Articles

Found 40 Documents
Search

PENENTUAN PRIORITAS PENGEMBANGAN RUANG TERBUKA HIJAU DI KOTA PONTIANAK MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) Erwin, Rinai Domenri; Hamid, Abdul; Nurhayati, -
Jurnal Teknik Sipil Vol 16, No 1 (2016): JURNAL TEKNIK SIPIL VOL 16 NO 1 EDISI JUNI 2016
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (347.478 KB) | DOI: 10.26418/jtsft.v16i1.24575

Abstract

Jumlah penduduk Kota Pontianak yang meningkat dari waktu ke waktu dapat memberikan implikasi terhadap pemanfaatan ruang kota, salah satunya keberadaan ruang terbuka hijau. Pertumbuhan Kota Pontianak yang akseleratif tentunya harus seiring dengan upaya pemeritah untuk menjadikan Kota Pontianak sebagai Kota Khatulistiwa Equator Clean and Green City. Luas RTH Kota Pontianak yang baru mencapai 19,8% belum sesuai dengan amanat Undang-Undang No. 26 Tahun 2007. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran konsep kebutuhan ruang terbuka hijau untuk menjaga keseimbangan di Kota Pontianak dengan 1) Mengetahui kecukupan ruang terbuka hijau berdasarkan luas wilayah dan jumlah penduduk. 2) Mendapatkan prioritas pengembangan ruang terbuka hijau di Kota Pontianak. Kecukupan RTH berdasarkan luas wilayah mengacu pada Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang yaitu 30% dari luas wilayah Kota Pontianak, dan kecukupan RTH berdasarkan jumlah penduduk mengacu pada Peraturan Menteri PU No. 05/PRT/M/2008 yaitu 20 m2/kapita. Prioritas pengembangan RTH di Kota Pontianak ditinjau berdasarkan fungsi RTH yaitu ekologi, sosial, ekonomi, dan estetika yang diimplikasikan pada bentuk umum RTH yang ada di Kota Pontianak yaitu bentuk kawasan, simpul, dan jalur. Kuisioner diberikan kepada 30 orang responden yang terdiri dari kalangan akademisi, swasta, pemerintah Kota Pontianak, pemerhati lingkungan, tokoh masyarakat, dan anggota DPRD Kota Pontianak. Analisis dilakukan dengan menggunakan metode AHP. Hasil analisis menunjukkan kebutuhan RTH Kota Pontianak berdasarkan luas wilayah adalah 32,35 km2, dan kebutuhan RTH berdasarkan jumlah penduduk sampai tahun 2027 adalah 15,67 km2. Prioritas RTH yang ingin dikembangkan berturut-turut adalah bentuk kawasan, jalur, dan simpul. Kata kunci: ruang terbuka hijau, Pontianak, AHP
PENGELOLAAN INFRASTRUKTUR IRIGASI MENGUNAKAN METODE ANALYTIC HIERARCHY PROCESS (AHP) DAERAH IRIGASI RINTAU KECAMATAN SEKAYAM KABUPATEN SANGGAU Sinabutar, Ucok Riswanto; Nurhayati, -; Marsudi, -
Jurnal Teknik Sipil Vol 16, No 2 (2016): JURNAL TEKNIK SIPIL VOL 16 NO 2 EDISI DESEMBER 2016
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtsft.v16i2.32558

Abstract

Kebutuhan air untuk sektor irigasi/pertanian sangat besar dan kian meningkat seiring dengan pertambahan penduduk, sementara ketersediaan air semakin berkurang, sehingga pemenuhan kebutuhan air dalam jumlah besar dengan kualitas air yang baik semakin sulit tercapai. Tujuan penelitian adalah menentuan prioritas pengelolaan infrastruktur irigasi pada Daerah Irigasi Rintau, Desa Bungkang, Kecamatan Sekayam, Kabupaten Sanggau menggunakan metode Analytic Hierarchy Process (AHP). Penilaian kriteria dan alternatif dilakukan oleh 45 orang responden yang terdiri dari berbagai unsur profesi yang ada di Kabupaten Sanggau. Kriteria yang digunakan adalah ketersediaan air, debit air dilapangan, finansial dan sumber daya manusia. Hasil penelitian menunjukkan prioritas pertama untuk kriteria adalah ketersediaan air yang mutlak/utama terpenuhi dalam penentuan prioritas pengelolaan infrastruktur irigasi dengan bobot 0,360. Kriteria debit air di lapangan kriteria kedua dengan bobot 0,230. Prioritas ketiga ada kriteria finansial dengan bobot 0,225. Prioritas terakhir adalah kriteria sumber daya manusia dengan bobot 0,185.Pengelolaan infrastruktur irigasi adalah prioritas pertama pada perbaikan bangunan bendung dengan nilai bobot global 0,273. Perbaikan bendung dinilai sangat penting untuk ditangani pemerintah. Prioritas kedua pada pemberdayaan petani dengan nilai bobot global 0,250. Prioritas ketiga pada perbaikan bangunan bagi dengan nilai bobot global 0,249 dan prioritas terakhir pada perbaikan saluran dengan nilai bobot global 0,228.Kata kunci: prioritas, irigasi, AHP, Rintau
STRATEGI PENGEMBANGAN UKM MELALUI PENINGKATAN MODAL KERJA DENGAN VARIABEL INTERVENING PENGEMBANGAN BISNIS PADA UKM MAKANAN KECIL DI KOTA SEMARANG Sukesti, Fatmasari; Nurhayati, -
PROSIDING SEMINAR NASIONAL & INTERNASIONAL 2015: Prosiding Bidang Sosial Ekonomi dan Psikologi The 2nd University Research Colloquium
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.965 KB)

Abstract

Usaha kecil dan menengah (UKM)  adalah pelaku bisnis yang bergerak pada berbagai bidang usaha, yang menyentuh kepentingan masyarakat. Peran UKM sangat pentingdalam pembangunan perekonomian di Indonesia, terutama dalam penyediaan tenaga kerja dan sumber penghasilan bagi kelompok masyarakat yang berpenghasilan rendah. UKMjuga membantu Pemerintah dalam upaya pemberantasan kemiskinan melalui pengembangan perekonomian sistem kerakyatan. Melihat peran dan potensinya, pengembangan UKM ini sangat penting guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus mendukung peningkatan perekonomian daerah. Penelitian ini bertujuan mengujipengaruh modal kerja dengan variabel intervening pengembangan bisnis terhadap peningkatan kinerja UKM di kota Semarang. Data yang digunakan adalah data primer dari hasil survey kuesioner pada 90 orang pemilik UKM makanan kecil sebagai sampel di kota Semarang. Dengan menggunakan metode regressi linear hasil penelitian menunjukkan bahwa modal kerja berpengaruh signifikan pada pengembangan bisnis UKM, pengembangan bisnis UKM berpengaruh signifikan pada kinerja UKM dan modal kerja berpengaruh tidak signifikan pada kinerja UKM. Keywords : modal kerja, pengembangan bisnis, kinerja, UKM
STUDI POTENSI AIR BERSIH DI PERBUKITAN BAWANG KECAMATAN KUBU KABUPATEN KUBU RAYA Diju, Alfred Yonathan; Herawati, Henny; Suyono, Rudi Sugiono; Nurhayati, -
Jurnal Teknik Sipil Vol 18, No 1 (2018): JURNAL TEKNIK SIPIL EDISI JUNI 2018
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (323.843 KB) | DOI: 10.26418/jtsft.v18i1.26404

Abstract

Masalah penyediaan air bersih saat ini menjadi permasalahan di kecamatan kubu khususnya di pedesaan sekitar pegungan bawang. Kebutuhan air bersih tiap tahun mengalami peningkatan sedangkan fasilitas pengelolaan air bersih masih sangat kurang ditambah lagi eksploitasi sumber air baku yang tidak memperhatikan kelestarian sumber air. Agar tidak terjadi kekurangan air, perlu menjaga dan melestarikan sumber air yang ada, efisiensi dalam penggunaan air dan pencarian alternative sumber baru. Dalam penelitian tesis ini, diidentifikasi beberapa sumber air baku yang potensial. Dari hasil data analisa prioritas dengan AHP didapat botot untuk Parung Batang Sungai 0,52 , Parung Cabang Runtuk 0,22 , Parung Air Terjun 0,18 , Parung Parit Godang 0,08. Standar kualitas mutu air yang dikerlurkan oleh lab untuk lokasi parung batang sungai memenuhi kualitas standar air bersih, sehingga berdasaran hasil penelitian merekomendasikan parung parit batang sungai sebagaia lokasi pengembangan insfrastruktur air bersih di pegunungan bawang kecamatan kubu. Kata kunci : Sumber Air Bersih dan AHP
ANALISA TINGKAT KEHILANGAN AIR PADA PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM (PDAM) TIRTA GALAHERANG KABUPATEN MEMPAWAH Wahyudi, Arief; Elvira, -; Nurhayati, -
Jurnal Teknik Sipil Vol 15, No 2 (2015): JURNAL TEKNIK SIPIL VOL 15 NO 2 EDISI DESEMBER 2015
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (175.529 KB) | DOI: 10.26418/jtsft.v15i2.25631

Abstract

PDAM Tirta Galaherang Kabupaten Mempawah memiliki upaya untuk meningkatkan sistem penyediaan air minum. Salah satu upaya yang dapat dilakukan yaitu dengan menurunkan kehilangan air secara fisik. Persentase kehilangan air (Non Revenue Water) saat ini dalam sistem penyediaan air minum Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Galaherang adalah sebesar 49,7%. Hal tersebut tentunya sudah di bawah standar toleransi angka kebocoran air bersih PDAM secara nasional menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 20/PRT/M/2006, yaitu kehilangan air maksimal 20%. Tentunya untuk mencapai target tersebut tidaklah mudah, karena pada kenyataannya analisis jumlah kebocoran fisik di sistem penyediaan air minum sulit untuk dilakukan. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisa, menyusun dan menetapkan strategi penurunan kehilangan air minum di sistem distribusi PDAM Tirta Galaherang Kabupaten Mempawah dengan melakukan analisis pada aspek teknis dengan menggunakan metode steptest yaitu teknik untuk mencari lokasi atau area dengan jumlah kehilangan air terbesar di dalam sebuah area. Cara ini lebih cepat dan efektif dalam menentukan area prioritas yang akan dicari titik bocornya. Steptest dilakukan dengan memasang flow meter portable pada pipa inlet untuk merekam aliran air. Kemudian valve di setiap ruas ditutup secara sistematik dan berurutan. Dengan metode ini, akan diketahui dengan pasti ruas mana yang terindikasi kehilangan airnya tertinggi. Hasil dari penelitian ini adalah menganalisis penurunan tingkat kebocoran dari 49,7% menjadi 43,61% dengan mencari kebocoran pada ruas zona yang telah ditentukan Kata kunci : Sistem distribusi, tingkat kebocoran pipa
OPTIMASI KETERSEDIAAN AIR BAKU UNTUK AIR BERSIH DI KABUPATEN SAMBAS Sulistyarso, Gembong Ary; Marsudi, -; Nurhayati, -
Jurnal Teknik Sipil Vol 15, No 2 (2015): JURNAL TEKNIK SIPIL VOL 15 NO 2 EDISI DESEMBER 2015
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (957.073 KB) | DOI: 10.26418/jtsft.v15i2.25727

Abstract

Penyediaan air bersih di Kabupaten Sambas saat ini menggunakan sumber air baku yang berasal dari air permukaan yaitu sungai yang terdapat di seputar wilayah Kota Sambas. Berdasarkan hasil laporan pengoperasian Instalasi Pengolahan Air (IPA) diperoleh data kualitas air sungai yang ada terus mangalami degradasi dan cenderung semakin bertambah buruk. Salah satu alternatif untuk menanggulangi hal tersebut adalah memanfaatkan sumber air lain yang berpotensi sebagai sumber air baku. Adapun sumber air yang ada di Kabupaten Sambas dan belum termanfaatkan adalah Sumber Air Riam Cagat dan Riam Pencarek. Studi ini untuk mengetahui ketersediaan air di Riam Cagat dan Riam Pencarek yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan air baku di Kabupaten Sambas dan mendapatkan sistem jaringan transmisi air baku dari ke 2 (dua) sumber tersebut ke Ibukota Kabupaten Sambas.Perhitungan kebutuhan air baku yang dihitung terdiri dari kebutuhan air domestik  yang berasal dari kegiatan rumah tangga dan non domestik yang berasal dari fasilitas umum dengan tahun proyeksi 25 tahun. Analisa ketersediaan air di kedua sumber menggunakan perhitungan debit andalan Q90 metode NRECA dan simulasi sistem transmisi air baku dari sumber air menuju PDAM Sambas menggunakan software Watercad 8.0. Hasil studi ini menunjukan bahwa ketersediaan air pada Sumber Air Riam Pencarek dalam bentuk debit andalan (Q90) sebesar 189,91 liter/detik dan Sumber Air Riam Cagat dalam bentuk debit andalan (Q90) sebesar 148,87 liter/detik. Ketersediaan air di Sumber Air Riam Pencarek dapat memenuhi kebutuhan air baku untuk 4 (empat) kecamatan di Kabupaten Sambas (Alternatif I), yaitu Kecamatan Galing, Kecamatan Teluk Keramat sebagian kecil, Kecamatan Sejangkung, dan Kecamatan Sambas dengan kebutuhan air baku sebesar 167,83 liter/detik. Sedangkan, ketersediaan air di Sumber Air Riam Pencarek dan Riam Cagat dapat memenuhi kebutuhan air baku untuk 7 (tujuh) kecamatan di Kabupaten Sambas (Alternatif II), yaitu Kecamatan Galing, Kecamatan Teluk Keramat, Kecamatan Tekarang, Kecamatan Jawai, Kecamatan Jawai Selatan, Kecamatan Sejangkung, dan Kecamatan Sambas dengan kebutuhan air baku sebesar 319,22 liter/detik. Sistem Jaringan Transmisi Air Baku Kabupaten Sambas Alternatif I memungkinkan untuk ditransmisikan dengan metode gravitasi, diameter dan jenis pipa yang dibutuhkan untuk menstransmisikan Air Baku yaitu Pipa Galvanis Iron (GI) diameter 400 mm, Pipa HDPE PN12,5 diameter 400. Pipa HDPE PN10 diameter 400 mm, dan pipa HDPE PN8 diameter 400 mm.Sistem Jaringan Transmisi Air Baku Kabupaten Sambas Alternatif II memungkinkan untuk ditransmisikan dengan metode gravitasi untuk Kecamatan Galing, Kecamatan Sejangkung, dan Kecamatan Sambas. Sedangkan untuk Kecamatan Teluk Keramat, Kecamatan Tekarang, Kecamatan Jawai Selatan, dan Kecamatan Jawai hanya sampai pada titik akhir Kecamatan Teluk Keramat saja. Diameter dan jenis pipa yang dibutuhkan untuk menstransmisikan air baku yaitu Pipa GI diameter 550 mm, pipa GI diameter 400 mm, pipa HDPE PN12,5 diameter 550 mm, pipa HDPE PN10 diameter 500 mm, pipa HDPE PN8 diameter 450 mm.Kata kunci : defisit air, kebutuhan air bersih, ketersediaan air, sumber air baku
MODEL GROUPING IPAL DENGAN SISTEM GRAVITASI PADA SKALA KAWASAN MENGGUNAKAN LOGIKA FUZZY Syamsudin, Anton; Hardiansyah, -; Nurhayati, -
Jurnal Teknik Sipil Vol 16, No 2 (2016): JURNAL TEKNIK SIPIL VOL 16 NO 2 EDISI DESEMBER 2016
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (192.295 KB) | DOI: 10.26418/jtsft.v16i2.34297

Abstract

Kota Pontianak sebagian besar penduduk nya belum memiliki IPAL yang dapat mengakibatkan tingginya tingkat pencemaran di Kota Pontianak. Kondisi ini dipengaruhi oleh biaya pembuatan IPAL yang mahal, keterbatasan lahan dan harga tanah yang mahal. Berdasarkan fakta tersebut, pemerintah kota perlu melakukan perencanaan lebih mendalam terhadap perencanaan sanitasi perkotaan khususnya air limbah. Grouping IPAL komunal sistem gravitasi merupakan salah satu konsep pemecahan masalah limbah dengan memperhatikan 7 parameter yaitu ketinggian rumah, jarak antara rumah, pola kavling tanah, ketinggian genangan air, jarak rumah ke batas tanah, perkerasan antara bangunan dan batas tanah serta jumlah keluarga dalam satu keluarga. Data primer yang terkumpul selanjutnya disimulasikan dan dihitung menggunakan metode Fuzzy Logic. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pola grouping IPAL yang dapat diterapkan pada objek penelitian yaitu dengan pola 4 rumah 1 IPAL, 5 rumah 1 IPAL dan 2 rumah 1 IPAL. Tingkat keberhasilan pembuatan grouping IPAL sangat di pengaruhi jarak rumah kebatas tanah, jenis perkerasan dan pola kavling yang teratur. Grouping IPAL lebih mudah untuk dilakukan dengan bangunan yang bersebelahan atau berdekatan. Kata kunci: IPAL komunal, grouping IPAL, sistem gravitasi, Fuzzy Logic
KAJIAN PENYEDIAAN AIR BERSIH UNTUK MASYARAKAT TEPIAN SUNGAI KAPUAS DI KOTA PONTIANAK Amri, Firza; nurhayati, -
Jurnal Teknik Sipil Vol 17, No 2 (2017): JURNAL TEKNIK SIPIL EDISI DESEMBER 2017
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (104.193 KB) | DOI: 10.26418/jtsft.v17i2.25633

Abstract

Pertambahan jumlah penduduk yang semakin meningkat secara eksponensial menyebabkan meningkatnya kebutuhan akan air bersih. Penyediaan air bersih merupakan masalah yang sering terjadi baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya. Krisis air bersih sering terjadi terutama di kota-kota besar termasuk di Indonesia. Kebutuhan akan air bersih merupakan sebuah masalah yang dihadapi oleh masyarakat tepian sungai. Masyarakat tepian sungai telah terbiasa menggunakan air sungai untuk mandi, cuci, kakus dan lain-lainnya bahkan membuang sampah dan limbah rumah tangga ke  sungai. Pendekatan yang dapat dilakukan untuk memecahkan masalah tersebut adalah dengan mencari sumber air bersih altenatif yang murah dan mudah didapat. Salah satu sumber air bersih yang sering terlupakan adalah air hujan. Volume air hujan yang tidak terpakai dapat dimanfaatkan dan digunakan sebagai pengganti air bersih. Penelitian ini dilakukan dengan mengkaji penyediaan air bersih untuk masyarakat tepian sungai, yaitu mengidentifikasi dan mengkaji karakteristik masyarakat terhadap penggunaan air bersih,  menganalisa kebutuhan air bersih dan bentuk penyediaan air bersih. Hasil penelitian bahwa jumlah penghuni dalam 1 kepala keluarga paling banyak di tepian sungai yaitu sekitar 4-5 orang adalah 47,7%. Penghasilan rata-rata ditepian sungai adalah Rp 1.500.000,00 sampai dengan Rp 2.000.000,00 adalah 43% dan banyak nya penggunaan air bersih yaitu 12-15  liter/hari sebesar 45,6%. Jumlah penghuni dan jumlah penghasilan berpengaruh secara signifikan dan simultan terhadap penggunaan air bersih sebesar 95,1%. Hal ini berarti bahwa jumlah penghuni dan jumlah penghasilan sangat berpengaruh terhadap penyediaan air bersih. Kebutuhan air bersih masyarakat di tepian sungai adalah 1.062,24 m3 curah hujan rata-rata tahunan dari periode tahun 2007-2017 sebesar 259 mm dengan luas atap 7.000 m2 maka volume penampungan untuk air hujan sebesar 1.087,80 m3. Kata kunci: Kebutuhan Air Bersih, Air Hujan, Tepian Sungai dan Karakteristik Masyarakat.
KAJIAN INFRASTRUKTUR PERDESAAN DI KECAMATAN JELIMPO KABUPATEN LANDAK Lubis, Sudirman H; Nurhayati, -; Herawati, Henny
Jurnal Teknik Sipil Vol 17, No 2 (2017): JURNAL TEKNIK SIPIL EDISI DESEMBER 2017
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (109.261 KB) | DOI: 10.26418/jtsft.v17i2.26877

Abstract

Sektor infrastruktur merupakan salah satu sektor vital untuk memacu pertumbuhan ekonomi di suatu wilayah dan merupakan sektor yang menghubungkan satu daerah ke daerah yang lainya. Pembangunan prasaranajalan, jembatan dan sarana air bersih sebagaisalahsatu sub sector infrastruktur, memiliki fungsi aksesibilitas untuk membuka daerah kurang berkembang dan fungsi mobilitas untuk memacu daerah yang telah berkembang.Tujuan dari penelitian ini yaitu mengkaji pembangunan infrastruktur perdesaan berupa jalan rabat beton, jembatan kayu dan sarana air bersih yang ada di Kecamatan Jelimpo Kabupaten Landak. Hasil penelitian menunjukkan mutu beton jalan rabat beton dengan K-158 mampu menahan beban. Jembatan kayu mampu menahan beban dengan nilai lendutan f = 0,0028 cm ≤ 0,03 cm. Kebutuhan air bersih masyarakat terpenuhi dengan jam pelayanan selama 6 jam, ditunjukkan oleh kapasitas bak penampung sebesar 48,29 m³ >jumlah kebutuhan sebesar 16,125 m³. Kata Kunci : infrastruktur, perdesaan, jalan rabat beton, jembatan, air bersih, Jelimpo
STRATEGI PENGEMBANGAN PENGANGKUTAN SAMPAH KOTA PONTIANAK Rizal, Ali Syah; Widodo, Slamet; Nurhayati, -
Jurnal Teknik Sipil Vol 17, No 2 (2017): JURNAL TEKNIK SIPIL EDISI DESEMBER 2017
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (330.963 KB) | DOI: 10.26418/jtsft.v17i2.23904

Abstract

Peningkatan jumlah penduduk Kota Pontianak berdampak pada peningkatan timbulan sampah. Permasalahan persampahan yang dihadapi diantaranya pengangkutan (waktu kerja yang tidak efisien, kapasitas kendaraan yang tidak memadai, rute penganggkutan yang tidak efisien, aksesbilitas yang kurang baik) sehingga mempengaruhi pelayanan pengangkutan persampahan. Berdasarkan kemampuan operasional sarana angkutan yang ada, total volume sampah Kota Pontianak yang terangkut ke TPA pada tahun 2016 sebanyak 1486 m3/hari (86.92%) dari total volume timbulan sampah sebesar 1.709,53 m3. Tujuan dari penelitian ini adalah; (1) mengidentifikasi dan menganalisa kondisi eksisting serta  faktor-faktor yang mempengaruhi pengangkutan sampah di Kota Pontianak; (2) menyusun strategi pengembangan pengangkutan sampah di Kota Pontianak. Pendekatan metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif melalui alat analisis; (1) aspek teknis menggunakan metode perhitungan HCS dan SCS sedangkan aspek ekonomi dengan metode perhitungan BCR; (2) strategi pengembangan dengan analisis SWOT. Hasil dari penelitian ini adalah; (1) kondisi eksisting pengangkutan sampah di Kota Pontianak secara teknis teridentifikasi menggunakan sistem HCS tipe III dengan volume timbulan sampah yang terangkut sebesar 777,20 m3/hari menggunakan armada fuso, armroll dan dump truck. Volume timbulan sampah yang terangkut dapat ditingkatkan jika menggunakan HCS dan SCS dengan mempertimbangkan ritase armada. Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan metode HCS, volume sampah yang terangkut sebesar 1.357,74 m3/hari dan dengan menggunakan metode SCS volume sampah yang terangkut 1.057,38 m3/hari. Secara ekonomi, pengangkutan persampahan di Kota Pontianak belum layak karena nilai BCR kurang dari 1 yaitu 0,90. Faktor yang mempengaruhi pengangkutan sampah di Kota Pontianak antara lain; (a) jarak tempuh armada pengangkutan; (b)  ritase armada pengangkutan; (c) pembiayaan (bahan bakar, upah pekerja dan pemeliharaan); (2) strategi pengembangan pengangkutan sampah di Kota Pontianak menggunakan strategi ST dengan meningkatkan pendapatan melalui retribusi persampahan di Kota Pontianak, meningkatkan jumlah sarana dan prasarana serta meningkatkan jumlah pekerja. Kata Kunci : Sampah, BCR, HCS, SCS, SWOT, Kota Pontianak, Strategi Pengembangan