Gustan Pari
Pusat Litbang Hasil Hutan, Badan Litbang dan Inovasi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Ministry of Environtment and Forestry of Indonesia)

Published : 237 Documents
Articles

CHARACTERIZATION OF ACTIVATED CARBON PRODUCED FROM URBAN ORGANIC WASTE Haji, Abdul Gani; Pari, Gustan; Nazar, Muhammad; Habibati, H
International Journal of Science and Engineering Vol 5, No 2 (2013)
Publisher : Chemical Engineering Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1413.595 KB) | DOI: 10.12777/ijse.5.2.89-94

Abstract

The difficulties to decompose organic waste can be handled naturally by pyrolisis so it can  decomposes quickly that produces charcoal as the product. This study aims to investigate the characteristics of activated carbon from urban organic waste. Charcoal results of pyrolysis of organic waste activated with KOH 1.0 M at a temperature of 700 and 800oC for 60 to 120 minutes. Characteristics of activated carbon were identified by Furrier Transform Infra Red (FTIR), Scanning Electron Microscopy (SEM), and X-Ray Diffraction (XRD). However, their quality is determined yield, moisture content, ash, fly substances, fixed carbon, and the power of adsorption of iodine and benzene. The identified functional groups on activated carbon, such as OH (3448,5-3436,9 cm-1), and C=O (1639,4 cm-1). In general, the degree and distance between the layers of active carbon crystallites produced activation in all treatments showed no significant difference. The pattern of activated carbon surface topography structure shows that the greater the pore formation in accordance with the temperature increase the more activation time needed. The yield of activated carbon obtained ranged from 72.04 to 82.75%. The results of characterization properties of activated carbon was obtained from 1.11 to 5.41% water, 13.68 to 17.27% substance fly, 20.36 to 26.59% ash, and 56.14 to 62.31% of fixed carbon . Absorption of activated carbon was good enough at 800oC and 120 minutes of activation time, that was equal to 409.52 mg/g of iodine and 14.03% of benzene. Activated carbon produced has less good quality, because only the water content and flying substances that meet the standards.Doi: 10.12777/ijse.5.2.89-94 [How to cite this article: Haji, A.G., Pari, G., Nazar, M., and Habibati.  (2013). Characterization of activated carbon produced from urban organic waste . International Journal of Science and Engineering, 5(2),89-94. Doi: 10.12777/ijse.5.2.89-94]
ARANG DAN CUKA KAYU : PRODUK HASIL HUTAN BUKAN KAYU UNTUK MENINGKATKAN PERTUMBUHAN TANAMAN DAN SERAPAN HARA KARBON Komarayati, Sri; Gusmailina, Gusmailina; Pari, Gustan
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 31, No 1 (2013): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4587.22 KB) | DOI: 10.20886/jphh.2013.31.1.49-62

Abstract

Arang dan cuka kayu merupakan sumber karbon yang dihasilkan dari proses karbonisasi, dan multi manfaat untuk digunakan sebagai pemacu pertumbuhan maupun meningkatkan serapan hara karbon. Tulisan ini menyajikan hasil penelitian uji coba arang dan cuka kayu terhadap media tumbuh anakan sengon, jabon dan pohon penghasil gaharu selama enam bulan di kebun penelitian. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui respon pertumbuhan anakan sengon, jabon dan pohon penghasil gaharu, mengetahui kandungan karbon, nitrogen, fosfor dan kalium dalam tanah dan dalam biomasa tanaman setelah diberi arang dan cuka kayu. Penambahan arang dilakukan dengan cara mencampurkan arang dan tanah secara merata, sedangkan cuka kayu disiramkan pada tanah. Untuk pemeliharaan tanaman, dilakukan penyemprotan cuka kayu pada batang, tangkai dan daun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan arang dan cuka kayu pada media tumbuh anakan sengon dapat meningkatkan pertumbuhan tinggi tanaman sebesar 127% dan 208%, untuk diameter 109% dan 129%. Pada tanaman jabon, penambahan arang dan cuka kayu dapat meningkatkan pertumbuhan tinggi sebesar 117% dan 142%, untuk diameter 166% dan 128%. Sedangkan pada pohon penghasil gaharu belum kelihatan pengaruhnya, karena masih memerlukan waktu yang lebih lama untuk tanaman tersebut beradaptasi. Arang dan cuka kayu dapat meningkatkan serapan hara karbon dalam tanah dan biomas. Selain karbon (C), unsur hara N, P dan K juga meningkat.
EFFECT OF ACTIVATED CHARCOAL ADDITION ON FORMALDEHYDE EMISSION OF MEDIUM DENSITY FIBERBOARD Darmawan, Saptadi; Sofyan, Kurnia; Pari, Gustan; Sugiyanto, Krisdianto
Indonesian Journal of Forestry Research Vol 7, No 2 (2010): Journal of Forestry Research
Publisher : Secretariat of Forestry Research and Development Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The manufacturing of medium density fiberboard (MDF) using dry forming process for interior purpose requires extensive amount of thermo-setting urea formaldehyde (UF) adhesive. Unfortunately, this adhesive brings about formaldehyde emission from the resulting MDF, which was potentially harmful to human beings. The use of activated charcoal can be effective to reduce such emission. As the relevance, this research aimed to investigate the effect of activated charcoal addition to the MDF pulp on formaldehyde emission from the MDF. The fibers for the MDF-mat forming were the pulp procured from the MDF factory, resulting from the thermo-mechanical pulping (TMP) conducted on the mixed mangium wood (Acacia mangium) and rubber wood (Hevea brasiliensis) in 3:1 (w/w) proportion, respectively.  Such mixed TMP pulping was also done in the factor y.  The bonding between TMP pulp fiber during mat forming was assisted by the use of UF adhesive.  Prior to the MDF mat forming , was added to the resulting TMP pulp-fibers activated charcoal in  various amount, 2%, 4% and 6% based on fiber mass as well as based on UF adhesive mass. The activated charcoal was prepared by carbonizing candle nut shell into charcoal followed by activation process using phosphate solution.  Meanwhile the forming of MDF mat employed air-dr y process. As the control, MDF forming with UF adhesive was performed without addition of activated charcoal. It turned out that the activated charcoal-added MDF exhibited effective reduction in formaldehyde emission and significant improvement in physical and mechanical properties, i.e. lower thickness swelling , and greater MOR , MOE and internal bond, compared to the control MDF. The use of activated charcoal at 4% based on the adhesive mass seemed to be the optimum amount.  Physical and mechanical properties of the activated charcoal added MDF could mostly meet the JIS specification.
ARANG DAN CUKA KAYU : PRODUK HASIL HUTAN BUKAN KAYU UNTUK MENINGKATKAN PERTUMBUHAN TANAMAN DAN SERAPAN HARA KARBON Komarayati, Sri; Gusmailina, Gusmailina; Pari, Gustan
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 31, No 1 (2013):
Publisher : Pusat Litbang Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4587.22 KB)

Abstract

Arang dan cuka kayu merupakan sumber karbon yang dihasilkan dari proses karbonisasi, dan multi manfaat untuk digunakan sebagai pemacu pertumbuhan maupun meningkatkan serapan hara karbon. Tulisan ini menyajikan hasil penelitian uji coba arang dan cuka kayu terhadap media tumbuh anakan sengon, jabon dan pohon penghasil gaharu selama enam bulan di kebun penelitian. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui respon pertumbuhan anakan sengon, jabon dan pohon penghasil gaharu, mengetahui kandungan karbon, nitrogen, fosfor dan kalium dalam tanah dan dalam biomasa tanaman setelah diberi arang dan cuka kayu. Penambahan arang dilakukan dengan cara mencampurkan arang dan tanah secara merata, sedangkan cuka kayu disiramkan pada tanah. Untuk pemeliharaan tanaman, dilakukan penyemprotan cuka kayu pada batang, tangkai dan daun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan arang dan cuka kayu pada media tumbuh anakan sengon dapat meningkatkan pertumbuhan tinggi tanaman sebesar 127% dan 208%, untuk diameter 109% dan 129%. Pada tanaman jabon, penambahan arang dan cuka kayu dapat meningkatkan pertumbuhan tinggi sebesar 117% dan 142%, untuk diameter 166% dan 128%. Sedangkan pada pohon penghasil gaharu belum kelihatan pengaruhnya, karena masih memerlukan waktu yang lebih lama untuk tanaman tersebut beradaptasi. Arang dan cuka kayu dapat meningkatkan serapan hara karbon dalam tanah dan biomas. Selain karbon (C), unsur hara N, P dan K juga meningkat.
KARAKTERISASI STRUKTUR NANO KARBON DARI LIGNOSELLULOSA Pari, Gustan; Santoso, Adi; Hendra, Djeni; Buchari, Buchari; Maddu, Akhirudin; Rachmat, Mamat; Harsini, Muji; Heryanto, Teddi; Darmawan, Saptadi
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 31, No 1 (2013):
Publisher : Pusat Litbang Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4544.229 KB)

Abstract

Perkembangan ilmu pengetahuan abad ini dan yang akan datang sudah memasuki teknologi nano. Di bidang hasil hutan, teknologi nano yang dapat dikembangkan di antaranya adalah nano karbon dari bahan berlignoselulosa. Tujuan penelitian ini adalah menyediakan informasi dan teknologi pengolahan arang sebagai bahan baku nano karbon dari bahan lignoselulosa. Bahan baku lignoselulosa yang digunakan dalam penelitian ini adalah kayu jati, dan bambu yang dikarbonisasi pada suhu 400-500°C menggunakan kiln drum, arang yang dihasilkan dimurnikan dengan jalan dipanaskan pada suhu 800°C selama 60 menit yang sebelumnya didoping dengan logam Zn, Ni dan Cu. selanjutnya dihaluskan menggunakan high energy mechanic (HEM) selama 48 jam. Arang dengan kristalinitas tinggi disintering menggunakan spark plasma pada suhu 1.300°C. Karbon yang dihasilkan diuji sktuktur dan sifatnya menggunakan Py-GCMS, SEM-EDX, XRD,dan sifat elektrik. Hasil penelitian menunjukkan struktur karbon yang terbaik dihasilkan dari arang jati yang dikarbonisasi pada suhu 800°C yang didoping dengan atom Ni pada perbandingan 1:5 yang menghasilkan derajat kristalinitas sebesar 78,98% resistensi (R) 0,17Ω, konduktivitas 175,52 Ω-1m-1. Kualitas nano karbon setelah disintering derajat kristalinitasnya menjadi 81,87%, resistensi (R) 0,01Ω, dan konduktivitasnya sebesar 1067,26 Ω-1m-1. Nano karbon yang dihasilkan dapat dibuat sebagai biosensor, biobatere dan bioelektroda. Sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut.
PENGARUH UMUR POHON TERHADAP SIFAT DASAR DAN KUALITAS PENGERINGAN KAYU WARU GUNUNG (HIBISCUS MACROPHYLLUS ROXB.) Basri, Efrida; Prayitno, T A; Pari, Gustan
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 30, No 4 (2012): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2885.528 KB) | DOI: 10.20886/jphh.2012.30.4.243-253

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data sifat kayu waru gunung sebagai indikatorkualitas kayu didasarkan pada umur dan arah aksial serta pengaruhnya terhadap kualitaspengeringannya. Sifat dasar kayu yang diamati yaitu panjang serat, berat jenis (BJ), dan penyusutankayu. Bahan kayu untuk penelitian diambil dari 3 umur, yaitu 8, 12, dan 16 tahun. Contoh uji ditentukanpada arah aksial batang, yakni pangkal, tengah dan bagian ujung. Untuk sifat dasar kayu, dari setiapbagian aksial dibuat contoh uji pada arah radial dari dekat empulur, tengah, dan dekat ke kulit. Ukurandan prosedur untuk uji panjang serat mengacu pada prosedur di Pusat Litbang Keteknikan Kehutanandan Pengolahan Hasil Hutan, Bogor, BJ dan penyusutan dengan standar ASTM D143-94 yangdimodifikasi, sedangkan pengujian sifat dan kualitas pengeringan mengacu pada metode Terazawayang dimodifikasi.Hasil penelitian menunjukkan panjang serat dan BJ waru gunung dipengaruhi oleh umur padakedua arah aksial maupun radial. Berdasarkan sifat dasar dan kualitas pengeringan dari ketiga umurkayu menunjukkan hanya kayu umur16 tahun bisa memenuhi persyaratan untuk bahan mebel.
POTENSI TEKNIS PEMANFAATAN PELEPAH NIPAH DAN CAMPURANNYA DENGAN SABUT KELAPA UNTUK PEMBUATAN PAPAN SERAT BERKERAPATAN SEDANG Roliadi, Han; Indrawan, Dian Anggraini; Pari, Gustan; Tampubolon, Rossi Margareth
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 30, No 3 (2012): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6170.825 KB) | DOI: 10.20886/jphh.2012.30.3.183-198

Abstract

Kayu hutan alam tropis Indonesia masih merupakan bahan baku konvensional papan seratberkerapatan sedang (MDF), di mana potensinya semakin berkurang dan langka. Oleh karena itupenggunaan bahan baku serat alternatif perlu dipertimbangkan, di mana potensinya berlimpah dansebagian besar belum dimanfaatkan, seperti pelepah nipah dan sabut kelapa. Dalam kaitannya, telahdilakukan percobaan pemanfaatan dua macam bahan serat tersebut untuk MDF.Masing-masing bahan serat tersebut mengalami tahapan persiapan, dan pemeriksaan sifat dasar(berat jenis, komposisi kimia, dan dimensi serat berikut nilai turunannya), lalu dilakukan pengolahanpulp menggunakan proses semi-kimia soda panas terbuka, dilanjutkan dengan penggilingan hinggapulp mencapai derajat kehalusan 600-700 ml CSF. Pada pulp ditambahkan bahan aditif (alum 4%,perekat urea formaldehida 3%, dan arang aktif 5%) dan kemudian dibentuk menjadi lembaran MDFdengan cara basah. Selanjutnya dilakukan pengempaan panas,conditioning, dan pengujian sifat MDF. Pencermatan terhadap sifat fisis dan kekuatan MDF menunjukkan bahwa serat pelepah nipah lebih prospektif untuk MDF dari pada serat sabut kelapa. Penggunaan arang aktif menurunkan emisi formaldehida MDF tetapi menurunkan sifat kekuatannya. Sifat MDF dari serat pelepah nipah lebih banyak memenuhi persyaratan standar (JIS) dibandingkan dari serat sabut kelapa. Meskipun demikian, serat pelepah nipah bisa bermanfaatan untukMDF, dengan mencampurmya (bentuk pulp) dengan pulp pelepah nipah (b/b) pada proporsi: 25%+75%dan 50%+50%.
OPTIMASI TEKNIK PEMURNIAN GLUKOMANAN PADA TEPUNG PORANG (AMORPHOPHALLUS MUELLERI BLUME) Pasaribu, Gunawan Trisandi; Hastuti, Novitri; Efiyanti, Lisna; Waluyo, Totok K; Pari, Gustan
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 37, No 3 (2019): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2019.37.3.197-203

Abstract

Porang (Amorphophallus muelleri Blume) adalah salah satu jenis hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang memiliki berbagai keunggulan dibandingkan dengan tanaman pangan lainnya. Dari aspek budidaya dan kandungan tepungnya, tepung porang menjadi salah satu sumber pangan alternatif. Saat ini, peningkatan kadar glucomannan menjadi tantangan dalam pengolahan pasca panen porang. Peningkatan kadar glukomanan akan meningkatkan pemanfaatan tepung porang dan membuka pasar tepung porang. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan teknik pemurnian glukomanan yang optimal. Penelitian dilakukan dengan teknik perendaman dengan etanol (30%, 40%, dan 50%) dan natrium bisulfit (2%, 3%, dan 4%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik perendaman dengan etanol berpengaruh nyata terhadap peningkatan kadar glukomanan. Pencucian dengan etanol 50% dan NaHSO3 2% dapat meningkatkan glukomanan dari 32,65% menjadi 83,96%. Proses perendaman dengan etanol meningkatkan kadar glukomanan tetapi tidak mempengaruhi kandungan zat besi (Fe) dan kalsium (Ca) tepung porang.
PENGARUH ARANG DAN CUKA KAYU TERHADAP PENINGKATAN PERTUMBUHAN DAN SIMPANAN KARBON Komarayati, Sri; Gusmailina, Gusmailina; Pari, Gustan
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 32, No 4 (2014): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2014.32.4.313-328

Abstract

 Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui respon pertumbuhan anakan sengon, jabon dan pohon penghasil gaharu, mengetahui kandungan karbon, nitrogen, fosfor dan kalium dalam tanah dan dalam biomasa tanaman setelah diberi arang dan cuka kayu. Aplikasi arang dilakukan dengan cara menambahkan arang secara merata pada lobang tanaman, sedangkan cuka kayu disiramkan pada tanah. Untuk pemeliharaan tanaman, cuka kayu disemprotkan pada batang, tangkai dan daun tanaman. Dari hasil penelitian diketahui bahwa pertumbuhan anakan sengon terbaik yaitu pada perlakuan penambahan arang 10% dan cuka kayu 2%, masing-masing dengan tinggi 156,33 cm dan diameter 20,08 cm.  Untuk pertumbuhan anakan jabon terbaik yaitu pada perlakuan penambahan 30% arang, masing-masing dengan tinggi 89,17 cm dan 19,22 cm. Untuk pertumbuhan anakan pohon penghasil gaharu yang terbaik yaitu pada perlakuan penambahan 20% arang dan cuka kayu 4%, masing-masing dengan tinggi 72,20 cm dan diameter batang 18,29 cm. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa penambahan arang dan cuka kayu tidak selalu dapat meningkatkan kandungan unsur hara tanah seperti C, N, P dan K, biomas tanaman serta simpanan karbon dengan berbagai variasi sesuai perlakuan.
SIFAT PAPAN PARTIKEL DAUR ULANG RENDAH EMISI FORMALDEHIDA Santoso, Adi; Pari, Gustan
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 33, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2015.33.1.1-10

Abstract

Emisi formaldehida dan sifat fisis-mekanis dari papan partikel yang direkat dengan urea formaldehida (UF) dapat mengganggu kesehatan, terutama jika digunakan di dalam ruangan dengan ventilasi terbatas. Untuk mengurangi emisi formaldehida, dapat digunakan suatu adsorben ke dalam perekatnya. Dalam tulisan ini diuraikan pengaruh penggunaan arang aktif dalam campuran perekat urea formaldehida terhadap emisi formaldehida dan sifat fisis-mekanis papan partikel daur ulang serta aspek ekonominya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemakaian arang aktif mempengaruhi emisi formaldehida dan sifat fisis-mekanis papan partikel. Aplikasi arang aktif sebanyak 3% pada perekat urea formaldehida mampu mengurangi emisi formaldehida dan meningkatkan sifat fisis-mekanis papan partikel serta memenuhi persyaratan standar Indonesia dan Jepang, dan layak secara finansial.
Co-Authors ABDJAD ASIH NAWANGSIH Abdul Gani Haji Abdurrohim, Sasa Abdurrohim, Sasa Adi Santoso Akhiruddin Maddu Akhirudin Maddu Aminudin Sulaeman Anisah, Laela N. Anisah, Laela Nur Armansyah H Tambunan Arya Sokanandi Buchari Buchari Budiman, Ismail Dadang Setiawan Dede Hermawan Diah tri widayati Dian Anggraini Indrawan Djeni Hendra Dodik Ridho Nurrochmat Efrida Basri Emma Sahara Endang Sri Lestari Erliza Noor Fahriya Puspita Sari Fauzi Febrianto Ferry, Januar Giyanto Giyanto Gokma Silaban Gunawan Pasaribu Gunawan Santosa Gunawan Trisandi Pasaribu, Gunawan Trisandi Gusmailina Gusmailina H Habibati Hakimah, Nailah Han Roliadi Hardjanto Hardjanto Hariadi Kartodihardjo Hartoyo Hartoyo Heriyanto, Teddi Heriyanto, Teddi Hudaya, Nurmala Hudaya, Nurmala Ibrahim, Agus Malik Ibrahim, Agus Malik Ignasia Maria SULASTININGSIH Ilah Sailah Imam Wahyudi Imas Aisyah Imas, Aisyah IRMA HERAWATI SUPARTO Iskandar Z Siregar Jasni Jasni Krisdianto Sugiyanto Kurnia Sofyan Laia, Daniel P.O Lestari, Fityani B Lestari, Fityani B Lestari, Setyani B Lestari, Setyani B Lisna Efiyanti Mahpudin Mahpudin Mamat Rachmat Mas?ud, Zainal Alim Masato Yoshida, Masato Meity Suradji Sinaga Mody Lempang Mohamad Iqbal Mohammad Khotib Mohammad WIJAYA Muhammad Nazar Muji Harsini Mustamu, Sofia Mustamu, Sofia Novitri Hastuti, Novitri Nuryati Juli Nyoman J Wistara, Nyoman J Nyoman Jaya Wistara Pangala, Johanis R Paputungan, Rinto Pasaribu, Ridwan A Raden Esa Pangersa Gusti, Raden Esa Ridwan A. Pasaribu, Ridwan A. Rita Kartika Sari Rossi Margareth Tampubolon Saepuloh Saepuloh Safitri, Bunga Ayu Safitri, Bunga Ayu Santiyo Wibowo Saptadi DARMAWAN Sari, Rita K. Satiti, Esti Rini Satiti, Esti Rini Siruru, Herman Siti Nikmatin Sri Komarayati Starini, Wulan Subyakto Subyakto Sukadaryati Sukadaryati Sutanto Sutanto Syachri, M Syachri, M T A Prayitno, T A Tati Rostiwati Teddi Heryanto Tetty Kemala Titi Kalima Tjutju Nurhayati, Tjutju Tohir, Dudi Totok K Waluyo Totok K. Waluyo, Totok K. Totok Kartono Waluyo, Totok Kartono Tumimomor, Farly Tun Tedja Irawadi Wasrin Syafii Wati, Suci Aprianty Yamamoto, Hiroyuki Yamamoto, Hiroyuki Yanto, Dede Heri Yuli Yunianti, Andi D Yusuf Sudo Hadi