Articles

Found 15 Documents
Search

Hubungan antara bobot badan induk dan bobot lahir pedet sapi Brahman cross pada jenis kelamin yang berbeda Muslim, Khavida Nuril; Nugroho, Hary; Susilawati, Trinil
Jurnal Ilmu-Ilmu Peternakan Vol 23, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (128.624 KB)

Abstract

The purpose of the study was to determine the correlation between cow weight and birth weight of Brahman Cross calves with different sex. The materials of the study were one hundred Brahman Cross cows which had been purposively selected. The variables of the study were cow body weight, calves birth weight, and sex. Data were analyzed using Pearson Correlation test (Product-Moment), Linear Regression and t Test. The study found that the birth weight diferred significantly (P <0.05) among male and female calves at the first and third parities. Also, there was significant correlation (P <0.05) between cow body weight and calves birth weight at the first parity. However, this cow body weight only influenced 22-25% on birth weight so that the study suggests to considering other factors such as environment and animal feed. Keywords: body weight, birth weight and bovine
HUBUNGAN PENGETAHUAN, USIA DAN PARITAS DENGAN KEJADIAN KOMPLIKASI KEHAMILAN PADA IBU HAMIL TRIMESTER III DI RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK AISYIYAH SAMARINDA Komariah, Siti; Nugroho, Hary
KESMAS UWIGAMA: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 5, No 2 (2019): December
Publisher : Universitas Widya Gama Mahakam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (143.428 KB) | DOI: 10.24903/kujkm.v5i2.835

Abstract

Latar Belakang:Komplikasi kehamilan adalah kegawat daruratan obstetrik yang dapat menyebabkan kematian pada ibu dan bayi. Penyebab komplikasi kehamilan diantaranya kurangnya pengetahuan ibu tentang deteksi dini kehamilannya, usia pasien < 20 tahun dan > 35 tahun serta anak lebih dari 3.Tujuan :Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan, usia dan paritas dengan kejadian komplikasi kehamilan pada ibu hamil trimester III.Metode Penelitian:Jenis penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling, sehingga sampel adalah ibu hamil trimester III yang berkunjung di Rumah Sakit Ibu dan Anak Aisyiyah Samarinda berjumlah 84 orang. Analisis yang digunakan uji chi square.Hasil : Hasil penelitian menunjukkan terdapat responden yang memiliki pengetahuan kurang baik, terdapat usia berisiko antara < 20 tahun dan > 35 tahun, terdapat paritas berisiko > 3 orang anak dan komplikasi kehamilan berupa hipertensi, anemia, preeklempsia dan plasenta previa. Ada hubungan pengetahuan dengan kejadian komplikasi kehamilan (p value : 0,001 < ? : 0,05 dan odds ratio : 6,800 > 1). Ada hubungan usia dengan kejadian komplikasi kehamilan (p value : 0,003 < ? : 0,05 dan odds ratio : 5,837 > 1). Ada hubungan paritas dengan kejadian komplikasi kehamilan (p value : 0,002 < ? : 0,05 dan odds ratio : 6,250 > 1).Kesimpulan: Terdapat pengetahuan kurang baik berjumlah 27 responden (32,1%), usia berisiko (< 20 tahun dan ? 35 tahun) berjumlah 25 responden (29,8%), paritas berisiko (1 atau ? 3 orang anak) berjumlah 21 responden (25%) dan ada komplikasi kehamilan berjumlah 18 responden (21,4%), Ada hubungan pengetahuan, usia dan paritas dengan kejadian komplikasi kehamilan pada ibu hamil trimester III di Rumah Sakit Ibu dan Anak Aisyiyah Samarinda.
KAJIAN IMPLEMENTASI METODE PENETAPAN BATAS ADMINISTRASI KOTA/KABUPATEN Nugroho, Hary
JURNAL ITENAS REKAYASA Vol 15, No 1 (2011)
Publisher : JURNAL ITENAS REKAYASA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKBatas wilayah administrasi memiliki fungsi yang sangat strategis. Disamping sebagai pernyataan pemisahan wilayah kekuasaan secara administrasi, batas wilayah administrasi menjadi titik tolak seluruh kegiatan pembangunan daerah dan penghitungan PAD (pendapatan asli daerah). Peraturan mengenai pedoman penegasan batas daerah telah ditetapkan oleh pemerintah melalui Permendagri No. 1 Tahun 2006. Dalam implementasinya banyak sekali kendala yang dihadapi, mulai dari kerancuan pemahaman antara batas administrasi dan batas adat, wilayah yang sangat sulit untuk dijangkau, atau pemerintah daerah yang bersebelahan tidak dapat mencapai kesepakatan karena wilayah yang berbatasan memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Pada makalah ini akan didiskusikan permasalahan yang terjadi di lapangan dalam implementasi penegasan batas daerah kota/kabupaten dengan studi kasus Provinsi Sumatera Barat.Kata kunci: batas wilayah administrasi, penetapan batas, penegasan batasABSTRACTAdministrative boundaries have a very strategic functions, not only a statement of separation of powers in the administration area, the boundary becomes the starting point of all development activities and the calculation of revenue (local revenue). Regulations of the administrave border confirmation guidelines has been set by the government through Permendagri No. 1 of 2006. Its implementation faced many obstacles, includes the confusion of understanding between administrative boundary and customary boundary, some areas that are very difficult to reach, or adjoining local governments which can not reach an agreement due to the adjacent territories have high economic value. This paper will discuss the problems that occur in the field in the implementation of the afirmation of city/district administrative boundary with a case study of West Sumatera Province.Key words: administrative boundaries, boundary setting, boundary confirmation.
PEMETAAN UNDULASI KOTA MEDAN MENGGUNAKAN HASIL PENGUKURAN TINGGI TAHUN 2010 Nugroho, Hary; -, Rinaldy
JURNAL ITENAS REKAYASA Vol 17, No 1 (2013)
Publisher : JURNAL ITENAS REKAYASA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKPengukuran posisi dengan menggunakan teknologi Global Positioning System (GPS) adalah pengukuran yang praktis. Koordinat yang diperoleh adalah koordinat dalam sistem kartesian 3 dimensi dengan nilai tinggi adalah tinggi geodetik atau tinggi di atas elipsoid (h). Sementara itu, dalam kegiatan sehari-hari ketinggian yang umum digunakan adalah ketinggian di atas permukaan bidang ekipotensial yang melalui permukaan laut rata-rata atau MSL (mean sea level) yang disebut geoid. Ketinggian ini disebut dengan ketinggian ortometrik. Secara fisik geoid adalah permukaan laut rata-rata tanpa gangguan. Tinggi ortometrik ini diperoleh dari pengamatan pasang surut (pasut) laut selama sekurang-kurangnya 18,6 tahun di satu stasiun pasut. Perbedaan antara kedua jenis ketinggian ini adalah undulasi (N). Ketersediaan data undulasi pada wilayah pengukuran akan memungkinkan setiap pengamatan GPS dapat dikoreksi untuk mendapatkan nilai tinggi ortometriknya. Pada penelitian ini dilakukan pengukuran sipat datar dan pengamatan GPS pada beberapa titik kontrol yang tersebar di Kota Medan. Perbedaan ketinggian yang diperoleh dipakai untuk menentukan nilai undulasi. Hasil perhitungan selanjutnya diinterpolasi secara spasial, dipetakan, dan dibangun model permukaan digitalnya. Hasil akhir berupa peta kontur undulasi untuk seluruh Kota Medan. Masyarakat akan dapat memanfaatkannya untuk mendapatkan tinggi ortometrik dengan melakukan pengamatan GPS dan nilai z yang diperoleh dikoreksi dengan nilai undulasi. Pada penelitian ini nilai tinggi titik referensi adalah titik tinggi di Pelabuhan LautBelawan yang diukur tahun 2010 dan TTG540. Hasil akhir dibandingkan dengan EGM2008.Kata kunci: tinggi ortometrik, tinggi normal, undulasi, GPS, EGM2008ABSTRACTMeasurement using the Global Positioning System (GPS) is practical. Obtained coordinates are Cartesian coordinates in three-dimensional systems where height value is geodetic height or height above the ellipsoid (h). Meanwhile, in the day-to-day activities, height value that is commonly used is the height above the surface of equipotential field through mean sea level (MSL) that is called the geoid. This height type is called orthometric height. Orthometric height obtained from observations of tidal data for at least 18.6 years in one tidal station. The difference between normal height and orthometric heigt is called undulation (N). The availability of undulation data on the measurement area will allow any GPS observations to be corrected to obtain the orthometric height. This research aims to develop undulation map of Kota Medan. We have performed levelling and GPS measurements at several control points scattered in the city of Medan. The difference between the two types of height were used to determine the undulation. The results were then spatially spatially interpolated, mapped, and the digital terrain model was built. The end result is a contour map of undulations for the entire city of Medan. The public will be able to use it to obtain orthometric height by performing GPS measurement, and z values obtained form the measurement are corrected by undulation values. In this study, height point in the Seaport Belawan, Medan measured in 2010 and TTG540 were used as reference points. The final result was compared with EGM2008.Keywords: orthometric height, normal height, GPS observation, EGM2008
PEMODELAN TIGA DIMENSI (3D) POTENSI LATERIT NIKEL STUDI KASUS: PULAU PAKAL, HALMAHERA TIMUR, MALUKU UTARA Rinawan, Fiandri I.; Nugroho, Hary; Wibawa, Romzi Rio
JURNAL ITENAS REKAYASA Vol 18, No 1 (2014)
Publisher : JURNAL ITENAS REKAYASA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKDi dalam melakukan penambangan cadangan laterit nikel, diperlukan estimasi untuk dapat menghitung volume cadangan tersebut mengingat pentingnya perhitungan cadangan dalam menentukan kelangsungan suatu tambang. Penelitian ini bertujuan menghasilkan pemodelan 3D potensi laterit nikel berdasarkan metode estimasi dengan gridding serta model blok dari metode estimasi yang telah ditentukan sehingga didapatkan metode terbaik. Beberapa metode yang digunakan dalam pemodelan 3D terdiri atas metode estimasi langsung dan IDW (Inverse Distance Weighted) yang disertai dengan ukuran grid 5 x 5m2; 10 x 10m2; 12,5 x 12,5m2; 25 x 25 m2 dan model blok dengan ukuran cell 5 x 5 x 1m3; 6,25 x 6,25 x 1 m3; 12,5 x 12,5 x 1 m3; 25 x 25 x 1 m3. Lokasi dalam penelitian ini adalah daerah Pulau Pakal, Kabupaten Halmahera Timur, Provinsi Maluku Utara. Hasil penelitian menunjukkan metode estimasi terbaik untuk pemodelan 3D adalah IDW orde 3 dengan gridding 25 x 25 m2 dan pada model blok diperoleh ukuran cell sebesar 12,5 x 12,5 x 1 m3yang memiliki persentase ketelitian volumekurang dari 1%.Kata kunci: estimasi langsung, IDW, gridding, model blok, laterit nikel.ABSTRACTMining of nickel laterite resources need a volume of resources estimation considering the importance of resources calculation in determining the continuation of a mining. This research is intended to develop 3D modeling of nickel laterite potential based on gridding estimation and block model methods from gridding estimation that have been determined to get the best method. Several methods used in 3D modeling consist of direct estimation, IDW (Inverse Distance Weighted) combined with grid size 5 x 5m2; 10 x 10 m2; 12,5 x 12,5 m2; 25 x 25 m2and block model with cell size 5 x 5 x 1m3; 6,25 x 6,25 x 1 m3; 12,5 x 12,5 x 1 m3; 25 x 25 x 1 m3. The location of this study is in Pakal Island, East Halmahera, North Maluku Province. From the research result, it?s founded that the best estimation method for 3D modeling is IDW orde 3 with grid size 25 x 25 m2 and the block model with cell size about 12.5 x 12.5 x 1 m3, which has the volume accuracy less than 1%.Keywords: direct estimation, IDW, gridding, block model, nickel laterite.
PEMODELAN HARGA TANAH PERKOTAAN MENGGUNAKAN METODE GEOSTATISTIKA (DAERAH STUDI: KOTA BANDUNG) Sari, Dewi Kania; Nugroho, Hary; Hendriawaty, Susy; Ginting, Masyitah
JURNAL ITENAS REKAYASA Vol 14, No 2 (2010)
Publisher : JURNAL ITENAS REKAYASA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKTanah merupakan salah satu sumber daya yang mempunyai peranan strategis dalam pembangunan perkotaan. Informasi harga tanah diperlukan dalam pengelolaan tanah perkotaan. Distribusi spasial harga tanah dapat diperoleh pemodelan spasial. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pemodelan harga tanah perkotaan menggunakan pendekatan geostatistik, dengan daerah studi Kota Bandung. Metode yang digunakan untuk memprediksi harga tanah adalah metode ordinary kriging. Adapun model semivariogram yang digunakan adalah model sferikal dan eksponensial, dengan pendekatan isotrofis dan anisotrofis. Data sampel yang digunakan merupakan harga pasar pada tahun 2007-2008, yang berjumlah 485 buah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model semivariogram sferikal memberikan ketelitian yang lebih baik dibandingkan model eksponensial. Ketelitian hasil prediksi harga tanah dipengaruhi oleh jumlah dan sebaran data sampel. Distribusi spasial harga tanah Kota Bandung memperlihatkan harga tanah tertinggi terletak di pusat kota, yaitu di sekitar Jl. Asia Afrika, Jl. Naripan, Jl. ABC, dan Jl. Braga. Menjauhi pusat kota secara umum harga tanah menurun dan mencapai nilai terendah di daerah pinggiran kota. Laju kenaikan harga tanah tidak sama ke semua arah di wilayah Kota Bandung. ABSTRACTAs one of resource factors, land plays a strategic role in urban development. Land price information is needed in urban land management. Spatial distribution of land price can be obtained through spatial modelling. This research aims to examine the use of geostatistical approach in modelling urban land price, with Bandung municipality as the study area. We used ordinary kriging method to predict land price. The semivariogram models used in this research were spherical and exponential models, developed in isotropic and anisotropic approaches. We used 485 samples of market land price data in 2007-2008. Research results showed that spherical semivariogram models gave better accuracy than exponential models. Prediction errors were affected by the amount and distribution of sample data. The spatial distribution of land price of Kota Bandung showed the highest land price occurred in Bandung downtown area, that is, around Jalan Asia Afrika, Jalan Naripan, Jalan ABC, and Jalan Braga. The land price decreased with the increasement of the distance from the downtown area and attained the lowest value in urban fringe areas. The rate of land price increasement did not similar to all directions in Bandung area.
PEMODELAN 3D KOPEL OBSERVATORIUM BOSSCHA MENGGUNAKAN TERRESTRIAL LASER SCANNER DENGAN METODE CLOUD TO CLOUD Wirnajaya, Yuditrian Rizkiana; Kartini, Gusti Ayu Jessy; Nugroho, Hary
NALARs Vol 19, No 1 (2020): NALARs Volume 19 Nomor 1 Januari 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.19.1.41-48

Abstract

Menurut UU RI No. 11 Tahun 2010 bangunan Observatorium Bosscha termasuk kedalam bangunan Cagar Budaya Nasional. Observatorium Bosscha kini difungsikan sebagai lembaga penelitian dan pendidikan formal astronomi di Indonesia. Bangunan Observatorium Bosscha tidak boleh mengalami fungsi ataupun bentuk, maka dari itu diperlukan pendokumentasian model 3D guna pemeliharaan berkelanjutan. Di era modern perkembangan teknologi sangatlah pesat diantaranya adalah teknologi Terrestrial Laser Scanner (TLS) yang dapat memberikan solusi dalam pendokumentasian bangunan Cagar Budaya, dikarenakan dapat merepresentasikan seperti bentuk aslinya, dapat melakukan akuisisi dengan cepat, dan tingkat akurasi yang baik. Dalam penelitian ini alat yang digunakan yaitu TOPCON GLS-2000 dan metode yang digunakan yaitu metode cloud to cloud. Hasil dari penelitian ini berupa model 3D bangunan Kopel di Komplek Observatorium Bosscha. Secara statistik penelitian ini menghasilkan hasil yang cukup baik, dikarenakan selisih perbandingan dari kedua alat berada dalam satuan millimeter. Serta nilai RMS saat registrasi sudah masuk kedalam toleransi dikarenakan nilai kesalahan <0.100 meter.
Karakteristik Fenotip Kerbau Rawa (B. bubalis carabenesis) di Wilayah Sentra Pengembangan Kerbau Desa Guosobokerto Kecamatan Welahan Kabupaten Jepara Nur, Erlangga Arfiyan; Nugroho, Hary; Kuswati, Kuswati
TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 19, No 2 (2018): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production
Publisher : Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (505.899 KB) | DOI: 10.21776/ub.jtapro.2018.019.02.10

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik fenotip kerbau rawa (B. bubalis carabenesis). Penelitian ini dilaksanakan di Desa Guosobokerto Kecamatan Welahan Kabupaten Jepara. 211 kerbau lokal, terdiri dari 117 kerbau betina dan 91 kerbau jantan yang dikelompokkan berdasarkan jumlah pergantian gigi seri permanen yaitu PI0, P12, P14, P16dan P18. Data dianalisa dengan menggunakan annova way classification test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 3,79% bentuk tanduk melingkar kebawah yang tidak sesuai dengan SNI 7706.1.2011. Umur memberikan pengaruh yang sangat nyata (P&lt;0.01) terhadap ukuran statistik vital kerbau rawa (lingkar dada, tinggi badan, tinggi pinggul, panjang badan dan berat badan). Pertumbuhan tertinggi berdasarkan ukuran tubuh kerbau rawa betina standar adalah ligkar dada P18 178,3 cm, tinggi badan P16 121,54 cm, tinggi pinggul P16 119,54 cm, panjang badan P18 129,39 cm dan berat badan P18 343,81 kg. Sedangkan pertumbuhan tertinggi berdasarkan pada tubuh kerbau rawa standar untuk jantan adalah pada lingkar dada  P14 194,38 cm, tinggi badan pada P16 123,8 cm, tinggi pinggul pada P16 122,8 cm, panjang badan pada P14 125,75 cm dan berat badan pada P14 410,88 kg. Terdapat 30,77% kerbau rawa betina dan 65,96% jantan yang tidak sesuai dengan SNI 7706.1.2011. Kerbau rawa di wilayah Desa Guosobokerto dapat dikatakan tidak memenuhi persyaratan. Oleh karena itu perlu dilakukan seleksi dan peningkatan kualitas genetik dengan mengawinkan calon kerbau rawa unggul untuk mempertahankan potensi karena Desa Guosobokerto merupakan asal daerah kerbau rawa. 
PENENTUAN TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR SAMPAH DI KABUPATEN SUMEDANG MENGGUNAKAN PEMODELAN SPASIAL Nugroho, Hary; Firmansyah, Melan Nano
REKA GEOMATIKA Vol 2017, No 1
Publisher : Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/jrg.v2017i1.1461

Abstract

ABSTRAK Jumlah penduduk Kabupaten Sumedang saat ini mencapai 1.125.125 jiwa dengan tingkat buangan sampah per hari pada tahun 2014 mencapai 3.270 m3. Adapun volume sampah yang tertangani per hari oleh pemerintah Kabupaten Sumedang melalui Badan Lingkungan Hidup baru mencapai 150 m3. Kondisi ini terjadi sebagai akibat akumulasi berbagai permasalahan penanganan sampah. Salah satu di antaranya adalah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah. TPA yang saat ini digunakan, yaitu TPA di Kecamatan Cimalaka Desa Cibeureum Wetan, sudah tidak layak. Oleh karena itu perlu dilakukan pencarian lahan yang dapat dijadikan lokasi tempat pembuangan sampah akhir yang dapat menampung sampah dalam kurun waktu yang lama. Penentuan lokasi TPA baru harus mengikuti kriteria standar seperti yang tertulis dalam SNI No. 03-3241-1994 dan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 3/PRT/M/2013. Dalam penelitian ini, lokasi TPA terbaik ditentukan melalui analisis kesesuaian dengan menggunakan pemodelan spasial. Adapun parameter yang digunakan dalam pemodelan terdiri atas: jenis tanah, jenis batuan, tata guna lahan, kemiringan tanah, kepadatan lalu lintas, hidrogeologi, curah hujan, dan batas administrasi. Hasil pemodelan menunjukkan terdapat 45 titik sebaran lokasi yang berpotensi untuk dijadikan TPA Sampah dengan waktu pengoperasian lebih dari 5 tahun. Kata kunci: TPA Sampah, Pemodelan Spasial, SNI   ABSTRACT The population of Sumedang Regency currently reaches 1,125,125 people with waste disposal in 2014 reached 3,270 m3. The volume of waste which can be handled daily by the district government through the Environment Agency has only reached 150 m3. This condition occurs as a result of the accumulation of various problems of waste management. One of them is the Final Disposal Site (TPA) of Garbage. The TPA currently used, TPA in Cimalaka Village Cibeureum Wetan Village, is no longer feasible. Therefore it is necessary to search for the land that can be used as the location of the final waste disposal that can accommodate the waste in a long time. The determination of new TPA location must follow the standard criteria as written in SNI no. 03-3241-1994 and Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 3/PRT/M/2013. In this study, the best TPA sites were determined through conformity analysis using spatial modeling. The parameters used in this modelling includes soil type, rock type, land use, land slope, traffic density, hydrogeology, rainfall, and administrative boundaries. The modelling result shows that there are 45 spots of potential location to be used as TPA of garbage with operating time more than 5 years. Keywords: TPA Garbage, Spatial Modelling, SNI
PEMODELAN PERMUKAAN DIGITAL DATA MAGNETIK SURVEI GEOFISIKA UDARA MENGGUNAKAN METODE GEOSTATISTIKA UNTUK EKPLORASI MINERAL (DAERAH STUDI: WILAYAH KOMOPA, PAPUA) Nugroho, Hary; Sari, Dewi Kania; Hernawati, Rika
REKA GEOMATIKA Vol 2017, No 2
Publisher : Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/jrg.v2017i2.1767

Abstract

ABSTRAKDalam interpretasi data, data hasil survei geofisika udara umumnya perlu diubah menjadi model permukaan digital atau digital terrain model (DTM). Hal ini sebagai langkah untuk memudahkan dalam memahami kondisi data secara keseluruhan. Untuk membuat DTM banyak metode yang dapat diterapkan. Salah satu di antaranya adalah dengan metode Geostatistika Kriging. Penerapan metode Geostatistika Kriging dapat menggunakan berbagai macam teknik di antaranya adalah teknik Simple Kriging dan Disjunctive Kriging. Dalam penelitian ini dilakukan pengolahan DTM untuk data magnetik dengan menggunakan kedua teknik ini dengan aproksimasi Gaussian Kernel dan Density Skew. Wilayah studi pada penelitian ini adalah wilayah Komopa, Kabupaten Painai, Provinsi Papua yang merupakan wilayah Kontrak Karya PT. Freeport Indonesia. Adapun data yang digunakan adalah data hasil survei geofisika udara yang dilakukan pada periode 1983-1984. Hasil pemodelan yang diperoleh dari kedua teknik tersebut selanjutnya dibandingkan dan diperoleh hasil bahwa teknik Disjunctive Kriging dengan aproksimasi Density Skew lebih baik daripada teknik Simple Kriging dengan aproksimasi Gaussian Kernels maupun Density Skew.Kata kunci: survei geofisika udara, magnetik, DTM, geostatistika, krigingABSTRACTIn data interpretation, airborne geophysical survey results generally need to be transformed into a digital terrain model (DTM). This is an effort to facilitate in understanding the condition of the whole of data. To make the DTM, many methods can be applied. One of them is Kriging geostatistical method. Application of Kriging geostatistical method can use various techniques such as Simple Kriging and Disjunctive Kriging technique. In this research DTM processing for magnetic data has been performed by using both of these techniques with Gaussian Kernel and Density Skew approximation. The study area in this study is the area of Komopa, Painai District, Papua Province which is the area of Work Contract of PT. Freeport Indonesia. The data used is the data of airborne geophysical survey conducted in the period 1983-1984. The modelling results from the two techniques were then compared and the results showed that the Disjunctive Kriging technique with Density Skew approximation is better than Simple Kriging techique with Gaussian Kernels and Density Skew approximation.Keywords: airborne geophysical survey, magnetic, DTM, geostatistics, kriging