Nurdjaman Nurimaba
Bagian Ilmu Penyakit Saraf, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung

Published : 3 Documents
Articles

Found 3 Documents
Search

KORELASI PENINGKATAN KADAR NEURON SPESIFIC ENOLASE DENGAN DERAJAT KEPARAHAN DAN LUARAN FUNGSIONAL PASIEN STROKE INFARK ATEROTROMBOTIK AKUT Wardiyani, Neti Sri; Nurimaba, Nurdjaman; Kurniani, Nani
Majalah Kedokteran Bandung Vol 42, No 2
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (444.213 KB)

Abstract

Pada stroke iskemik terjadi kerusakan neuronal serta penurunan glikolisis aerob akibat menurunnya kadar glukosa. Neuron specific enolase (NSE) yang terdapat pada jaringan neuronal banyak tidak terpakai sehingga kadarnya meningkat. Pada kerusakan neuronal serta gangguan membran sel, sawar darah otak terganggu sehingga NSE berdifusi kedalam ekstraselular dan cairan serebrospinal. Peningkatan kadar NSE serum juga berhubungan dengan volume infark dan luasnya kerusakan otak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kadar NSE pasien stroke infark aterotrombotik akut, serta korelasinya dengan derajat keparahan stroke dan luaran fungsional. Rancangan penelitian adalah observational analytic dengan pendekatan kohort. Pasien stroke infark aterotrombotik fase akut sebagai kasus, sedangkan kontrolnya orang sehat. Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung, mulai Februari sampai Agustus 2008. Pemeriksaan kadar NSE serum dan penilaian tingkat keparahan stroke berdasarkan National Institutes of Health Stroke Scale (NIHSS) dilakukan saat masuk rumah sakit, sedangkan luarannya dinilai pada hari ketujuh dengan indeks Barthel. Analisis yang digunakan adalah analisis bivariat dengan uji statistik Mann-Whitney dan uji Pearson. Dari 43 kasus dan 43 kontrol, didapatkan perbedaan kadar NSE serum yang bermakna rata-rata=11,41 [5,07] ng/mL berbanding 8,93 [3,03] ng/mL (p=0,019). Terdapat korelasi yang bermakna peningkatan kadar NSE serum dengan derajat keparahan yang dinilai berdasarkan skala NIHSS (p=0,024), juga dengan luaran fungsional (p=0,012). Nilai akurasi paling tinggi terdapat pada kadar NSE serum 12ng/mL, dengan sensitivitas 42% dan spesifisitas 84%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah kadar NSE serum berkolerasi dengan derajat keparahan serta keluaran fungsional penderita stroke infark. [MKB. 2010;42(2):62-8].Kata kunci: Kadar neuron specific enolase,stroke infark, NIHSS, Indeks BarthelCorrelation of Serum Neuron Specific Enolase with Severity and Functional Outcome in Acute Atherothrombotic Infarction Stroke PatientsNeuronal damage and decreasing aerobic glicolysis process in ischaemic stroke are caused by lowering level of blood glucose. The amount of neuronal intrasitoplasmic glicolytic enolase enzyme, also known as neuron specific enolase, increases in blood circulation because it is not used anymore in damage neuron. So the mechanism failure in blood-brain barrier, as result of neuronal and cell membrane damage, causes NSE diffusion to extracellular and cerebrospinal fluid, then NSE level increases in blood serum and cerebrospinal fluid in acute cerebral infarction. Elevating NSE level is also connected with infarct volume and the extent of brain damage. The aim of this study was to evaluate connection between upgrading NSE serum level in acute atherothrombotic-stroke infarction patients, level of stroke incompatibility, and functional outcome. The method of study was observational analytic with kohort study. Subjects of study were divided into case group consisted of acute atherothrombotic-stroke infarction patients and control group consisted the healthy person. The data was collected in Hasan Sadikin Hospital between February to August 2008. Evaluating patients was performed to get descriptions on NSE serum level, level stroke incompability measuring by NIHSS scoring at the first time entering the hospital, and Barthel index scoring at seventh day of treatment. This study was analyzed by bivariat analysis using Mann Whitney statistic test and Pearson correlation test. There were 43 patients in each group. There was a significantly difference in NSE serum level on case group (mean was 11.41 [5.07] ng/mL) in comparison to those on control group (mean was 8.93 [3.03] ng/mL), p=0.019 . There was a significantly correlation between raising NSE serum level on case group and level of stroke incompatibility measuring by NIHSS scoring and also with functional outcome according to Barthel index scoring. The highest accuration value of NSE serum level was 12 ng/mL with 42% sensitivity and 84% specificity. The conclusion was neuron specific enolase serum level has correlation with severity and functional outcome in acute atherothrombotic infarction stroke patients. [MKB. 2010;42(2):62-8].Key words: Neuron specific enolase serum level, stroke infarction, NIHSS, Barthel index DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v42n2.218
HUBUNGAN DURASI MENGETIK KOMPUTER DAN POSISI MENGETIK KOMPUTER DENGAN GEJALA CARPAL TUNNEL SYNDROME (CTS) PADA KARYAWAN UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG Aripin, Triana Nur; Rasjad, Adjat Sedjati; Nurimaba, Nurdjaman; Djojosugito, M. Ahmad; Irasanti, Siska Nia
Jurnal Integrasi Kesehatan & Sains Vol 1, No 2 (2019): Juli 2019
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiks.v1i2.4352

Abstract

Penggunaan komputer dalam bekerja  meningkat pesat baik dalam bidang industri maupun bidang  pekerjaan lainnya. Penggunaan komputer dalam bekerja meliputi posisi mengetik dan durasi penggunaan komputer. Aktivitas mengetik dalam durasi yang lama dan posisi yang salah saat mengetik dapat berisiko terkena penyakit pada jari tangan dan pergelangan tangan. Tujuan penelitian ini mengetahui hubungan durasi dan posisi mengetik komputer dengan gejala carpal tunnel syndrome (CTS) pada karyawan Universitas Islam Bandung. Penelitian ini menggunakan pendekatan potong lintang. Populasi dalam penelitian ini adalah karyawan Universitas Islam Bandung. Instrumen penelitian yang digunakan berupa kuesioner. Responden penelitian berjumlah 54 orang yang sudah memenuhi kriteria inklusi. Data dianalisis dengan uji chi-square dan Uji Eksak Fisher. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara durasi mengetik komputer dan gejala carpal tunnel syndrome (p=0,75), terdapat hubungan yang signifikan antara posisi mengetik komputer (p=0,07) dan gejala carpal tunnel syndrome. Dari 54  responden, 32 responden memiliki gejala carpal tunnel syndrome.
HUBUNGAN MASA KERJA DENGAN KELUHAN CARPAL TUNNEL SYNDROME PADA KARYAWAN PENGGUNA KOMPUTER DI BANK BJB CABANG SUBANG Nafasa, Kintan; Yuniarti, Yuniarti; Nurimaba, Nurdjaman; Tresnasari, Cice; Wagiono, Caecielia
Jurnal Integrasi Kesehatan & Sains Vol 1, No 1 (2019): Januari 2019
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiks.v1i1.4319

Abstract

Insidensi kejadian carpal tunnel syndrome (CTS) 3,8% di dunia dan insidensi lebih tinggi pada individu yang pekerjaannya memerlukan fleksi atau ekstensi jari berulang dalam waktu yang lama seperti karyawan bank. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara masa kerja dan keluhan CTS pada karyawan Bank BJB Cabang Subang yang bekerja menggunakan komputer. Penelitian ini pendekatan potong lintang dan instrumen pengumpulan data menggunakan Boston Carpal Tunnel Syndrome Questionnaire. Sampel adalah 54 karyawan Bank BJB Cabang Subang yang menggunakan komputer. Kriteria inklusi adalah perempuan dan laki-laki berusia ?24 tahun, menggunakan komputer pada saat bekerja, serta tidak memiliki riwayat diabetes melitus dan artritis reumatoid. Kriteria eksklusi, yaitu memiliki masa kerja kurang dari satu tahun, memiliki riwayat trauma tangan atau pergelangan tangan, sedang hamil, atau telah menopause.  Analisis data dilakukan dengan Uji Eksak Fisher dan didapatkan p=0,000 (<0,05) terdapat hubungan signifikan masa kerja dengan keluhan CTS pada karyawan Bank BJB Cabang Subang yang menggunakan komputer. Kelompok yang memiliki masa kerja ?4 tahun memiliki proporsi CTS lebih besar dibanding dengan kelompok yang memiliki masa kerja <4 tahun. Semakin lama masa kerja maka semakin tinggi risiko CTS  karena terjadi gerakan berulang pada jari tangan secara terus-menerus dalam jangka waktu yang lama sehingga dapat menyebabkan kompresi pada jaringan sekitar carpal tunnel. RELATIONSHIP BETWEEN WORK PERIOD TO COMPLAINTS OF CARPAL TUNNEL SYNDROME ON EMPLOYEES AT BANK BJB SUBANG WORKING USING COMPUTERIncidence rates of carpal tunnel syndrome (CTS) 3.8% in the world. CTS incidence rates are higher in individuals whose jobs require long-term flexion or extension of fingers, such as bank employees. This study aimed to analyze the relationship between work period to complaints of CTS on employees at Bank BJB Subang working using computer. This research cross sectional approach and data collection using Boston Carpal Tunnel Syndrome Questionnaire. The target population of this research was all employees of Bank BJB Subang, while its accessible population was all employees of Bank BJB Subang that use computer. Samples were 54 employees at Bank BJB Subang is working on computer. Inclusion criteria was women and men aged ?24 years who used the computer at work and had no history of diabetes mellitus and rheumatoid arthritis, while the exclusion criteria are those who has work period less than a year, history of hand or wrist injury, pregnant or menopause. Technique of data processing and data analysis conducted by statistical test Fisher?s exact test meaningful results is p-value = 0.000 (<0.05) thus there was a significant relationship between work period of complaints CTS on Employees at Bank BJB Subang Working Using Computer, which in the group who had working period more than four years had a higher proportion of CTS than the group with the working period less than four years. Risk of CTS will be higher for those who is working for a long period, because of repetitive movements of the fingers continuously for long periods of time can cause compression on the tissue around the carpal tunnel.