Sutopo Purwo Nugroho
Unknown Affiliation

Published : 8 Documents
Articles

Found 8 Documents
Search

ANALISIS HIDROGRAF SATUAN SINTETIK METODE SNYDER, CLARK DAN SCS DENGAN MENGGUNAKAN MODEL HEC-1 DI DAS CILIWUNG HULU Nugroho, Sutopo Purwo
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 2, No 1 (2001): June 2001
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jstmc.v2i1.2147

Abstract

Analisis hidrograf satuan sintetik berdasarkan metode Snyder, Clark, dan SCS pada suatu DAS dapat dilakukan dengan menggunakan model HEC-1. Model HEC-1 merupakan paket model hidrologi yang cukup terkenal yang dapat digunakan untuk mensimulasi aliran permukaan sebagai respon hujan tunggal yang terjadi pada suatu DAS. Metode SCS mempunyai Qp, Tp dan tebal DRO yang lebih besar daripada pengamatan. Sedangkan metode Snyder dan Clark, nilai Qp lebih kecil dibandingkan dengan Qp pengamatan, namun waktu puncaknya lebih besar.Synthetic unit hydrographs analysis of a watershed based on Snyder, Clark, and SCS methods can be done by utilizing HEC-1 model. The HEC-1 model is a package of hydrological model that has been adequate known to simulate runoff as a response of a rainfall event on a watershed. SCS method predicts Qp, Tp and DRO depth higher than the observations. Meanwhile, Snyder and Clark methods predict smaller Qp, but higher time of peak.
VALIDASI PREDIKSI RATA-RATA CURAH HUJAN HASIL REGIONAL SPECTRAL MODEL (Studi Kasus di Jawa Barat, Bulan Desember 1998) Kudsy, Mahally; Nugroho, Sutopo Purwo
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 2, No 1 (2001): June 2001
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jstmc.v2i1.2143

Abstract

Validasi Model Spektral Regional dilakukan dengan membandingkan hasil prakiraandengan data aktual. Model dijalankan untuk membuat simulasi curah hujan untuk periode dari 9 sampai 15 Desember 1998. Data curah hujan diperoleh dari 55 lokasi penakar hujan yang tersebar di daerah Jawa Barat. Nilai curah hujan menurut model di lokasi penakar hujan diperoleh dari interpolasi isohyet yang menggambarkan curah hujan menurut luaran model. Studi ini menunjukkan bahwa nilai curah hujan lokai tidak dapat diprediksi dengan mudah dengan menggunakan RSM. Curah hujan rata-rata wilayah berdasarkan luaran RSM mempunyai penyimpangan –2 sampai 150% terhadap nilai pengamatan. Dari studi ini ditemukan bahwa ketelitian prakiraan semakin baik bila waktu prakiraan lebih panjang. Prakiraan yang terbaik diperoleh bila waktu prakiraan adalah 7 hari ke depan dengan penyimpangan –2.1%Validation of Regional Spectral Model was carried out by comparing the results of rainfall prediction with actual data. The model was run to simulate rainfall for one week period of December 9 to 15, 1998. The rainfall data from the sama period was obtained from 55 raingauge stations in West Jawa. The predicted values of preciptation in the gauge location obtained by interpolation from isohyet were then compared to the actual values. This study showed that local precipitation can not be predicted easily using RSM. The predicted values of the average local precipitation deviated from the Ukurerved value by about -2 to 150%. It is found that the accuracy of the prediction is better for longer prediction time. The best prediction was obtained for 7 day-lead with deviation of -2.1% from the observed value.
EVALUASI PENINGKATAN HASIL CURAH HUJAN DAN KETERSEDIAAN AIR AKIBAT KEGIATAN MODIFIKASI CUACA DI DAS CITARUM Nugroho, Sutopo Purwo; Tikno, Sunu
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 3, No 1 (2002): June 2002
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jstmc.v3i1.2162

Abstract

Defisitnya air di ketiga waduk di DAS Citarum menyebabkan teknologi modifikasi cuacasegera diterapkan untuk meningkatkan ketersediaan air. Penerapan teknologi modifikasicuaca telah menyebabkan meningkatnya curah hujan dan aliran di DAS Citarum. Hasil yang dicapai selama kegiatan adalah rata-rata aliran Sungai Citarum sebesar 326,81 m/detik dan volume air yang tertampung di ketiga waduk sebesar 559,06 juta m3. Adanya tambahan air tersebut maka untuk kebutuhan air pada musim tanam gadu 2001 di daerah irigasi Jatiluhur cukup tersedia, bahkan masih terdapat cadangan air sebesar 1.440,26 juta m3. Namun demikian jika dibandingkan dengan pola rencana untuk kebutuhan air musim tanam rendeng 2001/2002 dan musim tanam gadu 2002 masih terdapat kekurangan air sebesar 152,7 juta m3.Weather modification technology was applied in Citarum for fullfil water in Citarum cascade dam (Saguling, Cirata dan Juanda) due to decreasing water storage. Weather modification technology has been increase the rainfall and inflow of Citarum Watershed. The average inflow of Citarum River was 326,81 m3/sec and nett volume storage in the dams were 559,06 million m3 . Increassing water can be used to irrigation water supply in Pantura agriculture area during dry seasson. However, water irrigation requirement in wet and dry seasson 2001/2002 stil deficit 152.7 million m3.
PREDIKSI KEKERINGAN PENGARUH EL NINO TAHUN 2001-2002 DAN PEMANFAATAN TEKNOLOGI MODIFIKASI CUACA UNTUK MENGANTISIPASINYA Nugroho, Sutopo Purwo
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 2, No 1 (2001): June 2001
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jstmc.v2i1.2149

Abstract

El Nino diperkirakan akan terjadi kembali pada akhir tahun 2001 hingga 2002. Akibatnya beberapa wilayah Indonesia akan mengalami kekeringan sehingga kondisi air semakin berkurang ketersediaannya. Adanya kekeringan dapat menyebabkan penurunan produksi pertanian, kebakaran hutan, krisis air, dan penurunan pendapatan petani di beberapa wilayah serta timbulnya masalah-masalah sosial dan ekonomi di masyarakat. Untuk mengatasi kekeringan dan menambah ketersediaan air, maka dapat diterapkan teknologi hujan buatan. Teknologi hujan buatan dapat meningkatkan curah hujan dan debit aliran sehingga cadangan air bertambah.El Nino is predicted to return at the end of 2001 or later. As a consequence some areas in Indonesia might experience drought that will jeopardize the water availability. This drought could cause declining agriculture production, forest fire, water crisis, and other economic social costs. Rain enhancement technology can be applied to overcome this water storage. The rain enhancement technology could enhance rainfall and increaserunoff, therefore, water availability will increase.
MINIMALISASI KONSENTRASI PENYEBARAN ASAP AKIBAT KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN DENGAN METODE MODIFIKASI CUACA Nugroho, Sutopo Purwo
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 1, No 1 (2000): June 2000
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jstmc.v1i1.2099

Abstract

Forest and land fire that happen at the long time in 1997 have caused smog disaster in huge area. High concentration of smog caused low visibility and influence of the people activity. One of technology alternative has been applied was weather modification to overcome that disaster. Weather modification activity has been conducted in order to rain making and wash out process with according weather condition on that time. The material has been used CaO, Ca(OH)2, NaCl, and CaCl2 were dispersed by the aircraft. The whole result of the weather modification indicated by increased of visibility on the surface. Those increase caused by the pressure of area that has been seeding become low. Nevertheless, existence very high concentration of smog and distribution in huge area has caused the different not significant.Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi selama tahun 1997 telah menyebabkan terjadinya bencana asap yang tersebar secara luas. Adanya konsentrasi asap yang demikian pekat dan luas telah menyebabkan jarak pandang menjadi sangat pendek sehingga mengganggu aktivitas penduduk. Untuk itulah maka diterapkan teknologi modifikasi cuaca sebagai salah satu alternatif untuk mengatasi bencana tersebut. Kegiatan dilakukan dengan menerapkan teknologi hujan buatan dan proses pembersihan asap secara simultan dan disesuaikan dengan kondisi cuaca yang saat itu terjadi. Bahan-bahan yang digunakan dalam kegiatan ini adalah CaO, Ca(OH)2, NaCl, dan CaCl2 yang ditaburkan dari pesawat terbang pada lapisan asap. Hasil kegiatan modifikasi secara keseluruhan menunjukkan adanya perubahan jarak pandang di permukaan. Kenaikan ini sebagai akibat terjadinya tekanan udara lokal pada daerah yang ditaburi bahan. Namun adanya akumulasi asap yang pekat dan tersebar luas menyebabkan massa asap kembali mengisi ruang tersebut sehingga kenaikan jarak pandang yang terjadi tidak berubah secara ekstrim.
APLIKASI TEKNOLOGI MODIFIKASI CUACA UNTUK MENINGKATKAN CURAH HUJAN DI DAS CITARUM - JAWA BARAT 12 MARET S.D. 10 APRIL 2001 Karmini, Mimin; Nugroho, Sutopo Purwo; Tikno, Sunu; Nuryanto, Satyo; Sitorus, Baginda Patar; Bahri, Samsul; Widodo, Florentinus Heru; Arifian, Jon; Kudsy, Mahally; Goenawan, R Djoko; Yahya, Rino Bahtiar; Renggono, Findy
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 2, No 1 (2001): June 2001
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jstmc.v2i1.2141

Abstract

Teknologi modifikasi cuaca sudah sering diaplikasikan di Indonesia terutama untukmeningkatkan jumlah curah hujan. Teknologi modifikasi cuaca diterapkan bila terjadiindikasi penurunan jumlah curah hujan dan kemungkinan akan munculnya fenomena ElNiño sebagai tindakan preventif. Aplikasi teknologi modifikasi cuaca yang dilaksanakan diDAS Citarum, Jawa Barat mulai tanggal 12 Maret s.d. 10 April 2001 adalah berdasarkan kenyataan bahwa inflow DAS Citarum menurun dengan drastis pada bulan Desember 2000 dan sebagai tindakan preventif akan munculnya fenomena El Niño pada akhir tahun 2001 atau 2002. Pada awal tahun 2001, tiga kaskade waduk di DAS Citarum mengalami defisit cadangan air sebanyak 486,36 juta m . Waduk Ir. Juanda yang merupakan waduk multi fungsi harus menyediakan pasokan air untuk: irigasi teknis pada lahan sawah seluas 296.000 ha (2 kali tanam), yang memberikan kontribusi sebesar ± 40 % ke Jabar atau setara dengan ± 10 % Nasional; air baku permukiman dan industri; serta penyediaan tenaga listrik (± 4,5 milyar kWh). Data akhir setelah dilaksanakan penerapan teknologi modifikasi cuaca dengan menggunakan konsep sistim dan lingkungan adalah nilai rata-rata aliran total Citarum sebesar 326,81 m /det dan volume total aliran Citarum sejak mulai kegiatan hingga tanggal 10 April 2001 adalah sebesar 847,1 juta m3.Weather modification technology has been applied in Indonesia especially to enhancerainfall. Weather modification technology has been employed whenever there has beenan indication of rainfall shortage and the possibility of El Niño occurrence asprecautionary action. Weather modification technology that was applied in Citarumcatchment area – West Java on 12 March – 10 April 2001 was based on the fact thatCitarum inflow decreased drastically in December 2000 and also as a preventiveendeavor to the possibility of warm episode in 2001/2002. In the early of 2001, threecascade dams had water storage deficit as much as 486.36 million m3. Ir. Juanda dam,which has multi purposes, has to supply water for: technical irrigation for 296,000 ha ofrice field (2 planting seasons) that contributes ± 40 % to West Java or about ± 10 % ofnational production; fresh water for community and industry; as well as electricity of about 4.5 billion kWh. After the application of weather modification technology by employing system and environment concept, it was recorded that the average inflow of Citarum catchment area was 326.81 m /sec and total volume during the activity was 847.1million m3.
EVALUASI DAN ANALISIS CURAH HUJAN SEBAGAI FAKTOR PENYEBAB BENCANA BANJIR JAKARTA Nugroho, Sutopo Purwo
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 3, No 2 (2002): December 2002
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jstmc.v3i2.2164

Abstract

Banjir yang terjadi di Jakarta dan daerah sekitarnya pada tanggal 27 Januari hingga 1Februari 2002 disebabkan oleh besarnya curah hujan dan pengaruh dari sungai yangterdapat di daerah aliran sungai di dalamnya. Curah hujan yang terjadi sejak tanggal26 Januari hingga 1 Februari 2002 menyebabkan meluapnya sungai dan salurandrainase. Banjir yang terjadi menyebar hingga menggenangi beberapa dae rah diJakarta. Tinggi genangan mencapai 5 meter. Banjir tersebut menggenangi 42kecamatan di Jakarta dengan 168 kelurahan (63,4%) dari seluruh kelurahan yangada di Jakarta. Luas genangan mencapai 16.041 hektar atau 24,25% dari luas DKIJakarta. Curah hujan yang tertinggi yang menyebabkan banjir tersebut tercatat diBekasi sebesar 250 mm/hari yang merupakan curah hujan harian maksimum denganperiode ulang 150 tahun.The flood that occurred in the city of Jakarta area on 27 January until 1 Febru ary 2002was due to the torrential rainfall in the city and also in the catchment area of riversthat flow through Jakarta. The rain which started on 26 January until 1 February 2002caused overflow in the rivers and canals. Inundation in some areas and continued tospread throughout the city of Jakarta. The inundation depth was until 5 meters. 42districts on Jakarta within 168 sub districs (63,4%) from the all subdistrics in Jakarta.The inundation area has reached about 16.041 hectare or 24,25% from the total areaDKI Jakarta. The recorded daily rainfall depth at the Bekasi station was 250 mmwhich is almost the daily rainfall depth for 150-year return period as daily rainfall.
ANALISIS PENYEBAB MASYARAKAT TETAP TINGGAL DI KAWASAN RAWAN BENCANA GUNUNG MERAPI (STUDI DI LERENG GUNUNG MERAPI KECAMATAN CANGKRINGAN, KABUPATEN SLEMAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA) Widodo, Dwi Rustiono; Nugroho, Sutopo Purwo; Asteria, Donna
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 15, No 2 (2017): Oktober 2017
Publisher : Program Studi Ilmu Lingkungan,Program Pascasarjana, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1158.692 KB) | DOI: 10.14710/jil.15.2.135-142

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memetakan faktor-faktor yang menyebabkan masyarakat tetap tinggal di Kawasan Rawan Bencana (KRB) III Gunung Merapi. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan mixed method. Penentuan jumlah responden dengan rumus Slovin dengan batas toleransi 7 persen dan terpilih sebanyak 151 responden. Analisis yang digunakan untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan masyarakat tetap tinggal di daerah rawan bencana menggunakan analisis deskriptif statistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebesar 61,6 persen masyarakat merasa nyaman dan tenteram tetap tinggal di daerahnya meski daerahnya rawan bencana. Kenyamanan ini dikarenakan faktor lingkungan, ekonomi, dan sosial. Faktor lingkungan terutama kesuburan tanah, potensi pasir, kerikil dan batu. Sebanyak 56,9 persen penduduknya berpenghasilan lebih besar dari upah minimum regional kabupaten yang sebesar 1,4 juta rupiah per bulan. Sebanyak 92,7 persen mereka mempunyai kerabat yang masih tinggal di satu lokasi dan 95,4 persen aktif dan ikut serta dalam kegiatan kemasyarakatan seperti arisan, pengajian, dan perkumpulan lainnya.Kata kunci: Bencana, Erupsi, Kesiapsiagaan, Kawasan Rawan BencanaEnglish Title: Analysis the Causes That Make People Remain in Disaster Prone Area of Mount Merapi (Study in Mount Merapi Slope of Cangkringan Subdistrict, Sleman District, Yogyakarta Special RegionABSTRACTThis study aims to map the factors that cause people to stay in Disaster Prone Areas (KRB) III of Mount Merapi This research is conducted by mixed method approach. Determination the number of respondents carried out by Slovin formula with a tolerance limit of 7 percent and selected  151 respondents. Determination the factors that cause people to stay in disaster prone areas using descriptive analysis. The results showed that 61.6 percent of people feel comfortable and peaceful stay in their area despite the disaster-prone areas. This convenience is due to environmental, economic, and social factors. Environmental factors, especially soil fertility, the potential of sand, gravel, and stone. 56.9 percent of the population earns more than the district minimum wage of 1.4 million rupiahs per month. About  92.7 percent of them have relatives who still live in one location and 95.4 percent active and participate in community activities such as arisan, pengajian, and other associations.Keywords: Disaster, Eruption, Preparedness, Disaster prone areaCitation: Widodo, D.R., Nugroho, S.P, dan Asteria, D. (2017). Analisis Penyebab Masyarakat Tetap Tinggal di Kawasan Rawan Bencana Gunung Merapi (Studi di Lereng Gunung Merapi Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta). Jurnal Ilmu Lingkungan, 15(2),135-142, doi:10.14710/jil.15.2.135-142