Maya Melati
Departemen Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor

Published : 44 Documents
Articles

GROWTH AND PRODUCTION OF PIPER SARMENTOSUM ROXB. EX HUNTER IN POT WITH DIFFERENT GROWING MEDIA Melati, Maya; Fetiandreny, Melia
Agrovigor Vol 6, No 1 (2013): MARET
Publisher : University of Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/agrovigor.v6i1.1476

Abstract

Piper sarmentosum (karuk) dimanfaatkan untuk masakan tradisional; namun tanaman ini juga berpotensi sebagai tanaman obat. Informasi tentang budidaya tanaman P. sarmentosum masih terbatas, oleh karena itu kajian ini diawali dengan pemilihan media tanam yang sesuai. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok lengkap satu faktor dengan perlakuan jenis media yaitu tanah saja, tanah+pasir (3:1, v/v), tanah+arang sekam (3:1, v.v), dan tanah+pupuk kandang sapi (3:1, v/v). Setiap perlakuan diulang 4 kali dan masing-masing terdiri atas 5 tanaman. Analisis data menggunakan sidik ragam. Bahan tanaman berupa stek plagiotrop dengan 3 buku dan polybag warna hitam sebagai wadah. Pupuk anorganik diberikan pada semua perlakuan dengan dosis setara pupuk majemuk N-P-K-Mg 12:12:17:2. Hasil percobaan menunjukkan bahwa perbedaan media mempengaruhi hampir semua peubah yang diamati. Pemberian pupuk kandang sapi menghasilkan keragaan dan produksi tanaman terbaik (ditunjukkan dengan tajuk dan akar yang lebih lebat serta daun yang lebih hijau dibandingkan tanaman yang mendapat perlakukan lainnya). Meskipun tidak nyata, ada kecenderungan bahwa pertumbuhan tanaman karuk lebih baik pada media tanah saja dibandingkan pada media dengan penambahan pasir atau arang sekam.Kata kunci: pupuk kandang, pot, sayuran fungsional, piperaceae, arang sekam
KETINGGIAN PANGKAS BERAT DAN PUPUK ORGANIK TERHADAP BIOMASSA DAN FLAVONOID DAUN KEMUNING PADA PANEN PERTAMA DAN KEDUA Eman Ayu Sasmita Jati, Gusti; Arifin Aziz, Sandra; Melati, Maya
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 10 No. 2 (2019): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.409 KB) | DOI: 10.29244/jhi.10.2.135-144

Abstract

Pemanenan kemuning (Murraya paniculata (L.) Jack.), dengan cara pangkas di ketinggian yang sama terus-menerus dapat menyebabkan penurunan produksi. Penerapan pangkas berat terhadap tanaman kemuning belum pernah dilaporkan sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan ketinggian pangkas dan dosis pupuk yang sesuai untuk mempertahankan atau meningkatkan produksi daun kemuning dan flavonoid. Penelitian dilakukan dari bulan Juli 2015 sampai Juli 2016. Percobaan dilakukan di Kebun Percobaan Organik Institut Pertanian Bogor di Cikarawang, Bogor. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok dengan dua faktor dan empat ulangan. Faktor pertama adalah tinggi pemangkasan yang terdiri atas 45, 60 dan 75 cm di atas permukaan tanah. Ketinggian 75 cm didesain sebagai kontrol. Faktor kedua adalah kombinasi dosis pupuk kandang ayam (PA) dan abu sekam (AS), yaitu: tanpa pupuk (kontrol), 7 kg PA + 3 kg AS, dan 14 kg PA + 6 kg AS per tanaman per tahun. Panen dilakukan dua kali dengan interval empat bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketinggian pangkas 60 cm di atas permukaan tanah merupakan pemangkasan berat terbaik untuk pertumbuhan, produksi, dan produksi total flavonoid daun tanaman kemuning yang berusia 45-57 bulan setelah tanam (BST) setelah 4-6 kali panen, sementara perlakuan pemupukan tidak memberikan hasil yang berbeda nyata. Kata kunci: abu sekam, kandungan pigmen, pupuk kandang ayam, tinggi pangkasan
KARAKTER AGRONOMI DAN KADAR SINENSETIN BEBERAPA AKSESI TANAMAN KUMIS KUCING (ORTHOSIPHON STAMINEUS) Febjislami, Shalati; Melati, Maya; Kurniawati, Ani; Wahyu, Yudiwanti
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 9 No. 3 (2018): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (518.588 KB) | DOI: 10.29244/jhi.9.3.206-215

Abstract

Tanaman kumis kucing berkhasiat untuk mengobati penyakit diabetes. Sinensetin merupakan senyawa kimia pada kumis kucing yang berperan sebagai obat diabetes. Tujuan penelitian adalah untuk mempelajari keragaman karakter agronomi dan kandungan sinensetin tanaman kumis kucing hasil koleksi ex situ dari daerah Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Tanaman kumis kucing dipanen saat populasi berbunga sekitar 70% dan diuji kandungan sinensetin pada daunnya. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan kelompok lengkap teracak dengan perlakuan 18 aksesi dan satu pembanding (koleksi ungu). Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan pada akumulasi pertambahan tinggi selama 8 MST, jumlah cabang sekunder dan ruas cabang sekunder; panjang, lebar dan indeks luas daun; rata-rata bobot kering batang dan daun per 4.41 m2 serta kadar sinensetin antar aksesi yang diuji. Aksesi Banyumas 1, Sumbersari dan Kraksaan memiliki karakter agronomi dan produksi yang lebih baik daripada kontrol kecuali kadar sinensetinnya. Kadar sinensetin daun berdasarkan kategori bobot kering daun mengalami peningkatan dari kategori rendah ke menengah namun menurun pada kategori tinggi. Berdasarkan perbandingan antar aksesi maupun kategori bobot kering daun, kontrol memiliki kadar sinensetin (0.043%) yang lebih baik, namun hanya mencapai 43% dari standar minimum kandungan kimia simplisia (kadar sinensetin) yang ditetapkan oleh Farmakope Herbal Indonesia. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada produksi sinensetin aksesi yang diuji baik berdasarkan perbandingan aksesi maupun kategori aksesi. Kata kunci: bunga, ex situ, kumis kucing, Orthosiphon aristatus, sinensetin
EVALUASI KARAKTER AGRO-FISIOLOGI DAN ANALISIS KEKERABATAN 10 AKSESI TEMPUYUNG (SONCHUS ARVENSIS L.) DI LINGKUNGAN ALAMI Raisawati, Tatik; Melati, Maya; A. Aziz, Sandra; Rafi, Mohammad
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 9 No. 1 (2018): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (726.422 KB) | DOI: 10.29244/jhi.9.1.63-72

Abstract

ABSTRACTPerennial sowthistle (Sonchus arvensis L.) is known as a medicinal plant but rarely cultivated, perennial sowthistle grows wild. Characterization is needed to determine the variation and relationship of perennial sowthistle in situ. Differences environment affect plant growth and bioactive content. Phenotype characterization of plant species is the basis for selection and improvement of properties. The purpose of this study was to evaluate the variation of agrophysiological characters and to analyze the relationship of 10 accessions of sowthistle based on agro-physiological characters. The experiment was conducted in October 2015 to February 2016. Descriptive variation characteristic of agrophysiological, correlation coefficient, principal component analysis (PCA) and cluster analysis (CA) were used to evaluate the phenotypic variability. The PCA and CA generated similar results. The first five principal component axes explained 91.7% of the total variation with PC1 (43.7%) and PC2 (22.9%). The CA showed that the degree of intraspecific similarity was 52.04%. Three clusters were formed among the 10 accessions especially with the separation of accessions that were collected from similar environments.Keywords: cluster, similarity, principal component, Sonchus arvensis L.ABSTRAKTempuyung dikenal sebagai tanaman obat tradisional namun belum banyak dibudidayakan, tempuyung tumbuh liar di alam. Perbedaan lingkungan tumbuh aksesi berpengaruh terhadap pertumbuhan dan kadar bioaktif tempuyung. Karakterisasi diperlukan untuk mengetahui keragaman dan kekerabatan tempuyung in situ. Karakterisasi fenotip spesies tanaman merupakan dasar untuk seleksi dan perbaikan sifat. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi keragaman karakter agro-fisiologi, dan menganalisis kedekatan hubungan antar 10 aksesi tempuyung in situ berdasarkan karakter agro-fisiologi. Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober 2015 sampai Februari 2016. Deskripsi keragaan karakter agro-fisiologi, koefisien korelasi, analisis gerombol dan analisis komponen utama digunakan untuk mengevaluasi keragaman fenotip. Aksesi Tawangmangu menunjukkan keragaan tertinggi pada karakter jumlah daun, lebar daun, diameter batang, bobot basah daun, bobot kering daun, total bobot basah, total bobot kering, tebal daun dan total flavonoid. Analisis gerombol (AG) dan analisis komponen utama (AKU) memberikan hasil yang mirip. Lima sumbu komponen utama menjelaskan 91.7% total keragaman dengan KU 1 (43.7%) dan KU 2 (22.9%). AG menunjukkan tingkat kemiripan sebesar 52.04%. Tiga kelompok terbentuk dari 10 aksesi yang dikoleksi yang diduga berdasarkan kesamaan lingkungan tumbuh.Kata kunci: gerombol, kemiripan, komponen utama, Sonchus arvensis L.
PRODUKSI SIMPLISIA KUMIS KUCING DENGAN PERBEDAAN CARA PEMUPUKAN DAN KETINGGIAN PANGKAS PADA ROTASI PANEN TIGA MINGGU Delyani, Rista; Kurniawati, Ani; Melati, Maya; Nur Faridah, Didah
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 8 No. 3 (2017): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (230.141 KB) | DOI: 10.29244/jhi.8.3.209-217

Abstract

ABSTRACT Cat whisker has been known as multifunctional herb. Good agricultural practice of cat whisker is necessary to produce high yield and good quality of simplicia as source of bioactive compound. As ratoon-harvested plant, fertilization and harvest management are important to maintain growth condition and production at each harvest. The objective of this study was to determine the best technique of fertilizer application and cutting height to obtain the highest simplicia of cat whisker production. The experiment was arranged in split plot design with three replications. The treatment were technique of organic fertilizer application (one time/10 ton ha-1 at transplanting time, and split /5 ton ha-1 at transplanting time+5 ton ha-1 at second harvest) as  main plot and  cutting height (one time /10, 20 and 30 cm above ground level) as sub plot. Growth and production data were collected. Result showed that the application of 10 ton ha-1 manure at transplanting time and harvest at 30 cm cutting height produced the highest simplicia production. One time application of fertilizer produced 3.09 ton ha-1 meanwhile split application only produced 2.81 ton ha-1 of simplicia. Harvest at 30 cm cutting height resulted in higher total simplicia production (3.24 ton ha-1) than at 10 dan 20 cm cutting height (2.66 and 2.95 ton ha-1, respectively. The average total simplicia production in 6 times harvesting during 23 weeks after transplanting was 2.95 ton ha-1. There is no significant interaction effect of the treatments on total simplicia production.  Keywords: medicinal plant, organic, perennial plant, ratooning, split application ABSTRAK Kumis kucing dikenal sebagai tanaman obat yang serbaguna. Praktik pertanian yang baik atau Good Agricultural Practices (GAP) pada tanaman kumis kucing diperlukan untuk menghasilkan produksi biomassa yang tinggi dan simplisia yang berkualitas sebagai sumber senyawa bioaktif. Sebagai tanaman yang dapat dipanen lebih dari satu kali, pengaturan pemupukan dan panen penting untuk mempertahankan kondisi tanaman dan produksi yang dihasilkan di setiap panen. Penelitian ini bertujuan mendapatkan cara pemupukan dan ketinggian pangkas yang terbaik demi menghasilkan produksi simplisia yang tinggi. Penelitian disusun menggunakan rancangan petak terbagi (split plot design) dengan tiga ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah cara pemberian pupuk (sekaligus /10 ton ha-1 saat pindah tanam dan bertahap /5 ton ha-1 saat pindah tanam +5 ton ha-1 saat panen kedua) sebagai petak utama dan ketinggian pangkas (10, 20, dan 30 cm dari permukaan tanah) sebagai anak petak. Data pertumbuhan dan produksi diamati selama penelitian. Hasil menunjukkan bahwa produksi simplisia daun kumis kucing tertinggi diperoleh dengan memberikan pupuk kandang secara sekaligus sebanyak 10 ton ha-1 saat pindah tanam dan memangkas dengan ketinggian pangkas 30 cm dari permukaan tanah. Pemberian pupuk kandang secara sekaligus menghasilkan simplisia daun sebesar 3.09 ton ha-1. Jumlah ini lebih tinggi dibanding produksi pada perlakuan pemupukan secara bertahap yaitu 2.81 ton ha?1. Ketinggian pangkas 30 cm mampu menghasilkan produksi simplisia daun total lebih banyak, yaitu 3.24 ton ha-1, dibanding yang dihasilkan dari ketinggian pangkas 10 dan 20 cm yaitu masing-masing 2.66 dan 2.95 ton ha-1. Rata-rata produksi total simplisia hingga 23 MST dengan enam kali pemanenan mencapai 2.95 ton ha-1. Tidak terdapat pengaruh interaksi antar perlakuan terhadap produksi total simplisia daun.Kata kunci: organik, pemupukan bertahap, ratun, tanaman obat, tanaman tahunan
PERBAIKAN KUALITAS BUAH JAMBU BIJI (PSIDIUM GUAJAVA L.) KULTIVAR KRISTAL DENGAN BERBAGAI WARNA DAN BAHAN PEMBERONGSONG Romalasari, Atika; Susanto, Slamet; Melati, Maya; Junaedi, Ahmad
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 8 No. 3 (2017): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.451 KB) | DOI: 10.29244/jhi.8.3.155-161

Abstract

ABSTRACT Kristal guava is one of the popular guava cultivars nowadays. The guava has white flesh and not-perfectly-round shaped that resembles a crystal and seedless. However, during the growth period fruit undergoes several physical and chemical changes and susceptible to insect infestation and other damage, all of which can reduce their commercial value and thus cause significant yield and economic losses. The aim of this research was to evaluate the influence of different color and bagging materials on guava fruit development and quality. The research was conducted at farmer farm located in Cikarawang Dramaga, from November 2013 to April 2014. This research was arranged in a randomized block design with one factor, consisted of ten treatments and five replications. The treatments were red plastic, yellow plastic, green plastic, blue plastic, sponnet with red plastic, sponnet with yellow plastic, sponnet with green plastic, sponnet with blue plastic, sponnet with transparent plastic and unbagged. Fruit quality assesment was conducted in Postharvest Laboratory of Agronomy and Horticulture Department, Bogor Agricultural University and Center for Tropical Horticultural Studies. The result showed that bagging improved fruit size, external quality and accelerated fruit maturity. Sponnet with red plastic bagging resulted in the biggest fruit at harvest. Sponnet with yellow or with red plastic baggings were able to maintain fruit peel smoothness up to 85%. Sponnet and plastic bagging resulted in better external quality than bagging with plastic only. Bagging did not show any effect on internal fruit quality. Keywords: colored bag, guava cv. Kristal, soluble solids content, sponnet, titratable acidityABSTRAK Jambu ?Kristal? merupakan salah satu kultivar jambu biji yang sedang populer saat ini. Jambu Kristal memiliki daging buah berwarna putih, berbentuk bulat tidak beraturan serta berbiji sedikit. Selama pertumbuhan dan perkembangan buah mengalami berbagai perubahan fisik dan kimia dan rentan terhadap serangan hama, yang secara keseluruhan dapat mengurangi nilai komersial sehingga menyebabkan kehilangan yang signifikan dari segi hasil panen dan kerugian ekonomi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan pengaruh warna dan bahan pemberongsong terhadap perbaikan kualitas buah jambu ?Kristal?. Penelitian dilaksanakan pada November 2013 sampai April 2014, di kebun petani yang berlokasi di Cikarawang, Dramaga, Bogor. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan satu faktor yaitu pemberongsongan buah, dengan sepuluh taraf dan lima ulangan. Perlakuan pemberonsongan menggunakan plastik merah, plastik kuning, plastik hijau, plastik biru, sponnet dan plastik merah, sponnet dan plastik kuning, sponnet dan plastik hijau, sponnet dan plastik biru, sponnet dan plastik bening serta tanpa pemberongsong. Pengujian kualitas buah dilakukan di Laboratorium Pascapanen Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor dan Laboratorium Pusat Kajian Hortikultura Tropika (PKHT) IPB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberongsongan memperbaiki pertumbuhan, kualitas eksternal dan mempercepat pematangan buah. Pemberongsongan sponnet dan plastik merah menghasilkan buah dengan ukuran terbesar pada saat panen. Pemberongsongan menggunakan sponnet dengan plastik kuning atau merah mampu menjaga kemulusan buah hingga 85%. Pemberongsongan sponnet dan plastik menghasilkan kualitas eksternal yang cenderung lebih baik dibandingkan pemberongsongan hanya dengan plastik. Pembrongsongan tidak berpengaruh nyata terhadap kualitas internal buah.Kata kunci: asam tertitrasi total, jambu ?Kristal?, sponet, padatan terlarut total, pemberongsong berwarna
PERBEDAAN WAKTU PANEN DAUN TERHADAP PRODUKSI DAN KADAR FLAVONOID TEMPUYUNG (SONCHUS ARVENSIS L.) Hasan, Fardyansjah; A. Aziz, Sandra; Melati, Maya
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 8 No. 2 (2017): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (286.725 KB) | DOI: 10.29244/jhi.8.2.136-145

Abstract

ABSTRACT Perennial sow-thistle (Sonchus arvensis L.) has been traditionally used as a medicinal plant. It contains secondary metabolites with several functions mainly as antioxidant, and its ability to dissolve kidney stones. It is expected that proper harvest time could increase leaf production and secondary metabolites, especially flavonoids. This study aimed at determining harvest time and flavonoid production of Perennial Sow-thistle. The research was conducted in July 2015 to December 2015 at IPB Organic Farm Cikarawang, Dramaga, Bogor. This study used randomized block design with single factor namely harvest time and 3 replications. There were 4 harvest time treatments i.e. (1) leaves harvested gradually i.e. basal leaves at vegetative then upper leaves harvested at early generative stage, (2) leaves harvested gradually i.e. basal leaves at vegetative then upper leaves harvested at maximum generative stage, (3) basal leaves harvested together with upper leaves at early generative stage, and (4) basal leaves harvested together with upper leaves at maximum generative stage. The result showed that basal leaves were harvested at  vegetative stage then stem leaves harvested at maximum generative stage produced the highest fresh weight of upper leaves. Total flavonoids content were found the highest in upper leaf when basal leaves harvested together with the upper leaves at budding and flowering. Keywords: leaf area, luteolin, nutrient content, organic ABSTRAKTempuyung (Sonchus arvensis L.) secara tradisional telah digunakan sebagai tumbuhan obat. Tempuyung mengandung metabolit sekunder dengan beberapa fungsi utama yaitu sebagai antioksidan dan peluruh batu ginjal. Diharapkan pengaruh waktu panen dapat meningkatkan produksi daun dan kandungan metabolit sekunder terutama flavonoid. Tujuan penelitian ini untuk menentukan waktu panen dan produksi flavonoid tempuyung. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Juli sampai Desember 2015 di kebun percobaan IPB Cikarawang, Dramaga, Bogor. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok lengkap faktor tunggal yaitu waktu panen. Terdapat 4 perlakuan yang diulang sebanyak 3 kali yaitu: (1) panen daun secara bertahap (daun bawah saat vegetatif) dan kemudian daun atas dipanen saat terbentuk kuncup bunga, (2) panen daun secara bertahap (daun bawah saat vegetatif) dan kemudian daun atas dipanen setelah bunga mekar, (3) panen daun bawah bersamaan dengan daun atas saat terbentuk kuncup bunga, dan (4) panen daun bawah bersamaan dengan daun atas setelah bunga mekar. Hasil penelitian menunjukkan panen daun bawah secara bertahap dan kemudian panen daun atas setelah bunga mekar menghasilkan bobot basah daun atas tertinggi. Panen daun secara bersamaan menghasilkan kadar flavonoid total daun atas tertinggi.Kata kunci: kadar hara, luas daun, luteolin, organik
PRODUKSI BIBIT TEMPUYUNG (SONCHUS ARVENSIS L.) DENGAN KOMPOSISI DAN VOLUME MEDIA TUMBUH YANG BERBEDA Hidayat Gena Ari, Ahmad Nur; Melati, Maya; A. Aziz, Sandra
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 7 No. 3 (2016): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (310.46 KB) | DOI: 10.29244/jhi.7.3.195-203

Abstract

ABSTRACTPerennial sow thistle (Sonchus arvensis L.) is one of medicinal plants which has potential in healing kidney disease. However, quality and sufficient supply of perennial sow thistle seedling with good quality is inadequate. This research was aimed at producing perennial sow thistle seedling generatively and to determine the suitable type of growth media and media volume for its production. The experiment was conducted in experimental field at Cikarawang, IPB from October 2015 to January 2016. The experiment was laid out in completely factorial randomized design (3x3) with three replications. The two of treatment factors were volume of growth media (9, 12, and 29 mL) and composition of growth media (100% goat manure, 50% goat manure + 50% rice hull charcoal, and 33% goat manure + 33% rice hull charcoal + 33% coco peat) (v:v). The results showed that larger media volume produced better perennial sow thistle seedling. There was significant effect of interaction between media volume and composition of growth media to some variables: leaf number, leaf length, leaf width, plant weight, shoot weight, root length, and total flavonoid concentration. The result showed that 50% goat manure + 50% rice hull charcoal and combination of media volume 12 mL was strongly recommended for production of perennial sow thistle seedling.Keywords: coco peat, flavanoid, manure, rice hull, seedlingABSTRAKTempuyung (Sonchus arvensis L.) merupakan salah satu tanaman obat yang berpotensi untuk mengatasi masalah penyakit batu ginjal. Besarnya potensi yang dimiliki oleh tempuyung belum diimbangi dengan penyediaan bibit yang baik dan jumlah yang besar. Penelitian ini bertujuan untuk memproduksi bibit tempuyung melalui pembibitan secara generatif, serta menentukan jenis media tanam dan volume media yang tepat. Percobaan dilakukan di kebun percobaan Cikarawang IPB, pada bulan Oktober 2015 sampai Januari 2016. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 2 faktor, faktor pertama adalah jenis komposisi media tanam yaitu menggunakan 100% pupuk kandang kambing, 50% pupuk kandang kambing+ 50% arang sekam, dan 33% pupuk kandang kambing + 33% arang sekam + 33% cocopeat (v:v), faktor ke dua adalah volume media dengan ukuran 7.9, 12, dan 29 mL tiap lubang pada tray, setiap perlakuan memiliki 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan volume media yang lebih besar (29 mL) menghasilkan pertumbuhan dan hasil bibit tempuyung yang lebih baik. Terdapat pengaruh interaksi antara perlakuan jenis komposisi media dan volume media terhadap peubah jumlah daun, panjang daun, lebar daun, bobot total dan bobot tajuk tanaman, panjang akar serta kadar total flavonoid. Perlakuan media terbaik untuk produksi bibit tempuyung komposisi media 50% pupuk kandang kambing + 50% arang sekam (v:v) dengan volume media 12 mL.Kata kunci : arang sekam, cocopeat, flavonoid, pembibitan, pupuk kandang kambing
PERBAIKAN PEMBUNGAAN PAMELO MELALUI APLIKASI STRANGULASI DAN ZAT PEMECAH DORMANSI Susanto, Slamet; Melati, Maya; Sugeru, Herik
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 7 No. 3 (2016): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.567 KB) | DOI: 10.29244/jhi.7.3.139-145

Abstract

ABSTRACTPummelo productivity is still low, therefore efforts should be made to increase its flowering and production. The objective of study was to determine the effectiveness of strangulation combined with the application of breaking dormancy substances to improve flowering of pummelo. The experiment was conducted in January to November 2015, at the Cikabayan Experimental Research Station, IPB. The carbohydrate and nitrogen analysis was done in laboratory of Postharvest Agriculture Research Institute, Bogor. Three-year-old pummelo grown in field was subjected for this research. Experiment used a completely randomized design (CRD) with two factors. The first factor was treatment to stimulate flowering, consisted of 3 levels i.e. single strangulation, double strangulation and control, and the second factor was the use of dormancy breaking substances, consisted of 3 types i.e. KNO3, Ethepon and BAP. Strangulation was performed by pressing the wire with a diameter of 2.0 mm into stem as deep as the diameter of the wire. Strangulation was done simultaneously and then released after 3 months. Dormancy breaking substance was applied immediately after releasing the wire for strangulation with the concentration of 200 ppm KNO3, 100 ppm Ethepon or 100 ppm BA. Treatments were replicated 4 times. The results showed that single and double strangulation treatments for 3 months were an effective way to induce flowering of young pummelo trees. Double strangulation produced more flowers as compared to single strangulation.Increased carbohydrate content and C/N ratio in leaves were observed on flower induced trees. Strangulation treatment for 3 months can increase flowering of young pummelo trees. Application of dormancy breaking substances did not have any effect on flowering induction in pummelo.Keywords: carbohydrate content, dormancy breaking substance, flower induction, pummelo, strangulationABSTRAKProduktivitas pamelo masih rendah sehingga perlu upaya peningkatan pembungaan dan produksinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas strangulasi yang dikombinasikan dengan aplikasi zat pemecah dormansi dalam meningkatkan pembungaan jeruk pamelo. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari sampai Nopember 2015, bertempat di Kebun Percobaan IPB Cikabayan. Analisis karbohidrat dan nitrogen dilakukan di laboratorium BB Pasca Panen, Bogor. Percobaan menggunakan tanaman jeruk pamelo ?Nambangan? berumur 3 tahun dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dua faktor. Sebagai faktor pertama yaitu perlakuan untuk menstimulasi pembungaan, terdiri atas 3 taraf perlakuan yaitu perlakuan strangulasi tunggal, strangulasi ganda dan kontrol, dan sebagai faktor kedua adalah penggunaan zat pemecah dormansi terdiri atas 3 jenis yaitu KNO3, Ethepon dan BAP. Masing-masing perlakuan diulang 4 kali sehingga terdapat 36 unit percobaan. Strangulasi dilaksanakan dengan melilitkan kawat dengan diameter 2.0 mm pada batang dengan menekan kawat ke batang sedalam diameter kawat tersebut. Strangulasi dilakukan serentak pada batang, strangulasi dilepas setelah 3 bulan kemudian. Zat pemecah dormansi diaplikasikan segera setelah pelepasan kawat strangulasi dengan konsentrasi masing-masing 200 ppm untuk KNO3, 100 ppm untuk Ethepon atau 100 ppm untuk BAP. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan strangulasi selama 3 bulan merupakan cara efektif menginduksi pembungaan tanaman jeruk pamelo. Perlakuan strangulasi ganda menghasilkan bunga lebih banyak dibandingkan dengan strangulasi tunggal. Tanaman yang telah terinduksi menunjukkan tingginya kandungan karbohidrat pada tajuk tanaman sehingga meningkatkan rasio C/N. Perlakuan zat pemecah dormansi tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap pembungaan jeruk pamelo.Kata kunci: kandungan karbohidrat, pamelo, pembungaan, strangulasi, zat pemecah dormansi
PENGARUH JENIS PUPUK DAN DEKOMPOSER TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI PADI ORGANIK Nurrahma, Arinal Haq Izzawati; Melati, Maya
Buletin Agrohorti Vol. 1 No. 1 (2013): Januari 2013
Publisher : Departemen Agronomi dan Hortikultura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (275.33 KB) | DOI: 10.29244/agrob.1.1.149-155

Abstract

The objective of the research was to study the effect of fertilizer types and decomposer on growth and yield of organic rice Field experiment was carried out in Cikarawang, Dramaga, Bogor from November 2011 to March 2012. The experiment used factorial-randomized complete block design with fertilizer combinations (15 ton chicken manure ha-1and 5 ton Tithonia diversifolia ha-1, 10 ton chicken manure ha-1 and 5 ton T. diversifolia ha-1, and 10 ton chicken manure ha-1 and 5 ton rice straw ha-1) as the first factor and decomposer application (using decomposer and without decomposer) as the second factor. Organic fertilizer types significantly affected root wet weight, nutrient content of P and K in leaves. Rice yields were not significantly different with fertilizer combinations 15 ton chicken manure ha-1 and 5 ton T. diversifolia ha-1, 10 ton chicken manure ha-1 and 5 ton T. diversifolia ha-1, and 10 ton chicken manure ha-1 and 5 ton rice straw ha-1, they were 2.28, 2.22, and 2.16 ton dry seed ha-1, respectively. Decomposer application significantly affected the number of tillers at 8 week afterplanting, leaf color at 5 weeks after planting, nutrient content of P in leaves and panicle length. Rice yield with decomposer application and without decomposer were 2.25 and 2.19 ton ha-1, respectively, and they were not different.Keywords: chicken manure, decomposer, organic rice, rice straw, Tithonia diversifolia