Articles

Found 24 Documents
Search

EFEKTIVITAS PENDEKATAN PEMBELAJARAN REALISTIK TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS V SD NEGERI TAENG KABUPATEN GOWA Nasrun, Nasrun
JKIP (Jurnal Keguruan dan Ilmu Pendidikan) Vol 3 No 1 (2016): JKIP
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7.602 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Hasil belajar siswa yang diajar dengan menggunakan pembelajaran dengan pendekatan realistik dengan pembelajaran konvensional pada siswa kelas V SD Negeri Taeng Kab. Gowa. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, pada penelitian ini akan digunakan jenis penelitian Eksperimen. Penelitian ini berlangsung selama 4 kali pertemuan. Menetapkan masing-masing siswa yang menjadi subjek penelitian ke dalam 2 kelompok, yaitu kelompok eksperimen yang diajar dengan menggunakan pendekatan realistik dan kelompok kontrol yang diajar dengan menggunakan pembelajaran konvensional. Setiap kelompok diajar dengan frekuensi pertemuan yang sama dengan materi yang sama. Hasil penelitian ini adalah pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan Realistik lebih efektif dibandingkan pembelajaran matematika dengan menggunakan pembelajaran konvensional pada siswa kelas V SD Negeri Taeng Kab. Gowa untuk pokok bahasan Pecahan.
PENGENDALIAN PENYAKIT BUDOK DENGAN FUNGISIDA DAN DETEKSI RESIDU PADA DAUN NILAM Sumardiyono, Christanti; Hartono, Sedyo; Nasrun, Nasrun; Sukamto, Sukamto
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol 9 No 3 (2013)
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.973 KB) | DOI: 10.14692/jfi.9.3.89

Abstract

Budok caused by Synchytrium pogostemonis is the important and destructive disease on patchouli plant (Pogostemon cablin). Chemical control must be done in incidence with high disease intensity and prediction of outbreak. The experiment was done using benomyl (Benlate 50 WP) and cuprous oxide (Kocide 77WP) 0.1%, 0.2% and mixture of both ( 1 g cuprous oxide and 1 g L-1 benomyl). Patchouli plant was sprayed eight times with one week interval. Harvesting was done two weeks after the end of spraying. Residue analysis of Cu was done with AAS and benomyl residue with HPLC. The result showed that 0.1% benomyl significantly reduced the disease intensity. The other treatments showed lower result. Harvested patchouli plants treated with 0.1% benomyl showed higher yield compare with 0.2% benomyl and cuprous oxyde. Cu residue in dried leaves was between 460 ppm and 950 ppm. Residue of benomyl was 54?100 ppb. Diseased seedling still can be used after spraying by benomyl four times with 2 weeks interval.
Pengaruh Phobia Matematika (Mathophobia), Motivasi Berprestasi, Perhatian Orang Tua, dan Fasilitas Belajar di Rumah terhadap Prestasi Belajar Matematika Siswa Tingkat SMP KecamatanRappocini Kota Makassar. Nasrun, Nasrun
sigma Vol 7, No 2 (2015): Model Pembelajaran Matematika 2
Publisher : sigma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini adalah penelitian “ex-post facto” yang bersifat korelasional.Masalah yang diselidiki dalam penelitian ini adalah menyelidiki pengaruh phobia matematika (mathophobia), motivasi berprestasi, perhatian orang tua, dan fasilitas belajar di rumah terhadap prestasi belajar matematika siswa tingkat SMP KecamatanRappocini Kota Makassar.Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMP Kecamatan Rappocini Kota Makassar tahun pelajaran 20015/20016 dengan teknik pengambilan sampel adalah metode stratified proporsional random sampling.  Teknik pengambilan data yang digunakan dalam penelitian ini ada dua macam, yaitu (1) dengan menggunakan tes dan (2) dengan menggunakan angket.Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan teknik analisis statistika, yaitu analisis deskriptif yang dimaksudkan untuk menggambarkan karakteristik distribusi skor dari masing-masing variabel dan analisis inferensial dengan menggunakan analisis regresi untuk pengujian hipotesis.  Hasil analisis statistika deskriptif menunjukkan bahwa skor rata-rata prestasi belajar matematika siswa tingkat SMP Kecamatan Rappocini Kota Makassar tahun pelajaran 20015/20016 adalah 51,22 dari skor ideal 100 dan termasuk dalam kategori sangat rendah dengan standar deviasi 16,153.  Skor rata-rata phobia matematika adalah 42,49 dari skor ideal 60 dan termasuk dalam kategori sedang dengan standar deviasi 7,148. Skor rata-rata motivasi adalah 43,78 dari skor ideal 60 dan termasuk dalam kategori sedang dengan standar deviasi 6,125. Skor rata-rata perhatian orang tua adalah 46.46 dari skor ideal 60 dan termasuk dalamkategori tinggi dengan standar deviasi 6,017. Skor rata-rata fasilitas belajar di rumah adalah 42,18 dari skor ideal 60 dan termasuk dalam kategori sedang dengan standar deviasi 5,679.Hasil analisis statistika inferensial menunjukkan bahwa phobia matematika, motivasi berprestasi, perhatian orang tua, dan fasilitas belajar di rumah berpengaruh terhadap prestasi belajar matematika siswa tingkat SMP kecamatan rappocini kota makassar dengan R2 = 12,5 %
Perbandingan Hasil Belajar Matematika dengan Menggunakan Dua Konsep Antara Penerapan Tipe Jigsaw dengan Pembelajaran Kontekstual pada Kelas V SD Negeri 91 Panrang Kabupaten Jeneponto Widyastuti, Widyastuti; Hafid, Hasaruddin; Nasrun, Nasrun
JKPD : Jurnal Kajian Pendidikan Dasar Vol 2, No 1 (2017): (Januari 2017)
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Univers

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan hasil belajar matematika dengan menggunakan model pembelajaran Tipe Jigsaw  dan Pembelajaran Kontekstual Pada murid Kelas V SD Negeri 91 Panrang Kabupaten Jeneponto. Penelitian ini menggunakan sampel sebanyak 30 murid pada kelas V SD Negeri 91 Panrang Kabupaten Jeneponto. Sedangkan pengambilan sampel menggunakan tehnik random sampling. Pengolahan data hasil penelitian untuk hasil tes belajar yang digunakan yaitu statistic deskriptif dan uji hipotesis menggunakan uji t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbandingan hasil belajar murid antara model pembelajaran Tipe Jigsaw dan Kontekstual. Variabel yang paling dominan mempengaruhi terhadap hasil belajar adalah Tipe Jigsaw dengan nilai koefisien sebesar 85,3 sedangkan pada model pembelajaran Kontekstual nilai rata-rata kelas yaitu 62.6 artinya apabila murid Kelas V SD Negeri 91 Panrang Kabupaten Jeneponto meningkatkan model pembelajaran Tipe Jigsaw dengan baik dan tepat, maka murid akan semakin menyimpan hasil belajar dalam memory mereka karena diferensiasi tersebut. Berdasarkan hasil perhitungan uji hipotesis dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan hasil belajar matematika murid kelas V SD Negeri 91 Panrang Kabupaten Jeneponto dengan menggunakan model pembelajaran Tipe Jigsaw dan Kontekstual, sehingga hipotesis H0 dinyatakan ditolak dan hipotesis H1 diterima. 
KEEFEKTIFAN FORMULA PSEUDOMONAS FLUORESCENS UNTUK MENGENDALIKAN PENYAKIT LAYU BAKTERI DAN MENINGKATKAN PERTUMBUHAN TANAMAN NILAM Nasrun, Nasrun; Nurmansyah, Nurmansyah
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol 12 No 2 (2016)
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.434 KB) | DOI: 10.14692/jfi.12.2.46

Abstract

Bacterial wilt disease (Rasltonia solanacearum) is an important constraint for patchouli plant. Formulated Pseudomonas fluorescens Pf19 could induce patchouli plant resistance against R. solanacearum. The aims of the present study were to find the optimal dose and application interval of formulated P. fluorescens Pf19 in order to control R. solanacearum effectively and efficiently, as well as promoting the growth and productivity of the patchouli plant. The results of effectivity test of doses (75 g L-1 and 100 g L-1) and application time intervals (every 30; 60; 90 and 120 days) showed that formulation of P. fluorescens Pf19 controlled bacterial wilt disease and increased patchouli  plant growth and production on patchouli plant in field. Doses of 100 g L-1 and application time of every 30 and 60 days had highest activity and effectivity to control bacterial wilt diseases and increase plant growth and production of patchouli plant. Incubation period was 88.0?93.5 days after planting, and disease intensity was 16.50?24.12%. The same treatments may increase the growth of patchouli plant, i.e. plant height were 59.0?68.5 cm, total number of leaves were 417.5?510.0 leaves per plant, wet weight of leaves were 234.55?263.45 g per plot and dry weight of leaves were 25.32?29.28 g per plot.
The Effectiveness of Touch / Don’t Touch Technique to Improving the Understanding of Sexual Abuse Prevention for Primary School Students Number 060885 in Medan City Nasrun, Nasrun; Nasution, Nani Barorah
Indonesian Journal of Early Childhood Education Studies Vol 5 No 1 (2016): June 2016
Publisher : Indonesian Journal of Early Childhood Education Studies

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijeces.v5i1.11273

Abstract

There are currently efforts to resolve cases of child sexual abuse in Indonesia by manage legally laws that provides penalties for those who engage in child sexual abuse cases. However it is still less attention in the education field, educational institutions have not been able to play an active role and become a shield to prevent child sexual abuse. In other words, it should be emphasized that prevention efforts have to be comprehensive, which is mean that not only done by one party (parents or relatives) only, but must be integrated with the government, community organizations, schools, professionals, who does have a concentration on growth and child development. In Indonesia, the Indonesian Child Protection Commission (KPAI) admits received many complaints of violence and sexual abuse of children, based on KPAI data that has been collected in the period January to March 2014. During those three months, there were 379 cases reported to the KPAI, one of which is sexual violence that afflicts kindergarten students at the Jakarta International School (JIS). Based on the data described above is carried out preventive measures to prevent the occurrence of child sexual abuse in the form of education and research. The research conducted by the author with the title " The effectiveness of touch / don’t touch technique to improving the understanding of sexual abuse prevention for primary school students in SDN No 060885 Medan ". This research is quasi-experimental research, using scale to collected the sexual abuse prevention understanding among elementry student. The research showed that the average value of the pre-test = 58.41 with a highest score of 77 and the lowest value of 49 and a standard deviation of 8.7, while for the data obtained posttest average value of post test = 75.30 with a highest score 89 and the lowest value of 61 and a standard deviation of 6.3. Based on the above data it can be concluded there was an increased understanding of the elementary school students grade 3 Elementary School SDN No. 060 885 of the hazards and sexual abuse. This means that by using the techniques touch / dont touch can enhance students' understanding and the prevention of sexual harassment preventive efforts
PEMANFAATAN LIMBAH KULIT PISANG BARANGAN SEBAGAI BAHAN PEMBUATAN PUPUK CAIR Nasrun, Nasrun; Jalaluddin, Jalaluddin; Herawati, Herawati
Jurnal Teknologi Kimia Unimal Vol 5, No 2 (2016): Jurnal Teknologi Kimia Unimal
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jtku.v5i2.86

Abstract

Pupuk cair merupakan pupuk yang bahan dasarnya berasal dari hewan atau tumbuhan yang sudah mengalami fermentasi dan bentuk produknya berupa cairan. Kulit pisang barangan salah satu bahan dasar yang dinggunakan untuk pembuatan pupuk cair karena mengandung unsur mikro N, P dan K. Oleh karena itu dilakukan penelitian untuk mengetahui unsur hara yang terkandung dalam pupuk cair dari kulit pisang barangan. Penelitian ini dilakukan dengan mencampurkan molase, aquadest, air, dan Efektivitas Mikroorganisme (EM4) dengan variable tetap yang dinggunakan adalah kulit piang barangan 1500 gram Sedangkan variabel bebas yang dipakai pada penelitian ini waktu inkubasi (7 hari, 14 hari, 21 hari), Variasi molase (80 ml,90 ml,100 ml), dan Variasi EM4 (200 ml, 400 ml, 600 ml). Hasil penilitian menunjukkan bahwa variabel terbaik pada waktu fermentasi 21 hari dengan  volume EM-200 ml dengan volume molase- 80 ml  yaitu pH 5,10, unsur Nitrogen 1,54 % dan Kalium 0,60 %.
Pengaruh Jumlah Ragi dan Waktu Fermentasi terhadap Kadar Bioetanol yang Dihasilkan dari Fermentasi Kulit Pepaya Nasrun, Nasrun; Jalaluddin, Jalaluddin; Mahfuddhah, Mahfuddhah
Jurnal Teknologi Kimia Unimal Vol 4, No 2 (2015): Jurnal Teknologi Kimia Unimal
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jtku.v4i2.68

Abstract

Bioetanol memiliki banyak fungsi dan kegunaan, diantaranya sebagai pelarut. Bioetanol belakangan ini dikenal sebagai salah satu bahan bakar alternatif yangcukup potensial, selain dapat dibuat dengan mudah dan dengan biaya murah,bioetanol juga dapat dibuat dari berbagai bahan baku yang ada di alam. Pada penelitian ini dibuat bioetanol dari kulit pepaya, tujuannya adalah untuk mengkaji pengaruh jumlah ragi dan waktu fermentasi terhadap jumlah bioetanol yang diperoleh. Hasil penelitian didapatkan bahwa volume bioetanol tertinggi 31,17 ml didapatkan pada perlakuan waktu fermentasi selama 4 hari dan penambahan ragi Saccaromyces cereviceae sebanyak 15 gram, densitas bioetanol tertinggi diperoleh pada jumlah ragi 15 gram dengan waktu fermentasi 4 hari yaitu 0,883 gr/ml, pH media tertinggi selama fermentasi yaitu 5 yang terdapat pada jumlah ragi 20 gram dengan waktu fermentasi 3, 4, dan 5 hari. Rendemen bioetanol yang paling tinggi diperoleh pada jumlah ragi 15 gram dengan waktu fermentasi 4 hari yaitu sebesar 6,23%.
PENGARUH CARA INOKULASI Synchytrium pogostemonis TERHADAP GEJALA BUDOK DAN PERTUMBUHAN NILAM Idris, Herwita; Nasrun, Nasrun
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 20, No 2 (2009): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v20n2.2009.%p

Abstract

Penyakit budok disebabkan oleh patogen Synchytrium pogostemonis, merupakan salah satu masalah penting dalam budidaya nilam (Pogostemon cablin). Sampai saat ini aspek biologi dari penyakit ini belum banyak diketahui. Sehubungan dengan masalah ter-sebut, penelitian pengaruh cara inokulasi S. pogostemonis terhadap gejala budok dan pertumbuhan nilam dilakukan di rumah kaca KP. Laing Solok Sumatera Barat sejak Pebruari sampai Oktober 2007. Percobaan disusun dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL) dalam pola faktorial dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah tempat inokulasi (batang dan daun) dan faktor kedua adalah umur inokulum S. pogostemonis (1; 24; 48; dan 72 jam). Parameter pengamatan adalah masa inkubasi gejala penyakit, intensitas penyakit, penyum-batan pembuluh kayu, dan pertumbuhan tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi S. pogostemonis pada batang dan daun nilam mempunyai pengaruh yang sama terhadap masa inkubasi gejala penyakit, inten-sitas penyakit, jumlah penyumbatan pembuluh kayu, dan pertumbuhan tanaman. Sebaliknya faktor umur inkulum S. pogostemonis inokulum paling tua (72 jam) mempunyai masa inkubasi gejala penyakit lebih lama (yaitu 6 minggu setelah inokulasi) dan intensitas penyakit lebih rendah (yaitu 2,25-2,35%) dibandingkan inokulum paling muda (1 jam) yang mempunyai masa inkubasi gejala penyakit yaitu 2 minggu setelah inokulasi dan intensitas penyakit yaitu 90,24-98,25%. Selan-jutnya inokulum paling tua mempunyai penyumbatan pembuluh kayu lebih rendah (2,16-3,87%) dibandingkan inokulum paling muda (52,60-59,00%). Sebaliknya inokulum paling muda mempunyai pertumbuhan tanaman lebih rendah (tinggi tanaman 0,38-0,70 cm; jumlah cabang 0,20 cabang; dan pertam-bahan tunas 1,40-1,80 tunas) dibandingkan inokulum paling tua dengan tinggi tanaman 1,02-1,34 cm; cabang 1,00-1,20 cabang; dan pertambahan tunas 6,00-6,80 tunas. 
Profesi Pendidik: Tantangan Dan Harapan Nasrun, Nasrun
Ilmu Pendidikan: Jurnal Kajian Teori dan Praktik Kependidikan Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.589 KB)

Abstract

Abstract: Today’s educational issues include two things, namely: (1) educational practice is conducted without education science; and (2) the occurrence of several “mistake” of education. The problem is of course influenced by several factors that are very complex, among others, there are five main things that cause two things can happen, namely: (1) educators are not trained in advance to carry out tasks (untrained); (2) not well trained (undertrained); (3) are less concerned about their duties and obligations (uncommitted); (4) lower education facilities (under-facilitated); and (5) educators are underpaid so as to give rise to pragmatic educational attitudes and burden objections. The provision that educators are professionals carries the consequence that educators are required to meet their professional requirements. Education Institution of Education Personnel (LPTK) as an institution producing educators and educational staff very concerned conceptually-praxis as the center of orientation and guidance for the development and enforcement trilogy educator profession, namely: (1) basic educational scholarship; (2) the substance of the educator profession; and (3) the practice of educator profession to be mastered by educator candidates. Along with the development of the dynamics and challenges of education increasingly complex. Policies and regulations that continue to be simulated and implemented are now directed to deal with various dynamics developments and challenges. The efforts of professionalization of educators through various programs are also continuously conducted. The efforts being undertaken and carried out at this time of hope in the future leads to the birth of educator figures in which awaken the professional dignity based on: (1) useful service; (2) a commensurate exercise; and (3) get a healthy recognition from the government and the community.Abstrak: Permasalahan pendidikan dewasa ini mencakup dua hal, yaitu: (1) praktik pendidikan dilakukan tanpa didasari ilmu pendidikan; dan (2) terjadinya beberapa kecelakaan pendidikan. Permasalahan tersebut tentunya dipengaruhi oleh beberapa faktor yang sangat kompleks, antara lain ada lima hal pokok yang menyebabkan dua hal tersebut bisa terjadi, yaitu: (1) pendidik tidak dilatih terlebih dahulu untuk melaksanakan tugas-tugasnya (untrained); (2) tidak terlatih dengan baik (undertrained); (3) kurang peduli atas tugas dan kewajibannya (uncommitted); (4) fasilitas pendidikan rendah (under-facilitated); dan (5) pendidik dibayar rendah (underpaid) sehingga menimbulkan sikap pendidik yang pragmatis dan keberatan beban. Ketetapan bahwa pendidik adalah tenaga profesional membawa konsekuensi bahwa pendidik wajib memenuhi persyaratan profesionalnya. Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) sebagai institusi penghasil pendidik dan tenaga kependidikan sangat berkepentingan secara konseptual-praksis sebagai pusat orientasi dan penuntun bagi pengembangan serta ditegakkannya trilogi profesi pendidik, yaitu: (1) dasar keilmuan pendidikan; (2) subtansi profesi pendidik; dan (3) praktik profesi pendidik yang harus dikuasi oleh calon pendidik. Seiring dengan perkembangan zaman dinamika dan tantangan dunia pendidikan semakin kompleks. Kebijakan dan regulasi yang terus digodok dan diimplementasikan saat ini diarahkan untuk menghadapi berbagai perkembangan dinamika dan tantangan yang terjadi. Upaya profesionalisasi pendidik melalui berbagai program juga terus dilakukan. Upaya-upaya yang sedang dilakukan dan dijalankan saat ini harapannya ke depan bermuara kepada lahirnya sosok-sosok pendidik yang di dalam dirinya terbangun kemartabatan profesi yang didasarkan atas: (1) pelayanan yang bermanfaat; (2) pelaksanaan yang bermandat; dan (3) mendapatkan pengakuan yang sehat dari pemerintah dan masyarakat.