Johanes C. Mose
Department of Obstetric and Gynecology, Faculty of Medicine, Padjajaran University, Bandung

Published : 10 Documents
Articles

Found 10 Documents
Search

IL-12 PE, CD 69 PERCP, CD3 FITC, AND CD4 APC OPTIMIZATION WITH ACTIVATION OF ISOLATED AGENT HEAT-KILLED SONICATED MYCOBACTERIUM TUBERCULOSIS BEIJING STRAIN SUNDARI, RINI; PARWATI, IDA; MOSE, JOHANES C.; SETIABUDIAWAN, BUDI
Proceedings of The Annual International Conference, Syiah Kuala University - Life Sciences & Engineering Chapter Vol 4, No 2 (2014): Life Sciences
Publisher : Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1676.676 KB)

Abstract

Infection caused by Mycobaterium tuberculosis exists in form of intracellular infection, which leads to lymphocyte activation. CD69 is the first lymphocyte activation marker expressed in Th1 lymphocyte, which follows by IL-12 release. Flow cytometry analysis can identify the subpopulations of lymphocytes and  intracellular cytokines such as IL-12, yet precise preparation needs to be done. This research aims to conduct optimization with four color lyse/wash flow cytometry assay system FastImmune™ FACSCalibur examination, with monoclonal antibody IL-12, CD69, CD3, and CD4 in succession uses fluorochrome PE, PerCP, FITC, and APC.To activate the lymphocytes from heparinized whole blood, we used activation agent which derives from isolated heat-killed sonicated Mycobacterium tuberculosis Beijing strain. Optimal concentration from the according activation agents is 40 mL. To determine the compensation, BDTM CompBead and blank-cell unstainning are used, but the maximum result showed by blank-cell unstainning.Each monoclonal antibody dosage of IL-12PE, CD69 PerCP, and CD3 FITC is 40 mL, while CD4 APC 5 mL. Total event lymphocyte is determined minimally by 10,000 events. With 18,510 total events and Th gated events quantity are 4,692, the result obtained is IL12-PE has 7.4% gated (347 events); CD69+ perCP/CD3+ FITC 18.2% (850 events); and CD69+ perCP/CD4+ APC 3.9%.
KORELASI ANTARA EKSPRESI AROMATASE, FOLLICLE STIMULATING HORMONE (FSH), DAN INSULIN-LIKE GROWTH FACTOR (IGF)-I DENGAN MATURITAS OOSIT PADA PELAYANAN TEKNOLOGI REPRODUKSI BERBANTU (TRB) Guyansyah, Assangga; Biben, Achmad; Mose, Johanes C.; Hernowo, Bethy Suryawathy
Indonesian Journal of Applied Sciences Vol 2, No 1 (2012)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.032 KB) | DOI: 10.24198/ijas.v2i1.2729

Abstract

Karakteristik biokimia cairan folikel disekitar oosit memainkan peran penting dalam menentukan kualitas oosit yang padaakhirnya dapat meningkatkan keberhasilan program TRB. Secara umum mekanisme maturitas oosit yang dipengaruhi oleh unsur kimia cairan folikel melibatkan IGF-I yang bekerja dengan melipatgandakan efek FSHR, lalu menginduksi peningkatan kadar cAMP intraseluler yang merupakan mediasi utama stimulasi FSH pada ekspresi aromatase. Penelitian ini merupakan studi analitik korelasional dengan pendekatan crossectional pada pasien yang mengikuti program TRB di Klinik Aster Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung dalam kurun waktu Januari 2011 sampai dengan Februari 2012. Analisis hasil dilakukan menggunakan uji Shapiro Wilk, uji Wilcoxon, uji Mann-Whitney, uji ANAVA, rank Spearman, dan uji chi-kuadrat. Kemaknaan hasil uji akan ditentukan berdasarkan nilai p < 0,05. Pada penelitian ini didapatkan perbandingan jumlah oosit matur dan imatur pada ekspresi FSH kuat menunjukkan ada perbedaan yang bermakna (p=0,03). Analisis hubungan antara ekspresi IGF-I dengan maturitas oosit menunjukkan hasil yang tidak bermakna secara statistik (p=0,192). Didapatkan pula median proporsi prevalensimaturitas sebesar 0,71. Maturitas oosit dengan median rasio prevalensi > 0,71 pada ekspresi FSH kuat besarnya 1,71 kali bila dibandingkan dengan ekspresi FSH negatif. Pada ekspresi aromatase sedang dengan median rasio prevalensi maturitas > 0,71 sebesar 1,55 kali bila dibandingkan dengan ekspresi aromatase yang negatif.
The status of probiotics supplementation during pregnancy Wibowo, Noroyono; Mose, Johanes C.; Karkata, Made K.; Purwaka, Bangun T.; Kristanto, Herman; Chalid, Maisuri T.; Yusrawati, Yusrawati; Sitepu, Makmur; Kaeng, Juneke J.; Bernolian, Nuswil; Prasmusinto, Damar; Irwinda, Rima
Medical Journal of Indonesia Vol 24, No 2 (2015): June
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (514.372 KB) | DOI: 10.13181/mji.v24i2.1223

Abstract

Probiotics have been known for their use in medical field for quite a long time. Strong evidences are now available for the use of probiotics in clinical setting. One of the current issues on this topic is the use of probiotics in pregnancy. Recent studies showed that probiotics may be safe and beneficial for prenatal supplementation. In this review, we highlighted several proven use of probiotics supplementation in pregnant women. A few selected strains of probiotics showed promising outcome to prevent preterm labor and preeclampsia, and to reduce atopic eczema but not asthma and wheezing, in offspring of women who had prenatal probiotics supplementation. The mechanism of action responsible for this effect is closely related to the regulation of T cells, although the exact pathways are not defined yet.
Faktor Diri Mahasiswa yang Memengaruhi Kelulusan Uji Kompetensi D III Kebidanan di Poltekkes Kemenkes Palu Hadina, Hadina; Effendi, Jusuf S; Susiarno, Hadi; Herman, Herry; Mose, Johanes C.; Sunjaya, Deni K; Mangun, Mardiani
Poltekita: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 11, No 1 (2017)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (376.299 KB) | DOI: 10.33860/jik.v11i1.62

Abstract

Kelulusan uji kompetensi di Institusi pendidikan merupakan parameter penting untuk menilai keefektifan pembelajaran, ketersediaan, dan kualitas sarana dan prasarana, tenaga edukatif yang terlibat di dalamnya serta pencerminan usaha belajar mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi faktor mahasiswa yang memengaruhi kelulusan pada uji kompetensi bidan dan memperoleh instrumen baku berdasarkan hasil studi eksploratif yang telah diuji validitas dan reliabilitas.        Desain penelitian yang dipergunakan adalah metode campuran (mixed methods) dengan strategi sequential exploratory. Hasil eksplorasi dilakukan analisis tematik dan untuk memperoleh instrumen yang valid dan reliable dilakukan analisis menggunakan rasch model. Subyek penelitian adalah 6 alumni yang tidak lulus uji kompetensi, 3 alumni yang lulus uji kompetensi, 3 dosen D III di jurusan kebidanan Poltekkes Kemenkes PaluHasil eksplorasi diperoleh faktor-faktor yang memengaruhi kelulusan mahasiswa pada uji kompetensi bidan dari diri mahasiswa yaitu minat dan motivasi belajar sangat rendah, kurang percaya diri dan ketelitian dalam mengisi lembar jawaban komputer, dan ketidakjujuran selama proses pendidikan.Hasil pengolahan menggunakan rasch model pada kode m6, m7 dam m5 dengan kriteria sangat sulit dan sulit disetujui. Bunyi masing-masing item kode m6 (+1,28) bunyi item “saya rajin berkunjung dan meminjam buku ke perpustakaan”. Kode m7 (+0,95 logit) “Alumni yang belum lulus uji kompetensi sebaiknya bimbingan belajar”. Kode m5 (+0,80 logit) dengan bunyi item pernyataan “saya kurang fokus belajar karena saya memiliki aktifitas lain (pacaran, jalan-jalan atau bermain dengan teman)”. Item ini tidak ada responden yang menyetujui. Pada kriteria mudah sekali disetujui terdapat dua item yaitu kode m4 dan m3 dengan bunyi item pernyataan m4 (-0,76)  “Saya membuat laporan target kompetensi fiktif karena hanya sebagai syarat untuk mendaftar ujian akhir program”.  Item m3 (-1,25 logit) “saya berharap ada bimbingan belajar persiapan uji kompetensi”. Kedua item ini semua resonden sangat mudah menyetujui.Simpulan, kelulusan mahasiswa pada uji kompetensi masih rendah hal ini dipengaruhi oleh rendahnya motivasi dan minat belajar mahasiswa, ketidak jujuran dalam membuat laporan dan belum ada bimbingan belajar khusus menghadapi uji kompetensi. Disarankan Dosen memotivasi mahasiswa belajar dan menfasilitasi mahasiswa menghadapi uji kompetensi. Kata kunci : mutu lulusan, uji kompetensi
Phaleria Macrocarpa’s Extract Inhibits Autophagy Probably Through TNF-α in HUVEC Cell Culture Simanjuntak, Leo Jumadi; Ganis Siregar, M. Fidel; Mose, Johanes C.; Lumbanraja, Sarma N.
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 2 Nomor 2 September 2019
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2084.573 KB) | DOI: 10.24198/obgynia.v2n2.130

Abstract

Objective: This study aimed to determine the effects of Phaleria macrocarpa?s extract on TNF-? and LC3-II level and their correlation in preeclampsia-induced HUVEC.Methods: This study used HUVEC culture as an in vitro model and Phaleria macrocarpa?s extract, widely used as an anti-inflammation and antioxidant.Results: Phaleria macrocarpa?s extract reduce TNF-? level siginificantly at concentration of 7.813?g/mL and at 62.5?g/mL reduce TNF-? level to normal level. There was no significant decrease and  reduction to normal level in LC3-II. TNF-? has a strong positive correlation with LC3-II (r=0.958), that reduced TNF-? level will decrease LC3-II levels, where a decrease in TNF-? level of 1pg/mL will reduce LC3-II levels by 0.413pg/mL.Conclusion: Thus, Phaleria macrocarpa?s extract might be used to overcome endothelial dysfunction and autophagy in preeclampsia.Key words : Phaleria Macrocarpa, Preeclampsia, HUVEC, TNF-?, LC3-IIAbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek ekstrak Phaleria macrocarpa pada inflamasi dan otofagi pada sel endotel dengan mengukur kadar TNF-? dan LC3-II pada HUVEC yang diinduksi serum preeklampsia.Metode: Penelitian ini menggunakan kultur HUVEC sebagai model in-vitro yang banyak digunakan untuk memelajari patogenesis preeklampsia. Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl juga dikenal sebagai Mahkota Dewa secara luas digunakan sebagai anti-inflamasi dan antioksidanHasil: Hasil menunjukkan ekstrak Phaleria macrocarpa menurunkan kadar TNF-? secara signifikan pada konsentrasi 7.813 ?g/mL dan konsentrasi 62.5 ?g/mL menurunkan kadar TNF-? ke kadar normal. Tidak terdapat penurunan signifikan rerata kadar LC3-II antara kontrol dan model PE dan dibutuhkan ekstrak Phaleria macrocarpa pada konsentrasi lebih dari 250 ?g/mL untuk menurunkan kadar LC3-II pada model preeklamsia ke kadar hamil normal. Kadar TNF-? memiliki korelasi positif yang bermakna dengan LC3-II dengan tingkat korelasi sangat kuat (r = 0.847), dimana penurunan kadar TNF-? sebesar 1 pg/mL akan menurunkan kadar LC3-II sebesar 0.413 pg/mL.Kesimpulan: Dengan demikian, ekstrak Phaleria macrocarpa dapat digunakan untuk mengatasi disfungsi endotel dan otofagi pada preeklampsia.Kata kunci: Phaleria Macrocarpa, Preeklampsia, HUVEC, TNF-?, LC3-II
STRATEGI MENURUNKAN KEMATIAN IBU KARENA PREEKLAMSI DAN EKLAMSI Mose, Johanes C.
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 3 Nomor 1 Maret 2020
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (607.545 KB)

Abstract

Abstrak Tujuan: Merangkum beberapa hasil penelitian tentang preeklamsi dan upaya menurunkan kematian ibu di negara maju maupun berkembang termasuk di Indonesia dan RSHS Bandung untuk menyusun strategi menurunkan kematian ibu karena preeklamsi.Metode: Penelusuran jurnal dari Negara maju dan berkembang tentang preeklamsi dan eklamsi serta strategi penurunan kematian ibu karena preeklamsi dan eklamsi. Sebagai acuan utama dilakukan penelitian potong silang dengan rancangan observasional analitik dengan membandingkan data ibu hamil dengan preeklamsi/eklamsi yang melahirkan di RS Hasan sadikin Bandung periode Maret sampai September 2012 (sebelum JKN) dan 1 Januari 2016 sampai 31 Desember 2017(saat JKN dilaksanakan). Data dianalisis menggunakan uji statistik chi kuadrat untuk membandingkan perbedaan dengan kemaknaan nilai p< 0,05.Hasil: Terjadi kenaikan prevalensi preeklamsi dari 15,53% sebelum JKN, menjadi 25,04% saat JKN dilaksanakan.Terjadi peningkatan prevalensi preeklmasi menurut usia ibu, usia kehamilan, paritas, tingkat pendidikan, jumlah ANC, dan penyakit penyerta hipertensi dan kelainan jantung sebelum dan saat JKN dilaksanakan.Bukti dan hasil penelitian yang sama dari jurnal luar dan dalam negeri Indonesia dirangkum, dianalisis dan dipilih untuk menyusun strategi penurunan kematian ibu karena preeklamsi.Simpulan:  Strategi menurunkan kematian ibu karena preeklamsi/eklamsi, adalah : mendukung program pemerintah untuk mengatasi kemiskinan, pendidikan dan kesulitan transportasi; melaksanakan program sosialisasi kepada masyarakat tentang tanda dan gejala preeklamsi; deteksi dini kelompok risiko dan diagnosis PE dengan pengukuran tekanan darah dan proteinuria serta pemberian pencegahan dengan aspirin dosis rendah dan kalsium; pelatihan pemeriksaan Doppler arteri uterina untuk SpOG serta sosialisasi protokol pengelolaan PE, dan pelatihan ?preeclampsia special team? di RS rujukan.
PENGARUH PELATIHAN KADER POSYANDU DENGAN MODUL TERINTEGRASI TERHADAP PENINGKATAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN KEIKUTSERTAAN KADER POSYANDU Wahyuni, Sri; Mose, Johanes C.; Sabarudin, Udin
Jurnal Riset Kebidanan Indonesia Vol 3, No 2 (2019): Desember
Publisher : AIPKEMA (Asosiasi Institusi Pendidikan Kebidanan Muhammadiyah-'Aisyiyah Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (458.468 KB) | DOI: 10.32536/jrki.v3i2.60

Abstract

Latar belakang: Jumlah Posyandu di Indonesia semakin bertambah setiap tahunnya, tetapi tidak sebanding dengan penambahan kader posyandu, hal ini terbukti dari data yang menunjukan bahwa rata-rata jumlah kader aktif adalah 3-4 orang pada setiap Posyandu. Sedikitnya jumlah kader aktif menggambarkan peran serta masyarakat yang masih rendah, maka perlu diupayakan penambahan jumlah kader posyandu melalui pelatihan. Tujuan penelitian : Untuk mengukur pengaruh pelatihan kader posyandu dengan modul terintegrasi terhadap peningkatan pengetahuan, sikap dan keikutsertaan kader posyandu. Metode : Menggunakan desain penelitian Quasy experiment pre-test and post-test with control group. Penelitian ini dilakukan di Manonjaya, menggunakan data primer terhadap ibu yang tidak bekerja dan mempunyai waktu luang sebanyak 30 orang pada setiap kelompok. Data kemudian dianalisis secara univariat, bivariat, dan multivariat. Hasil : Data menunjukan sebelum diberikan pelatihan pada kedua kelompok pengetahuan sebesar 80,4 dan 81,2, serta sikap sebesar 69,7 dan 71,9, kemudian setelah pelatihan pengetahuan menjadi 88,1 dan 87, sikap menjadi 85,5 dan 75. Keikutsertaaan responden berturut-turut pada post-test 1 dan post-test 2 antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol sebanyak 25 orang dan 22 orang. Simpulan : Pelatihan kader Posyandu dengan modul terintegrasi terbukti lebih meningkatkan pengetahuan dan sikap responden, tetapi tidak lebih baik dalam meningkatkan keikutsertaan kader.
PERBANDINGAN KEPADATAN MINERAL TULANG ANTAR PEMAKAI KONTRASEPSI HORMONAL PROGESTIN DAN KONTRASEPSI NON HORMONAL PADA WANITA USIA SUBUR Aprilina, Aprilina; Permadi, Wiryawan; Setyawati, Elsa Pudji; Husin, Farid; Mose, Johanes C.; Hidayat, Yudi Mulyana
Jurnal Kesehatan Vol 11, No 1 (2020): Jurnal Kesehatan
Publisher : Politeknik Kesehatan Tanjung Karang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (862.08 KB) | DOI: 10.26630/jk.v11i1.1680

Abstract

The decrease of bone mineral density will result in reducing bone strength tend to bone brittle so osteoporosis occurred. Osteoporosis affects 44 million people in the United States, 80% are women. It was assumed that progestin contraceptive acceptors decreased bone mineral density and increased the risk of osteoporotic fractures. The study used a comparative analytical method by using a cross-sectional study. The population was all acceptors progestin hormonal contraceptives (implants or injections) and acceptors of non-hormonal contraception (IUD or MOW) who came to the Public health center of Sekip Palembang and public health center of Basuki Rahmat in Palembang. The total sample was 200 respondents. The sample used purposive sampling, by using a consecutive sampling technique. The results were analyzed by using the Mann Whitney test and two ways ANOVA test directions with post hoc test and profile analysis. The results showed a significant difference in bone mineral density between the acceptors of progestin hormonal contraceptives and the acceptors of non- hormonal contraceptives to eligible women with ?-value=0.001. There was a significant difference between acceptor of progestin hormonal contraceptives and non- hormonal contraceptives to eligible women referred to the duration of use, p-value of 1-2 years old was p-value=0.109, &gt;2-3 years, p-value 0.039, and ?3 years, p-value=0.033. Conclusion: there are differences in bone mineral density between acceptors of progestin hormonal contraceptives and acceptors of non-hormonal contraceptives to eligible women.
THE CORRELATION BETWEEN LEPTIN LEVELS AND ONSET OF PREECLAMPSIA Sriyanti, Roza; Mose, Johanes C.; Masrul, Masrul; Suharti, Netti
JOURNAL OBGIN EMAS Vol 4, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/aoj.4.2.170-175.2020

Abstract

The purpose of this study is to find the correlation between leptin levels and the onset of preeclampsi. This study used a cross sectional comparative study design that conducted in May 2018 - April 2019 in the SMF / Obstetrics and Gynecology department of RSUP dr. M. Djamil Padang, RSUD Achmad Mochtar, RSUD Solok, RST Reksodiwiryo. We used consecutive sampling method which consists of 69 pregnant women who fulfill the inclusion and exclusion criteria. Leptin level tests were done using ELISA method. The average level of leptin in early-onset preeclampsia is found to be the highest when compared to the late-onset preeclampsia and normal pregnancy, 64.07 ± 78.27 vs. 30.46 ± 31.99 vs. 16.61 ± 24.49. This differentiation is highly significant with the ANOVA statistical test (p <0.05). There is a significant correlation between leptin levels with the onset of preeclampsia.Keywords: preeclampsia early onset, preeclampsia late onset, leptin levels
PERBANDINGAN KADAR SOLUBLE fms-LIKE TYROSINE KINASE 1 (sFlt1) SERUM KEHAMILAN NORMAL DENGAN PREEKLAMSI BERAT SERTA HUBUNGANNYA DENGAN TEKANAN DARAH DAN DERAJAT PROTEINURIA Siddiq, Amillia; Mose, Johanes C.; Irianti, Setyorini
Majalah Kedokteran Bandung Vol 41, No 3
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Prediksi dan deteksi dini preeklamsi sangat diperlukan untuk mengurangi angka morbiditas dan mortalitas maternal dan perinatal. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan kadar sFlt1 serum kehamilan normal dengan preeklamsi berat (PEB) dan mengetahui hubungan antara kadar sFlt1 serum dan tekanan darah serta derajat proteinuria. Dilakukan studi observasional analitik secara potong silang. Kadar sFlt1 diperiksa dengan ELISA. Analisis statistik menggunakan uji chi kuadrat, uji t, uji Mann-Whitney, koefisien korelasi Rank Spearman, serta uji diagnostik untuk mencari nilai penentu kadar sFlt1. Karakteristik subjek penelitian pada kelompok PEB dan kelompok kontrol tidak berbeda bermakna (p>0,05). Terdapat perbedaan bermakna antara kadar sFlt1 serum kelompok PEB dan kelompok kontrol (3.827±471 pg/mL dan 2.708±441 pg/mL; p<0,05). Terdapat hubungan positif bermakna antara kadar sFlt1 dan tekanan darah sistolik (p=0,042; p<0,05) dan antara kadar sFlt1 dan tekanan darah diastolik (p=0,041; p<0,05). Terdapat hubungan bermakna antara kadar sFlt1 dan derajat proteinuria (p=0,012; p<0,05). Nilai penentu kadar sFlt1 untuk membedakan penderita PEB dengan hamil normal 2.815 pg/mL dengan sensitivitas 97,1%, spesifisitas 42%, dan akurasi 69,6%. Terdapat perbedaan bermakna antara kadar sFlt1 pada PEB dan kehamilan normal. Terdapat hubungan bermakna antara kadar sFlt1 dan tekanan darah sistolik, diastolik, serta dengan derajat proteinuria. Nilai penentu (cut-off point) kadar sFlt1 adalah 2.815 pg/mL.Kata kunci: sFlt1, preeklamsi berat, tekanan darah, proteinuria, hamil normalCOMPARISON OF SERUM SOLUBLE fms-LIKE TYROSINE KINASE 1 (sFlt1) LEVEL IN NORMAL PREGNANCY AND SEVERE PREECLAMPSIA AND ITS ASSOCIATION WITH BLOOD PRESSURE AND DEGREE OF PROTEINURIAPrediction and early detection of preeclampsia is very important to reduce maternal and perinatal morbidity and mortality. This research was to find out the difference of serum sFlt1 level between normal pregnancy and severe preeclampsia (SPE) and to determine the correlation of serum sFlt1 level with blood pressure as well as the degree of proteinuria. This was an analytic observational cross sectional study. Measurement of serum sFlt1 level using ELISA. >Statistical analysis was performed by using chi square, t test, Mann-Whitney test, Spearman Rank correlation coefficient and diagnostic test for cut-off point determination.The characteristics of the subjects in both groups were not statistically different (p>0.05). There was a significant difference in sFlt1 level between SPE group and control group (3,827±471 pg/mL and 2,708±441 pg/mL subsequently; p<0.05). There were significant association between sFlt1 level and systolic blood pressure (p=0.042; p<0.05 ); between sFlt1 level and diastolic blood pressure (p=0.041; p<0.05); and between sFlt1 level and degree of proteinuria (p=0.012; p<0.05). The cut-off point of sFlt1 level to differentiate SPE from normal pregnancy was 2,815 pg/mL with sensitivity of 97.1%, specificity 42% and accuracy of 69.6%.There is statistically significant difference of sFlt1 level in SPE compared to normal pregnancy. Significant association is noted between sFlt1 level and systolic and diastolic blood pressure, as well as degree of proteinuria. The cut-off point of sFlt1 level is 2,815 pg/mL.Keywords: sFlt1, severe preeclampsia, blood pressure, proteinuria DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v41n3.241