Articles

Perancangan Injection Blowing Tools dengan Line Slider untuk Mesin Blow Molding dengan Kapasitas Volume 300 Ml Ikhsan, Subkhan Nur; Budiyantoro, Cahyo; Suwanda, Totok; Nugroho, Adi
JMPM : Jurnal Material dan Proses Manufaktur Vol 2, No 1 (2018): JUNI 2018
Publisher : JMPM : Jurnal Material dan Proses Manufaktur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Blow molding machine is a machine that used to produced plastic bottle with injection air system to blowing the soft preform (±100℃)  at 7 bar pressure of air. They are two main components in injection blowing tools i.e, injection tools to distribute the high pressure air from compressor to the bottle preform and the line sliders to make a mold cavity can moving when the injection process ongoing and finished. To build the injection blowing tools, they are several main material that use, on the line sliders use the main material of low carbon steel type A36 ( 0,25% - 0,29% C) with strip and plate with force of 360 Ksi ( 250 MPa ), and the injection tools use the main material of Aluminium-alloy 4032 (Al, Si 12,5%, Mg, Cu, Ni) because it easy to make an model or profil with reasonable price. The main material on the shafts holder injector and blow pin use stainless steel 304 with max force of 515 MPa. The process to joint between the components are applying the welding model with fillet type and average on high of the neck weld 3 mm and use electrodes of RD-260 which E6013 electrode class with maximum strength 60 Ksi and use the bolt and nuts which average from material of SS 304 with size M6 - M16. In  the process injection, the ratio of large development due to the process injection ( BUR ) is 4 with the size of a bottle preform long 99 mm thick 2 mm and diameter 26 mm.
STRUKTUR NARASI PADA TAYANGAN STAND UP COMEDY Pamungkas, Yoga M; Nugroho, Adi; Lukmantoro, Triyono; Widagdo, M Bayu
Interaksi Online Vol 2, No 3: Agustus 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stand  Up Comedy, merupakan sebuah wadah bagi beberapa masyarakat untuk menyalurkan pendapat, pikiran, dan kritik terhadap keadaan sekitar yang pada mulanya dianggap tabu kemudian layak untuk diperbincangkan seperti pemerintahan yang buruk, isu sosial, politik, Tuhan, dan SARA (Suku, Agam, Ras, dan Antargolongan). Seseorang yang seringkali melakukan aksi Stand Up Comedy atau disebut dengan comic memegang perang penting dalam memberikan sebuah suguhan yang menarik kepada penonton. Materi Stand Up Comedy yang dibuat oleh comic berangkat dari observasi yang dilakukan untuk kemudian dituangkan ke dalam sebuah materi dengan memiliki struktur yang tersusun sedemikian rupa serta untuk menghasilkan tawa dari penonton. Struktur narasi pada materi Stand Up Comedy pada akhirnya memegang peranan penting bagaimana comic dapat menyampaikan pendapat, pikiran, dan kritiknya tanpa menyakiti hati penonton bahkan bersama-sama menertawakan hal-hal yang seringkali dianggap tabu bahkan sensitif untuk diperbincangkan.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan struktur narasi pada tayangan Stand Up Comedy oleh Pandji Pragiwaksono dan Sam D Putra yang ditayangkan oleh Metro TV dan Kompas TV. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dalm kajian budaya dan media terkati struktur narasi untuk memahami materi Stand Up Comedy yang dibuat oleh comic. Selain itu, juga menggunakan paradigma naratif, istilah atau pakem yang menjadi acuan dalam dunia Stand Up Comedy yaitu set up dan punchline, serta menggunakan teori humor.Hasil penelitian menunjukkan baik Pandji Pragiwaksono maupun Sam D Putra sama-sama memberikan kritik kepada pemerintahan serta tingkah laku masyarakatnya. Pandji memiliki kemampuan berinteraksi dengan penonton serta menirukan gerakan-gerakan unik dalam menunjang penampilan Stand Up Comedy miliknya. Sedangkan Sammy memiliki kemampuan untuk mengajak penonton sejenak berpikir dari materi yang disampaikan olehnya untuk kemudian menertawakan hal yang sebenarnya sangat-sangat sensitif bahkan tabu untuk diperbincangkan dan sangat berani dalam membeberkan fakta-fakta bahkan berani untuk menyindir dengan menyebutkan nama baik secara langsung maupun tidak langsung. Keduanya memiliki gaya penyampaian yang berbeda untuk menarik perhatian dan tawa namun tetap memberikan pengetahuan dan pendidikan kepada penonontonnya. Kata Kunci: Struktur Narasi, Humor, Paradigma Naratif, Pandji Pragiwaksono, Sam D Putra
PENERIMAAN PEMIRSA MENGENAI PEMBERITAAN PARTAI NASDEM DI METROTV Nugroho, Krisna Adhi; Nugroho, Adi; Yulianto, Muchammad
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKSIDengan berkembangnya televisi di Indonesia, keberagaman acara di televisimenjadi ajang kesempatan bagi partai-partai politik yang ada untuk melakukanpemberitaan mengenai partainya di televisi, dan hal yang serupa juga dilakukanoleh Partai Nasdem melalui Metro Tv, Partai Nasdem mampu menyampaikaninformasi yang ada dalam partainya dalam berbagai pemberitaan-pemberitaanuntuk diberitahukan kepada masyarakat luas. Namun kegiatan di bidang mediamassa dewasa ini termasuk di Indonesia telah menjadi industri. Dengan masuknyaunsur kapital, media massa mau tak mau harus memikirkan pasar demimemperoleh keuntungan, baik dari penjualan maupun dari iklan. Dalam hal inimedia massa juga dapat mempengaruhi persepsi masyarakat tentang suatupermasalahan atau pemberitaan.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisiskeberagaman interpretasi khalayak mengenai pemberitaan seputar Partai NasDemdi MetroTV. Teori yang digunakan adalah Uses and Gratifications. Penelitian inimenggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode analisis resepsikhalayak. Peneliti menggunakan teknik wawancara mendalam terhadap pemirsayang secara aktif mengikuti berbagai segmen acara berita yang ditayangkanMetroTV. Para pemirsa kemudian dipilih berdasarkan tingkat pendidikan danjenis kelamin. Sehingga didapatkan makna yang berbeda-beda mengenaipemberitaan Partai Nasdem.Hasil dari penelitian ini menunjukkan gencarnya pemberitaan Partai Nasdemdi MetroTV mampu membentuk bahkan mengkonfigurasi resepsi Partai Nasdemdi mata khalayak. Pemberitaan tersebut mempengaruhi sebagian besar khalayakuntuk memberikan resepsi sesuai dominant-reading yang diharapkan pembuatberita, dalam hal ini adalah MetroTV. Informan menginterpretasi teks mediasesuai dengan struktur pengetahuan dan pengalaman subjektif yang berkaitandengan situasi tertentu. Dalam proses konsumsi dan produksi makna yangdilakukan oleh informan, ternyata latar belakang dan faktor pendidikan bukanmerupakan faktor penentu informan dalam mengkritisi makna dominan yangditawarkan media. Informan yang menjadi khalayak sasaran pemberitaan belumtentu terpengaruh oleh isi berita yang disajikan.Kata Kunci : MetroTV, Pemberitaan Partai NasDem, Analisis ResepsiABSTRACTWith increasingly television in Indonesia, various programs in televisionbecome opportunity arena for political parties presence in order to carried outnews about their parties in television, NasDem party could deliver informationexist within their party within various news informed to wide societies. Butactivity within this adult mass media sector already industrial in Indonesia. Byincluding capital element, mass media have think the market in order to obtainprofit, both from sale or advertisement. In this case mass media also couldinfluence society perception about such problem or news.This research aimed to describe and analyze the diversity of interpretationsof the audience on report NasDem Party on MetroTV. Theory used was Uses andGratifications. This study used a qualitative descriptive approach to audiencereception analysis method. Researcher used depth interview technique toaudience that actively participate in various program news segments whichpresent by MetroTV. Audiences, then, elected based on education level andgender. Therefore obtained difference meanings about NasDem Party news.This research result showed news unceasing of Nasdem Party on MetroTVable to formed event configurate reception of NasDem Party in public view.Those news was influence most public to giving reception due to dominantreadingwhich expected by news maker, in this case was MetroTV. Informant wasinterpreted media text due to knowledge structure and subjective experiencerelated to certain situation. Within both consumption and meaning productionprocess carried out by informant, in fact background and education factor werenot informant determinant factor to criticizes dominant meaning offered by media.Informan who became target public of news and indefinite influence by newscontent provided.Keywords: MetroTV, Nasdem Party News, Reception AnalysisPENDAHULUANRumusan MasalahPemberitaan media massa begitu cepat dengan pemberitaannya yangbegitu bebas tanpa ada pembatasan dan juga sensor semakin memberikanalternatif seseorang untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Televisidengan kemampuan untuk menyediakan informasi dalam bentuk audio-visualmenjadikannya sebagai salah satu media pilihan masyarakat untuk mendapatkaninformasi dalam rangka memenuhi kebutuhan akan informasinya. Persainganyang ketat diantara stasiun televisi yang ada juga sangat menguntungkan pemirsa.Dengan kelebihan yang dimiliki televisi, informasi-informasi yang disampaikantampak begitu nyata dengan tampilan gambar dan suaranya.MetroTV sebagai salah satu televisi swasta di Indonesia tidak berbedadengan stasiun televisi yang lain, yang berdiri untuk memenuhi kebutuhankhalayak akan informasi. MetroTV lebih mengutamakan pemberitaan yang aktualdan terkini, hal ini dapat dilihat dari kebanyakan program acara di MetroTV yanghampir semuanya tidak lepas dari berita. Beragam tayangan berita disajikan olehMetroTV, baik itu berita kebudayaan, hukum, kriminal, dan politik. Keberagamanpemberitaan politik yang dikemas dalam berbagai segmen acara di MetroTVtentunya sedikit banyak akan menimbulkan terpaan pemberitaan politik terhadapaudiensnya.Pemirsa sebagai audiens yang aktif memaknai teks berita yang disuguhkantelevisi, tentu diharapkan dapat menyadari bahwa tidak semua tayangan beritamemiliki nilai-nilai positif, namun juga disusupi oleh kepentingan-kepentinganmedia untuk mendapat perhatian pemirsa dan upaya pembentukan opini publikterhadap sebuah pemberitaan. Begitu halnya dengan pemberitaan Partai NasDemyang terlalu sering ditayangkan oleh MetroTV, karena sedikit banyak akanmenimbulkan penerimaan dari pemirsa MetroTV yang berbeda-beda. Mengamatifenomena tersebut, maka penelitian ini bermaksud untuk merumuskanpermasalahan secara garis besar, yaitu bagaimana resepsi pemirsa terhadapgencarnya pemberitaan yang dilakukan oleh MetroTV mengenai Partai NasDem?Tujuan PenelitianPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisisinterpretasi khalayak mengenai pemberitaan seputar Partai NasDem di MetroTV.Kerangka TeoritisState of The ArtPenelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian ini telah banyakdilakukan, salah satunya adalah penelitian yang dilakukan oleh Maya Monoarfapada tahun 2011 dengan judul Memahami Strategi Komunikasi Ormas NasionalDemokrat sebagai Embrio Partai Politik di Indonesia mempunyai tujuan untukmenganalisis strategi komunikasi yang digunakan ormas Nasional Demokrat,selain itu untuk menjelaskan strategi komunikasi apa saja yang diterapkan sebagaisarana bersosialisasi, memperkenalkan nama, tagline, serta lambing dari ormasNasional Demokrat. Penelitian tersebut menggunakan metode kualitatif denganmenggunakan metode studi kasus. Hasil yang diperoleh dari penelitian tersebutmenunjukkan bahwa ormas Nasional Demokrat dalam menerjemahkan sebuahgagasan dengan sebuah gerakan yang bernama Restorasi Indonesia menggunakantiga strategi komunikasi, yaitu : pendekatan tematik, mediated, dan non mediated.Analisis Resepsi KhalayakAnalisis resepsi menyatakan bahwa teks dan penerimanya adalah elemenyang saling melengkapi dalam aspek-aspek komunikasi. Dengan kata lain, analisisresepsi mengasumsikan bahwa tidak akan ada akibat (effect) tanpa makna(meaning) (Jensen, 2002: 135). Pada akhirnya, masyarakat ingin mengetahuibagaimana efek media massa dan analisis resepsi dapat menjawab pertanyaantersebut. Wacana media terbuka atau bersifat polisemis dan dapat diposisikan olehkhalayak yang merupakan agen budaya yang berkuasa.Yang menarik menurut Hoijer dalam Hagen dan Wasko (2000: 200&202),tidak satupun pemirsa mempertanyakan realitas dari berita. Pemirsa dapatbersikap kritis dan menganggap berita sebagai bias, tetapi tidak ada keraguanbahwa berita dianggap representasi dari realitas. Menariknya lagi, status realitasgenre tampaknya meningkatkan daya emosionalnya. Penelitian resepsi secaralebih lanjut menunjukkan bahwa pemirsa juga menjadi terlibat secara emosionaldalam berita. Bahkan, dalam penelitian survei representatif, mayoritas penonton(57%) menyatakan bahwa mereka biasanya menjadi sangat menaruh perhatianketika menonton berita.Khalayak dianggap aktif dalam menginterpretasikan isi media, dalam halini berita. Terdapat beberapa tipe dari khalayak aktif, antara lain : 1) Selektifitas,khalayak aktif dianggap selektif dalam proses konsumsi media yang mereka pilih.Konsumsi media khalayak aktif didasari alasan dan tujuan tertentu. 2)Utilitarianisme, di mana khalayak aktif mengkonsumi media dalam rangkamemenuhi kebutuhan dan tujuan tertentu yang mereka miliki. 3) Intensionalitas,yaitu penggunaan secara sengaja dari isi media. 4) Keikutsertaan, hal ini berartikhalayak secara aktif berpikir mengenai alasan mereka dalam mengkonsumsimedia. 5) Khalayak aktif dipercaya sebagai komunitas yang tahan dalammenghadapi pengaruh media dan tidak mudah dibujuk oleh media itu sendiri. 6)Khalayak yang terdidik, khalayak dianggap lebih bisa memilih media yangmereka konsumsi sesuai kebutuhan dibandingkan dengan khalayak yang tidakterdidik (Junaedi, 2007:82-83).Sebagai khalayak aktif, pemirsa televisi dalam menerima danmenginterpretasikan tayangan televisi menggunakan filter personalnya masingmasingdan tidak selalu sesuai dengan kemauan produsen. Begitu pula halnya saatpemirsa menonton tayangan pemberitan mengenai Partai Nasdem di MetroTv. Disatu sisi, media ingin menyampaikan pesan bahwa keterbukaan komunikasimengenai apa itu Partai Nasdem dan apa tujuan utama dengan dibentuknya PartaiNasdem, serta ingin menunjukkan model positif bagaimana berpolitik yang baiksesuai dengan arah Partai Nasdem. Namun, di sisi lain khalayak dapat menerimapesan tersebut dengan cara yang berbeda. Khalayak dengan frame of referencetertentu akan menganggap tayangan tersebut sekedar pencitraan Partai terhadappublik.Untuk mengetahui bagaimana penerimaan khalayak dapat berbeda-beda,dalam studi resepsi terdapat metode ?encoding-decoding? milik Hall. Hallmenyebutkan bahwa teks berada di antara produsernya, yang menyusun maknadengan cara tertentu, dan khalayaknya, yang ?men-decode? makna tersebutberdasarkan pada situasi sosial dan kerangka interpretasi yang berbeda. Transmisikomunikasi digambarkan sebagai sebuah loop yang meliputi rangkaian produksi,sirkulasi, distribusi/konsumsi, dan reproduksi (Hall, 1980 dalam O?Shea, 2004:10).Hall menyebutkan, pesan yang komunikatif dibuat oleh pengirim danditafsirkan oleh penerima. Masalah timbul ketika ada ketidakcocokan antara kodeyang digunakan encoder dan decoder. Pesan-pesan media memikul berbagaimakna dan dapat diinterpretasikan dengan cara yang berbeda. Teks akandistrukturkan dalam dominasi yang mengarah kepada makna yang dikehendaki,yaitu makna yang dikehendaki teks dari kita. Khalayak dikondisikan sebagaiindividu yang secara sosial akan dikerangkakan oleh makna budaya dan praktikyang dimiliki bersama. Sejauh khalayak berbagi kode budaya dengan produsenatau pengode, mereka akan mengkode pesan di dalam kerangka kerja yang sama.Namun, ketika khalayak ditempatkan pada posisi sosial yang berbeda (misalkelas, usia, pengetahuan) dengan sumber daya budaya yang berbeda, dia mampumengkode program dengan cara alternatif. Hall juga menghipotesis bahwa adatiga posisi potensial decoding, antara lain :a) Dominan-hegemonik, yaitu ketika pemirsa mencode dan menerima maknayang dikehendaki. Karena posisi decoder dekat dengan encoder, makadecoder akan mengiterpretasi dengan bingkai kode dominan.b) Negosiasi, yaitu ketika decoder menerima beberapa aspek maknadominan, tapi menolak dan mengubah makna lainnya, untukmenyesuaikannya dengan pengertian dan tujuan sendiri.c) Oposisional, yaitu ketika posisi decoder berlawanan dengan encoder,mereka menciptakan cerita versi mereka sendiri dengan perhatian yangberbeda. Jadi decoder memaknai teks berlawanan dengan makna dominandari sudut pandang oposisional (Hall, 1980: 174-175).Gagasan Hall tersebut membuktikan adanya kesadaran untuk memikirkan teoriideologi dan kesadaran palsu. Dengan gagasan ini mereka diarahkan untukmeneliti potensi dari ?differential decoding? yang menunjukkan adanyaperlawanan terhadap pesan media dominan. Selain itu, dapat dilihat bahwa mediamempunyai peran dalam mentransmisikan pesan-pesan dalam tayangan yangbergenre hiburan. Bagaimana masyarakat memaknai tayangan tersebut tentunyaakan beragam sesuai dengan latar belakang pengetahuan dan pengalamannya.Begitu pula tayangan pemberitan mengenai Partai Nasdem di MetroTv yangmungkin dimaknai secara berbeda-beda oleh individu yang berbeda.Berita Sebagai RealitasKehadiran program siaran berita yang dikemas dalam paket informasi olehtelevisi swasta memiliki banyak keunggulan dibanding media cetak. Beritatelevisi otomatis lebih cepat. Keistimewaannya lagi adalah gambar lebih hidupdengan dukungan suara yang persuasif dari para reporter televisi. Stasiun televisiswasta pantas bangga karena menyiarkan berbagai peristiwa secara audio danvisual.Selisih waktu yang hanya beberapa jam antara peristiwa dan penayangansudah cukup menjadikan kekuatan televisi swasta tak tertandingi media cetak.Tayangan televisi jelas lebih hidup, karena sifatnnya yang audio visual. Pemirsatidak perlu lagi bergantung pada wartawan Koran. Paket informasi berita televisimampu menjangkau banyak pemirsa bukan hanya karena kemampuanteknologinya saja, tetapi juga karena dalam menonton televisi pemirsa takmemerlukan keahlian apa-apa. Artinya mereka yang buta huruf pun dapatmengkonsumsi tayangan program televisi (Kuswandi, 2008:101-102).Birgitta Hoijer (Hagen dan Wasko, 2000:21) melaporkan dari beberapastudi tentang konsumsi audiens, tiga genre populer di televisi : berita, fiksi sosialrealitas,dan opera sabun prime-time. Hoijer menjelaskan bagaimana narasi tidakhanya dapat ditemukan dalam teks, tetapi adalah bentuk umum pengorganisasianpengalaman dalam pikiran. Dia menggambarkan bagaimana harapan penontonfiksi berbeda dari harapan mereka terhadap berita.Pemirsa berita televisi menginginkan prinsip berita harus singkat, jelas,sistematis, dan berpijak pada budaya tutur (story telling). Penyebaran beritasebagai salah satu bentuk industri informasi menyebabkan pemirsa televisi dapatmemperoleh berita tanpa harus membeli, seperti halnya media cetak.Dalam membuat berita, reporter harus mampu membedakan antarakejadian (fact) dan pendapat (opinion), agar penyiaran berita menjadi lebihobjektif. Kekhawatiran terjadinya subjektifitas antara kejadian (fact) dan pendapat(opinion) dalam berita yang dibuat reporter, bias mengakibatkan rusaknya proseskomunikasi sosial. Reporter dilarang memasukkan opini dalam membuat berita,agar tidak terjadi bias bagi audiens dalam menerima informasi atau berita. Sistempers Indonesia yang bebas dan bertanggung jawab bermakna bahwa arti bebasialah, berita reporter tidak ?disusupi? unsure kepentingan golongan atau pribadidan institusi tertentu. Dalam hal ini, reporter bukan hanya sebagai sosok penyebarinformasi, tetapi sekaligus ?penyaring? berita-berita yang layak terbit atau tidak.Sedangkan bertanggung jawab mengandung sisi etika sosial. Hal ini secaraetis menentukan posisi reporter untuk memahami dan menyadari bahwa hasilkaryanya (berita) mempunyai efek sosial. Dalam membuat berita, reporter dituntutobjektif. Tetapi karena sulitnya masalah objektivitas berita, pada akhirnya beritayang dibuat, bersifat ?ganda? (objektivitas yang subjektif). Ini disebabkan reportertidak bisa menghindari unsur-unsur opini dalam membuat berita. Landasanobjektivitas dalam membuat berita, berhubungan erat dengan konsep etika, yaituselalu melihat tindakan manusia yang dibenarkan secara moral (Kuswandi,2008:84-86).Wartawan kenamaan Peter Arnett menegaskan bahwa pada dasarnyapenyajian berita dan penjelasan masalah aktual tidak lain adalah ??just to presentthe fact and opinion?!? reporter tidak boleh memasukkan opininya kedalam faktayang disusunnya (Kuswandi, 2008:98).Berita televisi adalah genre nonfiksi lain yang bersifat jelas tetapi genre iniakan tampak lebih fiktif ketika kita secara cermat menyelidikinya. Tokoh-tokohminor dalam program berita ini adalah reporter, subjek bintang dari peristiwaperistiwadunia, pakar, dan saksi mata. Alur kisah utama program berita inimemiliki fluktuasi drama seperti halnya kisah yang lain. Kisah-kisah individualdidramatisasi pada tingkat tertentu, memiliki pelbagai kualitas konflik dan akhiryang menggantung sehingga kita menonton episode berikutnya untuk melihatsiapa yang akan menang. Situasi-situasi minor ada karena program berita tersebutmemiliki pelbagai konvensi dan presentasi seperti halnya genre yang lain.Konvensi-konvensi ini berfungsi sebagai nilai-nilai berita (Burton, 2008:112).PenutupKesimpulanBerdasarkan pada penelitian yang dilakukan terhadap informan dapatditarik beberapa kesimpulan :1. Pada penelitian ini, terdapat tiga tipe pemaknaan oleh informan. Pertama,informan membaca dan memaknai pemberitaan Partai NasDemberdasarkan makna dominan yang ditawarkan. Mereka tidak melakukankritisi terhadap tayangan dan menerima teks apa adanya (tipe dominanthegemonic).Informan memaknai Partai NasDem sebagai sebuah partaialternative yang sangat cocok bagi pemilu 2014 ditengah berkurangnyakepercayaan khalayak dengan situasi politik dan partai politik yang ada diIndonesia sekarang ini. Kedua, informan melakukan tipe pembacaan yangbersifat negosiatif (negotiated reading). Meski mengkonstruksi PartaiNasdem sesuai dengan konsep pemberitaan, informan juga menciptakanalternatif makna baru berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yangmereka miliki. Ketiga, informan melakukan pembacaan secara berlawanan(oppositional reading). Informan ini bersikap lebih kritis dan tidakmenerima konstruksi Partai Nasdem sesuai dengan yang diberitakan.Informan dalam tipe ini tidak mempercayai apa yang digambarkanpemberitaan karena tidak sesuai dengan kenyataan.2. Gencarnya Pemberitaan Partai NasDem di MetroTV mampu membentukbahkan mengkonfigurasi resepsi Partai NasDem di mata khalayak.Pemberitaan tersebut mempengaruhi sebagian besar khalayak untukmemberikan resepsi sesuai dominant-reading yang diharapkan pembuatberita, dalam hal ini adalah MetroTV.3. Informan menginterpretasi teks media sesuai dengan struktur pengetahuandan pengalaman subjektif yang berkaitan dengan situasi tertentu. Dalamproses konsumsi dan produksi makna yang dilakukan oleh informan,ternyata latar belakang dan faktor pendidikan bukan merupakan factorpenentu informan dalam mengkritisi makna dominan yang ditawarkanmedia. Informan yang menjadi khalayak sasaran pemberitaan belum tentuterpengaruh oleh isi berita yang disajikan.4. Penelitian menganjurkan bahwa teks media yang sama tidak mutlak akandimaknai secara sama oleh individu dari status sosial yang sama. Tingkatpendidikan dan kondisi sosial yang sama masing memungkinkanterjadinya perbedaan pemaknaan. Maka dapat dikatakan bahwa latarbelakang yang paling menentukan sikap informan dalam memaknai teksmedia adalah faktor psikologis yang berupa selera dan kebiasaanmenonton televisi atau media yang lain.SaranPemberitaan di media merupakan salah satu cara efektif untukmendapatkan perhatian dari khalayak luas. Pemberitaan politik, memainkanperanan strategis dalam political marketing. Berikut ini peneliti ingin memberikanbeberapa saran yaitu :1. Khalayak dalam membaca pemberitaan partai politik, harusmengkaitkannya dengan konteks yang ada saat ini, track record dan latarbelakang partai, terbentuknya partai, serta tokoh yang berada di dalamnyaserta informasi terkait lainnya. Selain itu audience hendaknya mencariinformasi tentang partai politik yang bersangkutan tidak hanya di satumedia saja, tetapi bisa mencari di media yang netral sehingga audiencetidak terjebak dalam pemberitaannya.2. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan, acuan, dan pengetahuantambahan bagi khalayak media, sehingga di masa mendatang masyarakatdapat turut serta mengawasi isi media dan lebih kritis terhadappemberitaan media demi kemajuan di bidang komunikasi massa sertamenjadi kontribusi bagi partai politik dalam memberikan danmengarahkan pendidikan politik khalayak.Daftar PustakaReferensi BukuBaran, Stanley J. & Dennis K. Davis. (2000). Mass Communication Theory.Belmont: WadsworthBungin, Burhan. (2008). Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: RajaGrafindoPersadaBurton, Graeme. (2007). Membincangkan Televisi: Sebuah Pengantar KepadaKajian Televisi. Yogyakarta: JalasutraBurton, Graeme. (2008). Yang Tersembunyi Di Balik Media; Pengantar KepadaKajian Media. Yogyakarta: JalasutraCangara, Hafied. (2007). Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: Raja GrafindoPersadaDowning, John,Ali Mohammadi, Annabelle Sreberny-Mohammadi. (1990).Questioning The Media: A Critical Introduction. California: SAGEPublication.Gordon, A. David. (1999). Controversies in Media Ethics. Addison-WesleyLongman Educational Pub;ishers IncHagen, Ingunn & Janet Wasko. (2000). Consuming Audience? Production andReception In Media Research. New Jersey: Hampton Press, Inc\Hall, Stuart. (1980). ?Encoding Decoding?. Stuart Hall, Dorothy Hobson, AndrewLowe, and Paul Willis (eds). Culture, Media, Language. London:Hutchinson.Hamad, Ibnu. (2004). Konstruksi Realitas Politik dalam Media Massa. Jakarta:GranitHaryatmoko. (2007). Etika Komunikasi. Yogyakarta: KanisiusHill, Annette. (2005). Reality TV Audiences and Popular Factual Television.London and New York: Routledge.Jensen, Klaus Bruhn. (2002). ?Media Audiences Reception Analysis: MassCommunication as The Social Production of Meaning?. Klaus BruhJensen and Nicholas W. Jnkowski. A Handbook of Qualitative Methodologies forMass Communication Research. USA: Routledge.Junaedi, Fajar. (2007). Komunikasi Massa Pengantar Teoretis. Yogyakarta:Santusa.Kuswandi, Wawan. (2008). Komunikasi Massa : Analisis Interaktif BudayaMassa. Jakarta: Rineka CiptaLittlejohn, Stephen W. (2008). Theories of Human Communication. California:Thomson WadsworthLivingstone, Sonia. (1998). Making Sense of Television: The Psychology ofAudience Interpretation. London: RoutledgeMcQuail, Denis. (1987). Teori Komunikasi Massa, Agus Dharma (terj.). Jakarta:Erlangga.McQuail, Denis. (1996). Teori Komunikasi Massa. Jakarta: ErlanggaMulyana, Deddy. (2008). Komunikasi Massa: Kontroversi, Teori, dan Aplikasi.Bandung; Widya PadjajaranNimmo, Dan. (2005). Komunikasi Politik. Bandung: Rosda KaryaPawito. (2008). Penelitian Komunikasi Kualitatif. Yogyakarta: LkiSRakhmat, Jalaluddin. (2007). Psikologi Komunikasi. Bandung: PT RemajaRosdakaryaStrauss, A.L & Corbin, J. (1998). Basics of qualitative research: techniques andprocedures for developing grounded theory. Thousand Oaks, CA: SageSukmadinata, Nana Syaodih. (2009). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung:Remaja Rosdakarya.Warren, Samuel D and Louis D. Brandeis. (1980). The Right To Privacy. BostonWinarni. (2003). Komunikasi Massa: Suatu Pengantar. Malang: UMM Press.Wright C.R. (1985). Sosiologi Komunikasi Massa. Bandung: CV. PenerbitRemadja KaryaReferensi JurnalAfdjani Hadiono & Soemirat Soleh. (2010). Makna Iklan Televisi (StudiFenomenologi Pemirsa Di Jakarta Terhadap iklan Televisi Minuman?KUKU BIMA ENERGI? VERSI KOLAM SUSU ). Bandung: UniversitasPadjajaranAgus Setianto, Widodo. (2012) Penerimaan Khalayak Terhadap Berita-BeritaPolitik di Internet. Yogyakarta: Universitas Gajah MadaMichelle, Carolyn. (2009). Recontextualising Audience Receptions of Reality TV.Participations Journal of Audience & Reception Studies. New Zealand: Universityof Waikato.O?Shea, Catherine Mary. (2004). Making Meaning, Making A Home: StudentsWatching Generations. Rhodes UniversityReferensi Internet:Priyatna, Adri. (2012). Berita dan Konstruksi Realitas.http://media.kompasiana.com/mainstream-media/2012/04/18/berita-dankonstruksi-realitas. Diakses 5 Mei 2012Gustia, Firdha Yuni. (2011). Konstruksi Harian Media Indonesia terhadap PartaiGolkar dalam Berita Hak Angket Kasus Mafia Pajak.http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/26233/6/Cover.pdf.Diakses 5 Mei 2012Anonim. (2012). Surya Paloh : Saatnya Kader NasDem Bersikap Tegas.http://www.metrotvnews.com/mobilesite/read/newsvideo/2012/02/26/146084/Surya-Paloh-Saatnya-Kader-Nasdem-Bersikap-Tegas. Diakses 6 Mei 2012Ramli, Gusti. (2011). Berdirinya Partai Nasional Demokrat.http://politik.kompasiana.com/2011/03/28/berdirinya-partai-nasionaldemokrat-351150.html. Diakses 2 April 2013Tampubolon, Jimmy. (2010). Deklarasi Nasional Demokrat.http://r-panuturi.blogspot.com/2010/02/deklarasi-nasional-demokrat.htmlDiakses 2 April 2012
PEMAKNAAN KHALAYAK TERHADAP ADEGAN AXE EFFECT DALAM IKLAN TELEVISI AXE Sri Gelar Mukti, Galih Arum; Santosa, Hedi Pudjo; Lukmantoro, Triyono; Nugroho, Adi
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Iklan, merupakan sarana komunikasi yang digunakan untuk mempromosikan suatu produk atau jasa. Produk wewangian Axe yang ditujukan untuk konsumen laki-laki, selalu lebih menonjolkan sosok perempuan ketimbang laki-laki itu sendiri dalam iklan-iklannya. Perempuan-perempuan tersebut menjadi obyek yang terkena pengaruh Axe Effect dan berubah tingkah lakunya menjadi agresif untuk mendekati tokoh laki-laki.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui interpretasi khalayak terhadap adegan AxeEffect dalam iklan televisi Axe. Untuk itu, penelitian ini juga mendeskripsikan mengenai sosok laki-laki dan perempuan yang menjadi pemeran adegan Axe Effect, serta dimensi jender yang menyertainya. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis resepsi untuk memahami bahwa pengalaman dan latar belakang sosial dapat berperan dalam terciptanya makna yang berbeda-beda mengenai suatu adegan atau tayangan iklan. Usia dan jenis kelamin juga sangat mempengaruhi pemaknaan. Khalayak yang merupakan keluarga, dapat terlibat pula dalam perdebatan atas penilaiannya masing-masing saat menyaksikan suatu teks media (dalam hal ini tayangan iklan Axe) secara bersama-sama.Hasil penelitian menunjukkan khalayak memaknai adegan Axe Effect sebagai suatu adegan yang sangat berlebihan dan tidak mungkin terjadi dalam kehidupan nyata. Visualisasi laki-laki dan perempuan dalam adegan Axe effect juga seolah bertukar menurut enam dimensi infantalisasi simbolik. Sosok laki-laki dinilai cukup normal, meskipun terlalu pasif. Sosok perempuan dinilai terlalu agresif sehingga menimbulkan kesan negatif, oleh karena itu ada kekurangsetujuan iklan tersebut tampil di media massa. Meskipun begitu, maskulinitas tetap melekat pada sosok laki-laki, dan femininitas pada sosok perempuan. Karena iklan memang selalu dirancang untuk terciptanya jarak dari kenyataan, maka penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran untuk memahami sisi kreatif, penokohan, dan fungsi dari sebuah tayangan iklan. Khalayak tidak hanya harus sekedar mulai aktif memaknai, namun juga mengkritisi pesan iklan secara cerdas.Kata kunci : Resepsi, Interpretasi, Iklan, Jender, Axe effect
“PEMBINGKAIAN METROTVNEWS.COM DAN SINDONEWS.COM MENGENAI MUNDURNYA HARY TANOESOEDIBJO DARI PARTAI NASIONAL DEMOKRAT” Pratama, Reza Rahardian; Sunarto, Dr; Nugroho, Adi; Pradekso, Tandiyo
Interaksi Online Vol 2, No 3: Agustus 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Media Online memiliki banyak kelebihan dalam menyampaikan beritakepada khalayak, salah satunya adalah aktualitas berita yang jauh melampauikecepatan media konvensional seperti surat kabar. Pemberitaan media onlinedipengaruhi oleh ideologi dan ekonomi politik media yang terlihat dari framingberita yang dilakukan oleh media. Hal tersebut tidak lain juga disebabkan olehfaktor kepemilikan media itu sendiri. Terkadang isi berita menjadi timpang danjauh dari netralitas yang seharusnya menjadi dasar sebuah media menyampaikansebuah berita. Bahkan dewasa ini acap kali media seperti di setir kepentinganpemiliknya untuk kepentingan politik dan pencitraan pemilik media tersebut.Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran sampai sejauh manapengaruh ideologi dan politik ekonomi di media terhadap upaya mendekatiobjektivitas dan posisi netral sebuah pemberitaan. Penelitian ini menggunakanparadigma konstruksionis dengan pendekatan kualitatif. Analisa framingdilakukan dengan model analisis Pan dan Kosicki. Hasil penelitian inimenunjukan bahwa framing yang dilakukan sindonews.com terhadap beritamundurnya Hary Tanoesoedibjo dari Partai Nasional Demokrat sangat berpihakpada kepentingan pemilik media. Sementara framing yang dilakukan olehmetrotvnews.com masih menunjukan usaha media untuk melakukan pendekatanpada objektivitas pemberitaan.Kata kunci: Framing, media online, ideologi media, ekonomi politik media.
PRODUKSI PROGRAM ACARA PRO 2 ACTIVITY DI PRO 2 RRI SEMARANG (PRODUSER) Aditya Wijaya, Dicky; Nugroho, adi
Interaksi Online Vol 8, No 1: Januari 2020
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Radio is one of the mass media which has been around for a long time and has survived until the era of new media convergence. Radio midst of easy access to various new media to obtain information and entertainment. Radio Republik Indonesia (RRI) is the first radio station owned by the Government of Indonesia and was officially established on September 11, 1945. Radio Republik Indonesia (RRI) has 35 regional stations spread across various parts of the archipelago. RRI Semarang is one of the oldest radio stations in the city of Semarang. This radio has four channels and has a special channels aimed at youth segmentation. The channel is Pro 2 RRI. Pro 2 RRI has several programs, one of which is "Pro 2 Activity". "Pro 2 Activity" program is a daily program that is broadcast every day at 06:00 to 09:00 o?clock with a duration of 180 minutes. This radio talk show infotainment program genre, discusses various information that is becoming a trend and actual, especially among young people, accompanied by a talk show on the third hour by presenting speakers from among young people. But in the process, this program has a small number of listener responses. This is the reason why the writer and the other Field Works production team to produce this program with a new concept for 24 episodes. This program will add several innovations in the form of broadcast packages such as earcatcher, paparazy (radio play), viral interlude (selvi), and vox pop to attract more enthusiastic listeners. In the production of the program "Pro 2 Activity" for 24 episodes or within a period of 2 months the author served as a Producer. The author is overall responsible during the program production process, both in pre-production, production and post-production. After the "Pro 2 Activity" program was packed with new concepts for 24 episodes, there was a significant increase in the number of listeners. The average number of listeners of the "Pro 2 Activity" program per previous episode is 4-5 people. However, after the production team repackaged the program with a new concept, the average number of listeners per episode increased to 8-10 people.
KAMPANYE PUBLIC RELATIONS UNTUK PENGUATAN POSITIONING BATIK JAYAKARTA MELALUI EVENT BATIK FASHION WEEK 2014 Rizkiana, Kiky; Naryoso, Agus; Ramiaji, Lintang Ratri; Nugroho, Adi
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Batik Jayakarta merupakan salah pilihan untuk fashion batik di kota Semarang. Batik Jayakarta melakukan pendekatan promosi yang baik untuk masyarakat Kota Semarang. Promosi melalui media baru telah ditekuni oleh Batik Jayakarta seperti adlips di lampu merah, mini baliho yang bekerja sama dengan pos polisi, dan mencari endorse untuk memasarkan produknya. Namun, pemasaran ini belum menyentuh segmentasi anak muda. Minat anak muda untuk mengunjungi toko batik dan minat menggunakan batik masih rendah. Maka, laporan karya bidang ini disusun untuk meningkatkan brand awareness Batik Jayakarta dan meningkatkan minat anak muda memakai batik.Karya bidang ini disusun dengan menggunakan pendekatan persuasive serta penerapan teori -teori kampanye PR untuk mendukung keberhasilan tujuan komunikasinya. Melalui penyelenggaraan serangkaian event ?Batik Fashion Week 2014?. Acara ini dinilai efektif untuk meningkatkan awareness masyarakat terhadap Batik Jayakarta. Roadshow diselenggarakan di berbagai sekolah dan universitas di kota Semarang. Acara puncak ?Batik Fashion Week? diselenggarakan di kawasan Kota Lama Semarang dengan bekerjasama dengan para desainer batik dan komunitas - komunitas yang ada di Jawa Tengah.Keberhasilan dalam mencapai tujuan komunikasi dapat diketahui berdasarkan riset pasca event. Setelah event berlangsung, awareness audiens meningkat sebanyak 16% dari yang semula 30% menjadi 46%. Sedangkan minat untuk memakai batik juga meningkat sebesar 15 % dari yang semula 20% menjadi 35%. Dengan demikian, rangkaian kampanye PR melalui event ini efektif untuk mencapai tujuan komunikasi awal.Karya bidang ini diharapkan dapat memberikan implikasi-implikasi dalam aspek akademis dan praktis. Implikasi akademis karya bidang ini berupa kontribusi untuk memperkaya pengetahuan akan penerapan strategi persuasive dan penerapan teori kampanye PR dalam pencapaian tujuan komunikasi. Sementara itu, implikasi praktis memberikan pengetahuan dan pengalaman untuk membuat kegiatan promosi yang efektif sesuai dengan target audiens serta tujuan komunikasinya.Keywords : fashion, batik, skripsi, event
PENERAPAN MEDIA ANIMASI UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN BELAJAR DAN HASIL BELAJAR MATA PELAJARAN TEKNIK LISTRIK DASAR OTOMOTIF PADA SISWA KELAS X TPBO SMK NEGERI 4 SUKOHARJO TAHUN PELAJARAN 2014/2015 Nugroho, Adi
Jurnal Nosel Vol 4, No 3 (2016): January
Publisher : Jurnal Nosel

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purposes of this research are (1) to improve the learning?s activity of students on class X TPBO C SMK Negeri 4 Sukoharjo 2014/2015 academic year on the subject of Basic Automotive Electrical Engineering and (2) to improve the students achievement of students on class X TPBO C SMK Negeri 4 Sukoharjo 2014/2015 academic year on the subject of Basic Automotive Electrical Engineering using animation media. This classroom action research consisted of two cycles. Each cycle consisted of action planning, action, observation, and reflection. The research subject were students of class X TPBO C SMK Negeri 4 Sukoharjo 2014/2015 academic year. The data sourced of the research derived from the productive teacher, the head of the administration and the students of class X TPBO C SMK Negeri 4 Sukoharjo 2014/2015 academic year which obtained through observation, documentation, interview and test. The data analysis used was comparative descriptive analysis. The result of the research showed that (1) the application of animation media in the learning process can improved learning activity of students class X TPBO C SMK N 4 Sukoharjo on the subject of Basic Automotive Electrical Engineering. The indicator of students enthusiasm followed the learning process there was an increased from 52.01% on cycle 1 to 81.85% on cycle 2. The indicator of student courage to answer the teacher questions there was an increased from 47.58% on cycle 1 to 81.45% on cycle 2. The indicator of the student more confident to speak in front of class there was an increased from 63.30% on cycle 1 to 85.88% on cycle 2. The indicator of student courage to make an opinion increased from 64.51% on cycle 1 to 90.72% on cycle 2. The indicator of student work on the test with their own increased from 75.80% on cycle 1 to 91.12% on cycle 2. (2) the application of animation media in the learning process can improve the student achievement of student on class X TPBO C SMK Negeri 4 Sukoharjo on the subject of Basic Automotive Electrical Engineering. The lowest score increased from 55 on cycle 1 to 70 on cycle 2. The highest score increased from 90 on cycle 1 to 95 on cycle 2. The average score of class increased from 75 on cycle 1 to 85.33 on cycle 2. The conclusion of this research was the application of animation media can improved students activity learning and students learning achievement on subject of  Basic Automotive Electrical Engineering students of class X TPBO C on SMK N 4 Sukoharjo in 2014/2015 academic year.
INTERPRETASI KHALAYAK TERHADAP PEMBERITAAN KASUS KEKERASAN SEKSUAL DI JAKARTA INTERNATIONAL SCHOOL DI TELEVISI Vither, Brillian Barro; Santosa, Hedi Pudjo; Rahardjo, Turnomo; Nugroho, Adi
Interaksi Online Vol 3, No 2: April 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Televisi merupakan teknologi audio visual yang dapat menyajikan informasi dan hiburan secara cepat, terjangkau, dan umum dimiliki oleh masyarakat. Setiap stasiun televisi berusaha memberikan program-program terbaru sesuai dengan tren yang berlangsung. Begitu beranekaragam produk yang disajikan televisi, salah satu produk unggulan yang disajikan televisi adalah program berita.Berita yang memuat peristiwa kekerasan dan kriminalitas mendapat perhatian yang cukup tinggi dari para penonton televisi. Bahkan berita kriminal dan kekerasan sering disiarkan pada jam-jam produktif untuk menarik minat masyarakat. Pemberitaan kekerasan yang berlebihan ditakutkan dapat menimbulkan efek bagi pemirsa yang menyaksikan berita tersebut secara terus menerus. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerimaan audiens mengenai pemberitaan kasus kekerasan seksual di Jakarta International School yang tayang pada program berita di televisi. Penelitian ini menggunakan model encoding-decoding Stuart Hall untuk menjelaskan jalannya proses encoding-decoding pemberitaan dari program berita.Penelitian ini adalah penelitian dengan tipe deskriptif yang bersifat kualitatif dan menggunakan pendekatan analisis resepsi. Dalam analisis resepsi khalayak dipandang sebagai produser makna yang tidak hanya menjadi konsumen isi media. Hasil penelitian akan membagi khalayak ke dalam tiga posisi pemaknaan. Yaitu kelompok dominat reading, khalayak yang menerima fakta yang ditayangkan oleh program berita sesuai dengan prefered reading (makna yang ditawarkan media). Kelompok ini diisi oleh mereka yang menganggap bahwa kasus kekerasan seksual di JIS merupakan kasus yang menyeramkan. Kelompok negotiated reading, memaknai fakta yang ditayangkan sesuai dengan kenyataan, namun tidak setuju dengan cara penyampaiannya dalam program berita. Sedangkan kelompok oppositional reading, adalah khalayak yang memiliki pemaknaan yang berbeda sama sekali dengan makna dominan.Kelompok ini terdiri dari mereka yang menganggap bahwa kasus kekerasan seksual di JIS adalah kasus kriminalitas biasa dan tidak takut terhadap hal tersebutPenelitian ini sangat terbuka untuk dikaji dari sudut pandang dan metode berbeda dan menjadi dasar penelitian selanjutnya, terutama hal mengenai pemberitaan pesohor di infotainment dan khalayak aktif sehingga dapat menambah kajian penerimaan khalayak.
PENGALAMAN AKOMODASI KOMUNIKASI (KASUS: INTERAKSI ETNIS JAWA DENGAN ETNIS BATAK) Rikastana, Osa Patra; Rahardjo, Turnomo; Rahmiaji, Lintang Ratri; Nugroho, Adi
Interaksi Online Vol 4, No 1: Januari 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Geografis Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau, berada diantara dua benua dan dua samudra, dan pernah menjadi jalur utama perdagangan kuno menjadikan kultur yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia menjadi beragam. Keberagaman budaya, selain menjadi anugerah negeri juga menjadi potensi masalah. Potensi masalah yang bisa muncul yaitu kesalahpahaman ketika proses komunikasi antarbudaya, bahkan dalam taraf yang drastis dapat memicu konflik. Kasus yang diangkat merupakan interaksi antara etnis Jawa dengan Batak. Nilai dan norma yang dipegang oleh anggota dari etnis ini dinilai saling bertolak belakang.Penelitian ini bertujuan untuk memahami bentuk akomodasi komunikasi serta kendala yang muncul ketika individu dari etnis Jawa dengan Batak berinteraksi pada tahap perkenalan. Penelitian ini menggunakan paradigma Interpretif dan pendekatan fenomenologi yang digunakan untuk memahami suatu fenomena menurut perspektif informan, dalam hal ini yaitu individu dari etnis Jawa dengan Batak ketika melakukan proses akomodasi komunikasi pada tahap perkenalan. Teori Akomodasi Komunikasi digunakan sebagai alat untuk membaca bentuk akomodasi yang digunakan oleh masing-masing informan. Peneliti menggunakan teknik wawancara mendalam kepada empat informan yang masing-masing berasal dari etnis Jawa dan Batak.Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa bentuk akomodasi komunikasi yang digunakan oleh individu dari etnis Jawa dan Batak adalah Konvergensi, dimana individu berusaha untuk menyamakan perilaku komunikasi dengan lawan bicaranya. Selama proses komunikasi mereka mengesampingkan atribut-atribut kultural yang mereka miliki dengan tujuan mengakomodasi, hal ini menunjukkan adanya kesadaran untuk melakukan akomodasi pada komunikasi antarbudaya. Kedua etnis ini memiliki perbedaan faktor yang mendorong mereka untuk melakukan akomodasi, individu dari etnis Jawa mengakomodasi karena dorongan kultural, sedangkan individu dari etnis Batak mengakomodasi agar diterima kedalam kelompok. Kendala yang muncul selama proses komunikasi adalah stereotip, penggunaan bahasa, dan kurangnya informasi kultural.
Co-Authors A. Muthalib Nawawi Adi, Derry Pramono Aditya Wijaya, Dicky Agus Naryoso Agus Setyawan Agustinus Bimo Gumelar Agustinus, Stefan Ahmad Ashari Alessandro Christoforus Baramuli Amal Gamasi T.R Andhika Putra Nugraha Angela Atik Setiyanti Anjik Sukmaaji Aprillia N S Arditya Drimulrestu Arfianto Adi Nugroho, Arfianto Adi Arinda Putri Oktaviani, Arinda Putri Ariya Dwika Cahyono, Ariya Dwika Astuti Dwi Wahyu Pertiwi Bahrul Ilmi Baskoro Rochaddi Beta Himawan Putra, Beta Himawan Brillian Barro Vither Budiantoro, Cahyo Budiyantoro, Cahyo Choirul Ulil Albab, Choirul Ulil David Fredy Christiyanto, David Fredy Destika Fajarsylva Anggraini Diah Rukmi Ambarwati, Diah Rukmi Dimas Herdy Utomo Djoko Setyabudi Dody Tisna Kurniawan DR Sunarto Dr. Sunarto Dubha Kaldota Diptapramana, Dubha Kaldota Dwi Haryo Ismunarti Edi Winarko Ekawati Marhaenny Dukut, Ekawati Marhaenny Fariza Khumaedi Fatwa Ramdani, Fatwa Fauzan Faiz Fetiyana Luthfi Prihandini, Fetiyana Luthfi Galih Arum Sri Gelar Mukti Ghanes Eka Putera Handono Priambodo, Handono Hani Faurizka Hapsari Dwiningtyas Hardi Warsono Hedi Pudjo Santosa Hettyca Astuningdyas Hutama, Adhi Setya Ikhsan, Subkhan Nur Imanda Aulia Akbarian Indartono Indartono Indra Prayoga Irawati Sri Wulandari Joyo NS Gono Karina Puspadiati Kevin Devanda Sudjarwo Khabib Mustofa Kiky Rizkiana Krisna Adhi Nugroho Kurniawan, Perwita Lintang Andini Lintang Ratri Rahmiaji Lintang Ratri Ramiaji M Bayu Widagdo M Yulianto Marliana Nurjayanti Nasoetion Marliani Marliani Maya Putri Utami, Maya Putri Meldra, Delia Mellisa Indah Purnamasari Much Yulianto Much. Yulianto Muchammad Yulianto N. N. Sitokdana, Melkior NANIK WAHYUNI Nastangin, Yahri Ni Made Dinna Caniswara Nilna Rifda Kholisha Novitai Ika Putri, Novitai Ika Nur Aini Nurist Surayya Ulfa Nurrist Suraya Ulfa Nurriyatul Lailiyah, Nurriyatul Oithona Gracelia R. Hutabarat, Oithona Gracelia R. Osa Patra Rikastana, Osa Patra Pandu Hidayat, Pandu Pradipta Angga Saputra, Pradipta Angga Pramudia, Haris Priatama, Yanuar Probo Y. Nugrahedi Renis Susani Karamina Retno Indah Rokhmawati, Retno Indah Reza Rahardian Pratama Ricki Apriliono Rika Novitasari Sarah Tri Rahmasari Seno Darmanto Shafira Indah Muthia Sri Budi Lestari Sri Hartati Sri Nofidiyahwati Suci Widyawati Sujadi Sujadi Sulastri _ Sunarso Sugeng Sunarto Sunarto Suwarman - Tandiyo Pradekso Taufik Suprihartini Taufik Suprihatini Techn Khabib Mustofa Teguh Sutanto Tineke Kristina Siregar Titik Djumiarti Tommy Ardianto Totok Suwanda Tri Yoga Adibtya Tama, Tri Yoga Adibtya Trisni Suryarini Triyono Lukmantoro Turnomo Rahardjo Ulya Anggie Pradini Vidya Ayunita Wibowonoto, Arif Wijaya, Agustinus Fritz Wiwid Noor Rakhmad Yoga M Pamungkas Yos Richard Beeh Yuanisa Meistha Yudha Setya Nugraha Yulistra Ivo Azhari Yunita Utami, Yunita