Ria Azizah Tri Nuraini
Program Studi Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Dipenogoro

Published : 21 Documents
Articles

Found 21 Documents
Search

Studi Kandungan Bahan Organik Pada Beberapa Muara Sungai Di Kawasan Ekosistem Mangrove, Di Wilayah Pesisir Pantai Utara Kota Semarang, Jawa Tengah Supriyantini, Endang; Nuraini, Ria Azizah Tri; Fadmawati, Anindya Putri
Buletin Oseanografi Marina Vol 6, No 1 (2017): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (465.84 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v6i1.15739

Abstract

Bahan organik adalah kumpulan senyawa - senyawa organik kompleks yang telah mengalami proses dekomposisi oleh organisme pengurai, baik berupa humus hasil humifikasi maupun senyawa-senyawa anorganik hasil mineralisasi. Bahan organik merupakan sumber nutrient yang penting, yang sangat dibutuhkan oleh organisme laut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis parameter kandungan bahan organik meliputi BOD5 (Biochemical Oxygen Demand), COD (Chemical Oxygen Demand), TSS (Total Suspended Solid), TDS (Total Suspended Solid) dan TOM (Total Organic Matter) dan menentukan tingkat pencemaran bahan organik berdasarkan baku mutu pada beberapa muara sungai di kawasan ekosistem mangrove, di wilayah pesisir pantai Utara Kota Semarang. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 2015. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, sedangkan penentuan lokasi penelitian menggunakan metode purposive sampling method dan untuk pengambilan sampel air menggunakan metode sample survey method. Hasil penelitian menunjukan bahwa kandungan parameter bahan organik selama penelitian di semua lokasi adalah BOD (3,77 – 15,13 mg/L), COD (20,33 – 140,67 mg/L), TSS (1,33 – 13,67 mg/L), TDS (818,33 – > 2.000 mg/L) dan TOM (10,73 – 50 mg/L). Secara umum kandungan COD dan TSS di Maron dan Trimulyo sudah melewati ambang batas baku mutu menurut Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup Nomor 2 Tahun 1988 tentang Baku Mutu Air Limbah, sedangkan untuk kandungan BOD, TSS dan TOM belum melampaui ambang batas baku mutu yang telah ditetapkan oleh Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 51 Tahun 2004. The organic material is set of complex organic compounds that have developed in decomposition process by decomposing organisms, both in the form of topsoil of humification as well as inorganic compounds of mineralization. Organic materials are an important source of nutrients, which are needed by aquatic organisms. This study aimed to analyze the organic material content BOD5 (Biochemical Oxygen Demand), COD (Chemical Oxygen Demand), TSS (Total Suspended Solid), TDS (Total Suspended Solid) and TOM (Total Organic Matter) and determine the level of pollution of organic materials based on quality standard on some estuaries of the mangrove ecosystem, in North Coast of Semarang. This study carried out in April 2015. A method used in this research is descriptive method, whereas the determination of research location used purposive sampling method and the method intake of the water sample used the sample survey method. The results showed that the content of organic material parameters during the research in all locations are BOD (3.77 to 15.13 mg/L), COD (20.33 to 140.67 mg/L), TSS (1.33 - 13, 67 mg/L), TDS (818.33 - > 2.000 mg/L) and TOM (10.73 – 50 mg/L). In general the content of COD at Maron and Trimulyo, and TDS content Mangkang Wetan, Maron and Trimulyo are already passed the quality standard according to the Decree of the Minister of State for Population and the Environment No. 2 of 1988 on Wastewater quality standard, whereas for the content of BOD, TSS and TOM has not exceeded the limit of quality standards which are established by the Decree of the Minister of State for Population and the Environment No. 51 of 2004.
Konsentrasi Logam Pb Di Enhalus acoroides LF. Royle 1839 (Angiosperms : Hydrocharitaceae) dan Lingkungannya di Perairan Kartini Dan Teluk Awur, Jepara Rianda, Betta; Nuraini, Ria Azizah Tri; Sunaryo, Sunaryo
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (610.878 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v8i2.25092

Abstract

Lamun jenis Enhalus acoroides merupakan salah satu komponen keanekaragaman hayati yang tumbuh di Perairan Kartini dan Teluk Awur. Aktivitas pariwisata, pelabuhan, pembuatan, pengecatan, pengelasan, pembersihan dan lalu lintas kapal nelayan menjadi penyebab terakumulasinya logam berat di perairan. Logam berat Pb merupakan logam berat beracun dan berbahaya, bahan pencemar dan cenderung mengganggu kelangsungan hidup organisme perairan. Tujuan penelitian ini ialah mengetahui dan menganalisis kandungan logam berat Pb pada air, sedimen dan lamun Enhalus acoroides (akar dan daun) di Perairan Kartini dan Teluk Awur, Jepara, serta mengetahui tingkat pecemarannya berdasarkan baku mutu. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif, sedangkan metode penentuan lokasi menggunakan metode purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan kandungan logam berat Pb air di Perairan Kartini sebesar 0,181-0,316 mg/l dan Perairan Teluk Awur sebesar 0,001-0,157 mg/l. Kandungan logam berat Pb sedimen di Perairan Kartini sebesar 2,424-3,463 mg/kg dan Perairan Teluk Awur sebesar 2,347-2,496 mg/kg. Kandungan logam berat Pb Lamun Enhalus acoroides pada akar di Perairan Kartini sebesar 0,918–1,854 mg/kg dan Perairan Teluk Awur sebesar 0,906–1,492 mg/kg. Kandungan logam berat Pb Lamun Enhalus acoroides pada daun di Perairan Kartini sebesar 0,764–1,458 mg/kg dan Perairan Teluk Awur sebesar 0,674–1,040 mg/kg. Enhalus acoroides seagrass as a component of biodiversity that grows in the waters of Kartini and Teluk Awur. Activities in these waters include tourism, ports, manufacture, painting, welding, cleaning and traffic of fishing vessels to cause of accumulated heavy metals in the waters. Heavy metal Pb is a toxic and dangerous heavy metal, polluting material and tends to interfere with the survival of aquatic organisms. The purpose of this study was to determine and analyze the Pb heavy metal content in water, sediment and seagrass Enhalus acoroides (roots and leaves) in Kartini and Teluk Awur waters, Jepara, and to determine the level of pollution based on quality standards. This research uses descriptive method, while the location determination method uses purposive sampling method. The results showed that the heavy metal Pb water content in Kartini waters was 0.181 mg/l - 0.316 mg/l and Teluk Awur waters was 0.01-0.157 mg/l. The heavy metal content of Pb sediment in Kartini waters is 2,424-3,463 mg/kg and Teluk Awur waters was 2,347-2,496 mg/kg. The heavy metal content of Pb in Enhalus acoroides in the roots of Kartini waters was 0.918-1.854 mg/kg and Teluk Awur waters was 0.906-1.492 mg/kg. Heavy metal content of Pb in Enhalus acoroides in leaves in Kartini waters was 0.764 mg/kg - 1.458 mg/kg and Teluk Awur waters was 0.674-1.040 mg/kg
Pengaruh Perbedaan Intensitas Cahaya Terhadap Kelimpahan Arthropoda di Perairan Desa Tambakpolo, Demak Bramasta, Arrico Fathur Yudha; Setyati, Wilis Ari; Nuraini, Ria Azizah Tri
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (701.432 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v9i1.25776

Abstract

ABSTRAK: Zooplankton merupakan organisme laut yang memiliki peran dalam rantai makanan di laut. Zooplankton berperan pada tingkat energi kedua yang menghubungkan produsen (fitoplankton) dengan konsumen tingkat tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi dan struktur komunitas Arthropoda dengan dua perbedaan intensitas cahaya (300 lux dan 2000 lux). Penelitian ini dilakukan menggunakan metode purposive sampling yang terdiri dari tiga stasiun. Pengambilan sample zooplankton dilakukan dengan bantuan plankton net yang ditarik kapal tiga kali pengulangan. Berdasarkan penelitian ditemukan 5 genus yaitu Calanus, Paracalanus, Sergia, Eucalanus dan Candacia. Genus yang paling banyak ditemukan adalah Calanus dan Sergia. Kelimpahan Arthropoda tertinggi terdapat pada Stasiun 1 dengan intensitas 2000 lux sebesar 8.492 ind/L dan terendah pada Stasiun 3 dengan intensitas 300 lux sebesar 2.286 Ind/L, hal ini diduga karena pengaruh gaya fototastik positif dari fitoplankton terhadap sumber cahaya yang direspon baik oleh zooplankton khususnya Arthropoda sebagai sumber makanan. Tingkat keanekaragaman (H’) Arthropoda di perairan tersebut termasuk dalam kategori rendah, indeks keseragaman (E) dalam kategori rendah, dan terdapat dominansi (C). ABSTRACT: Zooplankton are those organisms which have a role in  food-web in aquatic ecosystems. Zooplankton as second trophic level organism whose connects producers (phytoplankton) with consumers at a higher trophic level. This research aims to know the composition and structure of the Arthropode community with two differences in light intensity (300 lux and 2000 lux). This research was done by using purposive sampling method which consists of three stations, by using a plankton net that was pulled by the boat. The results of the study found five genera namely Calanus, Paracalanus, Sergia, Eucalanus, Candacia. The most common genera are Calanus and Sergia. The highest abundance of Arthropode at Station 1 with an intensity 2000 lux is 8.492 ind/L and the lowest at Station 3 with an intensity 300 lux is 2.286 Ind/L. The level of diversity (H') of Arthropode categorized as low, the index of uniformity (E) is categorized medium, the level of dominance (C) is classified as high.
Studi Kandungan Nutrien Pada Ekosistem Mangrove Perairan Muara Sungai Kawasan Pesisir Semarang Ridwan, Muhammad; Suryono, Suryono; Nuraini, Ria Azizah Tri
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (767.819 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v7i4.25927

Abstract

ABSTRAK : Nutrien memiliki peranan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan biota laut. Kandungan nutrien merupakan salah satu indikator terhadap kesuburan sebagai deskripsi kualitatif suatu perairan. Tersedianya nutrien di muara sungai dipengaruhi oleh ekosistem mangrove yang hidup di sekitarnya. Kerusakan ekosistem mangrove yang terjadi karena tingginya konversi lahan dan faktor alam akan mempengaruhi kandungan nutrien di perairan, ditambah aktifitas manusia di daerah hulu yang memanfaatkan kawasan perairan sungai sebagai tempat untuk membuang limbah akan berdampak terhadap semakin tertekannya ekosistem mangrove, selain itu juga dapat mempengaruhi kondisi perairan muara sungai secara langsung. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kandungan nutrien (N, P dan Si) pada ekosistem mangrove perairan muara sungai kawasan pesisir Kota Semarang. Penelitian ini dilakukan selama bulan April 2015. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif eksploratif, sedangkan metode penentuan lokasi menggunakan metode purposive sampling. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampel air yang diambil dari 4 Lokasi muara sungai yang terdapat ekosistem mangrove, yaitu: Lokasi A (Mangunharjo), Lokasi B (Mangkang Wetan), Lokasi C (Maron) dan Lokasi D (Trimulyo). Analisis sampel penelitian dilakukan di Balai Laboratorium Kesehatan, Semarang. Hasil penelitian menunjukan bahwa kandungan nutrien N, P dan Si selama penelitian di semua lokasi adalah amonia (0,1-1.96 mg/L), nitrit (0.009-0.37 mg/L), nitrat (0,216-5.86 mg/L), fosfat (0.57-3.87 mg/L) dan silika (0.1-11.21 mg/L). Secara umum kandungan nutrien di seluruh lokasi telah melebihi baku mutu Kemetrian Lingkungan Hidup tahun 2004 untuk biota laut. Berdasarkan kandungan nutrien nitrat dan fosfat kesuburan perairan berada pada level mesotropik – hypertropik. Rasio N:P selama penelitian  berkisar antara 0.47:1 – 3.24:1. ABSTRACT : Nutrient had an important role in growth and development of organism. The content of nutrient is indicator to fertility as qualitative description of water. The availability of nutrient in estuary affected by mangrove ecosystem that live in the vicinity. The damage of mangrove ecosystem happened because of land conversion and nature cause, it will affect nutrient content in water. Human activities in headwaters which utilize river areas as a place to waste disposal will also aggravate mangrove ecosystem, it will affect the water condition in estuarine directly. This research was conducted to analyze the content of (N, P dan Si ) in mangrove ecosystem of estuary waters coastal area of Semarang. The research started from April 2015 - January 2016 consisting of sampling the estuaries of Semarang coastal area to writing the final report. The method used is descriptive explorative, while the method of determining location using purposive sampling method. The material used in this research is water samples taken from four location of estuary where there are mangrove ecosystem, that is: Location A (Mangunharjo), Location B (Mangkang Wetan), Location C (Maron) and Location D (Trimulyo). The Analysis samples of this research conducted at Balai Laboratorium Kesehatan, Semarang. The results showed that the nutrient content of N, P and Si for all locations are ammonia (0,1-1.96 mg/L), nitrite (0.009-0.37 mg/L), nitrates (0,216-5.86 mg/L), phosphate (0.57-3.87 mg/L) and silica (0.1-11.21 mg/L). In general the nutrient content in all locations has exceeded the quality standard The Ministry of Environment in 2004 for marine life . Based on the nutrient content of nitrate and phosphate fertility waters at the level mesotropik – hypertropik. Rasio N: P during the study ranged from 0.47 : 1 - 3:24 : 1.
Komposisi dan Kelimpahan Fitoplankton di Perairan Pandansari, Desa Kaliwlingi, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah Aminah, Siti; Nuraini, Ria Azizah Tri; Djunaedi, Ali
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (778.062 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v9i1.25793

Abstract

ABSTRAK : Fitoplankton merupakan dasar dari rantai makanan (primary producer) di perairan. Fitoplankton juga memiliki fungsi lain yaitu sebagai  bioindikator untuk mengevaluasi kualitas dan tingkat kesuburan perairan. Keberadaan fitoplankton sangat penting karena mendukung seluruh kehidupan biota laut lainya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui struktur komunitas fitoplankton dan kualitas perairan di sekitar ekowisata “Dewi Mangrove sari” berdasarkan kelimpahan dan keanekargaman fitoplankton. Penelitian ini di laksanakan pada tanggal 26 Juni 2018 dan 7 November 2018. Penelitian ini dilakukan di  sekitar ekowisata mangrove “Dewi Mangrove Sari” Pandansari, Desa Kaliwlingi, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah,  dengan 3 stasiun dan 3 pengulangan pengambilan sampel.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, sedangkan dalam penentuan titik lokasi pengambilan sampel fitoplankton menggunakan metode purposive sampling. Hasil dari penelitian ini ditemukan 4 dari 22 genus yaitu,  Bacillariophycea dengan 15 genus,  Dynophyceae dengan 5 genus, Cyanophyceae dengan1 genus dan Crysophyceae ditemukan 1 genus. kelimpahan fitoplankton sebesar 42.555,67 Ind/L pada Bulan Juni 2018 dan 44.072,17 Ind/L untuk bulan November termasuk dalam kondisi kesuburan tinggi (Eutrofik). Indeks keanekaragaman (H’) berkisar antara 1,91 - 2,57, indeks keseragaman (e) berkisar antara 0,65-0,84, indeks dominasi (C) berkisar antara 0,13 – 0,18. Dapat disimpulkan  bahwa indeks keanekaragaman di perairan sekitar ekowisata “Dewi Mangrove Sari” Pandansari, Desa kaliwlingi, Kabupaten Brebes, Jawa tengah termasuk dalam kategori tinggi dan tidak ada dominasi. Perairan sekitar ekowisata “Dewi Mangrove Sari” cukup stabil dan persebaran individu pada setiap genus cukup merata dan tidak ada jenis yang mendominasi. ABSTRACT: Phytoplankton are the basis of the food chain (primary producer) in water. Phytoplankton also has another function, namely as a bio-indicator to evaluate the quality and level of water fertility. The existence of phytoplankton is very important because it supports all other marine life. The purpose of this study was to determine the structure of the phytoplankton community and the quality of the waters around the ecotourism "Dewi Mangrove sari" based on the abundance and diversity of phytoplankton. This research was carried out on 26 June 2018 and 7 November 2018. The research was conducted around the Pandansari "Dewi Mangrove Sari" mangrove ecotourism, Kaliwlingi Village, Brebes Regency, Central Java, with 3 stations and 3 sampling repeats. The method used in this research is descriptive, while in determining the location of phytoplankton sampling locations using a purposive sampling method. The results of this study found 4 out of 22 genera namely, Bacillariophycea with 15 genera, Dynophyceae with 5 genera, Cyanophyceae with 1 genus and Crysophyceae found 1 genus. Phytoplankton abundance of 42,555.67 Ind / L in June 2018 and 44,072.17 Ind / L for November included in conditions of high fertility (Eutrophic). Diversity index (H ') ranged from 1.91 to 2.57, uniformity index (e) ranged from 0.65 to 0.84, dominance index (C) ranged from 0.13 to 0.18. It can be concluded that the diversity index in the waters around Pandansari's "Dewi Mangrove Sari" ecotourism, Kaliwlingi Village, Brebes Regency, Central Java is included in the high category and there is no dominance. The waters around the ecotourism "Dewi Mangrove Sari" are quite stable and the distribution of individuals in each genus is quite evenly distributed and no species dominates. 
Struktur Komunitas Moluska Bentik Pada Ekosistem Lamun Asli Dan Transplantasi Di Perairan Pulau Panjang, Jepara Khozin, Khozin; Nuraini, Ria Azizah Tri; Riniatsih, Ita
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (540.503 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v7i4.25924

Abstract

ABSTRAK : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur komunitas moluska bentik dan  di lamun asli dan transplantasi di  perairan pulau Panjang kabupaten Jepara. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari – Maret 2016. Sampel moluska bentik diambil dengan cara mengambil sedimen terlebih dahulu dan kemudian disaring menggunakan saringan yang memiliki diameter 0,5 mm. Hasil penelitian yang telah dilakukan ditemukan sebanyak 14 spesies. Nilai kelimpahan pada lamun asli berkisar antara 4.00 – 5.56 ind/dm3 dan nilai kelimpahan pada lamun transplantasi antara 2.00 – 2.67 ind/dm3. Nilai indeks keanekaragaman pada lamun asli berkisar antara 0,50 – 0,52, sedangkan pada lamun transplantasi berkisar antara 0,47 – 0,52. Nilai indeks keseragaman pada lamun asli (E = 0,32 -0,33) dan lamun transplantasi (E = 0,30 – 0,33) yang masuk dalam kategori rendah (E > 0,6) di kedua padang lamun tersebut. Nilai indeks dominasi di lamun asli (C = 0,14 – 0,31) dan lamun transplantasi (C = 0,14 – 0,28) menunjukan bahwa tidak ada  jenis moluska bentik yang mendominasi. ABSTRACT : The aims of this research to understand the community structure of bentic mollusc community which lives in Panjang island, Jepara. The research was conduted in January – March 2016. Samples of bentic mollusc were collected  by taking sediment first, then filtered using a sieve (the mesh size of sieve is 0,5 mm). The result of this reseach found as many as 14 species. The value of abundance in nature seagrass ranging from 4.00to 5.56 ind/dm3 and the value of abundance in transplantation seagrass ranging from 2.00 to 2.67 ind/dm3. The value of diversity index in the nature seagrass ranging from 0.50to0.52, while in the transplantation seagrass ranging from 0.47 to 0.52. The value of evenness index in nature seagrass (E = 0.32to 0.33) and transplantation seagrass (E = 0.30 to 0.33) were included in the lower category (E> 0.6) in the second zone. The value of domination index in the nature seagrass (C = 0.14 to 0.31) and transplantation seagrass (C = 0.13 to 0.17) indicates that there are not bentic mollusc species dominates.
Biologi Kepiting Bakau Scylla Serrata, Forsskål, 1775 (Malacostraca : Portunidae) Berdasarkan Pola Pertumbuhan dan Parameter Pertumbuhan pada Bulan Oktober, November, Desember di Perairan Ketapang, Pemalang Fitriyani, Naily; Suryono, Chrisna Adhi; Nuraini, Ria Azizah Tri
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (644.005 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v9i1.26698

Abstract

ABSTRAK: Desa Ketapang, Pemalang merupakan salah satu sumber potensi tangkapan kepiting yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Tingginya permintaan pasar baik lokal maupun global menyebabkan  naiknya penangkapan kepiting tanpa adanya restocking sepanjang tahun. Hal ini mengkhawatirkan kondisinya di alam. Penelitian ini bertujuan untuk memonitoring kepiting bakau (Scylla serrata) di Perairan Desa Ketapang, Pemalang dengan mengetahui distribusi ukuran, pola pertumbuhan dan faktor kondisi, serta nilai parameter pertumbuhan berdasarkan persamaan Von Bertalanff. Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober-Desember 2019 dengan 2 kali pengambilan dalam 1 bulan (fase bulan purnama dan fase bulan baru). Metode pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan metode survei. Data tangkapan kepiting bakau diperoleh dari hasil tangkapan nelayan yang ada di pengepul kepiting Desa Ketapang. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan Ms. Excel 2013 dan FISAT II. Distribusi ukuran rata-rata lebar karapas kepiting pada bulan purnama yaitu 40,38 ± 7,98 mm, sedangkan pada bulan baru yaitu 39,89 ± 6,48 mm. Pola pertumbuhan kepiting pada bulan Oktober – Desember 2019 menunjukkan pola pertumbuhan allometrik negative (b<3) dengan nilai faktor kondisi diatas 100, yang berarti wilayah Perairan Desa Ketapang mempengaruhi pertumbuhan kepiting dari segi sumber makanan. Didapatkan nilai persamaan pertumbuhan pada saat bulan purnama adalah Lt = 30.8 (1-exp(0.51(t+1.93264))) , sedangkan pada bulan baru adalah Lt = 30.5 (1-exp(4.56(t+0.19933))). ABSTRACT: Ketapang is one of village in Pemalang which has potential sources of crab catches that have high economic value. The high demand of local and global markets cause an increasing in crab catch without any restocking throughout the year. It is worrying about its condition in nature. The study aims to monitor mangrove crabs (Scylla serrata) in Ketapang waters, Pemalang by knowing the size distribution, pattern growth, condition factor, and the value of growth parameters based on The equation Von Bertalanff. The study has been conducted in October-December 2019 with 2 retrievals in 1 month (Full moon phase and New Moon phase). The method of collecting data on this study uses the survey method. Mangrove Crab capture Data is obtained from the catch of fishermen in the crab-Pinke Ketapang village. Data was analyse used Ms. Excel 2013 And FISAT II software. The average size distribution of crab carapace in the full moon is 40.38 ± 7.98 mm, while in the New Moon is 39.89 ± 6.48 mm. The pattern of crab growth in October – December 2019 showed negative allometri growth pattern (b<3) with condition factor value above 100, which means the water area of Ketapang village affects the growth of crabs in terms of food sources. Acquired value of growth equation during full moon is Lt = 30.8 (1-exp (0.51 (t + 1.93264))), while the new Moon is Lt = 30.5 (1-exp (4.56 (t + 0.19933))).
Analisis Sebaran Lebar Karapas dan Proporsi Rajungan Betina Bertelur yang Tertangkap di Perairan Demak Pradana, Henrian Rizki; Nuraini, Ria Azizah Tri; Redjeki, Sri
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (538.584 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v8i4.24720

Abstract

ABSTRAK : Rajungan merupakan komoditas perikanan bernilai ekonomis penting dan memiliki nilai komersial yang cukup tinggi. Salah satu desa yang memproduksi rajungan adalah Desa Betahwalang. Sebagian besar rajungan hasil tangkapan di perairan Betahwalang dikirim untuk di ekspor ke luar negeri. Tingginya permintaan pasar terhadap komoditas perikanan rajungan memicu eksploitasi yang berlebihan sehingga dapat berdampak terhadap kelestarian sumber daya rajungan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis sebaran lebar karapas dan proporsi EBF (egg berried female) rajungan di Desa Betahwalang, Demak terkait dengan upaya pengelolaan rajungan secara berkelanjutan sesuai dengan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan no. 1 tahun 2015. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari – Maret 2019 di Desa Betahwalang, Demak menggunakan metode random sampling. Pengukuran rajungan dilakukan di bakul yang ada di Desa Betahwalang, Demak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1003 ekor rajungan (83%) yang tertangkap berukuran >10 cm dari total 1203 rajungan tertangkap. Nisbah kelamin di Desa Betahwalang menunjukkan bahwa antara jantan dan betina seimbang (1:1,06). Sedangkan untuk betina bertelur yang tertangkap (EBF) berjumlah 81 ekor rajungan (13%). ABSTRACT : Blue Swimming Crab is one of fisheries commodity with highly important economical and commerce value. One of the village that produce blue crab is Betahwalang. Most of the crabs are exported. With high demand of blue crab resulting in over exploitation that affects the population of blue crab. The purpose of this research is to analyze the spread of carapace width and the proportion of EBF (Egg Berried Female of the blue swimming crab in Desa Betahwalang, Demak that are related with the continuous management effort of blue crab consistent with Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No 1 Tahun 2015. This research was conducted on February – March 2019 at Desa Betahwalang, Demak using random sampling method. The measurement of blue crab was done on the buyer at Desa Betahwalang, Demak. The results show that 1003 blue crab (83%) that were caught had carapace width more than 10 cm from 1203 blue crab caught. The ratio of male and female crab show that male and female were equal (1:1,06). For the egg berried female (EBF) that were caught shows 81 blue crab caught (13%). 
Program Studi Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Dipenogoro Kharisma, Dian; Suryono, Chrisna Adhi; Nuraini, Ria Azizah Tri
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (143.016 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v1i2.2040

Abstract

Human activities such as setlement, harbor, industry and fishing and bivalve catching in the shoreline directly or indirectly will force the changing of waters environment quality, for example the changing of physical and chemical quality of waters. Ecological study on benthic such as bivalve has an important rule because its high life tolerances could describe the environmental changing of the waters. In the dynamic environment, biology analysis, in particular biota benthic community analysis, could give clear description on waters area quality. This research intends to discover point of ecology bivalvia and also examined the correlation of waters quality towards bivalve ecological value. The research was held on March 3, March 24 and April 18, 2012 in 8 stations in Eastern Semarang waters. The material research was bivalve. The research indicates that 10 species from 5 families which are Anadara granosa, Anadara gubernaculum, Anadara inaequivalvis, Anadara pilula, Placuna placenta, Pharella javanica, Siliqua winteriana, Mactra violacea, Marcia hiantina and the highest affluence as 1274,4 Ind/Ha² ( station III), Paphia undulate. Average Diversity index (H’) of bivalve was around 0,3-1,2. Average Uniformity Index (e) was around 0,4-0,9. Bivalve distribution pattern in the research location in general indicated grouped distribution (Clumped). The result of cluster analysis divided 3 class areashile the lowest was found in class I. Double linier regression indicated examined waters parameter which were temperature, salinity, depth, organic content and silt depend on the affluence and diversity of bivalve.
Biologi Rajungan Ditinjau dari Aspek Morfometrik dan Sex Ratio yang Didaratkan di Perairan Rembang Putra, Muhammad Juli Hendra; Subagiyo, Subagiyo; Nuraini, Ria Azizah Tri
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (636.987 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v9i1.24729

Abstract

ABSTRAK : Rajungan (Portunus pelagicus) memiliki nilai ekonomi tinggi, berbanding lurus dengan penangkapan yang meningkat. Tingkat pemanfaatan yang tidak konservatif akan mempengaruhi  ukuran dan kondisi rajungan di suatu populasi, serta stok rajungan di suatu perairan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui kajian konservasi rajungan (Portunus pelagicus) berdasarkan morfometri dan sex ratio yang didaratkan oleh nelayan  di Perairan Desa Gegunung Wetan, Kecamatan Rembang, Kabupaten Rembang. Metode yang digunakan dalam penelitian bersifat deskriptif. Pengamatan rajungan dilakukan pada salah satu pengepul di Desa. Rajungan di amati berdasarkan morfometri dan sex rasio selama 30 hari. Hasil Informasi dapat dijadikan pedoman dalam menentukan kebijakan mengenai pengelolaan perikanan rajungan yang berkelanjutan dan bersifat konservatif. Hasil dari penelitian diketahui bahwa kelimpahan rajungan jantan sebesar 46% (1379 ekor) rajungan betina 56% (1621 ekor) dari 3000 ekor sampel rajungan. Rasio perbandingan jantan dan betina 1:1,18. Berdasarkan distribusi ukuran lebar karapas rajungan di perairan Rembang adalah berkisar anatara 72–167  mm dan distribusi berat sebesar 40–303 gram. Distribusi tingkat kematangan gonad pada perairan Rembang adalah 608 ekor pada TKG 1; 658 ekor pada TKG 2; dan 355 pada TKG 3. Data menunjukan bahwa pola pertumbuhan rajungan yang ada di perairan Rembang adalah allometrik negatif  baik rajungan jantan maupun rajungan betina. Abstract: Blue swimming crab (Portunus pelagicus) has a high economic value, directly proportional to the increased catch. The level of non-conservation utilization will affect the size and condition of the blue swimming crab in a population, as well as the blue swimming crab stock in a waters. This study is aimed to determine the blue swimming crab conservation study (Portunus pelagicus) based on morphometry and sex ratio brought by fishermen in the waters of Gegunung Wetan Village, Rembang District, Rembang Regency. The method used in this study is descriptive. Observation of blue swimming crab samples was carried out in one of the collectors in the village. Blue swimming crab was observed based on morphometry and sex ratio for 30 days. Informative results can be used as a guide in determining policies regarding sustainable and conservation management of blue swimming crab fisheries. The results of the study revealed that the abundance of male blue swimming crab was 46% (1379 male blue swimming crab) and the abundance of the female blue swimming crab was 56%  (1621 female blue swimming crab) of 3000 blue swimming crab samples. The ratio of male and female  is 1:1.18. Based on the size distribution of the width of the blue swimming crab carapace in the waters of Getanung Wetan it ranges from 72-167 mm and the distribution of weight is 40-303 grams. 13.8% (413 blue swimming crab) sized≤10 cm and 86.2% (2587 blue swimming crab) sized ≥10 cm. The distribution of gonad maturity level in the waters of Gegunung Wetan is 608 female blue swimming crab at TKG 1; 658 female blue swimming crab at TKG 2; and 355 female blue swimming crab at TKG 3. There were 355 female blue swimming crab (22%) of the total female blue swimming crab laying eggs. The data showed that the blue swimming crab growth pattern in Gegunung Wetan waters was negative allometric both male and female blue swimming crab.