Articles

Found 12 Documents
Search

BRIKET PELEPAH KELAPA SAWIT SEBAGAI SUMBER ENERGI ALTERNATIF YANG BERNILAI EKONOMIS DAN RAMAH LINGKUNGAN Papilo, Petir
Jurnal Sains dan Teknologi Industri Vol 9, No 2 (2012): Juni 2012
Publisher : Fakultas Sains dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Krisis energi merupakan isu yang sedang hangat dibicarakan dewasa ini, terlebih lagi dengan semakin menipisnya cadangan energi yang berasal dari bahan bakar fosil. Ditambah lagi dengan kenaikan harga bahan bakar yang memberikan dampak yang sangat besar bagi masyarakat indonesia, karena sebagian besar masyarakat masih bergantung pada bahan bakar fosil. Untuk mengatasi masalah ini maka perlu dicari sumber energi alternatif yang dapat mengganti peran bahan bakar minyak. Salah satu energi alternatif yang terus dikembangkan adalah biobriket yang  terbuat dari limbah perkebunan atau limbah industri. Salah satu limbah perkebunan yang belum dimanfaatkan adalah pelepah kelapa sawit. Dengan ketersediaannya yang melimpah dan dengan menggunakan teknologi yang sederhana diharapkan pengembangan briket dari pelepah kelapa sawit dapat menjadi salah satu energi alternatif pengganti bahan bakar fosil.                Penelitian ini dilakukan dengan membedakan perlakuan pada tiga spesimen percobaan, yakni K1, K2 dan K3. Kemudian akan dilakukan uji kualitas terhadap ketiga spesimen dengan melakukan Uji Kadar Kalor, Uji Kadar Air, dan Uji Kadar Abu. Tahap selanjutnya dalam penelitian ini adalah menghitung biaya serta harga jual briket dari pelepah kelapa sawit dengan menggunakan perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP) dengan menggunakan metode full costing. Kemudian dilakukan perbandingan nilai ekonomi briket pelepah kelapa sawit dengan minyak tanah dan gas LPG.                Adapun hasil penelitian adalah kadar kalor tertinggi  pada spesimen K1 yakni 3.477,67 kKal. Sedangkan untuk pengujian kadar air spesimen yang mampu mengeluarkan air terbaik adalah spesimen K3 dengan persentase air yang dapat menguap adalah 66,3 %. Kemampuan briket untuk terbakar dapat dilihat dari kadar abu terkecil yaitu pada spesimen K1 dengan kadar abu 4,20%. Adapun hasil perhitungan harga pokok produksi, untuk memproduksi briket dengan kapasitas 150 kg briket per hari  adalah Rp 830/Kg dengan harga jual yang dapat ditawarkan kepada konsumen sebesar Rp. 1300/Kg,-.
ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI PENAMBAHAN ARMADA TRANSPORTASI DAN PERBAIKAN SISTEM PERSEDIAAN PERGUDANGAN (STUDY KASUS PT. LEMINDO ABADI JAYA AREA DISTRIBUSI RIAU DARATAN) Papilo, Petir; Ramadhanil, Ramadhanil
Jurnal Sains dan Teknologi Industri Vol 10, No 2 (2013): Juni 2013
Publisher : Fakultas Sains dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Warehouse merupakan bagian terpenting dari suatu perusahaan. Pemanfaatan luas lantai penyimpanan yang optimal akan membawa berbagai keuntungan bagi perusahaan baik dari segi cost maupun kepuasan konsumen. Inilah hal yang harus dilakukan oleh PT. Lemindo Abadi Jaya area distribusi Riau Daratan, untuk mendapatkan pemakaian luas lantai yang optimal dengan berbagai jenis produk yang mereka pasarkan. Selain itu lambatnya run out of product membuat tingginya expedisi cost sehingga perusahaan perlu melakukan analisa kelayakan untuk penambahan armada transportasi yang bertujuan mengurangi cost expedisi.Berdasarkan perhitungan pengendalian persediaan, diperoleh nilai kebutuhan gudang sebesar 3.423.566,17cm2  setelah ditambah kelonggaran (allowance) sebesar 200%. Pada perhitungan perbandingan luas lantai gudang, terdapat selisih sebesar 2.284.090,17 cm2 antara kebutuhan luas lantai gudang dengan luas lantai gudang yang tersedia saat ini. Hasil ini menunjukkan bahwa terdapat kekurangan luas lantai gudang apabila perusahaan ingin menerapkan sistem pengendalian persediaan yang baik, sehingga pergantian gudang menjadi pilihan solusi bagi perusahaan. Sedangkan untuk perhitungan analisis kelayakan dengan menggunakan metode NPV menunjukkan bahwa investasi layak karena value yang dihasilkan lebih dari nol, tetapi dalam perhitungan incremental analysis menunjukkan bahwa pengembalian modal pada investasi lama lebih baik karena menghasilkan  nilai ROR sebesar 421,63% jika dibandingkan dengan investasi baru yang hanya sebesar 177,56%. Namun apabila perusahaan tetap pada investasi lama tetapi melakukan pergantian gudang, nilai ROR yang dihasilkan masih cukup besar yaitu sebesar  412,74% sehingga dapat menjadi solusi apabila perusahaan tidak ingin menurunkan tingkat pengembalian modal yang diperoleh.       
STRATEGI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PENGRAJIN ROTAN DI KOTA PEKANBARU Papilo, Petir
MENARA Vol 13, No 1 (2014): Januari - Juni 2014
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Industri kerajinan rotan merupakan salah satu jenis usaha yang bersifat home industry yang telah lama berkembang di Kota Pekanbaru. Semenjak krisis ekonomi tahun 2009, semakin lama jumlah kelompok masyarkat yang masih bertahan menjalankan usaha kerajinan rotan di Kota Pekanbaru semakin lama semakin berkurang. Oleh karenanya perlu perhatian berbagai pihak terkait dalam upaya menyelematkan salah satu jenis industri yang menjadi penopang perekonomian sebagian masyakat yang ada di Kota Pekanbaru ini. Dalam kajian ini, melalui pendekatan SWOT Anaysis telah diketahui bahwa dari 6 faktor internal yang teridentifkasi telah diketahui bahwa, nilai skor total untuk faktor kekuatan (S) adalah sebesar 0,71 dan faktor kelemahan (W) adalah sebesar 2,10. Hal ini menjelaskan bahwa secara internal masyarakat pengrajin rotan memiliki lebih banyak kelemahan dengan nilai akhir sebesar -1,39. Sementara itu, pada faktor eksternal, dari 6 faktor yang diperhatikan dapat diketahui bahwa , nilai faktor peluang (O) yang ada dimasyarakat pengrajin rotan masih cukup tinggi yakni sebesar 2,64 sedangkan nilai faktor ancaman (T) yang mungkin terjadi adalah sebesar 1.13. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tingkat peluang masih cukup besar bagi pengembangan usaha kerajinan rotan di Pekanbaru dengan nilai total skor sebesar 1.51. Oleh karenanya, berdasarkan kondisi yang ada, perlu diterapkan strategi pengembangan yang mampu memperkecil kelemahan dan sekaligus meningkatkan kemampuan dalam meraih peluang-peluang yang ada
MODEL KEBIJAKAN PENGELOLAAN AGROINDUSTRI BIOENERGI DALAM PERSPEKTIF KELESTARIAN LINGKUNGAN (SOFT SYSTEM METHODOLOGY SEBAGAI SUATU PENDEKATAN) Papilo, Petir; Maarif, M Syamsul
Jurnal PASTI Vol 9, No 1 (2015): Jurnal PASTI
Publisher : Jurnal PASTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sumber daya alam yang terbatas dan diperparah pula oleh peningkatan permintaan akan sumber daya energi, memunculkan dampak lebih lanjut pada aspek lingkungan. Sebagai langkah antisipasi, perlu disusun suatu model kebijakan pengelolaan agroindustri bioenergi yang memperhatikan aspek lingkungan. Tujuan utama kajian ini adalah untuk memperoleh gambaran permasalahan atas situasi yang terjadi dalam praktek pengelolaan agroindustri bioenergi serta dampaknya terhadap lingkungan. Beberapa aktor penting diantaranya adalah para petani penggarap lahan, dan konsumen akhir sebagai penerima manfaat produk bioenergi, agroindustri pangan, agroindustri bioenergi dan lembaga swadaya masyarakat sebagai aktor utama yang memliki kepentingan yang berbeda satu sama lainnya. Pemerintah sebagai lembaga pembuat regulasi dan kebijakan, merupakan aktor kunci yang berperan dalam melaksanakan pengendalian dan pengawasan. Pada kajian ini telah dibangun suatu model konseptual yang menggambarkan hubungan aktivitas antar komponen yang berkait dengan menggunakan pendekatan soft system methodology (SSM). Melalui penerapan langkah-langkah SSM telah disusun rencana tindakan yang akan dilakukan berkait dengan pengelolaan agroindustri bioenergi dalam perspektif kelestarian lingkungan.Kata Kunci: CATWOE, Model Konseptual , Soft System Methodology 
PENILAIAN POTENSI BIOMASSA SEBAGAI ALTERNATIF ENERGI KELISTRIKAN Papilo, Petir; Kunaifi, Kunaifi; Hambali, Erliza; Nurmiati, Nurmiati; Pari, Rizfi Fariz
Jurnal PASTI Vol 9, No 2 (2015): Jurnal PASTI
Publisher : Jurnal PASTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemanfaatan biomassa sebagai sumber daya listrik merupakan salah satu solusi yang dapat dikembangkandalam rangka meningkatkan rasio elektrifikasi dan mewujudkan ketahanan energi nasional. Untuk itu sebagai langkah awal bagi menguji kelayakan pengembangan biomassa sebagai sumber pembangkit tenaga listrik, diperlukan analisis tentang potensi sumber daya, terutama dari beberapa komoditas unggulan, baik dari sisa hasil pertanian maupun perkebunan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat potensi biomassa berdasarkan ketersediaan pasokan sumber daya yang tidak termanfaatkan yang dapat diperoleh dari sisa hasil pertanian. Beberapa sisa hasil pertanian dan perkebunan yang menjadi target penilaian antara lain adalah jerami dan sekam padi sawah, jerami dan sekam padi ladang, batang dan tongkol jagung, batang ubi kayu, serta serat, cangkang, tandan kosong, kernel dan limbah cair yang terdapat di perkebunan kelapa sawit. Hasil analisis dengan pendekatan statistik, menunjukkan bahwa total energi teoritis biomassa yang dapat dihasilkan adalah sebesar 77.466.754,8 Gj/Tahun. Secara teoritis berpotensi menghasilkan energi listrik sebesar 21.518.542,8 MWh/Tahun.Kata Kunci: Biomassa, Potensi Teoritis, Rasio Elektrifikasi
PENILAIAN POTENSI BIOMASSA SEBAGAI ALTERNATIF ENERGI KELISTRIKAN Papilo, Petir; Kunaifi, Kunaifi; Hambali, Erliza; Nurmiati, Nurmiati; Pari, Rizfi Fariz
Jurnal PASTI Vol 9, No 2 (2015): Jurnal PASTI
Publisher : Jurnal PASTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemanfaatan biomassa sebagai sumber daya listrik merupakan salah satu solusi yang dapat dikembangkandalam rangka meningkatkan rasio elektrifikasi dan mewujudkan ketahanan energi nasional. Untuk itu sebagai langkah awal bagi menguji kelayakan pengembangan biomassa sebagai sumber pembangkit tenaga listrik, diperlukan analisis tentang potensi sumber daya, terutama dari beberapa komoditas unggulan, baik dari sisa hasil pertanian maupun perkebunan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat potensi biomassa berdasarkan ketersediaan pasokan sumber daya yang tidak termanfaatkan yang dapat diperoleh dari sisa hasil pertanian. Beberapa sisa hasil pertanian dan perkebunan yang menjadi target penilaian antara lain adalah jerami dan sekam padi sawah, jerami dan sekam padi ladang, batang dan tongkol jagung, batang ubi kayu, serta serat, cangkang, tandan kosong, kernel dan limbah cair yang terdapat di perkebunan kelapa sawit. Hasil analisis dengan pendekatan statistik, menunjukkan bahwa total energi teoritis biomassa yang dapat dihasilkan adalah sebesar 77.466.754,8 Gj/Tahun. Secara teoritis berpotensi menghasilkan energi listrik sebesar 21.518.542,8 MWh/Tahun.Kata Kunci: Biomassa, Potensi Teoritis, Rasio Elektrifikasi
MODEL KEBIJAKAN PENGELOLAAN AGROINDUSTRI BIOENERGI DALAM PERSPEKTIF KELESTARIAN LINGKUNGAN (SOFT SYSTEM METHODOLOGY SEBAGAI SUATU PENDEKATAN) Papilo, Petir; Maarif, M Syamsul
Jurnal PASTI Vol 9, No 1 (2015): Jurnal PASTI
Publisher : Jurnal PASTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sumber daya alam yang terbatas dan diperparah pula oleh peningkatan permintaan akan sumber daya energi, memunculkan dampak lebih lanjut pada aspek lingkungan. Sebagai langkah antisipasi, perlu disusun suatu model kebijakan pengelolaan agroindustri bioenergi yang memperhatikan aspek lingkungan. Tujuan utama kajian ini adalah untuk memperoleh gambaran permasalahan atas situasi yang terjadi dalam praktek pengelolaan agroindustri bioenergi serta dampaknya terhadap lingkungan. Beberapa aktor penting diantaranya adalah para petani penggarap lahan, dan konsumen akhir sebagai penerima manfaat produk bioenergi, agroindustri pangan, agroindustri bioenergi dan lembaga swadaya masyarakat sebagai aktor utama yang memliki kepentingan yang berbeda satu sama lainnya. Pemerintah sebagai lembaga pembuat regulasi dan kebijakan, merupakan aktor kunci yang berperan dalam melaksanakan pengendalian dan pengawasan. Pada kajian ini telah dibangun suatu model konseptual yang menggambarkan hubungan aktivitas antar komponen yang berkait dengan menggunakan pendekatan soft system methodology (SSM). Melalui penerapan langkah-langkah SSM telah disusun rencana tindakan yang akan dilakukan berkait dengan pengelolaan agroindustri bioenergi dalam perspektif kelestarian lingkungan.Kata Kunci: CATWOE, Model Konseptual , Soft System Methodology 
KLASTER INDUSTRI SEBAGAI STRATEGI PENINGKATAN DAYA SAING AGROINDUSTRI BIOENERGI BERBASIS KELAPA SAWIT Papilo, Petir; Bantacut, Tajuddin
J@ti Undip : Jurnal Teknik Industri Volume 11, No. 2, Mei 2016
Publisher : Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (550.818 KB) | DOI: 10.14710/jati.11.2.87-96

Abstract

Kajian ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang dampak dari pelaksanaan program klaster industri terhadap peningkatan daya saing industri bioenergi berbasis kelapa sawit nasional. Melalui pendekatan analisis perbandingan yang merujuk pada berbagai kajian terdahulu, dapat diketahui bahwa penerapan strategi klaster industri memberikan pengaruh positif terhadap tiga klaster agroindustri kelapa sawit nasional yang berada di Provinsi Riau, Sumatra Utara dan Kalimantan Timur. Berdasarkan penilaian terhadap empat elemen daya saing, seperti aglomerasi perusahaan, nilai tambah dan rantai nilai, jejaring kerjasama serta infrastruktur ekonomi, menunjukkan bahwa telah  terjadi peningkatan nilai daya saing dari ketiga klaster industri sebesar masing-masingnya 0,503, 0294 dan 0,232. AbstractThis study aims to provide an overview of the implementation impact of industrial cluster program to increase the competitiveness of the national agro-industry bioenergy based on palm oil. Through a comparative analysis approach that refers to previous studies, it is known that the implementation of the industrial cluster strategy has a positive influence on the three national oil palm agro-industrial clusters that located in the Riau Province, North Sumatra and East Kalimantan. Based on the assessment of the four elements of competitiveness, such as agglomeration company, value-added and value chains, networks and infrastructure, indicate that there has been an increase in the competitiveness value of the three clusters agro-industries by each 0.503, 0294 and 0.232.
Penerapan Fuzzy TOPSIS dalam Penentuan Lokasi Kawasan Pengembangan Rantai Pasok Bioenergi Kelapa Sawit Papilo, Petir; Djatna, Taufik; Arkeman, Yandra; Marimin, Marimin
Agritech Vol 38, No 1 (2018)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (417.361 KB) | DOI: 10.22146/agritech.12528

Abstract

.
MODEL PREDIKSI DAMPAK PENERAPAN KEBIJAKAN MANDATORI BLENDING TERHADAP KEBUTUHAN LAHAN DAN TINGKAT EMISI CO2 PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DI INDONESIA Papilo, Petir; H, Hartrisari
Seminar Nasional Teknologi Informasi Komunikasi dan Industri 2017: SNTIKI 9
Publisher : UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (574.912 KB)

Abstract

Penerapan kebijakan mandatori pencampuran (blending) antara bahan bakar nabati ke dalam bahan bakar minyak telah memberikan pengaruh kepada peningkatan kebutuhan biodiesel, kebutuhan luas lahan perkebunan kelapa sawit dan dampak lingkungan dalam bentuk emisi CO2 hingga tahun 2030. Penelitian ini bertujuan mengidensifikasi besarnya tingkat kebutuhan masing-masing faktor serta dampaknya terhadap lingkungan. Melalui analisis dengan perancangan model matematis, telah diperolehi bahwa secara bertahap, dari hingga tahun 2030 terjadi peningkatan kebutuhan bahan bakar nabati sebesar 14,79 juta kl. Sebagai upaya memenuhi kebutuhan bahan bakar nabati tersebut diperlukan lahan perkebunan kelapa sawit seluas 35,2 juta ha serta peningkatan emisi CO2 5,41 Gg t CO2.