Articles

Found 7 Documents
Search

POTENSI ANTIBAKTERIAL EKSTRAK CACING TANAH LUMBRICUS RUBELLUS, PHERETIMA POSTHUMA DAN MEGASCOLEX SP. SEBAGAI OBAT ALTERNATIF Suprihatin, Suprihatin; Noverita, Noverita
E-Journal Widya Kesehatan dan Lingkungan 2005
Publisher : E-Journal Widya Kesehatan dan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Being a tropical country Indonesia has vast biological resources but has not been explored maximally. Study on biological resource potential of plant as the raw materials of drugs has not been extensively done on animal biological resources. The study objective was to explore the medical potency of resources of an animal easily found in Indonesia such as worms. It is abundantly found living in tropical countries like Indonesia, cultivated with some organic compost media, and it is used as decomposer of garbage. Worm extract is believed to have high medical potency and traditionally it is used for cold treatment, typhoid, diarrhea, anti-hypertension, disinfectant, etc. This study conducted antibacterial testing on some common species of worms, namely Lumbricus rubellus, Pheretima posthuma and Megascolex sp. The antibacterial potency testing was done on typhoid causing bacteria, namely Salmonella typhi, and compared to generic antibiotic used for typhoid treatment. The result showed a lower potency then Ampicillin (between 25-35%), but the worms extract had potential to be developed as antibacterial materials or chemical compound.
INVENTARISASI DAN POTENSI JAMUR MAKRO DI KAWASAN TAMAN NASIONAL UJUNG KULON BANTEN Noverita, Noverita; Ilmi, Fauziah
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 13, No 1 (2020): Al-Kauniyah Jurnal Biologi
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v13i1.12564

Abstract

AbstrakTaman Nasional Ujung Kulon (TNUK) adalah salah satu kawasan lindung terletak di Kabupaten Pandeglang, Banten. Di kawasan ini terletak Desa Ujung Jaya. Formasi hutan di kawasan ini sangat bervariasi, dengan keanekaragaman plasma nutfah yang cukup tinggi, sehingga sangat memungkinkan ditemukan jamur makro. Penelitian ini bertujuan mendapatkan data jenis-jenis jamur makro dan data potensi baik sebagai bahan pangan, bahan obat, dan sebagai mikoriza. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode jalur, yaitu dengan mengamati dan mencatat sampel di sepanjang jalur penelitian, yang meliputi kawasan hutan sekitar permukiman, kawasan mangrove, dan kawasan permukiman penduduk. Hasil penelitian didapatkan sebanyak 98 spesies jamur makro di TNUK, dengan sebaran sebanyak 56 spesies di kawasan permukiman,  31 spesies di kawasan hutan, dan 32 spesies di kawasan mangrove. Jamur makro yang ditemukan didominasi phylum Basidiomycota 92 spesies, sementara phylum Ascomycota hanya 4 spesies dan sisanya 2 spesies dari kelompok jamur lendir (phylum Myxomycota). Sebanyak 28 spesies sebagai bahan pangan, 56 spesies sebagai bahan obat, dan 5 spesies sebagai mikoriza.Abstract Ujung Kulon National Park (TNUK) is a protected area located in Pandeglang Regency, Banten. Located in this area is Ujung Jaya village. Forest formations in this region is very varied, with a fairly high diversity of germplasm so that it is possible to find macro fungi. The purpose of this study was to obtain data on macro fungi and potential data as food ingredients, as medicinal ingredients, and as mycorrhizae. The method used in this study is the path method, which is by observing and recording samples along the research path, which includes forest areas around settlements, mangrove areas, and residential areas. From the results, 98 species of macro fungi were found in Ujung Kulon National Park, from which 56 species were found in residential areas, 31 species in forest areas and 32 species in the mangrove area. Macro fungi found were dominated by phylum Basidiomycota, as many as 92 species, the rest were Ascomycota phylum as many as 4 species and phylum Myxomycota (slime mold), as many as 2 species. A total of 28 species as food ingredients, 56 species as medicinal ingredients, and 5 species as mycorrhizae.
Terapi Bermain Terhadap Tingkat Kecemasan Pada Anak Usia 3–5 Tahun Yang Berobat Di Puskesmas Peukan Baro Noverita, Noverita; Mulyadi, Mulyadi; Mudatsir, Mudatsir
Jurnal Ilmu Keperawatan Vol 5, No 2 (2017): Jurnal Ilmu Keperawatan (JIK)
Publisher : Jurnal Ilmu Keperawatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (789.949 KB)

Abstract

AbstrakKecemasan merupakan perasaan yang paling umum yang dialami anak saat berobat ke fasilitas pelayanan kesehatan. Kecemasan yang sering dialami seperti menangis, dan takut pada orang baru. Respon kecemasan anak tergantung dari tahapan usia anak. Kecemasan anak akibat stress yang ditimbulkan dari situasi saat menjalani pengobatan akan berdampak terhadap tingkat kooperatif anak terhadap pengobatan dan perawatan yang diberikan apabila tidak diatasi salah satunya dengan terapi bermain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi bermain terhadap tingkat kecemasan anak usia 3-5 tahun yang berobat di Puskesmas Peukan Baro Kabupaten Pidie. Penelitian berjenis kuantitatif ini didesain dalam bentuk quasi experiment melalui pendekatan pre-post test design without controlling yaitu kecemasan diukur sebelum dan sesudah diberikan terapi bermain. Penelitian dilaksanakan dari tanggal 26 Juni sampai dengan 29 Juli 2016 di Poliklinik Anak Puskesmas Peukan Baro Kabupaten Pidie. Jumlah sampel yang didapat sebanyak 75 anak. Hasil pengolahan data dianalisa dengan menggunakan statistik non parametrik yaitu Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kecemasan pada anak 3–5 tahun sebelum dilakukan terapi bermain dengan mean (2,87), median (3) dan standar deviasi (0,342). Tingkat kecemasan pada anak 3–5 tahun sesudah dilakukan terapi bermain dengan mean (2,39), median (3) dan standar deviasi (0,695). Hasil uji Wilcoxon Signed Rank Test menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan tingkat kecemasan anak antara sebelum dilakukan terapi bermain dengan sesudah  dilakukan terapi bermain di Puskesmas Peukan Baro Kabupaten Pidie dengan nilai p. Value 0,000. Saran peneliti bagi perawat dan pihak Puskesmas untuk dapat meningkatkan mutu pelayanan asuhan keperawatan pada anak yang berobat di puskesmas, dengan meningkatkan perhatian dan memberikan terapi bermain sesuai dengan tahap perkembangan anak serta menyediakan sarana bermain sehingga anak-anak akan merasa aman dan nyaman selama dalam perawatan. Kata Kunci : Kecemasan, Terapi Bermain, anak usia 3–5 tahun Abstract Concepts of attitude, subjective norms, and perceived behavior control in the Theory of Planned Behavior considered to have significant correlation to VCT uptake’s intention. This study aimed to identify determinants factors of voluntary and counseling testing uptake’s intention among HIV/AIDS risk groups in Lhokseumawe. This was an analytic with cross-sectional study on 97 respondents selected through accidental sampling technique among five HIV/AIDS risk groups consists of Men who have sex with men, Female sex workers, Transsexual, Bikers, and Prisoners, conducted from January 18 to February 13, 2016 in Lhokseumawe. Data were collected using questionnaire. The results by binary logistic regression test showed that determinant factor of VCT uptake’s intention was subjective norms (Exp (β)=0.054; p-value=0.001) and TPB explained the variability in VCT uptake’s intention by 21.6% (Nagelkerke R Square=0.216). Therefore it concluded that the Theory of Planned Behavior could  identify determinant factor of Voluntary Counseling and Testing uptake’s intention with subjective norms as its main determinant. The counselors and field personals  should assemble with the target group’s significant in order to improve the program success associated to the Voluntary Counseling and Testing service use. Key Words: HIV/AIDS Risk groups, The Theory of Planned Behavior, Voluntary Counseling and Testing uptake’s Intention.
Jamur Makro Di Pulau Saktu Kepulauan Seribu Jakarta Utara dan Potensinya Noverita, Noverita; Nabilah, Nabilah; Siti, F Y; Yudistari, Yudistari
Jurnal Mikologi Indonesia Vol 2, No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : Perhimpunan Mikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pulau Saktu merupakan salah satu pulau yang berada dalam gugusan Kepulauan Seribu, terletak di desa Pulau Kelapa, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Luas pulau berdasarkan analisis citra satelit adalah 0,172 km2, dan hampir ¾ dari luas pulau tersebut berupa hutan konservasi. Pulau ini sebelumnya dijadikan tempat wisata, dan sekarang hanya dihuni oleh penjaga rumah peristirahatan. Kondisi lingkungan basah dan lembab, serta banyak naungan sangat cocok bagi pertumbuhan banyak organisme, termasuk jamur makro. Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui spesies jamur makro yang ditemukan dari kawasan Pulau Saktu serta potensinya. Metode dalam penelitian ini adalah metode jalur dan plot, dengan mencatat karakter morfologi tubuh buah jamur makro disepanjang jalur penelitian. Diperoleh sebanyak 71 spesimen dari kawasan penelitian ini, 14 spesimen merupakan jamur yang termasuk sebagai bahan pangan, diantaranya Auricularia auricula, Volvariella volvacea, Lentinus sajor-cajo, Schizophyllum commune, 32 spesimen sebagai bahan obat, diantaranya Ganoderma applanatum, Daldinia concentrica, Stereum sp., Xylaria sp., Microporus xantophus. Kata kunci– diversitas– obat– pangan– Pulau Saktu - Indonesia
Jamur Makro Berpotensi Pangan dan Obat di Kawasan Cagar Alam Lembah Anai dan Cagar Alam Batang Palupuh Sumatera Noverita, Noverita; Sinaga, E; Setia, Tatang M
Jurnal Mikologi Indonesia Vol 1, No 1 (2017): Juni 2017
Publisher : Perhimpunan Mikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telah dilakukan Penelitian di Kawasan Cagar Alam Lembah Anai dan Cagar Alam Batang Palupuh, Sumetera Barat, dengan tujuan mendapatkan data jenis-jenis jamur makro di kedua kawasan tersebut, dan data-data jenis jamur makro yang berpotensi baik sebaga bahan pangan dan obat, menggunakan metode koleksi langsung dengan memodifikasi jalur menggunakan plot. Dalam eksplorasi ini telah ditemukan sebanyak 112 jenis makrofungi (63 jenis di Ka-wasan Cagar Alam Lembah Anai, 58 jenis di Kawasan Cagar Alam Batang Palupuah). Jamur makro yang ditemukan didominasi dari bangsa Aphylloporales dengan jenis-jenisnya antara lain Amauroderma rugosum, Cymatoderma sp., Fomitopsis sp., Ganoderma spp., Hetero-basidion annosum, Microphorus spp., Polyporus spp., Rigidoporus spp., dan Trametes spp. Kelompok berikutnya yang mendominasi adalah dari bangsa Agaricales, dengan jenis-jenisnya antara lain Amanita spp., Agaricus spp., Clytocibe spp., Entoloma spp., Filoboletus spp., Hygrocybe spp., Lepiota spp., Omphalina spp., Marasmius spp., Marasmiellus spp., dan Russula spp. Jenis-jenis yang berpotensi sebagai sumber pangan dari kawasan ini adalah Auricularia auricula, Auricularia delicata, Agaricus spp., Boletellus spp., Calvatia excipu-liformis, Cantharellus cibarius, Cookeina speciosa, Fistulina sp., Hygrocybe sp., Lentinus sajor-caju, Marasmiellus ramealis, Russula fragilis, dan Pluteus cervinus. Sementara jenis-jenis yang berpotensi sebagai bahan obat adalah Amauroderma rugosum, Ganoderma lucidum, Ganoderma pfeifferi, Ganoderma resinaceum, Microphorus spp., Polyporus spp., Trametes spp., dan Xylaria spp. Kata kunci – bioteknologi – diversitas jamur – makrofungi – Indonesia – cagar alam
KEANEKARAGAMAN DAN POTENSI JAMUR MAKRO DI KAWASAN SUAKA MARGASATWA BUKIT RIMBANG BUKIT BALING (SMBRBB) PROPINSI RIAU, SUMATERA Noverita, Noverita; Armanda, Dennys Perdana; Matondang, Ikhsan; Setia, Tatang Mitra; Wati, Ratna
Pro-Life Vol 6 No 1 (2019): Maret
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/pro-life.v6i1.935

Abstract

The Bukit Rimbang Bukit Baling Wildlife Reserve Area (SMBRBB) Riau is one of the areas that has the characteristics of lowland rainforest types with high biodiversity, so it is possible to find many macro fungi, but there is no data on macrofungi diversity. This research was conducted with the aim of obtaining diversity data and potential data on macrofungi, both as food ingredients and as medicinal ingredients. This study uses a searching method that is modified by the path method using sample plots. 138 macrofungi species were obtained, which included 52 genera, 37 families and 3 phyla. Macrofungi diversity index at this location is relatively moderate, and high uniformity index. 66 species potentially as medicinal ingredients, including Amauroderma rugosum, Ganoderma aplanatum, Ganoderma lucidum, Lentinus sajo-caju, Lentinus squamolosus, Cymatoderma elegans, Daldinea concentrica, Microporus xantopus, M. afinitis, Pycnoporus cinnabarius, Polyporus arcularius, Rigidoporus microporus, Rigidoporus microporus, Trametes versikularis, and Xylaria longipes. As many as 32 species have potential as food ingredients, including Auricularia auricula, Auricularia delicata, Auricularia polytricha, Cookeina sulcipes, Phallus indusiatus, Lentinus sajor-caju, Lentinus squamolosus, Pleurotus ostreatus, Schizophyllum commune, Tramella fuciformis, and Volvariellavolvacea. Keywords: cultivation, diversity, food,  makrofungi, medicine.
KEANEKARAGAMAN JAMUR MAKROSKOPIS DI BEBERAPA HABITAT KAWASAN TAMAN NASIONAL BALURAN Wati, Ratna; Noverita, Noverita; Setia, Tatang Mitra
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 12, No 2 (2019): Al-Kauniyah Jurnal Biologi
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v12i2.10363

Abstract

AbstrakJamur merupakan komponen dasar yang sangat penting dalam suatu ekosistem. Taman Nasional Baluran merupakan salah satu ekosistem dengan beberapa tipe habitat yang mendukung pertumbuhan jamur. Kawasan ini memiliki keanekaragaman jamur yang belum banyak dieksplorasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui komposisi, keanekaragaman jenis dan potensi jamur makroskopis di lima tipe habitat di kawasan Taman Nasional Baluran. Penelitian dilakukan pada tipe habitat hutan primer perbukitan, hutan primer dataran rendah, hutan evergreen, hutan musim dan hutan jati pada bulan Maret 2013. Metode yang digunakan adalah petak kuadrat yang berukuran 10 x 10 m pada jalur dengan interval 50 m sebanyak 20 plot pada masing-masing tipe habitat. Jumlah jenis jamur makroskopis yang ditemukan adalah sebanyak 152 jenis, 37 marga dan 25 suku. Masing-masing lokasi memiliki kesamaan jenis yang berbeda. Indeks keanekaragaman termasuk kategori rendah. Pada hutan primer perbukitan sebesar 2,154; hutan primer dataran rendah sebesar 2,144; hutan jati sebesar 2,423; hutan musim sebesar 1,375; dan evergreen sebesar 1,063. Terdapat perbedaan jenis jamur makroskopis yang mendominasi setiap habitat. Pada penelitian ini ditemukan jamur makroskopis berpotensi dekomposer, mikoriza, obat dan pangan. Hasil penelitian diharapkan para pihak dapat menjaga kawasan untuk mempertahankan keanekaragaman hayati khususnya jamur makroskopis sehingga dapat dilakukan penelitian lebih lanjut serta dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar.Abstract The fungus is a basic component that is very important in the forest ecosystem. Baluran National Park is one of the ecosystems with several types of habitats, which supports the growth of fungus. This area has a diversity of macrofungi that has not been much explored. The purpose of this study was to determine the composition, diversity and potential of macrofungi in five habitat types in Baluran National Park area.The study was conducted on habitat types of hills hilly primary forest, primary forest of lowland, evergreen forest, forest season and jati forests in March 2013.The method used is the swath of squares measuring 10 x 10 m on track, with an interval of 50 m, as many as 20 plots in each habitat type. Number of species of macrofungi found as many as 152 species, 37 genera and 25 familiy. Each location has a different kind of similarity. The diversity index is categorized as low. hills hilly primary forest amounted to 2.154, primary forest of lowland amounted to 2.144, jati forest of 2.423, seasons forest of 1.375 and evergreen of 1.063. There are different types of macrofungi that dominate in every habitat. In this study found macroscopic fungi potentially as decomposers, mycorrhizae, medicinal and food. From the research result expected the management of Baluran National Park can maintain the area to protect biodiversity in particular macrofungi so that it can be further research and can be used by the local community.