Articles

Found 24 Documents
Search

MODEL PENILAIAN OTENTIK DALAM PEMBELAJARAN BAHASA Nurgiyantoro, Burhan
LITERA Vol 10, No 2: LITERA OKTOBER 2011
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v10i2.1157

Abstract

This study aims to produce a validated guidebook for Authentic Assessment in Language Learning. The research activities included the guidebook development and the product was validated by three assessment experts and five teachers as stakeholders. The validation was conducted through a questionnaire and a feedbacksheet and the results were used to revise the draft to produce the final guidebook. The guidebook consists of the front page, three main chapters, references, a glossary, and an index. The results of the validation show that the guidebook is good. Conceptually it is dependable and as a guidebook it is relatively easy to use in language learning activities at school. According to the validators, it is useful to improve the language learning quality.
SASTRA ANAK DAN PEMBENTUKAN KARAKTER Nurgiyantoro, Burhan
Jurnal Cakrawala Pendidikan No 3 (2010): Mei 2010, Th. XXIX, Edisi Khusus Dies Natalis UNY
Publisher : LPPMP Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/cp.v1i3.232

Abstract

Abstract: Children?s Literature and Character Building. This article aims todescribe roles and strategies of the learning of children?s literature in charactereducation. In terms of the materials, literature has already contained ?rawmaterials? to build children?s character. Literature is culture in action containinglife models. The concept of people with ideal character highly appreciatingmorality and great values is concretely manifested in the story characters? attitudesand behaviors. Children can imitate the heroes with ideal norms and take theirattitudes and behaviors as examples. Moreover, at their age, children like to imitatebehaviors of people that they admire. To prevent literature learning from becomingrote learning, teachers and parents should work in synergy to help children read,understand, and give examples of concrete attitudes and behaviors so that theinternalization process takes place. Therefore, story-telling activities for childrenshould be routinely conducted and reading habits should be inculcated since theearly age.Keywords: children?s literature, character building, culture in behaviors
PENILAIAN OTENTIK Nurgiyantoro, Burhan
Jurnal Cakrawala Pendidikan No 3 (2008): Cakrawala Pendidikan, November 2008, Th. XXVII, No. 3
Publisher : LPPMP Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/cp.v3i3.320

Abstract

AbstractIn the era of Competency-Based Curriculum/School-Based Curriculum, theassessment emphasizes students? performance in each subject. They are required toacquire not only the cognitive aspect but also the performance aspect. Oneassessment model relevant to this is the authentic assessment. Such an assessmentemphasizes students? ability to meaningfully demonstrate the knowledge theyhave acquired. The assessment not only asks questions about the knowledge theyhave acquired, but also requires the actual performance relevant to the knowledge.There are some differences between a traditional assessment and an authenticassessment. The former emphasizes the elicitation of knowledge the students haveacquired through objective tests, while the latter emphasizes the tasks that makethe students practice meaningfully learning outcomes in real life, reflecting themastery of knowledge and skills in a particular subject. The necessary steps todevelop an authentic assessment include (1) setting the standard; (2) assigningauthentic tasks; (3) selecting the criteria; and (4) designing the rubric. One popularauthentic assessment at present is the portfolio assessment model. This model is aclass-based assessment conducted during the learning process. A portfolio is acollection of students? works systematically arranged during a certain learningperiod, used to monitor the development of the students? knowledge, skills, andattitudes in a particular subject.Keywords: authentic assessment, traditional assessment, portfolio
IMPLIKATUR PERCAKAPAN (SEBUAH TINJAUAN PSIKOLINGUISTIK) Nurgiyantoro, Burhan
Jurnal Cakrawala Pendidikan CAKRAWALA PENDIDIKAN, EDISI 1,1995,TH.XIX
Publisher : LPPMP Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/cp.v1i1.9157

Abstract

Dalam percakapan sehari-hari orang tidak selarnanyamempergunakan bentuk-bentuk kebahasaan yang bermaknaliteral, meJainkan juga memakai bentuk-bentuk lain yang 0ermaknatidak langsung. Walau antara bentuk kebahasaan yangdipakai dengan makna yang dimaksud tak ada kesesuaian,orang rnasih dapat memahami maksud pembicaraan denganmembuat implikatur-implikatur. lrnplikatur merupakan maknaekstra yang sengaja diinferensikan untuk menjembataniperbedaan antara bentuk kebahasaan yang dipakai denganmakna yang dimaksudkan dalam konteks prakmatikpercakapan. Implikatur memberikan penafsiran pragmatisyang mampu melewati dan rr:enembus b,atas-batas strukturallinguistik. lmplikatur' lebih diderivasikan dari struktur logikaatau semantis daripada 'struktur lahir kebahasaan.Untuk dapat memanfaatkan implikatur secara b~ik.ada semacam aturan yang perlu dipatuhi pembicara, yaituyang disebut maksiro percakapan. Ada empat macam maksim.yaitu maksim kualitas yang bei"kaitan dengan kebenaraninformasi yang dikatakan, maksiro kuantitas yang berupatuntutan berbicara seperlunya, maksim relasional yang bcrkaitandengan kerelevansian dengan sesuatu yang dituturkan,dan maksim 'cara yang berwujud cara mengemukakan sesuatu.Maksiro Cara inilah yang dalam banyak hal menentukan stile"penuturan seseorang. Bentuk metafora -yang memiliki keunggulankarena kemarnpuannya rnengemukakan banyak dengansedikit kata- yang sering ban yak dipergunakan dalam percakapandapat dipahami dengan memanfaatkan jasa implikaturterutama yang berupa maksiro relasional. Dampak bagi pengajaranbahasa dan sastra di sekolah adalah perlunya pengajaranpembuat~n implikatur-implikatur karena kemampuan itutak akan diperoleh begitu saja oleh anak.
KAJIAN EKRANISASI: DARI NOVEL PINTU TERLARANG KE FILM PINTU TERLARANG Ernest, Yuven Kristianus; Nurgiyantoro, Burhan
Diksi Vol 26, No 2: DIKSI SEPTEMBER 2018
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/diksi.v26i2.15494

Abstract

(Title: An Ecranisation Study: From ?Pintu Terlarang? Novel into Film). This reseĀ­arch is aimed to: (1) describe the changing of the plot in Pintu Terlarang novel into film and (2) describe the changing of characterizations in Pintu Terlarang novel into film through ecranisation. The subject studied was Pintu Terlarang novel by Sekar Ayu Asmara and Pintu Terlarang film (2009) by Joko Anwar. The researcher used recording and note techniques to collect the data and examined in inductive comparative. The result shows that after the ecranisation use of plots and characterizations in the Pintu Terlarang film. The novel used three story lines merged into a movie storyline. The single plot was presented chronologically to describe Gambir?s imaginary life which was presented quickly and densely. The film was more highlighted the conflict experienced by Gambir. The film was more dominated by the second sub-story in the novel. The modifications that occured in the film were in the form of reduction of character and duration of appearance, the alteration of position in the story and in physical characteristics, and the addition of the new characters. The changing of the characters was attached to the modification of the use and the function of the characters in the film.Keywords: adaptation, reception, alih wahana, screening, ecranisation, novel, film
TELAAH SOAL UJI COBA I BAHASA INDONESIA DI SMP KABUPATEN WONOSOBO TAHUN 2013 Mushofa, -; Nurgiyantoro, Burhan
Diksi Vol 2, No 22: DIKSI SEPTEMBER 2014
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/diksi.v2i22.3183

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan ketepatan indikator dalam kisikisisoal, keterwakilan setiap kompetensi dasar dalam soal, kesesuaian antara kisi-kisisoal dan soal, serta capaian daya serap setiap kompetensi dasar. Penelitian ini merupakanpenelitian deskriptif kualitatif-kuantitatif. Subjek penelitian ini adalah kisi-kisi soal, soal,dan capaian daya serap dari soal uji coba I bahasa Indonesia di SMP kabupaten Wonosobotahun 2013. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik baca dan catat.Hasil penelitianini adalah sebagai berikut: (1) ketepatan indikator dalam kisi-kisi soal termasuk kategoritepat (86,4%) dengan rincian ketepatan indikator pada kategori sangat tepat sebesar 22%,tepat sebesar 68%, cukup tepat sebesar 8%, kurang tepat sebesar 2%, dan tidak tepatsebesar 0%; (2) keterwakilan setiap kompetensi dasar dalam kisi-kisi soal uji coba I bahasaIndonesia Kabupaten Wonosobo dalam kategori sangat terwakili (96,7%); (3) kesesuaianantara kisi-kisi soal dan soal uji coba I bahasa Indonesia Kabupaten Wonosobo tahun2013 termasuk kategori sesuai (86%); dan capaian daya serap untuk seluruh kompetensidasar dalam soal uji coba I bahasa Indonesia Kabupaten Wonosobo tahun 2013 termasukkategori rendah yaitu sebesar 56,89% dengan rincian capaian pada kategori sangat tinggisebesar 0%, tinggi sebesar 14%, sedang sebesar 24%, rendah sebesar 30%, dan sangatrendah sebesar 32%.Kata Kunci: telaah, kisi-kisi soal, soal, daya serap
KUALITAS SOAL DAN DAYA SERAP TES PENDALAMAN MATERI UN BAHASA INDONESIA SMP DI GUNUNGKIDUL Utami, Susanti Ayu; Nurgiyantoro, Burhan
Diksi Vol 24, No 1: DIKSI MARET 2016
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/diksi.v24i1.11499

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kesesuaian kisi-kisi soal dengansoal, rumusan indikator dengan kompetensi dasar, dan daya serap tiap kompetensi dasar.Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif-kuantitatif. Subjek penelitian inikisi-kisi soal, perangkat soal, dan daya serap terhadap soal tes. Teknik pengumpulan datayang digunakan dalam penelitian ini adalah dokumentasi, pembacaan, dan pencatatan. Hasilpenelitian ini menunjukkanbahwa soal Tes Pendalaman Materi Ujian Nasional BahasaIndonesia SMP di Kabupaten Gunungkidul memenuhi aspek materi, konstruksi, dan bahasa.Secara keseluruhan dalam penjabaran 50 indikator pada kisi-kisi soal hanya terdapat satusoal yang tidak sesuai rumusan indikator dengan kompetensi dasarnya. Daya serap untukpeserta didik SMP Negeri di Kabupaten Gunungkidul menunjukkan 23 kompetensi dasaryang masih di bawah capaian 75%, sedangkan peserta didik SMP swasta di KabupatenGunungkidul menunjukkan 29 kompetensidasar yang masih di bawah capaian 75%.Kata Kunci: kualitas soal, kisi-kisi, kompetensi dasar, daya serap
SASTRA ANAK: PERSOALAN GENRE Nurgiyantoro, Burhan
Jurnal Humaniora Vol 16, No 2 (2004)
Publisher : Faculty of Cultural Science Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1367.928 KB) | DOI: 10.22146/jh.811

Abstract

Sastra anak adalah sastra yang berbicara tentang apa saja yang menyangkut masalah kehidupan ini sehingga mampu memberikan informasi dan pemahaman yang lebih baik tentang kehidupan itu sendiri kepada anak . Buku anak, sastra anak, adalah buku yang menempatkan sudut pandang anak sebagai pusat penceritaan dan sekaligus juga menawarkan sebuah kebenaran yang signifikan yang diekspresikan ke dalam unsur-unsur yang layak dan bahasa yang mengesankan . Genre dapat dipahami sebagai suatu macam atau tipe kesastraan yang memiliki seperangkat karakteristik umum, atau kategori pengelompokan karya sastra yang biasanya berdasarkan style, bentuk, atau isi . Hal itu membawa konsekuensi pemahaman bahwa dalam sebuah genre sastra terdapat sejumlah elemen yang memiliki kesamaan sifat, dan elemenelemen itu menunjukkan perbedaan dengan elernen padagenre yang lain . Walau mengaku sering terjadi ketumpangtindihan, Lukens mengelompokkan genre sastra anak ke dalam enam macam, yaitu realisme, fiksi formula, fantasi, sastra tradisional, puisi, dan nonfiksi dengan masing-masing mempunyai beberapa jenis lagi .. Genre drama sengaja tidak dimasukkan karena menurutnya, drama baru lengkap setelah dipertunjukkan dan ditonton, dan bukan semata-mata urusan bahasa sastra . Genre sastra anak yang diusulkan cukup dibedakan ke dalam f ksi, non fiksi, puisi, serta buku bergambar dan komik dengan masing-masing memiliki subgenre . Dasar pembagiannya adalah bentuk'pengungkapan dan isi yang diungkapkan . Sebagaimana Lukens dan dengan argumentasi yang sama, genre drama sementara tidak dimasukkan dalam pembagian genre ini . Dilihat dari waktu kemunculannya, genre fiksi dan puisi dapat dibedakan ke dalam fiksi dan puisi tradisional serta fiksi dan puisi modern .
WAYANG DAN PENGEMBANGAN KARAKTER BANGSA Nurgiyantoro, Burhan
Jurnal Pendidikan Karakter No 1 (2011): Jurnal Pendidikan Karakter Edisi Oktober 2011, TH. I, No. 1
Publisher : LPPMP Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/jpk.v1i1.1314

Abstract

Abstrak: Wayang telah diakui UNESCO sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity (?Karya-karya Agung Lisan dan Tak Benda Warisan Manusia?). Wayang diakui sebagai karya agung karena wayang memunyai nilai tinggi bagi peradapan umat manusia. Wayang sarat nilai, baik yang tercermin pada karakter tokoh, cerita, maupun berbagai unsur lain yang mendukung. Semua itu baik dijadikan rujukan pengembangan karakter bangsa. Banyak orang tua yang menamai anaknya dengan nama tokoh wayang yang berkarakter. Setelah diakui sebagai karya agung, wayang harus dilestarikan eksistensinya, dan itu menjadi tugas seluruh bangsa di dunia khususnya bangsa Indonesia yang memiliki budaya wayang tersebut. Kita harus memercayai bahwa eksistensi bangsa Indonesia dewasa ini tidak lepas dari nilai-nilai luhur tradisional yang memiliki sejarah yang amat panjang dalam mengawal pertumbuhan dan kemajuan bangsa ini yang salah satunya adalah budaya wayang. Dalam era global dewasa ini keunggulan lokal amat dibutuhkan karena hal itulah yang membedakaannya dengan etnis dan bangsa lain. Kata Kunci: wayang, karakter wayang, pengembangan karakter bangsa
PENULIS DAN MAKNA PUISI ANAK DALAM HARIAN KOMPAS MINGGU* Nurgiyantoro, Burhan
Diksi Vol 13, No 2: DIKSI JULI 2006
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/diksi.v13i2.6475

Abstract

The view that poetry is one means of expressing various ideas, thoughts,and feelings applies on both adult poetry and poetry for children, which isnowadays increasingly written and published in, among others, magazines andnewspapers. Today such poetry is also written by children themselves. A study onsixty-five poems for children sampled from the Kompas daily Sunday editions of2005 has revealed that almost all of the poetry has been written by children, with3.1%, 78.5%, and 9.2% of them being, respectively, kindergarten, elementaryschool, and junior high school children (though another 9.2% of them areunidentifiable).The themes of the poems are quite various and all reflect the world ofchildren revealed through their point of view. However, there are certain recurringthemes: nature and the environment, parents and teachers, and animals, all ofwhich indicate children?s closeness to them. Other themes also found are, amongothers, sports and toys, others? good deed, religiosity, money saving, and honesty.Generally the tone is didactic though the child writer means to invite or urge to dosomething. It indicates the children?s innocence and directness of mind and way ofthinking. Their teachers at school or their parents at home often tell them directly todo something and they just re-express it in the same manner. In poetic aspects, anumber of the poems seem good enough but a part of the others still do not seem tobe already well processed, especially in terms of word choice.Keywords : children?s literature, children?s poetry, child writer, themes ofchildren?s poetry