Achmad Mulyadi
Jurusan Syari’ah STAIN Pamekasan, Jl. Raya Panglegur km. 04 Pamekasan

Published : 9 Documents
Articles

Found 9 Documents
Search

PEREMPUAN MADURA PESISIR MERETAS BUDAYA MODE PRODUKSI PATRIARKAT Mulyadi, Achmad
JURNAL KARSA (Terakreditasi No. 80/DIKTI/Kep/2012) Vol 19, No 2 (2011): Islam, Budaya dan Perempuan
Publisher : STAIN PAMEKASAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak:Dalam rumah tangga,  perempuan memberikan semua pelayanan untuk suami, anak-anak, dan anggota keluarga lainnya dan di luar rumah tangga, laki-laki mengendalikan dan membatasi peran publik perempuan. Fenomena ini oleh mode produksi patriarkat yang merugikan kaum perempuan. Peran perempuan dibatasi pada tugas-tugas domestik, yaitu sekitar “sumur, dapur dan kasur”. Peran ini dianggap sebagai hal ideal bagi seorang perempuan. Walau masih berakar kuat pada sebagian masyarakat, paradigma ini mulai ditolak seiring dengan gerakan emansipasi wanita. Sebagaimana yang terjadi pada masyarakat Branta Pesisir, keterlibatan istri nelayan mereka dalam wilyah publik sudah mentradisi secara turun tenurun. Tulisan ini mengekplorasi bagaimana mereka menabrak ortodoksi dan menakar realitas dengan meretas budaya produksi patriarkat. Kata kunci: peran, relasi, suami-istri, dan patriarkatAbstract:In the family, a woman contributes her whole potencies to her husband, children, and the other family members, on the other hand, a man takes controll and limits the public role of woman. Sylvia Walby name this phenomena as patriarchal-production mode that disservice the woman. The role of woman has been measured up by domestic jobs, it goes around bathroom, cooking room, and bed room. These roles are considered ideal for woman. This paradigm is deep-rooted in certain community, however, at the present time this has been resisted by woman emansipation movement. This article is based on the study at Baranta Pasisir women and  about to explore the role of fishermen’s wives in public domain. They demonstrate how they hit orthodox beliefs and mete the reality out by taking apart  the patriarchal-cultural products. Key words:dynamics, relation, husband-wife, patriarchat
KONSTRUKSI BARU METODOLOGI STUDI HUKUM ISLAM: Perpaduan Antara Inferensi Tektual dan Historis (Sosial-Empirik-Kultural) Mulyadi, Achmad
JURNAL KARSA (Terakreditasi No. 80/DIKTI/Kep/2012) Vol 10, No 2 (2006): Model-Model Pendekatan Studi Islam
Publisher : STAIN PAMEKASAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak : Hukum Islam bisa dipahami sebagai kelanjutan logis atau produk jadi dari metodologi studi hukum Islam. Ketika hukum Islam "dianggap" tidak relevan dengan realitas empiris di masyarakat, maka yang patut dikaji adalah metodologi yang digunakan. Banyak para pemerhati hukum Islam menyatakan bahwa salah satu kelemahan mendasar dari cara berpikir dan pendekatan yang ada dalam metodologi studi hukum Islam saat ini adalah coraknya yang tekstualistik dan bersifat sui generis. Karena itu, perlu kontruksi baru metodologi studi hukum Islam sebagai pengembangan metodologi studi hukum Islam yang ada. Tulisan ini akan mengelaborasi secara detail tawaran (konstruksi) baru metodologi studi hukum Islam yang bercorak historis (sosial-empirik kulturak) dan bersifat sui generis-kum-empiris denga mengunakan pendekatan  Integralistik. Kata Kunci: Metodologi, Tekstual, Historis (Sosial-Empirik-Kultural) dan Integralistik
Memaknai Praktik Tradisi Ritual Masyarakat Muslim Sumenep Mulyadi, Achmad
Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi Vol 1, No 2: Juni 2018
Publisher : Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (480.476 KB)

Abstract

THIS -- paper seeks to reveal the meaning of tradition in the Muslim’s ritual in Sumenep Madura which is understood as a local or popular ritual, associated with the determination of the calendar in Islam. This ritual, when expressed and understood in practice, is always based on the popularization of calendar names in local-based Islam with certain insights and meanings. With this deductive-inductive explorative approach, this paper explain to three popular ritual praxis of the Sumenep Madurese. Firstly, the practice of the death ritual that was intended as a repentance to God for self and “al-marhum”, ties the brotherhood, and effective for Islamic preaching. Secondly, the ritual practice of “Peret Kandung” is a ritual of the first pregnancy for husband and wife entering the seventh month which is meant as a symbol of purification, so that the born child will survive and truly become sholeh child who boast of parents. Third, “sonat ritual” is a continuation of initiation ritual in Sumenep only for boys which is meant as a ritual as well as dawah media for islamization.
PEREMPUAN MADURA PESISIR MERETAS BUDAYA MODE PRODUKSI PATRIARKAT Mulyadi, Achmad
KARSA: Jurnal Sosial dan Budaya Keislaman Islam, Budaya dan Perempuan
Publisher : STAIN Pamekasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (131.426 KB) | DOI: 10.19105/karsa.v19i2.66

Abstract

Abstrak:Dalam rumah tangga,  perempuan memberikan semua pelayanan untuk suami, anak-anak, dan anggota keluarga lainnya dan di luar rumah tangga, laki-laki mengendalikan dan membatasi peran publik perempuan. Fenomena ini oleh mode produksi patriarkat yang merugikan kaum perempuan. Peran perempuan dibatasi pada tugas-tugas domestik, yaitu sekitar “sumur, dapur dan kasur”. Peran ini dianggap sebagai hal ideal bagi seorang perempuan. Walau masih berakar kuat pada sebagian masyarakat, paradigma ini mulai ditolak seiring dengan gerakan emansipasi wanita. Sebagaimana yang terjadi pada masyarakat Branta Pesisir, keterlibatan istri nelayan mereka dalam wilyah publik sudah mentradisi secara turun tenurun. Tulisan ini mengekplorasi bagaimana mereka menabrak ortodoksi dan menakar realitas dengan meretas budaya produksi patriarkat. Kata kunci: peran, relasi, suami-istri, dan patriarkatAbstract:In the family, a woman contributes her whole potencies to her husband, children, and the other family members, on the other hand, a man takes controll and limits the public role of woman. Sylvia Walby name this phenomena as patriarchal-production mode that disservice the woman. The role of woman has been measured up by domestic jobs, it goes around bathroom, cooking room, and bed room. These roles are considered ideal for woman. This paradigm is deep-rooted in certain community, however, at the present time this has been resisted by woman emansipation movement. This article is based on the study at Baranta Pasisir women and  about to explore the role of fishermen’s wives in public domain. They demonstrate how they hit orthodox beliefs and mete the reality out by taking apart  the patriarchal-cultural products. Key words:dynamics, relation, husband-wife, patriarchat
RELASI LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN (Menabrak Tafsir Teks, Menakar Realitas) Mulyadi, Achmad
Al-Ihkam, Jurnal Hukum dan Pranata Sosial Vol 4, No 1 (2009)
Publisher : APHI (Islamic Law Researcher Association) & STAIN Pamekasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (111.018 KB) | DOI: 10.19105/ihkam.v4i1.262

Abstract

The term of gender has been perceived as man-womandifferentiation. The distinction is appeared due to culturalreality constructed by society. This concept is opposed to sex,which differentiate the terms of man-woman biologically.Thus, the difference in sex is a God construction, and cannotbe restudied. On the other hand, the difference in gender is asocial construction and it can be restudied (qabilun lin niqasy).Therefore, a gender concept on man-woman relation is alwaysdebatable in terms either in text study or in its reality contextin the society. This article elaborates the establishment of manwomanrelation from the text perspective, culturalconstruction and its reality today.
RELASI LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN (Menabrak Tafsir Teks, Menakar Realitas) Mulyadi, Achmad
Al-Ihkam, Jurnal Hukum dan Pranata Sosial Vol 7, No 2 (2012)
Publisher : APHI (Islamic Law Researcher Association) & STAIN Pamekasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.737 KB) | DOI: 10.19105/ihkam.v7i2.327

Abstract

Istilah jender dianggap sebagai diferensiasi pria-wanita.Perbedaan ini muncul karena realitas budaya yang dibangunoleh masyarakat. Konsep ini bertentangan dengan seks, yangmembedakan istilah pria-wanita secara biologis. Dengandemikian, perbedaan seks adalah konstruksi Allah, dan tidakdapat dikaji kembali. Di sisi lain, perbedaan jender adalahkonstruksi sosial dan dapat dikaji kembali (qâbil li al- niqasy).Oleh karena itu, konsep relasi pria-wanita selaludiperdebatkan dalam hal baik dalam studi teks atau dalamkonteks realitas di masyarakat. Artikel ini menguraikanpembentukan relasi pria-wanita dari perspektif teks,konstruksi budaya dan hari ini realitasnya. Dalam konteks ini,banyak tafsiran terhadap teks-teks sumber hukum Islam (al-Qur`an dan al-Hadits) justru menguatkan budaya patrilineal.Tradisi yang bias jender ini mengakar kuat dalam masyarakat.Walaupun demikian, hal yang tidak bisa diingkari adalahperubahan realitas. Saat ini mulai tampak bahwa peran-peranyang secara budaya dikonsepsikan untuk laki-laki justrudilakukan oleh perempuan. Fenomena ini merupakan wujudperubahan realitas, yang akan memunculkan budaya baruyang egaliter.
AKURASI ARAH KIBLAT MASJID-MASJID DI KABUPATEN PAMEKASAN Mulyadi, Achmad
NUANSA: Jurnal Penelitian Ilmu Sosial dan Keagamaan Islam Vol 10, No 1 (2013)
Publisher : STAIN PAMEKASAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (528.836 KB) | DOI: 10.19105/nuansa.v10i1.163

Abstract

Arah kiblat menjadi salah satu syarat sahnya shalat, namun demikian syarat ini seringkali tidak dipedulikan oleh masyarakat. Pembangunan tempat ibadah (masjid) semestinya dilengkapi dengan penentuan arah kiblat, yang terbagi dalam dua cara. Pertama, mengikuti arah kiblat masjid atau musholla yang ada terlebih dahulu. Cara ini akan mengakibatkan penentuan arah kiblat yang salah apabila arah masjid dan musholla yang diikuti juga salah. Kedua, menghadap ke barat dengan asumsi bahwa arah kiblat identik dengan arah barat. Signifikansi penelitian ini secara teoritis adalah mendeskripsikan akurasi arah kiblat masjid-masjid di Kabupaten Pamekasan. Penelitian ini secara metodologis bersifat eksploratif-kualitatif, sehingga penggalian data dalam penelitian ini diperoleh dari hasil wawancara, observasi, konsep-konsep, dan dokumendokumen yang berhasil dihimpun, baik dari buku, majalah, buletin, website dan data-data pendukung lainnya yang dianalisis secara kualitatif dan triangulatif. Hasil penelitian dapat ditemukan beberapa hal sebagai berikut: pertama, data koordinat astronomis masjid-masjid ditemukan, bahwa Lintang Masjid di kabupaten Pamekasan berkisar antara 7º 05’ 03” LS sampai 7º 13’ 11” LS dan Bujur Masjid 113º 27’ 20.0” BT sampai 113º 33’ 55.0” BT. Kedua, Arah kiblat masjid-masjid di kabupaten Pamekasan berkisar antara BU: 23º 48’ 0” sampai 23º 52’ 0” UB: 66º08’ 0 ” sampai 66º12’ 0 ” UTSB:293º 48’ 0” sampai 293º52’ 0”. Hal itu menunjukkan, bahwa deviasi derajat arah kiblat masjid di kabupaten Pamekasan berkisar 3 derajat, apabila dikonversi pada jarak kilometer, akan didapatkan penyimpangan arah kiblat dari ka’bah ke masjid-masjid tersebut berkisar 452.3 kilometer.
Pemikiran Al-Khawarizmi dalam Meletakkan Dasar Pengembangan Ilmu Astronomi Islam Mulyadi, Achmad
International Journal Ihya' 'Ulum al-Din Vol 20, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ihya.20.1.2782

Abstract

The progress of Islamic civilization is inseparable from the influence of the emergence and rapid development of Islamic astronomy. Islam leads the world civilization and breaks the record as the longest-running civilization lasting more than 14 centuries. At this time, astronomical activities in the Islamic world began to develop intensively. This condition cannot be separated from the role of al-Khwarizmi who made a very valuable contribution. The construction of his thinking which was based on mathematical astronomy made him the foundation of the development of Islamic astronomy, in addition to its development of the geocentric theory of Aristotle and Ptolemy. This is the real contribution of al-Khwarizmi that is very large and fundamental in the heyday of medieval Islam which eventually became the starting point of the scientific development and subsequent Muslim astronomers to date. The emergence of various observatories and planetariums which made observations with more modern tools finally gave birth to many new theories in the study of world astronomy. This study explores al-Khwarizmi's role in the growth and development of astronomy in his time to the present.
KALENDER RITUAL MASYARAKAT MUSLIM SUMENEP MADURA Mulyadi, Achmad
NUANSA: Jurnal Penelitian Ilmu Sosial dan Keagamaan Islam Vol 9, No 1 (2012)
Publisher : STAIN PAMEKASAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (414.619 KB) | DOI: 10.19105/nuansa.v9i1.24

Abstract

Masyarakat Sumenep Madura memiliki dan menggunakan sistem kalender dalam mengagendakan atau mengenang aktifitas kesehariannya secara unik. Pengunaan kalender tersebut biasanya dikaitkan dengan aktifitas ritualitas, yang mereka lakukan seperti ritual pernikahan, khitan, membangun bangunan (rumah, musalla, atau masjid), mengenang wafatnya seorang Kyai, rokat tase’ dan lain-lain. Karena itu, adanya pemilihan masyarakat Sumenep Madura atas kalender tersebut dikaitkan dengan ritualitas ’populer’ tertentu menjadi menarik untuk dikaji dan ditelusuri khususnya menyangkut sistem kalender yang digunakan dan perbandingannya dengan kalender hijriyah serta faktor lain yang menyebabkan masyarakat untuk selalu mengunakannya. Secara metodologis, karena penelitian ini bersifat Eksploratif-Kualitatif, maka penggalian data dalam penelitian ini diperoleh dari hasil wawancara, observasi, konsep-konsep dan dokumen-dokumen yang berhasil dihimpun baik dari kitab, buku, majalah, buletin, website dan data-data pendukung lainnya yang dianalisis secara kualitatif dan trianggulatif. secara metodologis, penentuan kalender muslim Sumenep didasarkan pada hisab ‘urfi, yang penentuannya hanya berdasarkan data tetap dengan cara menambah lima pada hari yang sudah diketahui. Kalender ritual tahunan masyarakat Sumenep, pada praktiknya, dikenal dikenal 6 bulan baik dan 6 bulan yang jelek atau semua bulan baik, hanya saja diantara bulan tersebut ada waktu baik dan ada waktu jelek. Dilihat dari segi baik-jeleknya bulan, bulan-bulan yang kategori baik adalah bulan sabel, takepe’, poasa, jumadil laher, rejjeb,dan rasol. Sedangkan bulan yang terkategori jelek adalah bulan sora, sappar, molod, jumadil lawel, rebbe dan reaje.