Franto Novico
Unknown Affiliation

Published : 17 Documents
Articles

Found 17 Documents
Search

PEMODELAN POLA ARUS PADA PERAIRAN TELUK BALIKPAPAN DENGAN MENGGUNAKAN SOFTWARE MIKE 21 Witono, Aryo; S, Denny Nugroho; Widada, Sugeng; Novico, Franto
Journal of Oceanography Vol 2, No 3 (2013)
Publisher : Program Studi Oseanografi, Jurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Teluk Balikpapan mendapat masukan air dari beberapa sungai besar yang bermuara di daerah teluk tersebut, dan juga dari perairan yang langsung berbatasan dengan Selat Makassar. Pada Teluk Balikpapan terdapat banyak aktifitas manusia, Aktifitas aktifitas tersebut sangat dipengaruhi oleh kondisi hidrodinamika. Salah satu faktor hidrodinamika yang paling berpengaruh di teluk ini adalah arus.Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui karakteristik dan pola arus dengan menggunakan data pasang surut sebagai data pembanding antara hasil pemodelan dan hasil lapangan. Penelitian dilaksanakan di pada tanggal 10 November ? 24 november 2011.Dari hasil pengukuran diperoleh nilai Tinggi Muka Air Rata-rata (Mean Sea Level), Tinggi Muka Air Tinggi Tertinggi (High Highest Water Level), Tinggi Muka Air Rendah Terendah (Low Lowest Water Level) berturut-turut sebesar 141 cm, 280 cm, dan 23 cm. Dari data pasang surut diperoleh juga bilangan Formzahl sebesar 0,54 maka dapat diketahui tipe pasut Perairan Teluk Balikpapan adalah tipe campuran dengan dominasi pasang surut ganda. Simulasi model Hidrodinamika 2D menghasilkan pola arus yang dirata-ratakan terhadap kedalaman  pada daerah model.  Pada daerah model, kecepatan arus yang terbentuk hingga 0.06 m/detik pada kondisi pasang bulan purnama dan 0,03 m/detik pada kondisi surut bulan mati. Hasil verifikasi data lapangan dengan hasil pemodelan didapat korelasi sebesar 92%.
POLA SEBARAN SEDIMEN TERSUSPENSI BERDASARKAN MODEL POLA ARUS PASANG SURUT DI PERAIRAN TELUK BALIKPAPAN, KALIMANTAN TIMUR Sinaga, Afrianto Tua; Satriadi, Alfi; Hariyadi, Hariyadi; Novico, Franto
Journal of Oceanography Vol 2, No 3 (2013)
Publisher : Program Studi Oseanografi, Jurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKTeluk Balikpapan memiliki muara-muara sungai besar maupun kecil, di antaranya seperti Sungai Sumber, Sungai Wain, Sungai Semoi, Sungai Sepaku, Sungai Somber, Sungai Kariangau dan Sungai Riko. DAS (Daerah Aliran Sungai) Teluk Balikpapan memiliki peranan yang cukup penting dan strategis, diantaranya sebagai penyangga kesinambungan fungsi teluk tersebut sebagai pelabuhan laut Balikpapan dan sumber penghasilan masyarakat di sekitarnya serta kehidupan ekosistem perairan kawasan teluk.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pola sebaran sedimen tersuspensi berdasarkan model pola arus pasang surut di perairan Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur dengan menggunakan pendekatan model Mike 21. Pengambilan data dilakukan pada tanggal 10 November 2011 ? 24 November  2011. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif yang bersifat eksploratif. Model yang digunakan merupakan model hidrodinamika dengan data batimetri dan data pasang surut sebagai penggerak utama dan data sekunder yaitu konsentrasi sedimen tersuspensi yang konstan sebagai nilai masukan dalam pengolahan model.Nilai maksimum konsentrasi sedimen tersuspensi terjadi pada saat pasang purnama yaitu di Sungai Wain Besar  berkisar antara 0,032 kg/m3 ? 0,04 kg/m3 dengan kecepatan arus pasut 0,1 m/s ? 0,12 m/s. Nilai minimum terjadi pada saat surut perbani di sekitar Sungai Sumber dengan nilai berkisar 0 ? 0,08 kg/m3dengan kecepatan arus pasut 0,02 m/s ? 0,04 m/s. Nilai korelasi antara data pasang surut pengamatan dengan nilai elevasi muka air hasil model Mike 21 mencapai 93,74 %.
PEMODELAN POLA ARUS PADA TIGA KONDISI MUSIM BERBEDA SEBAGAI JALUR PELAYARAN PERAIRAN TELUK LAMPUNG MENGGUNAKAN SOFTWARE DELFT3D. Budiwicaksono, Ajie Rahmat; Subardjo, Petrus; Novico, Franto
Journal of Oceanography Vol 2, No 3 (2013)
Publisher : Program Studi Oseanografi, Jurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Teluk Lampung merupakan teluk yang menjadi pusat kegiatan beberapa lokasi industri dan dermaga besar, padatnya lalu lintas kapal di Teluk Lampung tidak saja disebabkan oleh lalu lintas kapal besar yang mengangkut bahan industri dan keperluan energi namun juga banyak ditemui kapal-kapal nelayan yang beraktifitas di sekitar teluk. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 06 ? 20 April 2011 (proses pengambilan data lapangan) di Teluk Lampung pada koordinat 5?28?17.72?LS dan 105?15?6.93?BT. Pengukuran data bathimetri dilakukan dengan 2 metode yaitu menggunakan Syqwest ( untuk Sounding laut dalam) dan Echosounder (untuk perairan dangkal).dan AOTT Kempten Strip-Chart (Analog Tide) sebagai alat ukur pasang-surut yang diikat pada dermaga. Menggunakan ADCP (Accoustic Doppler Current Profiler) SonTek Argonaut-XR, pengukuran arus dilakukan pada kondisi pasang surut yang ekstrim yaitu pasang purnama selama 1 x 24 jam. Hasil pengolahan data batimetri diketahui bahwa kedalaman Perairan Teluk Lampung memeiliki kedalaman mencapai ±28 meter, kedalaman tersebut sangat baik untuk dapat dilewati oleh kapal sebagai alur pelayaran. Hasil simulasi model menggunakan software Delft3D menggambarkan pola arus yang dirata-ratakan terhadap kedalaman pada daerah penelitian, vektor arus pada daerah penelitian menunjukkan bahwa arah pergerakan arus yang terjadi cenderung bersifat bolak-balik akibat adanya dominasi arus pasut, Kecepatan rata - rata yang didapatkan pada stasiun 1 dan 2 berkisar antara 0,0172 ? 0,0279 meter/ detik. Pemodelan pola arus di perairan Teluk Lampung diberikan 3 skenario untuk memodelkan pola arus dengan masukan arah angin, diperoleh hasil kecepatan rata ? rata arus pada musim barat sebesar 0,01728 ? 0,02587 meter/ detik. Pada musim timur diperoleh dari hasil simulasi model hasil kecepatan rata ? rata arusnya sebesar 0,0174 ? 0,0298 meter/detik, Sedangkan untuk kecepatan rata ? rata arus pada musim peralihan sebesar 0,0175 ? 0,0278 meter/detik. Vektor arah sebagai pola arus pada perairan Teluk Lampung tidak terjadi perbedaan arah yang cukup berarti sehingga pola arus pada perairan tersebut pada musim barat, timur dan peralihan terlihat relatif sama.
ANALYSIS OF EROSION AND SEDIMENTATION PATTERNS USING SOFTWARE OF MIKE 21 HDFM-MT IN THE KAPUAS MURUNG RIVER MOUTH CENTRAL KALIMANTAN PROVINCE Novico, Franto; Priohandono, Yusuf Adam
BULLETIN OF THE MARINE GEOLOGY Vol 27, No 1 (2012)
Publisher : Marine Geological Institute of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7142.989 KB) | DOI: 10.32693/bomg.27.1.2012.44

Abstract

The public transportation system along the Kapuas River, Central Kalimantan are highly depend on water transportation. Natural condition gives high distribution to the smoothness of the vessel traffic along the Kapuas Murung River. The local government has planned to build specific port for stock pile at the Batanjung which would face with natural phenomena of sedimentation and erosion at a river mouth. Erosion and sedimentation could be predicted not only by field observing but it is also needed hypotheses using software analysis. Hydrodynamics and transport sediment models by Mike 21 HDFM-MT software will be applied to describe the position of sedimentations and erosions at a river mouth. Model is assumed by two different river conditions, wet and dry seasons. Based on two types of conditions the model would also describe the river flow and sediment transport at spring and neap periods. Tidal fluctuations and a river current as field observation data would be verified with the result of model simulations. Based on field observation and simulation results could be known the verification of tidal has an 89.74% correlation while the river current correlation has 43.6%. Moreover, based on the simulation the sediment patterns in flood period have a larger area than ebb period. Furthermore, the erosion patterns dominantly occur during wet and dry season within ebb period. Water depths and sediment patterns should be considered by the vessels that will use the navigation channel at a river mouth. Keywords: Kapuas Murung River, software Mike 21 HDFM-MT, erosion and sedimentation pattern Penduduk yang berada di sepanjang Sungai Kapuas sangat bergantung pada transportasi air. Kelancaran lalu lintas kapal di sepanjang Sungai Kapuas Murung sangat tergantung dengan kondisi alam yang terjadi. Rencana pemerintah daerah yang akan membangun pelabuhan khusus batubara di Batanjung akan berhadapan dengan fenomena alam yang umum terjadi di muara sungai yaitu sedimentasi dan erosi. Prediksi akan terjadinya sedimentasi dan erosi tidak hanya ditunjang pengamatan lapangan namun juga perlu dilakukan dengan melakukan hipotesa menggunakan bantuan analisis software. Penelitian ini akan menggambarkan posisi sedimentasi dan erosi di sekitar muara dengan pemodelan hidrodinamika dan transport sedimen yang menggunakan Software MIKE 21 HDFM-MT. Model dibuat dengan mengasumsikan kondisi sungai pada saat musim hujan dan musim kemarau. Berdasarkan dua kondisi tersebut model akan menggambarkan sebaran arus dan sebaran sedimen untuk periode bulan baru dan perbani. Data lapangan pasang surut dan kecepatan arus akan diverifikasi ke hasil simulasi model. Berdasarkan data hasil pengukuran lapangan dan data hasil simulasi model maka dapat diketahui bahwa verifikasi nilai pasang surut menunjukkan korelasi sebesar 89.74% sedangkan verifikasi nilai arus sebesar 43.6%. Selanjutnya dari hasil simulasi didapatkan bahwa pada saat pasang, gambaran posisi sedimentasi banyak terdapat pada bagian timur muara sungai dengan penyebaran cukup luas sedangkan pada kondisi surut area lebih sedikit. Selanjutnya gambaran daerah yang tererosi banyak terjadi pada saat air surut baik untuk musim hujan maupun kemarau. Kapal yang akan menggunakan muara sebagai alur pelayaran harus mempertimbangkan kondisi kedalaman air yang ada dan juga pola sedimentasi yang terjadi. Kata kunci: Sungai Kapuas Murung, software Mike 21FM HD-MT, erosi dan pola sedimentasi
SEAFLOOR MORPHOLOGY INFLUENCES ON CURRENT CONDITION IN A SUNDA STRAIT BRIDGE PROJECT USING NUMERICAL MODEL Novico, Franto; Astawa, I Nyoman; Sinaga, Adi; Ali, Arif
BULLETIN OF THE MARINE GEOLOGY Vol 30, No 2 (2015)
Publisher : Marine Geological Institute of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6258.819 KB) | DOI: 10.32693/bomg.30.2.2015.75

Abstract

It has been more than 50 years since the idea to construct the bridge of Sunda Strait was inspirited by Prof. Sedyatmo. This issued is very important due to accelerate the economic growth between Sumatera Island and Java Island which is known as the densest population in the Indonesia. However, until today the bridge is still not construct yet because the high budget and the lack of technical data are still being problems. One of the most important data is current condition along the Sunda Strait. Unfortunately, no one has been clearly studied about current condition along Sunda Strait. Therefore, the information about current condition would be completed to fulfil the lack of data and information. The RV Geomarine I, as a research vessel conducted the survey in October 2012 that one of the objectives is to get the impression about the current condition around the bridge plan. Attaching echo sounder of bathy 1500 to get the depth profile and applied the RD Instrument ADCP Mobile Workhorse Monitor 300 kHz to collect the real current data and analyze the current using numerical model by Mike 21 were carried out to describe the condition of the current around the bridge proposed. In addition, the detail flexible mesh of hydrodynamic model is applied along bridge plan to analyse the current condition that caused by seafloor morphology. Based on the ADCP data it would be seen that the highest velocity record of the current occurs at October 18th 2012 at line 19 with the value 2.63 m/sec. Nevertheless, the numerical model shown the highest current velocity occurs around the northwest of Sangiang Island where the speed attains more than 4.59 m/sec.Keywords: Seafloor morphology, Sunda Strait bridge, current condition, numerical model, the Sunda Strait Ide pembangunan jembatan di Selat Sunda telah ada lebih dari 50 tahun yang lalu, hal tersebut diinspirasikan oleh Prof. Sedyatmo. Isu tersebut sangat penting untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi di antara Pulau Sumatera dan Pulau Jawa, dimana diketahui sebagai pulau yang memiliki populasi terpadat di Indonesia. Namun, hingga saat ini jembatan tersebut masih belum terbangun disebabkan oleh masalah keuangan, dan kurangnya data teknis penunjang. Salah satu data terpenting adalah data arus di Selat Sunda. Namun, tidak ada satupun yang secara khusus melakukan penyelidikan tentang arus di sepanjang Selat Sunda. Untuk itu, informasi tentang kondisi arus akan dilakukan untuk memenuhi kekurangan data dan informasi. KR Geomarin I, sebagai kapal riset telah melakukan penelitian pada bulan oktober 2012 dimana salah satu tujuannya adalah untuk mengetahui kondisi arus di sekitar rencana jembatan. Dengan menggunakan echousounder bathy 1500 untuk mendapatkan profil kedalaman dan RD Instrument ADCP Mobile Workhorse Monitor 300 khz untuk mengumpulkan data arus sesaat dan melakukan analisa arus di sekitar rencana jembatan menggunakan model numeric Mike 21. Detail flexible mesh di sepanjang rencana jembatan diaplikasikan pada model hidrodinamika untuk menganalisa kondisi arus di sekitar area tersebut. Berdasarkan hasil survey ADCP maka dapat diketahui nilai kecepatan air terbesar terhadi pada tanggal 18 Oktober 2012 pada lintasan 19 dengan nilai 2,63 m/det. Sementara, hasil model numeric menunjukkan nilai arus tertinggi terjadi di sekitar barat laut Pulau Sangiang dengan kecepatan lebih dari 4.59 m/det. Kata kunci: Morfologi dasar laut, jembatan Selat Sunda, kondisi arus, model numeric, Selat Sunda
THE SAFETY FACTOR ANALYSIS OF THE MARINE SLOPE STABILITY MODEL ON THE ACCESS CHANNEL OF MARINE CENTRE PLAN CIREBON, WEST JAVA. Novico, Franto; Kristanto, Nur Adi
BULLETIN OF THE MARINE GEOLOGY Vol 25, No 2 (2010)
Publisher : Marine Geological Institute of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1474.746 KB) | DOI: 10.32693/bomg.25.2.2010.28

Abstract

This study is focused on access channel model that safety factors of some slopes stability would be investigated. Plaxis version 8 is applied to analyze a magnitude of safety factors and displacements based on three different slopes of access channel there are 30°, 45° and 60°. Furthermore, parameters are adopted from geotechnical drilling and laboratory tests. A finite element is applied as a simple model to analyze within a Mohr-coulomb equation. Based on soil data analyses on Marine Center Plan, indicates low safety factor and high deformation. As results, 10 to 40 meters deformation of the slopes and 0.80 to 2.34 of safety factor are obtained of the models. For that reason, a combination between slope channel and infrastructure must be considered. Keywords: Safety factor, slope stability, access channel, Marine centre, Plaxis Kajian ini dilakukan terhadap faktor keamanan dari beberapa jenis kemiringan dinding alur pelayaran yang selanjutnya dilakukan pemodelan dengan menggunakan alur pelayaran Besarnya keruntuhan dan faktor keamanan pada beberapa sudut kemiringan yang berbeda telah dianalisis dengan menggunakan perangkat lunak geoteknik Plaxis Versi 8. Tiga jenis kemiringan yang berbeda telah dibuat yaitu sudut kemiringan 30°, 45° dan 60°. Sebagai data masukan, parameter diambil berdasarkan hasil pemboran geoteknik yang telah dianalisis di laboratorium. Model sederhana elemen terbatas telah dibuat dan dianalisis berdasarkan persamaan Mohr-Coulumb. Berdasarkan analisis data tanah pada rencana Marine Centre menunjukan faktor keamanan yang rendah dan deformasi yang besar. Total deformasi yang dihasilkan berkisar 10-40 meter dengan nilai faktor keamanan 0,80~2,34. Oleh karena itu, dari hasil tersebut perlu dipertimbangkan untuk mengkombinasikan kemiringan alur dengan infrastruktur. Kata kunci : faktor keamanan, kemiringan lereng, alur pelayaran, Marine centre, Plaxis
DETERMINING A SUFFICIENT DEPTH OF PILE FOUNDATION ON THE PERTAMINA GRAVING DOCK DESIGN SORONG PAPUA Novico, Franto
BULLETIN OF THE MARINE GEOLOGY Vol 24, No 1 (2009)
Publisher : Marine Geological Institute of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1544.542 KB) | DOI: 10.32693/bomg.24.1.2009.14

Abstract

Engineering geological aspect and bearing capacity of pile foundation are significant for safety of upper structure, especially for substantial constructions such as a docking ship. Moreover, it provides effectiveness and cost efficiency when applies in rural areas of Indonesia. This is due to lack of docking ship appropriately built at rural areas particularly in eastern areas of Indonesia. Karim island of Papua even though is a small island yet is very strategic as Pertamina place its transitory function on that island connecting its oil supply route to Sorong. Appropriate docking ship construction is required to aim the effective and efficient port management. Choosing the most suitable structure for a docking is also the key. Graving dock structure has been chosen by Pertamina as the most appropriate type of structure for the docking ship in Karim Island. The structure of graving dock planned to be built in Karim island Papua, is projected to be able to serve the maximum 7500 DWT ship capacity, with approximately dimension is 125 x 25 x 8 meters. Therefore, to support the plan, type and design of the best foundation is the key. There are two methods could be done in determining the type and bearing capacity foundation. Field and laboratory test applied ASTM, field observation result by applying Meyerhoff theory and laboratorial analysis derived from Tarzaghi theory. Those observation and analysis has confirmed that the soil layer at the graving dock design consists of three layers, those are; cover layer, silt-clay layer and clay rock unit. Therefore, the most suitable foundation to be constructed in that area is a pile massive foundation, with depth of pile foundation approximately -20 m below the land surface, and the ultimate point load pile massive for 30x30 cm – 75x75 cm dimension approximately 79.76 – 406.25 ton, and frictional resistance value approximately 24.59 – 61.48 ton. Keyword : Pile Pondation, bearing capacity, Graving dock Aspek geologi teknik dan besarnya nilai kapasitas suatu pondasi tiang pancang merupakan suatu hal yang sangat penting demi keamanan pembangunan struktur bagian atas, khususnya untuk bangunan yang besar dan tinggi. Pembuatan dok kapal menjadi tuntutan yang tak bisa dielakkan demi terlengkapinya manajemen pelabuhan yang efektif dan efisiensi pada daerah yang terpencil. Bangunan graving dock kapal yang direncanakan pada Pulau Karim Papua, diproyeksikan untuk dapat melayani kapal dengan kapasitas maksimal 7500 DWT, dengan dimensi berkisar 125 x 25 x 8 meter. Jenis dan perencanaan pondasi yang tepat sangat penting guna menunjang keamanan bangunan graving dock itu sendiri. Metoda yang digunakan untuk mengetahui jenis pondasi dan daya dukung pondasi didapat dari hasil uji lapangan dan laboratorium. Pengujian lapangan dan laboratorium berdasarkan ASTM, analisis data lapangan mempergunakan metoda Mayerhoff sedangkan analisis data laboratorium mempergunakan metoda Terzaghi. Lapisan tanah pada rencana graving dock terdiri dari tiga bagian yaitu; lapisan penutup, lempung lanauan dan satuan batuan lempung. Untuk itu jenis pondasi yang dipilih adalah pondasi tiang pancang massif. Kedalaman pemancangan pondasi berkisar -20m dari muka tanah. Hasil analisis menunjukkan kuat tekan tiang pancang massif untuk diameter 30x30 cm hingga 75x75 cm berkisar 79.76 – 406.25 ton, sedangkan untuk nilai tarik berkisar dari 24.59 hingga 61.48 ton. Kata Kunci : Tiang pancang, nilai kapasitas, Graving dock
MORFODINAMIKA JANGKA PENDEK PENDANGKALAN DI ALUR PELAYARAN BARITO, KALIMANTAN SELATAN Novico, Franto; Ali, Arif; Saputro, Eko; Sinaga, Adi; Egon, Andi
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 15, No 2 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8594.493 KB) | DOI: 10.32693/jgk.15.2.2017.402

Abstract

Potensi sumber daya mineral di pulau Kalimantan pada umumnya berada di hulu-hulu sungai yang relatif jauh dari pantai. Potensi ini pada umumnya telah dieksplorasi bahkan dieksploitasi, namun kendala yang umum dihadapi adalah pengangkutan hasil tambang tersebut. Keterbatasan sarana dan prasaran transportasi darat akibat kondisi alam yang berawa sehingga menyebabkan pilihan jatuh kepada transportasi sungai yang lebih murah efektif dan efisien. Kendala yang umum terjadi pada system transportasi melalui sungai adalah pendangkalan di alur masuk dan muara sungai, oleh karena itu diperlukan pengerukan untuk pendalaman alur pelayaran. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari perubahan morfologi akibat sedimen yang menyebabkan pendangkalan dan penyempitan pada muara Sungai Barito. Pendekatan yang digunakan untuk analisis perubahan morfodinamika dilakukan dengan bantuan simulasi model numerik dengan menggunakan software Delft3D. Berdasarkan simulasi model morfodinamika Delft 3D, maka dapat diketahui sedimentasi tertinggi terjadi pada areal lokasi sekitar muara Sungai Barito, dimana terjadi pendangkalan sampai sebesar 1,2 meter per-tahun. Sedangkan pada bagian selatan alur pelayaran terjadi penyempitan sebesar 300-400 meter per tahun. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi morfologi sangat dipengaruhi oleh debit Sungai Barito. Kata kunci: Morfodinamika, Dasar Laut, Alur Pelayaran, Sungai Barito, Kalimantan Selatan, Delft3D, Pemodelan erosi dan sedimentasi The potency of mineral reserves in Kalimantan Island has mostly located at the upstream area that is quiet far from the coastline. Generally, the mineral potency have been explored and sometime exploited, however the most common problem in this system is how to transport of those reserves. The limitation of onland facilities and infrastructures due to swampy area caused the river transportation is the cheapest, affective and efficient choosen alternative. However, the most common constraints on river transportation systems are silting in the inlet and estuarine. Therefore the dredging is obviously important for deepening of the access channel. The aim of this study is to reveal morphological changes due to sediment transport that is causing silting and narrowing the area around the Barito estuarine. The numerical model using Delft3D is conducted to analyse the morphodynamic changing.Based on the Delft3D model simulation results, the highest sediment deposition occurs at a location near the Barito river estuary, where the sedimentation rate is up to 1.2 meter per year. In the southern part of the navigation canal, the canal width is reduced up to 300-400 meter per year. These indicate that the morphological process at this location highly influenced by the river discharge. Keywords: Morphodynamic, Seabed, Access Channel, Barito River,Delft3d, Erosion and Sedimentation Model
KONDISI ARUS PASANG SURUT DAN EROSI-SEDIMENTASI DI SEKITAR GARIS PANTAI DEPAN PLTU TARAHAN LAMPUNG MENGGUNAKAN DELFT 3D VERSI 3.28 Novico, Franto; Astjario, Prijantono; Bachtiar, Huda
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 11, No 1 (2013)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6574.949 KB) | DOI: 10.32693/jgk.11.1.2013.230

Abstract

Model numerik dilakukan dengan menggunakan software Delft 3D versi 3.28, dimana seluruh input data pada simulasi didapatkan dari pengukuran lapangan pada April 2011. Flow model diaplikasikan untuk mensimulasikan arus dan sedimen transport. Garis pantai di depan PLTU dibagi menjadi tujuh bagian yang berlokasi dari bagian selatan hingga utara PLTU sebagai area pantau. Berdasarkan hasil simulasi, maka dapat diketahui bahwa erosi banyak terjadi pada bagian selatan dari pada bagian utara PLTU. Simulasi model 15 hari menunjukkan bahwa bagian ke 6 dimana posisi inlet dan outlet berada menghasilkan sedimentasi yang lebih besar dari bagian yang lain. Mengingat saluran inlet dan outlet berada pada bagian ke 6 maka perhatian besar perlu diberikan pada bagian tersebut mengingat simulasi ini hanya 15 hari. Seperti diketahui bahwa saluran inlet dan outlet digunakan sebagai pendingin, sementara lokasi saluran tersebut berada pada garis pantai di depan PLTU. Untuk itu, gaya arus akibat sirkulasi pasang-surut dan transport sedimen di sepanjang garis pantai tersebut menjadi perhatian penting untuk diselidiki mengingat pentingnya kelangsungan kondisi garis pantai terhadap fenomena erosi dan sedimentasi. Kata kunci : Arus pasang surut, erosi-sedimentasi, garis pantai, PLTU Tarahan, Delft 3D Versi 2.8 A numerical model is conducted by using a Delft 3D version 3.28, that the entire input data used in simulation was resulted by field activities in April 2011. A flow model is applied to simulate current flow and transport sediment. A coastline in front of the plant is divided into seven sections which are located from the south to the north as the monitoring area. Based on the simulation result, it could be identified that the erosion much more occurred in the southern part than in the northern part. The 15 day model simulation indicates that in the section 6, where the inlet and outlet is located, the sedimentations are bigger than that in other sections. Since the inlet-outlet channels are positioned in section 6 therefore the high awareness must be considering as the time simulation is only apllied in 15 days. Inlet and outlet of the water channels are used as cooler, which are located in front of the plant. Therefore, the current flow due to the tidal circulation along the coastline should be paid attention to investigate in managing the sustainability of the coastline against erosion and sedimentation phenomena. Keywords: Tidal currents, erosion-sedimentation, coastline, PLTU Tarahan, Delft 3D Version 2.8
MODEL 2D PENGARUH GAYA HORIZONTAL ARUS PADA PEMECAH GELOMBANG DI TPI PANCER JAWA TIMUR Novico, Franto; Sahudin, Sahudin
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 9, No 2 (2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2530.058 KB) | DOI: 10.32693/jgk.9.2.2011.203

Abstract

Perencanaan pemecah gelombang yang baik seharusnya dilakukan tidak hanya dengan mempertimbangkan aspek geologi dan geoteknik namun juga arus sebagai gaya horizontal yang bekerja pada pemecah gelombang. Berdasarkan desain pemecah gelombang pada penelitian terdahulu, maka dilakukan analisa pemodelan pemecah gelombang yang difokuskan pada parameter arus yang bekerja di struktur pemecah gelombang. Kecepatan arus ditransformasikan menjadi gaya horizontal untuk masing-masing skenario model, dimana model dibuat dalam bentuk dua dimensi elemen terbatas dengan analisis linear elastis untuk setiap skenario model. Model telah dibuat dengan menerapkan 8 meter tinggi pemecah gelombang dan 1kN/m2 gaya horizontal untuk disimulasikan. Berdasarkan hasil yang didapatkan maka dapat diketahui bahwa perpindahan terbesar yang terjadi adalah sebesar 46,25 x 10-3 m. Sehingga gaya arus dapat dikatakan tidak menyebabkan keruntuhan atau perubahan yang besar pada struktur pemecah gelombang. Kata Kunci: Gaya Arus, Pemecah Gelombang TPI Pancer, Plaxis V.8.2 Achieving a good design of a breakwater should be completed not only considering a geology and geotechnical aspect but also calculating a current as horizontal force. Based on previous breakwater design thus, it has been completed analysis of breakwater model where a model was created with concentrate within current force on breakwater. Current velocity is transformed to horizontal force where two dimension finite element and linear elastic model were applied for each model scenarios. Model has been created within 8 meters high of breakwater and 1 kN/m2 of current force to be simulated. Based on the result, it can be seen the biggest displacement that occurred 46,25*10-3 m. Therefore, the breakwater does not have a big deformation or failure that caused by current force. Keywords: Current forces, Breakwater, TPI Pancer, Plaxis V.8.2