Suahasil Nazara
Kepala Lembaga Demografi, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia

Published : 13 Documents
Articles

Found 13 Documents
Search

UKURAN OPTIMAL PEMERINTAH DAERAH DI INDONESIA: STUDI KASUS PEMEKARAN WILAYAH KABUPATEN/KOTA DALAM ERA DESENTRALISASI Nazara, Suahasil; kholis, Nur
Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Indonesia Vol 7, No 2 (2007): Januari
Publisher : Department of Economics-FEUI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study tries to measure the optimum size of regional government (municipality/city) which will support the accomplishment of decentralization policy ‘s objectives. The result of this study will conclude how the reformation pattern toward regional government in Indonesia should be done. The result of regressing translog and quadratic functions using cost per capita minimalization approach shows the existence of economy of scale from the size of municipality/city‘s population. Using maximization approach, ¡t is also shown that Municipality/city government expenditure ¡s not efficient yet and has not supported the efforts to accomplish the desired development performance. With various regulations, the significant variable used in the measurement of optimum size is the number of population.The result of using minimization and maximization approaches show that the optimum size for municipality/city is not single (differ), between municipality and city, among each kind of per capita expenditure, and across tìme. Generally, the optimum and minimum size of population for municipality/city such that per capita expenditure can be minimized and such that Regional GDP per capita increases are approximately two million people. The reality of municipality/city’s size which in general is relatively small compared to the optimum and minimum measurement shows the inefficiency of municipality/city government expenditure, and its ineffectiveness to support the effort to enhance the welfare of society. Hence, territoty extension policy performed this far, is actually worsen the accomplishment of its main objective on conducting regional government and development.
Analisis Perubahan Struktur Ekonomi (Economic Landscape) dan Kebijakan Strategi Pembangunan Jawa Timur Tahun 1994 dan 2000: Analisis Input-Output Amir, Hidayat; Nazara, Suahasil
Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Indonesia Vol 5, No 2 (2005): Januari
Publisher : Department of Economics-FEUI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini memiliki dua tujuan. Pertama, menganalisis berbagai sektor unggulan (key sector) dalam perekonomian propinsi Jawa Timur antara tahun 1994 dan 2000. Kedua, mengidentifikasi perubahan struktur perekonomian Jawa Timur pada periode yang sama. Penelitian ini menggunakan analisis input-output yang telah banyak digunakan untuk menganalisis tingkat keterkaitan antar sektor perekonomian, sektor unggulan, dan angka pengganda sektor ekonomi. Lebih lanjut, perubahan struktur akan dianalisis dengan menggunakan metode yang disebut multiplier product matrix (MPM) yang dapat menggambarkan landscape suatu perekonomian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa telak terjadi pergeseran dalam beberapa sektor unggulan dan angka pengganda sekioral Peranan sektor industri lainnya dan sektor industri makanan, minuman dan tembakau sangat dominan dri sisi besaran outputnya, juga memiliki angka penggandaan yang cukup tinggi. Selain itu, berdasarkan analisis MPM terlihat pula perubahan struktur ekonomi Jawa Timur selama periode 1994 sampai 2000 walaupun tidak drastis. Kata Kunci: Analisis InputaOutput, Perubahan Economic Landscape, Kebijakan Ekoriomi Sektoral, Pertumbuhan Ekonomi, Jawa Timur
DETERMINAN TIPE KEPEMILIKAN RUMAH PERKOTAAN DI INDONESIA: MODEL PILIHAN KUALITATIF MENGGUNAKAN DATA SUSENAS 2001 Syabrial, Syarif; Nazara, Suahasil
Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Indonesia Vol 7, No 1 (2006): Juli
Publisher : Department of Economics-FEUI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The development of  housing study in Indonesia is relatively behind compared with the progressivity of  this study in other countries. This study is a preliminary study on housing sector in Indonesia which concerns with the factors determining the probability of a person to own a house which is also known as housing tenure choice. This study will also reveal the factors that affect the expectation of a household that doesn‘t own a house to own one. The explanatory variable in this model include age variables, highest educational achievement, and the category of  job status of the household head marital status, number of  household members, and access to housing credit (KreditPemilikan Rumah) which affects the probability and expectation of a household to own a house. To get the location aspect, we also estimate our model for urban DIG Jakarta, Java with the exception of DIG Jakarta, and Sumatera. The data utilized in this study comes from Indonesia Socioeconomic Survey (SUSENAS) 2000 which is the result of  indonesian Statistical Bureau (BPS) survey in all the provinces in Indonesia. This study focuses in urban area in Indonesia and use qualitative choice model in the estimation process. This study also focuses on multiple choices estimationprocess with logit model The result shows that the proportion of Indonesìan households which live in urban area and own a house is 73% of the total households which is very big The proportion of the households with rent/contract is 15.8%. DIG Jakarta has the biggest proportion of households with rent/contract which is about 31.4%. The estimation results of urban house ownership choice model in Indonesia show that number of  household members, marital status, age of the head of the household and access to housing credit have a positive impact on the probability of a household to own a house (non rent/contract). From the study of the expectation of a household that doesn ‘t own a house to own one we found that only 30% of Indonesian urban households have expectation to own a house for the next five years. Estimation of household expectation function to own a house shows that marital status, education level, income, and head of the household that works in formal sector have positive and significant impacts on the probability of a household to expect to own a house in the next 5 years. one of the most important results concerns KPR and goverment policy concerning KPR. The Data shows that only 6.37% of the urban households in Indonesia utilize this faciliry. Down payment and increase in the household expenses as a consequence of credit payment are two of the major factors causing low access of the
Identifikasi Fenomena ‘Overeducation’ di Pasar Kerja di Indonesia? Safuan, Sugiharso; Nazara, Suahasil
Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Indonesia Vol 6, No 1 (2005): Juli
Publisher : Department of Economics-FEUI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Makalah ini mengevaluasi perbedaan antara rata-rata pendidikan minimal yang dibutuhkan oleh suatu jenis pekerjaan dan pendidikan pekerja yang bekerja di jenis pekerjaan tersebut. Overeducation terjadi apabila pendidikan pekerja dijenis pekerjaan tertentu lebih tinggi dari yang dibutuhkan oleh jenis pekerjaan tersebut. Dengan menggunakan sample pekerja disektor forma1 dari data sakernas 1996, 1999, dan 2002, hasil studi menunjukkan bahwa  persentase pekerja cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Hasil estimasi juga menunjukkan dampak pendidikan meningkatkan penghasilan dan pekerja overeducated benpengaruh signifìkan pada penghasilan pekerja meskipun telah dikontrol oleh usia, jenis kelamin, jam kerja serta karakieristik individulainnya.
Pemerataan Antardaerah sebagai Tantangan Utama Transformasi Struktural Pembangunan Ekonomi Indonesia Masa Depan Nazara, Suahasil
Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Indonesia Vol 11, No 1 (2010): Juli
Publisher : Department of Economics-FEUI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia telah membangun ekonomi lebih dari empat dekade. Pada tahun 1968, Indonesia pertama kalinya mencatat pertumbuhan double-digit setelah mengalami pergolakan politik, ekon0nu´ dan sosial di pertengahan tahun 1960-an (Hill 1996: 11). Indonesia memasuki dekade 1970-an dengan fokus pada pembangunan ekonomi. Selama tiga dekade pertama, pembangunan ekonomi disusun dalam rangkaian pembanglman lima tahunan yang dieksplisitkan dalam dokumen perencanaan yang dikenal dengan Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita). Antara tahun 1969-1994, Indonesia menjalani lima periode Repelita yang juga merupakan periode Pembanglman Iangka Panjang Tahap I (PIPT I). Pembang1man Lima Tahun keenam, untuk periode 1994-1999 sesungguhnya adalah tahap pertama dari PIPT H. Pemerintahan Presiden Suharto berakhir pada tahun 1998, dan setelah itu pemerintahan Presiden Habibie menjadi transisi dari penemuan jati diri bangsa memasuki periode Reformasi. Ketlka Repelita tidak lagi dilanjutkan, pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid menetapkan Program Pembangunan Nasional (P1-openas) 2000-2004 (Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2000) sebagai landasan dan pedoman bagi pemerintah dan penyelenggara negara dalam melaksanakan pembangunan lima tahun, dan pelaksanaannya dilanjutkan oleh Presiden Megawati Sukamopuh.-i. Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kemudian menelurkan perencanaan dalam dokumen yang disebut dengan Rencana Pembangunan Iangka Menengah (RPIM) dengan durasi lima tahunan. RPIM yang ada saat ini, yaitu untuk periode 2010-2014, merupakan kelanjutan dari RPIM 2004-2009. RPIM itu sendiri sesuai dengan amanat Undang—Undang Nomor 25 Tahun 2004 mengenai Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, disusun berdasarkan Rencana Pembanglman Iangka Panjang 2005-2025 (Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007).
TRADE BARRIER ELIMINATION, ECONOMICS OF SCALE AND MARKET COMPETITION: COMPUTABLE GENERAL EQUILIBRIUM MODEL Widyastutik, Widyastutik; Nazara, Suahasil; Oktaviani, Rina; Simarmata, Djamester
Signifikan: Jurnal Ilmu Ekonomi Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Faculty of Economic and Business Syarif Hidayatullah State Islamic University of Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (555.958 KB) | DOI: 10.15408/sjie.v6i2.5279

Abstract

The ASEAN and its dialogue partner countries agreed to reduce trade barriers in the services sector, one of which is sea transport services. The purpose of this study is to estimate the equivalent tax of non-tariff barriers in the sea transport services. Besides that, this study is going to analyze the economic impacts of the regulatory barriers elimination in the sea transport services of ASEAN and its dialogue partner countries. Using the gravity model, it can be identified that trade barriers of sea transport services sector of ASEAN and dialogue partner countries are still relatively high. Additionally, by adopting IC-IRTS model in Global CGE Model (GTAP), the simulation results show consistent results with the theory of pro-competitive effects. The greater gain from trade is obtained in the CGE model assuming IC-IRTS compared to PC-CRTS. China gains a greater benefit that is indicated by the highest increase in welfare and GDP followed by Japan and AustraliaDOI: 10.15408/sjie.v6i2.5279
SEKTOR INDUSTRI MANUFAKTUR DAN PEMBAGUNAN DAERAH Nazara, Suahasil
Jurnal Riset Industri Vol 2, No 3 (2008):
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Industri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1137.57 KB)

Abstract

Tranformasi struktural yang terjadi di indonesia telah bergeser peranan domain sektor pertanian ke sektor industri. Di sisi lain, pembangunan ekonomi regionalindonesia memasuki paradikma baru yang di tandai dengan pelaksanaan skema desentralisasi dan otonomi daerah sejak dekade yang lalu. Tulisan ini melihat bagaimanapembangunan industri manufaktur juga seharusnya menjadi agenda pembangunan daerah di indonesia. Pembanguna industri menghadapi tantangan internal maupun externalyang harus di atasi dengan dua strategi, yaiutu top-down dan botton-down. Strategi botton-down menurut daerah sebagai ujung tombak pembangunan industri. Daerahhendaknya mampu membagun kopetensi intinya sehinga mampu meningkatkan daya saing lokal dan global, menyerap tenaga kerja,dan di harapkan mamapu meningkatkanpemeretaan pertumbuhan sektro industri di seluruh wilayah indonesia. Salah satu program untuk mendukung stategi booton-down menempatkan pemerintah pusat padaposisi sentral pengembangan industri nasional. Pemerintah menetapkan kebijakan pembagunan industri nasional yang di tujukan untuk memberikan arah baru untuk pembagunan industri nasional di masa datang dan menyelesaikan berbagai permasalan yang menghambat perkembangan industri saan ini. Kebijakan ini harus di jadikanpedoman oleh seluruh Stakeholder di sektor industri manufakturkata kunci :   industri manufaktur, pembaguna daerah, desentralisasi, pembaguna industri, Kopetensi inti
Identifikasi Fenomena ‘Overeducation’ di Pasar Kerja di Indonesia? Safuan, Sugiharso; Nazara, Suahasil
Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Indonesia Vol 6 No 1 (2005): Juli
Publisher : Department of Economics-FEB UI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.294 KB) | DOI: 10.21002/jepi.v6i1.152

Abstract

Makalah ini mengevaluasi perbedaan antara rata-rata pendidikan minimal yang dibutuhkan oleh suatu jenis pekerjaan dan pendidikan pekerja yang bekerja di jenis pekerjaan tersebut. Overeducation terjadi apabila pendidikan pekerja di jenis pekerjaan tertentu lebih tinggi dari yang dibutuhkan oleh jenis pekerjaan tersebut. Dengan menggunakan sample pekerja W1, sektor formal dari data Sakernas 1996, 1999, dan 2002, hasil studi menunjukkan bahwa persentase pekerja cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Hasil estimasi juga menunjukkan dampak pendidikan meningkatkan penghasilan dan pekerja overeducated berpengaruh signifikan pada penghasilan pekerja meskipun telah dikontrol oleh usia, jenis kelamin, jam kerja serta karakteristik individu lainnya. 
Determinan Tipe Kepemilikan Rumah Perkotaan di Indonesia: Model Pilihan Kualitatif Menggunakan Data Susenas 2001 Syahrial, Syarif; Nazara, Suahasil
Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Indonesia Vol 7 No 1 (2006): Juli
Publisher : Department of Economics-FEB UI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (507.978 KB) | DOI: 10.21002/jepi.v7i1.142

Abstract

The development of housing study in Indonesia is relatively behind compared with the progressivity of this study in other countries. This study is a preliminary study on housing sector in Indonesia which concerns with the factors determining the probability of a person to own a house which is also known as housing tenure choice. This study will also reveal the factors that affect the expectation of a household that doesn't own a house to own one.  The explanatory variables in this model include age variables, highest educational achievement, and the category of job status of the household head marital status, number of household members, and access to housing credit (Kredit Pemilikan Rumah) which affects the probability and expectation of a household to own a house. To get the location aspect, we also estimate our model for urban DKI Jakarta, Java with the exception of DKI Jakarta, and Sumatera.The data utilized in this study comes from Indonesia Socioeconomic Survey (SUSENAS) 2001 which is the result of Indonesian Statistical Bureau (BPS) survey in all the provinces in Indonesia. This study focuses in urban area in Indonesia and use qualitative choice model in the estimation process. This study also focuses on multiple choices estimation process with logit model.The result shows that the proportion of Indonesian households which live in urban area and own a hose is 73% of the total households which is very big. The proportion of the households with rent/contract is 15.8%. DKI Jakarta has the biggest proportion of households with rent/contract which is about 31.4%. The estimation results of urban house ownership choice model in Indonesia show that number of household members, marital status, age of the head of the household and access to housing credit have a positive impact on the probability of a household to own a house (non rent/contract).From the study of the expectation of a household that doesn't own a house to own one we found that only 30% of Indonesian urban households have expectation to own a house for the next five years. Estimation of household expectation function to own a house shows that marital status, education level, income, and head of the household that works in formal sector have positive and significant impacts on the probability of a household to expect to own a house in the next 5 years. One of the most important results concerns KPR and government policy concerning KPR. The Data shows that only 6.37% of the urban households in Indonesia utilize this facility. Down payment and increase in the household expenses as a consequence of credit payment are two of the major factors causing low access of the 
Analisis Perubahan Struktur Ekonomi (Economic Landscape) dan Kebijakan Strategi Pembangunan Jawa Timur Tahun 1994 dan 2000: Analisis Input-Output Amir, Hidayat; Nazara, Suahasil
Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Indonesia Vol 5 No 2 (2005): Januari
Publisher : Department of Economics-FEB UI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.251 KB) | DOI: 10.21002/jepi.v5i2.122

Abstract

Penelitian ini memiliki dua tujuan. Pertama, menganalisis berbagai sektor unggulan (key sector) dalam perekonomian propinsi Jawa Timur antara tahun 1994 dan 2000. Kedua, mengidentifikasi perubahan struktur perekonomian Jawa Timur pada periode yang sama. Penelitian ini menggunakan analisis input-output yang telah banyak digunakan untuk menganalisis tingkat keterkaitan antar sektor perekonomian, sektor unggulan, dan angka pengganda sektor ekonomi. Lebih lanjut, perubahan struktur akan dianalisis dengan menggunakan metode yang disebut multiplier product matrix (MPM) yang dapat menggambarkan landscape suatu perekonomian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa telah terjadi pergeseran dalam beberapa sektor unggulan dan angka pengganda sektoral peranan sektor industri lainnya dan sektor industri makanan, minuman dan tembakau sangat dominan dari sisi besaran outputnya, juga memiliki angka penggandaan yang cukup tinggi. Selain itu, berdasarkan analisis MPM terlihat pula perubahan struktur ekonomi Jawa Timur selama periode 1994 sampai 2000 walaupun tidak drastis.