Articles

IMUNODIAGNOSTIK PENYAKIT KUSTA Mudatsir, Mudatsir
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 6, No 2 (2006): Volume 6 Nomor 2 Agustus 2006
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2049.006 KB)

Abstract

Abstrak.  Respon  imun pada penyakit  kusta  sangat kompleks    yaitu  melibatkan    imunitas    seluler  dan humoral.    Sebagian    besar  gejala  dan  komplikasi     penyakit   ini   disebabkan   oleh   reaksi  imunologi terhadap  antigen  yang  ditimbulkan    oleh Mycobacterium   leprae.   Ada   tiga   cara  perneriksaan    kusta secara  serologi   yaitu  Pemeriksaan    MLPA  (Mycobacterlum  leprae particle angglutination,    ELISA (Enzyme   Linked   Immuno-Sorbent Assay) dan  pemeriksaan    Mycobacterium leprae dipstick (ML dipstick).   Pemeriksaan    MLPA   menggunakan     antigen   polisakarida     sintetik    yang   sesuai    dengan phenolic  glycolipid-I (PGL-1).   Pada Perneriksaan  ELISA  untuk  mengukur   kadar antibodi    terhadap basil    kusta   seperti   antibodi   PGL-1,   antibodi    anti   protein   35k.D dan  lain-lain.     Sedangkan    pada pemeriksaan    ML   dipstick   ditujukan    untuk    mendeteksi     antibodi     IgM   yang   spesifik   terhadap Mleprae. (JKS 2006;3:109-116)Kata   Kunci:   lmunodiagnostik,    ELISA,  MLPA,  ML dipstick,  kusta;Imunodiagnostic,   ELISA,  MLPA,  ML dipstick,leprosy
MANAJEMEN PENGELOLAAN OBAT-OBATAN DI INSTALASI FARMASI RUMAH SAKIT BANDA ACEH DALAM MENGHADAPI BENCANA GEMPA BUMI Yunita, Fitria; Imran, Imran; Mudatsir, Mudatsir
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 16, No 2 (2016): Volume 16 Nomor 2 Agustus 2016
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (62.533 KB)

Abstract

Abstrak. Manajemen pengelolaan obat-obatan dirumah sakit dalam menghadapi bencana gempa bumi masih belum maksimal dan masih menjadi masalah dalam penerapannya terutama dalam tahap seleksi, perencanaan, pengadaan, penyimpanan, pendistribusian dan pengawasan obat. Dalam kondisi normal Instalasi Farmasi Rumah Sakit bertanggungjawab dalam menyediakan obat-obatan yang dibutuhkan dalam jumlah cukup dengan biaya yang serendah-rendahnya. Dalam kondisi bencana, buffer stock yang telah disediakan dapat digunakan untuk menghadapi korban bencana gempa bumi.Penelitian ini dilakukan pada tiga rumah sakit yaitu Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin, Rumah Sakit Umum Daerah Meuraxa dan Rumah Sakit Ibu dan Anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui manajemen pengelolaan obat-obatan Instalasi Farmasi Rumah Sakit Banda Aceh dalam menghadapi bencana gempa bumi. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Responden pada penelitian ini adalah Wakil Direktur, Bagian Perencanaan, Pejabat Pengadaan dan Kepala Instalasi Farmasi Rumah Sakit. (JKS 2016; 2: 80-86)Kata Kunci: Pengelolaan Obat, Instalasi Farmasi Rumah Sakit, buffer stock, Gempa  Bumi, Bencana.Abstract. Management of medicines at the hospitals to facing the earthquake disaster still noy up and still be problems in implementation, especially at phases: selection, planning, procurement, storage, distribution and controlling of medicines. This study aims to determine the management of medicines in Hospital Pharmacy Installation Banda Aceh in the face of the earthquake. This study aims to recognize the management of medicines to facing the earthquake disaster for Banda Aceh. This study was conducted at three hospitals in Banda Aceh. This research is a qualitative research. Respondents in this study were people involved in the management of medicines in hospitals. This research was conducted in December 2015 through February 2016. Sources of data in this study was obtained through primari and secondary data. Data collectors with in-depth interviews. (JKS 2016; 2: 80-86)Keywords:Medicines Management, Installation Pharmacy of Hospital, Earthquakes
PERANCANGAN RAPID DENGUE ASSESSMENT FORM BAGI PETUGAS SURVEILANS PUSKESMAS KOTA BANDA ACEH Maya, Diana; Mudatsir, Mudatsir; Ismail, Nizam
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 16, No 2 (2016): Volume 16 Nomor 2 Agustus 2016
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (75.835 KB)

Abstract

Abstrak.Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah suatu penyakit febris-virus akut yang disebabkan oleh virus dengue yang dibawa oleh nyamuk aedes aegypti betina lewat air liur gigitan saat menghisap darah manusia.  Saat ini DBD merupakan penyakit endemik di Kota Banda Aceh yang dipantau melalui Penyelidikan Epidemiologi (PE) terhadap DBD dilakukan oleh tim surveilans puskesmas dengan menggunakan formulir PE dan formulir kejadian luar biasa (W1) dan wabah (W2). Namun pelaporan dan pencatatan terkendala oleh terbatasnya pengisian terhadap penderita.Pada formulir PE hanya mencantumkan pencatatan terhadap komunitas tanpa mempertimbangkan lokasi penderita mendapatkan gejala awal terhadap gigitan nyamuk dan kemungkinan tindakan medis lainnya.Tujuan penelitian ini adalah merancang suatu formulir pencatatan dan pelaporan Rapid Dengue Assessment Form yang dapat mengakomodir kebutuhan penghitungan cepat bila terjadinyanya kasus KLB DBD. Penelitian kualitatif ini menggunakan metode research dan development melalui metode deskriptif dengan proses induktif.  Metode pengumpulan data melalui FGD pada kelompok surveilans epidemiologi, promosi kesehatan.(JKS 2016; 2: 99-106)Kata kunci : demam berdarah dengue, surveilans, rapid dengue assessment form, Abstract.Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is an acute febric viral disease caused by dengue virus carried by female Aedes aegypty mosquito through saliva while sucking human blood. Nowadays, DHF is an endemic disease in Banda Acehthat investigated with Epidemicological investigation againts DHF done by primary health centre surveillance  team by using Epidemiological Investigation Form and Outbreak or Epidemic Form. But the reporting and the recording constrained by the limited filling to individuals. Epidemiological investigations form only lists the recording of the community without considering where the person obtain the initial symtoms of mosquito bites and the posibility of other medical action. The purpose of the research is to design a form  for recording and reporting Rapid Dengue Assessment form that accommodate the need of quick count when DHF outbreak occurs. This qualitative research use Research and Development method through descriptive method with inductive process. Respondents are primary health care surveillance staffs consists of epidemiological surveillance, health promotion, environmental health and general preactitioner. (JKS 2016; 2: 99-106)Keywords : Dengue Hemorrhagic Fever, Surveillance, Rapid Dengue Assessment Form
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN, PENDIDIKAN DAN SIKAP DENGAN PARTISIPASI IBU RUMAH TANGGA DALAM PENCEGAHAN WABAH DBD DI KECAMATAN KUTA ALAM BANDA ACEH Liza, Ayong; Imran, Imran; Mudatsir, Mudatsir
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 15, No 3 (2015): Volume 15 Nomor 3 Desember 2015
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (83.575 KB)

Abstract

Abstrak. Di Indonesia penyakit DBD masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia yang belum dapat ditanggulangi. Sampai dengan bulan November 2011, kasus DBD di Indonesia telah mencapai 124,811 (IR: 57,51/100.000 penduduk) dengan 403 kematian (CFR: 1,02%). Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Banda Aceh dari Bulan Januari sampai Juni 2013 jumlah kasus DBD tertinggi di Kecamatan Kuta Alam yaitu 32 Kasus. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan, pendidikan dan sikap dengan partisipasi ibu rumah tangga dalam pencegahan DBD di Kecamatan Kuta Alam Banda Aceh. Desain penelitian ini merupakan penelitian analitik kuantitatif dengan pendekatan cros sectional. Populasi adalah seluruh ibu rumah tangga yang tinggal di Kecamatan Kuta Alam Banda Aceh dengan jumlah sampel 206 orang. Penelitian menunjukkan bahwa bahwa pada kelompok ibu rumah tangga yang menyatakan salah satu anggota keluarganya pendidikan yang tinggi mempunyai hubungan yang sangat baik terhadap peningkatan partisipasi ibu rumah tangga dalam pencegahan wabah DBD di Kecamatan Kuta Alam Banda Aceh (85,7%) selanjutnya diikuti oleh pengetahuan yang baik (68,3%) dan sikap yang positif (64,2%). Penelitian menyimpulkan bahwa terdapat hubungan tingkat pendidikan, pengetahuan dan Sikap dengan partisipasi ibu rumah tangga dalam pencegahan  wabah DBD di Kecamatan Kuta Alam Banda Aceh.Kata Kunci: Pengetahuan, pendidikan, sikap, partisipasi ibu, demam berdarah dengue Abstract. In Indonesia, dengue disease still becomes one of public health problems in Indonesia that has not been overcome. Until November 2011, dengue fever cases in Indonesia reached 124.811 (IR: 57.51 / 100,000 population) with 403 deaths (CFR: 1.02%). Based on the data from the Health Office in Banda Aceh from January to June 2013, the highest number of dengue cases was in Kuta Alam sub-district that is 32 cases. The purpose of the Research was to determine the relationship between level of knowledge, education and attitude with the participation of housewives in the prevention of dengue fever outbreak in Kuta Alam sub-district, Banda Aceh. This study design is a quantitative analytical research with cross sectional approach. The population was all housewives who live in Kuta Alam sub-district, Banda Aceh with the number of sample were 206 people. Research showed that higher education has a very good connection to the increasing the participation of housewives in the prevention of dengue fever outbreak in Kuta Alam sub-district, Banda Aceh (85.7%) followed by a good knowledge (68.3%) and a positive attitude (64, 2%). The study concluded that there is a relationship between the level of education, knowledge and attitude with the participation of housewives in the prevention of dengue fever outbreak in Kuta Alam sub-district, Banda Aceh.Keywords: Knowledge, education, attitude, the participation of mothers, dengue fever
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TERJADINYA INFEKSI KUSTA Mudatsir, Mudatsir
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 10, No 2 (2010): Volume 10 Nomor 2 Agustus 2010
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1969.795 KB)

Abstract

Abstrak.  Program pemberantasan kusta di dunia telah berjalan Jebih dari 20 tahun terakhir, namun kasus insiden kusta baru tidak menurun. Dengan kata lain penularan penyakit kusta masih terus terjadi di rnana- mana. Sampai dengan saat ini manusia masih  diyakini  sebagai sumber penularan Mycobacterium leprae yang utama, terutama pada penderita kasus tipe lepromatosa yang sangat infeksius. Banyak    faktor yang mempengaruhi  terjadinya  penularan penyakit  kusta seperti  lamanya kontak,  keeratan  hubungan,  status imunitas, status gizi, sosial ekonomi, genetik, hygiene  dan sanitasi lingkungan, serta mempunyai beberapa cara penularan. Cara penularan yang utama adalah melalui kontak dengan penderita kusta (kontak antar kulit, kontak intim, kontak berulang-ulang). Mycobacterium leprae dari penderita kusta terutama penderiita kusta tipe MB masuk ke dalam tubuh seseorang melalui saluran pemafasan. (JKS2010;2:99-104)Kata Kunci: Mycobacterium leprae, kusta, inhalasi, kontakAbstract.   The program to eradicate leprosy in the world has been taken for the last 20 years, but the incidence of new leprosy cases do not. decline yet. In other words, the transmission of leprosy is still occurring everywhere.  Up  today, humans are still  believed to be a  major source infection  of  Leprae Mycobacterium, particularly on the patients with lepromatous type of cases that are· extremely infectious. There-are many factors that influence the occurrence of leprosy transmission, such as the length of contact, closeness of relationship, immune status, nutritional status, socio-economic, genetic, hygiene and sanitation environment. There are several modes of leprosy transmission. The main mode of transmission is through contact with people that have leprosy (contact between the skin, intimate contacts, contacts repeatedly). Leprae  Mycobacterium  from  leprosy patients  especially patients  with MB  leprosy  type  would  infect someone through the respiratory tract. (JKS 2010;2:99-104)Keywords: Leprae Mycobacterium, leprosy, inhalation, contact
HUBUNGAN KESIAPSIAGAAN DOKTER PUSAT KESEHATAN MASYARAKAT KOTA BANDA ACEH DENGAN MOTIVASI PENANGANAN PASIEN KECELAKAAN LALU LINTAS Syahrizal, Syahrizal; Mutiawati, Endang; Mudatsir, Mudatsir; Imran, Imran; Syahrul, Syahrul; Mulyadi, Mulyadi
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 16, No 3 (2016): Volume 16 Nomor 3 Desember 2016
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (488.101 KB)

Abstract

Abstrak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kesiapsiagaan dokter pusat kesehatan masyarakat kota Banda Aceh dengan motivasi penanganan pasien kecelakaan lalu lintas. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain cross sectional. Populasinya adalah seluruh dokter umum yang ada di Pusat Kesehatan Masyarakat wilayah Kota Banda Aceh, dengan jumlah sampel 30 orang. Hasil penelitian ini menunjukkan, tingkat kesiapsiagaan dokter berdasarkan parameter pengetahuan berada pada kategori sangat siap dengan 56,7% responden, tingkat kesiapsiagaan dokter berdasarkan parameter sikap dengan 91,2% responden termasuk dalam kategori sangat siap, tingkat kesiapsiagaan dokter diukur berdasarkan parameter rencana tanggap darurat sebanyak 66,7% responden termasuk dalam kategori sangat siap, tingkat kesiapsiagaan dokter berdasarkan parameter sumber daya mendukung sebanyak 63,3% responden termasuk dalam  kategori sangat siap dan 93,3% responden memilki motivasi kuat dan hubungan kesiapsiagaan dengan motivasi  penanganan pasien kecelakaan  lalu lintas menunjukkan hubungan yang sedang dan berpola positif (p 0,001).(JKS 2016; 3: 153- 160)Kata kunci : Kesiapsiagaan,  motivasi, dokter,  parameter,  pasien Abstract. This aims of this study is to determine the relationship of physician preparedness in Banda Aceh public health centers (Puskesmas) with the motivation in handling traffic accident patients. This study is an analytic observational study with cross sectional design. The population is all of the general practitioners from the public health centers (Puskesmas) Banda Aceh, with the number of 30 people. The result of this study shows the level of physician?s preparedness based on knowledge is very prepared with 56,7% respondents, the level of physician?s preparedness based on attitude, there are 91,2% respondents included in the category of very prepared. The level of physician?s preparedness based on emergency plan is very prepared  with 66,7% respondents, the level of physician?s preparedness based on resource support is very prepared  with 63,3% respondents and 93,3% respondents have strong motivation and the relationship of physician preparedness with the motivation in handling traffic accident patients show showed a moderate relationship and positive pattern (p 0,001). (JKS 2016; 3: 153- 160)Keywords:Preparedness,motivation, doctor, parameter, patients 
PROFLL NARAKONTAK SERUMAH PENDERITA KUSTA DI PUSKESMAS TALANGO KABUPATEN SUMENEP, JAWA TIMUR TAHUN 2005 Iswahyudi, Iswahyudi; Mudatsir, Mudatsir
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 6, No 3 (2006): Volume 6 Nomor 3 Desember 2006
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (347.534 KB)

Abstract

Abstrak,  Narakontak   kusta  adalah   kelompok    paling  berisiko    terjangkitnya   kusta  dan  kelompok ini  belum  dimasukkan   dalam   program   pemberantarasan    penyakit  kusta.  Penelitian   ini bertujian untuk  mendapatkan profil narakontak   serumah  kusta  meliputi   umur, jenis  kelarnin,   lama  kontak, tipe   kusta   sumber    penular    serta   status    hubungan    keluarga.    Penelitian    ini    menggunanakan rancangan   deskriptif   menggunakan    studi  cross sectional. Populasi   penelitian   adalah   narakontak.. serumah  penderita  kusta  dan  pengambilan   sampel  dilakaukan  dengan  cara systematic random danhasil  penelitian   dianalisis  secara  deskriptif.  Hasil  penelitian  menunjukkan    bahwa  kelompok  umur rata-rata   narakontak   39,2  ±  17,24  tahun,      narakontak   paling  banyak  perempuan,  rata-rata   lama kontak   dengan  penderita   kusta    2  tahun,   narakontak   serumah   dengan  penderita   kusta   tipe  MB paling   banyak   dan  status   hubungan   narakontak.  bukan   anggota   keluarga   inti   paling    banyak. (JKS 2006,· 3:117-124) Kata K1111cl: Narakontak serumah, kusta, Mycobacterium leprae Abstract.  Household  contacts  of leprosy  patients  are the group  with the highest  risk of developing the disease,   and although  many  risk or prevention   factors  have been identified,   they  have not been employed   in  leprosy-monitoring    programs.  This  study  aims to obtain  a profile  household   contacts of  leprosy  include  age,  sex, duration  of contact,  type of leprosy  transmission   source  and  status  of family  relationships.   This  study  used  a descriptive   design   using   cross  sectional   study.  The  study population    was   the   same   household    contacts    leprosy    patients   and   sampling    conducted    by systematic   random  and  research  results  were  analyzed  descriptively.   The  results  showed  that  the average  age group  household  contacts  ofleprosy  39.2 ± 17.24 years,  household   contacts  ofleprosy most   of  the  women,   the  average   length   of  contacts   with  leprosy   patients   2  years,  household contacts  with   MB leprosy  patients   most  and  relationship    status  was  not a member  of family  themost.  (JKS 2006; 3:117-124) Keywords:Household contacts, leprosy,Mycobacteriumleprae
Terapi Bermain Terhadap Tingkat Kecemasan Pada Anak Usia 3–5 Tahun Yang Berobat Di Puskesmas Peukan Baro Noverita, Noverita; Mulyadi, Mulyadi; Mudatsir, Mudatsir
Jurnal Ilmu Keperawatan Vol 5, No 2 (2017): Jurnal Ilmu Keperawatan (JIK)
Publisher : Jurnal Ilmu Keperawatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (789.949 KB)

Abstract

AbstrakKecemasan merupakan perasaan yang paling umum yang dialami anak saat berobat ke fasilitas pelayanan kesehatan. Kecemasan yang sering dialami seperti menangis, dan takut pada orang baru. Respon kecemasan anak tergantung dari tahapan usia anak. Kecemasan anak akibat stress yang ditimbulkan dari situasi saat menjalani pengobatan akan berdampak terhadap tingkat kooperatif anak terhadap pengobatan dan perawatan yang diberikan apabila tidak diatasi salah satunya dengan terapi bermain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi bermain terhadap tingkat kecemasan anak usia 3-5 tahun yang berobat di Puskesmas Peukan Baro Kabupaten Pidie. Penelitian berjenis kuantitatif ini didesain dalam bentuk quasi experiment melalui pendekatan pre-post test design without controlling yaitu kecemasan diukur sebelum dan sesudah diberikan terapi bermain. Penelitian dilaksanakan dari tanggal 26 Juni sampai dengan 29 Juli 2016 di Poliklinik Anak Puskesmas Peukan Baro Kabupaten Pidie. Jumlah sampel yang didapat sebanyak 75 anak. Hasil pengolahan data dianalisa dengan menggunakan statistik non parametrik yaitu Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kecemasan pada anak 3–5 tahun sebelum dilakukan terapi bermain dengan mean (2,87), median (3) dan standar deviasi (0,342). Tingkat kecemasan pada anak 3–5 tahun sesudah dilakukan terapi bermain dengan mean (2,39), median (3) dan standar deviasi (0,695). Hasil uji Wilcoxon Signed Rank Test menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan tingkat kecemasan anak antara sebelum dilakukan terapi bermain dengan sesudah  dilakukan terapi bermain di Puskesmas Peukan Baro Kabupaten Pidie dengan nilai p. Value 0,000. Saran peneliti bagi perawat dan pihak Puskesmas untuk dapat meningkatkan mutu pelayanan asuhan keperawatan pada anak yang berobat di puskesmas, dengan meningkatkan perhatian dan memberikan terapi bermain sesuai dengan tahap perkembangan anak serta menyediakan sarana bermain sehingga anak-anak akan merasa aman dan nyaman selama dalam perawatan. Kata Kunci : Kecemasan, Terapi Bermain, anak usia 3–5 tahun Abstract Concepts of attitude, subjective norms, and perceived behavior control in the Theory of Planned Behavior considered to have significant correlation to VCT uptake’s intention. This study aimed to identify determinants factors of voluntary and counseling testing uptake’s intention among HIV/AIDS risk groups in Lhokseumawe. This was an analytic with cross-sectional study on 97 respondents selected through accidental sampling technique among five HIV/AIDS risk groups consists of Men who have sex with men, Female sex workers, Transsexual, Bikers, and Prisoners, conducted from January 18 to February 13, 2016 in Lhokseumawe. Data were collected using questionnaire. The results by binary logistic regression test showed that determinant factor of VCT uptake’s intention was subjective norms (Exp (β)=0.054; p-value=0.001) and TPB explained the variability in VCT uptake’s intention by 21.6% (Nagelkerke R Square=0.216). Therefore it concluded that the Theory of Planned Behavior could  identify determinant factor of Voluntary Counseling and Testing uptake’s intention with subjective norms as its main determinant. The counselors and field personals  should assemble with the target group’s significant in order to improve the program success associated to the Voluntary Counseling and Testing service use. Key Words: HIV/AIDS Risk groups, The Theory of Planned Behavior, Voluntary Counseling and Testing uptake’s Intention.
PENGGUNAAN DARAH KADARLUARSA SEBAGAI MEDIA ISOLASI DAN IDENTIFIKASI STREPTOCOCCUS FAECALIS Mudatsir, Mudatsir
Jurnal Biologi Edukasi Vol 2, No 1 (2010): Jurnal Biologi Edukasi
Publisher : Jurnal Biologi Edukasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (49.347 KB)

Abstract

Efforts to find microbes in microbiological examination of material are carried out by means of isolation and identification of microorganisms from the examination material. Isolation was carried out using culture medium. Use a medium for the isolation and identification are closely related with one of Koch's postulates, that is causing the infection must be cultured in the laboratory. Research on the use of expired blood as a medium of isolation and identification of Streptococcus pyogenes has been performed. The aim study is to determine the viability of the colony and the size of the zone of hemolysis of Streptococcus pyogenes in the blood as a medium expired. Materials use is expired blood 1, 2, 3 and 4 weeks. Isolation procedures and identification of Streptococcus pyogenes include Gram stain, type of hemolysis, catalase test, and test basitrasin. The results showed the blood expired before four weeks show the number of colonies was almost the same viability with sheep blood agar medium and large blood hemolysis zone are also nearly equal to expire so that the blood of sheep prior to 4 weeks. Thus the blood is exceeded before the 4 weeks can be used as media for the isolation and identification of Streptococcus pyogenes
UJI MIKROBIOLOGI AIR SUMUR GALI BERDASARKAN SUMBER PENCEMAR DI DESA LIMPHOK DAN BEURABUNG KECAMATAN DARUSSALAM, ACEH BESAR Mudatsir, Mudatsir
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 10, No 1 (2010): Volume 10 Nomor 1 April 2010
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2378.35 KB)

Abstract

Abstrak,  Air merupakan materi yang esensial  bagi kehidupan manusia dan tidak dapat diganti dengan materi yang lain.  Air juga  merupakan salah  satu sarana dan  media  yang baik untuk penyebaran berbagai  macam penyakit. Penelitian ini  bertujuan untuk menguji air sumur  air sumur  terhadap cemaran   Escherichia   coli  berdasarkan sumber pencernar. Sampel dalam penelitian  ini sebanya 30 sampel  yang diambil secara purposive sampling.  Metode pemeriksaan air yang digunakan adalah MPN(Most Probable Number) seri  15 tabungyang terdiri dari tiga tahap,  yaitu uji pendugaan, uji konfirmatif dan uji lengkap.  Data dianalisis secara deskriptif daJam bentuk table.  Hasil anaJisis  data diperoleh bahwa angka MPN sangat bervariasi muJai  dari angka MPN tertinggi yaitu 1600  E.  coli/JOO ml air  diternukan ditemukan  pada sampel  nomor 5,   sedangkan angka MPN terendah yaitu 4 E. coli/109 air pada sampel nomor 10 dan 26.  Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa kontaminasi air sumur dengan E.coli  berhubungan dengan sumber pencemar seperti septik tank, jarak sumur dengan Iimbah, tempat sampah, kandang ternak dan lantai sumur yang tidak memenuhi syarar sumur yang baik.  (JKS 2010,·3:9-JB)Kata Kunci: Tes mikrobiologi,  air bersih, E.  coli, Most Probable  Number  (MPN)Abstract. Water is an essential material for human life and can not be replaced with another material. Water is also one of the facilities to medium for the spread of various diseases. This study aims to test the well water well water against  Escherichia  coli  contamination based sources of pollution.  The sample in this study 30 samples taken by purposive  sampling.  The method used is the examination of water MPN (Most Probable Number) series 15  tubes -consists  of three stages, namely  prediction test, konvirmative test and complete  test. Data were analyzed  descriptively  in the form of tables.  Results of data analysis  found that the MPN numbers are very varied from the highest MPN numbers 1600 E. coli/100 ml water is found is found in the sample  number 5,  while the lowest MPN coli/100 ml water on the sample  number l O  and 26. Based on the results of data analysis can be concluded  that tho contamination of water wells with E. coli associated with the sources of pol1ution such as septic tanks, the distance  of  wells with sewage,  garbage,  cattle sheds  and  floor wells  that  do  not  meet the requirements of good wells. (JKS 2010;3:9-18)Kata Kunci: Microbiology test, well water. E.  coli, Most Probable  Number (MPN).