Articles

PENENTUAN BOBOT KAYU APU PISTIA STRATIOTES L. SEBAGAI FITOREMEDIATOR DALAM PENDEDERAN IKAN GURAMI LAC. UKURAN 3 CM Nirmala, Kukuh; Wardani, Sulistia; Hastuti, Yuni Puji; Nurusallam, Wildan
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 2 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3326.098 KB) | DOI: 10.19027/jai.15.2.180-188

Abstract

ABSTRACT The use of high stocking density in nursery causes a decrease of  water quality. Technology that can be used to solvethe low water quality in nursery of giant goramy was phytoremediation using Pistia stratiotes L. Purpose of this research was to determine the best weight ratio between P. stratiotes L. and 33 L water in nursery giant goramy size 3 cm. Giant goramy size 3 cm was maintained in an aquarium and was treated with different weight of P. stratiotes L. consisted of 45 g, 90 g, 135 g, and controls P. stratiotes L. 0 g. Cleaning and water change was done once a week. This research showed that the treatment of P. startiotes L. 45g/33 L water gave the best result in survival rate, absolute length of the growth, specific growth rate, feed efficiency and economically profitable. Keywords: phytoremediation, water lettuce, Osphronemus goramy L., nursery  ABSTRAK Penggunaan padat tebar tinggi pada pendederan ikan gurami mengakibatkan kualitas air menjadi buruk. Salah satu teknologi yang bisa digunakan untuk mengatasi kualitas air yang buruk pada pendederan ikan gurami adalah fitoremediasi menggunakan tanaman kayu apu. Tujuan penelitian ini adalah menentukan bobot kayu apu dengan volume air 33 L pada pendederan ikan gurami ukuran 3 cm. Ikan gurami ukuran 3 cm dipelihara di dalam akuarium dan diberi perlakuan bobot tanaman kayu apu berbeda yaitu 45 g, 90 g, dan 135 g, serta kontrol  (kayu apu 0 g). Penyiponan dan pergantian air dilakukan setiap satu minggu sekali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan kayu apu 45 g/33 L air menunjukkan hasil tingkat kelangsungan hidup, pertumbuhan panjang mutlak, laju pertumbuhan bobot harian, efisiensi pakan yang paling baik, serta lebih menguntungkan dibandingkan dengan perlakuan kontrol (kayu apu 0 g). Kata kunci: fitoremediasi, kayu apu, Oshpronemus goramy L., pendederan 
ADDITION OF CACO3 TO CULTURE MEDIA AT THE SALINITY OF 3 G/L FOR FRESHWATER TAMBAQUI GROWTH Hastuti, Yuni Puji; Yudistira, Chandra; Nirmala, Kukuh; Nurusallam, Wildan; Faturochman, Kurnia
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 1 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3290.803 KB) | DOI: 10.19027/jai.15.32-40

Abstract

ABSTRACT Increasing of freshwater tambaqui Colossoma macropomum demand makes the farmers increase the production of the consumption fish and seed. Acceleration of the production cycle can increase total production level, and reduce the level of osmotic work can be used to improve fish growth. This study aimed to analyze the effect of the addition of calcium carbonate (CaCO3) in the saline medium of 3 g/L on the growth of freshwater tambaqui juvenile. Tambaqui used has a body length of 1.93 ± 0.1 cm and weight of 0.26 ± 0.03 g. The experiment used 15 units of aquarium at size of 30×15×25 cm3 and filled with 9 L of saline water, then added lime CaCO3 according to treatment. The treatments were control (0 mg/L CaCO3), A (50 mg/L CaCO3), B (100 mg/L CaCO3), C (150 mg/L CaCO3), and D (200 mg/L CaCO3). The study was conducted for 30 days of maintenance. Fishes were fed on bloodworms ad libitum or provided three times a day. The results showed that survival, daily growth rate, and absolute length growth of the CaCO3 treatments significantly higher (P<0.05) that that of control.  Furthermore, survival, daily growth rate, and absolute length growth among the CaCO3 treatments were the same.  Thus, addition CaCO3 of 50 mg/L saline water of 3 g/L can be applied to increase culture performance of freshwater tambaqui. Keywords: freshwater tambaqui, CaCO3, salinity  ABSTRAK Permintaan terhadap ikan bawal air tawar Colossoma macropomum yang semakin meningkat membuat pembudidaya menambah produksi ikan konsumsi dan benih. Percepatan siklus produksi dapat meningkatkan total produksi budidaya, dan energi dari optimasi kerja osmotik dapat dialokasikan untuk pertumbuhan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penambahan kalsium karbonat (CaCO3) pada media bersalinitas terhadap pertumbuhan benih ikan bawal air tawar. Benih ikan bawal yang digunakan memiliki panjang 1,93±0,1 cm dengan bobot 0,26±0,03 g. Akuarium yang digunakan berukuran 30×15×25 cm3 sebanyak 15 unit dan diisi air bersalinitas 3 g/L sebanyak 9 L, kemudian ditambahkan kapur CaCO3 sesuai perlakuan. Dosis setiap perlakuan terdiri atas kontrol (0 mg/L CaCO3), A (50 mg/L CaCO3), B (100 mg/L CaCO3), C (150 mg/L CaCO3), dan D (200 mg/L CaCO3). Penelitian dilakukan selama 30 hari pemeliharaan dengan pemberian pakan cacing sutra secara ad libitum atau diberikan tiga kali sehari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa derajat kelangsungan hidup, laju pertumbuhan harian, dan panjang mutlak pada perlakuan penambahan kapur CaCO3 lebih tinggi (P<0,05) daripada kontrol. Sementara itu, derajat kelangsungan hidup, laju pertumbuhan harian, dan panjang mutlak antarperlakuan penambahan kapur CaCO3 tidak berbeda. Dengan demikian, penambahan CaCO3 sebanyak 50 mg/L air dapat diterapkan untuk perbaikan performa budidaya ikan. Kata kunci: ikan bawal air tawar, CaCO3, salinitas
IMPACT OF NURSERY USING DIFFERENT PHYSICAL FILTRATION SYSTEM ON HEMOLYMPH GLUCOSE LEVEL AND SURVIVAL RATE OF SPINY LOBSTER JUVENILE PANULIRUS HOMARUS Prama, Ega Aditya; Supriyono, Eddy; Nirmala, Kukuh; Adiyana, Kukuh
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 9 No. 2 (2017): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jitkt.v9i2.19291

Abstract

The problems in culture of early juvenile phase of spiny lobster Panulirus homarus is low survival rate of the seed. One of strategies to improve production is using filtration system during nursery of spiny lobster. The aim of this study to evaluate differentation of physical filtration system on responsse stress and survival rate of juvenile P. homarus. Experimental design of this study consisted of four treatments and two replications. The treatments were using flow through system without protein skimmer and filter (K), filtration system with protein skimmer (SK), filtration system with top filter (F) and filtration system with combinations of protein skimmer and top filter (SKF). P. homarus with initial weight 0.18+0.01 g were cultured for 60 days with density 250 lobster/tank. During maintenance, P. homarus were fed trash fish with feeding rate 20% of body weight. Parameters of glucose hemolymph were evaluated to determine stress response. Stress response was determined at day 0, 6, 20 and 60. Parameters of survival rate were determined at the end of experiment. The result showed that the treatment of filtration system with combination of protein skimmer and top filter (SKF) decreased stress responsse by decreasing glucose hemolymph of juvenile P. homarus during maintenance. Survival rate also higher (P<0.05) in treatment SKF (33.2%) than other treatments. It is concluded that SKF was the best physical filtration system for juvenile period of spiny lobster P. homarus  Keywords: filtration system, glucose hemolymph, spiny lobster, survival rate
CALCIUM CARBONATE IN THE WATER SALINITY TO THE GROWTH OF SEEDLING CATFISH (PANGIUS SP.) Hastuti, Yuni Puji; Faturrohman, Kurnia; Nirmala, Kukuh
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 5 No 2 (2014): NOVEMBER 2014
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3401.37 KB) | DOI: 10.24319/jtpk.5.181-188

Abstract

Pengembangan teknologi dan sistem produksi dalam bidang perikanan budidaya merupakan salah satu solusi utama bagi upaya peningkatan produksi perikanan terutama untuk mengatasi adanya kendala tentang ketersediaan benih ikan patin. Perbaikan kualitas benih patin diupayakan melalui penambahan kapur untuk ketersediaan mineral di perairan dan pengadaan media pemeliharaan bersalinitas 4 g/L yang bertujuan untuk menekan tingkat kerja osmotik sehingga mengurangi energi yang digunakan untuk osmoregulasi dan dapat dialokasikan untuk pertumbuhan ikan patin. Benih ikan patin yang digunakan berukuran 2,69±0,04 cm dengan bobot 0,08±0,01 g. Akuarium yang digunakan berukuran 30 x 15 x 25 cm sebanyak 15 unit dan diisi air bersalinitas 4 g/L sebanyak 9 liter per unit dan ditambahkan kapur CaCO3 sesuai perlakuan yaitu K (0 mg/L CaCO3) , A (150 mg/L CaCO3), B (200 mg/L CaCO3), C (250 mg/L CaCO3) dan D (300 mg/L CaCO3). Selama penelitian, ikan diberi pakan dengan kadar protein (28%) sebanyak 3 kali sehari dengan FR (5%). Perlakuan penambahan CaCO3 untuk semua perlakuan menghasilkan tingkat kelangsungan hidup sebesar 100% (P>0,05). Sedangkan laju pertumbuhan bobot harian masing-masing perlakuan secara berturut-turut yaitu (11.34%); (12.06%); (11.51%); (12.67%); dan (11.58%) (P>0,05). Panjang mutlak menghasilkan nilai berbeda nyata yaitu 2.84 cm; 3.62 cm; 3.23 cm; 3.79 cm; dan 3.28 cm (P<0,05). Selama penelitian, kualitas air berada dalam kisaran yang dapat ditoleransi oleh benih ikan patin. Penggunaan kapur CaCO3 pada salinitas 4g/L disarank sebanyak 250 mg/L CaCO3 dengan pergantian air secara berkala dan pemberian pakan yang cukup.
EFFECT OF HARDNESS IN 3 PPT OF WATER SALINITY ON GROWTH AND SURVIVAL RATES OF BARB FISH (BARBUS CONHONIUS HAMILTON-BUCHANAN) Nirmala, Kukuh; Wulandari, R.; Djokosetiyanto, D.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 4 No. 1 (2005): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (152.63 KB) | DOI: 10.19027/jai.4.17-24

Abstract

This study was conducted to determine the effect of hardness on growth and survival rate of barb fish (Barbus conchonius Hamilton-Buchanan) reared in the 3 ppt of water salinity.  Fish were reared in three different hardnesses, i.e., 54, 72, and 90 mg/L CaCO3 for 30 days.  The results of study showed that fish reared in water hardness of 72 mg/L CaCO3 had higher daily growth rate (1.15%) compared with other treatments.  Daily growth rate of fish reared in water hardness of 54 and 90 mg/L CaCO3 were 0.76 and 0.37%, respectively.  There was no effect of hardness on survival rate of barb fish. Keywords: barb fish, Barbus conchonius,  hardness, salinity   ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kesadahan yang berbeda terhadap laju pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup ikan barbir (Barbus conchonius Hamilton-Buchanan) yang dipelihara pada air bersalinitas 3 ppt.  Ikan dipelihara dalam 3 tingkat kesadahan yang berbeda, yaitu 54 mg/L CaCO3, 72 mg/L CaCO3, dan 90 mg/L CaCO3 selama 30 hari.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju perumbuhan harian tertinggi diperoleh pada ikan yang dipelihara pada kesadahan 72 mg/L CaCO3 (1,15%) dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Laju pertumbuhan harian ikan yang dipelihara pada kesadahan 54 dan  90 mg/L CaCO3 masing-masing mencapai 0,76% dan 0,37%.  Kelangsungan hidup ikan barb tidak dipengaruhi oleh kesadahan. Kata kunci: ikan barbir, Barbus conchonius, kesadahan, salinitas
THE APPLICATION OF PHYTOREMEDIATION LEMNA PERPUSILLA TO INCREASE THE PRODUCTION PERFORMANCE OF NILE TILAPIA OREOCHROMIS NILOTICUS IN A RECIRCULATION SYSTEM Utami, Rina Hesti; Nirmala, Kukuh; Rusmana, Iman; Djokosetiyanto, Daniel; Hastuti, Yuni Puji
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 1 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3531.939 KB) | DOI: 10.19027/jai.17.1.34-42

Abstract

ABSTRACTThis study aimed to evaluate the production performance and physiological of Nile tilapia using Lemna perpusilla as a phytoremediator in a recirculation system.  A completely randomized design with two treatments and three replications was applied. The treatments were Nile tilapia cultured with L. perpusilla (TL) and without L. perpusilla (L). The experimental fish in this study was the juvenile of Nile tilapia with a body length of 9.98 ± 0.08 cm and an average weight of 36.27 ± 1.07 g. The stocking density was 46 fish/pond and the container size was 275×100×60 cm3 and was separated in two areas using a fiber separator screen of 55.9% area for fish culture and 44.1% for L. perpusilla.  The Nile tilapias were reared for 60 days, fed with commercial diet and fresh L. Perpusilla with amount 2% and 1% of biomass, respectively. They were fed three times a day with fresh L. perpusilla  at noon and commercial diet in the morning and afternoon. The results showed that the Nile tilapia reared with L. perpusilla phytoremediation had normal physiological condition and production performance. The predominances of this system were lower feed conversion ratio value, more optimal values of feeding efficiency, and higher coefficient of weight uniformity. Keywords: Lemna perpusilla, physiological condition, phytoremediation, production performance.  ABSTRAKPenelitian ini bertujuan mengevaluasi kinerja produksi dan fisiologi ikan nila dengan penggunaan Lemna perpusilla sebagai fitoremediator pada sistem resirkulasi. Rancangan penelitian yang digunakan adalah acak lengkap dengan dua perlakuan dan tiga ulangan. Ikan nila dipelihara pada kolam tanpa L. perpusilla (TL) dan ikan nila dipelihara pada kolam dengan L. perpusilla (L). Ikan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih ikan nila dengan panjang baku 9,98 ± 0,08 cm dan bobot rata-rata 36,27 ± 1,07 g. Padat tebar ikan tiap kolam pemeliharaan 46 ekor/kolamdengan ukuran kolam 275×100×60 cm3. Setiap kolam diberi sekat dengan luasan 44,1% L. perpusilla dari luasan kolam. Ikan nila dipelihara selama 60 hari pemeliharaan dengan pakan berupa pakan komersial dan L. perpusilla dengan jumlah pakan masing-masing 2% dan 1% dari biomassa. Pada pagi dan sore hari diberi pakan komersial, dan siang hari ikan diberi pakan L. perpusilla. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ikan nila yang dipelihara dengan fitoremediasi L. perpusilla menghasilkan kinerja produksi dan kondisi fisiologis yang normal. Keunggulan sistem ini adalah menghasilkan nilai konversi pakan yang lebih rendah, nilai efisiensi pemberian pakan, dan koefisien keseragaman bobot yang lebih tinggi. Kata kunci : fitoremediasi, Lemna perpusilla, kondisi fisiologis, kinerja produksi. 
THE EFFECTIVENESS OF LEMNA PERPUSILLA AS PHYTOREMEDIATION AGENT IN GIANT GOURAMI CULTURE MEDIA ON 3 PPT Marda, Alexander Burhani; Nirmala, Kukuh; Harris, Enang; Supriyono, Eddy
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 2 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3077.813 KB) | DOI: 10.19027/jai.14.122-127

Abstract

ABSTRACT The wasted from feed and feces containt nitrogen and phosphorus can decreased fertility and feability water quality. Lemna perpusilla (duckweed) is prospective to use as an agent of phytoremediation of organic waste and can used as animal feed because it has high protein content. Meanwhile water salinity could be accelerate the growth of giant gourami. The aim of this research was to analyze the ability of L. perpusilla in absorbing nutrients nitrogen and phosphorus in water salinity of 3 ppt. The research was conducted four treatments and three replications. The treatments were A (L. perpusilla and 3 ppt salinity), B (L. perpusilla, 3 ppt salinity and filter), C (L. perpusilla, 3 ppt salinity and aeration), and D (L. perpusilla, 3 ppt salinity, filter and aeration). Experiment were carried in aquaria 50×33×50 cm3 in size with density of gourami fish 150/49.5 L for one month. The results showed that the ability of L. perpusilla to absorb N and P decreased from the beginning of the study due to lack of nutrient source of N and P in the aquaculture media, but increased because the impact of the feeding and  metabolism of the gourami. There was no different treatment effect for decreased N and P (P> 0.05). The highest nitrite level was found in D treatment, it means that L. perpusilla not be able to absorb  N and P in the media 3 ppt salinity. However, the addition of 3 ppt salinity gives the best results for the survival rate and feed efficiency ratio. Keywords: phytoremediation, Lemna perpusilla, giant gourami fish, nitrogen and phosphorus  ABSTRAK Limbah pakan dan feses yang mengandung nitrogen dan fosfor dapat menyebabkan penurunan kesuburan dan kelayakan kualitas air. Lemna perpusilla (duckweed) baik digunakan sebagai agen fitoremediasi organik untuk limbah dan dapat digunakan sebagai pakan hewan karena mengandung protein yang tinggi, sementara media bersalinitas mampu mempercepat pertumbuhan ikan gurami. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kemampuan L. perpusilla dalam mengabsorbsi nutrisi nitrogen dan fosfor pada air bersalinitas 3 ppt. Penelitian ini terdiri atas lima perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah A (L. perpusilla dan salinitas 3 ppt), B (L. perpusilla, salinitas 3 ppt dan filter), C (L. perpusilla, salinitas 3 ppt dan aerasi), dan D (L. perpusilla, salinitas 3 ppt, aerasi dan filter). Akuarium yang digunakan berukuran 50×33×50 cm3 dengan kepadatan ikan gurami 150 ekor/49,5 L dan waktu pemeliharaan selama satu bulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan L. perpusilla menyerap limbah N dan P berkurang dari awal penelitian karena kurangnya sumber nutrisi N dan P pada media pemeliharaan, namun beranjak meningkat yang berdampak dari adanya pemberian pakan dan sisa metabolisme dari ikan gurame. Tidak ada perlakuan yang berpengaruh terhadap pengurangan N dan P (P>0,05). Nilai nitrit tertinggi terdapat pada perlakuan D, hal ini berarti bahwa L. perpusilla tidak mampu untuk menyerap limbah N dan P pada media bersalinitas 3 ppt. Namun penambahan salinitas 3 ppt memberikan hasil yang terbaik bagi derajat kelangsungan hidup ikan gurami dan efisiensi pakan. Kata kunci: fitoremediasi, Lemna perpusilla, ikan gurami, nitrogen dan fosfor 
GROWTH OF OFF-FLAVOURS-CAUSED PHYTOPLANKTON IN MILKFISH CULTURE FERTILIZED WITH DIFFERENT N:P Azis, Rahmadi; Affandi, Ridwan; Nirmala, Kukuh; Prihadi, Triheru
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 1 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3018.594 KB) | DOI: 10.19027/jai.14.58-68

Abstract

ABSTRACT Milkfish culture in ponds currently use inorganic fertilizers for growing phytoplankton. Giving of urea and SP (superphosphate) too much in the pond environment will cause eutrophication and often cause fish smell of mud (off-flavours). Off-flavours in fish is caused by two chemical compounds those are geosmin and 2-methylisoborneol (MIB). Research was performed to evaluate the growth of off-flavours-caused phytoplankton in milkfish culture fertilized by different N:P. This study used nine ponds. Ponds are used for fish rearing area of 600 m2. Fish reared in ponds at the density of 1 fish/m2 for 90 days. The study were showed that types of phytoplankton obtained were the phylum Chlorophyta, Cyanophyta, Bacillariophyta, Dinoflagellate, Glaocophyta, and Euglenophyta. Percentage abundance of phytoplankton that produced geosmin and MIB (Cyanophyta) in each treatment was less than 50% of the percentage of total phytoplankton. Organoleptic scores showed that the treatment pond G (N:P ratio 4) score of 7 (not fresh, no off-flavours). Organoleptic scores of treatments with N:P ratio 5, 15 and 30 in pond A (freshwater pond) and pond B (brackish water pond) were 8 (fresh, no off-flavours). Keywords: extensive pond-culture, phytoplankton, N:P ratio, organoleptic  ABSTRAK Budidaya bandeng di tambak saat ini menggunakan pupuk anorganik untuk menumbuhkan fitoplankton. Pemberian pupuk urea dan SP (superphosphate) yang berlebihan pada lingkungan budidaya akan menyebabkan kondisi perairan tersebut menjadi sangat subur dan sering menyebabkan ikan bau lumpur off-flavours. Bau lumpur di ikan disebabkan oleh dua senyawa kimia yaitu geosmin dan 2-methylisoborneol (MIB). Penelitian dilakukan untuk menguji pertumbuhan fitoplankton penyebab bau lumpur pada tambak ikan bandeng dipupuk dengan N:P berbeda. Penelitian ini menggunakan sembilan petak tambak. Tambak yang digunakan berukuran 600 m2. Ikan ditebar di tambak dengan kepadatan 1 ikan/m2 dan dipelihara selama 90 hari. Hasil penelitian menunjukkan fitoplankton yang didapatkan antara lain berasal dari filum Chlorophyta, Cyanophyta, Bacillariophyta, Dinoflagellata, Glaocophyta, dan Euglenophyta. Kelimpahan fitoplankton Cyanophyta lebih kecil dibandingkan dengan fitoplankton bukan Cyanophyta yaitu di bawah 50%. Skor organoleptik perlakuan tambak G (rasio N:P 4) yaitu 7 (kurang segar, tidak bau lumpur). Skor organoleptik perlakuan rasio N:P 5, 15, dan 30 di tambak A (tambak air tawar) dan tambak B (tambak air payau) adalah 8 (segar, tidak bau lumpur). Kata kunci: budidaya kolam ekstensif, fitoplankton, rasio N:P, organoleptik
PRODUCTIVITY AND CHEMICAL PARAMETERS IN THE BOTTOM SOIL OF 1 AND 3 YEARS OPERATED POND OF BLACK TIGER PRAWN PENAEUS MONODON FAB. CULTURE Nirmala, Kukuh; Yuniar, E.; Budiardi, T.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 4 No. 1 (2005): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (98.721 KB) | DOI: 10.19027/jai.4.5-11

Abstract

This study was carried out to observe the productivity and bottom soil chemical aspects of 1 year  and 3 years operated pond of black tiger prawn Penaeus monodon Fab. culture. The results of study depicted that pond operated for 3 years contained higher (P
EFFECT OF ELECTRICAL FIELD ON GONADAL DEVELOPMENT OF GOLDFISH IN SALINE MEDIA Nirmala, Kukuh; Habibie, Ahmad; Arfah, Harton
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 1 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2938.394 KB) | DOI: 10.19027/jai.14.9-17

Abstract

ABSTRACT The aim of this study was to evaluate the effect of electric field exposure duration at the voltage of 10 volt on goldfish Carassius auratus auratus gonadal development maintained in 3 ppt salinity media. The experiment consisted of four treatments in triplicates i.e. control, two, four, and six minutes of electrical-field exposure. The experiment design used was completely randomized design. Fish used was female goldfish at the density of 4 fish/aquarium with an average total length of 12.27±0.05 cm and average body weight of 22.29±0.54 g. Result of study showed that the electrical-field exposure at 10 volt for all duration treatments in 3 ppt of media salinity did not give significant effect on gonadosomatic index (GSI) and gonadal development of goldfish. Keywords: electrical field, Carassius auratus auratus, gonad, salinity  ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pengaruh lama waktu pemaparan medan listrik dengan voltase 10 volt terhadap perkembangan gonad ikan komet Carassius auratus auratus yang dipelihara pada media bersalinitas 3 ppt. Perlakuan pada penelitian ini terdiri atas empat perlakuan, yaitu: perlakuan kontrol, dua, empat, dan enam menit. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan dan tiga ulangan. Ikan uji yang digunakan adalah ikan komet betina. Jumlah ikan yang digunakan adalah 4 ekor/akuarium dengan panjang total rata-rata 12,27±0,05 cm dan bobot tubuh rata-rata 22,29±0,54 g. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian medan listrik sebesar 10 volt dengan lama waktu pemaparan medan listrik pada semua perlakuan durasi di media pemeliharaan bersalinitas 3 ppt tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap parameter indeks gonadosomatik (GSI) dan perkembangan gonad ikan komet. Kata kunci: medan listrik, Carassius auratus auratus, gonad, salinitas
Co-Authors . Rasmawan ., Berlianti Afandi, Arfan Agus Priyadi Ahmad Habibie, Ahmad Alexander Burhani Marda, Alexander Burhani Alimuddin Alimuddin Aras, Annisa Khairani Ardi, Idil Arlina Ratnasari CECEP KUSMANA Chandra Yudistira, Chandra D. Djokosetiyanto D. Djokosetyanto Daniel Djokosetiyanto Dedi Jusadi Diana, Farah Dinamella Wahjuningrum Dinar Tri Soelistyowati Djai, Suhaiba Dodi Hermawan E. M. Adiwilaga E. Yuniar Eddy Supriyono Enang Harris Enang Harris Surawidjaja, Enang Harris Erlania Erlania, Erlania Fauziyah, Nur Febrina Amalia Firman, Sri Wahyuni Ghozali, M. Faisol Riza Hamsiah, , Haris, Enang HARTON ARFAH Humairani, . I Nyoman Radiarta Ilyas, Anita Prihatini Iman Rusmana Islama, Dini Jr., Muhammad Zairin JULIE EKASARI Koesoemadinata, Santosa Kristanto, Anang Hari Kukuh Adiyana, Kukuh Kuntari, Wahyu Budi Kurnia Faturochman, Kurnia Kurnia Faturrohman, Kurnia Lilis Nurjanah Muhamad Yamin Muhammad Hanif Azhar, Muhammad Hanif Nasmi, Jannesa Novita, Ris Dewi Nur Bambang Priyo Utomo Nurdin, Mochamad Nurhidayat Nurhidayat Nurul Taufiqu Rochman Permatasari, Sheny Petrus Rani Pong-Masak Prama, Ega Aditya Purnamawati, , Puspaningsih, Dewi Qorie Astria R. Wulandari Rahmadi Azis, Rahmadi Rahmawati, Riani Ridwan Affandi Rina Hesti Utami Riri Ezraneti Riza Purbo Widiasto Rizky Armansyah Robin Robin, Robin Robin, , Rochman, Nurul Taufiqu Taufiqu Saputra, Henry Kasmanhadi Siburian, Arif Faisal Sri Nuryati Sudarto, nFN Sukenda Sukenda Sukenda, nFN Susianti, Novi Syahputra, Ruspindo Syarif Budiman T. Budiardi Tatag Budiardi Tri Widiyanto Triheru Prihadi, Triheru Tyas Setioaji Vika Yuniar Wahyu, nFN Wardani, Sulistia Widiyati, Ani Widiyati, Ani Widiyati, Ani Wildan Nurusallam, Wildan Wildan Nurussalam, Wildan Wiyoto Wiyoto, Wiyoto Yani Hadiroseyani Yosmaniar, nFN Yosmaniar, Yosmaniar Yuni Puji Hastuti Yuniarsih, Erna