Tjokorda Sari Nindhia
Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana

Published : 16 Documents
Articles

Found 16 Documents
Search

PELACAKAN EKSPRESI ANTIGEN TOXOPLASMA GONDII SECARA IMUNO(SITO)HISTOKIMIA (TRACKING EXPRESSION OF TOXOPLASMA GONDII ANTIGENS USING IMMUNO(CYTO)HISTOCHEMISTRY METHOD) Apsari, Ida Ayu Pasti; Winaya, Ida Bagus Oka; Nindhia, Tjokorda Sari; Swacita, Ida Bagus Ngurah
Jurnal Veteriner Vol 18 No 4 (2017)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2017.18.4.535

Abstract

The research objective want to track the expression of Toxoplasma gondii antigenes in the heart of the free-range chicken with immuno(cyto)histochemistry technique. In the present study were examined three methods to track antigen T.gondii, first method direct microscopic examination of the heart digests, the second method to detect antigen of T.gondii with immunocytochemistry technique of the chicken heart digests and the third immunohistochemistry examination of the heart free-range chicken. The number of material samples examined were 100 heart free-range chicken. Direct microscopic examination of the heart digests free-range chicken to track the bradyzoite form (inside cyst). Examination by immuno(cyto)histochemistry technique keep track T.gondii an antigen expression on cells and heart muscle tissue. The results showed that the direct microscopic examination on the heart tissue unable to detect cyst and antigen T.gondii. Immunohistochemical examination successfully detected the expression of antigenes T.gondii and was found 2% (2/100) positive. It can be concluded that T.gondii antigen expression in the heart of range chicken could be detected by immunohistochemistry.
PERTUMBUHAN DIMENSI LEBAR TUBUH PEDET SAPI BALI Eka, Yizhar; Sampurna, I Putu; Nindhia, Tjokorda Sari
Indonesia Medicus Veterinus Vol 3 (3) 2014
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dimensi lebar tubuh pedet Sapi Bali. Pada penelitian ini dilakukan pengukuran terhadap dimensi lebar tubuh pedet Sapi Bali yang meliputi : lebar kepala, lebar leher, lebar dada, lebar kemudi, dan lebar pantat. Penelitian ini mempergunakan sampel sebanyak 12 ekor pedet Sapi Bali masing - masing enam ekor pedet jantan, dan enam ekor pedet betina. Pengukuran dimensi lebar tubuh Sapi Bali dilakukan tujuh kali pengulangan. Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam. Model persamaan yang digunakan adalah y = a.e bx. Hasil sidik ragam dimensi lebar pedet Sapi Bali menunjukkan bahwa umur berpengaruh sangat nyata (p<0,01), serta terdapat interaksi yang sangat nyata (p<0,01) antara jenis kelamin dengan umur tehadap dimensi lebar pedet Sapi Bali. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kecepatan/laju pertumbuhan dimensi lebar antara pedet Sapi Bali jantan dan betina yang mana pada pedet Sapi Bali jantan laju pertumbuhannya dimulai dari yang paling lambat lebar kepala, lebar dada, lebar leher, lebar kemudi, dan terakhir lebar pantat, sedangkan pada pedet Sapi Bali betina laju pertumbuhannya dimulai dari yang paling lambat lebar kepala, lebar kemudi, lebar leher, lebar dada, dan terakhir lebar pantat. Simpulan yang didapat dari hasil penelitian ini adalah lebar kepala, lebar leher, lebar dada, dan lebar pantat pedet Sapi Bali jantan laju partumbuhannya lebih cepat dibandingkan pedet Sapi Bali betina, sedangkan lebar kemudi Sapi Bali betina laju pertumbuhannya lebih cepat dibandingkan pedet Sapi Bali jantan.
POLA PERTUMBUHAN DIMENSI PANJANG PADA BABI BALI Leonardo, Edo; Sampurna, I Putu; Nindhia, Tjokorda Sari
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (1) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2018.7.1.6

Abstract

Penelitian pola pertumbuhan panjang bagian-bagian tubuh babi bali telah dilakukan di Desa Musi, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, Bali. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui panjang kepala, leher, telinga, punggung dan ekor pada saat kelahiran sampai ukuran maksimal yang dapat dicapai, serta menentukan kapan pertumbuhan telah mencapai titik infleksi dan ukuran dewasa. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah babi bali pada usia 0, 2, 4, 6, 8, 10, 12, 14, 16, 18, 20, 22, 24, dan 26 minggu. Data dianalisis dengan model analisis regresi sigmoid, dengan menentukan panjang kepala, leher, telinga, punggung dan ekor saat lahir, ukuran maksimumnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa panjang kepala, leher, telinga, punggung dan ekor mengikuti pola sigmoid. Babi bali jantan dan betina pada saat lahir memiliki ukuran panjang kepala, leher, telinga, punggung dan ekor yang sama, sedangkan untuk ukuran maksimum, panjang bagian-bagian kepala, leher, telinga, punggung dan ekor terdapat perbedaan antara babi bali jantan dan betina. Titik infleksi yang paling cepat dicapai adalah panjang ekor babi bali betina pada usia 2 minggu dan yang paling lambat adalah panjang punggung pada umur 8 minggu, sedangkan ukuran dewasa tercepat dicapai adalah panjang teliga babi jantan pada usia 15 minggu dan yang paling lambat adalah panjang ekor pada umur 45 minggu.
DIMENSI KUKU SAPI BALI Yarisetouw, Nicolas; Batan, I Wayan; Nindhia, Tjokorda Sari
Indonesia Medicus Veterinus Vol 4 (5) 2015
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kaki sapi bali yang baik adalah kaki yang proporsional dengan ukuran tubuh, mampu menopang tubuh secara tegak lurus. Bagian kuku perlu diperhatikan karena kuku yang terganggu akan membuat pertumbuhan sapi kurang optimal. Kuku sapi harus kokoh, tidak sensitif, dapat tumbuh dan berkembang terus, dan memiliki elastisitas yang tinggi. Sapi bali yang digemukan cenderung memiliki kuku yang tumbuh lebih panjang dibandingkan dengan sapi bali yang dibiarkan bebas. Tujuan Penelitian untuk mengetahui dimensi ukuran kuku kaki depan dan kaki belakang sapi bali serta menentukan ukuran standar normal (panjang kuku, tinggi kuku, diagonal kuku, lebar kuku, luas kuku, tinggi tumit)  kaki depan dan kaki belakang sapi bali jantan dan betina. Sampel  yang digunakan pada penelitian ini adalah sapi bali dewasa sebanyak 40 ekor, terdiri dari 20 jantan dan 20 betina dewasa di Pasar Hewan Bringkit Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, dan pengukuran dilakukan pada sapi dalam keadaan berdiri. Metode Penelitian ini menggunakan uji Independent-Samples T-test pada selang kepercayaan 95% dan 99% dengan Statistical Program for Social Science(SPSS) for Window versi 17.0. Dari hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa dimensi ukuran  kuku  kaki yang terdiri dari ukuran-ukuran standar kuku, panjang, tinggi tumit, diagonal kuku, dan lebar kuku kaki sapi jantan lebih besar dari pada kuku sapi betina.
IDENTIFIKASI SPESIES IKAN KERAPU DI PASAR IKAN KARANGASEM DAN KEDONGANAN BALI MENGGUNAKAN DNA MITOKONDRIA GEN 16S RRNA IDENTIFICATION OF GROUPER SPECIES USING 16S RRNA MITOCHONDRIAL DNA IN KARANGASEM AND KEDONGANAN FISH MARKET, BALI Sari Hadiprata, Ni Luh Made Ika Yulita; Putra, I Made Bagus Arya Permana Ardiana; Mahardika, I Gusti Ngurah Kade; Wandia, I Nengah; Nindhia, Tjokorda Sari
Jurnal Veteriner Vol 16 No 3 (2015)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Groupers are bio-indicators of the health of coral ecosystems and high economic value. Various speciesof grouper fish sold in markets in Indonesia is not known. The purpose of this study was to identify thespecies of grouper fish market located in Karangasem and Kedonganan. The method used in this studywas polymerase chain reaction(PCR) techniqueand mitochondrial DNA 16S rRNA gene as a molecularmarker. Grouper samples were collected from the fish market Karangasem total of 11 samples and 42samples collected from Kedonganan. Sequences from each sample was obtained from the analysis inBerkeley Sequencing Facility, California. Sequencing samples were then analyzed by BLAST and matchedwith the sequences found in GenBank. The analysis showed that six species can be identified from the fishmarket Karangasem namely Cephalopholis leopardus, C.cyanostigma, C. miniata, C. sonnerati, Variolaalbimarginata, and Epinephelus fasciatus. Seven species can be identified in the fish market Kedonganannamely E. fuscoguttatus, E. coeruleopunctatus, E. merra, E. polyphekadion, C. cyanostigma, C. miniata andV.albimarginata.
PEMELIHARAAN ANJING OLEH MASYARAKAT KOTA DENPASAR YANG BERKAITAN DENGAN FAKTOR RISIKO RABIES Kakang, Dorteany Mayani; Batan, I Wayan; Nindhia, Tjokorda Sari
Indonesia Medicus Veterinus Vol 6 (2) 2017
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sistem pemeliharaan anjing masyarakat Kota Denpasar yang berisiko terhadap penularan rabies serta pemahaman masyarakat tentang bahaya penyakit rabies. Metode yang dipakai adalah survei terhadap responden atau pemilik anjing di Kota Denpasar, meliputi tiga kecamatan yaitu Kecamatan Denpasar Barat, Denpasar Timur dan Denpasar Utara. Penelitian ini menggunakan 140 responden sebagai sampel yaitu 50 responden di Denpasar Barat, 60 responden di Denpasar Timur dan 30 responden di Denpasar Utara. Wawancara dilakukan dengan bantuan kuisioner (closed ended dan open ended). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem pemeliharaan anjing masyarakat Kota Denpasar relatif baik namun ada sejumlah faktor risiko rabies yang perlu diwaspadai seperti anjing peliharaan berkontak dengan anjing lain, memelihara HPR (Hewan Pembawa Rabies) selain anjing dan sistem pemeliharaan dengan cara dilepas. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa sistem pemeliharaan anjing oleh sebagian besar masyarakat Kota Denpasar relatif baik. namun ada sejumlah faktor risiko rabies yang perlu diwaspadai seperti kontak dengan anjing lain, memelihara HPR lain dan pemeliharaan yang dilepasliarkan.
FAKTOR-FAKTOR RISIKO PENYEBARAN ESCHERICHIA COLI O157:H7 PADA SAPI BALI DI KUTA SELATAN, BADUNG, BALI (RISK FACTORS FOR DISSEMINATION OF ESCHERICHIA COLI O157:H7 IN BALIN CATTLE IN SOUTH KUTA, BADUNG, BALI) Rinca, Korbinianus Feribertus; Nindhia, Tjokorda Sari; Suardana, I Wayan
Jurnal Veteriner Vol 17 No 3 (2016)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Escherichia coli O157:H7 is a strain of E.coli which has ability to produce toxin known as shiga-liketoxin. Shiga like toxin can cause colitis haemorrhagic and hemolytic uremic syndrome in human. However,in calves, it can cause diarrhea, while in adult cattle can be career. Cattle are primary reservoir of E. coliO157:H7. Study of dissemination pattern of E.coli O157:H7 was carried out using 60 samples of cattlefeces. This is a cross sectional study and samples were collected using purposive sampling technique.Based on statistic calculation using chi-square and Odds ratio tests, it was found some risk factorsaffected the dissemination of E.coli O157:H7 infection in South Kuta District, Badung, Bali. Some of thosewere the altitude of sea level that showed the cattle which were maintained in highland showed more riskthan cattle that was in the lowland, with odds ratio value 1.12. The management animal husbandryshowed cattle that maintained in captive management were in higher risk than cattle that was notmanaged in captive system, with odds ratio value 2.50. The type of captive floor, which made from cementwas higher risk than cattle that was raised in captive floor which were made from non cement with oddsratio value 6.22. The chi-square test result did not show a significant difference to the dissemination of E.coli O157:H7 in the South Kuta-district.
POLA PERTUMBUHAN DIMENSI LINGKAR TUBUH BABI BALI Putra, I Made Wira Diana; Sampurna, I Putu; Nindhia, Tjokorda Sari
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (1) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2018.7.1.32

Abstract

Pola pertumbuhan dimensi lingkar tubuh babi bali dipengaruhi oleh banyak faktor salah satunya adalah umur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pada umur berapa masing masing dimensi lingkar tubuh babi bali mencapai titik infleksi dan ukuran dewasa. Babi yang digunakan dalam objek penelitian ini adalah babi bali yang dipelihara secara tradisional di Desa Musi, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, umur 0 sampai 26 minggu sebanyak 56 ekor yang terdiri dari babi bali jantan dan betina. Hasil regresi model sigmoid menunjukkan bahwa ukuran babi bali saat lahir memiliki dimensi lingkar yang sama antara babi Bali jantan dan betina. Lingkar leher babi bali jantan dan betina mencapai ukuran dewasa pada umur  21,840 minggu dan 22,893 minggu.
TUMBUH KEMBANG ORGAN VISCERAL ITIK LOKAL BALI PADA MASA FINISHER Kristianto, Kartika; Nindhia, Tjokorda Sari; Sampurna, I Putu
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (5) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2018.7.5.482

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tumbuh kembang organ visceral itik lokal bali pada masa finisher, sehingga dapat ditentukan perkiraan berat organ pada usia tertentu. Penelitian ini menggunakan itik jantan dan betina umur 8-16 minggu sebanyak 30 ekor yang dipelihara secara semi intensif di Desa Kalianget, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng, Bali. Penelitian ini tentang organ visceral (hati, jantung, paru-paru dan ventrikulus), dilakukan penimbangan berat organ setiap 2 minggu. Data yang diperoleh dianalisis dengan Multivariant dan regresi power. Hasil penelitian menunjukkan saat berumur 8 sampai 16 minggu itik bali terjadi pertumbuhan berat organ visceral yang nyata. Hasil analisis Multivariant menunjukkan berat organ visceral itik lokal bali jantan dan betina tidak berbeda nyata, hasil analisis regresi menunjukkan organ visceral mengalami laju tumbuh kembang yang nyata , yang paling awal tumbuh adalah ventrikulus, jantung, paru- paru dan yang terakhir adalah hati.
LAJU PERTUMBUHAN DIMENSI LINGKAR TUBUH KERBAU LUMPUR (BUBALUS BUBALIS) JANTAN DAN BETINA DI KABUPATEN LOMBOK TENGAH Sunarko, Stefanie Nadya Stellanora; Sampurna, I Putu; Nindhia, Tjokorda Sari
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (5) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui laju pertumbuhan dimensi lingkar tubuh kerbau lumpur (Bubalus bubalis) jantan dan betina di kabupaten Lombok Tengah. Penelitian ini menggunakan sampel sebanyak 54 ekor kerbau lumpur (27 ekor jantan dan 27 ekor betina). Kisaran umur kerbau yang diukur yaitu sembilan bulan sampai 20 bulan (9, 10, 11, 12, 13, 14, 18, 19, 20) bulan, setiap umur yang sama jantan dan betina diukur tiga ekor kerbau sebagai ulangan. Pengukuran dimensi lingkar dilakukan setiap sebulan sekali, selama tiga bulan. Data lingkar tubuh yang diperoleh dianalisis dengan multivariant dan regresi power. Hasil analisis multivariant menunjukkan jenis kelamin berbeda nyata terhadap ukuran dimensi lingkar tubuh serta terdapat interaksi antara jenis kelamin dengan umur. Hasil analisis regresi power menunjukkan koefisien korelasi masing-masing dimensi lingkar leher atas, leher bawah, dada, dan abdomen kerbau lumpur jantan dan betina berbeda nyata. Berdasarkan hasil tersebut disimpulkan bahwa dimensi lingkar tubuh kerbau lumpur jantan paling dini tumbuh yaitu dimensi lingkar leher atas kemudian disusul oleh lingkar abdomen, lingkar leher bawah, dan terakhir tumbuh yaitu lingkar dada. Sedangkan kerbau lumpur betina paling dini tumbuh yaitu dimensi lingkar leher bawah disusul oleh lingkar leher atas, lingkar abdomen dan terakhir tumbuh juga lingkar dada. Disarankan adanya penelitian lebih lanjut mengenai pola pertumbuhan dimensi lingkar tubuh kerbau lumpur jantan dan betina yang bertujuan untuk mengetahui kapan dimensi lingkar tubuh tercepat dan berhenti tumbuh.