Astriana Napirah
Halu Oleo University

Published : 15 Documents
Articles

Found 15 Documents
Search

EFEKTIVITAS SINKRONISASI ESTRUS DAN FERTILITAS SPERMATOZOA HASIL SEXING PADA SAPI BALI DI SULAWESI TENGGARA (EFFECTIVENESS OF ESTRUS SYNCHRONIZATION AND SPERMATOZOA FERTILITY RESULTS OF SEXING ON BALI CATTLE IN SOUTHEAST SULAWESI) Saili, Takdir; Nafiu, La Ode; Baa, La Ode; Rahadi, Syam; Napirah, Astriana; Syamsuddin, Syamsuddin; Sura, I Wayan; Lopulalan, Febiang
Jurnal Veteriner Vol 18 No 3 (2017)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (99.005 KB) | DOI: 10.19087/jveteriner.2017.18.3.353

Abstract

Estrus synchronization is one of the reproduction technology applied in the cows that aim to induce estrus of some cows to occur in the same time. In this research, all cows expressing estrus would be inseminated using sexed sperm that produced using column albumen method. Sexing sperm technology could be applied to produce the desired sex of calf. Effectivity of chilled sexed sperm to produce the desired sex of calf was evaluated in this research. Sixty three bali cows divided into 2 groups of ages (3-4 yo. and 5- 6 yo.) were used and performed synchronization using Capriglandin (PGF2a) hormone prior to application of artificial insemination with chilled sexed sperm. Variable measured were success rate of synchronization, estrus post synchronization, estrus quality, non return rate, conception rate and calving rate. The results showed that 62.90% of cows showed estrus following synchronization, estrus post synchronization occurred at 71.73 hours following synchronization, and estrus quality was 2.5%. There were 82.54% of inseminated cows was predicted to be pregnant after first insemination using chilled sexed sperm. However, only 73.02% could maintain the pregnancy up to calving. Whereas 78.26 % of newborn calf was male calf. Finally, it was concluded that PGF2a was effective to trigger estrus in bali cows, while sexed sperm still had good fertility and the sex of newborn calf was 78,26% confirmed the prediction. ABSTRAK Sinkronisasi estrus merupakan salah satu teknologi reproduksi yang diterapkan pada ternak sapi betina dengan tujuan untuk mendapatkan sejumlah ternak yang estrus secara bersamaan. Pada penelitian ini ternak yang mengalami estrus tersebut diinseminasi menggunakan spermatozoa yang telah melalui proses sexing menggunakan metode kolum albumen. Teknologi sexing spermatozoa memungkinkan untuk mengatur kelahiran anak ternak sesuai jenis kelamin yang diinginkan. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi efektivitas penggunaan semen cair hasil sexing dalam memproduksi anak sapi dengan jenis kelamin yang diinginkan. Sapi bali induk sebanyak 63 ekor yang dibagi ke dalam dua kelompok, umur 3-4 tahun dan 5-6 tahun digunakan sebagai akseptor pada penelitian ini. Sebelum inseminasi buatan (IB) dilakukan, semua sapi akseptor disinkronisasi menggunakan hormon Capriglandin (PGF2a). Variabel yang diamati adalah keberhasilan sinkronisasi, estrus pascapenyerentakan birahi, kualitas estrus, non return rate, conception rate dan calving rate. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 62,90% sapi mengalami estrus setelah sinkronisasi dengan rataan waktu munculnya estrus 71,73 jam dan kualitas estrus 2,5. Sapi yang diprediksi bunting setelah inseminasi pertama dengan semen hasil sexing mencapai 82,54%. Jumlah sapi yang mampu mempertahankan kebuntingan hingga melahirkan hanya 73,02% dengan persentase jumlah anak sapi jantan yang dilahirkan mencapai 78,26%. Simpulan yang dapat diperoleh dari hasil penelitian ini adalah PGF2a cukup efektif merangsang munculnya estrus pada sapi bali induk dan spermatozoa hasil sexing masih mempunyai daya fertilitas yang cukup baik dengan tingkat kesesuaian jenis kelamin anak sapi yang dilahirkan mencapai 78,26%.
PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG KUNYIT (CURCUMA DOMESTICA VALET) DALAM PAKAN TERHADAP PERFORMA PERTUMBUHAN, KANDUNGAN LEMAK, DAN KOLESTEROL, DAGING PUYUH (COTURNIX COTURNIX JAPONICA) JANTAN Napirah, Astriana; (Supadmo), Supadmo; (Zuprizal), Zuprizal
Buletin Peternakan Vol 38, No 2 (2014): BULETIN PETERNAKAN VOL. 38 (2) JUNI 2014
Publisher : Faculty of Animal Science, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (800.447 KB) | DOI: 10.21059/buletinpeternak.v38i2.5009

Abstract

Artikel dalam bentuk PDF
EFEK PEMBERIAN MINYAK KELAPA SAWIT TERPROTEKSI DALAM RANSUM TERHADAP KADAR GLUKOSA DALAM DARAH AYAM KAMPUNG SUPER Batara, Vidya; Tasse, Andi Murlina; Napirah, Astriana
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis Vol 4, No 1 (2017): JITRO, Januari
Publisher : Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (41.831 KB)

Abstract

 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar glukosa dalam darah ayam kampung super yang diberi ransum tersuplementasi minyak kelapa sawit terproteksi. Sebanyak 64 ekor ayam kampung super dibagi dalam 16 petak kandang berdasarkan rancangan acak kelompok dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan yang dicobakan P0= (60% jagung + RK-24AA+), P1= (P0+ 3% minyak kelapa sawit terproteksi), P2 = (P0+ 6% minyak kelapa sawit), P3= (P0+ 9% minyak kelapa sawit terproteksi).  Ternak percobaan dikelompokkan berdasarkan bobot badan awal yaitu K1= 100 -110 g, K2 = 111-120 g, K3= 121 - 130 g, dan K4= 131 - 140 g. Data yang diperoleh dianalisis mengunakan analisis ragam. Jika perlakuan berpengaruh nyata maka dilanjutkan dengan uji wilayah berganda duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian minyak kelapa sawit terproteksi dalam ransum tidak memberikan pengaruh nyata (P>0,05) terhadap kadar glukosa dalam darah ayam kampung super umur 5 minggu.  Rataan kadar glukosa darah yaitu 317,3±24,6 mg/dl untuk P0, 302,0±28.5 mg/dl untuk P1, 309,0±33,1 mg/dl untuk P2, dan 292,8±25,6 mg/dl untuk P3. Dapat disimpulkan bahwa penambahan minyak kelapa sawit terproteksi dengan taraf 3,6, dan 9% dalam ransum tidak memberikan pengaruh nyata terhadap kadar glukosa dalam darah ayam kampung super pada fase pertumbuhan tetapi mampu menghasilkan kadar glukosa dalam kisaran normal.  Kata kunci : Minyak Kelapa Sawit Terproteksi, Kadar Glukosa, Ayam    Kampung   Super.
EFEK PENINGKATAN SERAT KASAR DENGAN PENGGUNAAN DAUN MURBEI DALAM RANSUM BROILER TERHADAP PERSENTASE BOBOT SALURAN PENCERNAAN Has, Hamdan; Napirah, Astriana; Indi, Amiluddin
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis Vol 1, No 1 (2014): JITRO, September
Publisher : Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (99.097 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh peningkatan serat kasar dengan penggunaan daun murbei terhadap persentase bobot saluran pencernaan broiler. Seratus ekor DOC (day old chick) broiler, daun murbei, cairan rumen dan bahan pakan lainnyadigunakan dalam penelitian dengan rancangan acak lengkap 5 perlakuan yaitu T0 (kontol), T1 (penggunaan 10% daun murbei), T2 (10% daun murbei fermentasi), T3 (20% daun murbei) dan T4 (20% daun murbei fermentasi) serta 4 ulangan. Parameter yang diamati berupa persentase bobot saluran pencernaan (tembolok, proventrikulus, gizzard, hati, pangkreas, usus halus, sekum). Hasil penelitian  menunjukan peningkatan serat kasar dengan 10% dan 20% daun murbei (fermentasi dan tidak fermentasi) tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap bobot tembolok, proventiculus, hati dan pangkreas. Tetapi berpengaruh nyata (P<0,05) meningkatkan bobot gizzard pada taraf 20% murbei dibanding kontrol, perlakuan 10% dan 20% berpengaruh nyata (P<0,05) meningkatkan bobot usus halus (doudenum, jejenum, ileum) dan sekum  dibanding kontrol. Perlakuan fermentasi dan tanpa fermentasi tidak menunjukan perbedaan untuk semua parameter. Peningkatan serat kasar ransum dapat mempengaruhi bobot saluran pencernaan terutama gizzard, usus halus dan sekum. Kata kunci: Serat Kasar, Daun Murbei, Saluran Pencernaan
PENGARUH PEMBERIAN SARI BELIMBING WULUH (Averrhoa bilimbi L.) TERHADAP PERFORMA BURUNG PUYUH (Coturnix coturnix japonica) UMUR 2-6 MINGGU Malinda, Uci; Pagala, Muhammad Amrullah; Napirah, Astriana
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis Vol 4, No 3 (2017): JITRO, September
Publisher : Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (134.763 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian sari belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) terhadap performa burung puyuh (Coturnix coturnix japonica) umur 2-6 minggu. Materi yang digunakan daalm penelitian ini yaitu 80 ekor burung puyuh periode starter dan grower yang dipelihara selama 5 minggu. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan. Level pemberian sari belimbing wuluh masing-masing perlakuan yaitu 0%, 0,25%, 0,50%, 0,75% dan 1,00%. Parameter yang diamati adalah konsumsi pakan, konsumsi air minum, pertambahan bobot badan dan konversi pakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian sari belimbing wuluh tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap konsumsi pakan, pertambahan bobot badan dan konversi pakan burung puyuh, namun memberikan pengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap konsumsi air minum burung puyuh. Kata Kunci: Burung Puyuh, Sari Belimbing Wuluh, Performa
PENGARUH LAMA PENYIMPANAN TERHADAP FERTILITAS DAN DAYA TETAS TELUR AYAM KAMPUNG PERSILANGAN Napirah, Astriana; Has, Hamdan
Prosiding Seminar Nasional Riset Kuantitatif Terapan 2017 Vol 1, No 1 (2017): Seminar Nasional Riset Kuantitatif Terapan 2017
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Riset Kuantitatif Terapan 2017

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (637.058 KB)

Abstract

Salah satu upaya optimalisasi produktivitas ayam kampung adalah melalui persilangan dengan ayam petelur. Penelitian ini bertujuan untuk melihat fertilitas, daya tetas dan mortalitas telur yang dihasilkan dari persilangan antara  pejantan ayam kampung dengan betina layer strain lohmann brown. Seratus butir telur tetas dibagi dalam 4 perlakuan dan 5 ulangan berdasarkan rancangan acak lengkap. Perlakuan yang dicobakan adalah lama penyimpanan telur yang berbeda, yaitu 1 hari (P0), 3 hari (P1), 5 hari (P2), dan 7 hari (P4). Variabel yang diamati adalah fertilitas, daya tetas, dan mortalitas telur. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis ragam dilanjutkan dengan uji wilayah berganda duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama penyimpanan mempengaruhi (P<0,05) fertilitas, daya tetas dan mortalitas telur. Penyimpanan telur selama 3 hari sebelum penetasan memperlihatkan fertilitas dan daya tetas paling tinggi, masing-masing 76±5,4% dan 79,2±5,8%, serta mortalitas paling rendah yaitu 20±1,1%. Dapat disimpulkan bahwa dalam usaha penetasan, penyimpanan telur tetas persilangan ayam kampung dengan ayam petelur lohmann brown sebaiknya tidak melebihi jangka waktu 3 hari, agar diperoleh hasil penetasan yang optimal.Kata kunci—Fertilitas Telur, Daya Tetas, Mortalitas, Ayam Kampung, Ayam Petelur
PENINGKATAN NILAI TAMBAH USAHA TERNAK SAPI TERINTEGRASI DENGAN USAHA TANI PERKEBUNAN KELAPA DI DESA RAMBU-RAMBU KECAMATAN KOLONO TIMUR KABUPATEN KONAWE SELATAN Sani, La Ode Arsad; Saidi, La Ode; Syamsuddin, Syamsuddin; Nasiu, Firman; Napirah, Astriana
JURNAL PengaMAS (Pengabdian Kepada Masyarakat) Vol 3, No 1 (2020)
Publisher : UNIVERSITAS KHAIRUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/pengamas.v3i1.1453

Abstract

Desa Rambu-Rambu merupakan salah satu desa di Kecamatan Kolono Timur yang masuk dalam daftar ?Wilayah Kawasan Perdesaan Prioritas Nasional? di Kabupaten Konawe Selatan Provinsi Sulawesi Tenggara berdasarkan Lampiran Surat Direktur Riset dan Pengabdian Masyarakat Kemenristekdikti Nomor: 2276/E3/LL/2018 tertanggal 24 Juli 2018. Kecamatan Kolono Timur merupakan wilayah pesisir yang potensial untuk pengembangan komoditas perkebunan kelapa dan peternakan sapi sehingga dipilih menjadi lokasi penempatan KKN PPM yang didanai oleh Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristekdikti pada tahun 2019. Jarak tempuh lokasi KKN-PPM di Desa Rambu-Rambu Kecamatan Kolono Timur dengan Ibu Kota Kabupaten Konawe Selatan sekitar 92 km, dan berjarak sekitar 74 km dari Kampus Universitas Halu Oleo di Kendari.Mata pencaharian masyarakatnya selain beternak sapi adalah berkebuntanaman kelapa, jambu mete, kakao, cengkeh, kopi, lada, dan pala. Perkebunan kelapa paling luas, yaitu 323 Ha, sedangkan perkebunan dengan luas areal terkecil adalah tanaman cengkeh, yaitu 6 Ha. Kegiatan peternakan, khusunya ternak sapi dianggap sesuai dengan kondisi iklim setempat karena adanya dukungan ketersediaan hijauan pakan ternak, walaupun masih mengandalkan sumber pakan dari hijauan rumput alami. Ternak sapi oleh masyarakat sekitar telah diternakkan dalam waktu yang cukup lama, namun kegiatan ini secara umum masih berjalan secara tradisional dan belum berorientasi bisnis sebagai sumber pendapatan utama karena pengetahuan dan keterampilan peternak masih terbatas. Beberapa kendala yang menjadi keluhan peternak mitra dan berhasil diidentifikasi adalah: (1) organisasi kelompok belum berjalan baik, (2) pemahaman teknik budidaya ternak sapi belum optimal,(3) Feses ternak tidak diolah lebih lanjut menjadi pupuk organik, (4) Kelompok peternak mitra belum melakukan upaya diversifikasi beragam jenis pakan yang memenuhi standar baku mutu seperti penyediaan pakan berbasis sumberdaya bahan pakan lokal,khususnya sisa usahatani hasil perkebunan.  Adanya program KKN PPM ini melalui penyuluhanserta praktek didampingi tim pengabdi maka peternak sudah lebih memahami pentingnya wadah kelompok ternak, peternak paham teknik membudidayakan ternak sapi yang terintegrasi tanaman perkebunan kelapa, terampilmembuat kandang ternak sapi, danmembuat pakan jerami fermentasi maupun dalam pengolahan pupuk organik berbasis feses sapi.
IMBANGAN PROTEIN DAN ENERGI BERBEDA DALAM RANSUM PUYUH FASE GROWER TERHADAP KONSUMSI PAKAN, PERTAMBAHAN BOBOT BADAN, DAN KONVERSI RANSUM Napirah, Astriana; Has, Hamdan; Nafiu, La Ode; Bain, Ali; Saili, Takdir
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis Vol 5, No 2 (2018): JITRO, Mei
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.775 KB) | DOI: 10.33772/jitro.v5i2.5188

Abstract

ABSTRAK             Kandungan energi dan protein pakan merupakan faktor yang mempengaruhi kualitas pakan dan performans produksi ternak. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh imbangan energi dan protein berbeda dalam ransum puyuh fase grower terhadap konsumsi pakan, perrtambahan bobot badan, dan konversi pakan. Seratus dua puluh DOQ disebar secara acak pada 24 unit kandang percobaan. Perlakuan yang dicobakan terdiri atas 2 level energi pakan (2700 dan 2900 kkal/kg) dan 3 level protein pakan (18, 20, dan 22%), sehingga terdapat 6 kombinasi perlakuan, yaitu R1 (2700 EM – 18% PK), R2 (2700 EM – 20% PK), R3 (2700 EM – 22% PK), R4 (2900 EM – 18% PK), R5 (2900 EM – 20% PK), dan R6 (2900 EM – 22% PK). Pakan yang dicobakan merupakan pakan self mixing. Parameter yang diamati adalah konsumi pakan, pertambahan bobot badan, dan konversi pakan puyuh umur 2 hingga 6 minggu. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis ragam dan dilanjutkan dengan uji wilayah berganda duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa imbangan energi-protein pakan berbeda tidak memberikan pengaruh (P>0,05) pada konsumsi pakan, pertambahan bobot badan, dan konversi pakan. Kombinasi energi metabolisme 2700 kkal/kg dan 18% protein sudah dapat memenuhi kebutuhan nutrisi puyuh periode grower.Kata Kunci: protein, energi, puyuh, grower   ABSTRACT             Energy and protein that contained in poultry feed is a factor that affect the feed quality and poultry production performance. This research aimed to study the effect of different energy and protein balance in quail feed on feed consumption, weight gain, and feed conversion ratio. One hundred and twenty day old quails were divided into 24 units enclosure research. The trial feed was consist of 2 levels of energy feed (2700 and 2900 kcal/kg) and 3 levels of crude protein (18, 20, and 22% CP), so that there were 6 combinations of treatments, i.e. R1 (2700 ME – 18% CP), R2 (2700 ME – 20% CP), R3 (2700 ME – 22% CP), R4 (2900 ME – 18% CP), R5 (2900 ME – 20% CP), R6 (2900 ME – 22% CP). The used feed was a self mixing feed. The observed parameters were feed consumption, body weight gain, and feed conversion ratio of quail at 2-6 weeks of age. The data obtained were analyzed using variance analysis and continued using Duncan’s multiple range test. The result showed that the balance of energy-protein in quail feed did not affect (P>0,05) feed consumption, body weight gain, and feed conversion ratio. The combination of 2700 kcal/kg metabolizable energy and 18% cruse protein could already maintain the needs of the grower period of quail nutrients.Keywords: protein, energy, quail, grower
Penggunaan Tepung Limbah Udang sebagai Bahan Pakan Sumber Protein terhadap Performa Produksi Puyuh Fase Layer (Coturnix-coturnix japonica) Has, Hamdan; Napirah, Astriana; Kurniawan, Widhi; Sandiah, Natsir
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis Vol 5, No 3 (2018): JITRO, September
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (175.134 KB) | DOI: 10.33772/jitro.v5i3.4733

Abstract

ABSTRAKLimbah udang merupakan limbah pengolahan udang yang memiliki potensi sebagai pakan sumber protein bagi ternak puyuh. Penelitian ini bertujuan mengkaji penggunaan tepung limbah udang (TLU) sebagai sumber protein pakan pada puyuh fase layer. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap empat perlakuan lima ulangan perlakuan yang digunakan terdiri dari empat level penggunaan tepung limbah udang dalam ransum yaitu P0 (kontrol), P1 (5% TLU), P2 (7,5% TLU) dan P3 (10% TLU), tiap unit perlakuan disi dengan 5 ekor puyuh. Puyuh yang diguanakan adalah puyuh fase layer umur 20 minggu, sebanyak 100 ekor yang didistribusikan kedalam 20 unit percobaan. Bahan pakan yang digunakan adalah jagung, dedak padi, konsentrat petelur dan tepung limbah udang. Data yang diperoleh dianalisis ragam dan data yang berbeda nyata (P<0,05) diuji lanjut menggunakan uji duncan. Variabel yang diamati adalah performa produksi: konsumsi pakan, produksi telur, bobot telur dan konversi ransum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan TLU dalam ransum (P1,P2 dan P3) menunjukkan pengaruh nyata (P<0,05) dibanding kontrol pada minggu ke-tiga penelitian terhadap bobot telur dan konversi ransum, penggunaan TLU (P1,P2,P3) selama lima minggu meningkatkan konsumsi ransum (P<0,05) dibanding kontrol tetapi tidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap produksi telur, bobot telur dan konversi ransum. Kesimpulan penelitian ini bahwa penggunaan TLU dalam ransum dapat digunakan hingga level 7,5% sedangkan level 10% menunjukkan adanya penurunan rata-rata performa produksi.Kata kunci: tepung limbah udang, puyuh fase layer, performa produksiABSTRACTShrimp waste was shrimp processing waste which has the potential as protein source for quail feed. This study was aimed to examine the use of shrimp waste flour (SWF) asprotein source for laying quail feed. This study used  completely randomized design that consist of four treatments and five replications.The treatmentswere using levels of shrimp waste flour in feed and consist of P0 (control), P1 (5% SWF), P2 (7.5% SWF) and P3 (10% SWF ). Each treatment unit was filled with 5 quails. One hundred of 20 weeks laying quails were used in this study. Self mixing feed that contained corn, rice bran, laying concentrate and shrimp waste flour were used in this study. The data obtained were analyzed using analyze of variance and continued using Duncan multiple range test. The variables observed were production performance that consist of feed consumption, egg production, egg weight and feed conversionratio. The results showed that the use of SWF in feed (P1, P2 and P3) showed a significant effect (P <0.05) compared to controls in the third week of research on egg weight and feed conversion ratio.The use of SWF (P1, P2, P3) for five weeks increased feed consumption (P <0.05) compared to controls but not significantly different (P>0.05) for egg production, egg weight and feed conversion. The conclusion of this study was the use of SWF in feed can be used until 7.5% on laying quail feed while the level of 10% indicates a decrease in average production performance.Keywords: shrimp waste flour, laying quail, production performance
Evaluasi Kualitas dan Karakteristik Fermentasi Silase Kombinasi Stay Green Sorghum (Sorghum bicolor L. Moench) – Indigofera zolingeriana dengan Perberbedaan Komposisi Kurniawan, Widhi; Wahyono, Teguh; Sandiah, Natsir; Has, Hamdan; Nafiu, La Ode; Napirah, Astriana
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis Vol 6, No 1 (2019): JITRO, Januari
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (203.548 KB) | DOI: 10.33772/jitro.v6i1.5551

Abstract

 ABSTRAK Ketersediaan hijauan pakan ternak haruslah memenuhi aspek kuantitas, kualitas dan kontinyuitas. Teknologi pengawetan pakan dengan membuat silase berbahan tanaman pakan yang sesuai diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pakan tersebut. Sorgum memiliki potensi sebagai bahan silase yang baik namun perlu ditingkatkan kualitasnya dengan menambahkan hijauan yang tinggi kandungan protein kasarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kualitas dan karakteristik fermentasi silase kombinasi sorgum dan leguminosa. Penelitian ini dilakukan dengan mengkombinasikan Stay green dan Indigofera zolingeriana (100:0, 60:40, 50:50, dan 40:60%) sebagai bahan silase untuk dievaluasi pH, kandungan bahan kering (BK), bahan organik(BO), protein kasar (PK) dan Nilai Fleigh. Silase dibuat dalam silo ukuran 1 liter yang difermentasi selama 21 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meningkatnya persentase Indigofera zolingerianadalam silase meningkatkan pH silase, BK, dan PK silase. Peningkatan pH tersebut berakibat pada terjadinya proteolisis pada PK silase. Penggunaan Indigofera zolingeriana dalam silase kombinasi dengan sorgum Stay green pada persentase 40% masih memungkinkan untuk memperoleh silase kombinasi yang berkualitas baik (Nilai Fleigh 70,13) dan kandungan protein kasar mencapai 15,68%. Kualitas tersebut selanjutnya akan menurun apabila persentase Indigofera zolingeriana dinaikkan walaupun kandungan protein kasar meningkat.Kata Kunci: Silase, Kombinasi, Kualitas, Evaluasi, Nilai Fleigh.ABSTRACTFeed availability has to meet quantity, quality and continuity aspect. Feed preservation technology by making silage from suitable forage plants is expected to meet these needs. Sorghum has the potential as a good silage material but needs to be improved in quality by adding other forage which have high crude protein content. This study was aimed to evaluate the quality and characteristics fermentation of sorghum and legumecombination silage. This research was conducted by combining Stay greensorghum and Indigofera zolingeriana (100: 0, 60:40, 50:50, and 40: 60% combination) as silage material to be evaluated for pH, dry matter content (DM), organic matter (OM), crude protein (CP) and Fleighpoint. Silage was made in 1 liter size silos which are fermented for 21 days. The results showed that the increasing percentage of Indigofera zolingeriana in silage could increase silage, pH, DM, and CP silage. The increase in pH resulted in proteolysis of silage protein. The added of Indigofera zolingeriana in silage combination at 40% was still possible to obtain good quality silage (Fleighpoint 70.13) and reaching 15.68% of silage CP content. The silage quality was decrease if the percentage of Indigofera zolingeriana increased, even though the silage CP content could increasesafterward.Keywords: Silage, Combination, Quality, Evaluation, Fleigh point