. NURHAYATI
Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Jember

Published : 26 Documents
Articles

Found 26 Documents
Search

Effect of Leaf Extract Sirih (Piper betle L.) and on Future Soaking Time Freshness of Flowers Rose (Rosa sinensis L.) Wahyuni, Devi; Hayati, Rita; Nurhayati, .
Proceedings of The Annual International Conference, Syiah Kuala University - Life Sciences & Engineering Chapter Vol 5, No 2 (2015): Life Sciences
Publisher : Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (452.596 KB)

Abstract

Rose (Rosa sinensis L.) is one commodity florikulture important as a component in agribusiness systems and as an ornamental plant. Roses as an ornamental plant has two types, namely roses for the garden and roses for cut flowers. Cut flowers are marketed must have a good quality. One aspect of the desired quality is the life of a cut flower freshness long. Age freshness of cut flowers can be done by granting long soaking solution which is natural as a preservative. This study aims to get the right composition of the soaking solution between betel leaf extract, citric acid and sugar to prolong the freshness of roses. Results showed that betel leaf extract very significant effect on the diameter of the roses in full bloom at 2, 6, 8, and 10 DAT (Days After Treatment), 8 and 10 flower sepals DAT, the index rose florescence 8 and 10 DAT, the index kelayuan rose 6.8 and 10 DAT and organoleptic (color), real influence on organoleptic (texture) and had no significant effect on the diameter of flowers in full bloom 4 DAT, petal number 2, 4, 6, 8 and 10 DAT, sepals index flower 2, 4 and 6 DAT, and florescence index rose2, 4 and 6 DAT. The best treatment is found in the treatment of betel leaf extract 200 g / L of water. Soaking time no real effect on the diameter of roses in full bloom, the number of petals, sepals index, the index rose florescence, indexes wilted roses and organoleptic (color and texture). Soaking time is best found in the soaking time of 9 days. There is a significant interaction between treatment betel leaf extract and soaking time on indexes sepals on 10 DAT and florescence index rose at 4 DAT.
DAMPAK EKSPANSI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT TERHADAP SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT SEKITAR HUTAN DI DESA PASAK PIANG KECAMATAN SUNGAI AMBAWANG KABUPATEN KUBU RAYA Nurhayati, .; Roslinda, Emi; Rifanjani, Slamet
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 6, No 4 (2018): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (724.767 KB)

Abstract

The conversion of forest land functions is the change in the principal function of the forest into non-forest areas such as settlements, agricultural areas and plantations. This happened in Pasak Piang Village, the land turned into an oil palm plantation. This condition will certainly have an impact on the socio-economic community. This research aims to examine the socio-economic changes of the communities surrounding the forest before and after the establishment of an oil palm plantation company.This study uses descriptive analysis of income, production costs, equipment depreciation costs and calculating health costs (medical expenses). The results of the study indicate that the entry of oil palm companies brought socio-economic changes to the hamlets that were close to the company and far from the company. The hamlets close to the company changed after the entry of oil palm companies, this change was seen in land ownership and income, where before expansion the land was 48.96 Ha after expansion of 37.96 Ha with changes in income of Rp.1,202,932,000/year decreasing to Rp.1,176,332,000/year on.Hamlets that are far from the company do not experience changes in land area but experience an increase in income, this is because their land is not polluted due to palm oil waste so that the plants they plant do not die, before and after the land area remains the same 56.91 Ha.Previous income was Rp. 1,232,218,000/ year after increasing to Rp. 1,308,694,000/year.In the social conditions the impact caused by the entry of oil palm companies is health where the costs of the community spent this year Rp.3,647,500/year with a history of diseases such as fever, cough, skin disease suspected of the impact of factory waste.Keyword: Economy, Income, Land Function, Oil Palm, Social.
EKSTRAKSI PATI RESISTEN DARI TIGA VARIETAS KENTANG LOKAL YANG BERPOTENSI SEBAGAI KANDIDAT PREBIOTIK Sari, Fitrah Kurnia; Nurhayati, .; Djumarti, .
Berkala Ilmiah Pertanian Vol 1, No 3: FEBRUARI
Publisher : Berkala Ilmiah Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (215.498 KB)

Abstract

[ENGLISH] Potato native starch (PNS) can pass trough the gastrointestinal digestive tract without undergoing substantial breakdown so they are classified as resistant starch type II (RS2). The research were to extract the PNS by using water and 10% etanol solution (1:3) and evaluated the probiotic properties. The starch extraction was conducted at room temperature with three times. The result showed that the arka variety produced highest starch than rendang or granola variety. Extraction yield of arka with aquades has highest yield approximately 10,49 ± 0,03%.The kind of solvent and potato varieties affect significant different in standart 5% of RS content. The starch from granola variety of water solvent extraction (K3P1) was the highest levels of RS2 aproximately 56,37 ± 0,24%. The RS2 arka’s potato of water solvent (K2P1) was more resistant to gastric acid hydrolysis than the other. K2P1 was highest to increase survival of L.acidophillus than K1P1 and K3P1. In addition, K2P1 suppressed survival of EPEC and Salmonella Typhimurium. It can be concluded that RS2 extracted from arka’s potato of water solven (K2P1) was better prebiotics properties than RS2 extracted from rendang’s potato of water solven (K1P1) and granola’s potato of water solven (K3P1) Keywords: Potato; Resistant starch type II (RS2); Water–ethanol extraction; Prebiotic properties. [INDONESIAN] Pati kentang alami yang mampu melewati saluran pencernaan tanpa mengalami pemecahan akibat struktur granula pati yang sedimikian rupa sehingga diklasifikasikan sebagai pati resisten tipe II (RS2). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengekstrak pati kentang alami dengan menggunakan pelarut air dan pelarut etanol 10% pada perbandingan 1:3 dan mengevaluasi sifat-sifat prebiotiknya. Ekstraksi pati dilakukan pada suhu ruang dengan tiga kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas arka menghasilkan pati terekstrak lebih tinggi daripada varietas granola. Yield ekstraksi dari varietas arka dengan pelarut air menghasilkan yield tertinggi sekitar 10,49 ± 0,03%. Jenis pelarut dan varietas kentang secara nyata mempengaruhi kadar pati resisten. Pati kentang varietas granola yang diekstrak dengan pelarut air (K3P1) menghasilkan kadar RS2 tertinggi sebesar 56,37 ± 0,24%. RS2 dari kentang varietas arka dengan pelarut air (K2P1) bersifat lebih resisten terhadap hidrolisis asam lambung daripada varietas granola. K2P1 tertinggi dalam meningkatkan survival L . acidophilus daripada K1P1 dan K3P1. K2P1 juga mampu menekan survival Enteropatogenik Escherichia coli (EPEC) dan Salmonella Typhimurium. Hal ini dapat disimpulkan bahwa RS2 yang diekstrak dari kentang varietas arka dengan menggunakan pelarut air (K2P1) memiliki sifat-sifat pre-biotik lebih baik dari pada RS2 yang diekstrak dari kentang varietas rendang (K1P1) dan varietas granola (K3P1) Kata Kunci: Kentang; Pati resisten tipe 2; Ekstraksi Air-Etanol; Sifat Prebiotik How to citate: Sari FK, Nurhayati, Djumarti. 2013. Ekstraksi pati resisten dari tiga varietas kentang lokal yang berpotensi sebagai kandidat prebiotik. Berkala Ilmiah Pertanian 1(2): 38-42.
OPTIMALISASI KINERJA ORGANISASI SEKOLAH MELALUI MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH PADA 5 SD DALAM GUGUS GAROT Nurhayati, .
Jurnal Pencerahan Vol 7, No 2 (2013): September 2013
Publisher : Majelis Pendidikan Daerah (MPD) Aceh dan Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.149 KB) | DOI: 10.13170/jp.7.2.2038

Abstract

Optimalisasi kinerja sekolah melalui MBS merupakan upaya untuk meningkatkan efesiensi dan efektivitas pengelolaan sekolah dengan memanfaatkan segenap sumber daya yang ada dalam rangka meningkatkan kinerja warga sekolah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui program, pelaksanaan, dan hambatan kepala sekolah dalam pengelolaan organisasi sekolah dalam gugus Garot. Penelitian ini  menggunakan metode deskriptif, pendekatan kualitatif, teknik pengumpulan data observasi, wawancara dan studi dokumen, subjek penelitian kepala sekolah, guru, dan siswa, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Program pembinaan kinerja organisasi sekolah  pada sekolah dalam Gugus Garot,  sudah  memiliki RKAS, dan KTSP, walaupun belum memenuhi sebagaimana yang diharapkan oleh MBS (2) Pelaksanaan optimalisasi kinerja organisasi sekolah sudah berjalan dengan baik pada sekolah dalam Gugus Garot, walaupun memanfaatkan sumber daya secara optimal malalui pengarahan, pemimpinan, pemotifasian dan pembinaan personil sesuai dengan bidangnya masing- masing. (3) Hambatan-hambatan yang dialami kepala sekolah dalam mengoptimalisasi kinerja sekolah antara lain: rendahnya partisipasi masyarakat terhadap sekolah, rendahnya kemampuan personil, kepemimpinan dan manajemen sekolah, hal ini disebabkan rendahnya intensitas kegiatan pelatihan kepemimpinan dan manajemen yang dilakukan  pihak terkait
MALAY CULTURAL LANDSCAPE STUDY TO IMPROVE THE IDENTITY OF MEDAN CITY Nasution, Hafni Dewi; Nurhayati, .; Munandar, Aris
Jurnal Lanskap Indonesia Vol. 10 No. 2 (2018): Jurnal Lanskap Indonesia
Publisher : http://arl.faperta.ipb.ac.id/

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (742.624 KB) | DOI: 10.29244/jli.2018.10.2.71-80

Abstract

Medan city which is now inhabited by multi-ethnic society provide cultural influence on indigenous people and led to demands that greater space requirements and varied, original identity that reflects the value of a city is difficult to identify. These conditions pose a threat to the city of Medan to be getting away from the Malay identity as a civilized nation. This study aims to identify the philosophy and character of the Malay cultural landscape in the city of Medan, analyze relevant landscape value and provide conservation strategies in the cultural landscape in the city of Medan. The research location is the Medan city field to historical research methods and Analytical Hierarchy Process (AHP). The analysis shows the highest value is in the component historic area (0.238). Furthermore Landmark (0.159), the Culture activity (0.115), Public Space (0.083), Lane Circulation (0.074), RTH (0.075), landuse (0,066), Time series (0.066), Borders (0.067), Architecture (0.057) . Preservation strategy is the establishment of district Maimun Palace, Taman Sri deli and Al Mahsun become a cultural heritage area inseparable.
Preliminary study on the adsorption of lead (II) ions from aqueous solution with breadfruid’s bark (Artocarpus altilis) by un-modified and modified with citric acid Mairiza, Lia; Zaki, Muhammad; Nurhayati, .; Juliyanti, Evi
Proceedings of The Annual International Conference, Syiah Kuala University - Life Sciences & Engineering Chapter Vol 1, No 2 (2011): Engineering
Publisher : Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (104.056 KB)

Abstract

The adsorption of lead(II) ions from aqueous solution with breadfruit’s bark by unmodified and modified with citric acid was investigated. The results by using adsorbent dosage 20 g/L indicated the   adsorption efficiency was up to 99%, and the best result is obtained about 99,963% when adsorbate is  conducted with modified bark for 90 minutes. The adsorption behavior by modified bark followed the Langmuir isotherm model and the Freundlich isotherm model for modified bark. The maximum adsorption capacity of lead(II) ions are 34,98 mg adsorbate/g adsorbent for unmodified bark when contact time is 60             minutes. The influence of contact time showed that adsorption reached the equilibrium rapidly. A batch adsorption model followed the pseudo second order kinetic.
PENERIMAAN KONSUMEN TERHADAP CITA RASA COOKIES PISANG OWAK (Musa paradisiaca L) Zulhera, .; Sufiat, Suryati; Nurhayati, .
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Kesejahteraan Keluarga Vol 2, No 2 (2017): MEI
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Kesejahteraan Keluarga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cookies merupakan penganan yang rasanya manis, berstektur renyah yang terbuat dari tepung terigu protein rendah, gula, lemak dan telur. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui resep standar pembuatan cookies dengan menggunakan pisang owak dan mengetahui tingkat penerimaan konsumen terhadap cookies dengan penambahan pisang owak (Musa paradiaca L). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dengan metode eksperimen. Penelitian ini dilakukan 3 kali perlakuan dengan 2 kali pengulangan. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu uji pengamatan (Sensory Evaluation) yang dilakukan oleh 6 orang narasumber/ panelis terlatih yaitu dosen Prodi PKK FKIP Unsyiah. Selanjutnya uji penerimaan (Acceptability Test) dilakukan oleh 30 orang panelis konsumen yang terdiri dari  20 mahasiswa FKIP Unsyiah. Teknik analisis data menggunakan LSD (Least Significant Different) dengan taraf signifikan 0,05. Berdasarkan hasil analisis data oleh narasumber terhadap resep kontrol cookies menunjukkan bahwa, penilaian tertinggi adalah pada perlakuan ke II dilihat dari segi warna memiliki warna kuning keemasan, aroma harum, tekstur renyah dan dari segi rasa manis. Dari hasil uji pengamatan oleh narasumber terhadap cookies dengan penambahan pisang owak menunjukkan bahwa, penilaian tertinggi adalah pada perlakuan pertama  Zc001 50 gr (20%). Dari hasil uji penerimaan panelis konsumen terhadap cookies dengan penambahan pisang owak menunjukkan bahwa, penilaian tertinggi adalah pada perlakuan pertama Zc00I, ditinjau dari warna kuning keemasan, aroma harum, tekstur renyah dan rasa manis, untuk uji hipotesis dapat disimpulkan bahwa, terdapat perbedaan tingkat penerimaan konsumen terhadap karakteristik organoleptik cookies pisang owak dilihat dari warna kuning keemasan, aroma harum, tekstur renyah dan rasa manis. Dengan demikian  hipotesis alternatif diterima (H1). Diharapkan masyarakat dapat mengembangkan penganan dari pisang owak lebih bervariasi.
OH-5 TATA LAKSANA KASUS GIGITAN TERPADU (TAKGIT) SEBAGAI MODEL IMPLEMENTASI ONE HEALTH DALAM OPTIMALISASI PENGENDALIAN RABIES DI BALI Nurhayati, .; Suseno, Pebi Purwo; Husein, Wahid Fakhri; Jatikusumah, Andri; Gozali, Ahmad; Saputro, Ratmoko Eko; Sawitri, Elly; SukernI, I Made; Pujana, I Wayan; Masa Tenaya, I Wayan; Tjatur Rasa, Fadjar Sumping
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (486.179 KB)

Abstract

PENDAHULUANIndonesia merupakan salah satu negara endemis rabies. Salah satu provinsi dengan jumlah kasus rabies yang tinggi adalah Provinsi Bali. Sejak November 2008 Provinsi Bali dinyatakan tertular rabies dengan jumlah manusia meninggal karena rabies dari tahun 2008 - 2017 mencapai 170 orang, sedangkan Kasus positif rabies HPR berjumlah 1.716 kasus.Beberapa upaya pengendalian telah dilakukan untuk menekan kejadian kasus rabies. Salah satu program yang cukup efektif adalah program pengendalian yang dilaksanakan secara terpadu dan lintas sektor yang sering disebut Tata laksana Kasus Gigitan Terpadu (TAKGIT). TAKGIT merupakan salah satu implementasi pendekatan ?ONE Health? dan merupakan panduan bagi petugas lapangan dalam merespon dan menindaklanjuti kejadian kasus gigitan hewan diduga rabies yang dikoordinasikan lintas sektor (kesehatan manusia dan kesehatan hewan). Tujuan penulisan ini adalah untuk menggambarkan peran TAKGIT dalam merespon kasus gigitan diduga hewan pembawa rabies (HPR) dan kontribusinya menurunkan kasus pada manusia.
KAJIAN PEMBENTUK KARAKTERISTIK LANSKAP MELAYU PADA LANSKAP KOTA PEKANBARU, RIAU Artha, M. Arthum; Nurhayati, .; Munandar, Aris
Jurnal Lanskap Indonesia Vol. 5 No. 2 (2013): Jurnal Lanskap Indonesia
Publisher : http://arl.faperta.ipb.ac.id/

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (541.331 KB) | DOI: 10.29244/jli.2013.5.2.7-12

Abstract

ABSTRACTThe identity of a city demonstrates interaction between human and landscape that dominated by manmade environment with high density of population and particular background of social and culture as well as the activity and production process not rely on nature. This identity can increase and corroborate the value of city. Pekanbaru is the capital city of Riau Province that located in Sumatera Island with Malay character. One of the Riau Province and Pekanbaru government visions is to be the central of Malay culture in South East Asia in 2020. The aims of this research were to examine trend of the character of Malay landscape, to identify the existing of landscape elements which belong to Malay character, to analyze the main elements of Malay landscape character and to propose protection of the Malay characteristics and application of each element for development of Pekanbaru City. Methods of this research were collecting information and data of the history of Malay in Pekanbaru through indeep interview, field observation, literature study and Analytical Hierarchy Process (AHP). The results of this study were identification of Malay landscape characteristics in Pekanbaru City mainly based on period of Siak Kingdom at Senapelan (1762-1783) and Province at Negeri Pekanbaru (1891-1916) the existence of main elements that shaping Malay landscape character, AHP decision result as well as application and for guidance in developing urban landscape through determination, protection and development.Keywords: Malay landscape, landscape characteristic , historical urban landscape, Pekanbaru city
STANDARISASI RESEP CIMPE SEBAGAI PENGANAN TRADISIONAL ACEH TENGGARA Nurhayati, .; Hamid, Yuli Heirina; Indani, .
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Kesejahteraan Keluarga Vol 2, No 2 (2017): MEI
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Kesejahteraan Keluarga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aceh Tenggara merupakan salah satu kabupaten yang ada di provinsi Aceh.   Mayoritas masyarakat bekerja sebagai petani dan peternak.  Cimpe merupakan penganan tradisional yang sering dikonsumsi oleh petani saat bekerja di sawah. Cimpe sudah jarang dikonsumsi oleh penduduk Aceh Tenggara karena berubahnya pola konsumsi seiring dengan perkembangan zaman dan cimpe belum memiliki resep  standar.  Penelitian ini bertujuan (1) menstandarisasikan resep cimpe. (2) mengetahui karakteristik organoleptik (warna, aroma, tekstur, dan rasa) cimpe. (3) mengetahui  tingkat kesukaan  konsumen terhadap cita rasa cimpe. (4) menghitung kalori cimpe. Metode dalam penelitian ini adalah metode eksperimen dengan pendekatan kuantitatif.  Data-data dari uji pengamatan dianalisis dengan cara menentukan nilai rata-rata (mean) dari total yang diperoleh dari narasumber.  Data-data dari uji kesukaan dianalisis menggunakan analisis varian (anava) satu jalur pada cimpe yang diperoleh dari narasumber dan panelis konsumen mahasiswa suku Alas,  Gayo dan Batak.  Teknik Pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu uji pengamatan (Sensory Evaluation) yang dilakukan oleh 5 orang  narasumber, uji tingkat kesukaan (preferensi) yang di uji cobakan kepada 30 orang panelis konsumen.  Resep standar cimpe adalah tepung beras 150 gram, gula merah 200 gram, kelapa parut 200 gram, dan garam ¼ sdt.  Cimpe hasil standarisasi perlakuan ke-2 (Cp2) diterima oleh narasumber dan panelis konsumen, berdasarkan nilai rata-rata yang memperoleh nilai tertinggi perlakuan Cp2 dibandingkan cimpe perlakuan ke-1 (Cp1) karena berwarna coklat, aroma cukup harum, tekstur tidak terlalu keras dan rasanya manis.  Jumlah kalori untuk satu resep adalah protein 18,5 gram, lemak 30,75 gram, karbohidrat 306 gram, dan total kalori cimpe adalah 1574.75 kal.  Kalori cimpe perpotong adalah protein 0,93 gram, lemak 1,54 gram, karbohidrat 15,3 gram, dan total kalori 78,73 kal. Hipotesis penelitian H1 diterima.