Articles

Found 5 Documents
Search

APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) DALAM ANALISIS PEMANFAATAN DAN PENGELOLAAN RUANG TERBUKA HIJAU KOTA STUDI KASUS : KOTA DEPOK Mildawani, Irina; Susilowati, Diana; Schiffer, Lia Rosmala
Jurnal Ilmiah Desain & Konstruksi Vol 8, No 1 (2009)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perencanaan, pembangunan, dan pengelolaan Ruang Terbuka Hijau Kota (RTHK)merupakan bagian penting dalam perencanaan, pembangunan dan pengelolaan kawasanbinaan (budi daya) maupun kawasan alami di perkotaan berlandaskan Rencana UmumTata Ruang Kota (RUTRK). Studi ini bertujuan membuat analisis RTHK dengandukungan aplikasi SIG untuk melakukan identifikasi potensi, kondisi dan masalah RTHKDepok dalam kerangka RUTRK Hasil studi ini diharapkan dapat menjadi masukankepada Pemda Kota Depok berupa (1) identifikasi potensi dan kondisi gambaran umumRTHK yang ada dan (2) analisis potensi kawasan yang memiliki daya dukung lingkunganuntuk menjadi RTHK Depok. Hasilnya berupa paparan peta SIG, yaitu informasi tematikspasial dan bukan spasial RTHK Depok yang dapat diperbaharui dengan lebih cepat danlebih mudah dibandingkan dengan peta kartografi yang menjadi acuan selama ini.AbstractThe Planning, implementation and City’s Green Open Spaces (CGOS) Management isthe most important part of planning, implementation and management of plantationdistrict and natural district in a city based on General Planning of City Spaces. Thisstudy is aimed to create City’s green open spaces (CGOS) analysis with the aplicationof SIG support to identified the potency, condition dan CGOS problem in Depok based onthe General Planning of City Spaces. This SIG application is exactly suitable to planning,implementation and management of the CGOS information, because the results of CGOSanalysis can be optimised to the used and management of CGOSThis study results wish tobe a reference for the district goverment of Depok as (1) identification of potency andgeneral ilustration of CGOS and (2) potencial analysis of a district which haveenvironmental support to become City’s green open Spaces of Depok. The resultscontaints SIG maps, spatial thematic information and non spatial CGOS of Depok whichcan be upgraded faster dan easier compare to the cartographic map used nowadays.
The Role of Landscape Architecture Profession In Two Different Contexts: A Comparative Review of the Practitioners in Responding To Climate Change Adaptation Mildawani, Irina; Khan, Shahed
International Journal of Planning and Development Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (46.238 KB)

Abstract

Abstract: In the context of rising concerns about global warming and sustainable development this paper examines the challenges of landscape architecture (LA) in developing and developed countries in handling climate change adaptation. The paper aims to find how the LA institutes define their professionals’ roles in dealing with society and environment. It seeks to focus on the professionals’ involvement in climate change adaptation programs in Indonesia and Australia. The paper seeks to determine how contextual factors such as institutional roles and types of prevalent governance systems shape the development of landscape architecture discipline and its professional capability with respect to other related built environment professions (architecture and planning). The websites of the ISLA (Indonesian Society of Landscape Architects) and the AILA (Australian Institutes of Landscape Architects) are examined and analysed from the perspective of professional principles of the International Federation of Landscape Architects (IFLA). The aim is to determine the LA practitioners’ awareness and approaches in handling climate change challenges in various roles and capabilities. It has found that the professional institute in Australia has been involved in the educational program to equip their practitioner members to have a basic knowledge and further application of climate change adaptation in their design and planning projects; whereas in Indonesia the practitioners are actively involved in community capacity building to increase people’s awareness and participation in mitigating the climate change at local as well as regional levels. Findings from the study seek to establish the universality of the LA profession and its relevance in both developed and developing countries.Keywords: climate change adaptation network, IFLA principles, ISLA and AILA, landscape architecture profession
The Role of Landscape Architecture Profession In Two Different Contexts: A Comparative Review of the Practitioners in Responding To Climate Change Adaptation Mildawani, Irina; Khan, Shahed
The Indonesian Journal of Planning and Development Vol 1, No 1 (2014): September 2014
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (603.606 KB) | DOI: 10.14710/ijpd.1.1.43-50

Abstract

In the context of rising concerns about global warming and sustainable development this paper examines the challenges of landscape architecture (LA) in developing and developed countries in handling climate change adaptation. The paper aims to find how the LA institutes define their professionals’ roles in dealing with society and environment. It seeks to focus on the professionals’ involvement in climate change adaptation programs in Indonesia and Australia. The paper seeks to determine how contextual factors such as institutional roles and types of prevalent governance systems shape the development of landscape architecture discipline and its professional capability with respect to other related built environment professions (architecture and planning). The websites of the ISLA (Indonesian Society of Landscape Architects) and the AILA (Australian Institutes of Landscape Architects) are examined and analysed from the perspective of professional principles of the International Federation of Landscape Architects (IFLA). The aim is to determine the LA practitioners’ awareness and approaches in handling climate change challenges in various roles and capabilities. It has found that the professional institute in Australia has been involved in the educational program to equip their practitioner members to have a basic knowledge and further application of climate change adaptation in their design and planning projects; whereas in Indonesia the practitioners are actively involved in community capacity building to increase people’s awareness and participation in mitigating the climate change at local as well as regional levels. Findings from the study seek to establish the universality of the LA profession and its relevance in both developed and developing countries.
Kajian Pusat Tanaman Herbal sebagai Pendukung Pembangunan Keberlanjutan: Studi Kasus di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat (Study on Herbal Plants Center as a Supporter of Sustainable Development : Case Study in Purwakarta Regency, West Java) Suwandi, Dhia Fitrianti; Mildawani, Irina
Seminar Nasional Kota Berkelanjutan 2018: Prosiding Seminar Nasional Kota Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Arsitektur Lanskap dan Teknologi Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/psnkb.v1i1.2906

Abstract

Tanaman obat atau biasa disebut tanaman herbal adalah tanaman yang memiliki khasiat obat dan digunakan sebagai obat dalam penyembuhan maupun pencegahan penyakit. Keberadaan tanaman obat ini sangat diminati oleh masyarakat Indonesia, selain karena mempunyai manfaat bagi kesehatan, budaya mengkonsumsi tanaman herbal dan jamu yang cukup besar. Purwakarta merupakan Kabupaten di Jawa Barat yang cukup produktif dalam menghasilkan tanaman obat tiap tahunnya. Senada dengan hal tersebut, Pemerintah Kabupaten Purwakarta memiliki prioritas pembangunan daerah yang tertuangdalam Pra Musrenbang BKPP Wilayah II Bappeda Provinsi Jawa Barat Tahun 2015, yang menyatakan bahwa pemerintah Kabupaten Purwakarta akan melakukan Penguatan Pusat Pengobatan Tradisional dan Lumbung Obat Tradisional pada beberapa Kecamatan di Purwakarta. Oleh karena itu perlu adanya bentuk nyata sebagai suatu upaya peningkatan, pemusatan, dan pembudidayaan dalam bidang tanaman obat atau herbal di Purwakarta yaitu dengan pengadaan Pusat Tanaman Herbal di Kabupaten Purwakarta.Tujuannya tidak hanya sebagai upaya peningkatan dalam bidang herbal atau tanaman obat namun juga sebagai wadah edukasi bagi para pelajar maupun masyarakat lainnya dalam bagaimana membudidayakan dan memproduksi tanaman herbal serta berbagai macam informasi mengenai tanaman herbal. Tulisan ini mengkaji Pusat Tanaman Herbal yang bertema “adaptif” yang merupakan penyesuaian atau menyesuaikan keadaan sekitar. Selain itu desain Pusat Tanaman Herbal tersebut bersifat adaptif yaitumenyesuaikan dengan alam sekitar. Hal ini bertujuan agar pembudidayaan tanaman herbal dengan baik dan menghasilkan kualitas tanaman herbal yang baik pula, sehingga bangunan dapat menyatu dan menyesuaikan dengan alam sekitar.Kata Kunci: adaptif, Kabupaten Purwakarta, pusat tanaman herbal
PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA SITU JATIJAJAR SEBAGAI TEMPAT REKREASI EDUKASI AGROWISATA DAN WISATA AIR Mildawani, Irina; Saputra, Ogi Julian
MEDIA MATRASAIN Vol 16, No 2 (2019)
Publisher : Jurusan Arsitektur, FT - UNSRAT Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penurunan kualitas ruang kota sebagai akibat pertumbuhan ekonomi kota yang menepikan badan air sebagai elemen lanskap kota perlu diwaspadai demi keberlanjutan pembangunan. Kota Depok yang menamakan diri sebagai “Kota Seribu Situ” telah kehilangan beberapa situnya dalam dasawarsa terakhir ini akibat penggusuran pembangunan infrastruktur yang tidak peka terhadap badan air. Untuk itu diperlukan suatu pendekatan pembangunan yang lebih peka terhadap hidrologi lingkungan (water sensitive urban design), terutama Situ-situ yang seyogyanya menjadi potensi wisata di kota Depok. Tujuan penulisan ini adalah untuk memahami seberapa jauh peran desain arsitektur dapat berfungsi sebagai inovasi desain yang peka terhadap hidrologi lingkungan dan menjadi fasilitas pendukung atau pembangkit kegiatan pemberdayaan masyarakat yang mendukung kebijaksanaan pemerintah Kota Depok dikaitkan dengan wisata air, edukasi, dan agrowisata. Dengan metoda penelitian kualitatif partisipatif yang bersifat eksploratif, penelitian ini menggunakan Situ Jatijajar sebagai studi kasus. Metode pengumpulan data yang digunakan, meliputi survei lapangan dengan observasi visual ditambah dengan arsip dan data sekunder untuk melengkapi metode pengambilan data primer yang dilakukan dengan interview terhadap masyarakat dan para pemangku kepentingan. Paper ini memaparkan hasil penelitian yang dilaksanakan di Kawasan sekitar Situ Jatijajar, dengan hasil akhir berupa eksplorasi rancangan inovasi untuk Kawasan Wisata Air dan Rekreasi Edukasi serta Agrowisata. Hasilnya meliputi tipologi fasilitas lanskap wisata yang dilengkapi dengan fasilitas bangunan wisata air, yang berfungsi juga untuk mendukung rekreasi edukasi dan agrowisata. Hasilnya diharapkan dapat berfungsi sebagai eksperimen arsitektur dalam mendesain, yang sekaligus diharapkan dapat menjadi pendorong terjadinya inovasi sosial. Penelitian ini juga diharapkan dapat menawarkan suatu pendekatan 'Desain sebagai Generator' yang mendukung kebijakan pemberdayaan masyarakat melalui desain.