Elly Nurachmah
Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia

Published : 46 Documents
Articles

MODEL KOLABORASI GURU, SISWA, DAN KELUARGA (KOGUSIGA) MENINGKATKAN PENGETAHUAN DAN KETERAMPILAN GURU TENTANG KEAMANAN MAKANAN ANAK SEKOLAH Mulyono, Sigit; Nurachmah, Elly; Sahar, Junaiti; Prasetyo, Sabarinah
Jurnal Keperawatan Indonesia Vol 20, No 2 (2017): July
Publisher : Faculty of Nursing Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (864.251 KB) | DOI: 10.7454/jki.v20i2.534

Abstract

Masalah kesehatan akibat makanan yang tidak aman di Indonesia masih sering terjadi, terutama pada kelompok anak usia sekolah untuk itu dikembangkan sebuah model yang melibatkan pihak sekolah, orangtua dan siswa sendiri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh model kolaborasi guru, siswa, dan keluarga (KOGUSIGA) terhadap peningkatan pengetahuan dan keterampilan guru tentang keamanan makanan pada siswa Sekolah Dasar (SD). Penelitian ini menggunakan desain quasi experiment pre-post test dengan menggunakan kelompok kontrol. Subjek sampel penelitian menggunakan total sampling sebanyak 28 responden guru. Kelompok intervensi diberi perlakuan berupa proses kelompok yang dilakukan selama 10 minggu sebagai implementasi model KOGUSIGA dengan kelengkapan modul untuk perawat dan guru. Hasil penelitian menunjukkan model KOGUSIGA berpengaruh secara signifikan terhadap peningkatan pengetahuan (p value=0,003) dan keterampilan (p =0,015) guru tentang keamanan  makanan pada anak usia sekolah. Model KOGUSIGA diharapkan dapat menjadi program intervensi dalam Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) dan disarankan perawat kesehatan sekolah menjadi koordinatornya. Abstract Improvement of Knowledge and Skills Related to Food Safety for School Age Children Through Teacher, Student and Family Collaboration (KOGUSIGA) Model. Food insecurity, especially in school-age children often caused health problems. The purpose of this study was to determine the effect of collaboration model for teachers, students, and families (KOGUSIGA) toward knowledge and skills of teachers about food safety in elementary school students (SD). This study applied quasi-experiment design pre - posttest with a control group. The subject sample used total sampling method were 28 teachers.  It conducted over 10 weeks and supported with modules for nurses and teachers, textbooks for students and families, and student workbook. The results showed that KOGUSIGA mode significantly affected on knowledge (p value = 0,003 and teachers skills (p value = 0,015) about food insecurity. It is concluded that KOGUSIGA model tends to promote food safety for students. It is expected that KOGUSIGA model applied under school health nurses? supervision.   Key words: School age children; teachers,  food safety; collaboration; school nurse
Efektifitas Tindakan Oral Hygiene Antara Povidone Iodine 1% dan Air Rebusan Daun Sirih di Pekalongan Fajriyah, Nuniek Nizmah; Nurachmah, Elly; Gayatri, Dewi
Jurnal Ilmiah Kesehatan (JIK) Vol 4, No 1 (2012): Jurnal Ilmiah Kesehatan (JIK)
Publisher : STIKES Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Caring for apathetic patients include oral cavity hygiene must be performed in order to prevent complication.The purpose of the study is to compare effectiveness of oral hygiene nursing care using povidone iodine 1% and using boiled water of piper betle on the number of bacteria in apathetic patients. This study was conducted in Rumah Sakit Islam Pekajangan Pekalongan. The design of this study was quasi experimental non equivalent control group with pre test and post test. Samples were selected through a systematic random sampling method. The number of eight respondents was divided into two interventions, the first intervention consisted of four respondents and the second intervention consisted of four respondents. Samples were taken through oral swab pre and post oral hygiene nursing care using povidone iodine 1% and using boiled water of piper betle. The analyses comprised of dependent and independent t- tests. The result of the study showed no significant difference berween age and the number of aerob bacteria and anaerob bacteria before oral hygiene nursing care using povidone iodine 1% and using boiled water of piper betle (p=0,232, p=0,397, α 0,05). There is no significant difference between sex and the number of aerob bacteria and anaerob bacteria before oral hygiene nursing care using povidone iodine 1% and using boiled water of piper betle (p=0,676, p=0,725, α 0,05). There is a significant difference between number of aerob bacteria and anaerob bacteria before and after oral hygiene nursing care using povidone iodine 1% and using boiled water of piper betle (p=0,002, p=0,001, α 0,05) and there is no significant difference between the number of aerob bacteria and anaerob bacteria after oral hygiene nursing care using povidone iodine 1% and using boiled water of piper betle (p=0,350, p=0.575 at α 0,05). This study concluded that povidone iodine 1% and boiled water of piper betle have the same effectiveness in reducing aerob and anaerob bacterias in the apathetic patients. Keyword : effectivity, oral hygiene, povidone iodine, piper betle Abstrak Perawatan rongga mulut pada klien penurunan kesadaran harus dilakukan untuk mencegah komplikasi, karena mikroorganisme yang berasal dari rongga mulut dapat menyebabkan infeksi atau penyakit di bagian tubuh yang lain. Tujuan penelitian adalah  mengetahui perbandingan efektifitas tindakan keperawatan oral hygiene antara povidone iodine 1% dan air rebusan daun sirih terhadap jumlah bakteri klien penurunan kesadaran. Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Islam Pekajangan Pekalongan. Desain penelitian kuasi eksperimen non equivalent control group dengan pre dan post test. Sampel diambil dengan metode systematic  random sampling, pada delapan responden yang terbagi menjadi dua intervensi, intervensi pertama empat responden dan intervensi kedua empat responden, sampel diambil melalui swab mulut pre dan post tindakan keperawatan oral hygiene povidone iodine 1% dan air rebusan daun sirih, analisis menggunakan uji t dependent dan uji t independent. Hasil penelitian menunjukan bahwa tidak ada hubungan signifikan antara umur dan jumlah bakteri aerob dan anaerob sebelum tindakan keperawatan oral hygiene povidone iodine 1% dan air rebusan daun sirih (p=0,232, p=0,397, α 0,05). Tidak ada hubungan signifikan antara jenis kelamin dan jumlah bakteri aerob dan anaerob sebelum tindakan keperawatan oral hygiene povidone iodine 1% dan air rebusan daun sirih (p=0,676, p=0,725, α 0,05). Ada perbedaan yang signifikan antara jumlah bakteri aerob dan anaerob sebelum dan setelah tindakan keperawatan oral hygiene povidone iodine 1% dan air rebusan daun sirih (p=0,002 dan p=0,001, α 0,05) serta tidak ada perbedaan signifikan selisih rata-rata jumlah bakteri aerob dan anaerob sebelum dan setelah tindakan keperawatan oral hygiene povidone iodine 1% dan air rebusan daun sirih (p=0,350, p=0.575, α 0.05). Penelitian ini menyimpulkan antara povidone iodine 1% dengan air rebusan daun sirih, sama efektifnya untuk menurunkan bakteri aerob dan anaerob klien penurunan kesadaran. Kata kunci : efektivitas, oral hygiene, povidone iodine, sirih
MENGURANGI KESALAHAN DALAM RUJUKAN KEPUSTAKAAN Nurachmah, Elly
Jurnal Keperawatan Indonesia Vol 2, No 5 (1998): October
Publisher : Faculty of Nursing Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (162.983 KB) | DOI: 10.7454/jki.v2i5.308

Abstract

Rujukan kepustakaan tidak dapat dipisahkan dari suatu artikel. Aspek ini menentukan bentuk dan isi dari suatu artikel. Karena itu dirasakan penting untuk memahami cara menulis rujukan agar kesalahan yang biasa terjadi dapat dikurangi atau dihindari. AbstractA reference is an integral part of an article. Citing references may influence a pattern and content of an article. For these reasons, it is very important to understand the ways to refer to another article in order to reduce or to avoid the common mistakes in citing a reference or references.Keywords: reference, list of reference.
PENGARUH PIJAT PUNGGUNG TERHADAP TINGKAT KECEMASAN DAN KENYAMANAN PASIEN ANGINA PEKTORIS STABIL SEBELUM TINDAKAN ANGIOGRAFI KORONER Rosfiati, Eddy; Nurachmah, Elly; Yulia, Yulia
Jurnal Keperawatan Indonesia Vol 18, No 2 (2015): July
Publisher : Faculty of Nursing Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (471.785 KB) | DOI: 10.7454/jki.v18i2.411

Abstract

Menghadapi tindakan diagnostik coronary angiography dan kemungkinan diintervensi lanjut dengan PCI, pasien APS sering cemas, merasa tidak nyaman karena stres. Cemas dan tidak nyaman sebagai respon fisiologis dan psikologis tubuh, terlihat juga pada perubahan tekanan darah, nadi, respirasi, dan suhu. Penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pijat punggung terhadap tingkat kecemasan dan kenyamanan serta dampaknya pada tekanan darah, nadi, respirasi, dan suhu sebelum tindakan coronary angiography. Penelitian ini menggunakan desain equivalent pretest-posttest with control group quasi experiment, dengan pemilihan sampel probability simple random sampling sejumlah 30 responden. Data kecemasan dan kenyamanan dikumpulkan menggunakan kuesioner berskala 0?10, pengukuran tekanan darah dan jumlah denyut nadi menggunakan tensimeter digital dan suhu menggunakan termometer digital dengan baterai. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan sesudah pijat punggung pada tingkat kecemasan, tingkat kenyamanan, tekanan darah diastolik, nadi, respirasi, dan suhu (p= 0,002; 0,0001; 0,016; 0,0001; 0,005; 0,052). Pijat punggung dapat digunakan untuk mengurangi stres psikologis (kecemasan) dan meningkatkan kenyamanan pasien sebelum tindakan coronary angiography. Rekomendasi ditujukan kepada manajemen ruangan untuk mengaplikasikan pijat punggung sebagai bagian dari SPO angiography. Abstract The Effects of Back Rub on Anxiety and Comfort Level of Patients with Stable Angina Pectoris Before Coronary Angiography Procedure at Cardiac and Cardiovascular. Dealing with coronary angiography diagnostic procedures and the possibility of being intervene with PCI, SAP patients are often anxious, feel uncomfortable due to stress. Anxiety and discomfort are physiological and psychological response, which can be noticed on the change in blood pressure status, pulse, respiration and body temperature. This research was conducted with the main objective to identify the effect of back rub on the level of patient?s anxiety and comfort before coronary angiography procedure. Design used in this research was an equivalent pretest-posttest with control group quasi experiment. Research was conducted using probability simple random sampling; with 30 respondents participated. A questionnaire was used for data collecting of anxiety level with 0?10 scale, digital sphygmomanometer was used for measuring blood pressure and pulse rate, and digital battery powered thermometer was used for measuring body temperature. The results showed differences after back-rub were found in anxiety, comfort, diastolic BP, pulse, respiration, and temperature (p= 0,002; 0,0001; 0,016; 0,0001; 0,005; 0,052). Based on the findings, it can be concluded that back-rub can be applied to reduce patient?s psychological stress (anxiety) and increase comfort before coronary angiography procedure. A recommendation is directed to the management of the ward to apply back-rub as a part of SOP of Angiography Procedure.  Keywords: back-rub, coronary angiography, physical response, psychological response, SAP patients?, stress
PENURUNAN TEKANAN DARAH DAN KECEMASAN MELALUI LATIHAN SLOW DEEP BREATHING PADA PASIEN HIPERTENSI PRIMER Sepdianto, Tri Cahyo; Nurachmah, Elly; Gayatri, Dewi
Jurnal Keperawatan Indonesia Vol 13, No 1 (2010): March
Publisher : Faculty of Nursing Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (82.71 KB) | DOI: 10.7454/jki.v13i1.229

Abstract

AbstrakTujuan penelitian untuk mengidentifikasi penurunan tekanan darah dan tingkat kecemasan pasien hipertensi primer setelah melakukan latihan slow deep breathing antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Penelitian menggunakan desain kuasi eksperimen Pretest-Posttest Control Group melibatkan 28 responden untuk setiap kelompok. Hasil menunjukkan perbedaan penurunan rata-rata tekanan darah sistolik sebesar 15,5 mmHg, perbedaan penurunan rata-rata tekanan darah diastolik sebesar 9,9 mmHg dan perbedaan penurunan rata-rata skor tingkat kecemasan sebesar 3,2. Analisis lebih lanjut menunjukkan ada perbedaan penurunan yang signifikan rata-rata tekanan darah sistolik, tekanan darah diastolik dan tingkat kecemasan antara kelompok intervensi dengan kelompok kontrol (p= 0,000, ?= 0,05). Latihan Slow deep breathing dalam pelayanan keperawatan dapat digunakan sebagai intervensi keperawatan mandiri dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien hipertensi primer. AbstractThe purpose of this study is to identify the reduction of blood pressure and anxiety level in patients with primary hypertension after slow deep breathing exercise between intervention and control groups. This research utilized a Quasi-Experimental Pre ? post test Control Group design involved 28 subjects for each group. The result indicated that there is a decrease of 9.9 mm Hg in the average of systolic blood pressure and the anxiety level of 3.2 after the intervention. Further result demonstrated that there is a significant reduction of the average systolic and diastolic pressure, and anxiety level between intervention and control groups (p= 0,000, ?= 0,05). Therefore, the slow deep breathing exercise can be applied as one of the independent nursing therapies in nursing care of patients with primary hypertension.
PENEKANAN BANTAL PASIR EFEKTIF UNTUK KLIEN PASKA KATETERISASI JANTUNG DENGAN KOMPLIKASI: RANDOMIZED CONTROLLED TRIAL Sinaga, Janno; Nurachmah, Elly; Gayatri, Dewi
Jurnal Keperawatan Indonesia Vol 15, No 3 (2012): November
Publisher : Faculty of Nursing Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.541 KB) | DOI: 10.7454/jki.v15i3.24

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas penekanan mekanikal bantal pasir 2,3 kg antara 2, 4, 6 jam terhadapkomplikasi. Metode penelitian randomized controlled trial, dengan jumlah sampel sebanyak 90 orang. Kelompok intervensi Imenggunakan bantal pasir 2,3 kg 2 jam, intervensi II 4 jam, kelompok kontrol 6 jam, pengukuran dilakukan setiap 2 jam. Hasilpenelitian tidak ada mengalami perdarahan pada semua kelompok, tidak ada perbedaan insiden haematom diantara kelompok(p= 0,866; ?= 0,05). Ada perbedaan rasa nyaman diantara kelompok pada observasi 4 jam (p= 0,003; ?= 0,05) dan observasi 6jam (p= 0,0005; ?= 0,05). Rekomendasi penelitian ini adalah perlunya modifikasi Standar Prosedur Operasional penggunaanbantal pasir 2,3 kg sebagai penekan mekanikal dari 6 jam menjadi 2 jam, sebab tidak meningkatkan komplikasi, akan tetapimeningkatkan rasa nyaman klien.Kata kunci: Bantal pasir 2,3 kg, haematom, pasien katetrisasi jantung, perdarahan, rasa tidak nyamanAbstractThis study was to determine the effectiveness of the mechanical suppression of sandbag 2.3 kg between the 2, 4, 6 hoursagainst complications. The research design was randomized controlled trial study, where 90 patients as sample. A 2.3 kgsandbag was applied for two hours for the first group, four hours for the second groups, and six hours for the control groups,measurements were taken every 2 hours. The results showed that no patient has any bleeding, not difference the incidence ofhematoma between groups (p= 0.866; ?= 0.05). That the differences of discomfort between groups were found after 4 hours(p= 0.003; ?= 0.05), and after 6 hours (p= 0.0005; ?=0.05). It is recommended that Standard Operational Proceduremodification required from six hours into two hours in using a 2.3 kg sandbag as a mechanical pressure, because there is noincrease of incidence of complications, on the otherhand an improvement of comfort level is detected.Keywords: 2.3 kg sandbag, hematoma, patients having cardiac catheterization, bleeding, discomfort
PENGALAMAN KLIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 PASCA AMPUTASI MAYOR EKSTREMITAS BAWAH Agustin, Yeni; Nurachmah, Elly; Kariasa, I Made
Jurnal Keperawatan Indonesia Vol 16, No 2 (2013): July
Publisher : Faculty of Nursing Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (471.31 KB) | DOI: 10.7454/jki.v16i2.9

Abstract

Diabetes Melitus Tipe 2 (DM Tipe 2) adalah kelainan metabolik yang ditandai dengan hiperglikemia yang diakibatkan kurangnya sekresi insulin, resistensi insulin, atau keduanya. Kondisi hiperglikemia kronis dapat menyebabkan berbagai komplikasi yang salah satunya adalah kaki diabetik yang menjadi penyebab utama dilakukannya amputasi pada klien DM tipe 2. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengalaman klien DM tipe 2 pasca amputasi mayor ekstremitas bawah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Hasil analisis data menghasilkan enam tema, yaitu: perubahan dalam kehidupan setelah amputasi, respon atau perasaan terkait amputasi, mekanisme koping, dukungan sosial yang diterima, makna hidup, dan pelayanan kesehatan yang diterima. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan dalam meningkatkan kualitas asuhan keperawatan melalui peningkatan dukungan rehabilitasi secara fisik, psikososial, dan spiritual pada klien DM tipe 2 pasca amputasi mayor ekstremitas bawah.
PERSEPSI KEPALA RUANGAN DAN PERAWAT PELAKSANA TENTANG PERMASALAHAN MANAJEMEN DALAM MENERAPKAN PENDOKUMENTASIAN PROSES KEPERAWATAN DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT NASIONAL DR. CIPTO MANGUNKUSOMO JAKARTA 2001 Azies, Herawati; Nurachmah, Elly; Notoatmojo, S
Jurnal Keperawatan Indonesia Vol 6, No 2 (2002): September
Publisher : Faculty of Nursing Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (67.255 KB) | DOI: 10.7454/jki.v6i2.120

Abstract

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui secra mendalam persepsi kepala ruangan dan perawat pelaksana tentang permasalahan manajemen dalam menerapkan pendokumentasian proses keperawatan di RSCM. Desain penelitian kulitatif adalah deskriptif-eksploratif dengan menggunakan pendekatan fenomenologikal dan melibatkan 24 responden dari dua kelompok kepala ruangan dan perawat pelaksana, masing-masing terdiri dari empat orang dari setiap kelompok untuk wawancara mendalam, dan delapan orang dari tiap kelompok untuk kelompok diskusi terfokus. Hasil penelitian menunjukkann ada beberapa tema yang muncul dari setiap variable yang diteliti yaitu untuk variable pemahaman dokumentasi keperawatan diperoleh tema catatn, aspek legal, alat komunikasi dan informasi, serta dokumentasi sebagai penelitian. Pada variable fungsi manajeman, fungsi perencanaan diperoleh sumber belum optimal, fungsi pengorganisasian diperoleh uraian tugas belum jelas, fungsi pengarahan diperoleh tema pendelegasian, dan dari fungsi pengawasan diperoleh penampilan kinerja belum terlaksana secara berkesinambungan, standar praktik belum difungsikan secara optimal, pendidikan kepala ruangan belum selesai, dan tema spek psikososial. Rekomendasi ditujukan pada bebrapa pihak yang terlibat dalam pelayanan keperawatan di rumah sakit agar mendukung terwujudnya sistem pendokumentasian yang lebih baik. Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan agar pendokumentasian keperawatan dapat leih dipertanggungjawabkan baik secara legal, social, maupun professional. The purpose of the research was to identify the in-depth perception of the head as nursing managers and the clinical nurses on the management problems to implement nursing process documentation at RSCM. The design of the qualitative research was descriptive explorative using a phenomenological approach. Twenty-four respondents were participated in the study: consisted of two groups, which were the group of head nursing and the group of clinical nurses equally. These groups were divided into eight persons in the group for in depth interview and sixteen persons for focus group discussions. The result of the study showed several themes from each variable. The variable of understanding the nursing documentation had themes of documentation as notes, legal aspect, communication and information media, and as a material of research study. The variable of management function produced varies of themes such as resource planning has not been implemented optimally, job description is unclear, delegation of tasks, work performance has been monitored consistently, standard of practice has not been conveyed to several components of nursing service in the hospital to support a better nursing documentation. A further research should be done to achieve more comprehensive findings lead to a nursing documentation that can be legally, social, and professionally accountable.
PENGARUH PEMBERDAYAAN IBU DALAM PERAWATAN BAYI MELALUI PENDEKATAN MODELLING Saleh, Ariyanti; Nurachmah, Elly; Hadju, Veny; As'ad, Surayani; Hamid, St Khadijah
Media Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol 13, No 2: JUNI 2017
Publisher : Faculty Of Public Health, Hasanuddin University, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.896 KB) | DOI: 10.30597/mkmi.v13i2.1981

Abstract

Ibu merupakan faktor lingkungan yang utama dan dapat berperan terhadap tumbuh kembang bayi melalui pemberian ASI. Pemberian ASI sangat dianjurkan pada bayi sampai anak berusia 2 tahun. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi efektivitas pemberdayaan ibu dalam merawat bayi 0-6 bulan dengan memberikan pendidikan kesehatan dengan pendekatan modeling terhadap pengetahuan dan dukungan keluarga dengan status laktasi bayi. Penelitian ini menggunakan desain quasi eksperiment pre-post control group design. Analisis menggunakan uji wilcoxson dan uji Mann Whitney. Intervensi yang diberikan berupa pemberian pendidikan kesehatan dengan pendekatan modelling tentang manajemen laktasi dan stimulasi tumbuh kembang bayi. Sampel berjumlah 81 orang terdiri atas 41 orang kelompok perlakuan dan 40 orang kelompok kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan ibu dari kelompok intervensi dan kontrol masing-masing menunjukkan terdapat perbedaan pengetahuan sebelum dan sesudah intervensi (p=0,000; p=0,001). Dukungan keluarga dari kelompok intervensi dan kontrol masing masing menunjukkan terdapat perbedaan pengetahuan sebelum dan sesudah intervensi (p=0,000; p=0,009). Status laktasi menunjukkan ada perbedaan yang signifikan (p=0,001) antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Kesimpulan dari penelitian bahwa efektivitas pemberdayaan ibu dalam merawat bayi menunjukkan terdapat perbedaan antara pengetahuan, dukungan keluarga dan status laktasi sebelum dan sesudah pemberian pendidikan kesehatan dengan pendekatan modelling.
PERBEDAAN EFEKTIFITAS PERAWATAN LUKA MENGGUNAKAN MADU DENGAN METRONIDAZOLE TERHADAP TINGKAT MALODOR DAN JUMLAH EKSUDAT LUKA MALIGNA DI RS. X Tanjung, Dudut; Nurachmah, Elly; Handiyani, Hanny
Jurnal Keperawatan Indonesia Vol 11, No 2 (2007): September
Publisher : Faculty of Nursing Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (48.231 KB) | DOI: 10.7454/jki.v11i2.187

Abstract

AbstrakLuka maligna dengan tingkat malodor dan jumlah eksudat yang berlebihan dapat menyebabkan masalah ketidaknyamanan dan isolasi sosial sehingga berdampak negatif bagi kualitas hidup pasien. Penelitian ini bertujuan membandingkan efektifitas antara perawatan luka menggunakan madu dengan metronidazole dalam menurunkan tingkat malodor dan mengurangi jumlah eksudat luka maligna. Penelitian. Desain penelitian yang digunakan adalah kuasi eksperimen dengan non equivalent pretest-posttest controlled group design dan non equivalent posttest only controlled group design. Berdasarkan consecutive sampling diambil sampel sebanyak 12 responden, terdiri dari enam responden kelompok kontrol dan enam responden kelompok intervensi, dengan kriteria: luka maligna stadium lanjut, laki-laki dan perempuan berusia 23-59 tahun, luas luka = 4cm². Perawatan luka dengan madu menurunkan tingkat malodor menurut pasien berdasarkan Numeric Rating Scale (NRS) dari 6,0 sebelum intervensi menjadi 2,1 sesudah intervensi hari ke-6, sementara perawatan luka dengan metronidazole tingkat malodor dari 5,6 menjadi 4,6. Hasil uji t menunjukkan nilai p<0,05; pada perubahan tingkat malodor. Perawatan luka dengan madu menunjukkan peningkatan jumlah eksudat dari 66,6gr sesudah intervensi hari ke-3 menjadi 80,8gr hari ke-6, sementara perawatan luka dengan metronidazole menunjukkan peningkatan jumlah eksudat dari 44,5gr menjadi 51,1gr. Hasil uji t menunjukkan nilai p>0,05 pada perubahan jumlah eksudat. Peneliti menyimpulkan perawatan luka dengan madu lebih efektif dibandingkan dengan metronidazole menurunkan tingkat malodor. Sementara perawatan luka dengan madu dan metronidazole belum efektif mengurangi jumlah eksudat luka maligna. Para pengambil kebijakan di institusi pelayanan kesehatan perlu mengeluarkan kebijakan yang dapat mengakomodasi penggunaan madu sebagai agen topical perawatan luka maligna. AbstractMalodor and exudates of wounds in malignancy can cause problems of discomfort & social isolation for patients. Both of them can produce negative impact on their quality of life. The treatment of malignant wounds use the right topical agent is a major factor in reducing malodor and wounds exudates. A comparative study was conducted to evaluate the effectiveness of honey and metronidazole on malodor & exudates malignant wounds. A Quasi experimental with non equivalent pretest-posstest controlled group design and non equivalent posttest only controlled group design were used in this study. Twelve sample was taken by a consecutive sampling, consis of six patients of control group and six patients of intervention group with a final stage of malignancy, 23-59 years old in male and female, size of wound is = 4 cm2. The wounds which we treated with honey demonstrated a reduction in malodor from patient perspectives using a Numeric Rating Scale (NRS), from the mean score of malodor on onset was 6,0 and on the sixth days of the treatment, to 2,1. group, malodor also reduced from 5,6 before treatment and dropped to 4,6 after treatment. at test showed that there are a significant difference between honey and metronidazole in reducing malodor (p<0,05). On the other hand, the wounds treated with honey and metronidazole preduced more drainage. In the honey group, the increase in the amount of wound exudate was noticeable on the third days (66,6 gr) and the sixth days (80,8gr) after the treatment. While in the metronidazole group, the amount of wound exudate was increase on the third days (44,5 gr) and the sixth days (51,1gr) after the treatment. There are not statistically significant (p>0,05). The study concluded that the use of honey in the treatment of wounds in malignancy is more effective than metronidazole in reducing malodor patients perspectives. Base on findings, it is requested for decision makers in the healthcare institution to produce a policy that could accommodate usage of honey as a topical agent in the treatment of malignant wounds.