Articles

Found 13 Documents
Search

DAMPAK PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN INDUSTRI Acacia crassicarpa DI LAHAN GAMBUT TERHADAP TINGKAT KEMATANGAN DAN LAJU PENURUNAN PERMUKAAN TANAH Lisnawati, Yunita; Suprijo, Haryono; Poedjirahajoe, Erny; Musyafa, Musyafa
Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 22, No 2 (2015)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1.84 KB)

Abstract

Pembangunan hutan tanaman di lahan gambut tidak terlepas dari sorotan isu negatif lingkungan terkait dengan penurunan kedalaman muka air tanah, sehingga terjadi perubahan ekosistem asli. Kegiatan reklamasi lahan untuk HTI Acacia crassicarpa dalam jangka panjang disinyalir akan menimbulkan dampak negatif terhadap perubahan karakteristik tanah gambutnya seperti tingkat kematangan dan laju penurunan permukaan tanah gambut (subsiden). Kajian mengenai dampak pembangunan HTI di lahan gambut terhadap tingkat kematangan dan laju subsiden perlu dilakukan untuk memberikan informasi mengenai kondisi exsisting daya dukung lahannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat kematangan gambut baik secara vertikal (berdasarkan kedalaman gambut) maupun secara horizontal (berdasarkan jarak dari bibir kanal) dan mengetahui laju subsiden sebagai dampak dari reklamasi lahan gambut menjadi HTI A. crassicarpa. Penelitian dilakukan di PT AA, Distrik Rasau Kuning, Kabupaten Siak, Riau. Plot penelitian ditempatkan dalam satu transek sepanjang 100 m yang dibuat tegak lurus dengan kanal tersier, terdapat 12 plot dan dalam satu transek terdapat 3 titik pengamatan sehingga total titik pengamatan adalah 36 titik. Parameter yang diamati adalah dinamika kedalaman muka air tanah, nilai kadar serat tanah gambut dan laju subsiden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dampak perubahan kedalaman muka air tanah gambut di lokasi penelitian hanya mempengaruhi tingkat kematangan gambut pada kedalaman kurang dari 2 m, sedangkan jarak kanal tersier sebesar 125 m tidak berpengaruh secara nyata terhadap tingkat kematangan gambut. Pada kedalaman kurang dari 2 m tingkat kematangan gambut lebih tinggi dibandingkan dengan lapisan di bawahnya. Pembangunan HTI A. crassicarpa di lokasi penelitian menyebabkan laju subsiden sebesar rata-rata 5,5 cm/tahun. 
KAJIAN KOMUNITAS RAYAP AKIBAT ALIH GUNA HUTAN MENJADI AGROFORESTRI DI TAMAN NASIONAL LORE LINDU, SULAWESI TENGAH Zulkaidhah, Zulkaidhah; Musyafa, Musyafa; Soemardi, Soemardi; Hardiwinoto, Suryo
Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 21, No 2 (2014)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1.84 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji komunitas rayap akibat alih guna hutan dan hubungannya dengan faktor lingkungan. Penelitian dilaksanakan dari bulan Desember 2011 sampai Juni 2013. Dilaksanakan di wilayah Taman Nasional Lore Lindu di sekitar Desa Rahmat, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi. Pengamatan rayap dilakukan dengan menggunakan metode transek. Parameter yang diamati adalah parameter lingkungan, iklim mikro, sifat fisik dan kimia tanah. Total diversitas rayap yang ditemukan adalah 20 spesies, yang terdiri dari 15 spesies pada hutan primer, 15 spesies pada hutan sekunder dan 8 spesies pada agroforestri. Biomassa pohon tertinggi pada hutan primer (620,91 Mg/ha), nekromas dan jumlah seresah tertinggi pada hutan sekunder yaitu masing-masing 8,22 Mg/ha dan 19 Mg/ha. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa alih guna hutan menjadi agroforestri diikuti oleh perubahan komunitas rayap. Suhu tanah dan suhu udara meningkat setelah alih guna hutan.
HUBUNGAN KEDEKATAN EKOLOGIS ANTARA FAUNA TANAH DENGAN KARAKTERISTIK TANAH GAMBUT YANG DIDRAINASE UNTUK HTI Acacia crassicarpa Lisnawati, Yunita; Suprijo, Haryono; Poedjirahajoe, Erny; Musyafa, Musyafa
Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 21, No 2 (2014)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1.84 KB)

Abstract

Pengelolaan lahan gambut untuk pengembangan HTI Acacia crassicarpa diawali dengan pembuatan saluran drainase dan pembukaan lahan (land clearing) yang kemudian dilanjutkan dengan penyiapan lahan untuk penanaman, sedangkan kegiatan pemeliharaan meliputi pemberantasan gulma dengan menggunakan herbisida dan pemupukan. Kegiatan pengelolaan dan pemeliharaan tentunya mempunyai dampak bagi kondisi ekologis lahan gambut. Perubahan kondisi ekologis terjadi karena perubahan lahan yang selanjutnya berpengaruh terhadap kelimpahan dan keragaman fauna tanah.Kelimpahan dan keragaman fauna tanah serta fungsi ekosistem menunjukkan hubungan yang sangat kompleks dan belum banyak diketahui dengan pasti. Kecenderungan fauna tanah untuk memilih suatu habitat dipengaruhi oleh beberapa faktor lingkungan baik biotik maupun abiotik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji kedekatan ekologis antara karakteristik tanah gambut yang didrainase untuk HTI A. crassicarpa dengan kelimpahan fauna tanahnya. Penelitian dilakukan di HTI lahan gambut  PT. Arara Abadi, Distrik Rasau Kuning, Kabupaten Siak, Riau.  Pengambilan sampel fauna tanah dengan metode pencuplikan contoh tanah yang berukuran 25 x 25 x 25 cm3, pemisahan fauna tanah dengan tanah dilakukan dengan menggunakan modifikasi corong barlese.  Parameter yang diamati adalah kelimpahan dan keragaman fauna tanah, kematangan gambut (C/N), kadar air gambut, dan kedalaman muka air tanah gambut. Untuk menilai kedekatan ekologis digunakan analisis hirarki.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelimpahan fauna tanah tertinggi terdapat pada tegakan A. crassicarpa umur 2 tahun. Keragaman jenis fauna tanah di lokasi penelitian termasuk melimpah sedang dengan nilai H’ 1,2. Formicidae berpotensi sebagai bioindikator kelembaban tanah gambut yang rendah yang dicirikan dengan kandungan kadar air yang rendah dan mempunyai tingkat kematangan gambut yang lebih tinggi. Entomobryidae berpotensi sebagai bioindikator kadar air yang tinggi dan mempunyai tingkat kematangan yang masih rendah.
RESPON SEMUT TERHADAP KERUSAKAN ANTROPOGENIK DALAM HUTAN LINDUNG SIRIMAU AMBON Latumahina, Fransina; Musyafa, Musyafa; Sumardi, Sumardi; Putra, Nugroho Susetya
Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 22, No 2 (2015)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1.84 KB)

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengkaji respon semut terhadap kerusakan habitat akibat kehadiran manusia dalam hutan lindung Sirimau Ambon. Penelitian dilaksanakan dari bulan Juni 2011 hingga Juli 2012. Respon semut diketahui dengan pendekatan kekayaan, kelimpahan, keragaman, frekuensi dan tanggap fungsional terhadap kerusakan antropogenik dalam hutan lindung melalui metode line transect. Parameter tambahan yang diamati adalah faktor iklim mikro, sifat fisik dan kimia tanah. Hasil penelitian menemukan 23 spesis semut, 16601 individu, kelimpahan spesis tertinggi sebesar 0,158, frekuensi 32,44 % dan indeks keragaman sebesar 2,92 yang tergolong sedang. Kelompok fungsional semut terbagi menjadi kelompok oppurtunist (1 spesis), generalized myrmicinae (1 spesis), specialis predator (4 spesis), tropical climate specialis (6 spesis), dominant dolichoderinae (4 spesis), subordinate camponitini (6 spesis) dan criptic species (4 spesis). Faktor antropogenik yang menyebabkan kerusakan habitat hutan lindung yakni pembukaan wilayah hutan, penebangan pohon, pembakaran hutan, perladangan berpindah dan pembangunan fisik akibatnya terjadi fragmentasi dan degradasi habitat yang diikuti dengan ketidakseimbangan lingkungan dan komponen ekosistem.
PENYEBARAN SEMUT PADA HUTAN LINDUNG SIRIMAU KOTA AMBON Latumahina, Fransina Sarah; Musyafa, Musyafa; Sumardi, Sumardi; Putra, Nugroho Susetya
Bumi Lestari Journal of Environment Vol 14 No 2 (2014)
Publisher : Environmental Research Center (PPLH) of Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (47.149 KB)

Abstract

The experiment was conducted at residential areas Sirimau forest with three sampling methods,which were hand collecting, bait trap (sugar and tuna) and pitfall traps from July to September2011. The study aims to determine diversity of ants in residential areas in Ambon SirimauProtected Forest areas. The results of study found 16 species of ants in total reaching 14.913.The most dominant types are Odontoponera denticulata, Pheidole megacephala,Technomyrmex albipes, Tetramorium simillimum, Tetramorium bicarinatum, Tapinomamelanocephalum, Paratrechina longicornis and Anoplolepis gracilipes. Total diversity ofants is 2.789 classified as moderate by spread of number of individual spread and of communitystability. The diversity of ants is strongly influenced by light intensity, temperature, humidity,wind, water and season. Difference of temperature micro, light climate, humidit, interspecificcompetition, availability of variety of food sources, habitat quality and human activities alsoaffect the diversity of ants. Another finding showed invasive ants, they were Soleonopsisgeminate, Paratrechina longicornis and Anoplolepis gracilipes.
Uji Toksisitas Ekstrak Daun Nicolaia atropurpurea Val. Terhadap Serangga Hama Spodotera litura Fabricus (Lepidoptera: Noctuidae) Asmaliyah, Asmaliyah; Sumardi, Sumardi; Musyafa, Musyafa
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 7, No 5 (2010): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.33 KB) | DOI: 10.20886/jpht.2010.7.5.253-263

Abstract

Nicolaia atropurpurea (Zingiberaceae) secara tradisional telah digunakan oleh masyarakat lokal untuk melindungi tanaman budidaya dan hutan tanaman dari serangan hama. Namun penggaliannya secara ilmiah terhadap potensinya sebagai sumber insektisida nabati belum pernah diteliti, sehingga sejauh mana toksisitas ekstrak daun N. atropurpurea ini belum diketahui secara pasti. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk tujuan tersebut. Penelitian ini dilakukan dalam 2 tahapan percobaan, yaitu: Percobaan 1, pengujian cara ekstraksi dan jenis pelarut yang digunakan terhadap toksisitas ekstrak daun N. atropurpurea dengan metode kontak. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 ulangan. Perlakuan terdiri dari 6 taraf konsentrasi. Percobaan 2, pengujian toksisitas (nilai LC50 dan LC95 ) ekstrak etil asetat daun N. atropurpurea dengan metode kontak. Percobaan menggunakan RAL dengan 3 ulangan. Perlakuan terdiri dari 6 taraf konsentrasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun N. atropurpurea yang diaplikasikan dengan metode kontak bersifat toksik terhadap larva Spodoptera litura instar ketiga. Ekstrak yang paling toksik dihasilkan dari ekstraksi maserasi bertingkat dengan menggunakan pelarut etil asetat dengan nilai LC50 dan LC95 sebesar 0,18% dan 0,54%.
PENGARUH PENAMBAHAN SERAT IJUK DAN KAWAT BENDRAT PADA PAVING BLOCK Ananda, Faisal; Musyafa, Musyafa; Zarina, Zarina; Suhairi, Suhairi
INOVTEK POLBENG Vol 6, No 2 (2016): INOVTEK VOL.6 NO 2 - 2016
Publisher : INOVTEK POLBENG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (80.761 KB)

Abstract

Abstrak Paving block merupakan salah satu alternatif pengganti perkerasan rigid yang ada. Khususnya di daerah yang mempunyai kekuatan struktur tanah labil. Pada penelitian ini mencoba untuk memberikan keragaman komposisi dengan menambahkan ijuk dan kawat bendrat, mengingat paving block yang ada hanya terdiri komponen struktur semen dan pasir. Komposisi penambahan ijuk bernilai 2%, 4%, 6% dan 8% terhadap berat semen yang di tuangkan ke dalam 2/3 cetakan paving block, dan penambahan kawat bendrat 1, 2 dan 3 gulungan yang diletakkan pada 1/3 ketinggian paving block. Komposisi campuran semen dan pasir 1 : 11.  Penambahan kawat ijuk sebesar 6% dengan 2 gulung kawat bendrat menghasilkan kekuatan maksimal sebesar 2,325 MPa atau selisih 501,65% dari paving block normal. Kata kunci : Paving block, serat ijuk,  kawat bendrat
IbM TENUN AQILA DAN LUMINTU Musyafa, Musyafa; Ismanto, Hadi
JURNAL PENGABDIAN AL-IKHLAS UNIVERSITAS ISLAM KALIMANTAN MUHAMMAD ARSYAD AL BANJARY Vol 3, No 2 (2018): AL-IKHLAS JURNAL PENGABDIAN
Publisher : JURNAL PENGABDIAN AL-IKHLAS UNIVERSITAS ISLAM KALIMANTAN MUHAMMAD ARSYAD AL BANJARY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.487 KB)

Abstract

Troso's weaving product as a heritage of Troso village ancestors has so far spread and expand rapidly to all parts of Indonesia and become one of the economic support of Jepara society in general and society of Troso village in particular. However, with the strategic role, there are still obstacles in its empowerment. As the problems faced by both partners are UMKM Aqila Weaving and UMKMLumintu. Devotion to the implementation of science and technology for this community wants to overcome the problems faced by both partners are aspects of management, production, and marketing.The solutions offered are as follows: 1). Preparation of administrative system, 2). Added non-machine loom (ATBM) with anchors, and 3). Providing online marketing facilities. The method of implementation is done by stages of administration and productivity improvement. With the expertise and expertise of the implementing team, this community service will succeed
PENINGKATAN KAPASITAS PRODUKSI UMKM ARANG KAYU JEPARA Pebruary, Silviana; Fuad, Eko Nur; Arifin, Samsul; Musyafa, Musyafa
ABDIMAS UNWAHAS Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Wahid Hasyim Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/abd.v3i2.2500

Abstract

Jepara merupakan salah satu daerah yang menjadi produsen arang kayu. Program pengabdian kepada masyarakt dengan skema Program Pengembangan Produk Ekspor (PPPE) ini bekerjasama dengan UMKM mitra yang memproduksi arang kayu yaitu Pirates dan Golden Black. Permintaan produk kedua UMKM mitra berasal dari Timur Tengah, Australia dan paling banyak dari Eropa. Namun permintaan dari negara-negara Eropa sering tidak terpenuhi karena berbagai kendala yang dihadapi mitra. Pada tahun pertama kedua mitra sudah diberikan alat produksi yang diharapkan dapat menambah kepasitas produksi berupa pembangunan tungku pembakaran arang. Akan tetapi kedua mitra juga belum bisa memenuhi semua permintaan karena masih adanya kendala dalam aspek produksi yaitu belum dimilikinya alat pengering yang dapat dioperasikan dalam segala cuaca dan memiliki kapasitas yang besar. Oleh karena itu pada tahun kedua program ini memberikan tambahan alat produksi berupa oven untuk proses pengeringan arang setelah melalui tahap pencetakan. Selanjutnya dilihat dari aspek manajemen, kedua UMKM belum memahami dan mengaplikasikan sistem administrasi perpajakan, oleh karena itu tim pengabdi memberikan pelatihan administrasi perpajakan. Diharapkan setelah dilaksanakannya program pengabdian pada tahun kedua ini, UMKM mitra dapat meningkatkan kapasitas produksi sehingga dapat memenuhi permintaan yang ada serta pemilik UMKM sadar akan pajak yang harus dibayarkan oleh setiap wajib pajak yang nantinya sebagai kontribusi dalam menciptakan keadilan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara merata.?Kata Kunci : Arang Kayu, UMKM, Produk Ekspor, Jepara?
KERAGAMAN JENIS RAYAP PADA HUTAN SEKUNDER DAN AGROFORESTRI DI TAMAN NASIONAL LORE LINDU, SULAWESI TENGAH Zulkaidhah, Zulkaidhah; Musyafa, Musyafa; Soemardi, Soemardi; Hardiwinoto, Suryo
Agroland: Jurnal Ilmu-ilmu Pertanian Vol 20, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (384.298 KB)

Abstract

This study aims to assess the structure and communities of termite caused by changes in land use. The research was conducted from December 2011 to January 2013, Implemented in Lore Lindu National Park area around the village of grace Palolo Sub district, Sigi Regency. The observation of termites was conducted using transect method. Parameters observed were environmental parameters, soil physical and chemical characteristics. The total diversity of termite species found was 15. Diversity of trees, nekromas, and the amount of litter that is higher in secondary forest than in agroforestry cause soil water content and moisture become higher in secondary forests and there fore contributes toan increase in soil organic matter content. Key Words : Agroforestry, diversity of  termite, forest use change, secondary forest.