Articles

STUDI BUDAYA NONMATERIAL WARGA JATON Azeharie, Suzy; Paramita, Sinta; Sari, Wulan Purnama
Jurnal ASPIKOM - Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 3, No 6 (2019): Januari 2019
Publisher : Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24329/aspikom.v3i6.279

Abstract

Jaton village is situated in the heart of where the majority of the population is Christian. For hundreds of years the residents of Jaton Village lived side by side in harmony with the majority of Minahasa tribes who had different religions. A long historical factor makes Jaton Village unique because residents of Jaton Village are direct descendants of Kyai Modjo, a religious teacher from Prince Diponogoro, who was banished by Dutch colonialists along with 63 of his followers to the Tondano area in 1828. Amid the increasing number of violence committed by one religious group in another religion, this research is aim to see a form of nonmaterial culture in Jaton society. This research will answer the question of what form of non-material cultures includes values, norms and regulations for the people of Jaton Village, and how are the values, norms and beliefs passed on to the next generation. The method used is qualitative with case study approach through observation and in-depth interview. The results showed that the Jaton community still holds an ancestral culture originating from Java. In addition, the norms created are mixed up, so there is no norm that limits behavior or action. However, the most obvious thing to hold firmly is the norm of Islamic teachings which is their belief.
Komunikasi Media Dan Budaya Melahirkan Spectacle Society Paramita, Sinta
Jurnal Komunikasi Vol 6, No 1 (2014): Jurnal Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstracThe development of communication and information technology spur anyone to access and share Information. Issues of privacy and public interest starts getting eroded and indistinct batasaan between privacy and the public. However, it became interesting for the general public. This article will talk about how the birth of the information communication technology lovers society Spectacle Society. AbstrakPerkembangan teknologi komunikasi dan informasi memacu siapapun untuk mengakses dan melakukan sharing Information. Masalah privasi dan kepentingan publik mulai semakin terkikis dan tidak jelas batasaan antara privasi dan publik. Namun demikian, hal tersebut justru menjadi tontonan yang menarik bagi masyarakat luas. Tulisan ini akan berbicara tentang bagaimana teknologi komunikasi informasi menggiring lahirnya masyarakat penikmat Spectacle Society.  
Televisi dan Berita Konflik di TV One Paramita, Sinta
Jurnal Pekommas Vol 16, No 2 (2013): Agustus
Publisher : BBPSDMP KOMINFO MAKASSAR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.971 KB) | DOI: 10.30818/jpkm.2013.1160201

Abstract

Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui konstruksi berita konflik Mesuji dan konflik Lampung Selatan yang disiarkan oleh TV One. Metode yang digunakan adalah mengadopsi pemikiran Dahinden dan Entman dalam menjelaskan framing.  Framing Dahinden mengacu kepada kerangka dasar untuk melihat posisi dan pandangan khusus terhadap media dan teks berita.  Sedangkan framing  Entman menjelaskan bahwa dalam membuat kerangka framing yaitu dengan cara dipilih dan memberi diperlakukan tertentu terhadap aspek dari sebuah insiden yang akan diteliti dalam teks berita. Temuan penelitian menunjukkan bahwa wartawan tidak kritis dalam melihat fenomena konflik Mesuji dan Lampung Selatan. Rendahnya kualitas berita akan berpengaruh kepada pemahaman khalayak atas kedua konflik tersebut.
Intercultural Communication to Preserve Harmony Between Religious Group in Jaton Village Minahasa (Komunikasi Lintas Budaya dalam Menjaga Kerukunan antara Umat Beragama di Kampung Jaton Minahasa) Paramita, Sinta; Sari, Wulan Purnama
Jurnal Pekommas Vol 1, No 2 (2016): Oktober 2016
Publisher : BBPSDMP KOMINFO MAKASSAR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30818/jpkm.2016.2010205

Abstract

Indonesia is a multicultural country. This condition makes Indonesia become highly vulnerable to conflicts between ethnic or inter-religious. To avoid conflicts, as a country Indonesia required tolerance to maintain inter-religious harmony in Indonesia. Minahasa, especially Jaton Village is one of the areasin Indonesia, which can maintain its sense of tolerance and harmony. Jaton village is a village full of history and the majority of its citizens are Muslims, but the villagers were able to mingle and interact with the Christian’s citizens. The theories used in this research are the concept of intercultural communication and intercultural conflict by Samovar et all and Littlejohn & Domenici. This research is also used the concept of social interaction by Gillinand Gillin. This research was conducted using qualitative case study methods, with the aim to find out the intercultural communication between the residents in Jaton village, and as the result the harmony can be maintained. Based on this research, researcher find that acculturation is happens between Muslims citizens and Christian citizens as majority. This acculturation indicates that the interaction formed between the two religious groups is an associative interaction patterns, so there is no conflict as it is in other areas.Indonesia merupakan negara yang multikultural. Hal ini menjadikan Indonesia sangat rentan terkena konflik antaretnis atau antaragama. Untuk menghindari konflik tersebut diperlukan toleransi untuk menjaga kerukunan antara umat beragama. Salah satu daerah yang dapat memelihara toleransi dan kerukunan tersebut adalah Minahasa atau lebih tepatnya di Kampung Jaton yang merupakan kampung yang penuh sejarah dan mayoritas warganya beragama Islam, tetapi penduduk desa tersebut mampu berbaur dan berinteraksi dengan baik pada warga Minahasa lainnya yang beragama Kristen. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah konsep komunikasi lintas budaya dan konflik antar budaya oleh Samovar dan Littlejohn & Domenici. Kemudian juga digunakan konsep interaksi sosial dari Gillin dan Gillin. Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif studi kasus, dan dengan tujuan untuk mencari komunikasi lintas budaya seperti apa yang terjadi antara penduduk di Kampung Jaton dengan warga mayoritas yang berbeda agama sehingga kerukunan dapat terus terjaga. Berdasarkan penelitian ini didapatkan hasil bahwa terjadi akulturasi antara warga yang beragama Islam dengan yang beragama Kristen. Akulturasi ini menandakan bahwa interaksi yang terbentuk antara kedua kelompok agama merupakan pola interaksi asosiatif, sehingga tidak terjadi konflik seperti yang terdapat pada daerah lain.
PR Crisis Melalui Media Sosial Carlina, Gladys; Paramita, Sinta
Jurnal Komunikasi Vol 9, No 1 (2017): Jurnal Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The background of this research is communication, new media, PR and PR Crisis. Fourth of this background has a close relationship, starting from communication, human in everyday life would require communication to receive and convey information, human can not be released from human life. The advancement of the times and the development of technology, causing people to communicate easily and the development of this era caused a new challenge for the PR and PR Crisis of a company, they should be able to maintain a positive image of the company in the minds of people. In this study using descriptive qualitative methodology, it contains many writings and drawings compared to the numbers. The purpose of this research is to know the strategy used by Pizza Hut in dealing with the issue of expired food. Penelitin results, social media is very positive impact on Pizza Hut in the recovery of food issues expired. The strategy used by the Pizza Hut Crisis PR is to utilize social media. Visible from the issue of expired food that disappeared in public and Pizza Hut restaurant until now crowded visited.Latar belakang dari penelitian ini yaitu komunikasi, media baru, PR dan PR Krisis. Keempat dari latar belakang ini mempunyai hubungan yang erat, dimulai dari komunikasi, manusia di dalam kehidupan sehari-hari tentunya memerlukan komunikasi untuk menerima dan menyampaikan informasi, manusia tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia. Majunya perkembangan zaman dan perkembangan teknologi, menyebabkan manusia melakukan komunikasi dengan mudah dan perkembangan zaman ini menyebabkan adanya tantangan baru bagi para PR dan PR Krisis sebuah perusahaan, mereka harus bisa mempertahankan citra positif perusahaan di benak masyarakat. Dalam penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif deksriptif, memuat banyak tulisan dan gambar dibandingkan angka-angka. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui strategi yang digunakan oleh Pizza Hut dalam menangani isu makanan kedaluwarsa. Hasil penelitin,media sosial sangat membawa dampak positif bagi Pizza Hut dalam pemulihan isu makanan kedaluwarsa. Strategi yang digunakan oleh PR Krisis Pizza Hut adalah dengan memanfaatkan media sosial. Terrlihat dari isu makanan kedaluwarsa yang menghilang di public dan restoran Pizza Hut sampai saat ini ramai dikunjungi. 
Analisis Semiotik Hiperealitas Dalam Iklan Shopee Versi Sepedanya Mana Yulitasari, Yulitasari; Paramita, Sinta
Prologia Vol 1, No 2 (2017): Prologia
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/pr.v1i2.1999

Abstract

Periklanan merupakan bentuk dari gejala sosial yang memiliki peran penting bagi masyarakat dalam era globalisasi karena diyakini memiliki kekuatan untuk memacu minat konsumsi konsumen untuk kesekian kalinya dalam arti lain, periklanan berperan dalam merangsang minat pembelian produk maupun jasa konsumen.Hiperealitas merupakan gejala dimana realitas palsu maupun buatan bertebaran dan tidak sesuai dengan realitas asli, iklan ini menggambarkan dengan kontras kondisi-kondisi dimana dunia semu menyatu dengan kenyataan sehingga mampu menghilangkan citra asli.Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif ini memiliki sifat deskriptif  dimana data-data yang akan dikumpulkan adalah kata-kata ataupun gambar dan buka angka-angka. Penelitian deskriptif bertujuan untuk menyoroti isu atau masalah saat ini melalui proses pengumpulan data yang memungkinkan mereka untuk menggambarkan situasi secara lebih lengkap untuk menemukan fakta-fakta baru. Hasil penelitian memaparkan bahwa, Iklan Shopee versi Sepedanya Mana memiliki banyak simulasi-simulasi hiperealitas, dalam iklan tersebut dengan jalan cerita mengilustrasikan berbelanja di Shopee maka Produk maupun Barang yang diinginkan Customer akan segara menjadi wujud nyata dengan proses sekali menyentuh ikon produk maupun barang dininginkan tanpa adanya proses seperti Marketplace kompetitornya yang terkesan terlalu melewati batas kenyataan.
Bentuk Komunikasi Pemasaran PT. Home Center Indonesia Dalam Pengembangan Program Informa Custom Furniture Viby, Priscilla; Paramita, Sinta
Prologia Vol 2, No 1 (2018): Prologia
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/pr.v2i1.2403

Abstract

Pada penelitian ini peneliti memiliki tiga identifikasi masalah yaitu; Banyaknya industri properti furniture di Indonesia, membuat perusahaan tersebut harus memiiki strategi yang tepat, Viral Marketing saat ini menjadi strategi komunikasi pemasaran saat ini dan produk Informa Furnishing’s berhasil dalam melakukan Event Marketing melalui viral marketing dalam program Opening Informa Custom Furniture. Rumusan masalah yang muncul adalah bagaimana strategi komunikasi pemasaran PT. Home Center Indonesia dalam pengembangan program Informa Custom Furniture?. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif studi kasus yang bersifat deskriptif yang bertujuan mengambarkan suatu gejala, fakta atau realita. Teknik pengumpulan juga menggunakan data primer yang diantara nya adalah wawncara serta observasi dan data sekunder diantaranya studi kepustakaan serta data online. Mengenai pembahasan pemasaran yang sudah dijelaskan dan diuraikan, hal ini menjadikan pemasaran yang efektif yaitu Viral Marketing.
Analisis Self Disclosure Penari Waacking Dalam Komunitas Waacking Dance (Studi Kasus Acara Battle Dance Grand Finals All Asia Waacking Festival 2018 di Bali) Natanael, Gabriel Joshua; Paramita, Sinta
Koneksi Vol 2, No 2 (2018): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v2i2.3907

Abstract

Pada era modern saat ini, tarian sangat berkembang dan dikenal dalam ruang lingkup masyarakat di Indonesia sebagai cara untuk menunjukan emosi, berinteraksi sosial, olahraga, dan mengekspresikan ide-ide atau bercerita mengenai apa yang kita inginkan. Salah satunya adalah Waacking, tarian yang terbentuk di klub homoseksual yang terletak di kota Los Angeles dimana mereka berkumpul bersama dan menyembunyikan identitas asli mereka dari publik. Melalui ini mereka menemukan jati diri mereka dan dapat melakukan pengungkapan diri untuk melarikan diri dari asumsi dan prejudis masyarakat mengenai kaum homoseksual. Penelitian ini bertujuan mengetahui, memahami, dan memberikan gambaran bagaimana pengungkapan diri para penari waacking dalam komunitas tarian waacking. Penelitian ini menggunakan konsep komunikasi kelompok, komunikasi antarpribadi, dan teori penetrasi sosial yang berfokus kepada pengungkapan diri. Metode penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif bersifat deskriptif dengan jenis penelitian studi kasus. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengungkapan diri relatif penting dilakukan oleh penari waacking untuk mendapatkan, rasa saling berbagi satu sama lainnya, pengertian antara sesama penari waacking dan juga kenyamanan. Tarian waacking tidak hanya menjadi sebuah tarian, tapi juga menjadi bentuk pengungkapan diri bagi para pelakunya.
Makna Simbolik dalam Konteks Komunikasi Antar Budaya (Kajian Fenomenologi Terhadap Seni Bela Diri Taekwondo) Nelly, Rachel; Paramita, Sinta
Koneksi Vol 2, No 2 (2018): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v2i2.3933

Abstract

Korea Selatan memiliki beragam bentuk kebudayaan dari bahasa sampai dengan kesenian. Salah satu kebudayaan dari Korea Selatan yang terkenal dan diminati dunia adalah seni bela diri Taekwondo. Di dalam seni bela diri Taekwondo terdapat berbagai simbol yang memiliki makna didalamnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui makna yang terdapat pada simbol-simbol dalam seni bela diri Taekwondo khususnya di Indonesia. Penelitian ini menggunakan konsep komunikasi antar budaya dan teori makna simbolik. Penelitian ini menggunakan metodologi pendekatan penelitian kualitatif bersifat deskriptif, dengan penjaringan data fenomenologi. Teknik analisis data secara kualitataif yang digunakan di penelitian ini adalah dengan melakukan observasi dan wawancara. Berdasarkan hasil wawancara penulis mendapatkan data mengenai prosesi yang dilakukan pada saat akan latihan Taekwondo, terdapat tiga prosesi dari pembukaan, latihan intensif, dan penutup. Kemudian penulis juga mendapatkan simbol-simbol yang terdapat pada seni bela diri Taekwondo yaitu kata-kata terucap berupa teriakan, hitungan, panggilan, dan penggunaan bahasa Korea, objek berupa seragam latihan, sabuk, dan pelindung, gerak tubuh berupa gerakan membungkukkan badan, berdiam diri dan gerakan teknik, tempat latihan, dan peristiwa ujian kenaikan tingkat. Dapat disimpulkan terdapat makna yang terkandung dari simbol-simbol tersebut yakni  pembentukan diri yang dipengaruhi oleh nilai moral, nilai sosial, nilai budaya, dan nilai agama bagi setiap orang yang terlibat langsung di dalam suatu fenomena budaya berupa seni bela diri Taekwondo.
Makna Idola Dalam Pandangan Penggemar (Studi Komparasi Interaksi Parasosial Fanboy dan Fangirl ARMY Terhadap BTS) Mihardja, Jeanette; Paramita, Sinta
Koneksi Vol 2, No 2 (2018): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v2i2.3915

Abstract

Didukung dengan globalisasi dan perkembangan teknologi informasi, budaya popular bisa dengan mudah diakses, terutama K-Pop. BTS merupakan salah satu artis K-Pop paling sukses dan memiliki banyak penggemar di seluruh dunia termasuk Indonesia. Kehadiran idola seperti BTS secara tidak langsung membuat penggemar membentuk interaksi paarasosial. Interaksi parasosial adalah hubungan kelekatan yang terjalin dengan tokoh yang muncul di media. Penelitian ini membahas perbedaan interaksi parasosial antara penggemar perempuan dan laki-laki terhadap BTS. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan strategi penelitian studi kasus. Subjek penelitian berjumlah enam orang ARMY, tiga orang perempuan (fangirl) dan tiga orang laki-laki (fanboy). Kesimpulan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa penggemar perempuan menyukai BTS secara emosional (sahabat, saudara dan hubungan romantis), sedangkan penggemar laki-laki menyukai BTS secara rasional (idola, panutan dan kualitas musik). Penggemar perempuan lebih aktif dalam aktivitas komunitas, di sisi lain penggemar laki-laki tidak tertarik untuk menjadi anggota komunitas dan mendukung BTS dengan batasan-batasan tertentu.