Articles

Found 15 Documents
Search

KEPADATAN DAN TINGKAT INFEKSI SERKARIA SCHISTOSOMA JAPONICUM PADA KEONG ONCOMELANIA HUPENSIS LINDOENSIS DENGAN KASUS SCHISTOSOMIASIS DI DAERAH ENDEMIS SCHISTOSOMIASIS, SULAWESI TENGAH Nurwidayati, Anis; Widjaja, Junus; Samarang, Samarang; Nurjana, Made Agus; Tolistiawaty, Intan; PFS, Phetisya
Buletin Penelitian Kesehatan Vol 46 No 1 (2018)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.076 KB) | DOI: 10.22435/bpk.v46i1.59

Abstract

Abstract Schistosomiasis in Indonesia only found in Napu and Bada Highlands, Poso district and Lindu Highlands in Sigi district, Central Sulawesi Province. Schistosomiasis in Indonesia caused by Schistosoma japonicum and Oncomelania hupensis lindoensis is the intermediate snail host. The mapping of snail foci areas in 2017 showed that there was a significant change in the spread of the snail's foci. This paper aimed to describe the density and infection rate of S. japonicum cercariae in the snail host in the endemic areas of schistosomiasis in Central Sulawesi Province. The mean O.hupensis lindoensis snail density in Napu ranged from 0.9 to 6.6/m2, with mean rates of cercariae infections ranging from 0.4% to 21.4%. The snail density average in Lindu ranging from 3/m2 to 69,1/m2, with 4.4%-72.9% of cercariae infections. In bada the snail density ranged from 0.1 to 4.9/m2, with mean rates of cercariae infections ranging from 0% to 14.9%. Bivariate analysis showed there was no correlation between snail density and cercariae infection rate with schistosomiasis case (p value> 0.05). Keywords : Schistosomiasis, density, infection rate, Oncomelania hupensis lindoensis, Central Sulawesi Abstrak Schistosomiasis di Indonesia hanya ditemukan di Propinsi Sulawesi Tengah, yaitu Dataran Tinggi Napu dan Dataran Tinggi Bada, Kabupaten Poso serta Dataran Tinggi Lindu, Kabupaten Sigi. Schistosomiasis di Indonesia disebabkan oleh Schistosoma japonicum dengan hospes perantara keong Oncomelania hupensis lindoensis. Pemetaan daerah fokus pada tahun 2017 menunjukkan bahwa terdapat perubahan yang signifikan dalam penyebaran fokus keong. Tulisan ini bertujuan untuk menggambarkan kepadatan dan infection rate serkaria S.japonicum pada keong perantara schistosomiasis di wilayah endemis schistosomiasis di Provinsi Sulawesi Tengah. Rerata kepadatan keong O.hupensis lindoensis di Napu berkisar dari 0,9 ? 6,6/m2, dengan rerata tingkat infeksi serkaria berkisar antara 0,4% sampai 21,4%, di Lindu kepadatan keong berkisar antara 3/m2 sampai 69,1/m2, dengan tingkat infeksi serkaria 4,4%¬72,9%, dan di Bada kepadatan keong berkisar antara 0,1 ? 4,9/m2, dengan rerata tingkat infeksi serkaria berkisar antara 0 % sampai 14,9%. Analisis bivariat menunjukkan tidak ada korelasi antara kepadatan keong dan tingkat infeksi serkaria dengan jumlah kasus schistosomiasis nilai p value > 0.05. Kata kunci: Schistosomiasis, kepadatan, tingkat infeksi, Oncomelania hupensis lindoensis, Sulawesi Tengah
STUDI KEANEKARAGAMAN SPESIES NYAMUK ANOPHELES SP. DI KABUPATEN DONGGALA, PROVINSI SULAWESI TENGAH Fahmi, Mohammad; Fahri, Fahri; Nurwidayati, Anis; Suwastika, I Nengah
Natural Science: Journal of Science and Technology Vol 3, No 2 (2014): Volume 3 Number 2 (August 2014)
Publisher : Univ. Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (549.321 KB)

Abstract

The aim of this study is to determine the diversity of morphological and genetic variation of the Anopheles sp. This study was conducted in the periode of November 2013 - February 2014 in two (2) malaria endemic areas; Labuan Village, in North Donggala and Lalombi Village, in South Banawa of South Donggala Regency. Sample collection was done around cattle cage throughout the night between 18:00 to 6:00. The capture period was 15 minutes oh each, and it was done in every hour. The collection was done by using an aspirator and the sampel was stored in paper cup prior covered by gauze pads. Morphological identification of samples was performed at Entomology Laboratory, Vector Borne Disease Research and Development Unit Donggala. Identification was done based on O'connor and Soepanto (1981). Analysis of genetic was done by RAPD-PCR method. Morphological identification found that there were three (3) species of mosquitoes from the two (2) sites, namely An. tesselatus, An. subpictus, and An. vagus. The highest spesies diversity index obtained in the Lalombi village with H' = 1,07 and the lowest value in the Labuan village with a value of  H' = 0,33. RAPD analysis showed that there were similarity on DNA amplification band patterns on An. tesselatus from the village of Labuan  and it from  Lalombi. But interestingly, there were different on DNA amplification pattern of An. vagus from these two sites.  This  results indicating that the there was genetic variation on An. vagus from these two different villages, even though its have similarity in morphological characters.
SURVEI DAERAH FOKUS KEONG HOSPES PERANTARA SCHISTOSOMIASIS DI KAWASAN TAMAN NASIONAL LORE LINDU SULAWESI TENGAH Widjaja, Junus; Nurwidayati, Anis; Pakawangi, Samarang; Maksud, Malonda; Kurniawan, Ade; Taruklobo, Leonardo; Koraag, Meiske; Syahnuddin, Muchlis
Buletin Penelitian Kesehatan Vol 46 No 4 (2018)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (442.971 KB) | DOI: 10.22435/bpk.v46i4.451

Abstract

Schistosomiasis di Indonesia hanya ditemukan di tiga lokasi yaitu Dataran Tinggi Napu dan Dataran Tinggi Bada, Kabupaten Poso serta Dataran Tinggi Lindu, Kabupaten Sigi Propinsi Sulawesi Tengah. Hasil survei fokus keong ada fokus keong yang berada di kawasan Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) Sehingga banyak masyarakat menduga  bahwa penyebaran fokus keong O.hupensis lindoensis juga terdapat di TNLL. Tujuan untuk  memetakan daerah fokus keong perantara schistosomiasis di kawasan Taman Nasional Lore Lindu. Lokasi penelitian di 12 Desa yang masuk kawasan TNLL di Dataran Tinggi Napu, Dataran Tinggi Bada Kab. Poso dan Dataran Tinggi Lindu Kab. Sigi. Melakukan survei fokus /habitat dan survei keong. Pada kedua kegiatan ini dilakukan penentuan koordinat geografis/UTM dengan menggunakan GPS.Hasil survei menunjukan bahwa ditemukan 14 daerah fokus keong O.hupensis lindoensis yang tersebar di tiga desa yaitu Desa Sedoa, Desa Dodolo Kec.Lore Utara Kab. Poso dan Desa Anca Kec. Lindu Kab. Sigi
FLUKTUASI SCHISTOSOMIASIS DI DAERAH ENDEMIS PROVINSI SULAWESI TENGAH TAHUN 2011-2018 Nurwidayati, Anis; Frederika, Phetisya Pamela; Sudomo, Mohammad
Buletin Penelitian Kesehatan Vol 47 No 3 (2019)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (413.293 KB) | DOI: 10.22435/bpk.v47i3.1276

Abstract

Schistosomiasis is one of the most important parasitic diseases in public health . Schistosomiasis infected 230 million people in 77 countries and 600 million people are at risk. Schistosomiasis in Indonesia is caused by a trematode (blood fluke) Schistosoma japonicum. The intermediate host is an amphibious snail, Oncomelania hupensis lindoensis. The disease occured only in Central Sulawesi, i.e in Napu and Bada Highlands, Poso District, and in Lindu Highland, Sigi District.Control activities have been implemented in the last 20 years . This paper aimed to describe the fluctuations of schistosomiasis infection rate among human in 2011-2018, snails, and rat in 2011-2017 in three endemic areas based on secondary data from the Central Sulawesi Provincial Health Office. The results showed that schistosomiasis infection rate among human fluctuated from year 2011-2018, as well as in snail and rat in 2011-2017, and there was a trend of increasing prevalence. The control efforts undertaken include surveying the feces of the population, detection of cercariae in snails and rat examination. It also carried out treatment of the population with praziquantel and eradication of the snail mechanically, chemically and biologically. Cross sectional activities to control schistosomiasis have also been conducted but still need to be strengthen to achieve schistosomiasis elimination in 2020. Keywords: Schistosomiasis, prevalence, Schistosoma japonicum, Indonesia Abstrak Schistosomiasis merupakan salah satu penyakit parasit terpenting dalam kesehatan masyarakat. Schistosomiasis telah menginfeksi 230 juta orang di 77 negara dan 600 juta orang berisiko terinfeksi. Schistosomiasis di Indonesia disebabkan oleh cacing trematoda jenis Schistosoma japonicum dengan hospes perantara keong Oncomelania hupensis lindoensis. Penyakit ini hanya ditemukan di Provinsi Sulawesi Tengah yaitu di Dataran Tinggi Napu dan Dataran Tinggi Bada, Kabupaten Poso serta Dataran Tinggi Lindu, Kabupaten Sigi. Berbagai upaya pengendalian sudah dilakukan selama lebih dari 20 tahun terakhir. Tulisan ini bertujuan untuk memaparkan fluktuasi kasus schistosomiasis pada manusia tahun 2011-2018, data schistosomiasis pada keong dan tikus tahun 2011-2017 di tiga daerah endemis tersebut dengan menganalisis data sekunder dari Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah. Hasil survei menunjukkan bahwa schistosomiasis masih berfluktuasi dari tahun 2011-2018 pada manusia, pada keong dan tikus tahun 2011-2017, serta terlihat adanya kecenderungan kenaikan prevalensi. Upaya pengendalian yang dilakukan meliputi survei tinja penduduk, deteksi serkaria pada keong dan pemeriksaan tikus. Selain itu juga dilakukan pengobatan penduduk dengan praziquantel dan pemberantasan keong secara mekanik, kimia dan biologi. Pengendalian terpadu oleh lintas sektor juga sudah dilaksanakan, akan tetapi masih perlu penguatan kembali peran lintas sektor untuk dapat mencapai target eliminasi schistosomiasis tahun 2020. Kata kunci: Schistosomiasis, prevalensi, Schistosoma japonicum
EVALUASI PENGENDALIAN SCHISTOSOMIASIS OLEH LINTAS SEKTOR TAHUN 2018 Anastasia, Hayani; Widjaja, Junus; Nurwidayati, Anis
Buletin Penelitian Kesehatan Vol 47 No 4 (2019)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (312.089 KB) | DOI: 10.22435/bpk.v47i4.1861

Abstract

Abstract In Indonesia, schistosomiasis is caused by Schistosoma japonicum with Oncomelania hupensis lindoensis as the intermediate host. Schistosomiasis can infect humans and all species of mammals. In order to achieve schistosomiasis elimination by 2020, schistosomiasis control including environmental management, has been carried out by multi-sectors. A cross-sectional study was conducted in 2018 to evaluate multi-sectoral schistosomiasis control programs. Data were collected by in-depth interviews with stakeholders, stool survey, snail survey, field observation, and document reviews. About 53.6% of control programs targeted in the schistosomiasis control roadmap were not achieved. Moreover, there was no significant difference between the number of foci area prior to the control programs and that of after the control programs completed in 2018. In addition, the prevalence of schistosomiasis in the humans was 0-5.1% and in mammals was in the range of 0 to 10%. In order to overcome the problems, establishment of a policy concerning schistosomiasis as a priority program beyond the Ministry of Health is needed. Innovative health promotion with interactive media is also needed to be applied. Nonetheless, the schistosomiasis work teams need to be more active to collaborate with other sectors and the Agency of Regional Development of Central Sulawesi Province as the leading sector. Keywords: schistosomiasis, control program, multi-sector, evaluation Abstrak Schistosomiasis di Indonesia disebabkan oleh cacing trematoda jenis Schistosoma japonicum dengan hospes perantara keong Oncomelania hupensis lindoensis. Schistosomiasis selain menginfeksi manusia, juga menginfeksi semua jenis mamalia. Untuk mencapai eliminasi schistosomiasis pada tahun 2020 dilakukan pengendalian schistosomiasis oleh lintas sektor termasuk di dalamnya pelaksanaan manajemen lingkungan. Upaya pencapaian eliminasi schistosomiasis dilakukan terutama dengan manajemen lingkungan yang direncanakan bersama oleh lintas sektor. Penelitian cross sectional dilakukan untuk mengevaluasi pelaksanaan program pengendalian schistosomiasis oleh lintas sektor dan implementasi pengendalian schistosomiasis terpadu untuk eliminasi schistosomiasis. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam stakeholder, review dokumen, survei keong, observasi lapangan, dan survei tinja. Hasil penelitian menunjukkan 53,6% kegiatan yang direncanakan dalam roadmap tidak terlaksana tahun 2018. Perbandingan jumlah fokus yang ditemukan pada akhir tahun 2018 tidak jauh berbeda dengan sebelum kegiatan pengendalian. Prevalensi schistosomiasis pada manusia tahun 2018 berkisar 0-5,1%. Prevalensi schistosomiasis pada hewan berkisar 0-10%. Untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi perlu adanya rekomendasi kebijakan schistosomiasis sebagai kegiatan prioritas di kementerian di luar kesehatan sehingga memungkinkan perencanaan kegiatan yang lebih terarah oleh lintas sektor. Selain itu perlu dilakukan promosi kesehatan yang lebih inovatif dengan menggunakan media yang lebih menarik dan interaktif. Peranan aktif kelompok kerja tim pengendalian schistosomiasis perlu ditingkatkan dengan Bappeda sebagai leading sector. Kata kunci: schistosomiasis, pengendalian, lintas sektor, evaluasi
LEPTOSPIROSIS PADA TIKUS ENDEMIS SULAWESI (RODENTIA: MURIDAE) DAN POTENSI PENULARANNYA ANTAR TIKUS DARI PROVINSI SULAWESI SELATAN Ardanto, Aryo; Yuliadi, Bernadus; Martiningsih, Ika; Putro, Dimas Bagus Wicaksono; Joharina, Arum Sih; Nurwidayati, Anis
BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA Volume 14 Nomor 2 Desember 2018
Publisher : Health Research and Development Unit of Banjarnegara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (567.637 KB) | DOI: 10.22435/blb.v14i2.196

Abstract

Leptospirosis is zoonotic disease which caused by pathogenic Leptospira bacteria and potentially causing death in human. Rat, as main reservoir of Leptospira, had been most studied in urban or rural areas around the settlement  of community. In contrast, leptospirosis studies in endemic rat were still limited. This study was aimed to identify endemic rat species of Sulawesi as reservoir of Leptospira in some regencies of South Sulawesi Province namely Bulukumba, Pangkep and East Luwu. This study was a part of Rikhus Vektora in 2017 by using live traps to catch rats in six various ecosystem types each regency. All catched rats were identified morphologically and followed by examinations using Microscopic Agglutination Test and Polymerase Chain Reaction. The result showed various endemic rats such as Rattus marmosurus, Rattus hoffmanni, Bunomys chrysocomus, Bunomys andrewsi and Bunomys coelestis were infected with leptospirosis. This study also showed new record of some endemic rat species were infected with leptospirosis. It is important to rise awareness  of  leptospirosis transmission in the forest habitat by the endemic rats. ABSTRAKLeptospirosis merupakan penyakit zoonosis disebabkan bakteri Leptospira patogenik dan berpotensi menyebabkan kematian pada manusia. Tikus sebagai reservoir utama Leptospira kebanyakan diteliti di kawasan perkotaan atau pedesaan di sekitar permukiman. Sebaliknya, penelitian leptospirosis pada tikus endemis jumlahnya sedikit. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis tikus endemis Sulawesi sebagai reservoir Leptospira di Kabupaten Bulukumba, Pangkep dan Luwu Timur. Penelitian ini merupakan bagian dari Rikhus Vektora tahun 2017 dengan menggunakan perangkap hidup untuk menangkap tikus di enam ekosistem berbeda pada tiap kabupaten. Seluruh tikus tertangkap diidentifikasi secara morfologis yang selanjutnya diuji Microscopic Agglutination Test (MAT) dan Polymerase Chain Reaction (PCR). Hasilnya diperoleh berbagai tikus endemis seperti Rattus marmosurus, Rattus hoffmanni, Bunomys chrysocomus, Bunomys andrewsi dan Bunomys coelestis terinfeksi leptospirosis. Hasil penelitian menunjukkan catatan baru beberapa jenis tikus endemis Sulawesi terinfeksi leptospirosis. Kondisi ini perlu diwaspadai karena terdapat potensi penularan leptospirosis di habitat hutan dari tikus endemis tersebut.
KONDISI FOKUS KEONG PERANTARA SCHISTOSOMIASIS ONCOMELANIA HUPENSIS LINDOENSIS DI EMPAT DESA DAERAH INTEGRASI PROGRAM LINTAS SEKTOR, SULAWESI TENGAH Pawakkangi, Samarang; Nurwidayati, Anis; Sumolang, Phetisya Pamela Frederika; Lobo, Leonardo Taruk; Gunawan, Gunawan; Murni, Murni
BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA Volume 14 Nomor 2 Desember 2018
Publisher : Health Research and Development Unit of Banjarnegara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (190.712 KB) | DOI: 10.22435/blb.v14i2.273

Abstract

Schistosomiasis is a zoonotic parasitic disease with Oncomelania hupensis lindoensis snail as host. The spread of O. hupensis lindoensis snail habitat was found in the three areas of the Napu, Bada and Lindu Highlands with an infection rate above 1%. The last focus area mapping was conducted in 2008. Based on this, re-focus mapping was conducted in cross sectoral integration program intervention areas, in Napu, Bada and Lindu highlands, on May-November in 2016. The study was aimed to identify the distribution of primary and secondary focus area of O. hupensis lindoensis snail in the intervention areas in four villages. Cross sectional design was used in the study. The snail survey using the man/minute method, the Schistosoma japonicum worm serkaria examination on the snail using the crushing method. The results found there were 91.4% secondary focus and 8.6% primary focus in the area of study. The focus of O. hupensis lindoensis snail in Sedoa Village were 33 focus with 45% positive sercaria, Watutau Village two focus with 50% positive sercaria, Tomehipi Village eight focus with 13% positive sercaria and Tomado Village 15 focus with 67% positive sercaria. The focus distribution in the cross sectoral program integration area is largely a secondary focus with less number of  focus number but a wider focus area. The highest infection rate was in Tomado Village. ABSTRAKSchistosomiasis adalah penyakit parasitik bersifat zoonosis dengan inang perantara keong Oncomelania hupensis lindoensis. Penyebaran habitat keong O. h. lindoensis di Sulawesi Tengah ditemukan di tiga wilayah yaitu Dataran Tinggi Napu, Bada, dan Lindu dengan angka infeksi  diatas 1%. Pemetaan fokus terakhir dilakukan tahun 2008, sehingga dilakukan pemutakhiran data distribusi daerah fokus primer dan sekunder di empat desa daerah integrasi program lintas sektor, Desa Sedoa, dan Watutau di Dataran Tinggi Napu, Desa Tomehipi Dataran Tinggi Bada, dan Desa Tomado di Dataran Tinggi Lindu. Penelitian dilakukan Bulan Mei-Nopember tahun 2016, dengan desain penelitian cross sectional. Survei keong menggunakan metode man/minute, pemeriksaan serkaria cacing Schistosoma japonicum pada keong  menggunakan metode crushing. Hasil penelitian ditemukan 91,4% fokus sekunder dan 8,6% fokus primer. Di Desa Sedoa sebanyak 33 fokus, 45% diantaranya positif serkaria dan di Desa Watutau 50% dari dua fokus sekunder ditemukan positif serkaria. Delapan daerah fokus ditemukan di Desa Tomehipi, 13% diantaranya positif serkaria. Sebanyak 15 daerah fokus ditemukan di Desa Tomado, 67% positif serkaria. Distribusi fokus di daerah integrasi program lintas sektor sebagian besar merupakan fokus sekunder dengan jumlah fokus menurun namun area fokus semakin luas. Persentase fokus positif serkaria tertinggi ditemukan di Dataran Tinggi Lindu Desa Tomado.
EFEKTIVITAS EKSTRAK BIJI JARAK MERAH (JATROPHA GOSSYPIIFOLIA), JARAK PAGAR (J. CURCAS) DAN JARAK KASTOR (RICCINUS COMMUNIS) FAMILI EUPHORBIACEAE TERHADAP HOSPES PERANTARA SCHISTOSOMIASIS, KEONG ONCOMELANIA HUPENSIS LINDOENSIS nurwidayati, Anis; veridiana, Ni nyoman; octaviani, Octaviani; l, Yudith
BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA Volume 10 Nomor 1 Juni 2014
Publisher : Health Research and Development Unit of Banjarnegara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1443.138 KB)

Abstract

ABSTRAK Schistosomiasis merupakan penyakit endemis di Indonesia, khususnya di Dataran tinggi Napu, Lindu dan Bada, Sulawesi Tengah. Keong perantara schistosomiasis, Oncomelania hupensis lindoensis tersebar luas di Dataran Tinggi Napu. Salah satu upaya pengendalian keong yang telah dilakukan oleh progam pengendalian schistosomiasis adalah penyemprotan moluskisida Bayluscide setiap 6 bulan sekali. Penggunaan moluskisida kimia memiliki kekurangan karena dapat menyebabkan polusi lingkungan. Perlu diteliti penggunaan tanaman sebagai moluskisida untuk alternatif pengendalian keong. Famili Euphorbiaceae diketahui memiliki aktivitas sebagai moluskisida. Tujuan penelitian menentukan efektivitas dari ekstrak dan fraksi biji jarak merah (Jatropha. gossypifolia), ekstrak biji jarak pagar (Jatropha curcas) dan ekstrak biji jarak kastor (Riccinus communis) terhadap keong Oncomelania hupensis lindoensis. Penelitian dilakukan di Laboratorium Schistosomiasis Napu, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah pada bulan Maret ? Oktober 2009. Keong diuji dengan larutan ekstrak biji jarak merah, jarak pagar dan jarak kastor di laboratorium selama 24 jam. Ekstraksi biji jarak dengan metode perkolasi Jumlah keong yang mati dihitung dan dianalisis probit untuk penentuan nilai LC 50 dan LC 95. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak methanol dari biji jarak merah, jarak pagar dan jarak kastor memiliki daya bunuh terhadap keong Oncomelania hupensis lindoensis. Ekstrak biji jarak merah memiliki daya bunuh yang paling tinggi dibanding ekstrak biji jarak pagar dan kastor, dengan nilai LC 50 10,41 ppm dan LC 95 sebesar 18,6 ppm. Fraksi metanol dari biji jarak merah paling efektif di antara fraksi etil asetat dan n-heksan dari biji jarak merah. Tanaman jarak merah dapat menjadi bahan alternatif dalam pengendalian keong Oncomelania hupensis lindoensis.
VARIASI GENUS KEONG DI DAERAH FOKUS KEONG PERANTARA SCHISTOSOMIASIS DI DATARAN TINGGI LINDU, SULAWESI TENGAH Nurwidayati, Anis
BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA Volume 11 Nomor 2 Desember 2015
Publisher : Health Research and Development Unit of Banjarnegara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (175.35 KB)

Abstract

Beberapa penyakit parasitik pada manusia yang disebabkan oleh cacing trematoda seperti  schistomiasis, echinostomiasis, paragonimiasis, dan sebagai hospes perantara adalah oleh beberapa anggota famili keong air tawar. Schistosomiasis merupakan penyakit parasitik yang endemis di Indonesia, khususnya di Dataran Tinggi Napu, Lindu dan Bada, Sulawesi Tengah. Informasi mengenai genus keong yang ditemukan di daerah fokus keong perantara schistosomiasis diperlukan dalam menentukan potensi terjadinya penularan penyakit akibat cacing trematoda yang lain. Survei dilakukan di dalam kawasan Taman Nasional Lore Lindu, Sulawesi Tengah pada Bulan Juli 2013. Identifikasi keong dilakukan menggunakan kunci determinasi keong air tawar di Laboratorium Parasitologi, Balai Litbang P2B2 Donggala. Jenis keong yang ditemukan meliputi Oncomelania hupensis lindoensis, Melanoides sp., Helicorbis sp., Indoplanorbis sp. yang merupakan hospes perantara trematoda parasit. Berdasarkan hasil tersebut dapat dilihat bahwa selain berpotensi dalam penularan schistosomiasis daerah tersebut juga berpotensi untuk terjadinya penularan penyakit akibat cacing trematoda lain, seperti Echinostomiasis dan Paragonimiasis.
PENGARUH PERBEDAAN EKOSISTEM DAN FAKTOR LINGKUNGAN TERHADAP KERAGAMAN JENIS KELELAWAR DI KABUPATEN TOJO UNA - UNA DAN TOLITOLI PROVINSI SULAWESI TENGAH Nurwidayati, Anis; Nurjana, Made Agus
Jurnal Vektor Penyakit Vol 12 No 2 (2018): Edisi Desember
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Donggala, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (188.091 KB) | DOI: 10.22435/vektorp.v12i2.291

Abstract

Abstract The bat species biodiversity varies across environments in six different ecosystems based on Vectora 2015 Research Report. These ecosystems were distant forests and near settlements, non forests near and far residential, as well as near and remote coastal settlements. We measured species diversity (Shannon-Wiener index), environmental factors were also measured during bat surveys, ie air temperature, humidity and weather during survey. This paper was a further analysis of Vectora 2015 Research Report. The analysis was aimed to determine the impact of environmental factors to the bat species diversity especially in Tojo Una-Una and Tolitoli District. We found that the temperature and humidity factors significantly affect the diversity of bat species. The highest species diversity found in the forest near settlement, that was 0,3396. Abstrak Data Riset Khusus Vektora tahun 2015 menunjukkan adanya keragaman spesieskelelawar di lokasi riset yang terdiri atas enam ekosistem yang berbeda. Ekosistemtersebut adalah hutan , non hutan jauh dan dekat pemukiman dekat dan jauhpemukiman, serta dekat dan jauh pemukiman pantai . Faktor lingkungan juga diukurpada saat dilakukan survei kelelawar, yaitu suhu udara, kelembaban dan cuaca saatpenangkapan. Tulisan ini merupakan hasil analisis lanjut Riset Khusus vektora tahun2015. Analisis dilakukan dengan tujuan untuk mengidentifikasi pengaruh ekosistemdan faktor lingkungan (suhu, kelembaban dan cuaca) terhadap keragaman jeniskelelawar di Kabupaten Tojo Una-Una dan Tolitoli Provinsi Sulawesi Tengah danperannya sebagai reservoir penyakit zoonosis. Hasil analisis menunjukkan bahwafaktor suhu dan kelembaban berpengaruh pada keragaman spesies kelelawar secarasignifikan.