pogostemon cablin) leaves oil   is eugenol, which function as antibacterial compounds. The use of nilam leaves oil directly on the skin of any inconvenience this may cause and so on is formulated into creams. Formulation of cream clove laeaves oil made by adding Cetyl alcohol as an emulgator and tween 80 as a solubilizing agent. Methode: The purpose of this research is to know the influence of each component of PEG 400, tween 80, and interaction of PEG 400 with tween 80 on physical characteristics and antibacterial activity. In  addition,  look  for  a  formula  that  produces  the  cream  with  physical  characteristics  and antibacterial  activity  of  the  optimum.  Result:  Based  on  equation  of  simplex  lattice  design  can influence each component and the interaction of these two components. PEG 400  and tween 80 will increase viscosity response, antibacterial activity and power spread. Interaction of both will increase the viscosity and decrease response power spread and antibacterial activity. Based on program optimization Design Expert 7.1.5 obtained the optimum composition of the formula PEG 400: tween 80  =  0:1(2%:5%)  yields  the  viscosity  3762±132,012   cps,  spread  power  8,2±0,071cm  and antibacterial activity of 1,059±0,225 cm.
FORMULASI SEDIAAN KRIM EKSTRAK ETANOL KULIT BUAH NAGA MERAH (HYLOCEREUS POLYRHIZUS) DAN UJI AKTIVITAS TERHADAP BAKTERI (STAPHYLOCOCCUS AUREUS) Khoirunisa, Iffa; Masruriati, Eni; Wicaksono, Wicaksono
Jurnal Farmasetis Vol 7 No 2 (2018): November
Publisher : LPPM STIKES KENDAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (541.312 KB) | DOI: 10.32583/farmasetis.v7i2.392

Abstract

ABSTRAK Kulit buah naga mengandung vitamin C, vitamin E, vitamin A, alkaloid, terpenoid, flavonoid, tiamin, niasin, piridoksin, kobalamin, fenolik, karoten, dan fitoalbumin. Aktivitas antibakteri ekstrak etanol 60% dan ekstrak air kulit buah naga merah terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan eschericia coli dengan konsentrasi 73, 36, 18 mg/L mampu menghambat bakteri Staphylococcus aureus dan Eschericia coli. Uji aktivitas bakteri pada krim ekstrak etanol kulit buah naga merah dilakukan dengan metode difusi cakram. Uji dengan ekstrak etanol 70% kulit buah naga merah yang dicampurkan basis krim 3 konsentrasi ekstrak yang berbeda, yaitu F1 F2 F3 (konsentrasi ekstrak20%, 30%,40%,kontrol positif dan kontrol negatif. Kesimpulan: krim ekstrak kuli buah naga merah mampu menghambat bakteri Staphylococcus aureus. F3 paling efektif menghambat pertumbuhan  Keywords: Kulit buah naga merah, antibakteri, formulasi krim, Staphylococcus aureus   SUPPLY FORMULATION CREAM ETHANOL EXTRACTS OF RED DRAGON LEATHER (HYLOCEREUS POLYRHIZUS) AND TEST ACTIVITIES TOWARDS BACTERIA (STAPHYLOCOCCUS AUREUS)   ABSTRACT Dragon fruit skin contains vitamin C, vitamin E, vitamin A, alkaloids, terpenoids, flavonoids, thiamine, niacin, pyridoxine, cobalamin, phenolic, carotene, and phytoalbumin. Antibacterial activity of 60% ethanol extract and red dragon fruit skin water extract against Staphylococcus aureus and Escherichia coli with concentrations of 73, 36, 18 mg / L were able to inhibit Staphylococcus aureus and Eschericia coli bacteria. The bacterial activity test on red dragon fruit skin ethanol extract cream was carried out by disc diffusion method. Test with 70% ethanol extract red dragon fruit skin mixed with cream base 3 different extract concentrations, namely F1 F2 F3 (extract concentration 20%, 30%, 40%, positive control and negative control. Conclusion: red dragon fruit coolies extract cream is able inhibits Staphylococcus aureus bacteria, the most effective F3 inhibits growth. Keywords: Red dragon fruit skin, antibacterial, cream formulation, Staphylococcus aureus